dr. Rahaju Budhi Muljanto, SpKJ

29 Shafar 1442 / 17 Oktober 2020



1. DEFINISI-DEFINISI

Kesehatan

Definisi kesehatan menurut Undang-undang Kesehatan nomer 36 tahun 2009 adalah sebagai berikut :
Kesehatan adalah keadaan sehat, baik secara fisik, mental, spiritual maupun sosial yang memungkinkan setiap orang untuk hidup produktif secara sosial dan ekonomis.

Hidup sehat itu hidup secara produktif. Ini penting sekali , baik itu secara sosial atau ekonomis. Secara ekonomis tidak lalu berarti menghasilkan uang, tapi artinya ada nilai ekonomisnya.


Kesehatan Jiwa

Adapun Kesehatan Jiwa menurut Undang undang Kesehatan Jiwa nomer 18 tahun 2014 adalah :
Kondisi dimana seorang individu dapat berkembang secara fisik, mental, spiritual dan sosial sehingga individu tersebut menyadari kemampuan sendiri, dapat mengatasi tekanan, dapat bekerja secara produktif dan mampu memberikan kontribusi untuk komunitasnya.

Kalau kita mulai merasa tidak mampu mengatasi tekanan, berarti harus hati-hati, mungkin perlu konsultasi ke dokter Kesehatan Jiwa. Kemudian yang juga penting, sehat jiwanya bila kita mampu memberikan kontribusi untuk komunitas.

Berbicara tentang jiwa kita harus waspada. Yang kita bahas ini bukan ruh, karena kita tidak diberikan ilmu tentang Ruh kecuali hanya sedikit. Ruh masuk ke dalam janin kemudian pada saat meninggal, Ruh kita dicabut.

Jiwa yang dipelajari dalam ilmu Kedokteran Jiwa adalah tiga hal yang penting, yaitu : Pikiran, Perasaan dan Perilaku. Jadi menjadi dokter jiwa itu gampang, yang penting harus tahu Pikiran, Perasaan dan Perilaku. Kemudian belajar Therapinya.

Pikiran

Kalau pikiran kita salah pasti ada gangguan pada jiwa kita. Misalnya saya berpikiran bahwa sesudah kegiatan ceramah ini lalu semua Peserta Kajian bisa menjadi Presiden, maka itu adalah pikiran yang salah.

Perasaan

Perasaan juga bisa dirasakan oleh masing-masing individu, perasaan kita bagaimana hari ini. Dan kita juga bisa melihat perasaan orang lain. Kalau misalnya ada orang yang tiba-tiba menangis tanpa sebab yang jelas , pasti itu ada masalah di dalam jiwanya.

Perilaku

Perilaku agak sulit dijelaskan tanpa bertatap muka. Yang kelihatan hanya terbatas bagian atas, bagian bawah tidak terlihat. Ketika online zoom meeting lawan bicara tak tahu apakah bagian bawah kita pakai sarung, celana, atau celana pendek? Atau pakai sandal, pakai sepatu dan sebagainya, namun secara umum perilaku yang kita lihat biasa-biasa saja.

Perilaku itu penting dan jika diantara ketiga ini, salah satu atau dua mengalami kelainan, beda dari norma yang ada, norma yang umum, maka kita harus mencurigai adanya gangguan jiwa pada seseorang.


2. PEMBAHASAN

Psychology should be the scientific study of consciousness (Wilhelm Wundt, 1879).

Unconcious a determinants of behaviour (Sigmund Freud, 1900, 1933).

Di dalam pembahasan tentang psikologi kita tidak bisa memisahkan psikologi dengan biologi karena perilaku baru bisa kita ketahui kalau biologinya ada.

Kemudian pikiran dan perasaanpun tidak bisa kita lepaskan begitu saja tanpa adanya unsur biologis.
Kita tidak tahu perasaan seseorang kalau kita tidak mendengar suaranya ,tidak melihat orangnya. Ini semua perlu kita cermati.


3. STRESS

Apa yang terjadi kalau seseorang itu mengalami sesuatu hal yang tidak menyenangkan? Disini ada istilah yang sehari-hari kita sebut dengan Stress.
Kalau secara psikologis stress menurut aliran Eric Lindermann :
Stress merupakan kondisi psikologis yang merasa terancam.

