Dr.dr.H.Masrifan Djamil MPH.MMR

8 Shafar 1442 / 26 September 2020



Pekerjaan Qolbu Harus Serius

Ibadah kita adalah munajat kepada Allah SWT. Shalat kita, Dzikir kita, Do’a kita adalah munajat kepada Allah SWT.
Maka kita harus yakin bahwa semua itu Allah yang mengaturnya .
Seperti cerita tentang sel sel yang jumlahnya triliunan, semua diberi makanan dan oksigen, tidak ada satupun yang terlewat.

Supaya pekerjaan qolbu kita serius, ada satu hadits yang mengatakan nanti akan ada golongan yang mendapatkan perlindungan dari Allah.

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Hurairah r.a, beliau itu yang pernah meminta do’a kepada Nabi Muhammad agar ibunya masuk islam. Dan do’a itu diijabahi langsung.

حفظه الله عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: اَلْإِمَامُ الْعَادِلُ، وَشَابٌّ نَشَأَ بِعِبَادَةِ اللهِ ، وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ ، وَرَجُلَانِ تَحَابَّا فِي اللهِ اِجْتَمَعَا عَلَيْهِ وَتَفَرَّقَا عَلَيْهِ ، وَرَجُلٌ دَعَتْهُ امْرَأَةٌ ذَاتُ مَنْصِبٍ وَجَمَالٍ ، فَقَالَ : إِنِّيْ أَخَافُ اللهَ ، وَرَجُلٌ تَصَدَّقَ بِصَدَقَةٍ فَأَخْفَاهَا حَتَّى لَا تَعْلَمَ شِمَالُهُ مَا تُنْفِقُ يَمِيْنُهُ ، وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ

Dari Abu Hurairah r.a dari Nabi SAW , Beliau SAW bersabda, “Tujuh golongan yang dinaungi Allâh dalam naungan-Nya pada hari dimana tidak ada naungan kecuali naungan-Nya: (1) Imam yang adil, (2) seorang pemuda yang tumbuh dewasa dalam beribadah kepada Allâh, (3) seorang yang hatinya bergantung ke masjid, (4) dua orang yang saling mencintai di jalan Allâh, keduanya berkumpul karena-Nya dan berpisah karena-Nya, (5) seorang laki-laki yang diajak berzina oleh seorang wanita yang mempunyai kedudukan lagi cantik, lalu ia berkata, ‘Sesungguhnya aku takut kepada Allâh.’ Dan (6) seseorang yang bershadaqah dengan satu shadaqah lalu ia menyembunyikannya sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diinfaqkan tangan kanannya, serta (7) seseorang yang berdzikir kepada Allâh dalam keadaan sepi lalu ia meneteskan air matanya.” (HR Bukhori Muslim).

Dalam riwayat lain, hari yang tiada perlindungan itu adalah hari akhir. Dikisahkan bahwa matahari akan turun sehingga jaraknya tinggal sepenggalah dari kepala kita. Betapa panasnya? Semua orang berkeringat dan keringat itu akan menjebak diri kita sendiri. Bagaimana mekanismenya kok keringat tidak mengalir kemana-mana tetapi malah menenggelamkan diri, hanya Allah yang tahu.

Ada 7 kelompok orang yang santai karena dilindungi Allah. Seperti disebutkan di atas.
Ketujuh golongan itu adalah :

1. Imam yang adil

Sekarang ini menjadi ujian dimasa pandemi Covid-19. Mau prioritas Ekonomi atau Kesehatan? Jadi ramai di Televisi, dan Televisinya malah jualan Pro dan Kontra. Kita hanya dapat menyimak.

2. Pemuda yang selalu beribadah kepada Allah.

Maa syaa Allah. Biasanya pemuda santai, dia menunggu tua baru mau beribadah. Tapi kita mendapat contoh yang muda tapi ahli ibadah :
– Ibnu Umar, putera Umar bin Khattab.
– Ibnu Abbas, sejak kecil mengikuti Rasulullah sampai diberi nasehat khusus dan dido’akan menjadi ahli Al Qur’an. Akhirnya beliau menjadi Ahli Tafsir yang pertama.

