H.M. Arief Rahman Lc MA

21 Robbiul awwal 1442 / 7 Nopember 2020


Pendahuluan

Di Indonesia ini cukup unik, karena banyak peringatan yang dikaitkan dengan pribadi Rasulullah SAW : Ada Maulid Nabi, ada Peristiwa Isra’ Miradj, ada Peristiwa Hijrah dan lain sebagainya. Ini semua tidak lepas dari usaha mengkaji pribadi Rasulullah SAW. Dari beberapa peringatan itu kita tahu apa yang dapat dijadikan pelajaran.

Ada dua hal yang perlu kita ketahui tentang bagaimana sikap kita memahami sejarah Nabi, orang yang paling kita cintai di dunia yang banyak kita harapkan darinya, yang memandu kehidupan kita.

1. Methode Al Qur’an dalam memaparkan Kisah-kisah dahulu

Al Qur’an memuat sejarah, tetapi bukan buku sejarah. Bahkan dikatakan kalau sejarah ini dihilangkan dari Al Qur’an maka lebih dari setengah Al Qur’an hilang.

1.1. Al Qur’an mengajarkan dalam Sejarah terdapat Ibrah.

Dalam surat Yusuf ayat 111 Allah SWT berfirman:

لَـقَدْ كَا نَ فِيْ قَصَصِهِمْ عِبْرَةٌ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۗ مَا كَا نَ حَدِيْثًا يُّفْتَـرٰى وَلٰـكِنْ تَصْدِيْقَ الَّذِيْ بَيْنَ يَدَيْهِ وَتَفْصِيْلَ كُلِّ شَيْءٍ وَّهُدًى وَّرَحْمَةً لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“Sungguh, pada kisah-kisah mereka itu terdapat pengajaran bagi orang yang mempunyai akal. Al-Qur’an itu bukanlah cerita yang dibuat-buat, tetapi membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya, menjelaskan segala sesuatu, dan sebagai petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.” (QS. Yusuf 12: Ayat 111)

Kisah Nabi Yusuf mungkin merupakan sejarah Nabi yang dipaparkan oleh Allah secara lengkap dalam satu Surat wutuh. Kalau sejarah Nabi Musa disampaikan oleh Allah dalam banyak tempat.

Al Qur’an mengajarkan bahwa dalam setiap Kisah ada Ibrah (pelajaran).
Artinya sejarah itu yang disampaikan dalam Al Qur’an bukan sekedar pengetahuan tapi ada sesuatu yang dapat diambil pelajaran.

1.2. Al Qur’an memaparkan Kisah-kisah dahulu untuk meneguhkan Keimanan.

Allah SWT berfirman:

وَكُلًّا نَّقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ اَنْۢبَآءِ الرُّسُلِ مَا نُثَبِّتُ بِهٖ فُؤَادَكَ ۚ وَجَآءَكَ فِيْ هٰذِهِ الْحَـقُّ وَمَوْعِظَةٌ وَّذِكْرٰى لِلْمُؤْمِنِيْنَ

“Dan semua kisah rasul-rasul, Kami ceritakan kepadamu Muhammad, agar dengan kisah itu Kami teguhkan hatimu; dan di dalamnya telah diberikan kepadamu segala kebenaran, nasihat, dan peringatan bagi orang yang beriman.” (QS. Hud 11: Ayat 120)

Allah mengabarkan bahwa para Nabi terdahulu juga diuji. Ujiannya bisa dari keluarga, anak, isteri, kerabat ataupun dari eksternal yang tidak senang dengan apa yang dibawa.


2. Al Qur’an mengungkapkan jati diri Rasulullah SAW


Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ 

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap rahmat Allah dan kedatangan hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Allah menyampaikan bahwa dalam perjalanan hidup Rasulullah ada teladan, ada banyak hal yang bisa kita ambil hikmahnya untuk kehidupan manusia setelahnya.

Dua hal di atas dapat kita gunakan untuk referensi, ketika kita ingin memahami Rasulullah SAW. Bagian mana dari sejarah Nabi itu yang paling penting.


Hal yang Wajib Diketahui

Sejarah Nabi sering disebut dengan Sirah Nabawiyah atau Perjalanan Hidup Nabi. Terkait dengan sirah Nabi, Ibnu Katsir dalam kitabnya Al Bidayah wal Nihayah dikatakan bahwa mempelajari Sirah juga penting.

