Dr. dr. H. Masrifan Djamil MMR, MPH

14 Robbiul awwal 1442 / 31 Oktober 2020



Di Indonesia ini ada suatu tradisi yang luar biasa, dimana umat islam mengadakan suatu peringatan yang dilakukan terus menerus setiap bulan Robiul awal dan macam-macam kegiatannya. Mudah-mudahan kita termasuk umat yang mencintai Nabi kita.

Maka kali ini kita akan membahas salah satu pekerjaan Qalbu, yaitu mencintai. Mestinya kita harus urut berbicara mengenai mencintai Allah SWT. Tetapi karena saat ini masuk ke bulan Maulud, maka kita akan kembangkan pada Mencintai Rasulullah SAW.

Banyak orang berkata Mencintai Rasulullah SAW tapi belum tentu pelaksanaannya mencintai secara hakiki.

Ada ayat yang tidak asing bagi kita, yang selalu dibaca oleh Para Ustadz dalam acara Maulid Nabi :

لَقَدْ كَا نَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَا نَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَا لْيَوْمَ الْاٰ خِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا ۗ 

“Sungguh, telah ada pada diri Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu yaitu bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat dan yang banyak mengingat Allah.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 21)

Siapakah orang yang menjadikan Rasulullah sebagai Teladan ?

1. Dia adalah seorang yang Khusyuk Shalatnya.

Dalam tafsir selalu dikatakan : Orang yang mengharapkan Rahmat Allah, atau mengharap bertemu dengan Allah pada hari akhir, sesuai janji Rasulullah bahwa kelak orang-orang yang menang dan dipilih Allah untuk masuk Surga akan bertemu dengan wajah Allah. Itu adalah kenikmatan yang tidak ada bandingannya.

Tujuan akhir dari seorang mukmin adalah memperoleh Ridha Allah, salah satunya adalah bertemu dengan wajah Allah. Dan yang kedua memperoleh Surganya. Apakah itu Surga Naim, Surga Adn atau Surga yang paling tinggi yang dijanjikan dalam Surat Al Mukminun ayat 1-11. Kalau bisa 11 ayat surat ini kita hafalkan untuk shalat.

Kita dapat mendalami ayat 21 Surat Al Ahzab di atas dari Tafsir Ibnu Katsir yang alhamdulillah sekarang mudah di dapat di internet. Dan saya sudah mengecek tafsir yang diinternet dalam bentuk Pdf itu benar. Namun jangan lupa pesan dari para ustadz, jangan mengkaji sendiri, secara reguler harus konfirmasi kepada ustadz.

2. Dia Meyakini akan bertemu Hari Akhir
.

Salah satu hal yang dahsyat dari hari akhir kita dibangkitkan dan dihisab. Rasulullah menceritakan kepada Aisyah r.anha, bahwa nanti di hari akhir manusia dibangkitkan seperti bumi yang kering kemudian ditimpa hujan. Tunas akan tumbuh, tapi sekala waktunya sekala dunia, tumbuhnya pelan-pelan. Menurut Rasulullah bangkitnya orang dari kubur menurut ilmunya Allah. Langsung dewasa dan dalam keadaan telanjang

‘Aisyah r.‘anha bertanya, “Apakah laki-laki dan wanita saling melihat satu sama lain?” Nabi SAW menjawab:
“Keadaannya jauh lebih berat dari sekedar melihat satu sama lain.” (Hadits Muslim).

Orang yang meyakini adanya kebangkitan dan hisab pasti berhati-hati, takut kepada Allah dan tak berani berbuat maksiat.
Dia akan selalu mencoba menambah -nambah amalnya dan selalu berdo’a :

“Allahumma ashlih li dini alladzi huwa ishmatu amri, wa ashlih li dun-yaya al lati fiha ma’asyi, wa ashlih li akhirati al lati ilaiha ma’adi, waj’al al hayata ziyadatan li fi kulli khairin, waj’al al mauta rahatan li min kullisyarrin”.

(Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan penghidupanku, perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala kejahatan). (HR.Muslim).

Do’a yang diajarkan oleh Rasulullah selalu berdimensi dunia dan akhirat. Tak mungkin Rasulullah mengajarkan do’a hanya untuk dunia saja.
Kita kelak kembali ke akhirat, belum tentu ke Surga, untuk itu kita berdo’a, agar masuk Surga.

Saya selalu mengingatkan bahwa waktu kita terbatas.

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَعْمَارُ أُمَّتِى مَا بَيْنَ سِتِّينَ إِلَى سَبْعِينَ وَأَقَلُّهُمْ مَنْ يَجُوزُ ذَلِكَ

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu , dia berkata bahwa Rasûlullâh SAW bersabda, “Umur ummatku berkisar antara enam puluh sampai tujuh puluh tahun, dan sedikit yang melewatinya.” [HR. Tirmidzi]

Berarti kita harus siap-siap, banyak membaca Al Qur’an karena nanti akan menjadi penolong bagi orang yang selalu mempelajarinya.

