Dr.H.Zahrul Fata, Lc MA

19 Shafar 1442 / 7 Oktober 2020



Kalau kita membuka Kitab Shahih Bukhori maka yang ada pada lembar pertama adalah Tentang Wahyu.
Ada hikmah luar biasa kenapa Imam Bukhori memulainya dengan Kitab Hadits tentang Wahyu.

Diantara hikmahnya adalah bahwa Agama kita, termasuk agama langit semuanya itu dibangun atas pondasi yang bernama Wahyu.
Rukun Iman, Rukun Islam, semuanya sampai ke tangan kita berdasarkan wahyu.

Kita tahu Petunjuk Allah kepada manusia itu bertahap :

– Yang pertama adalah insting. Dalam posisi ini manusia sama dengan makhluk Allah yang lain.
– Panca Indera, juga sama antara manusia dengan hewan. Bahkan dalam beberapa kasus ada beberapa hewan yang inderanya lebih tajam dari pada manusia.
– Yang berikutnya adalah akal, Tetapi akal manusia mempunyai keterbatasan-keterbatasan.
– Berikutnya adalah Petunjuk Hidup yang hanya diberikan kepada manusia, tapi tidak diberikan kepada makhluk yang lain. Petunjuk Hidup ini diberikan kepada manusia melalui Nabi-Nabi Allah lewat Wahyu.

Wahyu yang diberikan oleh Allah kepada Nabi-Nabi sebelumnya sifatnya Lokal dan untuk Kaum Nabi saat itu.
Para Nabi juga diberi mukjizat. Tetapi mukjizat Para Nabi dulu yang dapat mengetahui hanyalah manusia yang hidup pada saat itu.

Mukjizat Nabi Musa, Nabi Ibrahim dan Nabi-Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW yang tahu adalah manusia yang hidup pada masa itu. Kita hanya tahu informasinya dari Allah.
Begitu pula mereka para Nabi-Nabi itu sebagian dari mereka diberi petunjuk. Dan petunjuk Nabi-Nabi terdahulu itu berbeda dengan mukjizatnya.

Nabi Musa mempunyai mukjizat berupa Tongkat, tetapi Petunjuk Hidup yang dijalani umat Nabi Musa berupa Taurat beda lagi. Jadi antara Mukjizat Nabi dan Petunjuk Hidup berbeda.
Begitu pula Nabi Isa. Nabi Isa mempunyai banyak mukjizat tetapi Petunjuk Hidup yang Allah berikan untuk umat Nabi Isa ada di Injil, yang itu bukan bagian dari mukjizat Nabi Isa.

Begitu Allah memberikan Petunjuk Hidup bagi umat manusia secara Universal dan berlaku selama- lamanya , Allah memberikan Petunjuk kepada Nabi akhir zaman itu sekaligus berupa mukjizatnya, yaitu Al Qur’an.

Al Qur’an kemukjizatannya tidak hanya disaksikan oleh orang-orang yang hidup di masa Nabi saja, tetapi sampai akhir zaman masih berlaku.


Allah SWT berfirman:

وَاِ نْ کُنْتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّمَّا نَزَّلْنَا عَلٰى عَبْدِنَا فَأْتُوْا بِسُوْرَةٍ مِّنْ مِّثْلِهٖ ۖ وَا دْعُوْا شُهَدَآءَكُمْ مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ

“Dan jika kamu meragukan Al-Qur’an yang Kami turunkan kepada hamba Kami (Muhammad), maka buatlah satu surah semisal dengannya dan ajaklah penolong-penolongmu selain Allah jika kamu orang-orang yang benar.” (QS. Al-Baqarah 2: Ayat 23)

Berbicara masalah Al Qur’an, kita tak akan lepas dari Wahyu. Wahyu adalah pondasi yang kita yakini.
Itulah hikmah, kenapa Imam Bukhori meletakkan masalah Wahyu ini di awal kitabnya, karena Agama yang kita yakini ini berdiri di atas Pondasi yang bernama wahyu.

Maka orang-orang yang memusuhi agama kita ini ketika akan merongrong agama islam, yang mereka lakukan cukup dengan meragukan bahwa Wahyu itu ada atau tidak. Kalau mereka dapat mematahkan, memberi argument bahwa Wahyu itu tidak ada, maka mereka dapat mengatakan bahwa apa yang disampaikan oleh Muhammad itu adalah halusinasi, itu adalah kontemplasi.

Musuh-musuh islam tidak perlu memotong cabang-cabang pohon, mereka cukup membakar bagian bawahnya saja. Kalau wahyu bisa diragukan, kemudian mereka bisa meyakinkan orang lain bahwa wahyu itu buatan Nabi maka dengan mudah mereka merobohkan islam.

Oleh karena itu wahyu sangat penting, Karena wahyu adalah pokok dari agama itu sendiri.