3. Orang yang hatinya selalu terpaut kepada masjid.

Saya sampaikan di kelompok WA bahwa di Semarang Pandemi Covid masih merah, agar hati-hati. Tidak jelas penderita ada dimana. Maka cara paling tepat kita menjaga diri di rumah saja sambil bermohon kepada Allah, agar kita bisa kembali ke masjid.
Tapi aneh banyak orang senang ke Mal. Padahal mal itu tempat yang paling tidak disukai oleh Allah SWT. Jadi bukan hanya Pasar yang tak disukai, Mal juga sama dengan Pasar.

4. Orang-orang yang saling mencintai karena Allah.

Berkumpul karena Allah, berpisah karena Allah. Kalau Pilkada itu kumpul karena mau kampanye, karena kepentingan.
Kalau kalah jadi sepi, tak boleh seperti itu, kita beda tetap bersaudara, ingat terhadap Surat Al Hujurat ayat 10.
Persaudaraan yang karena Allah, kelak di akhirat akan dilindungi oleh Allah.

5. Orang lelaki yang menolak diajak bermaksiat oleh wanita cantik.

6. Orang yang shodaqoh dengan sembunyi-sembunyi.

7. Orang yang berdzikir sendirian.

Dalam teks lain dikatakan berdzikir dalam keadaan sepi dan berlinangan air matanya. Ternyata ini bisa kita lakukan, pengalaman banyak orang begitu melihat Ka’bah sampai menangis, kemudian berdo’a berdzikir kepada Allah. Bisa juga dilakukan saat sepi di malam hari kita Tahajud.


Khusyuk, Bersegera berbuat Baik


Allah SWT berfirman:

فَا سْتَجَبْنَا لَهٗ ۖ وَوَهَبْنَا لَهٗ يَحْيٰى وَاَ صْلَحْنَا لَهٗ زَوْجَهٗ ۗ اِنَّهُمْ كَا نُوْا يُسٰرِعُوْنَ فِيْ الْخَيْـرٰتِ وَ يَدْعُوْنَـنَا رَغَبًا وَّرَهَبًا ۗ وَكَا نُوْا لَنَا خٰشِعِيْنَ

“Maka Kami kabulkan doanya, dan Kami anugerahkan kepadanya Yahya, dan Kami jadikan istrinya (dapat mengandung). Sungguh, mereka selalu bersegera dalam kebaikan dan mereka berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas. Dan mereka orang-orang yang khusyuk kepada Kami.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 90)

Orang-orang yang khusyuk langsung mendapat sesuatu dari Allah. Mereka berdo’a dengan penuh harap dan cemas.

Sesuai yang diterangkan Rasulullah berdo’a harus yakin, syarat-syaratnya :

1. Menata hati, niat, sungguh-sungguh dengan sepenuh hati mendalam.

Mendalam adalah memahami tidak sekedar hafal. Atau malah kadang salah redaksi, atau malah bikin puisi. Jangan dilakukan karena tidak boleh berlebih-lebihan.

2. Memuji Allah SWT dan menyanjungnya dengan hamdalah.

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ 

“Segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.”(QS. Al-Fatihah 1: Ayat 2)

3. Sholawat kepada Nabi SAW

Sholawat ini juga bisa macam-macam.

“Allahumma sholli ‘ala Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajmain.”

Ada juga yang :

“Allahumma sholli ‘ala sayidina Muhammad wa ‘ala alihi washahbihi ajmain.”

Banyak macam sholawat yang ada tapi jangan melupakan sholawat yang autentik yang diajarkan Nabi. (Shalawat Ibrahimiah).
Perbedaan tak perlu dipermasalahkan. Yang penting kita harus bersholawat, sebab tanpa sholawat , do’a tak akan sampai.

