Dr. Zahrul Fata Lc, MA

18 Robbiul awwal 1442 / 4 Nopember 2020



Satu-satunya Perintah yang Allah juga mengerjakan

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

Inilah ayat yang melandasi kita bersholawat kepada Nabi. Semua kita sepakat bahwa Baginda Nabi adalah sosok pribadi yang paripurna.

Allah menyuruh kita Shalat, Puasa, Haji, Bersedekah, apapun semua yang Allah perintahkan kepada kita hambanya, Allah tidak melakukannya.
Satu-satunya perintah Allah yang Allah juga melakukannya dan juga Para MalaikatNya melakukannya itu adalah hanya bersholawat kepada Nabi Muhammad SAW. Jadi kalau kita bersholawat kepada Baginda Nabi itu seolah-olah kita “satu barisan” dengan Allah dan para MalaikatNya.

Apa yang terjadi jika kita memegang gelas penuh air, lalu kita kucurkan air terus ke dalam gelas itu.? Pasti akan ada tumpahan air yang mengena diri kita. Demikian pula sholawat yang kita lantunkan kepada Baginda Nabi.
Do’a yang kita lantunkan itu sebenarnya memercik kembali kepada kita, karena sosok beliau adalah Pribadi yang agung. Bahkan tumpahan airnya lebih banyak daripada yang kita kucurkan.

Rasulullah SAW bersabda,
“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)


Nabi disana “Mendengar”

Ada satu ayat yang ingin saya bahas, yaitu :

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ رَّسُوْلٍ اِلَّا لِـيُـطَا عَ بِاِ ذْنِ اللّٰهِ ۗ وَلَوْ اَنَّهُمْ اِذْ ظَّلَمُوْۤا اَنْفُسَهُمْ جَآءُوْكَ فَا سْتَغْفَرُوا اللّٰهَ وَا سْتَغْفَرَ لَـهُمُ الرَّسُوْلُ لَوَجَدُوا اللّٰهَ تَوَّا بًا رَّحِيْمًا

“Dan Kami tidak mengutus seorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan izin Allah. Dan sungguh, sekiranya mereka setelah menzalimi dirinya datang kepadamu (Muhammad), lalu memohon ampunan kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampunan untuk mereka, niscaya mereka mendapati Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 64)


Ketika menafsirkan ayat ini Ibnu Katsir mengutip sebuah kisah yang menarik sekali :

Allah menunjukkan orang-orang yang bermaksiat, dan yang berbuat dosa supaya datang kepada Baginda Nabi. Dan meminta ampun kepada Allah disamping Nabi. Dan meminta kepada Baginda Nabi supaya Allah mengampuni mereka. Sesungguhnya jika orang yang berdosa itu melakukan itu, Allah akan mengasihi mereka dan mengampuni mereka.

Yang perlu ditegaskan disini kata “jaaa`uuka” (datang kepadamu).
Ayat ini tidak hanya berlaku ketika Baginda Nabi masih hidup.
Jadi kalau orang itu berlumuran dosa datang kepada Baginda Nabi seraya meminta ampun kepada Allah dan Rasulullah membantu dia memintakan ampunan. Maka orang yang datang kepada Baginda Nabi itu akan mendapatkan ampunan.

Seorang ulama bernama Abu Mansur As Sabbag dalam kitabnya Asy Syamil mengetengahkan kisah yang terkenal dari seorang ulama bernama Uthba yang menceritakan bahwa ketika ia sedang duduk di dekat kubur Nabi SAW, tiba-tiba datanglah seorang Arab Badui di makam Nabi , lalu ia mengucapkan,

“Assalamu’alaika, ya Rasulullah.
Aku telah mendengar Allah berfirman: ‘Sesungguhnya jikalau mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasul pun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka menjumpai Allah Maha Penerima Tobat lagi Maha Penyayang’ (An-Nisa: 64).
Sekarang aku datang kepadamu, memohon ampun bagi dosa-dosaku kepada Allah dan meminta syafaat kepadamu agar engkau memohonkan ampunan bagiku kepada Tuhanku.”

