Dr. Deddy Herman SpP(K)

22 Shafar 1442 / 10 Oktober 2020



Lini Masa

Desember 2019 pertama kali teridentifikasi sebagai klaster kasus pneumonia di Wuhan, China.

30 Jan 2020, WHO mengumumkan wabah tersebut sebagai ‘darurat kesehatan masyarakat’ yang menjadi perhatian internasional di bawah Peraturan Kesehatan Internasional.

Februari 2020, Wabah menyebar dari episentrum awal di Asia Timur ke Timur Tengah, Eropa dan Amerika Utara.

11 Maret 2020, WHO menetapkan bahwa wabah mencapai klasifikasi Pandemi karena penularannya ke masyarakat luas di seluruh dunia.

Dan sekarang yang paling berat menerima kondisi ini adalah Amerika, Eropa dan daerah dengan 4 musim.
Sekarang (update 5 Oktober 2020) yang terjangkiti sudah 34.800.000 orang dengan kematian lebih dari 1 juta orang. Kasus konfirmasi 2 juta kasus, naik 6%. Di Indonesia perhari ini sudah 11 ribu orang lebih yang meninggal.

Sisuasi terkini- lihat di Covid-19 Global Cases. (Johns Hopkins University).


Coronavirus

Coronavirus (CoV) adalah famili virus yang menyebabkan berbagai penyakit, mulai dari flu biasa hingga penyakit yang lebih berat.

Middle East Respiratory Syndrome (MERS-CoV) dan Severe Acute Respiratory Syndrome (SARS-CoV) merupakan bagian dari famili Coronavirus.

SARS-CoV-2, nama virus yang menyebabkan penyakit yang dikenal sebagai Covid-19, adalah jenis baru coronavirus. Virus ini belum teridentifikasi sebelumnya pada manusia.

Virus corona bersifat zoonosis, yang berarti ditularkan dari hewan ke manusia. Namun sekarang bukan lagi ditularkan dari hewan ke manusia tapi dari manusia ke manusia.

Komponen Virus Corona

Virusnya mempunyai Spike Proteine, Inti RNA dan selubungnya.
Virus ini virus RNA adalah virus yang sangat tidak stabil, dikatakan sangat tidak stabil artinya gampang sekali bermutasi. Karena gampang sekali bermutasi maka sangat sulit kita mengendalikannya dan menyebabkan kondisi-kondisi yang kadang-kadang untuk masing-masing pasien berbeda -beda.


Taksonomy Coronaviridae (menurut International Committee on Taxonomy on Viruses)

Kalau kita lihat Taksonominya ada yang Alpha coronavirus ada yang Beta, Gama dan Delta coronavirus.
Yang mengenai manusia ada enam jenis coronavirus dan masuk genus yang Alpha dan Beta.


Case Fatality Rate

Secara garis besar case fatality ratenya:
Covid-19, case fatality 4,2% dengan kematian 11. 299 (data lama)
Kita bandingkan dengan yang lain :
Influenza (2017) tidak terdeteksi, tapi kematian 145.000
Ebola (2014) case fatality 39, 53%. Dan kematian 11.323
H1N1 (2009) : 0.1% tapi kasusnya mencapai 60.800.000
SARS (2003) : 9,56% , kematiannya 774.


Epidemiologi Penularan Penyakit

R – adalah tingkat Replikasi suatu penyakit, atau jumlah rata-rata orang yang terinfeksi oleh setiap orang dengan penyakit tersebut.
R bersifat dinamis, tergantung pada berbagai faktor termasuk penerapan protokol kesehatan masyarakat.

RO – adalah sifat menular yang melekat dari agen infeksi, sebelum langkah kesehatan masyarakat dimulai.
RO untuk Covid-19 tidak diketahui secara pasti, tetapi kemungkinan besar jatuh antara 1,5 dan 3,5.

