H. Abdullah Hakam Shah Lc MA

5 Shafar 1442 / 23 September 2020



Klasifikasi Tafsir

Ada 4 klasifikasi Tafsir

1. Tafsir bil ma’tsur

Tafsir yang memiliki methodology bil ma’ tsur atau tafsir secara garis besar adalah tafsir yang utamanya bersandar pada dalil, ayat atau hadits. Tidak terlalu banyak menggunakan kotekstualisasi

2. Tafsir bir ra’yi

Tafsir yang selain menggunakan dalil Al Qur’an dan Hadits tapi juga banyak menggunakan kontekstualisasi. Ayat Al Qur’an dikontekstualisasikan dengan nalar, dengan perkembangan ilmu pengetahuan, dengan logika bahasa , dengan semantik.

Tafsir bir ra’yi dibagi dua :
Ada yang al mahmud, yang masih baik masih dalam koridor yang benar dan dan ada yang al madzmum , menafsirkan Al Qur’an banyak menggunakan akal tapi kemudian sudah banyak terpelesetnya.

Dalam tafsir al madzmum ada tafsir kalangan Syi’ah, ada tafsir kalangan Kebatinan, ada tafsir kalangan Filosof seperti dalam sejarah kita pernah mendengar ajaran “manunggaling kawula Gusti”.

3. Tafsir bil Isyaroh,

Tafsir yang banyak menggunakan pendekatan intuisi , pendekatan hati, pendekatan Tassawuf.

4. Tafsir yang fokusnya Fiqih.

Fiqih intinya bagaimana kita menyarikan hukum dari suatu ayat Al Qur’an.

Tafsir Ibnu Katsir termasuk tafsir bil ma’tsur yang utamanya bersandar pada dalil. Kelebihannya adalah bahwa ini tafsir yang paling aman. Kemungkinan terpelesetnya kecil sekali. Walaupun kontekstualisasinya terbatas.

Karena itu saya akan menambahi dengan tafsir yang lain. Misal Tafsir As Sa’di, Tafsir Al Qurthubi.
Tafsir Al Qurthubi adalah salah satu tafsir utama yang melakukan pendekatan Fiqih. Dari ayat Al Qur’an kemudian dapat menyarikan apa hukum-hukum yang bisa dikonklusikan.

Kalau dalam Tafsir Ibnu Katsir tidak ada konklusi hukumnya. Yang ada hanyalah perenungan dalil agar kita semakin mantap memahami Al Qur’an. Dan itu menjadi media bagi kita untuk semakin dekat dengan Allah, semakin dekat dengan Syariat Allah.


Tafsir Surat At Taubah ayat 111

Kita akan melakukan kajian tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat At Taubah, karena kita akan memiliki pegangan bagaimana menjalani kehidupan di zaman yang penuh fitnah sekarang ini.

Diantara surat surat Al Qur’an, ada surat ke 9 yaitu Surat At Taubah. Surat ini mempunyai beberapa nama, diantaranya At Taubah (Pengampunan) , tapi juga disebut dengan surat Al Bara’ah (berlepas diri) karena di dalam surat ini Allah SWT memerintahkan kepada Rasulullah dan orang-orang yang beriman agar berlepas diri dari orang-orang Musyrik dan orang-orang Munafik agar mulai punya sikap yang tegas.

Orang islam menghadapi orang baik akan membalas dengan lebih baik. Tetapi menghadapi orang jahat, tidak berarti kita harus selalu baik. Terhadap orang jahat kita harus menunjukkan prinsip kita dengan cara yang terbaik. Hal ini diajarkan oleh Allah SWT di surat At Taubah.


Kelebihan Surat At Taubah

Surat At Taubah punya banyak kelebihan. Diantara kelebihannya adalah misalnya dalam satu atsar yang Shahih Umar bin Khattab pada saat menjadi kepala negara pernah berpesan pada umat islam :

“Ajarilah keluargamu Surat Al Bara’ah dan ajarilah perempuan-perempuan kalian Surat An Nur”.

Ajarilah keluarga besar kita dengan Surat At Taubah agar mereka punya kepribadian muslim yang utuh.
Ajarilah isteri, anak perempuan dengan Surat An Nur. Karena Surat An Nur banyak mengajarkan bagaimana menjaga kemuliaan dan kehormatan diri.

Diantara kelebihan lain dari Surat At Taubah, termasuk surat yang belakangan turun dari surat-surat dalam rangkaian Al Qur’an.
Ayat yang terakhir ada di Surat Al Maidah, tetapi mayoritas ayat dari Surat yang turun terakhir adalah Surat At Taubah.

Dan keunikan yang lain, Surat At Taubah tidak diawali dengan Basmallah. Dan ini dicontohkan sejak zaman Para Sahabat Khulafaur Rasyidin dan seterusnya.


