Dr.dr.H.Masrifan Djamil MPH.MMR

8 Shafar 1442 / 26 September 2020



Pengantar

Dulu ketika 1 Muharram kami pernah menyampaikan suatu riset kecil- kecilan. Yang saya riset 6 stasiun Televisi, yang dua sangat menyenangkan kita karena tag-line atau tayangan jedanya selalu menayangkan Selamat Tahun Baru Hijriyah 1442 H, yaitu TVRI dan TV One. Lainnya sama sekali tidak ada, berarti penumbuhan suasana keislaman mulai berbeda dibanding tahun-tahun sebelumnya.

Ini kita sampaikan supaya kita menguatkan lingkungan kita agar membentuk kharakter keagamaan kita. Khususnya juga anak cucu kita.
Sebagaimana kita ketahui dulu, bagaimana Wali Songo membentuk itu. Otomatis di setiap peristiwa event acara-acara keagamaan selalu diberikan suatu atmosfir yang sungguh luar biasa. Itu tidak kita sadari adalah suatu upaya yang sistematis dari para wali dulu menciptakan suasana keislaman.

Contohnya di pantai-pantai utara diadakan Hari Raya yang kedua yaitu acara Syawalan setelah menjalankan Puasa Sunnah enam hari dalam bulan Syawal. Itu luar biasa efeknya. Tetapi kemudian agak bergeser menjadi hiburan-hiburan. Hal ini tidak terhindarkan karena manusia bertambah banyak.

Kemudian banyak acara Maulud Nabi, Isra’ Miradj, 1 Muharram dan seterusnya ini suasananya langsung kepada anak-anak kita tumbuh rasa cinta kepada agama. Karena itu penting sekali dan kita mengingat sabda Nabi SAW :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama seseorang tergantung dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian memerhatikan, siapa yang dia jadikan teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Maka kalau bapak ibu mempunyai teman yang sholeh peganglah erat-erat, kata Umar bin Khattab, jangan sampai tidak berteman lagi itu adalah aset yang berharga untuk bersama-sama kita nanti mengadakan reuni di Surga.

Rasululah SAW bersabda :

مَثَلُ الْجَلِيسِ الصَّالِحِ وَالسَّوْءِ كَحَامِلِ الْمِسْكِ وَنَافِخِ الْكِيرِ ، فَحَامِلُ الْمِسْكِ إِمَّا أَنْ يُحْذِيَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَبْتَاعَ مِنْهُ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ مِنْهُ رِيحًا طَيِّبَةً ، وَنَافِخُ الْكِيرِ إِمَّا أَنْ يُحْرِقَ ثِيَابَكَ ، وَإِمَّا أَنْ تَجِدَ رِيحًا خَبِيثَة

“Permisalan teman yang baik dan teman yang buruk ibarat seorang penjual minyak wangi dan seorang pandai besi. Penjual minyak wangi mungkin akan memberimu minyak wangi, atau engkau bisa membeli minyak wangi darinya, dan kalaupun tidak, engkau tetap mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, bisa jadi percikan apinya mengenai pakaianmu, dan kalaupun tidak engkau tetap mendapatkan bau asapnya yang tak sedap.” (HR. Bukhari dan Muslim)


Kita Perlu TV Nasional Muslim

Maka menjadi kewajiban umat islam mewujudkan Televisi Nasional Umat Islam.

Dulu ketika saya masih kuliah di Fakultas Kedokteran mencari tempat untuk belajar itu susah. Akhirnya kita ketemu masjid Baitur Rahman.
Tetapi capai karena punggungnya membungkuk lebih dari 45°. Akhirnya ketemu di Jalan Gajah Mada milik Katholik, suatu tempat diberi fasilitas Perpustakaan. Disitu lengkap ada meja pingpong, gitar dan ruang yang sejuk karena ventilasi yang bagus dengan meja satu-satu.

Disitu terpampang tulisan : “Proyek Stasiun Televisi Katholik”.
Luar biasa, pada saat itu tahun 1977 mereka sudah berfikir jauh sekali. Karena televisi itu untuk membentuk suasana.