Pandangan pertengahan antara Psikologis dan Biologis.
Menurut aliran Hans Selye :
Stress merupakan respons biologis terhadap stressor yang terdiri dari alarm stage, adaptation stage (eustress) , exhaustion stage (distress).

Dimana tiap orang, kita semuanya setiap saat menghadapi situasi dimana kita merasa terancam atau memerlukan penyesuaian.
Pada keadaan seperti itu maka sebetulnya kita seperti sekarang dalam keadaan situasi eustress atau stress yang normal.

Pada keadaan sudah kelelahan disebut distress. Ini yang namanya sakit stress. Sekarang ini yang susah, kalau orang sedang stress mengaku stress. Tetapi kalau orang lain yang mengatakan : “Anda kelihatannya stress ..” Pasti respondnya dia marah.

Sigmund Freud dan para pengikutnya mengembangkan catatan tentang pikiran bawah sadar.
Secara Biologis, menurut aliran Dabbar-Mc Ewen : Stress merupakan respons terhadap stressor yang terdiri dari stress perception dan stress response.

Kalau saat ini di Solo tempat saya aman-aman saja. Tetapi menurut berita pagi ini Jakarta banjir. Barangkali yang di Jakarta mungkin yang sedang kebanjiran sekarang sedang stress.

Stress inipun tergantung pada Persepsinya. Saya ingat waktu mahasiswa tinggal di Mlatiharjo. Pertama kali banjir senang-senang saja, bahkan keponakan saya juga ketawa-ketawa main air.

Tetapi ketika 3 hari airnya belum surut, mulailah terjadi respons terhadap situasi itu, mulai stress, mulai menangis-nangis karena masih anak-anak , jadi kita harus waspadai stress.


Definisi Stress :

– Stress adalah kondisi saat individu harus melakukan penyesuaian diri terhadap stressor.

– Fase-fase

Peringatan (Alarm)

Pada fase peringatan ini biasanya kadang-kadang tekanan darah naik, jantung berdebar-debar, denyut nadinya meningkat.

Penyesuaian (adaptasi)

Kalau terus-terusan menyesuaikan diri kalau terlalu lama bisa capai juga. Dia akan sakit.

Kelelahan (Sakit)

Pada saat Sakit (distress) terjadi pada saat individu mengalami kelelahan.
Gejala kelelahan ini bisa bermacam -macam, mulai dari psikis sampai biologis (secara fisik) seperti disebutkan didepan. Secara fisik bisa muncul, secara psikhologis juga bisa muncul.


4. STRESSOR SAAT INI PANDEMI

1. Covid-19

Apa yang sedang kita hadapi saat ini ?
Kita sekarang menyebutnya Pandemi Covid -19 karena munculnya tahun 2019 akhir. Tapi kalau kita dengar berita dikaitkan dengan SarCov, segala macam, berbagai jenis virus muncul semua. Malah sekarang Covid belum selesai sudah muncul lagi jenis virus lain. Ini yang harus kita kenali.

Macam-macam beritanya tidak jelas, kita tak usah bingung-bingung kalau ketemu yang begini. Kita pakai pedoman saja yang dari Kementerian Kesehatan. Disana lengkap dan bisa di down load. Buka saja : Menghadapi Pandemi Covid-19. Segala macam cerita ada disana. Enggak usah cari yang lain-lain lagi, nanti banyak ceritanya. Terlalu banyak hoax yang kita temukan.

2. Cara Penularan

Salah satu stressor adalah cara penularan. Sejak awal bermacam- macam. Katanya droplet, katanya air borne sehingga ketemu orang saja takut. Ini menjadi stressor yang tidak mudah kita fahami. Ini yang harus kita waspadai. Oleh karena itu kita ambil sumber berita dari Kemenkes saja yang terakhir.

3. Pencegahan Penularan

Kita pernah ingat dulu diawal ada pengumuman bahwa hanya yang sakit yang pakai masker. Berikutnya semua orang harus pakai masker. Sekarang malah Donald Trump tidak memakai masker sama sekali. Informasi yang simpang siur ini menjadi Stressor.

4. Gejala Infeksi

Ini juga merupakan stressor yang tidak kecil. Awalnya katanya demam, sehingga dimana-mana kalau kita datang ke Supermarket diperiksa suhunya.

