Dr. H. Zuhad Masduki MAg

26 Shafar 1442 / 14 Oktober 2020



Tema surat Al ‘Adiyat adalah kerugian yang akan dialami oleh mereka- mereka yang sangat mencintai gemerlapnya duniawi dan sangat kikir.
Ayat-ayatnya diawali dengan sumpah yang fungsinya untuk menguatkan isi pernyataan yang akan disampaikan, karena mitra bicara nada-nadanya tidak percaya atau mengingkari informasi yang akan disampaikan.
Allah SWT menguatkan pernyataanNya dengan menggunakan sumpah.


Tafsir Surat Al ‘Adiyat ayat 1-5

Allah SWT berfirman:

وَا لْعٰدِيٰتِ ضَبْحًا ۙ (1) فَا لْمُوْرِيٰتِ قَدْحًا ۙ (2) فَا لْمُغِيْرٰتِ صُبْحًا ۙ (3) فَاَ ثَرْنَ بِهٖ نَقْعًا ۙ (4)
فَوَسَطْنَ بِهٖ جَمْعًا ۙ (5)

wal-‘aadiyaati dhob-haa, fal-muuriyaati qod-haa, fal-mughiirooti shub-haa, fa asarna bihii naq’aa, fa wasathna bihii jam’aa

Terjemahannya :
“Demi yang berlari kencang terengah- engah, dan yang memercikkan bunga api , dan yang menyerang dengan tiba-tiba pada waktu pagi, sehingga menerbangkan debu, lalu menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh,” (QS. Al-‘Adiyat 100: Ayat 1-5)

Tafsirnya :

wal-‘aadiyaati dimaknai kuda-kuda atau onta yang dipakai untuk berperang.
Para ulama memahami ayat ini dengan pendekatan munasabah, melihat korelasi antar ayat 1 sampai ayat 5. Kalau istilah sekarang ini menggunakan methode Semantik. Melihat makna dasar dari kata-kata yang dipakai dalam ayat dan melihat makna relasionalnya.

Ada dua makna dalam wal-‘aadiyaati , yaitu KUDA dan ONTA. Menurut analisis para mufasir yang lebih tepat ayat ini dimaknai kuda perang, karena adanya kata dhob-haa. Kata ini adalah suara terengah-engah ketika kuda berlari.

Makna kuda diperkuat oleh kata
fal-muuriyaati qod-haa (dan yang mencetuskan api). Kalau onta berlari tidak mencetuskan api.

Darimana asal api ? Dari kaki yang diberi tapal yang terbuat dari besi terkena batu. Kuda diberi tapal pada kakinya, sedangkan Onta tidak. Kaki onta lunak dan kaki kuda keras. Maka kalau kuda berlari kencang di atas batu akan timbul api dan debu-debu berterbangan. Kuda perang ini menyerang pada waktu pagi saat musuh belum siap sehingga musuh sekuat apapun dapat ditaklukkan. Musuh tak sempat melawan dan kalah.

Ayat 1 sampai 5 ini merupakan gambaran tentang datangnya hari kiamat yang datang tiba-tiba seperti datangnya Kuda Perang menaklukkan musuhnya.

Kiamat ada dua Kiamat Kubra (besar) yang akan datang mendadak dan Kiamat Sugra (kecil) yang kedatangannya paling tidak ada 12 tanda-tanda yang digambarkan dalam hadits Nabi Muhammad SAW.
Tanda-tanda Kiamat Sugra antara lain.
– Rakyat jembel mendirikan bangunan- bangunan yang tinggi.
– Jarak antara satu tempat dengan tempat yang lain sudah semakin dekat sehingga seperti tidak ada jarak, seperti kita sekarang ini. Seluruh dunia menjadi kecil dan kita bisa tahu berbagai informasi dari berbagai belahan dunia.
– Banyaknya dajjal yang muncul ditengah tengah masyarakat. Dajjal adalah Para Pembohong dan Penipu. Bisa dalam bidang agama, politik, sosial, ekonomi dan lain-lain.

Kiamat Kubra datang mendadak, seperti digambarkan bagai serangan Pasukan Kuda Perang. Musuh tidak sempat melakukan perlawanan.

Dalam Tafsir modern dinyatakan :
Gambaran tentang kiamat yang ada dalam Surat Al ‘Adiyat ini mungkin untuk masyarakat di era milineal sekarang mungkin sudah tidak menggentarkan lagi karena perang zaman sekarang tidak lagi menggunakan kuda. Karena sekarang yang namanya perang menggunakan alat-alat perang modern : Pesawat tempur, Bom, Roket dan lain sebagainya.

