Dr.H.Zahrul Fata, Lc MA

19 Shafar 1442 / 7 Oktober 2020



Hadits ke 3

حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ قَالَ حَدَّثَنَا اللَّيْثُ عَنْ عُقَيْلٍ عَنْ ابْنِ شِهَابٍ عَنْ عُرْوَةَ بْنِ الزُّبَيْرِ عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ الْمُؤْمِنِينَ أَنَّهَا قَالَتْ أَوَّلُ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ الْوَحْيِ الرُّؤْيَا الصَّالِحَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ وَكَانَ يَخْلُو بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ وَهُوَ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَنْزِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ لِمِثْلِهَا حَتَّى جَاءَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ قَالَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجَهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ فَقُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَرْجُفُ فُؤَادُهُ فَدَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ بِنْتِ خُوَيْلِدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ فَقَالَ لِخَدِيجَةَ وَأَخْبَرَهَا الْخَبَرَ لَقَدْ خَشِيتُ عَلَى نَفْسِي فَقَالَتْ خَدِيجَةُ كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا إِنَّكَ لَتَصِلُ الرَّحِمَ وَتَحْمِلُ الْكَلَّ وَتَكْسِبُ الْمَعْدُومَ وَتَقْرِي الضَّيْفَ وَتُعِينُ عَلَى نَوَائِبِ الْحَقِّ فَانْطَلَقَتْ بِهِ خَدِيجَةُ حَتَّى أَتَتْ بِهِ وَرَقَةَ بْنَ نَوْفَلِ بْنِ أَسَدِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى ابْنَ عَمِّ خَدِيجَةَ وَكَانَ امْرَأً قَدْ تَنَصَّرَ فِي الْجَاهِلِيَّةِ وَكَانَ يَكْتُبُ الْكِتَابَ الْعِبْرَانِيَّ فَيَكْتُبُ مِنْ الْإِنْجِيلِ بِالْعِبْرَانِيَّةِ مَا شَاءَ اللَّهُ أَنْ يَكْتُبَ وَكَانَ شَيْخًا كَبِيرًا قَدْ عَمِيَ فَقَالَتْ لَهُ خَدِيجَةُ يَا ابْنَ عَمِّ اسْمَعْ مِنْ ابْنِ أَخِيكَ فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ يَا ابْنَ أَخِي مَاذَا تَرَى فَأَخْبَرَهُ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَبَرَ مَا رَأَى فَقَالَ لَهُ وَرَقَةُ هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَوَمُخْرِجِيَّ هُمْ قَالَ نَعَمْ لَمْ يَأْتِ رَجُلٌ قَطُّ بِمِثْلِ مَا جِئْتَ بِهِ إِلَّا عُودِيَ وَإِنْ يُدْرِكْنِي يَوْمُكَ أَنْصُرْكَ نَصْرًا مُؤَزَّرًا ثُمَّ لَمْ يَنْشَبْ وَرَقَةُ أَنْ تُوُفِّيَ وَفَتَرَ الْوَحْيُ قَالَ ابْنُ شِهَابٍ وَأَخْبَرَنِي أَبُو سَلَمَةَ بْنُ عَبْدِ الرَّحْمَنِ أَنَّ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ الْأَنْصَارِيَّ قَالَ وَهُوَ يُحَدِّثُ عَنْ فَتْرَةِ الْوَحْيِ فَقَالَ فِي حَدِيثِهِ بَيْنَا أَنَا أَمْشِي إِذْ سَمِعْتُ صَوْتًا مِنْ السَّمَاءِ فَرَفَعْتُ بَصَرِي فَإِذَا الْمَلَكُ الَّذِي جَاءَنِي بِحِرَاءٍ جَالِسٌ عَلَى كُرْسِيٍّ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ فَرُعِبْتُ مِنْهُ فَرَجَعْتُ فَقُلْتُ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَأَنْزَلَ اللَّهُ تَعَالَى { يَا أَيُّهَا الْمُدَّثِّرُ قُمْ فَأَنْذِرْ إِلَى قَوْلِهِ وَالرُّجْزَ فَاهْجُرْ } فَحَمِيَ الْوَحْيُ وَتَتَابَعَ تَابَعَهُ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ وَأَبُو صَالِحٍ وَتَابَعَهُ هِلَالُ بْنُ رَدَّادٍ عَنْ الزُّهْرِيِّ وَقَالَ يُونُسُ وَمَعْمَرٌ بَوَادِرُهُ


