H.M. Arief Rahman Lc MA

28 Robbiul awwal 1442 / 14 Nopember 2020



1. Belajar Sirah Nabi Sesuai Konteks

Meneladani Nabi Muhammad SAW tak akan dapat terjadi jika kita tidak membaca Sirahnya, perjalanan hidupnya dan kemudian tidak berusaha untuk melakukannya di kehidupan kita.

Lalu apa saja buku-buku atau referensi yang bisa kita telaah terkait dengan sejarah Rasulullah SAW, baik itu sejarah perjalanan hidup beliau ataupun biografy yang terkait dengan sifat khalqiyah (penciptaan jasmani) dan sifat khuluqiyah (akhlak).

Kitab Sirah ada yang berkonsentrasi sejarah pada sisi perjalanan hidup saja. Tahu kapan Rasulullah lahir, kemudian berapa isterinya, berapa puteranya, berapa kali perang dan sebagainya tapi minus dalam hal mencontoh yang sebenarnya merupakan tujuan Rasulullah SAW diturunkan di dunia ini. Yaitu tentang Perilaku dan Risalah yang dibawa oleh beliau. Ketika kita belajar sejarah maka yang muncul dua hal itu : Kisah Perjalanan hidup dan Perilaku beliau.

Sejarah sebenarnya banyak berulang, hanya subyek atau pelakunya yang berbeda. Kemarin saya sampaikan Prolog, ada salah seorang tabi’in yang mengatakan : “Kami mempelajari peperangan yang diikuti oleh Rasulullah ataupun peperangan yang tidak diikuti oleh beliau, sebagaimana kami mempelajari Surat dalam Al Qur’an”.

Sampai beberapa tahun kemudian ternyata buku-buku yang terkait dengan Sirah Nabawiyah banyak ditulis oleh Para Ulama atau Sejarahwan kita pada zaman itu terkait dengan peperangan Nabi. Mungkin ini kondisi yang ada pada waktu itu adalah untuk meningkatkan semangat atau ghirah pembelaan pada islam. Pada waktu itu banyak terjadi pembebasan negeri-negeri muslim.

Sampai kemudian ada seorang tabi’in yang mengatakan : “Orang tuaku memaparkan kepada Kami peperangan-peperangan yang diikuti oleh Nabi maupun yang tidak diikutinya sampai mengatakan bahwa ini adalah warisan nenek moyang kalian yang harus kalian pelihara”.

Pada waktu itu memang Perang yang dititik beratkan. Sekarang mungkin lain, kita sekarang dalam zaman pandemi. Dengan demikian perlu diangkat kembali bagaimana Rasulullah dan Para Sahabat pada waktu itu mengantisipasi pandemi.

Sekarang juga zaman ilmu pengetahuan, maka perlu diangkat lagi bagaimana Rasulullah mendorong ilmu pengetahuan. Seperti juga pernah terjadi Rasulullah mendorong Para Sahabat untuk belajar membaca dan menulis.

Kita sering mendengar zaman Nabi itu zaman Jahiliyah. Jahiliyah sering diartikan dengan zaman tidak dikenal baca dan tulis. Sampai-sampai Rasulullah juga dikatakan sebagai Nabi yang Ummiy. Artinya tidak bisa membaca dan menulis. Tetapi sebenarnya peradaban masyarakat Arab pada waktu itu ada yang bisa membaca, menulis dan bersyair. Meskipun tidak semuanya bisa.

Ketika terjadi perang Badar dan banyak mendapatkan tawanan perang, Rasulullah memberikan alternatif, apakah mereka para tawanan mau dibebaskan dengan tebusan uang? Atau ditebus dengan keahlian membaca dan menulis? Maksudnya tawanan yang bisa mengajari anak-anak yang ada di Madinah membaca dan menulis akan dibebaskan.

Maka kemudian dalam buku Abdullah Alamudi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan Jahiliyah pada waktu itu adalah zaman masyarakat tidak mengenal Tuhan, jadi bukan tidak bisa membaca dan tulis.


