Dr.dr.H.Masrifan Djamil MPH.MMR

1 Shafar 1442 / 19 September 2020



Jangan lalai / lengah

Orang shalat/ berdo’a /berdzikir tidak boleh lengah dari apa yang dia ucapkan. Maka berdo’a sekedar apal, tak tahu maksudnya termasuk kategori ini.

Allah SWT berfirman:

وَا ذْكُرْ رَّبَّكَ فِيْ نَفْسِكَ تَضَرُّعًا وَّخِيْفَةً وَّدُوْنَ الْجَـهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِا لْغُدُوِّ وَا لْاٰ صَا لِ وَلَا تَكُنْ مِّنَ الْغٰفِلِيْنَ

“Dan ingatlah Tuhanmu dalam hatimu dengan rendah hati dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, pada waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 205)

Janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai! Ini penting sekali.

Ada pendapat beliau Imam Ghozali dalam kitab Ihya Ulumudin yang bagus sekali. Beliau mengatakan ini Hadits dari Abu Hurairah. Memang menurut pendapat ulama lain ini ditakhrij sebagai hadits dhoif tapi sangat logis.

“Kalau qolbu orang yang sedang shalat itu penuh dengan rasa takut kepada Allah, maka pasti semua anggota tubuhnya juga takut kepada Allah”.

Dipandang isinya hadits ini sinkron dengan Al Qur’an. Masih bisa dipandang sebagai logika berfikir, tapi jangan memastikan bahwa ini dari Rasulullah.


Pekerjaan Hati yang rutin

Berdo’a dan Dzikir adalah bermunajat kepada Allah —> munajat itu ada rangkaian huruf yang menjadi kata, dirangkai menjadi kalimat, maka jadilah ucapan yang disampaikan.

Jangan berdo’a yang kita tidak tahu maknanya. Saya pernah diundang teman dan disana ada do’a yang panjang sekali. Biasanya mendoakan para arwah yang sudah mendahului karena ada kematian pada keluarga yang terakhir, tapi sekaligus mendoakan pada arwah yang lain.
Namun yang dibaca sesuai untuk arwah itu hanya sepotong. Yaitu do’a yang ada di dalam shalat jenazah.

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ وَارْحَمْهُ وَعَافِهِ وَاعْفُ عَنْهُ وَأَكْرِمْ نُزُلَهُ وَوَسِّعْ مُدْخَلَهُ وَاغْسِلْهُ بِالْمَاءِ وَالثَّلْجِ وَالْبَرَدِ وَنَقِّهِ مِنَ الْخَطَايَا كَمَا نَقَّيْتَ الثَّوْبَ الْأَبْيَضَ مِنَ الدَّنَسِ وَأَبْدِلْهُ دَارًا خَيْرًا مِنْ دَارِهِ وَأَهْلًا خَيْرًا مِنْ أَهْلِهِ وَزَوْجًا خَيْرًا مِنْ زَوْجِهِ وَأَدْخِلْهُ الْجَنَّةَ وَأَعِذْهُ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَمِنْ عَذَابِ النَّارِ

“Ya Allah, berilah ampunan baginya dan rahmatilah dia. Selamatkanlah dan maafkanlah ia. Berilah kehormatan untuknya, luaskanlah tempat masuknya, mandikanlah ia dengan air, es dan salju. Bersihkanlah dia dari kesalahannya sebagaimana Engkau bersihkan baju yang putih dari kotoran. Gantikanlah baginya rumah yang lebih baik dari rumahnya, keluarga yang lebih baik dari keluarganya semula, istri yang lebih baik dari istrinya semula. Masukkanlah ia ke dalam surga, lindungilah ia dari adzab kubur dan adzab neraka” (HR Muslim).

Itu adalah doa untuk arwah.
Doa yang lainnya amat panjang tapi semua doa untuk yang masih hidup.
Maka hati-hati, kalau seseorang diberi tugas untuk berdo’a maka terbukalah ilmunya kepada yang hadir itu, dalam memimpin do’a.

Tiada arti suatu ucapan manakala tidak dilandasi kehadiran hati —> dalam bahasa kita “ngomyang” atau mengigau. Untuk merangkaikan doa perlu kehadiran qolbu bersama badan kita.