Telah menceritakan kepada kami Yahya bin Bukair berkata, Telah menceritakan kepada kami dari Al Laits dari ‘Uqail dari Ibnu Syihab dari ‘Urwah bin Az Zubair dari Aisyah -Ibu Kaum Mu’minin-, bahwasanya dia berkata: “Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah SAW adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur. Dan tidaklah Beliau bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian Beliau dianugerahi kecintaan untuk menyendiri, lalu Beliau memilih gua Hiro dan bertahannuts yaitu ‘ibadah di malam hari dalam beberapa waktu lamanya sebelum kemudian kembali kepada keluarganya guna mempersiapkan bekal untuk bertahannuts kembali. Kemudian Beliau menemui Khadijah mempersiapkan bekal. Sampai akhirnya datang Al Haq saat Beliau di gua Hiro, Malaikat datang seraya berkata: “Bacalah?” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menjelaskan: Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!” Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Maka Malaikat itu memegangku dan memelukku sangat kuat kemudian melepaskanku dan berkata lagi: “Bacalah!”. Beliau menjawab: “Aku tidak bisa baca”. Malaikat itu memegangku kembali dan memelukku untuk ketiga kalinya dengan sangat kuat lalu melepaskanku, dan berkata lagi: (Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang Menciptakan, Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha Pemurah).” Nabi SAW kembali kepada keluarganya dengan membawa kalimat wahyu tadi dalam keadaan gelisah. Beliau menemui Khadijah binti Khawailidh seraya berkata: “Selimuti aku, selimuti aku!”. Beliau pun diselimuti hingga hilang ketakutannya. Lalu Beliau menceritakan peristiwa yang terjadi kepada Khadijah: “Aku mengkhawatirkan diriku”. Maka Khadijah berkata: “Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selamanya, karena engkau adalah orang yang menyambung silaturrahim.” Khadijah kemudian mengajak Beliau untuk bertemu dengan Waroqoh bin Naufal bin Asad bin Abdul ‘Uzza, putra paman Khadijah, yang beragama Nasrani di masa Jahiliyyah, dia juga menulis buku dalam bahasa Ibrani, juga menulis Kitab Injil dalam Bahasa Ibrani dengan izin Allah. Saat itu Waroqoh sudah tua dan matanya buta. Khadijah berkata: “Wahai putra pamanku, dengarkanlah apa yang akan disampaikan oleh putra saudaramu ini”. Waroqoh berkata: “Wahai putra saudaraku, apa yang sudah kamu alami”. Maka Rasulullah SAW menuturkan peristiwa yang dialaminya. Waroqoh berkata: “Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”. Rasulullah SAW bertanya: “Apakah aku akan diusir mereka?” Waroqoh menjawab: “Iya. Karena tidak ada satu orang pun yang datang dengan membawa seperti apa yang kamu bawa ini kecuali akan disakiti. Seandainya aku ada saat kejadian itu, pasti aku akan menolongmu dengan sekemampuanku”. Waroqoh tidak mengalami peristiwa yang diyakininya tersebut karena lebih dahulu meninggal dunia pada masa fatroh wahyu. (HR Bukhori)


Sebelum turunnya wahyu, Rasulullah didatangi Ruqiyah Sholihah, mimpi yang benar, mimpi yang nyata.
Hal semacam ini juga terjadi pada beberapa orang yang dekat dengan Allah.

Ada kisah tentang Santri yang kehilangan sarungnya. Kemudian setelah Tahajud dia tertidur. Di dalam tidurnya Santri itu melihat sarungnya ada dimana. Setelah dia selesai Shalat Subuh dia menuju ke tempat dimana mimpinya tadi malam. Dan benar sarung itu ada disana, dan ini kisah nyata. Artinya orang-orang yang dekat dengan Allah kadang-kadang diberi pertolongan lewat itu.

