Dr. H. Zuhad Masduki MA

11 Robbiul awwal 1442 / 28 Oktober 2020



Fadhilah Surat Al Zalzalah

Dalam kitab Fadhâil Suwaril Quran Al-Karim karya Ibrahim Ali AsSayyid Ali Isa, dijelaskan dalam kitab ini :
Ada seorang laki-laki tua datang kepada Nabi lalu dia minta kepada Nabi untuk diajarkan Surat Al Qur’an yang pendek namun isinya lengkap.
Kemudian Nabi mengajarkan kepada laki-laki tua itu Surat Al Zalzalah sampai dia itu hafal.

Setelah orang ini pergi dari hadapan Rasul, Rasul bersabda :
“Berbahagialah laki-laki tua itu”

Beruntunglah laki-laki tua itu, apa maksudnya ini? Karena Surat Al Zalzalah itu isinya adalah tentang persoalan-persoalan yang penting. Yang seringkali disebut di Surat ini tentang hari kebangkitan dan rangkaian-rangkaian yang akan terjadi setelah hari kebangkitan itu. Yaitu tentang Kiamat, Kebangkitan dan setelah itu Pembalasan Kepada Manusia menyangkut amal perbuatan yang dilakukannya di dunia.

Yang diajarkan Surat Al Zalzalah karena sesuai dengan usia orang yang bertanya. Dia sudah tua dan mungkin tidak lama lagi dia sudah akan kembali kepada Allah SWT.

Surat Al Zalzalah ini juga dikatakan separohnya Al Qur’an. Maksudnya karena tujuan yang paling agung dari Al Qur’an itu dua :
– Bicara urusan dunia dalam berbagai aspek kehidupan.
– Bicara kehidupan akhirat.

Makanya kalau Surat Al Zalzalah ini bicara tentang Kiamat sampai kepada rangkaian berikutnya yaitu Pembalasan, berarti Surat Al Zalzalah ini bicara tentang separoh isi Al Qur’an.
Separoh yang lain adalah bicara tentang urusan dunia.

Ada juga yang mengatakan Surat Al Zalzalah itu seperempatnya Al Qur’an. Maksudnya adalah bahwa isi Al Qur’an tentang : Tauhid, Kenabian, Hukum- hukum Kehidupan dan Hukum-hukum akhirat. Surat Al Zalzalah ini berbicara tentang yang terakhir : Hukum-hukum akhirat.

Kalau Surat Al Kafirun berbicara tentang yang pertama, yaitu Tauhid. Karena keterbebasan orang dari Syirik berarti penetapan tentang Tauhid bagi yang bersangkutan. Ini cara memahami tentang fadhilahnya Surat Al Qur’an

Kalau Surat Al Zalzalah kita resapi maka akan menyadarkan kepada kita tentang hari kebangkitan dengan rangkaian yang akan terjadi sesudahnya sampai kepada Pembalasan amal perbuatan yang dilakukan manusia, yang baik maupun yang buruk.

Keyakinan yang kuat tentang akhirat, tentang Pembalasan akan membuat kehidupan manusia di bumi menjadi baik. Sebaliknya kalau orang itu keyakinannya tentang hari pembalasan lemah akan membuat orang itu menjadi rusak akhlaknya.


Asbabun Nuzul Surat Al Zalzalah


Sebab Turun secara umum.

Kenapa Surat Al Zalzalah ini diturunkan? Di dalam banyak kitab Tafsir dijelaskan orang-orang Arab yang Kafir/Musyrik seringkali bertanya kepada Nabi tentang kiamat itu akan terjadi. Al Qur’an tidak pernah menjawab kepastian datangnya kiamat.

Surat Al Zalzalah itu bicara tentang tanda-tanda kiamat, yang ketika tanda-tanda itu tiba maka kemudian kiamat terjadi. (Kiamat Kubra).
Beda dengan kiamat Sugra , itu kaitannya dengan kehidupan kita sekarang ini.

Kalau kiamat Sugra tanda-tandanya di dalam hadits Nabi cukup banyak.
Rasyid Ridha dalam Tafsir Al Manar menghimpun ada 12 tanda-tanda kiamat. Salah satu tandanya adalah munculnya para Dajjal.