Katanya batuk-batuk kering, katanya tidak bisa mencium bau.
Beritanya macam-macam, mulai dari cerita yang sifatnya anekdotical sampai ke cerita yang serius semuanya ilmiah. Segala macam muncul dan ini juga merupakan sumber stress yang perlu kita fahami.

5. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan terhadap Pandemi juga macam-macam. Berkembang terus sesuai dengan penemuan- penemuan yang terakhir.
Kita di Indonesia mengikuti WHO sehingga dimana di WHO ada perubahan kita juga mengadakan perubahan.

Jadi kalau awalnya dulu namanya OTG harus dirawat. Sesudah itu kemudian berubah jadi KTG harus isolasi mandiri. Tetapi sekarang orang yang isolasi mandiri tidak dipercaya lagi. Sekarang isolasinya tidak mandiri.

Sekarang banyak daerah , masing- masing punya kebijakan yang berbeda- beda. Kita harus waspadai.
Saya di Solo dengan di Boyolali kebijakannya beda. Walaupun pedomannya dari Kemekes tetap ada.
Hari ini juga berbeda juga. Ada staf saya di Rumah Sakit harus di isolasi tapi tak boleh mandiri. Harus mandiri di Rumah Sakit, jadi di RSJ asramanya dipakai untuk Staf Pegawai yang Terkonfirmasi Positif.

Penatalaksanaan juga termasuk tata laksana obat. Sampai sekarang ternyata obatnya kesimpulannya masih macam-macam.
Vaksinnya juga masih kita tunggu, kapan mulai vaksinasi? Lalu siapa dulu yang akan divaksinasi?
Ini masih ribut. Nanti kalau divaksin hasilnya seperti apa? Belum tahu karena masih baru.
Semuanya serba baru yang kita semua belum tahu. Tapi itu juga bisa menimbulkan stress untuk banyak orang.

6. Fatalitas

Dramatikal sekali fatalitasnya. Yang meninggal luar biasa. Di Televisi beritanya sampai rebutan jenazah segala. Sampai tuntut menuntut dan sebagainya. Ini harus kita waspadai, ini sesuatu stressor yang tidak kecil untuk kita semua.

Ini merupakan stressor yang menyebabkan individu menjadi betul-betul stress. Pada beberapa orang sampai mengalami distress.
Ini harus kita perhatikan baik-baik. Moga-Moga kita tidak menjadi stress.

Sekarang musimnya Webinar, segala macam webinar. Kalau di bidang Kedokteran semuanya Webinar. Sekarang webinar kurang laku kalau tidak menyebut Pandemi , tidak dihubungkan dengan Covid-19.

Saya sendiri sampai pusing. Segala macam bidang Psikhiatri dikaitkan dengan Covid-19. Tidak apa, banyak Webinar, hemat tenaga, hemat biaya dari rumah bisa. Kadang-kadang hanya judulnya saja yang ada Covidnya tapi isinya Covid hanya sedikit.

7. Efek dari Stress

Stress bisa akut, bisa kronis kalau berlanjut Pandeminya berkepanjangan bisa jadi Stressor Kronis.
Pada keadaan yang lebih lanjut lagi kita bisa mengalami perubahan terhadap Immune Variable :
– sel darah putih (leukosit)
– Lymphocytes
– Monocytes
– T lymphocyte

Tentunya terkait juga dengan imunitas kita. Sekarang obat-obat untuk meningkatkan imunitas laku keras.


5. PENANGGULANGAN STRESS

– Pencegahan Stress

Apa yang harus kita lakukan ?
Yang perlu kita lakukan sebenarnya sederhana saja.

1. Kenali stressor

Stressornya sekarang kita batasi masalah Pandemi Covid-19. Oleh karena itu kita baca dari artikel yang terpercaya. Kalau kita di Indonesia kita baca saja yang dari Kemenkes dan kita yakini bahwa itu benar.

Stressornya kita kenali mulai dari virusnya, kemudian cara penularannya, kemudian pencegahannya. Mengenai therapi tidak usah kita baca. Orang awam tak perlu banyak tahu.

2. Kenali diri sendiri.

Ini yang sering kita lupa, kita sering merasa sehat-sehat saja lalu kita tidak menjaga kesehatan kita.
Mari kita jaga kesehatan kita dengan cukup memberikan perhatian kepada diri kita sendiri.
– Apakah kita hari ini sehat?
– Apakah kita cukup mendapat nutrisi yang bergizi?
– Apakah kita cukup istirahat?

