Dr. dr. H. Masrifan Djamil MMR, MPH

14 Robbiul awwal 1442 / 31 Oktober 2020




Cinta Allah, Cinta Rasul dan Jihad

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كَا نَ اٰبَآ ؤُكُمْ وَاَ بْنَآ ؤُكُمْ وَاِ خْوَا نُكُمْ وَاَ زْوَا جُكُمْ وَعَشِيْرَتُكُمْ وَ اَمْوَا لُ ٭ِ قْتَرَفْتُمُوْهَا وَتِجَا رَةٌ تَخْشَوْنَ كَسَا دَهَا وَ مَسٰكِنُ تَرْضَوْنَهَاۤ اَحَبَّ اِلَيْكُمْ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَ جِهَا دٍ فِيْ سَبِيْلِهٖ فَتَرَ بَّصُوْا حَتّٰى يَأْتِيَ اللّٰهُ بِاَ مْرِهٖ ۗ وَا للّٰهُ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْفٰسِقِيْنَ

“Katakanlah, Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya serta berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah memberikan keputusan-Nya. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang fasik.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 24)

Kita perlu menset-up qalbu kita agar siap menerima ayat ini.
Ada 8 perkara yang mengganggu qalbu untuk mencintai Allah dan Rasulnya dan Jihad di jalan Allah.
Ke delapan potensi gangguan itu adalah :

– bapak-bapakmu
– anak-anakmu
– saudara-saudaramu
– istri-istrimu (atau suami)
– keluargamu
– harta kekayaan yang kamu usahakan,
– perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya,
– rumah-rumah tempat tinggal yang kamu sukai

Ada kisah tentang harta yang banyak dapat mengakibatkan sakit jantung. Dia hartanya bermilyar-milyar tapi tak percaya Bank dan disimpan di rumah. Akhirnya dia berdebar-debar terus dan dia meninggal dunia mendadak.
Nabi Sulaiman juga pernah digoda oleh hartanya sampai lupa waktu sholat hampir habis.

Kesukaan manusia terhadap harta adalah untuk dituntut-tumpuk karena keserakahannya. Rasulullah SAW bersabda,

لَوْ أَنَّ لاِبْنِ آدَمَ وَادِيًا مِنْ ذَهَبٍ أَحَبَّ أَنْ يَكُونَ لَهُ وَادِيَانِ ، وَلَنْ يَمْلأَ فَاهُ إِلاَّ التُّرَابُ ، وَيَتُوبُ اللَّهُ عَلَى مَنْ تَابَ

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekali tidak akan memenuhi mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih)

Orang yang suka berniaga tak mau rugi. Dia selalu ingin menjual dengan harga mahal dan kalau membeli ditekan semurah murahnya.

Pedagang disini tak mau seperti di Mekkah atau Madinah. Disini ada adzan tetap bertransaksi.
Kita diberi contoh di Mekkah dan Madinah. Walaupun tetap ada asykar yang keliling untuk memeriksa Pedagang. Saya pernah menyaksikan ada Pegawai Toko yang sembunyi ketika adzan karena ada asykar keliling. Petugas Toko ini orang Indonesia.

Perdagangan mestinya juga berhenti ketika adzan. Ingat Surat Jumuah yang memerintahkan menutup perdagangan untuk shalat. Akhirnya Khalifah Utsman bin Affan membuat inovasi adzan jum’at dibuat dua kali. Yang pertama sekitar jam 10.00 di Pasar agar Para Pedagang bersiap siap. Sekarang ada masjid ketika Jumat adzannya dua kali. Ini mengikuti Utsman bin Affan tapi tidak tuntas karena jeda kedua adzan hanya 10 menit.

Kecintaan pada rumah tinggal berlebihan diwujudkan dengan mengganti-ganti tampilan rumah. Dipoles-poles terus. Rumah sudah bagus model A, kemudian musim model B, rumah dibongkar diganti.
– Dulu tak ada AC, dibongkar dan pasang AC.
– Dulu tak ada karpet, setelah umrah beli karpet yang banyak

Semua kecintaan itu melebihi kecintaannya terhadap Allah, kecintaan kepada Rasulullah dan Jihad di jalan Allah. Tiga hal ini disebutkan secara sejajar. Kemudian Allah akan memberikan keputusanNya.