Para ulama mengatakan : Al Qur’an yang turun pada masa Nabi Muhammad pada abad ke 6 tentu saja tidak lepas dari situasi yang ada saat itu. Kalau gambaran ini dibaca oleh masyarakat pada zamannya tentu kesannya beda dengan masyarakat kita yang sekarang ini.

Oleh sebab itu ketika kita memahami Al Qur’an, kita tidak boleh memahaminya terlalu letterlijk. Jadi yang kita ambil dari ayat ini adalah pesan moral atau semangatnya, bukan makna harafiah.

Dalam Al Qur’an banyak ditemukan ayat yang secara harafiah tidak relevant dengan perkembangan kekinian. Oleh sebab itu ayat itu harus kita tafsir kembali sesuai dengan perkembangan modern.

Misal Surat Al Baqarah ayat 282.

“… Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi laki-laki di antara kamu. Jika tidak ada dua orang laki-laki, maka boleh seorang laki-laki dan dua orang perempuan di antara orang- orang yang kamu sukai dari para saksi, agar jika yang seorang lupa maka yang seorang lagi mengingatkannya…”

Kalau ayat ini diterapkan secara harafiah kurang relevant, maka pakar tafsir modern mengatakan bahwa hal itu harus dianalisa sebabnya.
Kenapa 1 laki-laki kalau diganti perempuan harus 2 perempuan?
Analisa penyebab, dulu pada umumnya perempuan tidak terjun dalam bisnis dan tidak bertransaksi keuangan. Sehingga (dikatakan dalam ayat Al Qur’an diatas), mereka mudah lupa untuk bidang itu. Maka perlu dua orang untuk saling mengingatkan.

Perempuan modern sekarang, di Indonesia misalnya sudah bebas mengenyam pendidikan sehingga perempuan dapat mengembangkan seluruh bakat dan potensinya sama dengan laki-laki dan banyak perempuan yang berprestasi sejajar bahkan ada yang mengungguli kaum laki-laki.

Dengan memperhatikan hal ini maka saksi tidak harus 1 laki-laki dan 2 perempuan, tetapi 1 laki-laki dan 1 perempuan juga boleh.

Demikian pula dalam memahami Surat Al ‘Adiyat, kalau dibaca anak generasi sekarang, kiamat tidak menggetarkan karena sudah beda perkembangan perang dengan masyarakat modern sekarang ini. Demikian juga alat-alat perang zaman ini kalau dilihat 100 tahun yang akan datang juga tidak menakutkan lagi, karena terjadi perubahan terus menerus.

Ayat 1sampai 5 Surat Al ‘Adiyat menjelaskan datangnya kiamat yang tiba-tiba, sehingga manusia yang tidak beriman atau belum melakukan kebajikan-kebajikan tentu mereka akan mengalami kerugian yang sangat besar di hari kiamat.

Kita diperintahkan untuk mempersiapkan diri menyongsong datangnya hari kiamat, walaupun masih lama.


Tafsir Surat Al ‘Adiyat ayat 6 dan 7

Ayat ini mengecam manusia-manusia yang lalai terhadap tuntunan agama dan mereka sangat mencintai gemerlap dunia dan menjadi sangat kikir tidak mau berbagi kepada orang lain.


Allah SWT berfirman:

اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لِرَبِّهٖ لَـكَنُوْدٌ ۚ (6) وَاِ نَّهٗ عَلٰى ذٰلِكَ لَشَهِيْدٌ ۚ (7)


innal-ingsaana lirobbihii lakanuud, wa innahuu ‘alaa zaalika lasyahiid

“sungguh, manusia itu sangat ingkar, tidak bersyukur kepada Tuhannya, dan sesungguhnya dia (manusia) menyaksikan keingkarannya,” (QS. Al-‘Adiyat 100: Ayat 6-7)


Kata kanuud (كنود) merupakan bentuk superlatif dari kata dasar kanada (كند). Bentuk superlatif ini menggambarkan sangat kikir, sangat ingkar, tidak bersyukur kepada Tuhan.
Syukur itu ada tiga tingkatan : Syukur secara lesan, syukur dengan hati dan syukur dengan anggota badan.
Manusia itu sangat ingkar baik terhadap Tuhan juga tidak bersyukur kepada Tuhannya.

Ada satu penjelasan dari hadits Nabi .

