H. Abdullah Hakam Shah, Lc MA

4 Robbiul awwal 1442 / 21 Oktober 2020



Allah SWT berfirman:

لَقَدْ كَا نَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚ جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَا لٍ ۗ کُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ وَا شْكُرُوْا لَهٗ ۗ بَلْدَةٌ طَيِّبَةٌ وَّرَبٌّ غَفُوْرٌ‏

“Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda kebesaran Tuhan di tempat kediaman mereka yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan di sebelah kiri, (kepada mereka dikatakan), Makanlah olehmu dari rezeki yang dianugerahkan Tuhanmu dan bersyukurlah kepada-Nya. Negerimu adalah negeri yang baik (nyaman) sedang Tuhanmu adalah Tuhan Yang Maha Pengampun.” (QS. Saba’ 34: Ayat 15)

Kita sering mendengar ungkapan “baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur”. Pejabat atau ustadz bahkan masyarakat sering berdo’a semoga Indonesia menjadi negara yang baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.

Kita akan menafsirkan ayat ini dengan menggunakan Tafsir Ibnu Katsir (Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim) dan akan diperkuat dengan Tafsir As-Sa’di (Taisirul Karimirrahman fi Tafsiri Kalamil Mannan) dan lebih dikenal sebagai Tafsir As-Sa’di dan Tafsir Ibnu Ashur (Tafsir al-Tahrir wa al-Tanwir). Kemudian akan kita tambahkan juga komentar dari Tafsir At Thabari.


Apa yang dimaksud dengan baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.?

Menurut Ibnu Katsir :
Negeri yang thoyibah, negeri yang nyaman, tenteram, subur. Hidup mereka seolah-olah nikmat itu datang deras di negeri mereka dan di dalam kehidupan mereka. Rejeki itu begitu gampang, begitu makmur sejahtera dan kebun-kebun mereka, dan panen mereka begitu makmur.

Dan Allah mengutus kepada mereka sejumlah Rasul dan Kepala-kepala negara yang adil agar mereka semua bisa menerima rezeki Allah dan mereka hidup tenteram, dekat kepada Allah, bersyukur dan mengesakan Allah, hidup penuh dengan ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT

Menurut Syeh Abdul Rahman As-Sa’di :
Baldatun thoyibah, negeri yang nyaman iklimnya begitu bersahabat dan makmur sejahtera, subur dan Perilaku, budi Pekerti, tatanan nilai mereka baik.

Wa rabbun ghafur : Allah menaungi kehidupan mereka dengan ampunan Allah dan rahmat Allah SWT.
Jadi Negerinya subur, kehidupan antar warganya damai saling menghormati dengan budaya yang luhur dan hidup mereka penuh keberkahan.

Setelah kita faham makna baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur, memang tidak salah kalau banyak rakyat , ustadz ataupun Pemimpin Indonesia mendambakan Indonesia menjadi negeri baldatun thoyibah wa rabbun ghafur.

Negeri Saba yang digambarkan dalam Al Qur’an, memang keadaannya mirip dengan Indonesia. Seperti dikatakan Tafsir As-Sa’di, Cuacanya sangat bersahabat.

Cuaca di Indonesia sangat nyaman, bila dibandingkan dengan negara 4 musim. Di Indonesia ini cuaca moderat, negara di dekat kutub utara ataupun selatan bila sedang dingin, suhunya minusnya rendah sekali.

Di Pakistan, Islamabad lain lagi. Disana saat musim panas temperaturnya sampai 58°C. Di siang hari tak ada yang keluar rumah. Kalau terpaksa keluar maka kulit kaki, bibir langsung pecah. Disana kegiatan di luar rumah mulai jam 10 malam sampai jam 04 Subuh. Setelah Subuh tak ada yang keluar rumah. Karena iklimnya tidak baik untuk aktivitas manusia.

Syeh Abdul Rahman As-Sa’di juga menyebutkan bahwa baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur, adalah negeri yang subur sangat makmur. Buah-buahanya begitu mudah diperoleh. Ini sesuai banget dengan Indonesia. Indonesia ini memiliki semua potensi yang bisa menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.

Imam Ibnu Katsir menyebutkan Negeri Saba itu punya tatanan nilai yang diwariskan oleh para Teladan mereka, Leluhur mereka, Pemimpin mereka agar mereka selalu dekat dengan Allah dan mengesakan Allah, mengibadati Allah dan melakukan ketaatan kepada Allah.

