Dr. H. Zuhad Masduki MA

25 Robbiul awwal 1442 / 11 Nopember 2020


Pengantar

Ada yang menyebut surat Al Bayyinah dengan nama Surat Lam yakunil ladzina Kafaru, yang sesungguhnya sama. Menurut tafsir Al Munir, pada bagian awal kajian Surat Al Bayyinah dijelaskan fadhilahnya.

Diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Tirmidzi dari Ubay bin Ka’ab :

Rasūlullāh SAW memanggil Ubay bin Ka’ab kemudian Rasūlullāh SAW berkata:
” (Yā Ubay,) sesungguhnya Allāh SWT memerintahkan aku membacakan surat Lam Yakunilladzīna Kafarū kepada engkau.”
Maka Ubay bin Ka’ab r.a berkata:
”Apakah Allāh SWT menyebut namaku, di sisimu wahai Rasūlullāh?” Kata Rasūlullāh SAW :
”Na’am (Allāh menyebut namamu).”
Maka Ubay bin Ka’ab pun menangis.

Kemudian setelah Rasulullah membacakan Surat Al Bayyinah kepada Ubay bin Ka’ab beliau bersabda : “Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya merasa puas selain ditimbun dengan tanah yaitu setelah mati dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.”

Rasul kemudian menjelaskan sabdanya : “Sesungguhnya intisari dari agama yang lurus itu adalah Tauhid. Tidak ada unsur-unsur kesyirikan di dalamnya. Bukan keYahudian dan juga bukan KeNasranian”.

Kalau kita membaca hadits ini, maka inti agama yang murni itu adalah Al Hanifiah, yang murni semurni- murninya. Tidak ada unsur kemusyrikan di dalamnya. Juga bukan agama Yahudi maupun Nasrani. Karena kedua agama ini di dalam Al Qur’an dijelaskan sudah banyak terjadi perubahan-perubahan yang dilakukan oleh para Pendeta mereka.

Di dalam Al Qur’an kita membaca perdebatan antara Yahudi, Nasrani dan Islam berkaitan dengan hakekat agama. Orang Yahudi mengklaim kebenaran agama Yahudi, yang lain salah. Orang Nasrani begitu juga. Lalu Allah menjawab di dalam Al Qur’an lewat Nabi Muhammad.

Allah SWT berfirman:

وَقَا لُوْا لَنْ تَمَسَّنَا النَّا رُ اِلَّاۤ اَيَّا مًا مَّعْدُوْدَةً ۗ قُلْ اَتَّخَذْتُمْ عِنْدَ اللّٰهِ عَهْدًا فَلَنْ يُّخْلِفَ اللّٰهُ عَهْدَهٗۤ اَمْ تَقُوْلُوْنَ عَلَى اللّٰهِ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dan mereka berkata, Neraka tidak akan menyentuh kami kecuali beberapa hari saja. Katakanlah, Sudahkah kamu menerima janji dari Allah sehingga Allah tidak akan mengingkari janji-Nya, ataukah kamu mengatakan tentang Allah, sesuatu yang tidak kamu ketahui?” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 80)

Nabi Muhammad diperintahkan untuk minta bukti bahwa kaum Yahudi tak akan disentuh oleh neraka, ayat mana dalam Taurat? Ternyata mereka tidak dapat menunjukkan.

Allah SWT berfirman:

بَلٰى مَنْ كَسَبَ سَيِّئَةً وَّاَحَا طَتْ بِهٖ خَطِيْۤــئَتُهٗ فَاُ ولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ النَّا رِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Bukan demikian! Barang siapa berbuat keburukan dan dosanya telah menenggelamkannya, maka mereka itu penghuni neraka. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 81)

Jadi prinsip masuk Neraka itu karena dosa, bukan sekedar menganut agama tertentu.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ اُولٰٓئِكَ اَصْحٰبُ الْجَـنَّةِ ۚ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ

“Dan orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu penghuni surga. Mereka kekal di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 82)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berfirman tentang hal yang sama,
Klaim sepihak tanpa bukti.

وَقَا لُوْا لَنْ يَّدْخُلَ الْجَـنَّةَ اِلَّا مَنْ كَا نَ هُوْدًا اَوْ نَصٰرٰى ۗ تِلْكَ اَمَا نِيُّهُمْ ۗ قُلْ هَا تُوْا بُرْهَا نَکُمْ اِنْ کُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata, Tidak akan masuk surga kecuali orang Yahudi atau Nasrani. Itu hanya angan-angan mereka. Katakanlah, Tunjukkan bukti kebenaranmu jika kamu orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 111)

Ayat berikutnya tentang prinsip keberagamaan yang benar. Allah SWT berfirman:

بَلٰى مَنْ اَسْلَمَ وَجْهَهٗ لِلّٰهِ وَهُوَ مُحْسِنٌ فَلَهٗۤ اَجْرُهٗ عِنْدَ رَبِّهٖ ۖ وَلَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُوْنَ

“Tidak! Barang siapa menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah dan dia berbuat baik, dia mendapat pahala di sisi Tuhannya dan tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 112)

Allah SWT berfirman:

وَقَا لَتِ الْيَهُوْدُ لَـيْسَتِ النَّصٰرٰى عَلٰى شَيْءٍ ۖ وَّقَا لَتِ النَّصٰرٰى لَـيْسَتِ الْيَهُوْدُ عَلٰى شَيْءٍ ۙ وَّهُمْ يَتْلُوْنَ الْكِتٰبَ ۗ كَذٰلِكَ قَا لَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ مِثْلَ قَوْلِهِمْ ۚ فَا للّٰهُ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ فِيْمَا كَا نُوْا فِيْهِ يَخْتَلِفُوْنَ

“Dan orang Yahudi berkata, Orang Nasrani itu tidak memiliki sesuatu pegangan, dan orang-orang Nasrani juga berkata, Orang-orang Yahudi tidak memiliki sesuatu pegangan, padahal mereka membaca kitab. Demikian pula orang-orang yang tidak berilmu, berkata seperti ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili mereka pada hari Kiamat, tentang apa yang mereka perselisihkan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 113)

Kembali pada fadhilah bahwa hakekat agama adalah al Haq, Tauhid yang lurus tidak ada unsur kemusyrikan, bukan Yahudi dan bukan Nasrani. Agama yang benar mengikuti Agama Nabi Ibrahim, bapak Monotheisme dan memegang teguh prinsip Tauhid, yang kemudian dilanjutkan oleh Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Surat Al Bayyinah bicara tentang prinsip kebenaran ini.


Tafsir Surat Al Bayyinah ayat 1


لَمْ يَكُنِ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَا لْمُشْرِكِيْنَ مُنْفَكِّيْنَ حَتّٰى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ ۙ 

“Orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik tidak akan meninggalkan agama mereka sampai datang kepada mereka bukti yang nyata,” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 1)

Dalam uraian para mufasir dijelaskan bahwa tiga penganut agama : Yahudi, Nasrani dan orang-orang musyrik Mekkah sudah mengalami penyimpangan yang jauh. Orang Musyrik Mekkah mengaku melestarikan agama Nabi Ibrahim. Tetapi apa yang mereka katakan tidak sejalan dengan praktek yang mereka lakukan. Orang Mekkah justru mengusung Syirik. Berhala mereka yang besar ada tiga : Lata, Uzza dan Manad yang tidak diajarkan Nabi Ibrahim.

Nabi Ibrahim dulu menentang segala bentuk kemusyrikan sehingga kemudian beliau dihukum oleh penguasa pada zamannya, dimasukkan ke dalam kobaran api.
Dalam kehidupan sosial, orang Mekkah menindas orang yang lemah, anak yatim dan orang miskin.

Agama Yahudi juga sudah melupakan nilai-nilai spiritual. Mereka punya prinsip boleh melakukan kezaliman kepada siapa saja, tidak ada larangan.
Agama Nasrani juga mengalami penyimpangan yang terlalu jauh, sudah mengkultuskan Nabi Isa a.s sehingga kedudukannya melebihi manusia biasa yang diangkat oleh Allah SWT sebagai Rasul.

Orang Yahudi dan orang Nasrani sudah tahu bahwa nanti akan datang Rasul. Dan Rasul itu sifat-sifatnya sudah termaktub di dalam Kitab Sucinya, Taurat maupun Injil. Hanya disana tidak dijelaskan siapa Rasul ini dan darimana datangnya. Orang-orang Mekkah juga mengharapkan datangnya Rasul.

Ayat pertama mengatakan mereka tidak akan meninggalkan agama mereka, sebelum menerima bukti yang nyata, yang dimaksud adalah datangnya Rasul yang membawa bukti wahyu. Orang Mekkah mengharap Nabi ini membawa mukjizat-mukjizat yang bisa mereka lihat. Kalau mereka konsisten setelah bukti nyata datang, mereka harusnya beriman kepada Nabi yang dimaksud.


Tafsir Surat Al Bayyinah ke 2 dan ke 3


رَسُوْلٌ مِّنَ اللّٰهِ يَتْلُوْا صُحُفًا مُّطَهَّرَةً ۙ (2) فِيْهَا كُتُبٌ قَيِّمَةٌ ۗ (3)


“yaitu seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang suci Al-Qur’an, di dalamnya terdapat isi kitab-kitab yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 2-3)

Yang dimaksud dengan Al Bayyinah, keterangan yang jelas atau Bukti yang nyata wujudnya adalah Rasul yang diutus oleh Allah SWT dan Rasul itu adalah Muhammad SAW.
Nabi Muhammad membacakan lembaran-lembaran yang ada dalam Al Qur’an yang disucikan.