2. Tahapan Penulisan Sirah Nabi

Penulisan Sirah Nabawiyah mengalami beberapa fase. Pada masa awal penulisan Sirah Nabawiyah, sejarah yang terkait dengan Rasulullah, baik perjalanan hidupnya maupun semua yang dilakukan.

Tidak ada biografy tokoh yang selengkap Rasulullah SAW, sampai perkataannya seperti apa, dalam kehidupan berkeluarga seperti apa , kehidupan hariannya seperti apa , do’anya seperti apa, semua tercatat. Dan kisah ini dipindahkan dari satu generasi ke generasi secara baik.

Awalnya memang hadits disampaikan Sahabat kepada Sahabat yang lain melalui lisan. Kemudian sebagian Sahabat menulis beberapa sabda Nabi itu. Karena pada awalnya hanya ada beberapa Sahabat yang diijinkan oleh Nabi untuk mendokumentasikan apa yang beliau ucapkan melalui tulisan.

Kemudian ada Fase Codifikasi, yaitu pengumpulan tulisan-tulisan yang berserakan dalam satu buku.
Berikutnya muncul penulisan Sirah Nabi secara tematik. Pada awalnya lebih banyak pada Peperangan -peperangan.

Kemudian setelah itu para Sejarawan yang banyak didominasi ulama hadits mulai mengumpulkan Sirah Nabawiyah. Mereka pada awalnya menulis sejarah seperti menulis Hadits. Kami mendapatkan kisah ini dari Fulan. Fulan mendapatkan dari Fulan, dan seterusnya . Setelah itu baru kisahnya diceritakan.

Kemudian Fase Sejarah dituliskan sebagaimana kita kenal dengan urutan-urutan yang sudah disusun sedemikian rupa.

Sebagaimana ilmu yang lain, terjadi perkembangan yang signifikan. Sirah Nabawiyah juga seperti itu. Alhamdulillah banyak sejarah Nabi yang sejak masa awal sudah diterjemahkan. Namun kalau kita membaca sejarah masa awal agak bingung karena belum tersusun secara rapi.

Akhirnya tersusun dengan baik. Kemudian pada masa modern disusun sesuai dengan basic ilmu masing- masing penulis. Misalnya kalau ilmu kedokteran adalah Thibbun Nabawi. Thibbun Nabawi berisi tentang apa yang terjadi dan dilakukan oleh Rasulullah pada waktu itu. Ada beberapa buku yang khusus disusun tersendiri Thibbun Nabawi, ada yang masuk ke dalam buku sejarah secara umum.

Ada lagi sejarah Nabi dilihat dari sisi Ekonomi, Rasulullah sebagai wira usahawan. Ada juga Rasulullah sebagai Pemimpin Negara, ada juga Rasulullah sebagai Pendidik.


3. Kita di Era Informasi butuh Referensi
.

Masyarakat kita sekarang senang yang praktis, bagaimana caranya kita mendapatkan informasi yang sebanyak-banyaknya dengan usaha yang sesedikit-dikitnya.

Kita di Era digital ini mendapatkan banyak informasi yang begitu luar biasa mudahnya. Segala sesuatu dapat kita cari dengan Google. Tetapi kalau kita tidak konfirmasi informasi itu pada referensi yang jelas, dikhawatirkan ada distorsi disana. Bisa pengurangan ataupun penyimpangan walaupun disana ditulis bahwa tulisan ini diambil dari buku ini.

Di sekitar tahun 1995 – 1997 di Arab Saudi diadakan sayembara penulisan Sirah Nabawiyah, kemudian yang menarik setelah diambil 10 yang terbaik, ternyata Pemenang 1 sampai 4 penulisnya bukan orang Arab. Mereka orang Urdhu dari Pakistan dan India. Dan yang terbaik waktu itu dikarang oleh Syekh Safi al-Rahman Mubarakfuri dan bukunya dikenal dengan nama Ar-Raheeq Al-Makhtum.