Apabila 4 orang terinfeksi viruscorona baru, dengan tingkat Ro 1,5 mereka akan menginfeksi : 4 x 1,5 = 6 orang lainnya. Dan selanjutnya 6 orang ini dapat menginfeksi 6 x 1,5 = 9 orang.

Namun dengan tingkat Ro 3,5, mereka akan menginfeksi 4 x 3,5 = 14 orang dan selanjutnya 14 orang ini akan menginfeksi : 14 x 3,5 = 49 orang lainnya dan demikian seterusnya.
Artinya sangat sulit untuk mengendalikan penyebaran virus ini.

Apa yang menentukan R ?

– Persen Populasi rentan (tanpa imunitas)
– Cara penularan – droplet pernafasan vs udara (airborne)
– Interval serial, jumlah waktu antara kasus yang berurutan dalam rantai penularan.
– Karakteristik biologis unik dari patogen. Karena virus RNA sangat labil sehingga gampang sekali bermutasi.
– Respon kesehatan masyarakat – isolasi pasien yang sakit, karantina kontak, pembatasan perjalanan, penggunaan APD dalam pengaturan layanan kesehatan. Ini sangat menentukan sekali bagaimana kita dapat menghentikan penularan virus ini.


Penularan Covid-19

– Penularan dari orang ke orang terjadi terutama melalui transfer droplet, mirip dengan influenza dan patogen pernafasan lainnya.
– Ketika seseorang yang terinfeksi Covid-19 batuk atau bersin, droplet dapat menjangkau sekitar 1-2 meter, mendarat di tangan orang itu, tubuh orang lain, atau permukaan benda- benda terdekat.
– Ketika orang lain menyentuh droplet tersebut dan kemudian menyentuh wajah, virus dapat masuk ke dalam tubuh melalui selaput lendir mata, hidung atau mulut
– SARS-CoV-2 umumnya tidak menyebar melalui udara seperti tuberculosis atau campak (kecuali prosedur aerosol yang dilakukan di rumah sakit, seperti intubasi).


WHO menyatakan adanya empat kewaspadaan :

1. Yang paling penting terutama adalah kewaspadaan Badan, terutama menggunakan masker dan hidup sehat.
2. Kewaspadaan Droplet, artinya bahwa dari droplet karena batuk, bersin sangat berbahaya, dapat kemana-mana dan menyebabkan orang terinfeksi.
3. Kewaspadaan Kontak Langsung dengan salaman dan sebagainya.
4. Kewaspadaan Airborne.
Pada awalnya tidak dipercaya ada penularan secara airborne tetapi sekarang bukti-bukti menunjukkan bahwa virus dapat bertahan di udara.

Dalam ruangan tertutup virus bertahan selama 2-3 jam sehingga sekarang dikatakan penyebaran virus terjadi ditempat-tempat orang biasa bertemu seperti di Masjid, Gereja, Tempat Kerja dan Rumah Sakit sendiri.
Kemudian juga ditempat-tempat yang banyak orang berkumpul untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari seperti Pasar, itu sangat tinggi penularannya.


COVID-19 di Indonesia

Per tanggal 9 Oktober 2020, Jumlah terpapar Covid-19 di Indonesia

Suspek : 149.115
Spesimen : 44.700
Provinsi/Kota : 34/500
Kasus konfirmasi : 324.658
Kasus sembuh : 247.667
Meninggal : 11.677, kalau ditambah dengan hari ini 10 Oktober 2020 mungkin sudah menjadi 12.000

Kondisi di Propinsi paling banyak dengan urutan
DKI Jakarta, Jawa Timur, Jawa Tengah
Dan ada sepuluh daerah termasuk Riau, Sumatera Selatan.


Berapa lama novel Coronavirus bisa bertahan di permukaan?

Kertas dan Tisu : 3 jam
Artinya setelah kita bersin, menggunakan tisu sebaiknya langsung dibuang atau dimusnahkan atau dikumpulkan dan dibakar.