Dajjal itu artinya pendusta, pembohong atau penipu. Sekarang Dajjal banyak berkeliaran diberbagai aspek kehidupan. Di bidang agama juga banyak, di bidang politik juga banyak, di bidang ekonomi banyak, di bidang pendidikan juga ada. Ini karena kontrol sosial itu lemah dan pengamalan ajaran agama hanya berhenti pada formalitas. Pesan-pesan moralnya, hakikat keberagamaan, atau ruhnya tidak dilaksanakan.

Jawaban Al Qur’an terhadap pertanyaan kapan datangnya kiamat kemudian dijawab dengan Surat Al Zalzalah ini. Kiamat akan segera tiba ketika bumi digoncang dengan goncangan yang sangat keras yang kemudian menyebabkan terjadinya kiamat. Setelah itu akan terjadi Kebangkitan dan penghimpunan manusia untuk mempertanggung jawabkan amal perbuatannya.


Sebab Turun secara khusus.

Ayat yang terakhir dalam kitab Dr. Wahbah Az Zuhaili, yaitu Tafsir Al Munir diriwiyatkan bahwa ketika turun ayat :

وَيُطْعِمُوْنَ الطَّعَا مَ عَلٰى حُبِّهٖ مِسْكِيْنًا وَّيَتِيْمًا وَّاَسِيْرًا

“Dan mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan,”
(QS. Al-Insan 76: Ayat 8)

Kemudian orang-orang islam berpendapat bahwa Allah tidak akan memberi pahala pada pekerjaan- pekerjaan yang nilainya kecil. Jadi kalau kita memberi sedikit tidak ada artinya. Sementara ada orang lain yang berpendapat bahwa kalau orang melakukan dosa-dosa kecil juga tidak apa-apa. Karena yang akan diperhitungkan hanya dosa-dosa besar.

Dengan adanya pendapat yang seperti ini turunlah ayat terakhir.


Tafsir Surat Al Zalzalah ayat 1 sampai 3


Allah SWT berfirman:

اِذَا زُلْزِلَتِ الْاَ رْضُ زِلْزَا لَهَا ۙ 

izaa zulzilatil-ardhu zilzaalahaa

“Apabila bumi diguncangkan dengan guncangan yang dahsyat,” (QS. Az- Zalzalah Ayat 1)

Seluruh persada bumi diguncang, bukan hanya di tempat-tempat tertentu seperti gempa bumi yang terjadi pada beberapa belahan bumi.

Di dalam Al Qur’an kita banyak menemukan ayat-ayat yang berbicara tentang kiamat dengan redaksi yang agak berbeda, tetapi semua menunjuk pada diguncangnya bumi.

Allah SWT berfirman:

اِذَا رُجَّتِ الْاَ رْضُ رَجًّا ۙ 

“Apabila bumi diguncangkan sedahsyat-dahsyatnya,” (QS. Al- Waqi’ah Ayat 4)

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اتَّقُوْا رَبَّكُمْ ۚ اِنَّ زَلْزَلَةَ السَّا عَةِ شَيْءٌ عَظِيْمٌ

“Wahai manusia! Bertakwalah kepada Tuhanmu; sungguh, guncangan hari Kiamat itu adalah suatu kejadian yang sangat besar.” (QS. Al-Hajj Ayat 1)

Pada redaksi ayat yang pertama, Allah menggunakan instrumen “izaa”.
Menurut rumus ilmu tata bahasa, kata izaa digunakan untuk menunjuk sesuatu yang pasti akan terjadi di masa yang akan datang. Waktunya kita belum tahu dan memang tidak pernah diberi tahu oleh Allah SWT.
Berbeda dengan instrumen “in” (jika) atau “lau” (pengandaian). Ini belum tentu terjadi.

Surat Al Zalzalah ayat ke 2 :

وَاَ خْرَجَتِ الْاَ رْضُ اَثْقَا لَهَا ۙ 

wa akhrojatil-ardhu asqoolahaa

“dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat,” (QS. Az-Zalzalah Ayat 2)

Beban berat itu diidentifikasi oleh para ulama sebagai semua isi perut bumi : Ada air, ada batuan ,ada barang tambang, emas perak, mineral, termasuk jasad-jasad manusia yang sudah dikuburkan. Semua akan dikeluarkan oleh bumi.