Demikian juga pada Nabi Muhammad. Beliau sering bertahanuts di Gua Hira merenungkan masyarakat jahiliyah pada saat itu. Pada waktu itu Mekkah sudah dilanda “Molimo” seperti kata Orang Jawa. Semua kejahatan dilakukan.

Kebiasaan jahiliyah kalau punya anak perempuan dianggap aib. Dalam prakteknya, ketika seorang wanita mau melahirkan, dibawahnya sudah disiapkan lubang. Begitu yang lahir bayi perempuan, maka Bayi dan ari-ari (plasenta) langsung dikubur bersama, hidup-hidup karena dianggap aib dan juga khawatir menjadi miskin.

Kebiasaan jahiliyah lainnya, adalah suatu keaiban bila kedatangan tamu dan tak dapat menyuguhkan khamr. Tamu akan menceritakan hal itu kemana-mana. Dia akan menjadi gunjingan seluruh tetangganya.

Hal diatas membuat Nabi Muhammad resah, orang Arab kok seperti ini? Kemudian beliau menyendiri ke Gua Hira. Beliau membawa bekal ke Gua karena akan lama di Gua. Bila bekal habis beliau pulang ke rumah hanya untuk mengambil bekal.

Akhirnya datanglah wahyu yang dibawa Malaikat Jibril. Beliau diperintahkan membaca, tapi beliau tak dapat membaca. Mengalami kejadian itu Rasulullah sangat takut dan gusar luar biasa. Beliau pulang dan minta diselimuti oleh isterinya. Hingga hilang rasa takutnya.

Kemudian beliau menceritakan kejadian tadi dan berkata : “Apa yang terjadi denganku? “
Tapi jawaban Khadidjah luar biasa, dan ini menjadi pelajaran kepada para isteri, apa yang harus dilakukan bila sang Suami mengalami kegalauan.

Khadidjah menenangkan baginda Nabi, tidak hanya dengan selimut, tapi dengan kata-kata yang menenangkan yang jauh lebih bermanfaat dari pada selimut.

كَلَّا وَاللَّهِ مَا يُخْزِيكَ اللَّهُ أَبَدًا

“Demi Allah, Allah tidak akan mencelakakanmu selama-lamanya”.

Inilah testimoni seorang isteri yang telah berumah tangga sekian lama :
“Tak mungkin Allah menghinakanmu, karena Engkau adalah orang yang menyambung silaturahim. Engkau ringankan beban siapapun orang disekitarmu yang merasa keberatan dalam memikul kehidupan ini, orang yang tidak punya apa-apa, Engkau beri sehingga dia merasa punya. Dan Engkau orang yang memuliakan Tamu”.

Kata-kata inilah yang kemudian menenangkan hati Rasulullah. Begitulah seharusnya, setiap pasangan menenangkan pasangannya yang lagi cemas, galau ataupun kalut.
Jangan pernah memarahi atau mengomeli pasangan yang sedang gelisah : “Ngapain sih sampai malam baru pulang ..?”
Khadidjah tidak melakukan itu tapi beliau menenangkan Rasul.

Biasanya pasangan Suami isteri harmonis diawal tahun pernikahan dan mulai tak peduli setelah usia pernikahan lama. Namun Khadidjah tidak begitu. Pada saat itu mereka sudah menikah lima belasan tahun.
Tidak hanya itu saja yang dilakukan Khadidjah. Beliau mengajak Rasulullah menemui Putera Pamannya yaitu Waroqoh bin Naufal. Waroqoh ini adalah orang alim tentang Agama Nasrani jaman itu. Dia sudah tua dan buta.

Setelah mendengar cerita Nabi, Waroqoh berkomentar :

هَذَا النَّامُوسُ الَّذِي نَزَّلَ اللَّهُ عَلَى مُوسَى يَا لَيْتَنِي فِيهَا جَذَعًا لَيْتَنِي أَكُونُ حَيًّا إِذْ يُخْرِجُكَ قَوْمُكَ

“Ini adalah Namus, seperti yang pernah Allah turunkan kepada Musa. Duhai seandainya aku masih muda dan aku masih hidup saat kamu nanti diusir oleh kaummu”.