Lembaran yang disucikan, menurut Tafsir, Al Qur’an itu suci dari segala bentuk kemusyrikan, dari segala bentuk kebohongan, dari segala subhat, dari kekufuran, dari perubahan dan pencampur-adukan. Isinya adalah Petunjuk bagi manusia dalam kehidupan di dunia untuk kebahagiaan hidup di dunia dan kebahagiaan hidup di akhirat.

Di dalam kitab suci ini di dalamnya terdapat Kitab-Kitab yang sangat lurus. Yang dimaksud adalah Ketetapan yang lurus menyangkut bidang akidah, syariat dan akhlak. Ketetapan ini kalau diamalkan manusia maka pasti akan memperoleh manfaat yang besar bagi yang bersangkutan.


Tafsir Surat Al Bayyinah ayat ke 4

وَمَا تَفَرَّقَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْكِتٰبَ اِلَّا مِنْۢ بَعْدِ مَا جَآءَتْهُمُ الْبَيِّنَةُ ۗ 

“Dan tidaklah terpecah-belah orang-orang Ahli Kitab melainkan setelah datang kepada mereka bukti yang nyata.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 4)

Setelah Nabi Muhammad SAW datang diutus oleh Allah SWT untuk memberi petunjuk kepada seluruh Umat manusia maka masyarakat Yahudi, Nasrani dan Orang-orang Mekkah kemudian berpecah belah. Maksudnya orang Yahudi dan Nasrani ada yang bisa menerima, beriman kepada Nabi Muhammad dan ada yang tidak mau beriman. Orang Mekkah juga begitu.

Waktu Periode Mekkah, orang Mekkah yang mau beriman kepada Nabi Muhammad jumlahnya sangat sedikit, terutama masyarakat bawah, sementara orang-orang yang punya kekuasaan menentang dakwah yang disampaikan oleh Nabi Muhammad SAW.

Penolakan mereka terjadi justru setelah datangnya Nabi yang justru nubuatnya sudah ada di dalam Taurat maupun Injil. Dan sifat-sifatnya sudah mereka ketahui. Penolakan bukan karena tidak tahu, tapi justru setelah mereka mengetahui bahwa Muhammad adalah Rasul yang diutus oleh Allah SWT. Sejarah hidup Nabi Muhammad juga sangat jelas tidak ada masalah.

Makanya orang-orang Yahudi disebut sebagai “maghdub” (orang yang dimurkai oleh Allah) karena menolak kebenaran yang datang kepada mereka. Karena kebenaran itu tidak sejalan dengan kepentingan -kepentingan mereka.

Dalam konteks ayat ke 4, tentang pecah belah, orang-orang Yahudi dan Nasrani terpecah belah menjadi kelompok-kelompok yang sangat banyak. Umat Islam juga nanti akan terpecah belah menjadi kelompok -kelompok seperti Yahudi dan Nasrani.

Lalu Nabi bersabda :
“Siapa yang nanti masuk Surga?”
Dalam satu teks disebut semuanya masuk Surga kecuali satu.
Dalam teks yang lain dikatakan semuanya masuk Neraka kecuali Satu.
Siapa yang masuk Surga ada standarnya yaitu orang yang berpegang teguh kepada apa yang saya pegangi yaitu Al Qur’an”.
Kalau disitu terjadi perbedaan tafsir itu sesuatu yang ditoleransi oleh Al Qur’an, sepanjang tidak membawa kepada perpecahan.

Penolakan mereka karena pengetahuan mereka bahwa inti ajaran islam mengoreksi ajaran-ajaran agama yang sebelumnya. Tentu menimbulkan rasa tidak senang bagi umat yang mengalami penyimpangan yang jauh.


Tafsir Surat Al Bayyinah ayat ke 5


وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ ۗ 

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 5)

Perintah kepada umat manusia, apapun agamanya sangat simpel dan seharusnya tidak menjadikan perpecahan. Karena perintah agama itu mudah dan sederhana.

Perintah agama itu pada intinya ada tiga :

1. Beribadah Kepada Allah secara ikhlas.

Ibadah dalam tafsir Al Manar, definisinya adalah : Ketaatan kepada Allah secara total karena kita tidak mengetahui hakekat Allah SWT.
Kemudian ada ibadah mahdoh dan ibadah ghoiru mahdoh.

Ikhlas itu dari kata khalasa (murni) . Ditambah satu huruf satu huruf menjadi ikhlas. Seperti orang menyaring madu. Madu dimasukkan dalam bejana lalu disaring menjadi madu murni. Ikhlas seperti itu. Kemudian ditambah satu huruf menjadi memurnikan semurni- murninya.