Tembaga bertahan selama 4 jam
Kardus : 24 jam
Kayu : 2 hari
Kain : 2 hari
Stainless Steel : 2-3 hari
Plastik polypropylene : 3 hari
Gelas/kaca : 4 hari

Uang kertas : 4 hari
Jadi di Pasar ini luar biasa penularannya.

Bagian luar masker : 7 hari.
Ini yang paling bahaya, jangan memegang bagian luar masker. Kalau membuka pegang talinya tanpa memegang bagian depan masker. Karena bagian depan pasti mengandung kuman, bakteri atau virus yang terhirup saat kita bernafas.
Sehingga kita harus hati-hati sekali dalam membuka masker.
Jadi bisa saja Petugas Nakes terinfeksi karena salah membuka masker. Atau pada saat membuka APD.


Covid-19 Shedding

Jumlah sampel positif RT-PCR untuk SARS-COV-2/total sampel dalam study agregat (%). Diambil dari Journal Kedokteran semua.

Nasopharyngeal swabs : 31/35
(88.6%)
Conjunctival swabs : 2/188
(1.1%)
Sputum : 48/49
(97.9%)
Throat swabs : 45/75 (60%)
Post Throat saliva 31/35 (88.6%)
Oral swabs 7/15 (46.7%)

Shedding paling banyak dari Saluran Pernafasan, artinya penggunaan masker sangat penting sekali bagi petugas ataupun bagi masyarakat.
Kenapa? Ada dua sebab :

1. Kalau kita menggunakan masker N95 maka 95%-98% virus bisa kita tahan. Sehingga kalaupun ada yang masuk, jumlahnya sangat kecil.
Karena jumlahnya sangat kecil maka tubuh dapat mematikan virus yang masuk tadi dengan antibody dengan macrophage ataupun dengan daya tahan tubuh yang ada di daerah saluran nafas kita, sehingga virus dapat dimatikan.

2. Dengan menggunakan masker, suhu pernafasan juga akan naik. Dengan naiknya suhu nafas tadi maka harapannya virus betul-betul dapat kita matikan.

Disini kita lihat bahwa nasofaring, sputum dan di tenggorokan terserang sangat tinggi sekali. Sampai 88% terdapat pada saluran nafas. Jadi betul-betul dengan menggunakan masker yang benar, menutup mulut dan hidung bisa menjaga penularan ataupun menjaga orang yang menggunakan masker untuk bisa menjaga dirinya jangan sampai terinfeksi berat oleh virus tersebut.

Untuk mata hanya 1.1%, maka saat kita menggunakan hazmat ataupun APD, itu sangat penting , terutama menggunakan maskernya, kemudian menggunakan face shield ataupun goggles untuk menjaga jangan sampai terinfeksi lewat mata.

Stool (Kotoran, Faeces) : 34/48 (70.8%)
Anal swabs : 16/78 (20.5%)
Rectal swabs : 4/23 (17.4%)
Urine 0/76 (0%)
Blood (darah) : 20/162 (12.3%)
Vaginal swabs : 0/35 (0%)
Ini hal-hal penting yang perlu kita tahu untuk mencegah jangan sampai kita tertular oleh virus ini.


Sel Target pada Infeksi SARS-COV-2

Target bisa seluruhnya, bisa di hidung, bisa di paru-paru , ileum, jantung, mata dan liver sehingga mirip Demam Berdarah bahkan mirip dengan seluruh penyakit. Seperti kejadian di Rumah Sakit FKUI pasiennya pusing, vertigo. Ternyata setelah diperiksa ditemukan virusnya. Jadi banyak sekali gejala Covid-19 ini mirip dengan seluruh penyakit.
Di RSCM juga ada pasien yang virusnya ditemukan di Otak, Prostat dan juga di Placenta.


Masa Inkubasi.

