Dr.H. Zuhad Masduki, MAg

12 Shafar 1442 / 30 September 2020


Surat Al Qari’ah termasuk surat Makkiyah. Surat-surat Makkiyah pada umumnya tujuannya dalam rangka untuk menanamkan akidah kepada umat islam.

Akidah itu intinya ada empat perkara :
– Persoalan Ketuhanan
– Persoalan Kenabian
– Persoalan Ruhaniyat atau alam Meta fisika
– Sam’iyyat.

Sam’iyyat itu persoalan-persoalan yang kita dengar dari sumber-sumber yang otoritatif, yaitu Al Qur’an dan Hadits- hadits Nabi.

Al Qari’ah adalah nama lain dari Kiamat. Jadi ini menanamkan kepada masyarakat tentang kepastian, keniscayaan terjadinya Al-Kiamat. Dan dengan kiamat itu nanti akan diikuti dengan perhitungan / pertanggung jawaban amal perbuatan manusia.

Kalau kita melihat Rukun Iman yang enam, yang banyak disebut di Al Qur’an dan Hadits Nabi hanya dua : Iman Kepada Allah dan Iman Kepada Hari Akhir.

Kenapa kok hanya dua?
Karena iman kepada Hari Akhir itu akan membuat manusia hati-hati didalam berbuat dengan membentuk kepribadian manusia menjadi baik, berakhlakul Karimah.

Maka semakin tinggi kepercayaannya pada Hari Kiamat atau Hari Akhir akan membuat manusia menjadi baik. Semakin kuat keyakinannya dia semakin baik.

Sebaliknya semakin rendah keyakinannya kepada Hari Akhir maka manusia itu akan menjadi semakin bejat atau buruk.

Semoga kita tidak tergerus akidahnya karena situasi yang berkembang di sekitar kita yang sekarang ini kurang kondusif. Dengan membaca Al Qur’an, mudah-mudahan iman kita semakin bertambah kuat.


Tafsir Surat Al Qari’ah, ayat 1-3

اَلْقَا رِعَةُ ۙ (1) مَا الْقَا رِعَةُ ۚ (2) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا الْقَا رِعَةُ ۗ (3)


“Hari Kiamat, apakah hari Kiamat itu?
Dan tahukah kamu apakah hari Kiamat itu?” (QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 1-3)

Al Qari’ah dari kata Qara’a artinya Ketukan. Tapi dalam tafsir, Al Qari’ah disebut sebagai nama lain dari Al Kiamat.

Pada saat Kiamat akan terjadi benturan benda-benda yang ada di alam semesta. Benturan antara langit dan bumi. Benturan antara matahari, bulan , bintang dan lain-lain sehingga akan menimbulkan suara yang sangat dahsyat dan mencekam. Intinya adalah peristiwa besar yang menimbulkan situasi yang sangat mencekam. Suaranya sangat keras tak dapat dibayangkan.

Kata para mufasir kalau Al Qur’an menggunakan pertanyaan :
“wa maaa adrooka..?”
Artinya menunjukkan sesuatu yang sangat besar, yang tidak bisa digambarkan oleh akal pikiran manusia.


Tafsir Surat Al Qari’ah, ayat 4

يَوْمَ يَكُوْنُ النَّا سُ كَا لْفَرَا شِ الْمَبْثُوْثِ ۙ 

“Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan,” (QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 4)

Al Qur’an memberikan penjelasan bahwa pada hari itu manusia keluar dari kubur-kubur mereka, dalam keadaan yang sangat banyak dan bingung, tidak tahu arah.


Tafsir Surat Al Qari’ah, ayat 5


وَتَكُوْنُ الْجِبَا لُ كَا لْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ ۗ 

“dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 5)

Kalau kita melihat di dalam Al Qur’an, penggambaran tentang gunung- gunung, digambarkan dalam empat keadaan.