Imam Bukhori dalam kitab Shahihnya memulai dengan satu ayat :

اِنَّاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ كَمَاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلٰى نُوْحٍ وَّا لنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖ ۚ 

“Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu Muhammad sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya,…” (QS. An-Nisa’ 4: Ayat 163)

Imam Bukhori menegaskan bahwa wahyu yang diterima oleh Nabi Muhammad SAW, bukan sesuatu yang baru. Itu sudah diterima oleh Nabi-Nabi sebelumnya. Jadi bagi siapapun yang mengingkari adanya wahyu yang turun kepada Nabi Muhammad adalah sesuatu kenaifan.

Karena petunjuk Allah kepada manusia dalam meniti kehidupan ini setelah akal. Karena akal mempunyai keterbatasan-keterbatasan.

Yang menarik setelah itu Imam Bukhori tidak langsung menulis hadits tentang Wahyu, tapi beliau menekankan pentingnya Niat dalam memulai semua pekerjaan.

Hadits no 1 :

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ : سَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ تَعَالَى عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ : إِنَّمَا اْلأَعْمَالُ بِالِّنيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Dari Amirul Mu’minin, Abu Hafsh Umar bin Al Khathab Radhiallahu Ta’ala ‘Anhu, dia berkata: Aku mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya amal itu hanyalah beserta niat, dan setiap manusia mendapatkan sesuai dengan apa-apa yang diniatkannya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan RasulNya maka hijrahnya itu adalah kepada Allah dan RasulNya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang diinginkannya atau wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya itu kepada apa-apa yang ia inginkan itu.” (HR Bukhori)

Ini dikutip Imam Bukhori untuk meneguhkan niat untuk dirinya sendiri dan kepada kita para pembacanya, agar hati-hati menjaga niat dalam melakukan sesuatu pekerjaan.

Seorang muslimah yang memakai jilbab karena niatnya ingin fashion, karena niat biar tidak ketombe, karena niat biar tidak kepanasan maka dia hanya dapat itu saja. Tapi kalau dia meniatkan ini karena Perintah Allah maka dia dapat pahala.

Seorang muslim kalau tidurnya niatnya untuk melepaskan lelah, dia memang akan lepas lelahnya. Tidurnya akan pulas. Tapi kalau diniatkan saya tidur biar saya punya energi yang cukup untuk beribadah dan bekerja maka dia akan mendapat pahala yang berbeda. Jadi transaksinya yang terlihat mata sama, tapi akad berbeda, hasilnya berbeda. Inilah pentingnya niat.

Selanjutnya baru Imam Bukhori masuk hadits tentang Wahyu. Namun sebelumnya saya akan menyampaikan bahwa dalam hadits ada dua komponen yang penting yaitu Sanad dan Matan.

Matan adalah isinya hadits. Sanad adalah rangkaian dari silsilah para perawi. Jadi Imam Bukhori mengatakan rangkaian nama-nama penyampai hadits, ini yang namanya Sanad. Masing-masing dari orang ini namanya Perawi.

Jadi Bukhori bukan orang yang mendengar langsung dari Rasulullah. Bukhori hidup jauh setelah Rasulullah wafat. Beliau termasuk generasi Tabi’it Tabi’in. Kita tahu bahwa Rasulullah SAW wafat pada tahun 11 Hijriah.
Generasi yang berguru atau melihat langsung baginda Nabi disebut dengan Sahabat. Seperti misalnya Aisiyah r.a adalah Sahabat.

Definisi Sahabat adalah

مَنْ لَقِيَ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مُسْلِمًا وَمَاتَ عَلَى إِسْلَامِهِ

“Setiap orang yang bertemu dengan Rasulullah Saw dalam keadaan muslim dan meninggal juga dalam keadaan muslim.” Seandainya dia pernah murtad, tapi kemudian masuk islam lagi, tetap dianggap sahabat.

Jumlah sahabat tentu banyak, mulai dari awal islam sampai setelah fa’tu Mekkah. Dalam suatu buku, ada yang memperkirakan sahabat jumlahnya sekitar 114 ribu. Itu orang yang pernah berjumpa dengan Nabi.

Orang beriman yang hidup di masa Nabi , tapi tidak pernah berjumpa dengan Nabi disebut dengan Tabi’in. Contohnya adalah Uwais Al Qarny.
Uwais Al Qarny adalah seorang pemuda yang tinggal di Yaman. Dia menggendong ibunya dan berjalan kaki dari Yaman ke Mekkah untuk menjalani ibadah haji. Ketika di Mekkah tidak bertemu Nabi karena Nabi di Madinah.

Sebegitu inginnya dia bertemu Nabi, dia berangkat ke Madinah untuk menemui Nabi. Namun di Madinahpun tidak bertemu karena Nabi sedang berperang. Karena harus mengembalikan ibunya ke Yaman, maka Uwais tak dapat menunggu Nabi dan dia pulang tanpa bertemu Nabi.
Generasi Tabi’in berguru kepada Sahabat. Adapun angkatan yang ketiga berguru kepada Tabi’in, termasuk Imam Bukhori.