Kalau kita renungkan sejarah Indonesia ini mirip dengan negeri Saba. Para Founding Fathers kita, sudah mewariskan Nilai-Nilai yang membuat kita dekat dengan Allah.

Kurang apa Indonesia?
Pancasilanya dimulai dengan Ketuhanan Yang Maha Esa, sama dengan Tauhid. Founding Fathers kita menjaga negeri ini agar menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur. Agar selalu dicurahi rahmat dan ampunan Allah.

Di Pembukaan Undang Undang Dasar, para Founding Fathers dengan tegas mengajarkan kepada kita semua bahwa : Kemerdekaan negeri ini atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa.

Oleh karena itu kajian ini sangat penting bagi introspeksi kita semua, kalau Indonesia yang memiliki semua potensi. Potensi alamnya, potensi Budayanya, potensi Perilaku bangsanya. Warisan nilai yang luhur dari Para leluhur dan teladan mereka untuk menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur.

Kalau sampai ini hilang berarti ada yang salah dalam kehidupan bangsa Indonesia. Kalau kita kemudian sering merasakan Indonesia jauh dari baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur, berarti harus introspeksi oleh semua elemen bangsa ini.

Ternyata kalau kita membaca Al Qur’an, kejadian yang sama juga menimpa Saba. Penduduk Saba kemudian tidak mampu menjaga semua syarat yang telah Allah karuniakan lewat sumber daya alam mereka, lewat warisan budaya dan nilai mereka.

Mereka tidak mampu menjaganya. Maka kemudian semua karunia baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur itu Allah cabut dari negeri penduduk Saba.

Allah SWT berfirman:

فَاَ عْرَضُوْا فَاَ رْسَلْنَا عَلَيْهِمْ سَيْلَ الْعَرِمِ وَبَدَّلْنٰهُمْ بِجَنَّتَيْهِمْ جَنَّتَيْنِ ذَوَا تَيْ اُكُلٍ خَمْطٍ وَّاَثْلٍ وَّشَيْءٍ مِّنْ سِدْرٍ قَلِيْلٍ

“Tetapi mereka berpaling, maka Kami kirim kepada mereka banjir yang besar dan Kami ganti kedua kebun mereka dengan dua kebun yang ditumbuhi pohon-pohon yang berbuah pahit, pohon Asl dan sedikit pohon Sidr.” (QS. Saba’ 34: Ayat 16)

Negeri Saba sering ditimpa bencana.
Kebun yang subur dengan buah- buahan yang enak diganti dengan kebun yang hasilnya serasa pahit ! Tidak dapat dinikmati oleh Penduduk Saba. Negeri Saba tidak layak lagi menerima karunia Allah.

Ulama-ulama tafsir menyampaikan bagaimana Allah membalikkan dari baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur menjadi Negeri yang gaduh. Negeri yang penuh keresahan, menjadi negeri yang penduduknya tidak dapat menikmati sumber daya alam negerinya. Menjadi negeri yang seolah-olah jauh dari rahmat Allah.

Hal yang sama juga dinyatakan dalam Surat An Nahl ayat 112

Allah SWT berfirman:

وَضَرَبَ اللّٰهُ مَثَلًا قَرْيَةً كَا نَتْ اٰمِنَةً مُّطْمَئِنَّةً يَّأْتِيْهَا رِزْقُهَا رَغَدًا مِّنْ كُلِّ مَكَا نٍ فَكَفَرَتْ بِاَ نْعُمِ اللّٰهِ فَاَ ذَا قَهَا اللّٰهُ لِبَا سَ الْجُـوْعِ وَا لْخَـوْفِ بِمَا كَا نُوْا يَصْنَعُوْنَ

“Dan Allah telah membuat suatu perumpamaan dengan sebuah negeri yang dahulunya aman lagi tenteram, rezeki datang kepadanya melimpah ruah dari segenap tempat, tetapi penduduknya mengingkari nikmat- nikmat Allah, karena itu Allah menimpakan kepada mereka bencana kelaparan dan ketakutan, disebabkan apa yang mereka perbuat.” (QS. An-Nahl 16: Ayat 112)

Allah menggunakan istilah libaasal-juu’i (pakaian). Pakaian mereka diganti dengan Kelaparan, Rasa Takut dan Kecemasan !
Negeri Saba tetap kaya, tapi penduduknya tidak dapat menikmati kekayaan negerinya. Penduduk hidup dalam kekurangan, ketakutan, keresahan dan tidak ada ketenangan.