Rasulullah pernah bertanya kepada para Sahabat : “Tahukah kamu apa itu kanud ?” .Sahabat kemudian dengan tawaduk menjawab : “Allah dan Rasulnya yang lebih tahu”.
Rasulullah kemudian menjelaskan :
Kanud adalah :
– Orang yang sangat kikir, tidak menyukuri nikmat.
– Orang yang suka memukul hamba sahayanya.
– Orang yang menghalangi bantuan, dalam bentuk tidak mau memboncengkan seseorang di kendaraannya.
– Orang yang suka makan sendirian tidak mengajak orang lain (karena kikirnya)

Dalam hadits kita dapat banyak riwayat, antara lain Sahabat Nabi, misalnya Ibnu Abbas kalau makan suka mencari teman, agar tidak makan sendirian. Supaya tidak menjadi kanud, orang yang sangat kikir, tidak bersyukur kepada Tuhannya.

Pada ayat ke 7 nya menyebutkan bahwa manusia atas hal yang seperti itu menjadi saksi.
Kata ‘innahuu’ pada ayat ini diperdebatkan oleh Para Ulama.
innahuu (sesungguhnya dia) . Kata ‘dia’
bisa kembali kepada Allah dan juga bisa kembali kepada manusia.
Kalau kembali kepada Allah jelas, karena Allah Maha Menyaksikan apa yang dilakukan oleh manusia.

Tetapi supaya maknanya lurus kata ‘dia’ disini kembalinya kepada manusia, karena nanti ayat-ayat yang belakangan juga bicara tentang manusia.

Kaidah bahasa

Di dalam kaidah bahasa ada rumus, bila ada kata ganti yang tempat kembalinya dua atau lebih, maka dia kembalinya pada yang disebut terakhir.

Dari ayat wa innahuu ‘alaa zaalika lasyahiid, kata huu bila kembali kepada Allah berarti kembali kepada yang jauh. Kalau kembali kepada manusia berarti kembali kepada yang dekat.

Contoh yang lain Allah SWT berfirman:

وَا للّٰهُ يَهْدِيْ مَنْ يَّشَآءُ اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

wallohu yahdii may yasyaaa`u ilaa shiroothim mustaqiim

“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki ke jalan yang lurus.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 213)

Kata ‘yasyaaa’ kata gantinya dikembalikan kepada Allah ( kepada yang jauh).
Tetapi kalau kembali kepada yang dekat maka terjemahannya harus berubah :
“Allah memberi petunjuk kepada siapa yang menghendakinya.”
Disini peran manusia lebih aktif.

Contoh lain Allah SWT berfirman:

فَيَـغْفِرُ لِمَنْ يَّشَآءُ وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَآءُ ۗ 

fa yaghfiru limay yasyaaa`u wa yu’azzibu may yasyaaa`

“Dia mengampuni siapa yang Dia kehendaki dan mengazab siapa yang Dia kehendaki.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 284)

Kalau kita memakai rumus yang tadi maka terjemahnya harus ganti :
“Dia mengampuni siapa yang menghendaki pengampunan dan mengazab siapa yang menghendaki siksaan.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 284)

Disini yang aktif manusia. Kalau manusia ingin diampuni, maka manusia bertobat. Kalau manusia tidak ingin diampuni maka dia terus menerus dibiarkan melakukan dosa. Sehingga dia akan disiksa oleh Allah SWT.

Kesaksian manusia (terhadap perbuatan dirinya yang kanud tadi) bisa terjadi di dunia dan pasti di akhirat dia juga akan menjadi saksi.
Tentang kesaksian manusia di dunia kita bisa mengambil analogi dari ayat yang lain.

Allah SWT berfirman:

وَشَهِدُوْا عَلٰۤى اَنْفُسِهِمْ اَنَّهُمْ كَا نُوْا كٰفِرِيْنَ

wa syahiduu ‘alaaa angfusihim annahum kaanuu kaafiriin

“Dan mereka memberikan kesaksian terhadap diri mereka sendiri bahwa mereka adalah orang-orang kafir.” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 37)

Orang kafir yang menyembah selain Allah SWT, ketika mereka akan dimatikan, mereka ditanya oleh malaikat : “Mana sesembahan- sesembahanmu selain Allah? ”
Mereka menjawab : “Sudah menghilang”.
Mereka akan menjadi saksi atas diri mereka, bahwa mereka orang kafir. Karena mereka tidak pernah menyembah kepada Allah SWT.

Termasuk Tokoh yang paling durhaka, yaitu Fir’aun, ketika dia mau tenggelam maka dia baru mau mengakui Tuhan yang disembah oleh Bani Israel dan dia berserah diri kepada Tuhan. Hanya saja dia sudah terlambat.
Hal itu diabadikan dalam Surat Yunus ayat 90 dan 91 :

وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَ تْبـَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗ حَتّٰۤى اِذَاۤ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَا لَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْۤ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْۤا اِسْرَآءِيْلَ وَ اَنَاۡ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ

“Dan Kami selamatkan Bani Israil melintasi laut, kemudian Fir’aun dan bala tentaranya mengikuti mereka untuk menzalimi dan menindas mereka. Sehingga ketika Fir’aun hampir tenggelam, dia berkata, Aku percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan aku termasuk orang-orang muslim.” (QS. Yunus 10: Ayat 90)


اٰۤلْـئٰنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ

“Mengapa baru sekarang ?, padahal sesungguhnya engkau telah durhaka sejak dahulu dan engkau termasuk orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Yunus 10: Ayat 91)

Manusia-manusia yang kikir itu nanti juga akan menjadi saksi atas dirinya di dunia ini.