Saya masih ingat ceramah Bapak Dr.dr. Rofiq Anwar dulu di Banjar Negara bertanya kepada Para hadirin :
“Teman yang bagaimana yang setia kepada kita?”
Semua jawaban salah dan akhirnya beliau menjawab bahwa Teman yang paling setia menemani manusia adalah televisi.

Ternyata kita tidak punya Televisi Nasional Umat Islam. Televisi Nasional itu di semua Kabupaten, di seluruh Indonesia bisa menyiarkan. Pengalaman saya televisi yang sampai ke pelosok hanya ada dua. Di Papua Barat hanya bisa melihat TVRI dan Metro TV. Berarti mereka menyiapkan infra struktur yang luar biasa. TV One juga bisa tapi di hotel yang ada fasilitas TV Kabel.

Mungkin tidak sekarang tapi cobalah disampaikan kepada siapa saja umat islam, apakah guru atau remaja yang tertarik. Suatu hari kita harus punya TV Nasional Umat Islam.

Bagaimana dengan TVMU (Muhammadiyah) , TV9 (NU), atau TV radio Rodja atau Televisi MTA? Itu semua TV Kabel yang menikmati cuma sedikit. Bisa diakses lewat Parabola tapi tak mungkin masyarakat Indonesia semuanya memiliki Parabola karena harganya cukup mahal.


Mengapa perlu TV Nasional Muslim?

Karena kerusakan di sekitar kita sudah semakin meluas dan terang-terangan.

– Pembunuhan sadis dimana-mana
Setiap menghidupkan televisi tiap hari ada pembunuhan. Dulu 5-10 tahun lalu tidak. Pembunuhan tidak tiap hari.

– Generasi muda terkena sex bebas, narkoba —> HIV AIDS dll
Ada anak SMP berkumpul tapi pesta sex. Narkoba menyerang seluruh umur, sampai ada kakek-kakek hampir 70 tahun kena HIV. Tadinya sehat, tapi menambah isteri, dari lokalisasi.
Ada juga pesta Gay, Homo sexual.

– Murtad dan Pemurtadan terjadi
Ada yang sendiri-sendiri ada yang berkelompok.

– Eskalasi Kejahatan lain semakin meningkat.
Ada gang yang macam-macam, anggotanya umur 20-30 an.

– Kalahnya umat dari Perang Pemikiran.
Banyak anak-anak kita ikut-ikutan ke gereja melantunkan shalawat, mengikuti Misa. Ini tidak tepat karena namanya toleransi tidak begitu. Kita sudah diajari “Lakum dinukum waliyadin”.

Maka untuk membentuk lingkungan yang islami perlu dibentuk dengan berbagai cara, antara lain :

– Klasik ,Cara ini terbatas :
Madrasah, dulu sekolah sore sekarang tidak ada. Dan saya mendengar kabar bahwa TPQ-TPQ sudah gulung tikar, karena sekolah umum sekarang sampai sore. Dulu TPQ sore hari.
Ini menjadi masalah besar bagi umat islam, tapi tampaknya kita santai- santai saja.

Dulu ada guru-guru luar biasa.
Ada MGMP (musyawarah dan guru mata pelajaran) di sekolah diperkuat dengan kegiatan Praktek pengajian, acara hari besar islam (dulu banyak lomba hari besar islam).

Pengajian ada dimana-mana, tapi tidak banyak yang ikut. Yang rutin rata-rata masih sekitar 80-100 peserta.
Yang banyak kalau penceramahnya sangat populer, bisa sampai 400 an.
Tapi tidak seperti dulu waktu kita kecil bisa sampai Ribuan.

– Modern :

Alhamdulillah kita bisa menyimak
Website, You Tube, radio, TV, Webinar, Gathering dsb.

Kita juga punya website https://dakwah-banyumanik.com , mudah-mudahan menjadi referensi karena disampaikan oleh Para Tokoh.

Radio kita juga tidak punya. Di Semarang hanya ada Radio Masjid Agung. Ada Radio Rodja tapi kadang suaranya hilang, ada Radio Mutiara Qur’an, alhamdulillah sudah mulai ada.

Gathering sudah sulit karena masa Covid. Mudah-mudahan ini menjadi pemikiran kita bersama.