Masa inkubasi : waktu antara paparan pertama dengan virus (terinfeksi) hingga gejala timbul.
Kita tahu bahwa masa inkubasinya 1 sampai 14 hari. Rata-ratanya 5-6 hari.
Selama periode ini dikenal juga sebagai periode “presimtomatik”.
Orang terinfeksi bisa menjadi infeksius sejak 1-3 hari sebelum onset muncul.
Sehingga orang yang terinfeksi dari hari 1 sampai hari ke 5 kita periksa dengan swab Test dan PCR sering kita temukan. Kontak sebentar saja, lebih dari 15 menit dapat mengakibatkan seseorang terinfeksi.


Perbandingan Epidemiologis Wabah Lainnya.

SARS
Reservoir zoonosis : Musang

MERS
Reservoir zoonosis : Unta

Flu musiman
Reservoir zoonosis : Bervariasi

Covid-19
Reservoir zoonosis : Tidak diketahui (mungkin Kelelawar atau Trenggiling)
Ro (Kontrol Pandemi memerlukan Ro < 1) : 1.5 - 3.5
Interval Serial : sampai 7 hari
Periode Inkubasi : 2 – 14 hari
Puncak infektivitas : Tidak diketahui
Rasio fatalitas kasus : 0.5 – 1%


Gejala Covid-19

– Demam (87.9%)
– Batuk kering (67.7%), Berdahak (33.4%) , Berdarah (0.9%)
– Gangguan pernafasan (kesulitan bernafas) : (18.6%)
– Nyeri tenggorokan (13.9%)
– Nyeri kepala (13.6%)
– Nyeri otot (14.8%)
– Gangguan penciuman sekarang sudah ditemukan walaupun pada awalnya diragukan.
– Penurunan pengecapan ( tidak tahu rasa makanan apakah manis, asam atau asin).
– Mual/muntah/nyeri perut (5.0%)
– Diarrhea (3.7%)
– Lemas (38.1%)

Ada pertanyaan apakah bisa hasil swab negatif tapi ternyata orangnya terinfeksi? Ternyata jawabannya bisa.
Ada penelitian di China pada seorang anak SD (Kelas 3 atau 4) , dalam satu apartemen Positif semua, tetapi si anak diperiksa berminggu-minggu tetap negatif.

Kemudian dia bermain bola dengan teman-temannya. Ternyata teman- temannya positif, si anak tetap negatif.
Peneliti di China kemudian melakukan pemeriksaan terhadap faeces, ternyata setelah 19 hari yang lain negatif, dia tetap positif.
Artinya bahwa melalui faeces atau melalui diarrhae bisa terjadi penyebaran.


Gejala Pada Orang lain

Otak : Stroke, Kejang, Inflamasi otak
Mata : Konjungtivitis, inflamasi kernel
Hidung : Anosmia
Kardiovaskular : Pembekuan darah, vasokonstriksi pembuluh darah.
Hati : Peningkatan enzim hati
Intestinal : Diare
Ginjal : AKI, proteinuria
Neurologis : GBS, ensefalitis, kejang, halusinasi, gangguan kesadaran.


Foto Thorax :
Consolidation, multifocal dan Bilateral

Hari selasa malam di Wisma atlit datang pasien, ada 15 orang positif Covid-19. Artinya sekarang bagi dokter perlu hati-hati di tempat praktek masing-masing , bisa jadi Pasien yang datang adalah Pasien Covid. Sekarang hampir semua Pneumonia Bilateral di Perifer.

Di Wisma Atlit bermacam -macam gambaran foto thorax . Kadang-kadang foto thoraxnya normal, namun ternyata swabnya positif, sehingga hal ini membikin pusing para dokter.

Demikian juga dengan CT Scan, biasanya menunjukkan adanya infiltrat. Sebelum ada Covid pasti mengiranya sebagai penyakit lain. Gambarannya mirip penyakit lain, seperti Tuberculosis tapi ternyata Covid.
Memang perlu keahlian pengalaman, bukan hanya foto thorax tapi juga analisa terhadap gejala-gejala klinis.