Kandungan Surat At Taubah

Ada tiga kandungan penting dari Surat At Taubah, diantaranya :

Mengajarkan umat islam tentang tuntunan sosial, apa yang harus dikembangkan ketika berinteraksi dengan masyarakat sekitar. Termasuk juga dengan masyarakat yang memusuhi islam, baik secara terang-terangan (Kaum Musyrikin) maupun orang yang menggerogoti islam dan umat islam tapi tidak terang-terangan, musuh dalam selimut (Kaum Munafikin).

Hal ini menarik , karena kalau kita membaca ayat-ayat atau deskripsi orang-orang Munafik, ternyata banyak kharakter orang Munafik yang digambarkan di Surat At Taubah , di Surat Al Anfal, yang di tengah masyarakat modern dianggap biasa.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ يَلْمِزُوْنَ الْمُطَّوِّعِيْنَ مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى الصَّدَقٰتِ وَا لَّذِيْنَ لَا يَجِدُوْنَ اِلَّا جُهْدَهُمْ فَيَسْخَرُوْنَ مِنْهُمْ ۗ سَخِرَ اللّٰهُ مِنْهُمْ ۖ وَلَهُمْ عَذَا بٌ اَلِيْمٌ

“Orang munafik yaitu mereka yang mencela orang-orang beriman yang memberikan sedekah dengan sukarela dan yang mencela orang-orang yang hanya memperoleh untuk disedekahkan sekadar kesanggupannya, maka orang-orang munafik itu menghina mereka. Allah akan membalas penghinaan mereka, dan mereka akan mendapat azab yang pedih.” (QS. At-Taubah 79)

Mereka suka meledekin (mencemooh dengan gaya bercanda) orang yang berbuat baik.
– ada orang berangkat ke masjid diledekin.
– orang berangkat jumatan agak pagi duluan dicandain.
– Jadi setiap ada yang berbuat kebaikan diketawain.
– Ada orang hafal Al Qur’an dianggap sebagai ciri-ciri orang radikal.

Kita tidak bermaksud menunjuk siapapun, tapi kita sebagai muslim harus hati-hati berkomentar, hati-hati bercanda, jangan sampai candaan itu menjadi “nyinyir” terhadap orang yang berbuat baik.

Allah mengajarkan bagaimana kita ini agar memperoleh Kemuliaan Hidup.
Saat ini kita akan fokus pada hal ini, yaitu Bagaimana Hidup Mulia.


Bagaimana Hidup Mulia

Dalam Surat At Taubah untuk mencapai Kehidupan yang mulia ada di ayat ke 111.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ اشْتَرٰى مِنَ الْمُؤْمِنِيْنَ اَنْفُسَهُمْ وَاَ مْوَا لَهُمْ بِاَ نَّ لَهُمُ الْجَــنَّةَ ۗ يُقَا تِلُوْنَ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ فَيَقْتُلُوْنَ وَ يُقْتَلُوْنَ ۗ وَعْدًا عَلَيْهِ حَقًّا فِى التَّوْرٰٮةِ وَا لْاِ نْجِيْلِ وَا لْقُرْاٰ نِ ۗ وَمَنْ اَوْفٰى بِعَهْدِهٖ مِنَ اللّٰهِ فَا سْتَـبْشِرُوْا بِبَيْعِكُمُ الَّذِيْ بَايَعْتُمْ بِهٖ ۗ وَذٰلِكَ هُوَ الْفَوْزُ الْعَظِيْمُ

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh.
(Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil, dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kalian lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (At-Taubah ayat 111)

Allah SWT menegaskan bagaimana kiat untuk hidup mulia. Ternyata untuk hidup mulia harus membela Syariat Allah. Mungkin ada orang yang merasa berat untuk membela Syariat Allah.
Kalau kita masih mempunyai perasaan, kita pasti malu kalau tidak memilih hidup mulia.

Ayat ini dimulai dengan kalimat innallohasytaroo (Sesungguhnya Allah telah membeli).

Imam Ibnu Katsir menafsirkan ayat ini
Allah SWT ketika meminta kita memilih hidup mulia dan caranya yaitu membela Syariat Allah, membela agama Allah, Allah menggunakan bahasa “Allah ingin membeli”, Allah akan melakukan tukar tambah dari hamba-hambanya yang beriman, dengan diri mereka.

Semua yang kita miliki, tubuh kita ini semua dari Allah. Namun Allah tidak menggunakan bahasa “Allah meminta”. Allah tidak meminta cuma-cuma barang-barang yang dulu diberikan Allah. Tetapi Allah ingin membeli !
Padahal itu semua dari Allah SWT. Kalau kita masih merasa berat menjual kepada Allah, Bukankah itu sangat memalukan?