Para Ulama menafsirkan keputusan Allah itu banyak hal, ada kalanya sebagai Musibah atau Ujian yang ditimpakan Allah kepada suatu Kaum. Sudah banyak contohnya.
Mudah-mudahan kita yang masih memelihara Shalat Subuh, masih memelihara dzikir, masih memelihara Shalat lima waktu, ada orang tua yang suka beribadah, masih diberi Kasih Sayang oleh Allah, tidak diberi musibah seperti itu.

Allah hanya memberi hidayah pada orang yang mencari petunjuk. Orang orang yang fasik, pendosa besar atau pendusta besar tidak akan diberi.


Bukti Cinta Kepada Allah dan Rasulnya

Ini berat, ada orang yang bilang :
“Saya sudah tua tidak bisa mengaji, tak bisa membaca Al Qur’an …”
Tidak apa-apa, maka mulailah dari saat ini belajar membaca Al Qur’an. Senyampang nyawa belum sampai di tenggorokan belumlah terlambat.
Mari kita usahakan , bekerja bersama- sama. Kita ingat berita gembiranya ada didalam hadits arbain Nawawi.

Rasulullah SAW bersabda :
“.. Ada seseorang diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli surga sehingga tidak ada jarak antara dirinya dan surga kecuali sehasta saja, kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli neraka dan ia masuk neraka. Ada diantara kalian yang mengerjakan amalan ahli neraka sehingga tidak ada lagi jarak antara dirinya dan neraka kecuali sehasta saja. kemudian ia didahului oleh ketetapan Allah lalu ia melakukan perbuatan ahli surga dan ia masuk surga.” (HR Bukhari)

Allah menilai amalan manusia pada akhirnya. Maka di sisa-sisa umur haruslah dimanfaatkan untuk terus menambah bekal ilmu.
Jangan melewatkan majelis taklim, karena mesti merupakan majelis dzikir atau Taman Surga. Majelis yang lain banyak, ada majelis kuliner, majelis sepeda dan lain-lain.

Lhoh kalau begitu tak pernah refreshing? Jangan lupa bahwa dzikir itu adalah refreshing.

 اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 

alaa bizikrillaahi tathma`innul-quluub

“Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 13: Ayat 28)

Kemudian ada hadits Rasulullah SAW bersabda,

وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِى بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللَّهِ يَتْلُونَ كِتَابَ اللَّهِ وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ إِلاَّ نَزَلَتْ عَلَيْهِمُ السَّكِينَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلاَئِكَةُ وَذَكَرَهُمُ اللَّهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ

“Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah membaca Kitabullah dan saling mengajarkan satu dan lainnya melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), akan dinaungi rahmat, akan dikeliling para malaikat dan Allah akan menyebut-nyebut mereka di sisi makhluk yang dimuliakan di sisi-Nya.” -(HR. Muslim)

Majelis dzikir tidak diberi apa-apa kecuali Ketenangan Hati. Jadi majelis dzikir itu refreshing.
Majelis kuliner mungkin senang saat kuliner, tapi bisa jadi saat pulang langsung menghitung uang : “Tadi kok habis banyak?” Apalagi kalau membayarnya pakai Credit Card, bisa stress.

Jihad Fi Sabilillah bisa kita lakukan sesuai kemampuan. Misalnya mampunya hanya menyumbang masjid atau majelis taklim tidak apa-apa.

Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah).


Kalau kita sudah cinta Allah dan Rasulnya pasti mengikuti Allah dan Rasulnya. Allah memberi janji kepada siapa yang mencintai Allah dan Rasulnya :

تِلْكَ حُدُوْدُ اللّٰهِ ۗ وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَا ۗ وَذٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Itulah batas-batas hukum Allah. Barang siapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Dan itulah kemenangan yang agung.”(QS. An-Nisa’ 4: Ayat 13)


Sunah-Sunah Lain Yang Perlu

Kewajiban Menghormati Nabi yang lain

Allah SWT berfirman:

اَلنَّبِيُّ اَوْلٰى بِا لْمُؤْمِنِيْنَ مِنْ اَنْفُسِهِمْ وَاَ زْوَا جُهٗۤ اُمَّهٰتُهُمْ ۗ وَاُ ولُوا الْاَ رْحَا مِ بَعْضُهُمْ اَوْلٰى بِبَعْضٍ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ وَا لْمُهٰجِرِيْنَ اِلَّاۤ اَنْ تَفْعَلُوْۤا اِلٰۤى اَوْلِيٰٓئِكُمْ مَّعْرُوْفًا ۗ كَا نَ ذٰ لِكَ فِى الْكِتٰبِ مَسْطُوْرًا

“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang mukmin dibandingkan diri mereka sendiri, dan istri-istrinya adalah ibu-ibu mereka. Orang-orang yang mempunyai hubungan darah satu sama lain lebih berhak (waris-mewarisi) di dalam Kitab Allah daripada orang-orang mukmin dan orang-orang Muhajirin, kecuali kalau kamu hendak berbuat baik kepada saudara-saudaramu (seagama). Demikianlah telah tertulis dalam Kitab (Allah).” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 6)

Sunah berikutnya adalah semua Nabi lebih utama daripada umat mukminin, maka dari itu kita memberi Salam pada Para Nabi. Kalau ada nama Nabi Isa , Nabi Musa atau Nabi lain disebut, kita jawab : “alaihi salam”.
Ketika nama Nabi Muhammad disebut, khusus kita jawab : “Sholallahu alaihi wa salam” , karena memang ada perintah khusus pada Surat Al-Ahzab 33: Ayat 56.


Mencintai Allah itu Mengikuti Rasulullah.

Allah SWT berfirman:

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah Muhammad , Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 31)

Jadi kalau kita mengikuti Nabi, Ucapannya, Perbuatannya atau Persetujuannya atas Suatu Perbuatan itu, kita termasuk mencintai Allah SWT.
Setelah itu dosa kita diampuni.

Orang yang dicintai Allah, apa yang menjadi penglihatannya, penglihatan Allah. Apa yang menjadi pendengarannya, pendengaran Allah. Apa yang menjadi gerakan tangan kakinya semua dari Allah. Maka jangan coba-coba mengganggu orang itu. Itu adalah wali. Kalau ada orang yang taat pada Rasul, kita hormati, kita ajak berteman. Kalau bisa kita minta dibimbing.

Menurut Tafsir dari Ibnu Katsir :

Penentuan bahwa seseorang itu menjunjung tinggi apa yang disebut Mahabatullah (cinta kepada Allah) salah satu penjabarannya adalah :

– Dia mengikuti jalan yang telah dirintis oleh Nabi Muhammad SAW dan Nabi-Nabi yang lain dalam semua ucapan dan perbuatannya.

– Seperti yang disebutkan di dalam hadis sahih, bahwa Rasulullah SAW pernah bersabda:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدٌّ

Barang siapa yang melakukan suatu amal perbuatan yang bukan termasuk tuntunan kami, maka amalnya itu ditolak.

– Karena itulah maka dalam ayat ini disebutkan melalui firman-Nya:

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ

Jika kalian benar-benar mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi kalian. (Ali Imran: 31)

Mari kita ikuti yang seperti itu, jangan mengikuti shalawatan sambil jingkrak- jingkrak seperti hilang ingatan. Apa Rasulullah mengajarkan seperti ini?

Hati kita akan diuji dengan ayat ini.
Kecintaan kita kepada Rasul akan diuji. Ada yang bilang : “Rasul dihina kita harus melawan!”.
Tak perlu ngomong begitu, langsung saja dilawan. Orang kalau terlalu banyak omong biasanya tidak berbuat.

Sudah lama dirumah saya tak ada Aqua misalnya , bukan karena kebencian tapi saya ingin memberi rezeki pada pembuat Air Mineral Indonesia seperti : Quaya, Suli. Sama-sama memberi untung saya memberi untung saudara. Ini memilih karena Aqua juga memilih ketika memberi CSR (bantuan sosial).

Rasul itu sangat mencintai kita. Beliau sangat prihatin kalau kita nanti mendapat siksa.

Allah SWT berfirman:

لَـقَدْ جَآءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِا لْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

“Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (QS. At-Taubah 9: Ayat 128)

Kalau Rasul sangat mencintai kita, maka kita cintai Rasul dengan cara
– Bersyahadat
– Kita itiba’ atau mengikuti Rasulullah.