Memahami Tubuh Kita

Sel kita di dalam tubuh jumlahnya triliunan. Sampai sekarang masih belum ketemu jumlahnya karena memang tidak dihitung secara pasti. Cara menghitungnya hanya sampling saja. Ada yang menghitung 10 triliun kemudian dikoreksi menjadi 30 triliun dan sebagainya. Susah menghitungnya karena kecil.

Namun tidak ada satu selpun yang “kapiran”. Kapiran itu bahasa Jawa yang artinya tidak terurus (oleh Allah).
Di dalam situ ada pembuluh darah yang lembut sekali yang mengalirkan darah itu membawa sari makanan dan oksigen untuk ditransfer ke sel kita.
Subhanallah, luar biasa.

Maka kalau menjadi Pemimpin tirulah sistem ini. Allah mengatur sel ini sehingga tidak ada sel yang terabaikan. Semuanya mendapat makanan. Dan ini tidak kita atur. Kita santai-santai saja semuanya sudah beres. Hal ini mestinya menambah keimanan kita dan kalau sampai tidak bersyukur , aneh.

Saya mendapat WA yang katanya dari Cak Nun, bayangkan kalau alis kita tumbuh terus, bukankah sangat mengganggu?

Ini yang kecil-kecil, mikro tingkat sel.
Di dalam tubuh kita banyak elektrolit, banyak zat-zat kimia yang diberi nama, misalnya Na (natrium). Kalau kita makan yang asin-asin berarti mengandung NaCl. Ternyata begitu masuk mereka saling berinteraksi. Kalau lebih dibuang melalui air kencing. Itu bagi yang sehat.

Di dalam sel dan luar sel, terus menerus berlangsung keseimbangan elektrolit Natrium dan Kalium.
Mereka keluar masuk. Natriumnya keluar, Kaliumnya boleh masuk. Dan itu terus menerus secara otomatis agar otot bekerja baik, syaraf bekerja baik . Pada saat kita tidurpun masih tetap bekerja seperti itu.

Maka sungguh benar Rasulullah SAW, beliau mengucap alhamdulillah tidak habis-habis. Bangun tidur alhamdulillah, terus mengucap alhamdulillah tidak habis berdzikir kepada Allah.

Kemarin saya cerita pernah komplain pada guru saya : “Apa mungkin orang berdzikir terus menerus? “
Jawaban beliau : “Nanti suatu saat kamu akan mengalami”.

Maka mari kita dengan makin tahunya sifat-sifat pengaturan tubuh yang otomatis itu kita bertambahnya iman dan bersyukur.


Connected dengan Allah SWT

Pekerjaan Qolbu yang penting adalah Connected atau Terhubung dengan Allah SWT.

Untuk terhubung ini susah. Saya masih mendapat WA dari sahabat saya, bahwa untuk masuk ke Pengajian ini susah. Ternyata untuk masuk ke Pengajian saja sudah memerlukan usaha. Apalagi untuk connected kepada Allah SWT, kalau bisa 24 jam. Tentu lebih sulit.

Dunia ini penuh dengan “la’ibun wa lahwun” (Permainan dan Senda Gurau) sehingga kita kadang-kadang dilalaikan tidak berdzikir kepada Allah. Tetapi mudah-mudahan kita selalu bisa connected kepada Allah.


Syaratnya Adalah Tidak boleh Syirik

Artinya benar-benar mengharap kepada Allah SWT saja. Jangan menyandingkan dengan sesuatu selainNya.
Misal : “Wah ini hari apa, kelahiranku? ” “Wah ini hari naasku”, “Kalau pakai peci yang dikasih ustadz ini pasti maqbul”.”Cincin ini memang mantab betul.. ” dan lain sebagainya.

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ اُوْحِيَ اِلَيْكَ وَاِ لَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِكَ ۚ لَئِنْ اَشْرَكْتَ لَيَحْبَطَنَّ عَمَلُكَ وَلَتَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Dan sungguh, telah diwahyukan kepadamu dan kepada nabi-nabi yang sebelummu, Sungguh, jika engkau menyekutukan Allah , niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah engkau termasuk orang yang rugi.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 65)

Orang yang syirik pasti akan merugi. Maka kita pelihara keimanan kita. Kita memohon kepada Allah di akhir shalat kita dengan do’a supaya hati kita tetap.