Semua dari Allah, bahkan seandainya Allah mintapun pantas, tapi Allah tidak minta cuma-cuma. Allah menukar tambah dengan cara kita diminta membela agama Allah. Istilah yang digunakan Allah adalah “Membeli”.

Kalau sebagian dari waktu kita, harta kita, kita dedikasikan untuk kemuliaan Hidup dengan membela Syariat Allah, Allah tidak minta dengan cuma-cuma.
Itu yang disampaikan Imam Ibnu Katsir.

Adapun Imam Qurthubi mengatakan bahwa ayat ini menjelaskan kepada kita bahwa sah hukumnya dalam islam, Tuan bertransaksi dengan karyawannya. Atau orang bertransaksi dengan orang lain yang dibawah perlindungannya. Orang Tua bertransaksi dengan anaknya itu boleh.

Misalnya kita pernah memberi tanah kepada anak kita yang sudah menikah. Kemudian anak kita pindah tugas ke luar pulau dalam langka waktu lama. Akhirnya tanah yang dulu dihadiahkan ingin dijual karena kurang bermanfaat. Kemudian kita berfikir untuk membeli lagi tanah itu karena letaknya mungkin dekat dengan rumah kita, daripada jatuh ke orang lain. Imam Qurthubi mengatakan bahwa jual beli dengan anak ini boleh dilakukan, walaupun dulu tanah itu juga hadiah dari kita.
Ini hukum fiqih yang disarikan bahwa Allah saja membeli dari hambanya.

Hukum fiqih yang kedua terhadap Ayat 111 Surat At Taubah, dari Imam Al Qurthubi adalah Allah mengajarkan kita bahwa dalam jual beli pertimbangannya tidak hanya dan tidak harus semata-mata untung rugi materi.

Ketika kita membeli tanah milik anak kita maka pertimbangannya adalah kemaslahatan, bukan untung rugi materi semata-mata. Kemaslahatan nilainya bahkan jauh lebih besar daripada uang.

Hal di atas dicontohkan Allah dalam hadits Rasulullah SAW bersabda,

مَنْ بَنَى مَسْجِدًا لِلَّهِ كَمَفْحَصِ قَطَاةٍ أَوْ أَصْغَرَ بَنَى اللَّهُ لَهُ بَيْتًا فِى الْجَنَّةِ

“Siapa yang membangun masjid karena Allah walaupun hanya selubang tempat burung bertelur atau lebih kecil, maka Allah bangunkan baginya rumah seperti itu pula di surga.” (HR. Ibnu Majah)

Ketika kita menyumbang pembangunan masjid, Allah akan membangunkan untuknya sebuah Rumah di Surga. Ketika kita nyumbang mungkin tak seberapa, semen 10 zak, tapi Allah ganti dengan rumah di Surga.

Balasan itu biasanya dari jenis yang sama dengan perbuatannya. Tetapi kalau Allah membeli dari kita orang yang beriman, harganya dibayar selalu lebih besar dari barangnya.
Jual beli yang paripurna jika melampaui pertimbangan batas-batas materi yang sebenar terbatas. Ada inflasi.

Allah mencontohkan semua yang kita jual kepada Allah, Allah akan mengganti rumah di Surga.
Ada sebuah hadits dari imam Ahmad bahwa kapling dari rumah tersempit di Surga luasnya 7 kali luas langit dan bumi.

Tafsir Ibnu Katsir terhadap Surat Ali Imran 133

وَسَارِعُوا إِلَى مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالأرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَ}

Dan bersegeralah kalian kepada ampunan dari Tuhan kalian dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. (Ali Imran: 133)

Ketika orang kafir mendengarkan tentang ayat ini, mereka ketawa terbahak-bahak, meledek Rasulullah.
Mereka mengatakan :
“Ya Muhammad, bagaimana orang dapat rumah yang kaplingnya berkali-kali “luasnya langit dan bumi” ,seberapa itu luasnya?”

Nabi SAW menjawab :

“Kalian tidak bisa membayangkan luas kapling di Surga karena kalian baru hidup di dunia. Perumpamaan seperti anak yang buta sejak kecil, kemudian baru bisa melihat di malam hari”.
“Kemudian ada yang cerita ini malam hari ,maka gelap. Untuk melihat harus pakai lampu. Besuk ada Siang hari, semua yang gelap ini akan terang benderang”.
Orang buta yang baru saja tahu, bisa melihat di waktu malam. Dia tak percaya adanya Siang yang terang benderang. Dia bertanya : “Butuh lampu seberapa besar untuk membuat terang semua yang gelap?”.

Demikian Rasulullah menjawab dengan perumpamaan.


Apa yang ingin Allah beli dari kita semua?