Ikhlas tempatnya di Qalbu. Maka orang berbuat ikhlas sifatnya aktif. Kalau kita mau mengikhlaskan dalam bertauhid maka kita harus membuang semua unsur yang bisa mengotori Tauhid, yang lalu menjadi Syirik.
Ibarat ada kertas mengotori air putih di gelas, kertas dibuang sehingga airnya murni tak ada campuran apapun.
Bila ibadahnya ada unsur syiriknya maka syiriknya harus dibuang.

Hunafa itu tegak lurus. Ulama menjelaskan hanif seperti dua kaki manusia. Yang kiri condong ke dalam, yang kanan juga condong ke dalam ke arah kaki lawannya, sehingga orang bisa berdiri dengan posisi tegak lurus.

2. Melaksanakan Sholat lengkap Syarat Rukunnya serta Memahami makna dan Tujuannya.

Syaratnya thaharah (berwudhu)
Rukunnya : bacaan dan gerakan yang ada dalam shalat.
Makna dan Tujuan shalat adalah dimensi sosial, seperti kepedulian sosial yang disebut dalam Surat Al Ma’un. Shalatnya harus membawa dampak kepada akhlak yang baik. Kalau belum membawa dampak maka shalatnya baru separo.

3. Membayar Zakat.


Itulah agama yang sangat lurus. Syaratnya keberagamaan tidak membawa perpecahan antara satu dengan yang lain.
Tapi karena subyektivitas manusia dan karena kepentingan-kepentingan manusia maka kemudian manusia bercerai berai karena perbedaan agama.


Tafsir Surat Al Bayyinah ayat ke 6


اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا مِنْ اَهْلِ الْكِتٰبِ وَ الْمُشْرِكِيْنَ فِيْ نَا رِ جَهَنَّمَ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ اُولٰٓئِكَ هُمْ شَرُّ الْبَرِيَّةِ ۗ 

“Sungguh, orang-orang yang kafir dari golongan Ahli Kitab dan orang-orang musyrik akan masuk ke Neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Mereka itu adalah sejahat-jahat makhluk.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 6)

Orang kafir kategorinya dua.
– Ahli Kitab yang menolak kenabian Rasulullah, menolak ajaran islam. Menurut Al Qur’an, iman yang benar itu harus mengimani semua Nabi. Siapapun yang menolak salah satu Nabi maka dia kafir. Orang islam yang menolak Nabi Isa dia kafir. Sebaliknya orang Nasrani yang menolak Nabi Muhammad juga kafir.
– Orang Musyrik Mekkah.

Dalam definisi Al Qur’an dibedakan antara Ahli Kitab dan Musyrik. Dampaknya secara hukum juga dibedakan.

Dalam Surat Al Maidah ayat 5 , makanan sembelihan ahli Kitab boleh dimakan orang islam. Tetapi sembelihan orang musyrik tidak boleh dimakan.

Wanita-wanita yang baik dari ahli Kitab boleh dinikahi oleh orang orang islam. Tetapi wanita-wanita musyrik tidak boleh dinikahi orang islam.

Kata “bariyyah” artinya bisa manusia. Jadi orang kafir lebih buruk daripada hewan. Mereka termasuk seburuk- buruk makhluk karena menolak kebenaran. Padahal mereka faham hakekat kebenaran kemudian mereka tolak. Pengetahuan mereka tidak mengantar pada Keimanan kepada Allah SWT.


Tafsir Surat Al Bayyinah ayat ke 7

اِنَّ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ ۙ اُولٰٓئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ۗ 

“Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 7)

Ini kebalikan ayat ke 6. Orang beriman, yang mengimani semua Nabi dan beramal sholeh adalah sebaik-baik makhluk. Amal sholeh adalah penggunaan seluruh daya : daya hidup, daya akal, daya qolbu, daya fisik sesuai dalil-dalil Al Qur’an maupun Hadits.


Tafsir Surat Al Bayyinah ayat ke 8

جَزَآ ؤُهُمْ عِنْدَ رَبِّهِمْ جَنّٰتُ عَدْنٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۤ اَبَدًا ۗ رَضِيَ اللّٰهُ عَنْهُمْ وَرَضُوْا عَنْهُ ۗ ذٰلِكَ لِمَنْ خَشِيَ رَبَّهٗ

“Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah Surga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah rida terhadap mereka dan mereka pun rida kepada-Nya. Yang demikian itu adalah balasan bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (QS. Al-Bayyinah 98: Ayat 8)

Allah ridha kepada mereka, karena mereka melaksanakan tuntunan Nya. Dan merekapun ridha kepada Allah karena keimanan dan amal sholeh yang mereka lakukan atas dasar ketaatan kepada Allah kemudian diberikan balasan oleh Allah dengan kenikmatan yang tidak bisa digambarkan oleh manusia.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here