Kemudian lelaki Badui tersebut mengucapkan syair berikut , yaitu:

يَا خَيْرَ مَنْ دُفِنَتْ بِالْقَاعِ أَعْظُمُهُ …
فَطَابَ مِنْ طِيبِهِنَّ الْقَاعُ وَالْأَكَمُ
نَفْسِي الْفِدَاءُ لِقَبْرٍ أَنْتَ سَاكِنُهُ …
فِيهِ الْعَفَافُ وَفِيهِ الْجُودُ وَالْكَرَمُ

“Hai sebaik-baik orang yang dikebumikan di lembah ini lagi paling agung, maka menjadi harumlah dari pancaran keharumannya semua lembah dan pegunungan ini. Diriku sebagai tebusan kubur yang engkau menjadi penghuninya; di dalamnya terdapat kehormatan, kedermawanan, dan kemuliaan”.

Kemudian lelaki Badui itu pergi meninggalkan makam Nabi, dan dengan serta-merta mataku terasa mengantuk sekali hingga tertidur. Dalam tidurku itu aku bermimpi bersua dengan Nabi SAW, lalu beliau SAW. bersabda,

يَا عُتْبى، الحقْ الْأَعْرَابِيَّ فَبَشِّرْهُ أَنَّ اللَّهَ قَدْ غَفَرَ له

“Hai Uthba , susullah orang Badui itu dan sampaikanlah berita gembira kepadanya bahwa Allah telah memberikan ampunan kepadanya!”

Berdasarkan ayat di atas dan penafsiran Ibnu Katsir, Baginda Nabi “mempunyai maqomnya sendiri” di alam barzakh sana.

Terhadap kuburan orang biasa saja kalau kita ke kuburan kita diperintahkan mengucapkan salam.

السلام على أهل الديار من المؤمنين والمسلمين، ويرحم الله المستقدمين منا والمستأخرين، وإنا إن شاء الله بكم للاحقون

“Assalamu’alaykum wahai penghuni kubur dari kalangan kaum mukminin dan muslimin. Semoga Allah merahmati orang-orang yang mendahului kami dan orang-orang yang datang kemudian. Dan insya Allah kami akan menyusul kalian” (HR. Muslim, Ahmad, An Nasa’i)

Merekapun menjawab, tapi Allah tidak memperdengarkannya. Kalau diperdengarkan mungkin kita ketakutan.

Setiap salam, wajib kita jawab, tetapi kita kenal ada dua macam salam yang tidak dijawab, yaitu :
– Salamnya imam ketika shalat
– Salam kepada ahli kubur.

Demikian pula, menurut penafsiran Ibnu Katsir Rasulullahpun mendengar salam. Termasuk kalau kita mengucapkan Sholawat pun beliau mendengar. Saya kalau Umrah kadang dititipi Salam untuk Rasulullah, maka sayapun merasa wajib menyampaikan salam teman ketika sampai di Raudhah. Rasulullahpun menjawab tapi kita tidak tahu hakekatnya bagaimana.


Bagaimana Bersholawat?

Dalam shahih Bukhori dijelaskan Ka’b bin ‘Ujrah berkata: “Maukah kamu aku berikan hadiah yang aku dengar dari Rasulullah SAW ?”Aku berkata: “Iya, hadiahkanlah itu kepadaku.” Maka beliau berkata:

سألْنا رسول الله فقلنا: يا رسول الله كيف الصلاةُ عليكم أهلَ البيت، فإن الله قد عَلَّمنا كيف نسلِّم؟ قال: قولوا اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Kami bertanya kepada Rasulullah SAW : “Wahai Rasulullah, bagaimana cara bershalawat kepada antum, wahai ahlul bait?” Karena Allah sudah mengajari kami bagaimana cara mengucapkan salam?” Maka beliau bersabda: Katakanlah:

اللَّهُّم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيْتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميد مجيد، اللَّهُّم بارِكْ على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركتَ على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنك حميدٌ مجيد

“Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan keluarganya sebagaimana engkau telah bershalawat kepada Ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas, Ya Allah, berkahilah Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau telah memberkahi ibrahim dan keluarganya, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Luas.” – (Muttafaqun ‘alaihi).

Hadis Bukhari melaui jalur Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu Anhu

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَبَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلَى إِبْرَاهِيمَ وَآلِ إِبْرَاهِيمَ



Sholawat memakai “Sayidina”?