1. Allah ingin membeli “anfusahum” yang artinya yang melekat pada diri mereka.

Ulama-ulama tafsir, antara lain As Sa’di mengatakan bahwa yang melekat dan berharga pada diri kita adalah waktu.
Waktu adalah yang paling berharga, maka ada surat Al Asri (waktu). Tak ada orang yang bisa membeli waktu. Sekaya apapun kita tak dapat membeli waktu.

Allah ingin membeli sebagian waktu kita. Dan itu tidak seberapa dari waktu kita. Kita jual waktu kita ke Allah dengan cara melakukan shalat. Sekali shalat paling 12 menit, katakan itu dihitung dari sejak mengambil wudhu. Dalam sehari kita shalat 5 kali. Jika dikalikan 12 menit akan jadi 1 jam.

Kalau masih ada yang merasa berat untuk shalat, kalau masih ada orang yang shalatnya masih dikalahkan untuk hal yang lain, maka pantas jika dia tidak layak mendapatkan hidup mulia dari Allah. Allah memberi waktu 24 jam kepada kita. Yang Allah minta untuk dibeli hanya 1 dari 24. Itupun akan dibayar berlipat ganda dengan Surga.

Kalau kita masih merasa berat menjual ke Allah, maka logika mana yang akan kita pakai?

Kita ilustrasikan ada tetangga kita tiap bulan hutang kepada kita 24 juta. Kemudian dia hanya mau membayar 1 juta. Kira-kira bagaimana perasaan kita yang memberi pinjaman? Pasti akan putus hubungan.

Namun Allah tidak begitu. Allah tiap hari memberi waktu 24 jam. Bukan tiap bulan tapi tiap hari. Dan kita malah diminta mengembalikan 1 saja dari 24 pinjaman waktu tadi.
Adakah kita masih merasa berat? Tidak pantas bagi kita jika merasa berat.

Kalau ada orang hutang ke Bank 24 juta tanpa riba dan dia hanya mengembalikan 1 juta. Apakah mungkin Bank mau memberi kemuliaan dan menjadikannya Nasabah Teladan? Tak mungkin.
Bisa jadi dia diblack list.
Namun Allah tidak seperti Bank. Allah akan memberikan kemuliaan Hidup bagi yang mau mengembalikan waktu walaupun cuma 1 jam saja.


2. Allah ingin membeli “amwaalahum” (sebagian dari harta).

Harta atau rezeki kita semua dari Allah. Dan Allah ingin membeli sebagian dari rezeki yang Allah kasihkan.

Kalau pada waktu jumatan, ada kotak infak lewat , uang apa yang akan kita berikan ? Uang yang kecil.
Kita tidak memberikan uang yang terbesar.

Allah memberi kita rezeki yang banyak
dan Allah menghendaki untuk membeli sebagian kecil dari harta kita agar Allah punya alasan memberikan kehidupan yang mulia. Kalau kita masih merasa berat, itu keterlaluan.

Di Jakarta di satu masjid saya pernah ditanya oleh ibu-ibu Pengajian tentang kewajiban zakat mal. Saya jawab 2,5%.

Ada jama’ah pengajian saya punya emas 3 kg alias 3000 gram. Ketika saya jelaskan bahwa ibu itu harus bayar zakat setelah setahun kira-kira 75 gram emas.
Komentar ibu tadi :
“Kok banyak sekali ? Lama-lama habis dong uang saya?”

laa hawla wa laa quwwata illa billah
Matematika mana yang mengajari bahwa 75 gram itu lebih banyak dibanding 3000-75 gram.?
Sisa harta kita amat banyak setelah dipotong zakat. Jangan melihat zakatnya. Kita masih dapat menikmati harta banyak setelah dipotong zakat.

Kalau kita masih keberatan membayar zakat yang hanya 2,5% maka memang kita tak pantas mendapatkan kemuliaan. Kita tak punya semangat untuk memperjuangkan Syariat Allah.

Logika Allah agar kita tidak merasa berat ketika kita menjual harta kita untuk syariat Allah agar hidup kita mulia, jangan melihat apa yang Allah ingin beli, tapi lihatlah apa yang disisakan oleh Allah untuk kita nikmati bersama keluarga.

Jangan sampai Allah menyimpulkan kita tidak layak menerima karunia dan NikmatNya sehingga kita akan dicampakkan kelak.
Jika diberi nikmat 100 juta, merasa berat menjual 2,5 juta berarti kapasitasnya memang tak sampai sekian.

Ketika kita harus membayar 25 juta berarti yang Allah berikan adalah 975 juta. Namun kalau zakat kita cuma 2,5 juta berarti nikmat yang pantas kita dapatkan cuma 97,5 juta.
Inilah logika jalan kemuliaan. Namun logika kita sering kalah sama hawa nafsu.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here