Ali Zaenal Abidin berkata : “Kami belajar peperangan yang diikuti oleh Rasulullah sebagaimana kami belajar surat-surat yang ada dalam Al Qur’an”.
Kondisi pada saat itu mempelajari sejarah Nabi dari sisi kegiatan militernyapun dianggap penting.

Pada awalnya Sirah Nabawiyah banyak diulas dalam ilmu Hadits. Karena para ulama mengartikan hadits itu segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi, baik itu perkataan, perbuatan, ketetapan, sirah atau perjalanan hidupnya, atau sifat sifatnya baik sifat lahiriah maupun sifat akhlakiah.

Maka awalnya kodifikasi sejarah Nabi tersebar dalam buku-buku Hadits, tidak terkumpul menjadi satu.
Sampai akhirnya kemudian dibukukan sejarah Nabi dari awal sampai akhir.

Ketika para ulama terdahulu mengumpulkan Hadits, mereka mempunyai kriteria yang sangat ketat dalam Sanadnya karena Hadits itu nanti terkait dengan Pribadi Nabi baik itu nanti masuk dalam wilayah Hukum, Ibadah ataupun Keyakinan.

Berbeda dengan Sejarah, ketika kemudian dibukukan, sejarah sebelum lahirnya Rasulullah sampai beliau meninggal, ada kelonggaran, tidak seketat ketika menulis kitab Hadits.

Setelah kita tahu dua hal di atas kenapa Sejarah itu penting, ada banyak hal yang tidak bisa dilepaskan dari sisi Pribadi Rasulullah SAW.

Kehidupan Nabi itu paling tidak ada dua :
– Sisi Basyariyah atau Posisi beliau sebagai seorang manusia.
– Sisi Risalah, bahwasanya apa yang tercermin di dalam kehidupan Rasulullah mempunyai nilai Risalah, ada Misi Islam ketika Rasulullah menjelaskan dan menyampaikan Al Qur’an.

Maka umat islam memahami Nabi Muhammad ini juga ada yang sedikit berbeda, ada yang mengatakan apa yang keluar dari seorang Muhammad harus ditiru apa adanya. Semuanya mempunyai nilai Risalah. Ada yang mengatakan harus dibedakan mana yang mempunyai nilai Risalah dan mana yang tidak.

Seorang sejarawan Dr. Muhammad Said Ramadhan menyampaikan bahwa mengkaji Sirah Nabawiah tidak sekedar mengkaji sejarah. Ini adalah Biografi yang luar biasa

Ada 5 hal yang penting.

1. Memahami Sirah Nabawiah itu memahami Pribadi Muhammad.

Bukan sekedar tahu Muhammad ini mempunyai kejeniusan yang luar biasa, tetapi lebih dari itu. Memahami seorang Muhammad adalah memahami seorang Nabi.

Kita tahu bahwa Rasulullah dimasukkan sebagai orang yang pertama yang paling mempengaruhi dunia. Penulis hanya melihat dari sisi dia seorang manusia, bukan dari sisi dia adalah seorang Rasul yang dituntun oleh Allah SWT dengan wahyunya yang turun dari setiap peristiwa.

Ketika kita membaca Sirah Nabawiah harus memahami bahwa Muhammad adalah seorang Nabi , bukan dari sisi yang lain. Pemahaman dari sisi kenabian kita akan melihat bahwa sebelum Rasulullah lahir ada banyak peristiwa yang mengiringi peristiwa kelahiran Rasulullah SAW.

Peristiwa itu antara lain :

– Api Abadi di Persia tiba-tiba padam
– Istana Raja di Yaman tiba-tiba hancur

– Kedatangan ibu susu Halimah As-Sa’diah secara luar biasa.
Orang Arab mempunyai tradisi ketika bayi lahir, setelah disusui ibunya kemudian disusukan oleh orang lain di tempat yang lebih sejuk udaranya.
Orang Bani Sa’ad datang ke Mekkah mencari bayi untuk disusui.
Semua dapat kecuali Halimah Sa’diah. Orang Mekkah tak mau memberikan bayinya ke dia, karena dia kurus dan ontanya juga tidak sehat . Sebaliknya semua wanita Bani Sa’ad menolak bayi Muhammad karena dia seorang yatim.
Karena terpaksa tidak mendapatkan bayi, Halimah As Sa’diyah kemudian mengambil bayi Muhammad. Tapi kemudian banyak keajaiban terjadi.