Waroqoh mengatakan bahwa Nabi Muhammad yang membawa Risalah, nanti juga akan dimusuhi kaumnya. Nabi -Nabi sebelumnya juga dipersekusi oleh kaumnya.
Waroqoh juga berjanji akan menolong Nabi pada saat kelak dimusuhi. Tetapi Waroqoh kemudian meninggal.
Jarak antara wahyu pertama dan kedua sekitar 6 bulan. Dan pada saat diantaranya itu Waroqoh meninggal.


Hikmah mengapa Jibril menampakkan Jati Diri pada saat Wahyu Pertama

Sebelum ini telah kita jelaskan bahwa datangnya wahyu bisa beberapa cara :
– Seperti suara bunyi lonceng
– Malaikat datang menyerupai laki-laki
– Lewat mimpi, atau datang begitu saja.

Namun pada waktu turunnya wahyu pertama Jibril muncul dengan wujud asli. Ada apa ?
Bukankah sangat mudah bagi Allah menurunkan wahyu seperti wahyu yang lain, seperti bunyi lonceng , atau malaikat datang dengan menyerupai laki-laki dan sebagainya.

Apa hikmah turunnya wahyu pertama dibawa Jibril dalam bentuk Malaikat? Diantara hikmah yang bisa kita petik adalah :
Hal ini akan membungkam pada mereka yang menuduh Baginda Nabi bahwa risalah yang dibawanya adalah hasil Halusinasi atau Perenungan Nabi.

Faktanya orang Barat Orientalist untuk merongrong agama islam selalu menyerang konsep turunnya wahyu. Mereka mengatakan tak ada wahyu, yang ada adalah Halusinasi, yang ada adalah hasil Kontemplasi.

Skenario Allah, wahyu pertama berupa Wujud yang datang dari luar . Dan Rasulullah benar-benar ketakutan terhadap datangnya makhluk itu !
Ini membuktikan bahwa wahyu memang datang dari luar. Bukan datang dari diri Nabi.

Marilah kita berandai-andai, seandainya Wahyu datang melalui suara lonceng, atau melalui laki-laki, atau lewat bisikan mimpi , maka akan makin mudah orang mematahkan ajaran agama islam yang dibangun berdasarkan wahyu.

Misalnya wahyu pertama dibawa malaikat yang menyerupai laki-laki, orang akan menuduh bahwa Muhammad membuat karangan saja.
Orang tak akan percaya ada malaikat seperti laki-laki.

Atau misalnya Wahyu Pertama turun seperti bunyi lonceng, maka mereka juga akan menuduh hal itu karangan Muhammad, karena mereka tidak mendengar bunyi lonceng.

Wahyu pertama kali turun berupa ‘Iqra’ atau perintah kepada Rasul untuk membaca. Padahal masyarakat tahu bahwa Nabi tak dapat membaca.
Ini membuktikan bahwa Al Qur’an bukan perkataan Nabi

Maka ada baiknya jika kita belajar Sirah Nabawiyah atau Sejarah. Dengan mendalami sejarah maka kita dapat memahami apa hikmah dibalik peristiwa itu.

Kita coba flash back peristiwa wafatnya Ayah Nabi. Kenapa beliau diwafatkan pada saat Nabi ada di dalam kandungan? Sehingga Nabi lahir dalam keadaan tidak pernah melihat sang Ayah. Tidak lama kemudian Baginda Nabi diasuh oleh ibu asuhnya yaitu Halimah Saadiyah di Perkampungan Bani Sa’d yang jauh dari Mekkah.

Allah SWT sudah merencanakan agar tak ada bantahan bahwa apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah ajaran dari ayahnya. Maka ayah Rasulullah wafat saat Nabi ada dalam kandungan.
Rasulullah pun dijaga oleh Allah agar tidak terkontaminasi dengan budaya Mekkah yang pada saat itu rusak. Dengan dididik Halimah Saadiyah ditempat yang steril, jauh dari kota Mekkah yang menerapkan Molimo.

Artinya sejak usia 0 sampai 6 tahun Rasulullah berada di lingkungan yang steril. Hal ini juga pelajaran bagi kita untuk menyediakan bagi anak kita yang umur 0-6 tahun itu suatu lingkungan yang baik.