3. Dia banyak berdzikir kepada Allah.

Maka setiap akhir pengajian saya mengajak banyak berdzikir, jangan ditinggalkan karena itu Taman Surga. Maka dalam undangan saya tulis :

*#MESKIPUNLIBURTETAPNGAJI* *#UTAMAKANWAKTUUNTUKALLAH*
*#LIBURANMAMPIRDITAMANSURGA*

Maksudnya apa? Karena ada hadits
Nabi bersabda,
“Jika kalian melewati taman syurga maka berhentilah. Mereka bertanya, ”Apakah taman syurga itu?” Beliau menjawab,”Halaqoh dzikir (majelis Ilmu).” (Riwayat At-Tirmidzi)

Maka jika mengikuti pengajian, bergabunglah sampai tuntas. Hal itu termasuk bagian dari kesabaran. Jika merasa isinya sudah tahu dan ada keperluan lain sehingga harus meninggalkan majelis, ada sunahnya yaitu minta ijin untuk meninggalkan majelis.

Ciri lain orang yang shalatnya khusyuk disebutkan dalam Surat Al Baqarah ayat 46 :

الَّذِيْنَ يَظُنُّوْنَ اَنَّهُمْ مُّلٰقُوْا رَبِّهِمْ وَاَ نَّهُمْ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ

“yaitu mereka yang yakin bahwa mereka akan menemui Tuhannya dan bahwa mereka akan kembali kepada- Nya.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 46)


Pekerjaan-Pekerjaan Qalbu

Ini harus kita ulang-ulang bahwa komandannya tubuh adalah Qalbu.

Nabi SAW bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” – (HR. Bukhari Muslim).

Banyak penyelidikan bahwa dalam hati yang sehat akan ada jasad yang sehat. Kalau dulu ada Men sana in corpore sano, tapi menurut Islam ini keliru, hatinya sehat dulu maka jasad akan sehat.

Di kajian kita ada dua terminology : Menata, Merawat dan menjaga Hati.
Qalbu bahkan lebih penting daripada Akal.


Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 179)

Padanan yafqohuuna tadi Rasulullah SAW pernah menyampaikan tentang kefaqihan :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Faqih itu adalah Pekerjaan Qalbu yang hebat. Ada hati yang sehat, sakit, keras dan mati. Mudah-mudahan kita termasuk yang berhati Sehat.

Hati yang sehat isinya :
– Iman
– Mahabah kepada Allah : Cinta kepada apa yang dicintai Allah.
Yang paling dicintai oleh Allah itu adalah Rasulullah. Sampai ada firman Allah yang dibaca setiap jum’at oleh Khatib :

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 33: Ayat 56)

Ini adalah hal luar biasa, hanya ada makhluk yang bernama Muhammad yang memperoleh barokah seperti itu. Beliau adalah pilihan Allah.

Kita akan belajar bagaimana sebenarnya cinta kepada Nabi Muhammad SAW ?

Kita dengar sesumbar : “Demi cinta kepada Rasulullah, kita boycot produk Perancis”.
Tapi benar atau tidak? Jangan-jangan hanya slogan, tidak dilakukan.

Saya pernah menemui di satu masjid pas jumatan digelar satu tenda dan ditulis : “Pendaftaran Relawan ke Timur Tengah untuk melawan Israel”. Disitu cuma ada tenda, spanduk dan pendaftaran. Kalau ada yang mendaftar paling tak diperbolehkan berangkat. Yang dikirim kesana kalau perang pasti tentara, kalau tidak perang yang dikirim diplomat.


Tradisi Kita Luar Biasa

Kita beruntung bahwa dulu didakwahi oleh Wali Songo. Banyak sekali dari masyarakat yang telah terbentuk.
Di design agar atmosfir kita selalu menjunjung tinggi agama —> tradisi peringatan (nyadran, syawalan, mauludan, grebeg, yakowiyu dll).

Otomatis kalau Muharram, atmosfirnya adalah Tahun Baru islam. Dulu tiap tanggal 10 Muharram ibu-ibu membuat bubur Suro, isinya sangat komplit. Pesan yang disampaikan dulu Nabi Nuh membawa bekal, binatang, tanaman dan umat beriman dalam satu kapal. Maksudnya adalah membuat atmosfir supaya anak kita faham bahwa ada event penting dalam agama kita.

Demikian pula bulan Robiul awal, ada Perayaan Maulid Rasul. Kemudian timbul pembelajaran bahwa itu bid’ah, yang lain bilang tidak. Tapi disini kita tidak belajar itu. Kita melihat hikmahnya bahwa atmosfir diciptakan untuk membuat suasana batin bagi orang disitu supaya faham.
Orang Jawa faham bahwa sekarang bulan Maulud dan kegiatannya disebut Mauludan.

Hal itu hikmah luar biasa. Saya pernah Iedhul Fitri di suatu negara , tidak ada yang seperti kita bersalam-salaman keliling lalu berkunjung dari rumah ke rumah. Mereka kalau disalami mungkin malah bingung.