Beberapa buku yang dapat menjadi referensi keluarga :

Kalau kita search di Penjualan online Sirah Nabawiyah maka yang muncul pasti buku Ar Raheeq Al Makhtum karangan Syekh Safi al-Rahman Mubarakfuri yang sudah diterjemahkan. Buku ini direkomendasikan karena munculnya buku ini dalam sebuah sayembara penulisan.

Kemudian adalagi Sirah Nabawiyah pengarangnya Dr Ramadhan Al Buthi. Beliau menulis buku Sejarah Nabi tapi tidak sekedar sebagai alur sebuah cerita sebagaimana karangan Safi al-Rahman Mubarakfuri. Beliau mengambil beberapa pelajaran dalam sejarah itu baik dari sisi dakwahnya atau sebagian fiqihnya.

Buku aslinya Fiqhus Sirah (Pemahaman tentang Sirah). Buku ini lebih memberi wawasan kepada kita. Misalnya ada peristiwa Perang Badar, lalu pelajaran apa yang dapat diambil dari Perang Badar. Ini methodology yang dibuat oleh Dr Ramadhan Al Buthi.

Ada lagi buku menarik berupa Ensiklopedi Nabi Muhammad SAW. Jumlahnya 10 jilid, ada ensiklopedi Nabi Muhammad diantara Para Sahabat, ada ensiklopedi Nabi Muhammad dalam ragam gaya hidup, ada lagi sebagai Pendidik, sebagai Wira Usahawan, sebagai Pemimpin kemudian ada lagi tentang Mukjizat Nabi Muhammad. Buku ini ditulis secara eksklusif bagus sekali. Bagi orang tua juga jelas karena tulisannya besar. Buku ini juga merupakan referensi yang baik karena direkomendasi oleh MUI.

Pada masa sekarang muncul pengenalan Sirah Nabawiyah untuk anak-anak. Dibuat narasi yang cocok untuk anak-anak bahkan kemudian para Pendidik bisa dengan mudah membaca itu untuk disampaikan kepada anak-anak didiknya. Misalnya : Nabi Muhammad teladanku yang terdiri dari 16 jilid. Buku ini dengan narasi yang baik. Kalau cerita tak perlu berfikir mulai dari mana, kita dapat mengurutkan saja.

Itu tadi beberapa buku yang bisa kita jadikan referensi, karena memang ketika kita baca untuk kepentingan orang dewasa dan untuk anak-anak memang ada sedikit perbedaan. Kalau orang dewasa tidak masuk pada perincian dialog dan detail dalam setiap peristiwa.

Buku sejarah Nabi yang sekian banyak itu dipadatkan menjadi hanya satu buku. Dalam penulisan sejarah klasik, Sirah Nabawiyah bisa terdiri dari banyak jilid dengan penulisan sanad periwayatan yang cukup komplit. Tentu membutuhkan waktu membaca yang lebih serius.

Oleh karena itu penting bagi kita untuk memberikan buku-buku tersebut bagi keluarga kita karena buku itu memang layak. Sehingga ketika kita mengklaim Rasulullah sebagai teladan kemudian juga kita ikuti dengan referensi itu. Apalagi kemudian tidak hanya Sirah Nabi tapi juga dengan Buku-buku Hadits. Semua merupakan lembaran kisah harian Rasulullah.

Tidak sedikit para ulama kita menulis referensi terkait Rasulullah dalam semua sisinya , hampir seluruh dimensi kehidupan ini bisa atau mendapatkan porsi yang cukup banyak dari perjalanan hidup Rasulullah SAW.

Sebenarnya sudah banyak kita lakukan dalam kehidupan ini, misalnya do’a. Bagaimana kita mengawali kajian ini, kemudian mengakhiri kajian ini seperti apa, sebenarnya merupakan lembaran kehidupan Rasulullah yang kita tarik dalam kehidupan kita. Demikian juga ketika kita Shalat, dzikir bakda shalat , membaca Al Qur’an ini semua dari Rasulullah dan tak akan kita temukan pada tokoh-tokoh yang lain.

