Muhammad Jabal Alamsyah Lc MA

3 Robbiul akhir 1442 / 18 Nopember 2020



Muqaddimah

Mawarits atau kadang disebut dengan Fara’idh adalah ilmu waris yang islami. Disebut dengan islami karena ada yang tidak islami. Karena itu kita sebut dengan Mawarits, bukan Waris. Sama dengan ketika kita menyebut Sholat, itu bukan Sembayang. Zakat juga bukanlah sekedar Donasi dan Shaum juga bukan sekedar Puasa.

Sebagai muqqadimah dalam ilmu mawarits, kita awali dengan permasalahan yang sering kita baca di surat kabar :
– Ada seorang adik membunuh saudara kandungnya gara-gara rebutan waris di Grobogan.
– Ada seorang adik mengancam membunuh kakaknya gara-gara rumah warisan dari ayahnya, penjualannya dia tidak dibagi terjadi di Mandar.
– Ada masalah waris yang akhirnya menjadi urusan pihak yang berwajib karena ada kejadian pembacokan akibat tidak dibagi hasil penjualan tanah warisan.

Banyak sekali kasus warisan yang bermasalah. Analisa dari permasalahan ini adalah keributan itu pasti terjadi di dalam keluarga. Ketika dulu belum ada kepentingan, kakak dan adik akrab dengan ibu mereka. Tetapi setelah punya anak atau kepentingan lain akan jadi berbeda ceritanya dengan dulu.

Dari empat guru utama kami, sebagai trainer mawarits kami diharuskan untuk menyampaikan siapa guru-guru kami. Maka kami harus memperkenalkan diri. Saya Muhammad Jabal Alamsyah belajar ilmu mawarits dari
– Al Ustadz Abdul Malik Imam Nashirin
– Syekh Wafiq Izasi dari Mesir
– Syekh Dr. Athi Abdul Mauyud mengajar ilmu mawarits Di Al Azhar.
– Associate Prof. Dr. Abdul Rahman Haki , orang Indonesia yang saat ini ada di Universitas Islam Sultan Sharif Ali di Brunai Darussalam.

Pendidikan mawarits ini semestinya diikuti oleh keluarga, agar dapat diperlakukan dalam keluarga untuk menghindari permasalahan.

Sebenarnya permasalahan- permasalahan itu terjadi karena kita tidak mentaati perintah Allah. Maka kita perlu membalikkan arah. Data permasalahan yang ada tadi perlu kita analisa. Semuanya terjadi karena kekurangan ilmu. Karena kami di Gontor yang adalah lembaga edukasi, maka kami melakukan edukasi bukan konsultasi. Sejak 2013 kami mendapat ijin sebagai trainer dibidang ilmu Mawarits.


Ayat-Ayat Mawarits

Dalam study Al Qur’an, turunnya ayat Al Qur’an itu sedikit demi sedikit, tidak langsung turun 30 juz kepada Nabi Muhammad SAW. Tidak setiap ayat Al Qur’an ada asbabun nuzulnya.
Asbabun Nuzul Ayat-ayat Surat An Nisa ayat 7 diriwayatkan oleh Jabir r.a beliau berkata :

Suatu ketika istri Sa’ad bin ar-Rabi’ datang menghadap Rasulullah SAW. dengan membawa kedua orang putrinya. Ia berkata, “Wahai Rasulullah, kedua putri ini adalah anak Sa’ad bin ar-Rabi’ yang telah meninggal sebagai syuhada ketika Perang Uhud. Tetapi paman kedua putri Sa’ad ini telah mengambil seluruh harta peninggalan Sa’ad, tanpa meninggalkan barang sedikit pun bagi keduanya. Sedangkan mereka memerlukan harta untuk persiapan mereka menikah.”

Kemudian Rasulullah SAW bersabda, “Semoga Allah segera memutuskan perkara ini.”

Pada saat itu belum ada tuntunan syariat islam sebagai pedoman berapa hak waris, berapa sebenarnya hak waris kepada saudara kandung si mayit dan berapa untuk perempuan tersebut.

Berselang beberapa waktu Allah menurunkan ayat Al Qu’ran tentang waris sebagai jawaban pertanyaan tersebut yaitu Surat an-Nisa’ ayat 7 :

لِلرِّجَا لِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَا لِدٰنِ وَا لْاَ قْرَبُوْنَ ۖ وَلِلنِّسَآءِ نَصِيْبٌ مِّمَّا تَرَكَ الْوَا لِدٰنِ وَا لْاَ قْرَبُوْنَ مِمَّا قَلَّ مِنْهُ اَوْ كَثُرَ ۗ نَصِيْبًا مَّفْرُوْضًا

“Bagi laki-laki ada hak bagian dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, dan bagi perempuan ada hak bagian pula dari harta peninggalan kedua orang tua dan kerabatnya, baik sedikit atau banyak menurut bagian yang telah ditetapkan.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 7)

Di zaman Jahiliyah, perempuan sama sekali tidak mendapat hak waris. Dengan turunnya Surat An Nisa ayat ke 7 ini Allah SWT mengangkat derajat perempuan dalam Al Qur’an dan memberikan hak waris kepada perempuan.