Umar r.a pernah mengatakan,

إِنَّ الدُّعَاءَ مَوْقُوفٌ بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ لاَ يَصْعَدُ مِنْهُ شَىْءٌ حَتَّى تُصَلِّىَ عَلَى نَبِيِّكَ -صلى الله عليه وسلم-

“Sesungguhnya doa itu diam antara langit dan bumi, tidak naik ke atas hingga engkau bershalawat kepada Nabimu shallallahu ‘alaihi wa sallam.” (HR. Tirmidzi.)

4. Istighfar

Kalau bisa menghafal yang dari Al Qur’an dan Hadits, kalau tidak bisa kita baca terjemahnya dan kita hayati betul. Seperti orang menyanyikan lagu dapat meneteskan air mata bila menghayati. Do’a juga sama.

5. Dengan suara lembut.


Redaksinya harus tepat

Kesalahan yang sering terjadi, lafadz tidak sesuai bahasa Arab.

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّا بُ

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 8)

– Pengucapan tidak tepat, arti berubah —> Perlu ngaji Tahsin Al Qur’an.
Jangan sampai keliru, sering terjadi ghoin dibaca ain, padahal ada titiknya. Suara gh harus muncul (Ujung tenggorokan Adnal Halqi)

Dengan demikian sebenarnya tugas kita untuk belajar itu tidak sekali-sekali, tapi terus menerus.
Saya sangat apresiasi bahwa banyak profesor yang masih terus mengaji.


Perbaiki Ibadah Wajib, Tambah Sunahnya

Rumus ibadah selain Tidak Syirik, Menata Hati sehingga bisa khusyuk, ada pedoman lain yaitu utamakan yang wajib baru kemudian ditambah Sunah.

Hadits qudsi:

وَمَا تَقَرَّبَ إِلَيَّ عَبْدِي بِشَيءٍ أَحَبَّ إِلَيَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيهِ ، وَمَا يَزالُ عَبْدِي يَتَقَرَّبُ إِلَيَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أحْبَبْتُهُ ، كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِي يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِي يُبْصِرُ بِهِ ، ويَدَهُ الَّتي يَبْطِشُ بِهَا ، وَرِجْلَهُ الَّتِي يَمْشِي بِهَا وَإنْ سَألَنِي أعْطَيْتُهُ ، وَلَئِن اسْتَعَاذَنِي لَأُعِيذَنَّهُ

Dan tidaklah seorang hamba mendekat kepada-Ku; yang lebih aku cintai daripada apa-apa yang telah Aku fardhukan kepadanya. Hamba-Ku terus-menerus mendekat kepada-Ku dengan ibadah-ibadah sunnah hingga Aku pun mencintainya. Bila Aku telah mencintainya, maka Aku pun menjadi pendengarannya yang ia gunakan untuk mendengar, menjadi penglihatannya yang ia pakai untuk melihat, menjadi tangannya yang ia gunakan untuk berbuat, dan menjadi kakinya yang ia pakai untuk berjalan. Bila ia meminta kepada-Ku, Aku pun pasti memberinya. Dan bila ia meminta perlindungan kepada-Ku, Aku pun pasti akan melindunginya.” (HR Bukhori)

Hadits qudsi ini memerintahkan kita untuk perbaiki dulu yang wajib. Kalau itu dilakukan menyebabkan kita lebih dicintai oleh Allah SWT.

Jangan sampai kita banyak mengikuti Sunah tetapi malah meninggalkan yang wajib. Maka kita sangat perlu mengetahui mana-mana hukum islam. Fardhu ada yang Ain dan ada Kifayah. Kemudian mana yang sunah, Mubah, Makruh dan Haram.

Kalau ada dua hal berbenturan dalam waktu sama, antara wajib dan sunah, pilih yang wajib.
Disuruh suami wajib untuk taat, Puasa sunah itu sunah. Kalau berbenturan boleh dibatalkan.