Kalau melihat hadits ini tidak ada kata “Sayidina”. Sebagian orang yang menggunakan kata Sayidina berargumentasi dengan dasar hadits.
Nabi Muhammad SAW bersabda:

أَنَا سَيِّدُ وَلَدِ آدَمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَوَّلُ مَنْ يَنْشَقُّ عَنْهُ الْقَبْرُ وَأَوَّلُ شَافِعٍ وَأَوَّلُ مُشَفَّعٍ

“Aku adalah sayyid (penghulu) anak Adam pada hari kiamat. Orang pertama yang bangkit dari kubur, orang pertama yang memberikan syafa’at dan orang yang pertama kali diberi hak untuk memberikan syafa’at.” (Sahih Muslim)

Dari hadits ini sebagai etika maka ada yang menyebut kata Sayyid sebelum nama Baginda. Bukankah ketika kita sebagai MC akan menyebut nama yang mau pidato atau memberi taushiyah juga tidak pernah langsung menyebut nama ? Kita menyebutkan “kepada yang terhormat” bapak Abdul Shomad. Itu kepada orang biasa, apalagi kepada Nabi kita maka kita sepantasnya memberi penghormatan dengan kata Sayidina.


Saat bersholawat pakai suara atau boleh dilagukan?

Ada ayat yang menjawab ini, tapi tidak langsung :

قُلِ ادْعُوا اللّٰهَ اَوِ ادْعُوا الرَّحْمٰنَ ۗ اَ يًّا مَّا تَدْعُوْا فَلَهُ الْاَ سْمَآءُ الْحُسْنٰى ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَا تِكَ وَلَا تُخَا فِتْ بِهَا وَا بْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

“Katakanlah Muhammad, Serulah Allah atau serulah Ar-Rahman. Dengan nama yang mana saja kamu dapat menyeru, karena Dia mempunyai nama-nama yang terbaik dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat dan janganlah merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 110)

Berdo’a jangan berteriak, tapi juga jangan diam tak terdengar.
Diperbolehkan memakai nada dalam rangka untuk menghafalkan dan menghayati. Kita akan susah melafalkan lagu Indonesia Raya, walaupun kita hafal. Menjadi mudah ketika melagukannya. Begitu pula do’a ataupun sholawat menjadi mudah dihafalkan jika kita lagukan.


Bolehkah sholawat dengan redaksi lain?

Dalam hadits di atas tadi jelas bahwa Rasulullah SAW mengajarkan cara bershalawat yang kemudian terkenal dengan nama Sholawat Ibrahimiah.
Apakah boleh bersholawat dengan redaksi lain? Untuk menjawab ini saya harus menyitir sebuah hadits.

Dari Rifa’ah bin Rafi r.a:

كنَّا يومًا نُصلِّي وراءَ النبيِّ صلَّى اللهُ عليه وسلَّم، فلمَّا رفَع رأسَه من الرَّكعةِ، قال: سمِعَ اللهُ لِمَن حمِدَه، قال رجلٌ وراءَه: ربَّنا ولك الحمدُ حمدًا كثيرًا طيِّبًا مبارَكًا فيه، فلمَّا انصرَف، قال: مَنِ المتكلِّمُ؟ قال: أنا، قال: رأيتُ بِضعَةً وثلاثينَ مَلَكًا يبتَدِرونها، أيُّهم يكتبُها أولُ

“Kami dahulu shalat bermakmum kepada Nabi SAW. Ketika beliau mengangkat kepada dari rukuk, beliau mengucapkan: sami’allahu liman hamidah. Kemudian orang yang ada di belakang beliau mengucapkan: robbanaa walakal hamdu, hamdan katsiiron mubaarokan fiihi (segala puji hanya bagiMu yaa Rabb. Pujian yang banyak, yang baik lagi penuh keberkahan). Ketika selesai shalat, Nabi bertanya: ‘Siapa yang mengucapkan doa tadi?’ Lelaki tadi menjawab: ‘Saya’. Nabi bersabda: ‘Aku tadi melihat tiga puluh lebih malaikat berebut untuk saling berusaha terlebih dahulu menulis amalan tersebut’.” (HR. Bukhari).

Ibnu Hadjar ketika mensyarah hadits ini mengatakan bahwa hadits diatas menjadi dalil kebolehan membuat dzikir dalam shalat, selain yang matsurat (selain yang diajarkan dalam Al Qur’an dan Hadits) selama dzikir tersebut tidak bertentangan dengan Al Qur’an. Itu tadi di dalam sholat, apalagi di luar sholat.