– Peristiwa Isra’ Miradj
Ketika difahami dari sisi ilmu pengetahuan maka yang muncul adalah masalah ilmu.
Ketika difahami dari sisi kerisalahan maka yang muncul adalah masalah keimanan. Meskipun masalah ilmu pengetahuan juga akan menghantarkan seseorang pada pemahaman KeEsaan Allah SWT.


2. Memahami Sirah Nabawiah itu untuk mendapatkan type yang ideal di dalam kehidupan (uswah hasanah).

Mempelajari sejarah Nabi untuk mendapatkan contoh baik dalam sisi akhlak, kemudian kehidupan beribadah maupun bermuamalah. Maka dalam penulisan sejarah Nabi banyak sekali diulas, tidak hanya dari sisi fisik Nabi tapi juga dari apa yang dilakukan oleh Rasulullah SAW.
Dari sejak di Mekkah bagaimana sikapnya terhadap orang yang memusuhi, kemudian ketika sampai di Madinah, bagaimana menyatukan orang Muhajirin dan Anshor. Bagaimana bersikap terhadap orang Yahudi. Bagaimana sikap Rasulullah sebagai pribadi, sebagai kepala keluarga, sebagai kepala Pemerintahan, sebagai Panglima Perang. Disini kita mendapatkan type ideal.


3. Memahami Sirah Nabawiah itu untuk membantu memahami Al Qur’an.

Al Qur’an kita fahami dari sisi Sejarah, misal dalam Surat Al Anfal tentang kisah Perang Badar. Al Qur’an hanya memberikan paparan yang singkat. Tetapi siapa yang ikut perang Badar, sebabnya apa dan jumlahnya berapa, itu Sejarah membantu untuk memahami.

Sama dengan ketika terjadi Perang Uhud, Sejarah kemudian menjelaskan siapa yang kemudian membelot. Pada awalnya semua sudah siap, kemudian di tengah perjalanan orang-orang munafik kembali ke kota Madinah.

Masalah zakat , sejarah menjelaskan bahwa ada informasi tentang Sahabat yang menjelaskan di suatu tempat ada orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Kemudian Allah turunkan tentang perlunya cross cek informasi. Jangan sampai informasi ditelan mentah-mentah. Akhirnya muncullah ilmu asbabul wuruj.


4. Memahami Sirah Nabawiah itu untuk memperkaya wawasan islam yang wutuh.

Contoh ada orang yang berlebih- lebihan di dalam pelaksanaan ibadah tertentu kemudian melalaikan hak yang lain :

Ada tiga orang datang menemui istri Rasulullah untuk menanyakan ibadah baginda nabi. Saat diberitahu mengenai ibadah Rasulullah, mereka merasa sangat kecil.
Kemudian Orang pertama menyatakan akan shalat malam terus menerus. Orang Kedua akan puasa sepanjang tahun tanpa henti. Orang ketiga akan menjauhi perempuan dan tak akan menikah selamanya.
Ternyata Rasulullah ada di belakang mereka.
Nabi bersabda, “Benarkah kalian yang mengatakan akan shalat malam terus menerus, akan berpuasa setiap hari, dan tidak akan menikah selama hidup? Bukankah, demi Allah, aku orang yang paling takut di antara kalian kepada Allah dan paling bertakwa kepada-Nya, namun demikian aku shalat malam dan juga tidur, aku berpuasa dan juga tidak berpuasa, dan aku menikahi wanita? Barangsiapa tidak menyukai sunahku maka ia bukan golonganku.” (HR Bukhori dan Muslim).

Ternyata ibadah yang sudah ditetapkan itu sesuai dengan fitrah manusia, tidak memberatkan. Jadi mempelajari sejarah Nabi untuk memperkaya wawasan islam secara wutuh, apakah dari sisi akidah, atau akhlak atau muamalah.


5. Memahami Sirah Nabawiah itu adalah mempelajari contoh yang nyata bagaimana Rasulullah SAW melakukan pembinaan terhadap umat.

Para Sejarawan kemudian membagi sejarah Nabi. Ada Fase Mekkah dan ada Fase Madinah. Ada fase dakwah yang secara diam-diam dan ada fase dakwah yang secara terang-terangan. Ada peristiwa hijrah dan lain sebagainya. Bagaimana kemudian Rasulullah membangun masyarakat yang baik ini tahapannya seperti apa. Ini menjadi sebuah contoh yang perlu diikuti.


Kembali kepada Tema, sejarah Nabi yang paling penting apa, tidak lain adalah kehidupan Nabi yang wutuh yang bisa kita contoh di dalam kehidupan.

