Dr.dr.H.Masrifan Djamil MPH.MMR

1 Shafar 1442 / 19 September 2020



Qolbu yang sehat tunduk kepada Allah

Dalam diri kita ada qolbu yang oleh para ulama disebut Raja atau Komandan. Anggota tubuh yang lain adalah tentaranya. Kemudian ada pembagian Qolbu yang sehat, sakit, keras kemudian mati.

Qolbu yang sehat mengandung apa?
Qolbu yang sehat untuk mewujudkan apa-apa yang telah disebutkan dalam pengantar. Qolbu yang sehat dapat menerima ilmu dan meyakini bahwa Al Qur’an benar-benar dari Allah dan qolbu yang sehat tunduk kepada Allah

Allah SWT berfirman:
“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepada-Nya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hajj 54)

Supaya membuat kita enak hidup ini sudah diberi islam itu luar biasa.
Mengapa ketika kita berislam malahan bertengkar! Kan aneh?
Pernah suatu hari saya dibully di suatu Grup. Saya biarkan saja. Lama-lama mereka tidak membully karena saya sampaikan terus Surat Al Hujurat ayat 10 yang sudah kita sampaikan :
“BIARLAH KITA BERBEDA TAPI TETAP BERSAUDARA”


Kita memerlukan ikhtiar dan Do’a

Seluruh tolok ukur urusan-urusan kita itu agama. Do’a yang harus dibaca :

“Allahumma ashlih li dini alladzi huwa ishmatu amri, wa ashlih li dun-yaya al lati fiha ma’asyi, wa ashlih li akhirati al lati ilaiha ma’adi, waj’al al hayata ziyadatan li fi kulli khairin, waj’al al mauta rahatan li min kullisyarrin”.

(Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan penghidupanku, perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala kejahatan). (HR.Muslim).

Dengan ikhtiar dan do’a akan menghasikan qolbu yang hidup dan sehat : Iman, Mahabbah kepada Allah, Rasa Takut kepada Allah, Tunduk dan Patuh kepada Allah dan Rasul.
Kemudian menghasilkan pekerjaan qolbu yang rutin yaitu NIAT dan KHUSYUK pada waktu mengerjakan tiga hal yang mirip , yaitu :
Shalat – Dzikir – Do’a
Maka kita kelompokkan jadi satu.

Khusyuk itu fokus, kalau do’a tidak melenceng kemana-mana , maka syarat utama berdo’a adalah tahu maknanya. Para ulama menyampaikan kalau memang tak bisa hafal dan memahami do’a yang diajarkan Al Qur’an dan Nabi, pakailah do’a dengan redaksi dirimu sendiri. Dengan bahasa apapun, karena Allah memahami semua bahasa.

Pekerjaan qolbu itu rutin, kita diperintahkan dzikir 24 jam.
Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ (190) الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ(191)

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Ali ‘Imran Ayat 190-191)

Berarti baik ketika kita berdiri, duduk atau tiduran kita selalu berdzikir.
Berarti dzikir itu 24 jam.

Dulu ketika saya mengaji saya bingung tentang hal ini, kemudian bertanya kepada ustadz saya : “Apa mungkin berdzikir 24 jam?” Saat saya mendengarkan musik bagaimana?”
Jawaban guru saya : “Nanti kamu akan bisa menjalaninya …”
Lama-lama akhirnya bagi diri saya bunyi murotal menjadi lebih merdu daripada bunyi musik. Akhirnya di radio mobil yang ada juga hanya murotal atau taushiyah.

Kita mencari radio yang ada taushiyahnya. Maka kemudian dimana- mana saya menyarankan agar umat islam membuat Pemancar Radio. Ada yang komentar, sekarang tak ada yang mendengarkan radio.
Padahal di Solo, dimana-mana orang-orang dijalan, penjual Soto, pedagang kaki lima, mereka mendengarkan Radio MTA (Majelis Tafsir Al Qur’an).