Hadits No 2

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللَّهِ بْنُ يُوسُفَ، قَالَ: أَخْبَرَنَا مَالِكٌ، عَنْ هِشَامِ بْنِ عُرْوَةَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عَائِشَةَ أُمِّ المُؤْمِنِينَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا، أَنَّ الحَارِثَ بْنَ هِشَامٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، كَيْفَ يَأْتِيكَ الوَحْيُ؟ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «أَحْيَانًا يَأْتِينِي مِثْلَ صَلْصَلَةِ الجَرَسِ، وَهُوَ أَشَدُّهُ عَلَيَّ، فَيُفْصَمُ عَنِّي وَقَدْ وَعَيْتُ عَنْهُ مَا قَالَ، وَأَحْيَانًا يَتَمَثَّلُ لِيَ المَلَكُ رَجُلًا فَيُكَلِّمُنِي فَأَعِي مَا يَقُولُ» قَالَتْ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا: وَلَقَدْ رَأَيْتُهُ يَنْزِلُ عَلَيْهِ الوَحْيُ فِي اليَوْمِ الشَّدِيدِ البَرْدِ، فَيَفْصِمُ عَنْهُ وَإِنَّ جَبِينَهُ لَيَتَفَصَّدُ عَرَقًا

Artinya:
Diriwayatkan dari Abdullah bin Yusuf; dari Malik; dari Hisyam bin Urwah; dari bapaknya; dari Aisyah ummul mu’minin ‘ibu para mukmin’ yang meriwayatkan bahwa al-Harits bin Hisyam yang bertanya pada Rasulullah saw. “Rasul, bagaimanakah cara wahyu datang padamu?” “Terkadang, wahyu itu datang padaku berupa deringan lonceng, dan ini yang paling berat bagiku lalu terhenti sehingga aku dapat mengerti apa yang disampaikan. Terkadang juga malaikat mendatangiku berwujud seorang lelaki, kemudian berbicara padaku dan aku mengikuti apa yang dikatakannya.” Aisyah bercerita, “Aku benar-benar pernah melihat wahyu turun pada beliau di suatu hari yang sangat dingin lalu terhenti, dan aku lihat dahi beliau mengucurkan keringat.” (HR Bukhori)

Jadi pada saat turunnya wahyu kadang-kadang seperti bunyi lonceng yang hanya didengar oleh Rasulullah.
Keadaan ini yang paling berat bagi Rasulullah, sampai-sampai beliau mengeluarkan keringat padahal cuaca sangat dingin. Orang-orang disekitarnya dapat mengetahui ketika turun wahyu ketika melihat kondisi beliau.

Mungkin ada yang bertanya kenapa yang lain tak mendengar suara ketika turun wahyu? Hal ini karena Allah memang melebihkan makhluknya mendapatkan sesuatu yang tidak didapatkan yang lain.

Contohnya saja Nabi Sulaiman diberi anugerah oleh Allah SWT, sehingga beliau dapat mendengarkan suara semut, sementara Prajuritnya tidak. Demikian pula dengan Rasulullah ketika berinteraksi dengan Malaikat tapi disekitarnya tidak mendengar.

Apalagi antar orang biasa dengan Nabi. Sesama manusia saja penglihatan kita berbeda. Saya kalau membaca WA kalau tidak memakai kacamata tidak bisa. Ada orang yang usianya sama tak perlu kacamata.
Ketika ujian SIM kita juga bisa membedakan antara orang yang buta warna dan tidak.

Kemudian datangnya wahyu kadang-kadang malaikat datang berupa seorang laki-laki. Hal ini kita dapati pada suatu hadits :

Umar bin Khaththab Radhiyallahu anhu berkata : Suatu ketika, kami (para sahabat) duduk di dekat Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tiba-tiba muncul kepada kami seorang lelaki mengenakan pakaian yang sangat putih dan rambutnya amat hitam. Tak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan, dan tak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Ia segera duduk di hadapan Nabi, lalu lututnya disandarkan kepada lutut Nabi dan meletakkan kedua tangannya di atas kedua paha Nabi, kemudian ia berkata : “Hai, Muhammad! Beritahukan kepadaku tentang Islam.”
….dan seterusnya.
Ketika kemudian sahabat bertanya, dijawab bahwa itu tadi adalah Malaikat Jibril yang datang mengajarkan agama islam.

Malaikat Jibril turun menyerupai seorang sahabat Nabi yang bernama Dihyah al-Kalbi. Sahabat Dihyah al Kalbi ini terkenal dengan ketampanannya dan lembut tutur katanya. Nama ini nama yang bagus untuk dijadikan nama anak.

Berikutnya datangnya wahyu juga lewat Mimpi. Sebagaimana Nabi Ibrahim juga menerima wahyu melalui mimpi.

Seperti disebutkan dalam hadits ketiga bahwa pada permulaan turunnya wahyu Rasulullah sering mendapat mimpi yang nyata.

“Permulaaan wahyu yang datang kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam adalah dengan mimpi yang benar dalam tidur…”

Juga pernah wahyu datang kepada Nabi , Malaikat Jibril datang kepada Nabi dalam bentuk aslinya. Menurut riwayat Malaikat Jibril dua kali menemui Nabi Muhammad dalam bentuk aslinya. Yaitu :
– Pertama ketika pertama kali wahyu turun.
– Kedua ketika beliau diajak untuk Isra’ Miradj.


BERSAMBUNG BAG 2
Hadits ketiga.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here