Allah SWT menurunkan ayat ini 14 abad yang lalu, ketika muslim- muslimah ada yang meninggal hukumnya fardhu kifayah mensegerakan agar memindahkan harta kepada laki-laki dan perempuan dari kerabat yang meninggal dunia.

Kewajiban Memindahkan Harta si Mayit ini seperti Memandikan, Mengkafani dan Menguburkan mayit. Perintahnya disegerakan.
Dalam ayat 7 Allah belum memberikan berapa besaran pembagian harta.
Al Qur’an belum membicarakan bagaimana membagi harta : baju perang, harta rampasan ketika Perang Uhud bagian Sa’ad bin ar-Rabi’

Dalam ayat ini dan juga Hadits Rasulullah yang diriwayatkan oleh Jabir r.a tidak ada kata-kata membagi. Namun dalam bahasa Arabnya yang disebut adalah Penentuan Hak masing- masing.

Kemudian Allah SWT menurunkan ayat ke 11, Allah SWT berfirman:

يُوْصِيْكُمُ اللّٰهُ فِيْۤ اَوْلَا دِكُمْ لِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُ نْثَيَيْنِ ۚ فَاِ نْ كُنَّ نِسَآءً فَوْقَ اثْنَتَيْنِ فَلَهُنَّ ثُلُثَا مَا تَرَكَ ۚ وَاِ نْ كَا نَتْ وَا حِدَةً فَلَهَا النِّصْفُ ۗ وَلِاَ بَوَيْهِ لِكُلِّ وَا حِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ مِمَّا تَرَكَ اِنْ كَا نَ لَهٗ وَلَدٌ ۚ فَاِ نْ لَّمْ يَكُنْ لَّهٗ وَلَدٌ وَّوَرِثَهٗۤ اَبَوٰهُ فَلِاُ مِّهِ الثُّلُثُ ۗ فَاِ نْ كَا نَ لَهٗۤ اِخْوَةٌ فَلِاُ مِّهِ السُّدُسُ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْ بِهَاۤ اَوْ دَيْنٍ ۗ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ ۚ لَا تَدْرُوْنَ اَيُّهُمْ اَقْرَبُ لَـكُمْ نَفْعًا ۗ فَرِيْضَةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ عَلِيْمًا حَكِيْمًا

“Allah mensyariatkan kepadamu tentang (penentuan untuk) anak-anakmu, yaitu bagian seorang anak laki-laki sama dengan bagian dua orang anak perempuan. Dan jika anak itu semuanya perempuan yang jumlahnya lebih dari dua, maka bagian mereka dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Jika dia (anak perempuan) itu seorang saja, maka dia memperoleh setengah (harta yang ditinggalkan). Dan untuk kedua ibu-bapak, bagian masing-masing seperenam dari harta yang ditinggalkan, jika dia (yang meninggal) mempunyai anak. Jika dia (yang meninggal) tidak mempunyai anak dan dia diwarisi oleh kedua ibu-bapaknya (saja), maka ibunya mendapat sepertiga. Jika dia (yang meninggal) mempunyai beberapa saudara, maka ibunya mendapat seperenam. (Pembagian-pembagian tersebut di atas) setelah (dipenuhi) wasiat yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya. (Tentang) orang tuamu dan anak-anakmu, kamu tidak mengetahui siapa di antara mereka yang lebih banyak manfaatnya bagimu. Ini adalah ketetapan Allah. Sungguh, Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 11)

Karena pada kasus pertama pada saat itu Sa’ad bin ar-Rabi’ tidak memiliki anak laki-laki. Tetapi Sa’ad bin ar-Rabi’ memiliki anak perempuan dua orang. Kedua anak perempuan mendapatkan dua per tiga harta peninggalan Sa’ad bin ar-Rabi’ kepada kedua putri itu.

Dalam Surat An Nisa ayat 11 belum dinyatakan berapa bagian isteri, sampai kemudian Allah menurunkan Surat An Nisa ayat 12.