Syarat Agar suatu Negeri menjadi baldatun thoyyibatun wa robbun ghofuur


1. Pemimpin Yang Adil.

Allah memulai ayat 15 Surat Saba’ dengan

لَقَدْ كَا نَ لِسَبَاٍ فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ

laqod kaana lisaba`ing fii maskanihim aayah, “Sungguh, bagi kaum Saba’ ada tanda kebesaran Tuhan di tempat kediaman mereka”.

Imam Ibnu Katsir mengatakan bahwa Saba’ ialah julukan Raja-raja Yaman.
Jadi kalau di Yogya ada nama Hamengku Buwono, atau Paku Buwono di Solo. Jadi Saba’ adalah nama Raja di dataran rendah Yaman.

Menariknya untuk menjadi bahan renungan, seharusnya secara tata bahasa bunyinya bukan “laqod kaana lisaba`in”.

Kalau ingin menggambarkan tentang negeri di dataran rendah Yaman mestinya berbunyi :
“laqod kaana li ahli yaman” (Sungguh telah ada tanda kebesaran Allah bagi Penduduk dan Ahli Yaman) .

Maka Ibnu Katsir menyampaikan rahasia Allah, bahwa baldatun thoyibah wa rabbun ghafur diantara syarat utamanya terkait dengan Perilaku Pemimpinnya.

Walaupun Allah telah menganugerahkan yang tadi disebutkan sumber Daya Alam yang makmur, tanah yang subur, budaya masyarakat yang damai, ahlak dan perilaku sangat luhur, warisan nilainya membuat mereka dekat dengan Allah dan layak mendapatkan baldatun thoyibah wa rabbun ghafur tetapi kalau Perilaku Pemimpinnya tidak memenuhi syarat maka anugerah Allah akan dicabut.

Saba’ merujuk pada Saba’ bin Yasjib bin Ya’rib bin Qahthận bin Hud a.s.
Jadi Saba’ ini adalah raja pertama keturunan kelima dari Nabi Hud a.s.
Saba’ dikenal sebagai Raja yang adil.

Diantara syarat suatu negeri akan terus menjadi Negeri baldatun thoyibah wa rabbun ghafur adalah Pemimpinnya Adil. Jangan sampai menggadaikan keadilan itu dengan kepentingan apapun : Kepentingan kelompok, kepentingan golongan, kepentingan Pemodal dan seterusnya, karena itu berbahaya bagi negeri.


Tugas Utama Pemimpin yang Adil


1.1. Memberikan Ketenangan

فِيْ مَسْكَنِهِمْ اٰيَةٌ ۚ
“fii maskanihim aayah”
Biasanya ini diterjemahkan dengan di kediaman mereka.

Dalam bahasa Arab ada tiga kosa kata yang secara umum diartikan rumah.

– baytun bisa diartikan rumah
– manzilun (منزل) juga bisa diartikan rumah.
– maskanun yang digunakan dalam ayat ini juga berarti rumah.

Namun tiga kata ini berbeda filosofi linguistiknya.

Baytun akar katanya bayta – yabitu
Artinya bermalam, rumah itu tempat bermalam.
Manzilun dari kata nazala-yazilu.
Artinya rumah adalah tempat kita untuk pulang dari kerja.
Maskanun, dari kata sakana -yaskunu. Akar katanya sama dengan Sakinah.
Rumah adalah tempat untuk merasakan sakinah atau ketenangan.

Dalam surat Saba’ ayat 15, Allah tidak menggunakan kata :
“laqod kaana lisaba`ing fii baytihim aayah” ataupun
“laqod kaana lisaba`ing fii manzilihim aayah”
Padahal artinya sama secara letterlijk bahasa. Hal ini karena secara filosofi linguistik bahasa tidak sama.
Dengan memakai “fii maskanihim aayah”, rumah harus menjadi tempat memperoleh ketenangan.

Dalam Tafsir Ibnu Ashur mengatakan :
Syarat satu Negeri layak dijadikan oleh Allah, baldatun thoyibah wa rabbun ghafur adalah bila Pemimpin yang Adil itu bisa memberikan kehidupan yang tenang, yang damai lewat kebijakannya, lewat perilakunya kepada Penduduk Negeri.