Rasulullah SAW mengajarkan do’a sebelum makan cukup dengan membaca : Bismillah.
Ternyata kita juga punya do’a sebelum makan :

اَللّٰهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيْمَا رَزَقْتَنَا وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ

“Allahumma baarik lanaa fiimaa rozaqtanaa wa qinaa ‘adzaa bannaar.”
(Ya Allah, berkahilah kami dalam rezeki yang telah Engkau berikan kepada kami dan peliharalah kami dari siksa api neraka).

Do’a ini boleh karena secara makna tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.
Kesimpulannya sah-sah saja bersholawat memuji Nabi dengan redaksi yang lain yang tidak bertentangan dengan Al Qur’an dan Hadits.


Keutamaan Sholawat.

Ketika kita bersholawat kepada Baginda Nabi maka yang kembali ke kita lebih banyak daripada yang kita kucurkan.

Beberapa fadhilah Sholawat

1. Dikabulkannya Do’a

Hadits Fudholah bin ‘Ubaid, ia berkata,

سَمِعَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَدْعُو فِى صَلاَتِهِ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- « عَجِلَ هَذَا ». ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ « إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ ».

“Nabi SAW pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya, lalu ia tidak memanjatkan shalawat pada Nabi SAW. Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.” Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau mengatakan pada lainnya, “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat pada Nabi SAW , lalu mintalah doa yang diinginkan.” (HR. Tirmidzi, Abu Daud).

Adab berdo’a agar dikabulkan adalah membaca hamdalah dulu, disambung sholawat dan baru berdoa.

2. Dijanjikan Pahala yang berlipat.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Ini tadi seperti analogi kucuran air pada gelas yang penuh.

3. Diangkat Derajatnya.

Rasulullah SAW bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطَيَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ

“Barangsiapa yang bersholawat kepadaku satu kali, maka Allah bersholawat kepadanya 10 kali shalawat, dihapuskan darinya 10 kesalahan, dan ditinggikan baginya 10 derajat.” (HR. Ahmad)

Saya pernah menghitung durasi satu sholawat itu 4 sampai 5 detik. Dalam 1 jam ada 900 kali. Kalau 2 jam tinggal mengalikan. Bagaimana agar kita bisa bersholawat berjam-jam? Caranya saat mau tidur aktivitas terakhir kita bersholawat. Terus sampai kita tertidur akan dicatat oleh malaikat bersholawat sampai kita bangun menjelang Subuh.

4. Dikumpulkan di Surga bersama Nabi

Rasulullah SAW bersabda

أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً

“Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah orang yang paling banyak bershalawat kepadaku” -(HR. Tirmidzi)

Sebelum tidur saja kita bisa tercatat membaca sholawat ribuan kali. Di sela-sela Tahajud membaca sholawat. Sambil menunggu adzan Subuh, membaca sholawat. Demikian seterusnya setiap aktivitas kecuali di kamar mandi. In syaa Allah bila dilakukan sepanjang hari dan rutin akan ada keajaiban yang terjadi.

5. Mendapat Syafa’at dari Nabi.

Rasulullah SAW bersabda,

إِذَا سَمِعْتُمُ الْمُؤَذِّنَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ ثُمَّ صَلُّوا عَلَىَّ فَإِنَّهُ مَنْ صَلَّى عَلَىَّ صَلاَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا ثُمَّ سَلُوا اللَّهَ لِىَ الْوَسِيلَةَ فَإِنَّهَا مَنْزِلَةٌ فِى الْجَنَّةِ لاَ تَنْبَغِى إِلاَّ لِعَبْدٍ مِنْ عِبَادِ اللَّهِ وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ أَنَا هُوَ فَمَنْ سَأَلَ لِىَ الْوَسِيلَةَ حَلَّتْ لَهُ الشَّفَاعَةُ

“Jika kalian mendengar muadzin, maka ucapkanlah seperti apa yang diucapkan oleh muadzin. Kemudian bershalawatlah untukku. Karena siapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat padanya (memberi ampunan padanya) sebanyak sepuluh kali. Kemudian mintalah wasilah pada Allah untukku. Karena wasilah itu adalah tempat di surga yang hanya diperuntukkan bagi hamba Allah, aku berharap akulah yang mendapatkannya. Siapa yang meminta untukku wasilah seperti itu, dialah yang berhak mendapatkan syafa’atku.”- (HR. Muslim).

Satu-satunya Nabi Allah yang diberi hak syafa’at yaitu memanggil orang yang ada di neraka untuk kembali ke Surga adalah Nabi Muhammad SAW. Dan itu diberikan kepada kaumnya yang sering membaca sholawat.