Berarti radio itu penting. Kita harus mencapai bahwa suara murotal lebih indah dari pada lagu-lagu.
Mungkin suatu hari tidak perlu ada TV. TV hanya untuk alat memantau berita penting saja seperti perkembangan Covid atau perkembangan Indonesia, dunia dan lainnya.


Ikhtiarnya antara lain :

1. Melandasi Amal dengan Ilmu

Dari sini kita harus punya ilmunya. Semua hal yang kita kerjakan dalam ibadah harus punya ilmunya.

2. Menata hati dengan saran Imam Ghozali

Kita perlu belajar kitab Ihya Ulumudin. Kitab ini banyak dikaji di seluruh dunia karena mengajarkan Al Qur’an dan Hadits dipadukan dengan rasionalitas beliau, bagaimana membangun kekhusyukan itu.
– Beliau menyampaikan Al Qur’an, Hadits.
– Logika bagaimana agar orang mempunyai kekhusyukan.

3. Terus berdo’a.

اَللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ, وَمِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ, وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ, وَمِنْ دَعْوَةٍ لَا يُسْتَجَابُ لَهَا

Allahumma innii a’udzubika min ‘ilmi laa yanfa’u wa min qalbin laa yakhsya’ wa min nafsin laa tasba’ wa min da’watin laa yustajabu lahaa.

“Ya Allah, aku berlindung kepadamu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tidak khusyuk, hawa nafsu yang tidak pernah puas dan doa yang tidak dikabulkan oleh Allah.” (HR. Muslim)

Hati-hatilah memilih ilmu. Karena banyaknya orang di You Tube. Hati-hati dalam membuka You Tube. Memang di You Tube banyak juga yang bagus. Saya pernah komunikasi dengan KH Ahmad Rofiq, beliau satu Tim dengan saya, Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia. Beliau juga aktif di You Tube. Alhamdulillah gelombangnya sama.

Namun di You Tube saya menemukan yang aneh-aneh, ada ustadz atau yang dijuluki ustadz, berani-beraninya dia taushiyah di You Tube sama sekali tidak memakai Al Qur’an, Hadits dan hanya memakai logika. Ini kesesatan yang nyata.

Maka supaya benar kita perlu punya majelis taklim seperti ini, atau di masjid-masjid sendiri. Ini adalah upaya menjaga diri dengan ilmu untuk menjaga qolbu supaya tidak sesat. Qolbu terus hidup dan sehat, selalu bisa menjaga kekhusyukan.


Bagaimana Ikhtiarnya?

Pada dasarnya pekerjaan qolbu pada shalat dan do’a adalah sama, dilandasi iman, ma’rifatullah, khosyah dan sebagainya sebagai hasil hati yang hidup, sehat, bening yang dibantu aqal dan fuad.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ اِنَّكَ كَا دِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِ ۚ 

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.”
(QS. Al-Insyiqaq 6)

Pada dasarnya kita ini dalam perjalanan menuju Tuhan. Kalau ada teman yang masih lupa kita ingatkan. Kadang-kadang di medsos itu lucu- lucu :
“Kita sudah usia senja, 50 tahun ke atas. Sarannya macam-macam, disuruh enak-enak, santai-santai, ketemu-ketemu”.
Tak ada saran untuk menghadiri majelis taklim.

Padahal Rasulullah di usia 53 tahun malah kerja keras , pindah dari Mekkah menuju Madinah. Jadi justru kerja keras , justru menantang maut.

Di Madinah 10 tahun, tercatat mengalami perang 24 kali, dan dalam perang-perang itu beliau turun langsung sebagai panglima perang. Jadi di Madinah bukan santai-santai. Penuh tantangan dan kerja keras. Maka pembuat edaran di WA bagi orang yang usia 50 tahun ke atas tampaknya tidak memahami sejarah Nabi SAW atau tidak jelas agamanya.

Kalau sekarang usia 60, Rasulullah mengatakan bahwa usia umatnya antara 60-70 ; jangan mengatakan harus santai. Tetap kita beribadah dengan giat karena tujuan kita kesana.