1. Gunung-gunung digambarkan saling benturan dengan benda-benda yang lain

وَحُمِلَتِ الْاَ رْضُ وَ الْجِبَا لُ فَدُكَّتَا دَكَّةً وَّا حِدَةً ۙ 

“dan diangkatlah bumi dan gunung- gunung, lalu dibenturkan keduanya sekali benturan.” (QS. Al-Haqqah 69: Ayat 14)

Benturan yang sangat keras itu dampaknya adalah keterbelahan menjadi partikel-partikel yang sangat kecil. Sehingga dia nanti akan menjadi seperti debu yang beterbangan.

2. Gunung-gunung digambarkan seperti onggokan pasir yang dicurahkan.


وَتَرَى الْجِبَا لَ تَحْسَبُهَا جَا مِدَةً وَّهِيَ تَمُرُّ مَرَّ السَّحَا بِ ۗ 

“Dan engkau akan melihat gunung-gunung, yang engkau kira tetap di tempatnya, padahal ia berjalan seperti awan berjalan…” (QS. An-Naml 27: Ayat 88)


وَكَا نَتِ الْجِبَا لُ كَثِيْبًا مَّهِيْلًا

“… dan menjadilah gunung-gunung itu seperti onggokan pasir yang dicurahkan.” (QS. Al-Muzzammil 73: Ayat 14)


3. Gunung-gunung digambarkan seperti bulu-bulu yang beterbangan, menjadi sesuatu yang sangat ringan.

وَتَكُوْنُ الْجِبَا لُ كَا لْعِهْنِ الْمَنْفُوْشِ ۗ 

“dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.” (QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 5)


4. Gunung-gunung digambarkan seperti fatamorgana.

وَّ سُيِّرَتِ الْجِبَا لُ فَكَا نَتْ سَرَا بًا ۗ 

“dan gunung-gunung pun dijalankan sehingga menjadi fatamorgana.” (QS. An-Naba’ 78: Ayat 20)

Fatamorgana itu kalau kita lihat dari kejauhan seperti ada air, tetapi kalau kita dekati tidak ada apa-apa.

Keempat hal itulah situasi yang digambarkan oleh Allah tentang hari kiamat.

Tafsir Surat Al Qari’ah, ayat 6-11

فَاَ مَّا مَنْ ثَقُلَتْ مَوَا زِيْنُهٗ ۙ (6) فَهُوَ فِيْ عِيْشَةٍ رَّا ضِيَةٍ ۗ (7) وَاَ مَّا مَنْ خَفَّتْ مَوَا زِيْنُهٗ ۙ (8) فَاُ مُّهٗ هَاوِيَةٌ ۗ (9) وَمَاۤ اَدْرٰٮكَ مَا هِيَهْ ۗ (10) نَا رٌ حَا مِيَةٌ(11)

“Maka adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan (senang).
Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah.
Dan tahukah kamu apakah Neraka Hawiyah itu? Yaitu api yang sangat panas.” (QS. Al-Qari’ah 101: Ayat 6-11)

Ayat 6 sampai 11 menjelaskan bahwa manusia pada hari kiamat, setelah mempertanggung jawabkan amal perbuatannya akan terbagi menjadi dua kelompok : Kelompok orang-orang yang berbahagia dan Kelompok orang-orang yang sengsara.

Kelompok orang-orang yang berbahagia adalah orang-orang yang akan menempati kehidupan yang enak di Surga. Mereka adalah orang-orang yang berat timbangannya.
Dalam penjelasan para ulama, amal- amal kebaikannya lebih banyak dari pada amal keburukannya.

Sedangkan kelompok yang kedua akan masuk ke Neraka, yaitu orang-orang yang amal-amal kebaikannya lebih ringan dibanding amal-amal keburukannya.

Ulama lain menjelaskan bahwa pertanggung jawaban amal perbuatan manusia itu ada standarnya.
“mawaaziinuh” difahami sebagai standar. Ada ukurannya, ada tolok ukurnya.