Pemimpin tidak menimbulkan keresahan, Pemimpin tidak menimbulkan konflik, panas, saling fitnah dan banyak hoax.
Ini harus menjadi introspeksi dari semua Pemimpin.

Kalau Negeri ini Sumber daya alamnya makmur dan tanahnya subur. Nilai-nilai dasarnya agamis, ada dalam Dasar Negaranya ada dalam Perundang- undangannya dan seterusnya, kalau kemudian bergeser dan baldatun thoyibah wa rabbun ghafur itu hilang maka kewajiban introspeksi yang pertama ada pada Pemimpinnya. Apakah Kebijakannya dapat membangun ketenangan dalam keseharian dan kehidupan Rakyatnya?


1.2. Pemimpin menjamin bahwa Kekayaan Negeri benar-benar dinikmati Rakyatnya.


جَنَّتٰنِ عَنْ يَّمِيْنٍ وَّشِمَا لٍ

“jannataani ‘ay yamiiniw wa syimaal”
(Ada kebun-kebun yang subur yang menghampar di sebelah kanan dan di sebelah kiri penduduk).

Semua rumah penduduk Saba’, halaman kanan dan kirinya adalah kebun yang subur. Kalau mereka keluar rumah, di kedua sisi jalanan itu kebun yang subur. Seluruh pelosok negeri dipenuhi kebun yang subur.

Menurut Tafsir Imam Ath Thabari, menggambarkan bagaimana di Negeri Saba waktu itu.

Alamnya benar-benar terjamin untuk dinikmati oleh Penduduk Negeri itu. Di Negeri Saba, kalau perempuan- perempuan mereka membawa keranjang di atas kepala mereka di jalanan itu. Mereka tak perlu capai naik pohon, karena semua pohon langsung menjatuhkan berbagai buah-buahan yang manis dan lezat serta aromanya sangat menggiurkan ke keranjang itu.

Begitu mudahnya kekayaan alam Negeri Saba dinikmati oleh Penduduk Negeri. Dan ini adalah tugas Pemimpin agar negeri itu tetap baldatun thoyibah wa rabbun ghafur. Pemimpin harus bisa menyusun kebijakan, Undang-Undang yang menjamin bahwa sumber daya alam yang kaya dan subur benar-benar bisa dinikmati Rakyatnya.


2. Perilaku Rakyatnya

2.1. Rakyatnya mengikuti Syari’at Allah.

کُلُوْا مِنْ رِّزْقِ رَبِّكُمْ

“kuluu mir rizqi robbikum”
Maka makanlah rezeki-rezeki dari Allah Tuhanmu.

Hal ini menarik, dengan kekayaan alam yang begitu melimpah ruah, menghampar itu Allah berfirman : Makanlah rezeki-rezeki dari Allah Tuhanmu.

Kata rezeki dikaitkan dengan Allah Tuhan kalian. Gaya bahasa ayat ini sama dengan ayat Al Qur’an yang pertama kali turun, yaitu Surat Al-Alaq.

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ 

iqro` bismi robbikallazii kholaq

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan,” (QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1)

Orang itu pintar, pintarnya akan selamat , akan bermanfaat dan tidak akan menimbulkan bahaya bagi makhluk dan alam disekitarnya bila ilmunya “bismi robbika” diikat dengan tuntunan dan ajaran Allah.

Hal ini identik dengan Surat Saba’ ayat 15. Baldatun thoyibah wa rabbun ghafur dari suatu Negeri akan diberikan apabila Penduduk negeri itu dalam mencari nafkah , dalam mencari rezeki tidak menghalalkan segala cara. Selalu sesuai dengan syari’at Allah.

Jangan sampai ada istilah : “Jangankan mencari yang halal, untuk mencari yang haram saja sudah tidak kebagian”.
Kalau hal ini terjadi, jangan menyesal bahwa baldatun thoyibah wa rabbun ghafur akan dicabut oleh Allah. Karena tak ada lagi keberkahan.

Perilakunya menghalalkan segala cara. Yang Pengusaha demi bisa mengeksplore kekayaan alam dia menyuap Pejabat. Pejabatnya tidak lagi amanah, dia hanya tunduk pada Penguasa dan Pemilik Modal, dan seterusnya. Sumber daya alamnya tidak akan lagi dinikmati Rakyatnya. Tapi hanya dikuasai oleh segelintir orang.