Perlu kita ketahui bahwa kita ini umat Nabi yang sebenarnya lebih dibanggakan dibanding orang-orang yang hidup bersamanya.

Dari Anas bin Malik, Rasulullah SAW pernah bersabda.”Kapan aku akan bertemu para kekasihku?”
Para sahabat bertanya, ”Bukankah kami adalah para kekasihmu?” Rasulullah menjawab,”Kalian memang sahabatku, para kekasihku adalah kaum yang datang setelah kalian, mereka beriman kepadaku, meskipun mereka tidak pernah melihatku.”


Macam-Macam Sholawat

Sholawat yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW adalah Sholawat Ibrahimiyah (dalam bentuk aslinya tidak ada kata Sayidina)

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا صَلَّيْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ و بَارِكْ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ كَمَا بَارَكْتَ عَلٰى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ وَعَلٰى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيْمَ فِيْ الْعَالَمِيْنَ إِنَّكَ حَمِيْدُ مَجِيْدٌ

ALLAHUMMA SHALLI ‘ALAA SAYYIDINAA MUHAMMAD WA’ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN KAMAA SHALLAITA ‘ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIIMA WA’ALAA AALI SAYYIDINAA IBRAHIIMA, WABAARIK ‘ALAA AALI SAYYIDINAA MUHAMMADIN KAMAA BAARAKTA ‘ALAA SAYYIDINAA ’ALAA SAYYIDINAA IBRAAHIMA WA ‘ALAA AALI SAYYIDINA IBRAAHIMA, FIL ‘AALAMIINA INNAKA HAMIIDUN MAJIIDUN.

Artinya: “Ya Allah, berilah kasih sayang kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberi kasih sayangmMu kepada junjungan kita Nabi Ibrahim dan keluarganya. Dan berkatilah kepada junjungan kita nabi Muhammad dan keluarganya sebagaimana Engkau memberkati junjungan kita nabi Ibrahim dan kelurganya diantara makhluk makhlukmu, sesungguhnya Engkau Maha Terpuji dan Maha Mulia.”

Disamping sholawat yang diajarkan Nabi Muhammad SAW, para ulama telah menciptakan beberapa redaksi sholawat yang tentunya isinya tidak boleh bertentangan dengan yang matsurat.

Sholawat Karya ulama itu antara lain

1. Sholawat Fatih :

اللَّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الفَاتِحِ لِمَا أُغْلِقَ وَالخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ وَالنَّاصِرِ الحَقَّ بِالحَقِّ وَالهَادِي اِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيْمٍ. صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَعَلَى اَلِهِ وَأَصْحَابِهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَمِقْدَارِهِ العَظِيْمِ

Allahumma Sholli Ala Sayyidina Muhammaddinil Fatihi Lima Ughliqo Wal Khotimi Lima Sabaqo, Nashiril Haqqi Bil Haqqi Wal Hadi Ila Shirotikal Mustaqim Wa Ala Alihi Haqqo Qodrihi Wa Miq Darihil Adzim.

Terjemahannya: “Ya Allah curahkanlah rahmat dan keselamatan serta berkah atas junjungan kita Nabi Muhammad SAW yang dapat membuka sesuatu yang terkunci, penutup dari semua yang terdahulu, penolong kebenaran dengan jalan yang benar, dan petunjuk kepada jalanmu yang lurus. Semoga Allah mencurahkan rahmat kepada beliau, kepada keluarganya dan kepada semua sahabatnya dengan sebenar – benar kekuasaannya yang Maha Agung. ”.

2. Sholawat Nariyah :

اللَّهُمَّ صَلِّ صَلاَةً كَامِلَةً وَسَلِّمْ سَلاَماً تَامّاً عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ تَنْحَلُّ بِهِ الْعُقَدُ وَتَنْفَرِجُ بِهِ الْكُرَبُ، وَتُقْضَى بِهِ الْحَوَائِجُ، وَتُنَالُ بِهِ الرَّغَائِبُ وَحُسْنُ الْخَوَاتِمِ، وَيُسْتَسْقَى الْغَمَامُ بِوَجْهِهِ الْكَرِيْمِ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ، فِيْ كُلِّ لَمْحَةٍ وَنَفَسٍ بِعَدَدِ كُلِّ مَعْلُوْمٍ لَكَ