Ini semua harus kita kenali, diri kita sendiri. Kalau ada yang tidak nyaman pada diri kita, kita harus segera memeriksakan diri.
Kalau kita dokter, jangan memeriksa diri sendiri. Karena kalau memeriksa diri sendiri yang dipikir terlalu banyak.

3. Tinggalkan hoax

Tidak kalah pentingnya kita tinggalkan berita-berita hoax, atau berita yang meragukan. Seperti betul seperti enggak kita hindari, gampang sekali itu kita tinggalkan saja.

Ini yang sering menyebabkan individu terpapar dengan hoax lalu melakukan tindakan -tindakan yang tidak rasional misalnya :
– Berjemur sepanjang hari, berjemur mulai pagi sampai siang akibatnya kulitnya kering.
– Berbagai macam bentuk diet. Kita harus waspadai jangan sampai salah diet. Baca pada buku-buku petunjuk yang jelas.

– Penatalaksanaan

1. Tingkatkan daya tahan

Daya tahan tubuh kita dari mana datangnya? Kita membahasnya dari tinjauan ilmu Kedokteran Jiwa.
Kembali ke jiwa ada Pikiran, ada Perasaan dan ada Perilaku.

Maka sebetulnya daya tahan tubuh kita itu asalnya dari pikiran kita. Kalau pusatnya di otak. Di otak kita luar biasa, bisa menata tubuh kita. Di otak kita itulah sebetulnya sumber ketahanan tubuh kita. Daya tahan tubuh kita, Fisik maupun Mental ada di otak kita.

Coba saja sekarang pikirkan bahwa ujung jempol kaki kanan kita sakit. Tidak usah lama-lama, 15 menit rasakan seperti itu. Nanti lama-lama akan terjadi rasa sakit itu. Itu salah satu contoh bahwa otak dapat memerintah anggota tubuh kita. Daya tahan tubuh asalnya paling besar dari pikiran kita.

Perasaan kita juga kita tata. Ada perasaan tidak enak kita cari sumbernya. Kemudian kita selesaikan.
Dari perilaku kita, kebiasaan-kebiasaan kita mulai dari bangun tidur sampai kita tidur lagi.

Di dalam suatu petunjuk ada : Tidur yang cukup, minimal 5-7 jam sehari.
Tetapi kalau dari dulu tidurnya hanya 2- 3 jam jangan memaksakan diri sekarang harus tidur 5 jam.

Sesuaikan saja dengan kebutuhan, karena kebutuhan tubuh kita tahu dengan kebutuhan fisik kita. Kita harus fahami itu, kita laksanakan sesuai dengan kebutuhan. Tentunya kalau tidak ada perlunya tidak usah begadang.

2. Hadapi masalah secara rasional

Kita sering menghadapi masalah sehari-hari. Apalagi terkait dengan pandemi, memberi kuliah secara daring. Rasanya kuliah kok aneh, kuliah tidak ada yang merespond. Sehingga suatu saat saya kuliah daring saya minta semua membuka mikenya.

Ributnya gak karuan, suara sepeda motor masuk, suara mobil masuk, suara kucing masuk. Tapi bagi saya merasa enak. Tentu kita harus menyesuaikan diri perlahan-lahan. Semua masalah kita selesaikan secara rasional :
“Oh ya, tidak mungkin dalam kondisi sekarang ini saya memberikan kuliah Tatap Muka jadi harus Daring”.
Kita siapkan mental kita. Kita harus berlatih lagi.

3. Taati Saran Ilmiah.

Sering saran-saran ilmiah ini justeru ditanggapi banyak orang sebagai sesuatu yang sifatnya dianggap seperti Hoax. Kita harus lihat sumbernya dari mana?

Kalau sumbernya dari sumber yang resmi, seperti tadi yang saya anjurkan dari Kemenkes. Diterima saja, itu bukan hoax, itu memang asli.

Soal kemudian ada perubahan memang Pengetahuan dan Kemampuan Institusi itu berbeda-beda kemudian ada Perkembangan. Sementara virusnya sendiri kita tahu virusnya juga berkembang. Virus mengalami mutasi, mengalami perubahan dari hari ke hari. Fatalitasnya terhadap yang terpapar juga berbeda-beda.

Saran-saran ilmiah kalau sumbernya terpercaya kita taati. Kita jangan melakukan jalan sendiri-sendiri.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here