Shalat Khusyuk

Ini penting karena tolok ukur orang mukmin adalah Shalatnya Khusyuk.

Allah SWT berfirman:

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ (1) الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَا تِهِمْ خَا شِعُوْنَ ۙ (2)

“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman, yaitu orang yang khusyuk dalam sholatnya,” (QS. Al-Mu’minun Ayat 1-2)

Kita harus berusaha terus menerus supaya shalatnya Khusyuk, memang tidak mudah.

Kalau kita shalat tapi shalat kita tak mampu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar berarti shalatnya tidak benar.

Ada satu hadits, meskipun Albani mengatakan ini hadits dhoif, tapi ada juga yang menshahihkannya :

مَنْ صَلَّى صَلاَةً لَمْ تَنْهَهُ عَنِ الفَحْشَاءِ وَالمنْكَرِ، لَمْ يَزْدَدْ بِهَا مِنَ اللهِ إِلاَّ بُعْدًا

“Barangsiapa yang melaksanakan shalat, lantas shalat tersebut tidak mencegah dari perbuatan keji dan mungkar, maka ia hanya akan semakin menjauh dari Allah.” (Dikeluarkan oleh Ath Thobari dengan sanad yang shahih dari jalur Sa’id bin Abi ‘Urubah dari Qotadah dari Al Hasan)

Harusnya dia ke kanan tapi dia malah ke kiri terus. Ini diibaratkan bagi orang yang shalatnya tidak benar.
Yang diperbaiki adalah qolbunya, bagaimana supaya khusyuk.


Shalat / Do’a itu berdzikir kepada Allah


Allah SWT berfirman:

اِنَّنِيْۤ اَنَا اللّٰهُ لَاۤ اِلٰهَ اِلَّاۤ اَنَا فَا عْبُدْنِيْ  ۙ وَاَ قِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ

“Sungguh, Aku ini Allah, tidak ada tuhan selain Aku, maka sembahlah Aku dan laksanakanlah sholat untuk mengingat Aku.” (QS. Ta-Ha 14)

Ayat ini juga merupakan hujjah kita bahwa satu-satunya wahyu di dunia ini yang menyatakan bahwa Tuhannya manusia itu bernama Allah, hanyalah islam. Allah memperkenalkan dirinya sendiri dan tak ada Tuhan lainnya. Shalat adalah juga dzikir.


Do’a adalah ibadah

Rasulullah SAW bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi )

Maka kita harus mengikuti tuntunannya, pedoman do’a, protokolnya, tidak boleh mengarang sendiri semau-mau kita.
Oleh karena itu kita wajib tahu ilmunya agar bisa berdo’a sesuai tuntunan yang disyariatkan dan diridhoi pemilik agama ini.

Qolbun Salim menuntun kita jangan sampai merasa sudah OK, padahal sebenarnya belum OK, tetapi tak mau mengaji.

Do’a identik dengan dzikir dalam hal kekhusyukannya. Maka jangan sampai do’anya panjang sekali tapi pada kenyataan tidak nyambung konteksnya.

Para ulama, termasuk dalam Kitab Ihya Ulumudin mengatakan :
Orang yang shalat / berdo’a adalah sedang bermunajat (bercakap-cakap) kepada Allah. Kalau kita bermunajat harus jelas omongannya. Lafalnya apa? Apa hanya huruf-hurufnya ? Huruf menjadi kata, kata menjadi kalimat.

Ada hadits dalam buku Ihya Ulumudin jilid 1 halaman 178 :
“Allah tidak melihat kepada shalat seseorang yang tidak hadir hatinya bersama badannya”.

Orang yang hadir hanya badannya berarti dia lengah, seperti orang mengigau atau “ngomyang” dalam bahasa Jawa, dia ngomong tapi tidak disadari.

Maka kita harus terus berusaha untuk khusyuk. Pekerjaan qolbu yang rutin ini harus kita kuasai betul.
Kendali harus ada pada diri kita, jangan sampai dikendalikan oleh yang lain.


BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here