Allah SWT berfirman:

وَلَـكُمْ نِصْفُ مَا تَرَكَ اَزْوَا جُكُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهُنَّ وَلَدٌ ۚ فَاِ نْ كَا نَ لَهُنَّ وَلَدٌ فَلَـكُمُ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْنَ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصِيْنَ بِهَاۤ اَوْ دَ يْنٍ ۗ وَلَهُنَّ الرُّبُعُ مِمَّا تَرَكْتُمْ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّكُمْ وَلَدٌ ۚ فَاِ نْ كَا نَ لَـكُمْ وَلَدٌ فَلَهُنَّ الثُّمُنُ مِمَّا تَرَكْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ تُوْصُوْنَ بِهَاۤ اَوْ دَ يْنٍ ۗ وَاِ نْ كَا نَ رَجُلٌ يُّوْرَثُ كَلٰلَةً اَوِ امْرَاَ ةٌ وَّلَهٗۤ اَخٌ اَوْ اُخْتٌ فَلِكُلِّ وَا حِدٍ مِّنْهُمَا السُّدُسُ ۚ فَاِ نْ كَا نُوْۤا اَكْثَرَ مِنْ ذٰلِكَ فَهُمْ شُرَكَآءُ فِى الثُّلُثِ مِنْۢ بَعْدِ وَصِيَّةٍ يُّوْصٰى بِهَاۤ اَوْ دَ يْنٍ ۙ غَيْرَ مُضَآ رٍّ ۚ وَصِيَّةً مِّنَ اللّٰهِ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَلِيْمٌ ۗ 

“Dan bagianmu (suami-suami) adalah seperdua dari harta yang ditinggalkan oleh istri-istrimu, jika mereka tidak mempunyai anak. Jika mereka (istri-istrimu) itu mempunyai anak, maka kamu mendapat seperempat dari harta yang ditinggalkannya setelah (dipenuhi) wasiat yang mereka buat atau (dan setelah dibayar) utangnya. Para istri memperoleh seperempat harta yang kamu tinggalkan jika kamu tidak mempunyai anak. Jika kamu mempunyai anak, maka para istri memperoleh seperdelapan dari harta yang kamu tinggalkan (setelah dipenuhi) wasiat yang kamu buat atau (dan setelah dibayar) utang-utangmu. Jika seseorang meninggal, baik laki-laki maupun perempuan yang tidak meninggalkan ayah dan tidak meninggalkan anak, tetapi mempunyai seorang saudara laki-laki (seibu) atau seorang saudara perempuan (seibu), maka bagi masing-masing dari kedua jenis saudara itu seperenam harta. Tetapi jika saudara-saudara seibu itu lebih dari seorang, maka mereka bersama-sama dalam bagian yang sepertiga itu, setelah (dipenuhi wasiat) yang dibuatnya atau (dan setelah dibayar) utangnya dengan tidak menyusahkan (kepada ahli waris). Demikianlah ketentuan Allah. Allah Maha Mengetahui, Maha Penyantun.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 12)

Dalam Surat An Nisa ayat 12 Allah SWT menyatakan bagian istri Sa’ad bin ar-Rabi’ mendapat bagian seperdelapan. Dalam ayat ini Allah menyatakan jamak, baik 1 isteri ataupun 4 isteri mendapatkan seperdelapan. Kalau hanya 1 isteri maka seperdelapan untuk sendiri. Kalau 4 isteri maka seperdelapan harta itu masih harus dibagi empat.

Kita harus memahami ayat ini dari akidah dulu, baru kemudian kita pahami secara Syariah dan terakhir baru kita tutup dengan muamalah.

Pemahaman Akidah, artinya bahwa mawarits ini adalah Perintah Allah melalui Rasul. Maka mindset kita sebagai keluarga muslim bukanlah membagi harta tetapi PSP (Penentuan Sebelum Pembagian). Kekeliruan mindset keluarga muslim pada umumnya adalah menganggap warisan adalah Pembagian harta. Akibatnya perintah Allah tidak dilakukan.

Kadang hal ini dianggap tabu. Ketika ayah saya wafat, paman saya berkata : “Jangan ngomong warisan dulu ! Karena ibumu masih hidup, Pamali !”.
Hal ini terjadi akibat kurang orang yang memberikan ilmu ini di tempat Pengajian umum. Akhirnya keluarga muslim memakai pola pembagian.

Sampai turunnya 3 ayat Surat An Nisa tadi, yaitu ayat 7 ,11 dan 12 tidak ada penjelasan bagian harta bagi saudara si mayit. Sampai kemudian turunlah Surat An Nisa ayat ke 176.