Padahal orang Indonesia mengamalkan sunah Nabi tentang dua orang mukmin yang bertemu, mereka bersalaman. Rasulullah SAW bersabda,
“Tidaklah dua orang muslim saling bertemu kemudian berjabat tangan, kecuali akan diampuni dosa-dosa mereka berdua sebelum mereka berpisah.“ (HR Abu Dawud dan Tirmidzi).

Sekarang masa Pandemi Covid-19 tidak bisa salaman. Kita ganti seperti cara Jawa Barat salamannya.

Islam itu agama wahyu yang diturunkan melalui Rasulullah SAW, berarti kesatuan Al Qur’an dan As Sunah harus kita kuasai.
Belajar untuk memahami itu susah dan bisa tersesat maka kita harus ikut taklim. Karena kita harus tahu ilmu Lughah , ilmu Nahwu, ilmu Shorof, ilmu Balaghoh, ilmu Asbabun Nuzul dan juga harus membaca Tafsir yang muktabar.

Kita yang mulai “literated” ada bahan kajian, ada ustadz, ada alat/media jangan sampai malah tidak belajar.
Kita mulai faham, sunah Nabi SAW bagaimana. Bahwa ternyata ada Hadits yang Shahih, Hasan, Dhoif dan Maudhu. Ini menjadi pembelajaran bagi kita.

Sekarang ini banyak sekali materi pembelajaran. Di internet, di buku, dimana-mana ada. Saya pernah ada di satu negara, tak dapat mencari buku agama islam, karena ada regulasi harus melalui gereja. Di Indonesia bebas. Ada masjid, ada ustadz, ada MUI tapi toko buku penuh buku-buku agama, walaupun ada yang aneh-aneh seperti Mujarobat. Jadi kita harus punya ustadz agar tidak tersesat. Jangan sampai tidak belajar. Cuma sebentar, kalau sampai tak ada waktu untuk Allah itu keliru sekali.

Banyak sekali muslim merasa cukup 1 Guru, bahkan Youtube atau Internet. Apa saja yang dikatakan Sang Guru diikuti. Saya mengikuti pendapat Imam Syafi’i. Imam Syafi’i itu gurunya ratusan. Karena tidak ketemu dengan Nabi SAW, jadi ingin konfirmasi mana yang paling sesuai dengan ketika Nabi ada.

Kita kebanjiran informasi, apalagi di WA. Ada taushiyah masih disimpan belum dibaca sudah datang yang lain. Demikian karena saking banyaknya Grup WA, tak akan sempat membaca, karena Group WA akan tumbuh terus tiap bulan. Kita pilih informasi atau Video Taushiyah yang baik untuk disimpan di flash disk.

Jika kita tidak belajar maka akan terjebak pada bungkus. Isinya tak jelas. Banyak yang berani berkhutbah tapi isinya salah-salah. Kita mengatakan cinta kepada Rasulullah tapi yang bagaimana tidak faham.

Dulu saya paling sering protes, tanya pada ustadz. Dulu setiap bulan Robiul Awal mulai tanggal 1 sampai 12 kami berkumpul di Masjid membaca Dziba’.
Kadang membaca, kemudian kalau berhenti, semua teriak : “Allohuma sholi ala Muhammad”. Kadang ada yang memakai “Sayidina”.
Demikian seterusnya, setelah berakhir saya tanya pada teman : “Yang tadi dibaca apa ?”

Anehnya teman-teman tak ada yang faham Dziba’an tadi apa. Tapi hebatnya cinta mereka kepada Nabi Muhammad besar, buktinya banyak bersholawat. Ini yang harus kita pelihara. Akhirnya saya tanya pada ustadznya. Tapi ustadz cuma ketawa, tidak menjawab dan hanya bilang ini tradisi tiap tahun.
Karena penasaran maka saya cari sendiri apa arti Dziba’an dan alhamdulillah ketemu. Namun saya tak sempat sharing tentang pengetahuan Dziba’an.

Intinya adalah bahwa kita harus tahu arti apa-apa yang kita baca.
Kita baca Dziba’ kita faham artinya.
Kita baca Al Burdah karangan Imam al Busiri dari Mesir, kita faham artinya.

Pertanyaannya : Apakah yang membaca dziba’/Barzanji paham maknanya dan mengikuti sunahnya?

Ini tanda tanya besar !
Indonesia termasuk yang mulai goyah. Contoh di TV itu hari-hari isinya orang dibunuh dan kejam-kejam cara membunuhnya. Kenapa tak ada sensor? Malah Pembunuhnya diwawancarai. TV itu ada di seluruh Indonesia, dari yang besar sampai anak kecil menyaksikan. Apa tidak berfikir bahwa hal itu malah menginspirasi orang jahat? Wartawan mestinya lebih selektif.

Kembali ke masalah, kalau sudah membaca dziba’, fahami maknanya kemudian laksanakan sunahnya


BERSAMBUNG BAG 2
Cinta Kepada Allah, Rasul dan Jihad.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here