Peristiwa yang mirip juga disampaikan dalam Surat Al Insyiqaq ayat 3-4 :

وَاِ ذَا الْاَ رْضُ مُدَّتْ ۗ (3) وَاَ لْقَتْ مَا فِيْهَا وَتَخَلَّتْ ۙ (4)

“dan apabila bumi diratakan, dan memuntahkan apa yang ada di dalamnya dan menjadi kosong,”
(QS. Al-Insyiqaq 84: Ayat 3-4)

Surat Al Zalzalah ayat ke 3 :

وَقَا لَ الْاِ نْسَا نُ مَا لَهَا ۚ 

wa qoolal-ingsaanu maa lahaa

“dan, manusia bertanya, Apa yang terjadi pada bumi ini?” (QS. Az-Zalzalah Ayat 3)

Karena peristiwa yang terjadi sangat luar biasa, maka manusia akan sangat takjub dan bertanya-tanya.
Kemudian dijawab oleh Allah SWT dalam ayat berikutnya.


Tafsir Surat Al Zalzalah ayat 4

يَوْمَئِذٍ تُحَدِّثُ اَخْبَا رَهَا ۙ 

yauma`izing tuhaddisu akhbaarohaa

“Pada hari itu bumi menyampaikan beritanya,” (QS. Az-Zalzalah Ayat 4)

Di dalam suatu hadits dikatakan Nabi bertanya pada Para Sahabat :
“Tahukah kamu kamu apa itu : “Bumi menyampaikan berita- beritanya?”
Para Sahabat menjawab :
“Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”

Rasulullah kemudian menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah, Bumi akan menginformasikan apa saja yang dilakukan oleh manusia di permukaan bumi. Dari perbuatan-perbuatan yang baik maupun yang buruk. Si A melakukan ini, si B melakukan itu semua aktivitas manusia di muka bumi dilaporkan kepada Allah.

Maka kemudian Rasulullah SAW menjelaskan :
“Kalau kalian melaksanakan shalat fardhu, kemudian masih ingin menambah shalat Sunah, hendaknya dia bergeser dari posisinya semula”.

Mungkin 2 atau 3 langkah ke kanan atau ke kiri atau mungkin ke belakang atau malah pulang ke rumah, shalat Sunahnya di rumah. Shalat Sunah di rumah itu lebih baik daripada Shalat Sunah di masjid.

Itu salah satu penjelasan dari Rasulullah. Jadi ini alasan mengapa ketika orang shalat Sunah, dia pindah tempat karena ayat 4 Surat Al Zalzalah.

Orang yang shalat di banyak tempat, setiap permukaan bumi yang dia injak untuk melaksanakan shalat, semua akan melaporkan kegiatan yang dia lakukan itu.


Tafsir Surat Al Zalzalah ayat ke 5 :


بِاَ نَّ رَبَّكَ اَوْحٰى لَهَا ۗ 

bi`anna robbaka auhaa lahaa

“karena sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan padanya.”(QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 5)

Para mufasir memahami perintah disini sebagai Amar Takwini

Perintah-perintah dalam Al Qur’an itu ada dua macam :

Amar Tasyri’i, perintah-perintah agama yang berkaitan dengan syariat. Ini hanya terjadi kalau manusia yang diperintah mau melaksanakan, kalau manusia tidak mau melaksanakan maka perintah itu tidak akan terwujud dalam kenyataan.
Kita diperintah shalat, bisa melaksanakan bisa tidak. Kita diperintah haji bisa melaksanakan bisa tidak.

Amar takwini, adalah perintah yang mengakibatkan wujudnya sesuatu sesuai dengan kehendak Allah.
Kehendak Allah ada dua juga : Kehendak mutlak dan Kehendak yang tercermin pada Sunatullah yang diciptakan oleh Allah SWT.
Sunatullah misalnya Hukum-hukum alam yang berjalan dimuka bumi. Terjadinya sesuatu sesuai Kehendak dari Allah SWT.