Setiap Ibadah ada Ujiannya

Imam Ghozali dalam hal ini sangat bagus sekali menggambarkan ujian.
Jika ibadah haji diuji dengan kesulitan berjalan jauh, kalau dari Indonesia sini kesana kita harus terbang 10 jam. Kadang berhenti di satu titik untuk mengisi bahan bakar.

Risiko perjalanan, penuh dengan berbagai orang yang tidak kita kenal dalam satu jama’ah. Dengan kondisi psikisnya yang beda-beda.
Ada yang suka menolong ,ada yang ingin menang sendiri, ada yang rupa-rupa.

Kemudian ritual yang melelahkan. Datang ke Jeddah dan Madinah dengan kesulitannya antri dan sebagainya. Itu adalah ujian semua.

Maka tentu shalat /do’a /dzikir ada ujiannya.

Ujiannya adalah mampukah seseorang melakukan pekerjaan hati, hadir hati yang melandasi ucapan (dzikir dan do’a) disertai gerakan-gerakan shalat?
Kalau hati adalah raja atau Komandan, maka dalam berdo’a, anggotanya atau tentaranya adalah lesannya.

Kalau shalat anggotanya adalah gerakannya. Dari tangannya, dari keningnya , dari punggungnya dan sebagainya.

Saya sering mengatakan : Ini rukuknya belum 90°. Harus latihan serius untuk rukuk perlu 90° supaya tidak sakit tulang belakang. Karena biasa dipakai untuk gerak 90°…
Kalau rukuknya baru 45° berarti belum rukuk! Coba kita cek diri kita masing-masing. Kalau perlu minta dipotret anaknya pada saat rukuk.
Apa benar sudah 90°? Kalau belum , usahakan agar bisa. Apalagi kalau masih muda. Harus benar-benar tumakninah.

Pelajaran dari Syeh Ali Jaber lewat TV.
Usaha untuk memperoleh shalat yang khusyuk bagi seorang makmum atau imam ketika shalat yang tidak jahr adalah berupa bisikan yang dapat didengar telinganya sendiri. Tetapi jangan sampai terlalu keras sehingga mengganggu jama’ah lainnya. Karena bisikan akan menuntun apakah kita ini tadi komplit , badannya dan qolbunya.

Maka berdo’a yang benar ialah dengan segenap hati, sekhusyuknya hati, sebenar-benarnya ucapan yang berupa munajat yang disampaikan kepada Allah, bukan sekedar hafalan
Maka pasti bergetar. Untuk supaya do’a didengar Allah dan bermanfaat untuk jamaah yang mendengarkan do’a kita harus fokus.


Kaifiyat Doa, Bagaimana Cara Berdo’a

Berdo’a itu Langsung kepada Allah

Kita tiap hari pasti mengucapkan :

اِيَّا كَ نَعْبُدُ وَاِ يَّا كَ نَسْتَعِيْنُ ۗ 

“Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami mohon pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah 5)

Tapi sering lupa dengan ini. Ngomongnya hanya kepada Engkau aku beribadah dan hanya kepada Engkau meminta tolong, tetapi kadang-kadang beda.

Allah SWT berfirman:

وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ 

“Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu..” (QS. Ghafir 60)

Kita diperintah untuk langsung.
ud’uuniii adalah perintah secara jamak karena pakai wau. Kalau tunggal tidak pakai wau seperti dalam ayat lain :
ud’u ilaa sabiili robbika bil-hikmati wal-mau’izhotil-hasanati…
“Serulah manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pengajaran yang baik.” (QS. An-Nahl 125)

Berarti jangan ragu-ragu kita langsung kepada Allah. Ini sering ditegaskan kalau bulan Ramadhan. Sudah jadi tradisi setiap tarawih ada taushiyah sebelum witir.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذَا سَاَ لَـكَ عِبَا دِيْ عَنِّيْ فَاِ نِّيْ قَرِيْبٌ ۗ اُجِيْبُ دَعْوَةَ الدَّا عِ اِذَا دَعَا نِ فَلْيَسْتَجِيْبُوْا لِيْ وَلْيُؤْمِنُوْا بِيْ لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُوْنَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu Muhammad tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka memperoleh kebenaran.” (QS. Al-Baqarah 186)

Jadi semua orang dekat kepada Allah, jangan sampai bilang yang dekat si A. Ini Allah yang mengatakan sendiri.
Syaratnya kita taat kepada Allah dan mengimani Allah. Jika kita yakin Allah itu dekat dan menerima do’a kita, mengapa kita ragu-ragu? Atau bahkan berdo’a lewat perantaraan benda atau orang yang sudah mati?
Sekali lagi, Qolbu anda diuji disini.