Untuk ditempat praktek harus hati-hati. Kalau misalnya ada Pasien baru dengan batuk-batuk ataupun demam, kalau kita tidak punya screening awal atau alat yang lain, kita lakukan foto Thorax dulu. Foto Thorax akan sangat membantu kita untuk mendiagnosis Covid ini.

Kemudian yang perlu kita lakukan pemeriksaan Saturasi sebelum pasien masuk ke tempat kita. Apabila terjadi penurunan Saturasi , khas sekali pada pasien-pasien Covid ini terjadi desaturasi.


Faktor Resiko untuk Infeksi Berat dan Kematian.

Faktor Resiko :
– Bepergian ke daerah episentrum Covid-19
– Kontak dengan kasus terkonfirmasi Positif.
– Usia lebih dari 60 tahun
– Jenis kelamin Pria (dikaitkan dengan pria suka jalan kemana-mana)
– Hipertensi (13.2%)
– Penyakit jantung (7.7%)
– Obesitas
– Diabetes (11.7%)
– Merokok
– Penyakit Paru Kronis (2.5%)
– Keganasan
– Penyakit Ginjal Kronis (3.1%)
– Penyakit Hati Kronis (0.6%)
– Transpalantasi organ
– Polusi udara
– Pembedahan.


Populasi Khusus Ibu Hamil

Prevalensi dan pola dari presentasi klinis pada ibu hamil hampir mirip dengan populasi orang biasa.
Walaupun data terbatas, sampai saat ini tidak ditemukan data terkonfirmasi dari ibu ke anak. Tidak ditemukan juga laporan positif dari sampel vagina dan darah plasenta.

Penelitian memeriksa ASI ibu, 7 diantaranya memiliki anak dengan Covid-19 dari 20 sampel ASI, 2 memiliki hasil positif pada ASI ; dari 2 hasil positif, 1 anak dinyatakan positif Covid-19, 1 anak lagi negatif. (Ini data sekitar bulan Juni dan Juli 2020).

Artinya bahwa dari ASI masih bisa melakukan penularan. Walaupun begitu WHO tetap merekomendasikan pemberian ASI pada anak baru lahir di tengah pandemi Covid-19

Apabila ibu positif Covid tapi anak negatif, sebaiknya air susu dipompa kemudian diberikan dengan menggunakan dot kepada anak.
Tetapi apabila tidak dapat dipisahkan antara ibu dan anak, ibu tetap menggunakan masker dan tentu membersihkan payudara dengan baik dengan protokol kesehatan yang ada dan bisa menyusui anaknya langsung.
Aturan yang terbaru, bahwa ibu masih boleh menyusui langsung anaknya walaupun ibu positif Covid-19.


Populasi Khusus Anak

Laporan awal dari China menunjukkan bahwa anak yang terkonfirmasi Covid-19 dapat mengalami gejala ringan. Kompilasi serius (seperti sindrom gangguan pernafasan akut atau syok septik) dan kematian tampaknya sangat jarang terjadi pada anak yang terkena Covid-19.

Sebagian besar anak dapat dirawat di rumah dan tidak perlu dirawat di rumah sakit untuk penyakit ini.
Namun populasi anak tertentu mungkin beresiko lebih tinggi mengalami kondisi berat, seperti mereka yang memiliki penyakit bawaan.


Definisi Kasus Covid-19 (rev 5) yang sesuai dengan WHO

Suspek
a) Orang dengan ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat perjalanan atau tinggal di negara/ wilayah Indonesia yang melaporkan transmisi lokal.
b) Orang dengan salah satu gejala / tanda ISPA dan pada 14 hari terakhir sebelum timbul gejala memiliki riwayat kontak dengan kasus konfirmasi / probable Covid-19.
c) Orang dengan ISPA berat /pneumonia berat yang membutuhkan perawatan di rumah sakit dan tidak ada penyebab lain berdasarkan gambaran klinis yang meyakinkan.