Dalam kehidupan sehari-hari dia juga menjadi saksi atas kekikirannya itu.
Menurut pandangan universal :
Kikir itu buruk dan Dermawan itu baik.
Kalau ada orang kikir yang tidak pernah mau memberi, lalu dia dikatakan kikir. Pasti dia tidak mau, karena dia mengetahui bahwa kikir adalah sifat tidak baik walaupun dia sendiri tidak pernah melakukan tindakan kedermawanan.


Tafsir Surat Al ‘Adiyat ayat 8


وَاِ نَّهٗ لِحُبِّ الْخَيْرِ لَشَدِيْدٌ ۗ 

wa innahuu lihubbil-khoiri lasyadiid

“dan sesungguhnya cintanya kepada harta benar-benar berlebihan.”
(QS. Al-‘Adiyat 100: Ayat 8)

Terjemahan ayat 8 ini ada dua macam : Pertama : Sesungguhnya karena kecintaannya kepada harta membuatnya jadi kikir.
Kedua : Sesungguhnya manusia itu sangat keras mencintai harta.

Kita tahu bahwa harta benda yang kita miliki itu sifatnya berpindah. Dari satu tangan ke tangan lain.
Ketika hari ini kita dapat gaji, setelah uang ada ditangan, uang mulai berpindah. Nanti malam mulai pindah, besuk pagi pindah. Dalam beberapa hari mungkin sudah habis berpindah ke tempat orang lain.

Maka seharusnya pindahnya harta ke tangan orang lain itu mengikuti tuntunan Allah SWT.

Harta benda disebut dengan al-khoiri, yang disini bermakna harta. Disebut khoir karena harta itu sendiri baik. Yang tidak baik bisa terjadi pada cara memperolehnya atau pada cara pendaya-gunaan daripada harta itu.


Tafsir Surat Al ‘Adiyat ayat 9-11

اَفَلَا يَعْلَمُ اِذَا بُعْثِرَ مَا فِى الْقُبُوْرِ ۙ (9) وَحُصِّلَ مَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ (10) اِنَّ رَبَّهُمْ بِهِمْ يَوْمَئِذٍ لَّخَبِيْرٌ(11)

a fa laa ya’lamu izaa bu’siro maa fil-qubuur, wa hushshila maa fish-shuduur, inna robbahum bihim yauma`izil lakhobiir

“Maka tidakkah dia mengetahui apabila apa yang di dalam kubur dikeluarkan, dan apa yang tersimpan di dalam dada dilahirkan?
Sungguh, Tuhan mereka pada hari itu Maha Mengetahui terhadap keadaan mereka.” (QS. Al-‘Adiyat 100: Ayat 9-11)

Ayat ini menyadarkan manusia bahwa nanti pada hari kiamat kita akan menyadari tentang apa yang sudah kita lakukan.
Kita umat islam sudah tahu bahwa setelah kematian kita akan berada di alam Barzah sampai Kiamat, kemudian kita akan dibangkitkan oleh Allah SWT dan apa saja yang pernah kita lakukan nanti akan dinampakkan oleh Allah SWT.

Apa yang ada di dalam dada, kebaikan dan keburukan akan dikeluarkan dan dipisahkan. Ini yang sering dilupakan oleh manusia, bahwa Tuhan mengetahui segala sesuatu. Sehingga kita sering melakukan berbagai tindak kesalahan dan kekeliruan dalam kehidupan.

Kita baru sadar bahwa Tuhan Maha Tahu setelah hari Kiamat. Tuhan itu Maha Kuasa.

مٰلِكِ يَوْمِ الدِّيْنِ ۗ 
maaliki yaumid-diin.
“Pemilik hari pembalasan.” (QS. Al-Fatihah 1: Ayat 4)

Sekarang banyak yang belum sadar sehingga orang sering lupa dan melakukan dosa.

Marilah kita jangan sampai terlambat mengamalkan pesan Surat Al ‘Adiyat :
“Jangan terlalu mencintai harta benda. Mencintai harta boleh tapi tuntunan agama harus kita lakukan di dunia”.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here