Allah SWT berfirman:

فَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَا زِيْنُهٗ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُوْنَ(102)
وَمَنْ خَفَّتْ مَوَا زِيْنُهٗ فَاُ ولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ خَسِرُوْۤا اَنْفُسَهُمْ فِيْ جَهَـنَّمَ خٰلِدُوْنَ ۚ (103)

“Barang siapa berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.
Dan barang siapa ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam Neraka Jahanam.” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 102-103)


Kalau kita kembali pada Al Qur’an, tolok ukur amal perbuatan manusia ada tiga.

1. Iman
2. Amal Sholeh
3. Motivasi melakukan amal Sholeh itu semata-mata karena Allah SWT.

Bagi mereka-mereka yang tidak memenuhi tiga syarat itu, maka amal-amal perbuatannya tidak akan ditimbang. Karena tidak sesuai tolok ukur.

Orang-orang kafir misalnya, amal perbuatannya tidak akan dipertimbangkan karena syarat pertama sudah tidak terpenuhi.

Allah SWT berfirman:

اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِ رَبِّهِمْ وَلِقَآئِهٖ فَحَبِطَتْ اَعْمَا لُهُمْ فَلَا نُقِيْمُ لَهُمْ يَوْمَ الْقِيٰمَةِ وَزْنًـا

“Mereka itu adalah orang yang mengingkari ayat-ayat Tuhan mereka dan tidak percaya terhadap pertemuan dengan-Nya. Maka sia-sia amal mereka, dan Kami tidak memberikan penimbangan terhadap amal mereka pada hari Kiamat.” (QS. Al-Kahf 18: Ayat 105)

Oleh sebab itu supaya amalan kita dipertimbangkan maka tiga syarat pokok itu harus dipenuhi.
Iman yang benar, lalu iman itu diikuti dengan amal Sholeh, lalu amal Sholeh itu diniati semata-mata dilakukan karena Allah SWT. Inilah yang akan berlaku nanti di hari Kiamat.


Tentang Redaksi Ayat

Dalam ilmu Tafsir pada redaksi ayat 6 sampai ayat terakhir ada yang namanya “Pembuangan kalimat” atau pembuangan sebagian kalimat.

Pada ayat 6 – 7 disebutkan
“fa ammaa mang saqulat mawaaziinuh
fa huwa fii ‘iisyatir roodhiyah”
(Maka adapun orang yang berat timbangan kebaikannya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan)

Kemudian pada ayat 8-9 :
“wa ammaa man khoffat mawaaziinuh
fa ummuhuu haawiyah”
(Dan adapun orang yang ringan timbangan kebaikannya, maka tempat kembalinya adalah Neraka Hawiyah).

Kata Hawiyah artinya menurun. Tujuannya adalah menurun ke Neraka.

Pada ayat yang ke 6-7 disebutkan orang-orang yang berat timbangannya, kehidupannya akan memuaskan.
Pada ayat yang ke 8-9 tidak disebutkan kehidupan yang memuaskan itu. Berarti orang-orang kelompok kafir ini akan berada dikehidupan yang tidak memuaskan. Hal itu tergambar di dalam benak kita.

Lalu orang-orang kafir akan menuju ke tempat yang turun, yaitu ke neraka jahanam. Maka orang-orang Mukmin yang ada di Surga, tempatnya nanti tinggi atau tempat yang terhormat.

Dalam redaksi Al Qur’an, pembuangan kata yang tidak ditulis, tapi harus terbayangkan didalam benak kita.

Contoh serupa ada dalam surat Ya-sin ayat 65 Allah SWT berfirman:

اَلْيَوْمَ نَخْتِمُ عَلٰۤى اَفْوَاهِهِمْ وَتُكَلِّمُنَاۤ اَيْدِيْهِمْ وَتَشْهَدُ اَرْجُلُهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

al-yauma nakhtimu ‘alaaa afwaahihim wa tukallimunaaa aidiihim wa tasy-hadu arjuluhum bimaa kaanuu yaksibuun

“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan.” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 65)

Pada kata “aidiihim” disebut “tukallimunaaa” , pada kata “arjuluhim” disebut “tasy-hadu” (menyaksikan).
Maka ini ada kata yang dibuang. Pada kata ‘tukallimunaaa” juga terselib kata “menjadi saksi”.