Beliau SAW bersabda :

لَا يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِنْ وَالِدِهِ وَوَلَدِهِ وَالنَّاسِ أَجْمَعِينَ رواه البخاري

“Tidak sempurna iman salah seorang dari kalian sehingga menjadikan aku lebih ia cintai dari orang tuanya, anaknya dan seluruh manusia”.(HR Bukhori)

Ini pekerjaan Qalbu yang berat. Kita harus lebih cinta Rasul dari pada anak atau isteri. Penerapannya misalnya kalau kita dalam perjalanan jauh kita dengar adzan maka kita mampir ke masjid untuk shalat, meskipun misalnya anak isteri tidak setuju.
Hati yang sehat akan selalu menyegerakan perbuatan yang baik. Kita pilah-pilah mana yang baik dan mana yang tidak baik.

Ada hadits lain yang mengabarkan tentang Umar bin Khattab, sehingga hadits ini sering disebut hadits Umar bin Khattab.

كُنَّا مَعَ النَّبِيَّ ﷺ وَهُوَ آخِذٌ بِيَدِ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رضي الله عَنْهُمَا ، فَقَالَ لَهُ عُمَرُ : يَا رَسُولَ اللهِ! لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِنْ كُلَّ شَيْءٍ إِلَّا مِنْ نَفْسِي . فَقَالَ النَّبِيﷺ : لا وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ! حَتَّى أَكُونَ أَحَبَّ إِلَيْكَ مِنْ نَفْسِكَ . فَقَالَ لَهُ عُمَرَ : فَإِنَّهُ الآنَ وَاللهِ لأَنْتَ أَحَبُّ إِلَيَّ مِن نَفْسِي . فقال النبي : الآنَ يَا عُمَرُ


“Kami pernah bersama Nabi SAW dan beliau memegang tangan Umar Bin Khattab. Maka Umar berkata, ‘Wahai Rasulullah, engkau lebih aku cintai dari segala sesuatu kecuali dari diriku.’ Maka Nabi SAW bersabda, ‘Tidak! Demi Dzat yang diriku berada ditanganNya sampai aku lebih engkau cintai dari dirimu sendiri’ Lalu Umar berkata, ‘Sesungguhnya sekarang Ya Rasulallah demi Allah engkau lebih aku cintai dari diriku sendiri.’ Maka Nabi SAW bersabda, ‘Sekarang imanmu sempurna hai Umar.‘ (HR Bukhori) .


Pertanyaannya bagaimana dengan diri kita? Kita masih belajar untuk mencintai Allah dan Rasulnya lebih dari diri kita.

Sekarang ini ada keanehan, ada orang yang berusaha keras menjalani agama malah diolok-olok : “Wah dia mau jadi ustadz”. Seolah-olah ada pemisahan, antara aku dan dia.
Jelas dia mendapat hidayah, tak pantas untuk dicela. Ada orang yang haji dua kali tidak begitu. Banyak orang umrah berkali-kali tidak begitu.
Dia umrah tidak mampu, haji apa lagi. Tapi dia betul-betul tulus beribadah, tekun melaksanakan sunah Rasul SAW, setiap hari ucapannya bagus tertata, tak pernah berkata keras, tak pernah ghibah orang lain.


Tanda Manisnya Iman.

Dari Anas bin Malik r.a, Rasulullah SAW bersabda:

ثَلاَثٌ مَنْ كُنَّ فِيْهِ وَجَدَ بِهِنَّ حَلاَوَةَ الإِيْمَانِ: مَنْ كَانَ اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ ِممَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لاَيُحِبُّهُ إِلاَّ للهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُوْدَ فِى الْكُفْرِ بَعْدَ أنْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِى النَّارِ


“Ada tiga perkara, yang apabila ketiganya ada pada diri seseorang, maka ia akan mendapatkan rasa manisnya iman. Yaitu: apabila Allah dan RasulNya lebih ia cintai daripada yang selain keduanya, apabila ia menyintai seseorang, namun ia tidak menyintainya kecuali karena Allah. Dan apabila ia membenci untuk kembali ke dalam kekafiran sesudah Allah menyelamatkannya dari kekafiran itu, seperti halnya ia membenci jika ia dilemparkan ke dalam api.” (HR. Bukhori)

Saling mencintai karena Allah, alhamdulillah kita bisa saling mengajak, mengingatkan untuk mengikuti Kajian, itu salah satu contoh cinta karena iman. Kesimpulan dari Para Ulama, mencintai Rasulullah sama dengan mencintai Allah.