Probable
Kasus Suspek dengan ISPA berat /AIDS/ meninggal dengan gambaran klinis yang meyakinkan Covid-19 dan belum ada hasil pemeriksaan Laboratorium RT-PCR.

Konfirmasi Covid-19
Seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus Covid-19 yang dibuktikan dengan pemeriksaan Laboratorium RT -PCR, dengan gejala (simptomatik) atau tanpa gejala (asimptomatik)


Pengembangan Vaksin dan Obat

Beberapa vaksin sedang dikembangkan untuk Covid-19.
Berita yang terbaru adalah Rusia yang paling cepat menyiapkan vaksin ini. Dikatakan mereka sudah mencapai Tahap kelima. Tapi ini masih perlu konfirmasi.

Karena dibutuhkan waktu minimal 12-18 bulan untuk mendapatkan vaksin yang dapat kita gunakan. Sangat penting untuk tetap menjalani semua langkah pengembangan vaksin. Agar tidak melakukan kesalahan dalam menggunakan vaksin agar tidak merugikan bangsa dan negara kita.

Banyak perusahaan obat dan universitas di seluruh dunia sedang menguji berbagai obat baru dan obat yang sudah ada untuk pengobatan Covid-19.

Namun selama vaksin dan obat definitif belum ada, kita harus tetap memberikan tatalaksana yang optimal dan aman bagi masyarakat, agar tidak terjadi perburukan kondisi.

Ada pengembangan tetapi berupa terapi anti trombotik untuk mencegah trombo emboli vena.
Berdasarkan banyak pustaka ternyata diparu terjadi berbagai hal yang menyebabkan terganggunya fungsi/ proses respirasi yang menyebabkan terjadi desaturasi di permukaan.

Penggunaan Remdesivir tidak direkomendasikan untuk Covid-19 dengan gejala ringan – sedang.
Kita tahu banyak Remdesivir yang dijual dan berasal dari Kalbe Jepang. Harganya 3 juta lebih, sekarang turun menjadi 1.5 juta. Obat ini sebenarnya untuk Ebola dan pengobatan virus Lain, jadi harus sangat hati-hati penggunaannya.

Penggunaan dosis tinggi Klorokuin dan Hidroksiklorokuin juga tidak direkomendasikan karena resiko toksisitasnya terhadap mata dan terhadap gejala mual muntah.
Sebagian besar pasien kita di Wisma Atlit mengalami mual muntah sehingga kita stop obatnya dan kita menggunakan obat-obat yang lain.

Pemberian non-SARS-COV-2 spesifik IVIG tidak direkomendasikan sebagai terapi Covid-19, kecuali sebagai uji klinis.


Protokol Therapi di Rumah Sakit Darurat Covid-19 Wisma Atlit (rsdc19wa)

Jika pasien tidak ada keluhan maka diberikan therapi Anti oksidan, imuno modulator, multivitamin (minimal 2 kombinasi).

Keluhan Ringan :

Oseltamivir 2×75 mg selama 7 hari. (Sebenarnya obat ini digunakan diJepang untuk influenza). Namun kondisi sekarang obat ini di Jakarta dan di Bukit Tinggi habis.

Chloroquine 2×500 mg selama 7 hari / Hidroksiklorokuin 2×400 mg (sekarang kita ganti 1x 400 mg atau 2×200 mg karena efek sampingnya mual muntah yang luar biasa).

Azitromicin 1×500 mg selama 5-7 hari (dapat digantikan dengan Levofloxacin selama 5-7 hari)

Imuno modulator + multivitamin (asetylsistein dosis tinggi, astaxantin, echinacea, zinc, algas calcarae, vitamin D, vit C dll)

Therapi Untuk simtomatis lainnya
Isolasi mandiri di rumah (dengan syarat).

Keluhan Sedang
Perawatan di ruang HCU
Biasanya sama therapinya.