Berdo’a harus disertai Usaha


Berusaha, seperti ayat yang sering dibaca oleh Bung Karno.:

اِنَّ اللّٰهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتّٰى يُغَيِّرُوْا مَا بِاَ نْفُسِهِمْ ۗ 

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sebelum mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d 11)

Guru kita mengajarkan, meskipun sebanyak apapun orang yang berdo’a, kalau Allah menganggap doa itu tak perlu diijabahi maka tak akan terkabul. Contohnya dulu ada do’a bersama agar sepak bola Indonesia (PSSI) menang melawan Thailand, dihadirkan ulama-ulama di rumah Pak Aburizal Bakri. Namun PSSI tetap kalah.

Jadi harus ada usaha dulu, teknologi atau ilmunya dikuasai dulu. Kalau mau menang sepak bola ya teknik bermain bolanya diperbaiki dulu, setelah itu baru berdo’a.

Kita juga diajari dengan kisah Ibu Siti Hajar yang berlari-lari di Bukit Shofa Marwa tujuh kali, baru Allah memberikan air Zam Zam.

Ilustrasi lain, suatu jama’ah menyatakan : “Jangan takut kepada Virus Corona, takutlah kepada Allah”, namun setelah bubar Pengajian Akbar di Brebes saja yang positif Covid-19 belasan berasal dari jama’ah itu. Belum yang di daerah lain.


Redaksi Do’a

Redaksi do’a yang terbaik harus dari Al Qur’an dan Hadits. Jadi kita harus mengkaji do’a -do’a dari Al Qur’an dan Hadits. Di pasar banyak yang jual kumpulan do’a dari Al Qur’an dan Hadits. In syaa Allah benar.

Ada do’a yang fenomenal, yang langsung diijabahi. Salah satu contohnya adalah do’a Nabi Ibrahim a.s


رَّبَّنَآ إِنِّىٓ أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا۟ ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِىٓ إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Rabbanā innī askantu min żurriyyatī biwādin gairi żī zar’in ‘inda baitikal-muḥarrami rabbanā liyuqīmuṣ-ṣalāta faj’al af`idatam minan-nāsi tahwī ilaihim warzuq-hum minaṡ-ṡamarāti la’allahum yasykurụn

Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami, agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah- mudahan mereka bersyukur. (QS. Ibrahim : 37).

Ini doa Nabi Ibrahim ketika hijrah dari Mesir ke Mekkah dengan istri dan bayi. Kemudian ditinggal di lembah gersang.
Nabi Ibrahim berdo’a agar hati manusia cenderung ke Baitullah di Mekkah.

Dan ini terbukti. Orang ingin pergi haji. Yang sudah kesana ingin mengulang kembali ….itu berkat doa Nabi Ibrahim yang diijabahi Allah.
Seluruh buah ada di Mekkah walaupun tak ada pohonnya. Buah kesemek yang sulit dicari di Semarang saat ini, ternyata juga ada di Mekkah.

Do’a yang lain, kita amalkan kalau bisa lima waktu :

رَبِّ اجْعَلْنِيْ مُقِيْمَ الصَّلٰوةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۖ رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَآءِ

robbij’alnii muqiimash-sholaati wa ming zurriyyatii robbanaa wa taqobbal du’aaa`

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang yang tetap melaksanakan sholat, ya Tuhan kami, perkenankanlah doaku.” (QS. Ibrahim 40)

Kalau kita ingin keturunannya islam terus, shalat terus maka do’a ini harus dibaca.

Doa Nabi Yunus ketika berada dalam perut ikan Paus dan akhirnya dilempar ke pantai dan Nabi Yunus tetap sehat. Padahal di dalam perut ikan Paus banyak enzym yang bisa mencerna apa saja. Tetapi oleh Allah diselamatkan.

لَّاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنْتَ سُبْحٰنَكَ اِنِّيْ كُنْتُ مِنَ الظّٰلِمِيْنَ ۚ 

laaa ilaaha illaaa anta sub-haanaka innii kuntu minazh-zhoolimiin

“Tidak ada Tuhan selain Engkau, Maha Suci Engkau. Sungguh, aku termasuk orang-orang yang zalim.” (QS. Al-Anbiya 87)

Do’a Nabi Muhammad SAW untuk ibunya Abu Hurairah.

Abu Hurairah masuk islam sudah tua, sekitar 60 tahun. Mengikuti Rasulullah 4 tahun, tapi beliau mengabarkan hadits lebih dari 500 semuanya Shahih. Beliau mengeluh kepada Rasulullah : “Ya Rasulullah, ibu saya belum bisa masuk islam ..”
“Maksudmu bagaimana?”
“Mohon Rasulullah mendoakan ibu saya”.
Karena kalau Abu Hurairah pulang dia dimarahi ibunya sampai diguyur air oleh ibunya karena keislamannya. Tapi beliau sabar.

Begitu Rasulullah berdo’a , Abu Hurairah tak menyadari itu, kemudian pulang. Maa syaa Allah , ibunya berkata bahwa ibunya telah bersyahadat masuk islam. Mereka bertangis-tangisan. Luar biasa, ini adalah do’a-do’a yang langsung diijabahi.


Berdo’a itu Diwajibkan


وَقَا لَ رَبُّكُمُ ادْعُوْنِيْۤ اَسْتَجِبْ لَـكُمْ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ يَسْتَكْبِرُوْنَ عَنْ عِبَا دَتِيْ سَيَدْخُلُوْنَ جَهَنَّمَ دَا خِرِيْنَ

“Dan Tuhanmu berfirman, Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Aku perkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang sombong tidak mau menyembah-Ku akan masuk ke Neraka Jahanam dalam keadaan hina dina.”
(QS. Ghafir 60)

Para ulama sepakat menyimpulkan do’a itu wajib, karena orang yang tidak berdo’a disebut sombong.

Jadi pekerjaan kita sehari-hari adalah berdo’a terus. Rasulullah tak pernah berhenti dari berdo’a
– Memakai pakaian berdo’a
– Memakai sandal berdo’a
– Mau makan berdo’a
– Selesai makan berdo’a
– Masuk ke kamar mandi atau WC berdo’a
Apa saja beliau berdo’a.

Maka jawaban guru saya : “Kamu nanti akan dapat melaksanakannya…”
Karena setiap langkah kita selalu diikuti dengan do’a dan dzikir kepada Allah SWT.

Maka jangan mengikuti pada orang- orang yang sok pandai mengatakan :
“Berdoa kok terus-terusan, apa tidak malu sama Allah ?” – jangan. Dia keliru.

Nabi SAW, beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَسْأَلْ الله غَضَبَ اللهُ عَلَيْهِ

“Barangsiapa yang tidak mau meminta kepada Allah, Allah murka kepada orang tersebut.” (HR.Tirmidzi) .

Kita itu makhluk dan Allah itu Khaliq. Jadi kita tergantung pada Allah SWT.
– Iyyaka nakbudu wa iyyaka nastainu
– Allohu as Shomad.


Dimulai dengan Tahmid dan Sholawat

“Nabi SAW pernah mendengar seseorang memanjatkan doa dalam shalatnya, lalu ia tidak memanjatkan shalawat pada Nabi SAW. Beliau pun berkata, “Orang ini terlalu tergesa-gesa dalam doanya.” Kemudian beliau memanggilnya lalu menegurnya atau mengatakan pada lainnya :

إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ اللَّهِ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ لِيُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ لِيَدْعُ بَعْدُ بِمَا شَاءَ

“Jika salah seorang di antara kalian berdoa, maka mulailah dengan memuji Allah, menyanjung-Nya, lalu bershalawat pada Nabi SAW , lalu mintalah doa yang diinginkan.” (HR. Tirmidzi dan Abu Daud).

Maka banyak rangkaian do’a yang bagus-bagus dimulai dari Alhamdulillah, kemudian bershalawat pada Nabi.