Kita mendapat undangan yang sama waktunya misalnya. Hukumnya wajib dihadiri. Tapi yang satu dari Akrab atau saudara yang bertalian darah (Paman, Bibi, saudara sepupu) , yang lain dari teman biasa. Maka hukumnya kita mendatangi undangan dari Akrab.

Kadang-kadang kita tak punya mindset ini. Sebetulnya beragama islam itu enak karena sudah ada patron atau pakemnya. Demikian juga bila ada Sunah ketemu Mubah, pilih yang Sunah. Ada yang Mubah ketemu Makruh, kita pilih yang Mubah.

Bila kita telah dicintai Allah, maa syaa Allah. Allah akan selalu menyertai pandangan, pendengaran, perbuatan dan langkah kita. Dan terkait dengan do’a, kalau kita berdo’a akan dikabulkannya.


Yakin Do’a Kita akan Dikabulkan

Berdo’a harus yakin akan diijabahi Allah.

Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda,

ادْعُوا اللَّهَ وَأَنْتُمْ مُوقِنُونَ بِالإِجَابَةِ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ لاَ يَسْتَجِيبُ دُعَاءً مِنْ قَلْبٍ غَافِلٍ لاَهٍ

“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan, dan ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai.” (HR. Tirmidzi).

Para ulama mengajari kita agar tidak tergesa-gesa mengharap balasan. Karena bisa saja dikabulkan setelah di akhirat. Yang penting adalah meyakini bahwa Do’a adalah Ibadah. Artinya makin banyak doa makin baik.
Kita disuruh berdo’a, justru Allah marah jika kita tak berdo’a.

Kalau perlu do’a dicatat biar tidak salah. Do’a itu pekerjaan hati, jadi harus serius. Yang penting faham dan tidak tergesa-gesa.

Berdo’a minta rezeki, jangan lalu mengharapkan dapat uang. Karena rezeki itu macam-macam, bisa uang, bisa keluarga yang sakinah mawadah wa rahmah, bisa lingkungan yang baik di kantor atau lingkungan yang baik di tetangga.

Mungkin kita pernah do’a bersama di kampung-kampung, do’anya panjang tapi tidak jelas. Eventnya mendoakan jenazah tapi doanya panjang untuk yang hidup. Eventnya mendoakan bayi tapi doanya malah ngalor ngidul.
Lebih baik kalau tidak hafal atau tak dapat menghayati bahasa Arab, kita berdoa pakai bahasa Indonesia saja.

Dulu saya pernah mengenal seorang ulama, kalau berdo’a selalu memakai bahasa Indonesia, tapi awalnya sama karena protokolnya sama :
– diawali hamdalah
– shalawat Nabi
– istighfar
Kemudian dilanjutkan dengan isi do’a.
Mudah-mudahan kita makin faham dengan ilmu dalam mengamalkan ibadah kita.


Berdo’a Dengan Suara Lembut

Allah SWT berfirman:

 ۚ وَلَا تَجْهَرْ بِصَلَا تِكَ وَلَا تُخَا فِتْ بِهَا وَا بْتَغِ بَيْنَ ذٰلِكَ سَبِيْلًا

“dan janganlah engkau mengeraskan suaramu dalam sholat dan janganlah merendahkannya dan usahakan jalan tengah di antara kedua itu.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 110)

Allah SWT berfirman:

ذِكْرُ رَحْمَتِ رَبِّكَ عَـبْدَهٗ زَكَرِيَّا ۚ (2) اِذْ نَا دٰى رَبَّهٗ نِدَآءً خَفِيًّا(3)

“.. penjelasan tentang rahmat Tuhanmu kepada hamba-Nya, Zakaria, ketika dia berdoa kepada Tuhannya dengan suara yang lembut.” (QS. Maryam 19: Ayat 2-3)

Allah SWT berfirman:

اُدْعُوْا رَبَّكُمْ تَضَرُّعًا وَّخُفْيَةً ۗ اِنَّهٗ لَا يُحِبُّ الْمُعْتَدِيْنَ ۚ 

“Berdoalah kepada Tuhanmu dengan rendah hati dan suara yang lembut. Sungguh, Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(QS. Al-A’raf 7: Ayat 55)

Berdo’a jangan melampaui batas. Banyak ulama mengatakan janganlah bersyair kalau berdo’a, biasa saja. Khawatirnya setelah diberi syair lalu diikuti musik. Nanti malah jauh dari islam.