Pneumonia berat dirawat diruang HCU/ICU.
Keluhan Berat : Rujuk
Kritis : Rujuk

Therapi Pilihan -1 Paket Covid-19

1. Azythromycin
Dosis 1x 500 mg selama 5 hari
Efek samping obat (ESO) : Tuli, pandangan kabur, aritmia, gangguan pencernaan : mual, muntah, nyeri ulu hati.

2. Levofloxacin (alternatif pilihan selain Azythromycin)
Dosis : 1 x 750 mg selama 5-7 hari
ESO : Reaksi alergi, gangguan pencernaan : mual, muntah, nyeri ulu hati, mempercepat penutupan lempeng epifisis, teratogenik. Kemungkinan ada gangguan keseimbangan.

3. Hydroxychloroquine / Klorokuin
Dosis : 2 x 200 mg, selama 7 hari -klorokuin 2 x 500 mg
ESO : Gangguan irama jantung, telinga berdenging, perubahan mood, gangguan pencernaan : mual, muntah, nyeri ulu hati dan penglihatan.

4. Oseltamivir
Dosis : 2 x 75 mg, selama 7 hari
ESO : Gangguan irama jantung, pusing
gangguan pencernaan : mual, muntah, nyeri ulu hati.


Therapi Pilihan -2

1. Avigan
Dosis : Hari ke 1: 2 x 1600 mg, hari ke 2 sampai 7 : 2 x 600 mg
ESO : Laki-laki > 50 tahun, bisa terjadi impoten . Perempuan diatas masa subur, tidak rencana dan kondisi hamil. Tidak menyusui, Teratogenik.

Harganya cukup mahal, bisa jadi masalah jika diperiksa BPK. Karena harga 1 box 6.500.000, belum ditambah PPN, bila dibandingkan dengan. Aluvia harganya 1.700.000

2. Aluvia (Lopinavir + Ritonavir)
Dosis : 2 x 2 tablet selama 7 hari.
ESO : Lebih ringan (mirip Oseltamivir) mual, muntah, alergi.
Walaupun obat ini dikatakan Not for Sale tapi ternyata dijual. Sebenarnya untuk pasien HIV tapi dapat diberikan untuk pasien Covid.

3. Remdesivir
Dosis : Hari 1 : 1 x 200 mg (diberi drip) Hari 2-10 : 1 x 100 mg (diberi drip)
Sebenarnya ini obat untuk Ebola, untuk Covid bisa sampai 5 hari.

4. NAC Sistein (bisa diberikan secara kombinasi dengan no 1,2,3)
Dosis : 1 x 5 gram NAC Sistein / hari (diberi drip di HCU) lalu pasien dikembalikan ke ruang panas diberi selama 3-5 hari.


Kepahlawanan dalam Menghadapi Ketakutan dan Bahaya

Komisi kesehatan Nasional China mengumumkan bahwa 3.400 petugas kesehatan telah tertular, 12 orang diantaranya meninggal.
Kita di Indonesia sudah lebih dari 140 orang Petugas Kesehatan meninggal.
Itu yang ketahuan. Sebenarnya kita tidak tahu.

Kalau di Jakarta dikatakan yang dikuburkan biasanya 3-4 orang sehari. Sejak bulan Maret yang dikuburkan 30 sampai 40 sehari. Artinya tidak mungkin kematiannya karena yang lain, hampir pasti karena Covid.

Terus terang data kita adalah data yang tercatat berdasarkan laporan-laporan dari rumah sakit- rumah sakit. Belum termasuk pasien yang meninggal di rumah.
Maka angka yang sebenarnya masih pertanyaan bagi kita, apakah 3 kali lipat data yang diberikan.

Sangat penting untuk melindungi Petugas Kesehatan demi keselamatan mereka dan keselamatan pasien mereka. Di saat seperti ini, penting juga untuk menghargai kepahlawanan mereka dan untuk menghormati pengorbanan mereka dalam menanggapi wabah ini di seluruh dunia.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here