Kita juga tahu Rasulullah diasuh oleh ibunya sampai usia 6 tahun, kemudian beliau dirawat oleh kakeknya dan kemudian dirawat oleh Pamannya Abu Thalib. Pamannya inilah yang mengajari Rasulullah berdagang sampai kemudian Rasulullah berdakwah, Pamannya ini yang membela Rasulullah. Takdir menentukan Sang Paman tidak bersyahadat sampai akhir hayat.

Seandainya Sang Paman sempat mengucapkan syahadat di akhir hayat maka akan ada tuduhan, sesungguhnya apa yang dibawa Muhammad bukan datang dari langit tetapi ajaran Pamannya. Buktinya sejak Nabi berdakwah, Pamannya yang selalu membela Nabi. Kemudian Pamannya menyembunyikan keislamannya. Tetapi takdir menetapkan Pamannya tidak bersyahadat sehingga tidak ada tuduhan itu.

Begitupun sampai sekarang masih ada tuduhan bahwa apa yang dibawa Nabi adalah hasil nyantri Rasulullah kepada Buhairah dan Waroqoh. Dua Pendeta pada saat itu.

Padahal kita tahu bahwa ketika Nabi ketemu Buhairah tidak ada sama sekali pelajaran dari Buhairah. Yang terjadi adalah Buhairah menyarankan agar Pamannya segera mengajak Muhammad pulang demi keamanan Nabi Muhammad.

Demikian pula pertemuan dengan Waroqoh juga hanya sekali ketika diajak Khadidjah. Setelah itu Waroqoh meninggal. Itupun masih ada tuduhan bahwa yang diajarkan Muhammad karena belajar dari kedua Pendeta itu.

Tuduhan ini tertulis dalam buku yang ada di Perpustakaan Gereja di Australia. Penulis buku itu Pendeta Yohanna dari Syria, dia yang menuduh Muhammad belajar dari Buhairah, Waroqoh dan Zaid anak angkat Nabi.

Selanjutnya kita perhatikan betapa indahnya Al Qur’an. Kalau kita ingat bahwa Wahyu Pertama adalah 5 ayat pertama Surat Al Alaq. Padahal kita tahu Surat Al Alaq jumlah ayatnya ada 19. Dan ayat 6 sampai 19 turun beberapa tahun kemudian. Tetapi ayat-ayat itu nyambung.

Kalau misal ayat 1 sampai 5 itu ucapan manusia, kemudian disambungnya ayat ke 6 seminggu lagi, pasti lupa dan tidak nyambung. Lebih-lebih ini menyambungnya berapa tahun kemudian dan tetap nyambung. Itulah keindahan Al Qur’an.

Pertanyaan Pertama : Siapa yang menyambungkannya?

Pertanyaan kedua : Bukankah ayat yang pertama turun adalah Surat Al Alaq ayat 1-5 dan ayat terakhir turun ada beberapa pendapat :
– Pendapat pertama saat turun saat Haji wada

اَ لْيَوْمَ اَكْمَلْتُ لَـكُمْ دِيْنَكُمْ وَاَ تْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِيْ وَرَضِيْتُ لَـكُمُ الْاِ سْلَا مَ دِيْنًا ۗ 

“… Pada hari ini telah Aku sempurnakan agamamu untukmu, dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku bagimu, dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 3)

– Pendapat lain waktu mengharamkan riba :

وَا تَّقُوْا يَوْمًا تُرْجَعُوْنَ فِيْهِ اِلَى اللّٰهِ ۗ ثُمَّ تُوَفّٰى كُلُّ نَفْسٍ مَّا كَسَبَتْ وَهُمْ لَا يُظْلَمُوْنَ

“Dan takutlah pada hari ketika kamu semua dikembalikan kepada Allah. Kemudian setiap orang diberi balasan yang sempurna sesuai dengan apa yang telah dilakukannya, dan mereka tidak dizalimi.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 281)

Tetapi mengapa dalam Mushaf Al Qur’an awalnya bukan Surat Al Alaq dan akhirnya bukan ayat tadi?
Ternyata awalnya Surat Al Fatihah dan akhirnya Surat An Nas. Lalu siapa yang menertibkan ayat -ayat Al Qur’an itu?

Pertanyaan itu jawabannya ada di dalam Hadits Shahih Bukhori.