Demikian juga sebagai dokter, kaitannya dengan kajian Thibbun Nabawi. Sampai kemudian seakan- akan terjadi pertentangan. Ada yang merasa sebagai orang islam mestinya menerapkan kedokteran ala Nabi yang dicontohkan Nabi yang paling baik. Tidak usah melakukan penelitian, kadang-kadang sampai seperti itu. Sekarangpun akhirnya ada yang setuju dengan Vaksin dan ada yang tidak setuju Vaksin.

Sebagai seorang muslim memang kita referensinya terhadap sejarah Nabi , kemudian bagaimana kita menyikapinya bila kita sebagai orang muslim ingin menjadikan Rasulullah sebagai panutan dalam konteks sejarah, juga Nabi dari sisi keteladanan dan Nabi sebagai penterjemah Al Qur’an.

Sebagaimana hadits diriwayatkan oleh Ummul Mukminin ‘Aisyah r.anha ketika ia ditanya oleh Sa’ad bin Hisyam tentang akhlak Rasulullah, dia balik bertanya, “Tidakkah engkau membaca Al-Qur’an?” Sa’ad menjawab, “Tentu.” ‘Aisyah berkata, “Sesungguhnya akhlak Nabi SAW adalah Al-Qur’an.” (HR. Muslim).


4. Serangan terhadap Rasulullah SAW targetnya menghancurkan Islam
.

Kalau kita membaca sesuatu hal yang miring terkait dengan Rasulullah SAW maka sebenarnya target utamanya tidak hanya pribadi Nabi. Target utamanya adalah menghancurkan ajaran islam itu sendiri. Karena Rasulullah SAW sebagai pengemban amanah dari Allah untuk menyampaikan risalah Al Qur’an kepada manusia. Maka ketika pribadi Nabi sudah diragukan, maka otomatis risalahnya juga pantas untuk tidak diterima.

Ada sebuah kejadian unik diawal-awal dakwah Rasulullah ketika beliau mengumpulkan orang-orang di Mekkah. Beliau bertanya : “Bagaimana pandangan kalian terhadap diriku?”
Mereka menjawab : “Engkau adalah orang yang terpercaya (al Amin)”.
Tidak ada yang mengatakan bahwa Rasulullah tidak baik.

Setelah Rasulullah yakin bahwa kepribadiannya diterima oleh masyarakat Mekkah pada waktu itu, Rasulullah mengatakan : “Seandainya aku mengatakan bahwa dibalik gunung ini ada pasukan yang akan menyerang kota Mekkah, apakah kalian percaya?”.

“Kami percaya apapun yang kamu sampaikan!” Kata orang Mekkah.

Rasulullah berkata : “Kalau kamu percaya, maka saya sampaikan bahwasanya kalian harus menyembah Allah, tidak ada sekutu baginya. Dan katakanlah ‘Laa ilahaa illallah” ..

Ternyata mereka menolak. Artinya Muhammad dengan kepribadiannya diterima, tetapi Muhammad sebagai pembawa Risalah ditolak. Hal ini dua hal yang bertentangan.

Kadang-kadang kita juga mengalami seperti itu. Kita dengan kapasitas kepribadian kita diterima di masyarakat, tetapi ketika kita membawa misi, membawa sesuatu yang disampaikan kepada masyarakat , bisa jadi ditolak.

Maka ketika ada orang merendahkan tingkat kepercayaan kepada Rasulullah maka sebenarnya bukan ingin menjatuhkan pribadi Nabi saja, tetapi ujungnya adalah ketidakpercayaan pada risalah Islam.

Dan ini membangkitkan ingatan kita apa yang terjadi beberapa saat yang lalu. Adanya karikatur menghina Nabi, kemudian yang ditiupkan berita islam itu kejam, islam itu tidak ramah dengan perempuan, islam menyebar dengan kekerasan atau terorisme.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here