Berdo’a tidak boleh dengan suara keras, riwayatnya para Sahabat diajari kalau perjalanan naik membaca Takbir “Allahu Akbar” dan kalau perjalanan turun membaca Tasbih “Subhanallah”.

Berarti kita yang rumahnya Banyumanik atau Ungaran yang jalannya naik turun harus banyak membaca takbir dan tasbih.

Dari Abu Musa r.a , ketika ada orang yang berdoa dengan suara keras, maka Rasulullah SAW menegur sahabat yang berbuat demikian.

Rasulullah SAW bersabda:

أيُّهَا النَّاسُ ارْبَعُوا عَلى أنْفُسكُمْ إنَّكُمْ لَيسَ تَدْ عُونَ أصَمَّ وَلاَ غَائِبًا إنّكُم تَدْ عُونَ سَمِيعًا قَرِيبًا

Wahai manusia. Tenangkanlah diri kalian. Sesungguhnya kalian tidak menyeru Dzat yang bisu atau yang tidak ada. Sesungguhnya Dzat yang kalian seru Maha Mendengar lagi Maha Dekat. (HR.Bukhori Muslim).

Maksudnya Allah itu mendengar apa yang kita sampaikan, jadi tak perlu teriak-teriak.

Kemarin di Televisi ada berita angin ribut, lalu orang-orang yang berdo’a teriak-teriak. Disini kami sampaikan bila ada angin ribut , gempa bumi atau angin taufan biasanya Rasulullah membaca Ta’awudz kemudian Surat Al Falah dan An Nas. Dan itu tidak dengan suara keras, supaya kita mendapat perlindungan Allah dari kerusakan.


Berdo’a Dengan Mengangkat Tangan

Disini ada khilafiyah dalam mengangkat tangan , beda-beda cara mengangkat tangan. Jadi tidak masalah.

Nabi SAW juga bersabda:

إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ

“Sesungguhnya Allah itu sangat pemalu dan Maha Pemurah. Ia malu jika seorang lelaki mengangkat kedua tangannya untuk berdoa kepada-Nya, lalu Ia mengembalikannya dalam keadaan kosong dan hampa” (HR. Abu Daud dan At Tirmidzi)

Jadi angkatlah tangan.
Sekarang memang ada khilafiyah, ada yang memahaminya tidak usah angkat tangan. Kalau khotib Jumat berdo’a ada yang tak mau mengangkat tangan. Tidak masalah karena kalau dia mengamini doa khotib, dia sudah dianggap ikut berdo’a.
Tetapi saya sendiri sebagai makmum selalu mengangkat tangan ketika berdo’a, dasarnya adalah hadits Abu Daud dan Tirmidzi di atas.


Perbedaan Dalam Mengangkat Tangan

Khotib berdo’a di akhir khutbah : Mengangkat tangan, mengacungkan jari telunjuk ke langit (Posisi istighfar), ketika membaca : Allohumaghfir lil mukminin, dan seterusnya.

Berdo’a sendiri-sendiri (juga bila berjamaah) .

– Madzhab Hanafi : Telapak tangan dibuka, tapi tidak menempel.
– Madzhab Syafi’i : Telapak tangan dibuka, boleh menempel boleh tidak. Kalau qunut nazilah (mohon menolak balak) telapak di bawah (terbalik).
– Madzhab Hambali : Terbuka kedua tangan ditempelkan (menurut ulama ahli hadits, haditsnya dhoif)
– Sunnah : Posisi tangan menengadah di pertengahan dada, kadang-kadang didekatkan wajah.