Karena diantaranya penyebabnya di dalam negeri itu budayanya dalam mencari nafkah tidak peduli Syari’at, tidak peduli halal dan haram. Firman Allah dalam Surat Saba’ ayat 15 jelas, janganlah asal-asalan mencari rezeki, karena rezeki itu terikat dengan Tuhan kalian.

Maka bila negeri itu kepengin baldatun thoyibah wa rabbun ghafur, pengelolaan sumber daya alamnya, semua rakyatnya dalam mencari rezeki , semua pengusaha dalam berbisnis harus dengan cara-cara yang diridhoi Allah SWT.

Ada salah satu hadits Shahih yang diantaranya diriwayatkan oleh Imam Muslim.

Nabi SAW menyebutkan seseorang yang melakukan perjalanan jauh, rambutnya kusut (acak-acakan) dan berdebu, dia menengadahkan kedua tangannya ke atas (sambil mengatakan), “Ya Rabb, Ya Rabb”, namun makanannya berasal dari yang haram, pakaiannya berasal dari yang haram, dan tumbuh dari yang haram. Maka Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berkata, “Bagaimana mungkin doanya tersebut dikabulkan?” (HR. Muslim)

Nabi SAW menilai sangat kecilnya kemungkinan doa orang tersebut dikabulkan. Padahal orang tersebut telah menempuh sebab-sebab yang semestinya doanya dikabulkan oleh Allah , yaitu:

– Dia mengangkat kedua tangan ke atas, yaitu menuju Allah Ta’ala. Mengangkat kedua tangan ke atas termasuk sebab terkabulnya doa.
– Orang tersebut berdoa kepada Allah dengan menyebut nama Allah “Ya Rabb, Ya Rabb”.
– Orang tersebut dalam keadaan Safar.

Itu semua adalah syarat terkabulnya do’a, tetapi do’anya ditolak Allah karena dia memakan rezeki haram.

Ini bahaya sekali bila Penduduknya dalam mencari nafkah, membangun karier, mengejar rezeki Allah tapi tidak peduli halal haram.
Bagaimana logikanya ?
Anak kecilpun tahu bahwa rezeki itu dari Allah, tetapi kenapa dalam prakteknya mencari rezeki dengan cara yang dimurkai Allah?

Ada pengalaman saya pada waktu hari jumat. Saya ada 3 jadual ceramah yang letaknya jauh. Yang pertama pagi di Kebayoran Baru, kemudian waktu Dhuha di Depok. Jumatan di Kopasus Cijantung. Karena jauh saya naik Grab ke Depok terus ke Cijantung.

Yang menarik ketika dari khutbah Jumat saya mau ketempat ceramah ke empat saya cari Grab dan saya dapatkan Grab dengan Pengemudi muda. Pengemudi Grab ini tanya :
“Tadi ustadz yang khutbah di Cijantung ? Saya mau tanya apakah saya durhaka kepada Orang tua saya?
Ortu saya Perwira Polisi, beliau memaksa saya masuk polisi”.
“Saya ingin masuk Polisi, tapi saya keberatan karena ortu saya sudah menyiapkan uang suap 150 juta agar saya diterima. Ini saya keberatan karena saya akan memakan rezeki tidak halal, karena orang yang menyuap dan menerima suap masuk neraka”.
“Saya menolak hal itu dan ortu saya tak mau menyapa saya, apakah saya durhaka? “…

Dia anak muda, menolak saran ortunya yang malah melanggar syari’at. Ini perlu menjadi renungan kita. Negeri ini sudah memiliki syarat-syarat baldatun thoyibah wa rabbun ghafur, tetapi kenapa kita dicabut dari negeri yang makmur dan dinaungi rahmat dan ampunan Allah. Jangan-jangan yang salah adalah Penduduk Negerinya.


2.2. Penduduk Negeri harus Pandai Bersyukur.

وَا شْكُرُوْا لَهٗ ۗ 

wasykuruu lah

Cara bersyukur yang baik adalah :
Mengimbangi semua nikmat dengan ibadah yang sepadan.

Hati-hati bila kita banyak nikmat tapi ibadah kita tidak seimbang. Itu yang namanya istidraj. Berhati-hatilah terhadap ancaman Allah.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur (ke arah kebinasaan), dengan cara yang tidak mereka ketahui.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 182)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here