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu).”


Mengolah Qolbu

Kita diberi pelajaran untuk mengolah qolbu kita.

Ada sahabat bernama Ibnu Abbas r.a. Ibnu Abbas ini masih kecil dan akrab sekali dengan Rasulullah karena dia keponakan dari Maemunah r.anha isteri Rasulullah.

Beliau pada suatu hari pernah shalat Tahajud dibelakang Rasulullah SAW. Kemudian beliau ditarik oleh Rasulullah ke samping kanan Rasul.
Peristiwa ini menjadi dalil :
– Pada saat shalat bila diperlukan kita boleh bergerak. (ada batasannya).
– Kalau shalat berdua kita boleh berjajar.

Walaupun ada khilafiyah, bahwa makmum harus di kanan agak geser ke belakang. Karena alasan bila makmum tubuhnya lebih panjang maka pada saat sujud tubuhnya melampaui imam.
Hal ini bagus, khilafiyah membuat hati kita terbuka.

Ada hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas r.a.

عبْد الله بن عَبّاسٍ -رَضِي اللهُ عَنْهُما- قالَ: كُنْتُ خَلْفَ النَّبِيِّ -صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ- يَوْمًا، فَقَالَ: ((يَا غُلاَمُ، إِنِّي أُعَلِّمُكَ كَلِمَاتٍ؛ احْفَظِ اللهَ يَحْفَظْكَ، احْفَظِ اللهَ تَجِدْهُ تُجَاهَكَ، إِذَا سَأَلْتَ فَاسْأَلِ اللهَ، وَإِذَا اسْتَعَنْتَ فَاسْتَعِنْ بِاللهِ، وَاعْلَمْ أَنَّ الأُمَّةَ لَوِ اجْتَمَعَتْ عَلَى أَنْ يَنْفَعُوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَنْفَعُوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ لَكَ، وَإِنِ اجْتَمَعُوا عَلَى أَنْ يَضُرُّوكَ بِشَيْءٍ لَمْ يَضُرُّوكَ إِلاَّ بِشَيْءٍ قَدْ كَتَبَهُ اللهُ عَلَيْكَ، رُفِعَتِ الأَقْلاَمُ وَجَفَّتِ الصُّحُفُ))

Abdullah bin ‘Abbas –radhiyallahu ‘anhuma– menceritakan, suatu hari saya berada di belakang Nabi SAW.
Beliau bersabda, “Nak, aku ajarkan kepadamu beberapa untai kalimat: Jagalah Allah, niscaya Dia akan menjagamu. Jagalah Allah, niscaya kau dapati Dia di hadapanmu. Jika engkau hendak meminta, mintalah kepada Allah, dan jika engkau hendak memohon pertolongan, mohonlah kepada Allah. Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu. Pena telah diangkat dan lembaran-lembaran telah kering.”
(Imam Tirmidzi di dalam kitab beliau Sunan At Trmidzi, Imam Ahmad bin Hambal di dalam kitab Al Musnad).

Menjaga Allah maksudnya kita connected dengan Allah. Kalau Allah mengundang shalat kita datangi. Kalau menyuruh kita shodaqoh, kita shodaqoh. Kalau Allah menyuruh kita berkurban, kita berkurban. Kalau Allah menyuruh kita pergi Haji dan harta kita sudah cukup, maka pergilah haji.

Kalau memohon sesuatu, mohonlah kepada Allah, jangan kepada Pohon yang besar, atau Makam keramat.
Kita diberi takdir tentang 4 hal : Rezeki, Ajal, Amal dan Bahagia /Sengsara. Takdir ini boleh diubah dengan berdo’a.

Kalau ada orang berkumpul mau mencelakakan kita, tapi jika Allah tak berkenan maka tak akan terjadi. Pernah terjadi kaum Quraisy sudah mengepung Nabi Muhammad pada waktu mau hijrah. Tapi Allah membuat pengepungnya tertidur semua.

Pertolongan Allah bersama dengan kesabaran. Sesuatu kegembiraan akan bersama dengan yang sebaliknya. Di dalam kesulitan akan ditemukan kemudahan.


BERSAMBUNG.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here