Allah SWT berfirman:

يَسْتَفْتُوْنَكَ ۗ قُلِ اللّٰهُ يُفْتِيْكُمْ فِى الْـكَلٰلَةِ ۗ اِنِ امْرُؤٌا هَلَكَ لَـيْسَ لَهٗ وَلَدٌ وَّلَهٗۤ اُخْتٌ فَلَهَا نِصْفُ مَا تَرَكَ ۚ وَهُوَ يَرِثُهَاۤ اِنْ لَّمْ يَكُنْ لَّهَا وَلَدٌ ۗ فَاِ نْ كَا نَـتَا اثْنَتَيْنِ فَلَهُمَا الثُّلُثٰنِ مِمَّا تَرَكَ ۗ وَاِ نْ كَا نُوْۤا اِخْوَةً رِّجَا لًا وَّنِسَآءً فَلِلذَّكَرِ مِثْلُ حَظِّ الْاُ نْثَيَيْنِ ۗ يُبَيِّنُ اللّٰهُ لَـكُمْ اَنْ تَضِلُّوْا ۗ وَا للّٰهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيْمٌ

“Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah). Katakanlah, Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah, (yaitu) jika seseorang mati dan dia tidak mempunyai anak tetapi mempunyai saudara perempuan, maka bagiannya (saudara perempuannya itu) seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mewarisi (seluruh harta saudara perempuan), jika dia tidak mempunyai anak. Tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan. Dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) saudara-saudara laki-laki dan perempuan, maka bagian seorang saudara laki-laki sama dengan bagian dua saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu agar kamu tidak sesat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 176)

Dengan turunnya empat ayat surat An Nisa ini , Rasulullah lalu mengutus orang kepada paman Ummu Saad. Utusan itu mengatakan, “Berikanlah dua per tiga untuk kedua anak Saad dan seperdelapan untuk ibunya. Sisanya adalah untukmu.”

Dengan demikian lengkaplah kaidah hukum mawaris sejak ayat ini diturunkan sampai akhir zaman. Setiap muslim atau muslimah yang meninggal dunia maka ayat mawaris yang dipakai adalah Surat An Nisa ayat 11, 12 dan 176 sesuai perintah Rasul kepada saudara kandung Sa’ad.


Kemukjizatan Ayat Mawarits

Dari ayat ini kami mendapatkan ilmu dari guru-guru di Mesir bahwa ilmu mawarits dalam islam adalah PSP (Penentuan Sebelum Pembagian). Allah dan Rasulnya tidak memerintahkan membagi, tapi menentukan sesuai ketetapan.

Anak perempuan diatur dengan ayat 11, mendapat 2/3 atau 16/24.
Isterinya diatur dengan ayat 12 , mendapat 1/8 atau 3/24. Saudara kandung mendapatkan sisanya atau 5/24.

Allah mengatur mawarits dengan 4 ayat Surat An Nisa yang sangat pendek. Kalau dihitung tidak lebih dari 30 baris menjadi Sumber Hukum mawarits sampai akhir zaman.
Coba dibandingkan dengan Surat Al Baqarah 282. Empat ayat mawarits masih kalah panjang dengan Surat Al Baqarah 282.

Awal Oktober kemarin kami diundang ke komunitas Imam centre Washingthon DC. Kemudian President Imam Centre mengirimkan sebuah artikel pendek kepada kami.

Dalam artikel itu, di Amerika ada seorang Professor Hukum pada saat Presiden Nixon. Staf Presiden Nixon diminta mengumpulkan artikel tentang islam. Professor Hukum ini yang diminta mengumpulkan. Komentar Presiden Nixon artikel itu kebanyakan dan minta diringkas. Karena tugas inilah Professor Hukum ini terpaksa mempelajari islam. Luar biasanya beliau malah masuk islam. Allah memberi hidayah kepada beliau akibat tugas meringkas.

Tak lama kemudian terjadi debat antara Professor Mualaf tadi dengan Professor Yahudi. Beliau yang mualaf bertanya pada Professor Yahudi, berapa banyak atau tebal Undang-undang Waris di Amerika.? Professor Yahudi mengatakan 8 jilid. Professor Mualaf berkata : “Coba pelajarilah islam. Ternyata islam cukup mengatur itu hanya dengan 4 ayat pendek”.

Menurut catatan saya, 95% hukum waris islam berasal dari 4 ayat An Nisa tadi. Karena Hadits dari Jabir r.a hanya menjadi pendorong, bukan Sumber Hukum. Selain itu masih ada ijma’ Sahabat mungkin 1 atau 2%.

Setelah debat tadi, Professor Yahudi bersyahadat setelah mendalami empat ayat Anisa tentang mawarits yang sangat detail. Kalau bukan Allah SWT tak mungkin membuat sebuah hukum pendek yang mampu menyaingi 8 jilid buku hukum buatan manusia.
Ini adalah data orang pertama masuk islam akibat ayat mawarits.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here