Mengusap Wajah Selesai Berdo’a

Ini juga khilafiyah, silahkan memilih.

– Ada yang mensunahkan
– Ada yang menganggap tidak ada tuntunan karena hadits tentang itu dhoif.

– Dari Perawi Hammad bin Isa Al Juhani:

حَدَّثَنَا حَمَّادُ بْنُ عِيسَى الْجُهَنِيُّ ، عَنْ حَنْظَلَةَ بْنِ أَبِي سُفْيَانَ الْجُمَحِيِّ ، عَنْ سَالِمِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ ، عَنْ أَبِيهِ ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ ، قَالَ : ” كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا رَفَعَ يَدَيْهِ فِي الدُّعَاءِ لَمْ يَحُطَّهُمَا حَتَّى يَمْسَحَ بِهِمَا وَجْهَهُ “

Hammad bin Isa Al Juhani menuturkan kepadaku, dari Hanzhalah bin Abi Sufyan Al Jumahi, dari Salim bin Abdillah, dari ayahnya dari Umar bin Al Khathab r.a , ia berkata: “Rasulullah SAW , apabila mengangkat kedua tangannya saat berdo’a, beliau tidak menurunkannya hingga beliau mengusap wajahnya terlebih dahulu dengan kedua telapak tangannya”

Faktor Sanad yang lemah karena terdapat perawi Hammad bin Isa Al Juhani. Dia ditengarai oleh ahli hadits sebagai Perawi yang tidak tsiqah. Sehingga ada yang meninggalkan hadits ini.

Tetapi ada yang memakai, karena ada yang berpendapat bahwa hadits dhoif bisa dipakai untuk menambah amal. Jadi tidak usah direpotkan dengan hal yang begini.

Hikmahnya dengan mengaji kita tak perlu menyalahkan yang berbeda.


Berdo’a jangan sampai Tidak Tahu Maknanya

– Apalagi do’a diseret -seret (agar orang tak faham karena bahasanya Arab)
– Sebagaimana kata bijak : “Hanya wali yang mengetahui seseorang itu wali” —> ketahuan kualitas seseorang, antara lain manakala memimpin do’a
– Hati-hati kalau disuruh memimpin do’a. Identik dengan shalat karena do’a adalah ibadah, bila memang tidak kompeten tolaklah secara halus, serahkan kepada orang yang lebih alim.


Diujung Do’a

Diujung do’a mari kita tambahkan penutup do’a sebagai berikut :

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنتَ التَّوَّابُ الرَّحِيمُ

“Ya Tuhan kami terimalah daripada amalan kami., sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui”.
” ..dan terimalah taubat kami. Sesungguhnya Engkau-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang“. (QS. Al-Baqarah: 127-128).


Penutup Do’a

Yang paling populer adalah ini :

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ۚ (180)
وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ ۚ (181) وَا لْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ(182)

“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.” (QS. As-Saffat 37: Ayat 180-182)

Kadang ada yang memakai ayat 10 Surat Yunus dengan sedikit diganti, kata ‘mereka’ jadi ‘kami’. Tapi ada juga yang mengatakan tak perlu diganti.


دَعْوٰٮهُمْ فِيْهَا سُبْحٰنَكَ اللّٰهُمَّ وَ تَحِيَّـتُهُمْ فِيْهَا سَلٰمٌ ۚ وَاٰ خِرُ دَعْوٰٮهُمْ اَنِ الْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

“Doa mereka di dalamnya, ialah Subhanakallahumma (Maha Suci Engkau, ya Tuhan kami), dan salam penghormatan mereka ialah, Salam (salam sejahtera). Dan penutup doa mereka ialah, Alhamdulillahi Rabbilalamin. (segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam).” (QS. Yunus 10: Ayat 10)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here