Contoh :
Kalau kita mengaduk semen dicampur air dan pasir, maka dalam waktu sekian jam kemudian, dia akan menjadi padat dan sangat keras. Kita mau atau tidak itu pasti akan terjadi. Terjadinya bukan tergantung kehendak kita, tapi tergantung pada kehendak Allah yang tercermin pada Sunatullah.
Hukum-hukum Allah dalam bentuk sunatullah pada alam semesta sangat banyak sekali.

Kalau ada laki-laki dan perempuan berhubungan intim maka, pasti akan berpotensi terjadi kehamilan, dikehendaki atau tidak dikehendaki.

Bumi itu nanti atas perintah Allah SWT akan menceritakan semua kegiatan- kegiatan manusia yang terjadi dipermukaannya karena memang sudah diperintahkan secara takwini oleh Allah SWT.

Allah SWT sudah membuat settingan, bumi akan merekap semua yang dilakukan oleh manusia. Di dalam Tafsir Al Munir dikatakan bahwa bumi menceritakan itu tidak harus difahami dalam arti bertutur kata. Ini maksudnya adalah lisanul hal.

Lisanul hal, menunjukkan realitas sesuatu yang terjadi sebenarnya.
Kita mengenal : Dakwah bil lisan lewat ceramah-ceramah dan ada dakwah bil hal, yaitu dakwah dengan tindakan, melaksanakan langsung.

Orang islam mesti menghayati dan mengamalkan nilai-nilai Islam misalnya : Disiplin waktu, Kerja Keras, Solidaritas dan lain sebagainya. Ini adalah lisanul hal.

Tidak kalah pentingnya menurut para mufasir adanya peran bahasa simbul. Dalam kehidupan kita, bahasa-bahasa simbul juga digunakan, misalnya kita lewat diperempatan ada trafic lightnya, Kalau kuning menunjukkan kita harus pelan, melambat. Begitu merah kita berhenti dan setelah hijau kita jalan.

Kalau umur kita sudah kepala enam, diatas 60 tahun banyak sekali bahasa -bahasa simbul yang menunjukkan bahwa kita sudah usia senja, mau kembali kepada Allah SWT : Rambutnya sudah mulai memutih, kesehatan sudah mulai menurun dan lain-lain.

Di dalam Al Qur’an banyak ayat-ayat yang menggunakan bahasa simbul, misalnya :

– Bumi bertasbih dalam Surat Al Isra’ ayat 44. Kita tidak tahu bagaimana tasbihnya bumi dan kita tidak diberi tahu Allah.
– Kulit berbicara dalam Surat Fussilat ayat 21. Kulit akan menjadi saksi yang memberatkan bagi yang punya. Bicaranya kulit mungkin juga harus difahami tidak bicara dengan lesan. Tapi dengan bahasa simbul atau lisanul hal.


Tafsir Surat Al Zalzalah ayat ke 6

يَوْمَئِذٍ يَّصْدُرُ النَّا سُ اَشْتَا تًا ۙ لِّيُرَوْا اَعْمَا لَهُمْ ۗ 

yauma`iziy yashdurun-naasu asytaatal liyurou a’maalahum

“Pada hari itu manusia keluar dari kuburnya dalam keadaan berkelompok-kelompok, untuk diperlihatkan kepada mereka semua perbuatannya.” (QS. Az-Zalzalah Ayat 6)

Bisa difahami manusia keluar dari kuburnya untuk menuju ke mahsyar, bisa juga dari mahsyar untuk kembali ke tempatnya apakah di Surga atau di Neraka dalam keadaan yang bermacam -macam.

Sekarang di duniapun sudah bermacam -macam keragamannya : ragam pemikirannya, ragam perilakunya ada yang baik, ada yang buruk. Ada yang mau menuju ke Surga ada yang mau menuju ke Neraka. Nanti di akhirat juga sama, keragaman juga akan terjadi pada semua manusia.

Ada yang calon menempati Surga, ada yang calon menempati Neraka.
Ada yang calon berbahagia, ada yang calon sengsara dan semua akan diperlihatkan amal perbuatannya.
Dengan perkembangan teknologi modern ayat ini mudah difahami secara letterlijk.

Manusia yang sudah meninggal dunia , nanti pada hari kebangkitan akan diperlihatkan kembali oleh Allah SWT seluruh kegiatan yang sudah dia lakukan dulu. Rekamannya nanti akan ditampilkan kepada yang bersangkutan.