Setelah itu isinya do’a, jangan lupa
ada rumus yang diberikan Allah kepada Nabi Nuh bahwa pertama yang harus kita sampaikan adalah istighfar. Karena Allah Maha Pengampun.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوْا رَبَّكُمْ ۗ اِنَّهٗ كَا نَ غَفَّا رًا ۙ (10) يُّرْسِلِ السَّمَآءَ عَلَيْكُمْ مِّدْرَا رًا ۙ (11) وَّيُمْدِدْكُمْ بِاَ مْوَا لٍ وَّبَنِيْنَ وَيَجْعَلْ لَّـكُمْ جَنّٰتٍ وَّيَجْعَلْ لَّـكُمْ اَنْهٰرًا ۗ (12)

“maka aku berkata kepada mereka , Mohonlah ampunan kepada Tuhanmu, sungguh, Dia Maha Pengampun, niscaya Dia akan menurunkan hujan yang lebat dari langit kepadamu, dan Dia memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan kebun-kebun untukmu dan mengadakan sungai-sungai untukmu.”
(QS. Nuh Ayat 10-12)

Jadi bahwa banyak anak banyak rejeki itu dari Allah. Semua yang ada di bumi ini dijamin rejekinya oleh Allah.
Jadi banyak anak banyak rejekinya asal mau berubah, tentu harus mau bekerja. Kemudian diberikan kebun-kebun dan sungai-sungai yang mengalir, sekarang sungai buntu, tahu-tahu hujan lebat dan terjadi banjir bandang.


Memimpin Do’a Berjamaah

– Menerima Khilafiyah, karena mungkin nanti ada saudara kita yang menolak do’a bersama dengan alasan tak ada tuntunannya.

– Kita terima dengan lapang dada kalau ada khilafiyah, karena memang Rasulullah berdo’a secara berjamaah hanya pada : Shalat Istisqa’, Qunut (bagi yang berpendapat ini diperintahkan) dan Qunut Nazilah dipastikan 5 kali dalam shalat waktu, kemudian diakhir khutbah. Di Indonesia sudah umum.

– Para ulama ternyata membolehkan, tetapi jangan menjadi rutin. Kalau menjadi rutin berarti membuat syariat baru. Hak prerogatif membuat ibadah itu pada Allah. Dan do’a adalah ibadah, maka ikuti aturannya.

– Maka jika ada pertemuan kita tidak apa sekali-sekali do’a bersama. Lain waktu do’a sendiri-sendiri membaca Al Fatihah.

Yang memimpin doa harus latihan.
Apa yang dibacanya, hatinya harus khusyuk. Dan harus mengerti maknanya.

Jangan keliru memimpin do’a bersama tapi membaca do’a hanya untuk dirinya. Menurut ustadz saya orang yang memimpin do’a seperti ini berkhianat pada jamaahnya.
Ini ada haditsnya kata beliau.
Orang yang memimpin do’a keliru, bisa jadi memang dia tidak faham. Tapi jika faham dia berkhianat.

Memimpin do’a bersama maka lafal do’a, redaksinya juga harus diubah menjadi jamak, kembali ke “kami”
misalnya saja :
Allohumaghfirli diganti Allohumaghfirlana dan seterusnya.
Oleh karena itu memilih Pemimpin do’a sama dengan memilih Imam Jamaah.

Ada do’a-do’a yang tak dapat dipakai untuk berjamaah, misalnya :
RODHITU BILLAHI ROBBA
WA BIL ISLAMI DIINA, ini khusus untuk sendirian. Demikian juga Sayidul Istighfar.

Tipsnya :
– Mengaji Al Qur’an dan menghafalkan doa Nabi.
– Usahakan membaca dengan fasih.
– Hindari bunyi “li” atau “ni”, cari yang “la-na”atau “na”.
Contoh doa yang aman adalah surat Al Hasyr ayat 10

رَبَّنَا اغْفِرْ لَـنَا وَلِاِ خْوَا نِنَا الَّذِيْنَ سَبَقُوْنَا بِا لْاِ يْمَا نِ وَلَا تَجْعَلْ فِيْ قُلُوْبِنَا غِلًّا لِّلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا رَبَّنَاۤ اِنَّكَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ

robbanaghfir lanaa wa li`ikhwaaninallaziina sabaquunaa bil-iimaani wa laa taj’al fii quluubinaa ghillal lillaziina aamanuu robbanaaa innaka ro`uufur rohiim

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami, dan janganlah Engkau tanamkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sungguh, Engkau Maha Penyantun, Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hasyr10)

– Mengamini do’a juga pada waktu yang tepat, diakhir do’a. Jangan mengamini terus pada waktu yang tak semestinya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here