Allahumma sholli sholaatan kaamilatan wasallim salaaman. Taman ‘ala sayyidina Muhammadi lladzi tanhallu bihil ‘uqodu wa tanfariju bihil kurobu. Wa tuqdhobihil hawaaiju wa tunna lu bihiro ‘ibu wa husnul khotima wa yustaqol ghomawu biwajhihil kariim wa ‘ala aalihi washohbihi fii kulli lamhatin wa hafasim bi’adadi kulli ma’lu mi laka

Artinya:
Ya Allah, limpahkanlah keberkahan dengan keberkahan yang sempurna, dan limpahkanlah keselamatan dengan keselamatan yang sempurna untuk penghulu kami Muhammad, yang dengan beliau terurai segala ikatan, hilang segala kesedihan, dipenuhi segala kebutuhan, dicapai segala keinginan dan kesudahan yang baik, serta diminta hujan dengan wajahnya yang mulia, dan semoga pula dilimpahkan untuk segenap keluarga dan sahabatnya sebanyak hitungan setiap yang Engkau ketahui.

3. Sholawat Tunjina

اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلٰى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ صَلاَةٌ تُنْجِيْنَا بِهَا مِنْ جَمِيْعِ الْاَهْوَالِ وَالْاٰفَاتِ وَتَقْضِيْ لَنَابِهَاجَمِيعَ الْحَاجَاتِ وَتُطَهِّرُنَابِهَا مِنْ جَمِيْعِ السَيِّئَاتِ وَتَرْفَعُنَابِهَا عِنْدَكَ اَعْلَى الدَّرَجَاتِ وَتُبَلِّغُنَابِهَا اَقْصَى الْغَايَاتِ مِنْ جَمِيْعِ الْخَيْرَاتِ فِى الْحَيَاةِ وَبَعْدَ الْمَمَاتِ

Allahumma sholli ‘alaa sayyidinaa Muhammadin sholaatan tunjiinaa bihaa min jamii’il-ahwaali wal-aafaati wa taqdhii lanaa bihaa jamii’al-haajaati wa tuthahirunaa bihaa min jamii’is- sayyi’aati wa tarfa’unaa bihaa ‘indaka a’lad-darajaati wa tuballigunaa bihaa aqshal-gaayaati min jamii’il- khairaati fil-hayaati wa ba’dal- mamaati

Artinya : Ya Allah, limpahkanlah rahmat kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw yang melaluinya Engkau akan menyelamatkan kami dari semua keadaan yang menakutkan dan membahayakan, dengan rahmat itu Engkau akan mendatangkan semua hajat kami dan membersihkan semua keburukan kami, mengangkat kami pada derajat tertinggi , menyampaikan kami pada puncak tujuan, dari semua kebaikan di waktu hidup dan sesudah mati.

4. Sholawat Nuril Anwar :

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى نُوْرِ اْلاَنْوَارِ وَسِرِّ اْلاَسْرَارِ وَتِرْيَاقِ اْلاَغْيَارِ وَمِفتَاحِ بَابِ الْيَسَارِ سَيِّدِنَا وَمَوْلاَنَا مُحَمَّدِ نِالْمُخْتَارِ وَالِهِ اْلاَطْهَرِ وَاَصْحَابِهِ اْلاَخْيَارِ عَدَدَ نِعَمِ اللهِ وَاِفضَالِهِ

Allahumma sholli ‘ala nuril anwar wa sirril asrar wa tiryaqil aghyar wa miftahi babil yasar sayyidina wa maulana muhammadinil mukhtar wa alihil ath-har wa ash-habihil akhyar ‘adada ni’amillahi wa ifdhalih.

“Ya Allah, limpahkanlah salawat atas cahaya di antara segala cahaya, rahasia di antara segala rahasia, penawar duka dan pembuka pintu kemudahan, junjungan kita Nabi Muhammad, manusia pilihan, juga kepada keluarganya yang suci dan sahabatnya yang baik, sebanyak jumlah kenikmatan Allah dan karuniaNya.”

Masih ada lagi Sholawat Nurul Dzati, Sholawat Mukhathab , Sholawat Thibb al Qulub , Sholawat Litausi’i Al Arzaq, Sholawat Hajjiyah.

Kemudian Sholawat Badriyah yang merupakan karya ulama Indonesia.

Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamullaah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah

Tawassalnaa Bibismillaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahi Sallimil Ummah Minal Aafaati Wanniqmah
Wamin Hammin Wamin Ghummah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Ilaahi Najjinaa Waksyif Jamii’a Adziyyatin Wahrif
Makaa idal ‘idaa wal thuf Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahi Naffisil Kurbaa Minal’Ashiina Wal’Athbaa
Wakulli Baliyyatin Wawabaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Fakam Min Rahmatin Washalat Wakam Min Dzillatin Fashalat
Wakam Min Ni’matin Washalat Bi Ahlil Bailri Yaa Allaah

Wakam Aghnaita Dzal ‘Umri Wakam Autaita D’Zal Faqri
Wakam’Aafaita Dzal Wizri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Laqad Dlaaqat’Alal Oalbi Jamii’ul Ardli Ma’ Rahbi
Fa Anji Minal Balaas Sha’bi Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Atainaa Thaalibir Rifdi Wajullil Khairi Was Sa’di
Fawassi’ Minhatal Aidii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Falaa Tardud Ma’al Khaibah Balij’Alnaa’Alath Thaibah
Ayaa Dzal ‘lzzi Wal Haibah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Wain Tardud Faman Ya-Tii Binaili Jamii’i Haajaati
Ayaa jalail mulimmaati Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahighfir Wa Akrimnaa Binaili Mathaalibin Minnaa
Wadaf i Masaa-Atin ‘Annaa Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

llaahii Anta Dzuu Luthfin Wadzuu Fadl-Lin Wadzuu ‘Athfin
Wakam Min Kurbatin Tanfii Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Washalli ‘Alan Nabil Barri Bilaa ‘Addin Walaa Hashri
Wa Aali Saadatin Ghurri Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Artinya:
“Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi utusan Allah.
Rahmat dan keselamatan Allah, semoga tetap untuk Nabi Yasin kekasih Allah.

Kami berwasilah dengan berkah basmalah, dan dengan Nabi yang menunaikan lagi utusan Allah.
Dan seluruh orang yang berjuang karena Allah, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Ya Allah, semoga Engkau menyelamatkan ummat, dari bencana dan siksa.
Dan dari susah dan kesulitan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau selamatkan kami dari segala yang menyakitkan, dan semoga Engkau menjauhkan dari berbagai tipu daya musuh-musuh.
Dan semoga Engkau mengasihi kami, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau menjauhkan beberapa kesusahan, dari orang-orang yang bermaksiat dan membuat kerusakan.
Dan semoga Engkau menghilangkan semua bencana dan wabah penyakit, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Maka sudah banyak rahmat yang telah sampai, dan sudah banyak kenistaan yang dihilangkan.
Dan sudah banyak dari nikmat yang telah sampai, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Sudah berapa kali Engkau memberi harta orang yang makmur, dan berapa kali Engkau memberi nikmat kepada orang yang fakir.
Dan berapa kali Engkau mengampuni orang yang berdosa, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Sungguh hati manusia yang merasa sempit di atas tanah yang luas ini, karena banyaknya marabahaya yang menakutkan dan malapetaka yang menghancurkan.
Semoga Allah menyelamatkan kami dari bencana yang menakutkan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Kami datang dengan memohon pertolongan, dan memohon kebaikan dan keberkahan.
Semoga Allah meluaskan anugerah yang melimpah-limpah, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Maka janganlah Engkau menolak kami dari kerugian, bahkan jadikanlah diri kami dapat beramal baik dan selalu berbahagia.
Wahai Dzat yang punya kebesaran dan keagungan, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Ya Allah semoga Engkau mengampuni segala kesalahan kami dan memuliakan kami dengan beberapa permohonan.
Dan menolak kesalahan-kesalahan kami, karena berkahnya ahli badar ya Allah.

Ya Allah, Engkaulah yang mempunyai belas kasihan dan punya anugrah dan kasih sayang.
Sudah banyak kesusahan yang sirna dari sebab berkahnya sahabat ahli Badar ya Allah.

Dan semoga Engkau melimpahkan rahmat kepada Nabi yang senantiasa berbakti kepada-Mu dengan limpahan rahmat dan kesejahteraan yang tak terbilang dan tak terhitung.
Dan semoga tetap atas para keluarga Nabi dan para Sayyid yang bersinar cahayanya, karena berkahnya ahli badar ya Allah.”


Itulah sholawat badar yang berisi pujian kepada Nabi Muhammad SAW dan juga para sahabat yang gugur dalam perang badar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here