Sekarang saja kita sudah melihat fakta-fakta itu. Presiden Sukarno yang sudah meninggal, rekaman pidatonya masih bisa kita lihat, filmnya masih ada. Bintang-bintang film yang sudah meninggal filmnya masih bisa diputar dan masih bisa direpro terus menerus. Manusia saja sekarang sudah dapat membuat rekaman aktivitas yang dilakukan.

Allah SWT nanti kalau mau memperlihatkan kepada manusia menyangkut amal perbuatan yang sudah dia lakukan dulu ketika di dunia adalah hal yang sangat mudah.
Kita dengan perkembangan modern menjadi lebih mudah memahami Al Qur’an secara letterlijk.

Ada juga ulama yang memahami ayat diatas : Untuk menerima balasan dari amal-amal mereka. Kedua pendapat ini bisa kita terima.


Tafsir Surat Al Zalzalah ayat ke 7-8

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ (7) وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ(8)


“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.
Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat (balasan)nya.” (QS. Az-Zalzalah 99: Ayat 7-8)

Yang dikomentari oleh para mufasir adalah kata yakmal (berbuat).
Berbuat itu maksudnya apa? Kata amal artinya penggunaan daya-daya manusia. Manusia oleh Allah dianugerahi 4 daya :

– Daya hidup, yang melahirkan semangat untuk menghadapi tantangan. Karena kita punya daya hidup walaupun ada tekanan, walaupun ada kesulitan hidup kita tetap bisa bertahan hidup. Kalau tadinya makan sehari 3 kali, mungkin dikurangi jadi 2 kali.
– Daya Pikir, yang menghasilkan ilmu dan teknologi
– Daya Qalbu, yang menghasilkan Niat, Imajinasi, Kepekaan, Iman dan lain sebagainya.
– Daya Fisik, yang melahirkan perbuatan nyata yang kita lakukan itu dan juga ketrampilan-ketrampilan.

Ini semua nanti yang akan dipertanggung jawabkan oleh manusia kepada Allah SWT.

Maka yang termasuk dipertanggung jawabkan adalah Iman. Iman ini adalah perbuatan Hati. Niat juga perbuatan Hati. Semua yang kita rasakan, semua yang kita batin nanti juga akan dipertanggung jawabkan dihadapan Allah SWT.

Kata yakmal meliputi ke empat daya tadi. Maka ketika Al Qur’an menyebut amal sholeh, juga menyangkut penggunaan semua daya itu sesuai dalil Al Qur’an, dalil Hadits, dalil Akal. Sehingga akan bermanfaat dan berguna bagi Pelakunya, bagi keluarganya dan bagi masyarakat secara luas.

Kata “melihat” bisa dalam arti melihat rekaman fisik yang pernah kita lakukan dalam kehidupan di dunia.

Ini juga dijelaskan dalam Surat Ali Imran ayat 30

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ تَجِدُ كُلُّ نَفْسٍ مَّا عَمِلَتْ مِنْ خَيْرٍ مُّحْضَرًا  ۛ  وَمَا عَمِلَتْ مِنْ سُوْٓءٍ  ۛ  تَوَدُّ لَوْ اَنَّ بَيْنَهَا وَبَيْنَهٗۤ اَمَدًاۢ بَعِيْدًا ۗ وَيُحَذِّرُكُمُ اللّٰهُ نَفْسَهٗ ۗ وَا للّٰهُ رَءُوْفٌ بِۢا لْعِبَا دِ

“(Ingatlah) pada hari (ketika) setiap jiwa mendapatkan (balasan) atas kebajikan yang telah dikerjakan dihadapkan kepadanya, (begitu juga balasan) atas kejahatan yang telah dia kerjakan. Dia berharap sekiranya ada jarak yang jauh antara dia dengan (hari) itu. Dan Allah memperingatkan kamu akan diri (siksa)-Nya. Allah Maha Penyayang terhadap hamba- hamba-Nya.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 30)

Dari ayat ini oleh Para Ulama kita diajarkan untuk memperhatikan hal-hal yang kecil, karena peristiwa besar itu juga dimulai dari hal yang kecil, baik itu hal yang baik ataupun hal yang buruk.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here