Kesaksian dari pihak lawan, betapa cintanya Sahabat kepada Nabi


Urwah bin Mas’ud diutus oleh Kaum Kafir Quraisy untuk pergi kepada Rasulullah untuk mengadakan Perjanjian Hudaibiah. Urwah berdialog dengan Rasul dan Para Sahabat.
Pada saat itu suasana panas karena Rasul mau Umrah dihadang, tidak boleh. Kemudian terjadi negosiasi.

Yang luar biasa, Urwah bin Mas’ud meskipun lawan, dia memuji Nabi Muhammad SAW. Inilah kesaksiannya,

فَوَاللَّهِ مَا تَنَخَّمَ رَسُولُ اللَّهِ – صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – نُخَامَةً، إِلا وَقَعَتْ فِي كَفِّ رَجُلٍ مِنْهُم؛ْ فَدَلَكَ بِهَا وَجْهَهُ وَجِلْدَهُ، وَإِذَا أَمَرَهُمْ ابْتَدَرُوا أَمْرَهُ، وَإِذَا تَوَضَّأَ كَادُوا يَقْتَتِلُونَ عَلَى وَضُوئِهِ، وَإِذَا تَكَلَّمَ خَفَضُوا أَصْوَاتَهُمْ عِنْدَهُ، وَمَا يُحِدُّونَ إِلَيْهِ النَّظَرَ تَعْظِيمًا

“Demi Allah, tidaklah Rasulullah SAW membuang dahak kecuali jatuh pada telapak tangan salah seorang di antara mereka, maka ia mengusapkannya ke wajah dan kulitnya sendiri. Jika Rasulullah SAW memerintahkan mereka sebuah perkara , maka mereka bersegera melakukannya. Jika ia berwudhu, maka mereka hampir-hampir berkelahi karena memperebutkan bekas air wudhunya. Jika ia berbicara, maka mereka merendahkan suara mereka mendengarkan dengan seksama dan mereka tidak berani menatap wajahnya secara langsung karena begitu hormat kepadanya.”- (HR.Bukhari)

Sekarang bagaimana dengan kita?
Kalau saya menganjurkan :
– Kita mencintai do’a-do’a Nabi Muhammad SAW dan kita hafalkan
– Kita mencintai sunahnya
– Kita mencintai apa-apa yang dicintainya, misalnya keluarganya dan tahu sejarahnya.
Dengan mencintai Nabi, in syaa Allah di Surga akan bersama Nabi Muhammad SAW.

عَنْ أَنَسٍ أَنَّ رَجُلًا مِنْ أَهْلِ الْبَادِيَةِ أَتَى النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ يَا رَسُولَ اللَّهِ مَتَى السَّاعَةُ قَائِمَةٌ قَالَ وَيْلَكَ وَمَا أَعْدَدْتَ لَهَا قَالَ مَا أَعْدَدْتُ لَهَا إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ قَالَ إِنَّكَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ فَقُلْنَا وَنَحْنُ كَذَلِكَ قَالَ نَعَمْ فَفَرِحْنَا يَوْمَئِذٍ فَرَحًا شَدِيدًا

Dari Anas r.a bahwa ada seorang lelaki penduduk pedalaman mendatangi Nabi SAW lalu bertanya, “Wahai Rasûlullâh! Kapankah hari kiamat itu akan datang?” Rasûlullâh SAW bersabda, “Celaka engkau! Apa yang telah engkau persiapkan untuk menyambut kedatangannya?” Orang itu menjawab, “Saya tidak menyiapkan apappun, hanya saja saya mencintai Allâh dan Rasul-Nya.” Rasûlullâh SAW bersabda, “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Kami mengatakan, “Kami juga begitu.” Rasûlullâh SAW bersabda, “Ya.” Mendengar ini, kami merasa sangat berbahagia hari itu. (HR Bukhori)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here