Jadi yang menjadi saksi adalah tangan-tangan kita dan dia juga akan berbicara. Demikian juga pada kaki selain menjadi saksi juga berbicara, menyangkut apa yang kita lakukan.
Jadi di “aidiihim” yang tidak disebut adalah “menjadi saksi”. Sedangkan pada “arjuluhum” yang tidak disebut adalah “berbicara”.
Sehingga maknanya Kaki dan Tangan semuanya akan berbicara dan menjadi saksi atas apa yang kita lakukan.

Adapun dalam Al Qur’an, yang disebutkan menjadi saksi bukan hanya Kaki dan Tangan. Dalam Surat Fussilat ayat 20 disebutkan Pendengaran, Penglihatan dan Kulit, juga akan menjadi saksi.

Allah SWT berfirman:

حَتّٰۤى اِذَا مَا جَآءُوْهَا شَهِدَ عَلَيْهِمْ سَمْعُهُمْ وَاَ بْصَا رُهُمْ وَجُلُوْدُهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَعْمَلُوْنَ

“Sehingga apabila mereka sampai ke neraka, pendengaran, penglihatan, dan kulit mereka menjadi saksi terhadap apa yang telah mereka lakukan.” (QS. Fussilat 41: Ayat 20)

Demikian juga dalam Surat Al Isra ayat 36 Allah SWT berfirman:

اِنَّ السَّمْعَ وَا لْبَصَرَ وَا لْفُؤَادَ كُلُّ اُولٰٓئِكَ كَا نَ عَنْهُ مَسْئُوْلًا

“..Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 36)


Contoh lain pembuangan kata, juga ada dalam Surat An Naml ayat 86 :

اَلَمْ يَرَوْا اَنَّا جَعَلْنَا الَّيْلَ لِيَسْكُنُوْا فِيْهِ وَا لنَّهَا رَ مُبْصِرًا ۗ اِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰ يٰتٍ لِّـقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ

“a lam yarou annaa ja’alnal-laila liyaskunuu fiihi wan-nahaaro mubshiroo”

“Apakah mereka tidak memperhatikan bahwa Kami telah menjadikan malam agar mereka beristirahat padanya dan menjadikan siang yang menerangi?”
(QS. An-Naml 27: Ayat 86)

Pada siang disebut “terang benderang”, pada malam disebut “agar mereka beristirahat”.
Ini ada kata yang dibuang, pada kata malam yang dibuang adalah kata “gelap gulita”. Pada siang hari kata yang dibuang “agar beraktivitas”.

Di Al Qur’an kita banyak menemukan yang begitu karena tujuan Al Qur’an bahasanya ringkas tetapi maknanya mencakup.

Contohnya lagi dalam ayat tentang Puasa Allah SWT berfirman:

 فَمَنْ كَا نَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ 

fa mang kaana mingkum mariidhon au ‘alaa safaring fa ‘iddatum min ayyaamin ukhor,

“Maka barang siapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 184)

Kata-kata yang dibuang atau tidak disebut adalah “lalu tidak berpuasa” dan “wajib mengganti”.

Jadi kesimpulan, inti sari dari Surat Al Qari’ah adalah keniscayaan adanya pertanggung jawaban manusia kepada Allah SWT.

Siapa yang amalnya sesuai tolok ukur iman, amal sholeh dan motivasi yang benar maka dia akan dalam kehidupan yang memuaskan di Surga, tempat yang tinggi. Sedangkan orang-orang yang amalnya tidak sesuai dengan tolok ukur maka mereka akan dalam kehidupan yang sengsara, tempatnya di Neraka.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here