Hadits ke 4

حَدَّثَنَا عُبَيْدُ اللَّهِ بْنُ مُوسَى عَنْ إِسْرَائِيلَ عَنْ مُوسَى بْنِ أَبِي عَائِشَةَ أَنَّهُ سَأَلَ سَعِيدَ بْنَ جُبَيْرٍ عَنْ قَوْلِهِ تَعَالَى { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ } قَالَ وَقَالَ ابْنُ عَبَّاسٍ كَانَ يُحَرِّكُ شَفَتَيْهِ إِذَا أُنْزِلَ عَلَيْهِ فَقِيلَ لَهُ { لَا تُحَرِّكْ بِهِ لِسَانَكَ } يَخْشَى أَنْ يَنْفَلِتَ مِنْهُ { إِنَّ عَلَيْنَا جَمْعَهُ وَقُرْآنَهُ } أَنْ نَجْمَعَهُ فِي صَدْرِكَ وَقُرْآنَهُ أَنْ تَقْرَأَهُ { فَإِذَا قَرَأْنَاهُ } يَقُولُ أُنْزِلَ عَلَيْهِ { فَاتَّبِعْ قُرْآنَهُ ثُمَّ إِنَّ عَلَيْنَا بَيَانَهُ } أَنْ نُبَيِّنَهُ عَلَى لِسَانِكَ

Telah menceritakan kepada kami Ubaidullah bin Musa dari Isra`il dari Musa bin Abu Aisyah bahwa ia pernah bertanya kepada Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah: “LAA TUHARRIK BIHI LISAANAK.” Ia menjawab; Ibnu Abbas berkata; Biasa beliau menggerak-gerakkan kedua bibirnya saat wahyu diturunkan padanya. Oleh karena itu, dikatakanlah pada beliau, “Janganlah kamu menggerak-gerakkan lisanmu -saat menerimanya- karena khawatir sesuatu akan terlewatkan darinya.” Firman Allah: “INNA ‘ALAINA JAM’AHU WA QUR`AANAH.” Maksudnya adalah, Kamilah yang akan mengumpulkannya di dalam dadamu agar kamu bisa mengungkapkannya. Dan firman-Nya: “FAIDZAA QARA`NAAHU FATTABI’ QUR`AANAH.” Ibnu Abbas menjelaskan; Maksudnya adalah ketika diturunkan padanya. Maka, ikutilah. Kemudian firman-Nya: “INNA ‘ALAINAA BAYAANAH.” Maksudnya; Kamilah yang akan menjelaskannya melalui lisanmu.

Hadits ke 5 :


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ وَكَانَ جِبْرِيلُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ

“Rasulullah SAW adalah orang yang paling dermawan, dan beliau bertambah kedermawanannya di bulan Ramadlan ketika bertemu dengan malaikat Jibril, dan Jibril menemui beliau di setiap malam bulan Ramadlan untuk mudarosah Al Qur’an” (HR. Al Bukhari).

Setiap malam bulan Ramadhan Rasulullah tadarus bersama Jibril. Dan Jibril memberi petunjuk kepada Rasulullah cara mengatur ayat-ayat yang sudah selama setahun. Jibril memerintahkan letakkan ayat itu disini, letakkan ayat itu disana. Demikian seterusnya sampai selesai. Itu terjadi selama masa Kenabian hampir 23 tahun.

Di Ramadhan terakhir, dimana berikutnya kemudian Rasulullah meninggal, malaikat Jibril hanya turun dua kali. Ketika Jibril turun kedua kalinya di Ramadhan terakhir , yang menemani Rasulullah adalah Zaid bin Tsabit.

Itulah kenapa di masa wahyu itu dikumpulkan , Abu Bakar menunjuk Zaid bin Tsabit menjadi Kepala Proyeknya, karena :
– Beliau memang Penulis Wahyu
– Beliau seorang Hafizh
– Beliau adalah orang yang menemani Rasulullah dikali kedua di Ramadhan terakhir.

Jadi urutan Surat yang ada di dalam mushaf Al Qur’an itu bukan atas inisiatif Nabi Muhammad, lebih-lebih bukan oleh Para Sahabat, melainkan juga atas dasar Perintah Allah melalui Jibril.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here