Secara detail, Nabi kapan lahirnya dan sebagainya itu boleh kita ketahui.
Kalau dalam Al Qur’an hanya mengatakan Nabi lahir pada tahun Gajah, kemudian Sejarah mendetailkan pada tahun sekian Hijrah, tahun sekian Masehi dan seterusnya.

Dalam penelitian sejarah yang kemudian dituliskan dalam buku-buku Sejarah Nabi, kemudian Peneliti Sejarah selanjutnya membuat Sejarah secara Tematik. Bagaimana kehidupan Rasulullah dari sisi Sosialnya, kemudian dari sisi Ekonominya.

Terkait peristiwa terakhir, bagaimana sikap Rasulullah terhadap wabah Pandemi? Bagaimana dakwah Rasulullah? Bagaimana Rasulullah dalam sisi Tarbiyah atau Pendidikan Umat? Bagaimana sejarah Nabi dari Sisi Politik? Ini semua tidak boleh dilepas dari Sisi Kenabian seorang Muhammad.

Dalam tradisi umat islam di bulan Maulid, banyak yang melakukan peringatan Kelahiran Nabi Muhammad SAW. Sejarawan berbeda pendapat.
Ada yang mengatakan kalau memperingati kelahiran Nabi tidak boleh karena para Sahabat pada waktu itu tidak melakukan peringatan Kelahiran Nabi.

Tapi kemudian muncul pada masa berikutnya. Ada peristiwa sejarah yang memang harus difahami. Kalau peringatan ini masuk dalam ritual ibadah yang harus dilaksanakan dan kemudian kalau tidak dilaksanakan dosa maka ini sudah memasukkan Tradisi dalam lingkup Ibadah. Ini tidak diperkenankan.

Peristiwa ini muncul karena pada waktu itu umat islam kehilangan gairah ijtihad. Pada waktu itu terjadi Friksi , kemudian perpecahan. Padahal pada waktu Pemerintahan Islam pada masa Bani Fatimiyah (Ada yang mengatakan pada masa Sholahudin Al Ayubi membutuhkan satu sosok yang bisa menyatukan umat islam pada waktu itu.

Maka kemudian dibuatlah Peringatan kelahiran Nabi menjadi momen untuk menggairahkan cinta umat islam kepada Rasulullah SAW. Harapannya setelah cinta kepada Nabi dibangkitkan kemudian dari dasar kecintaan diharapkan bisa membawa mereka untuk berjihad di jalan Allah.

Akhirnya menjadi sesuatu yang dianggap baik dan berhasil karena pada waktu itu terjadi perang salib yang cukup lama. Akhirnya menjadi tradisi berulang yang diperingati setiap tahun.

Maka ketika kita melakukan peringatan apapun terkait dengan Rasulullah SAW tujuannya untuk menggairahkan kembali kecintaan kepada Rasulullah SAW dan diharapkan dari situ kita semangat untuk mengikuti apa yang Rasulullah tinggalkan kepada kita.

Akan menjadi kontradiksi jika kita satu sisi merayakan kelahiran Rasulullah SAW tetapi di sisi lain kita tidak mau mengikuti apa yang beliau contohkan kepada kita. Dalam sisi apapun. Dari sisi Keyakinan misalnya bagaimana tawakalnya Rasulullah SAW kepada Allah.

Rasulullah SAW menyampaikan :
“Barangsiapa yang mendatangi tukang ramal, maka shalatnya selama 40 hari tidak diterima.” (HR. Muslim).

“Janganlah kalian memujiku sebagaimana orang nashrani memuji Isa bin Maryam, aku hanyalah seorang hamba, maka katakanlah ‘ Hamba Allah dan RasulNya”(HR. Bukhari).

Kemudian dari sisi ibadahnya kita memperingati kelahiran Nabi tapi dari sisi ibadahnya kita tidak mau mengikuti yang Rasulullah contohkan kepada kita. Ini patut menjadi perenungan kita bersama.

Kalau semangat Al Qur’an tadi tidak kita ambil pelajarannya, lalu peringatan itu untuk apa? Apakah hanya untuk mengingat Peristiwa itu saja? Kemudian hampa tanpa ada sesuatu yang dibangkitkan? Ataukah kemudian ada sesuatu yang diinginkan? Ada pelajaran, ada program selanjutnya?

Contoh-contoh semua sudah ada dan Pilihan ada pada kita.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here