Dr.dr.H.Masrifan Djamil MPH.MMR

1 Shafar 1442 / 19 September 2020



Membentuk Mindset Menerima Ilmu Islam

Rasulullah SAW biasa membaca doa: “Allahumma ashlih li dini alladzi huwa ishmatu amri, wa ashlih li dun-yaya al lati fiha ma’asyi, wa ashlih li akhirati al lati ilaiha ma’adi, waj’al al hayata ziyadatan li fi kulli khairin, waj’al al mauta rahatan li min kullisyarrin”.
(Ya Allah, perbaikilah agamaku yang merupakan penjaga urusanku, perbaikilah duniaku yang merupakan penghidupanku, perbaikilah akhiratku yang merupakan tempat kembaliku, dan jadikanlah hidup sebagai kesempatan untuk menambah setiap kebaikanku, dan jadikanlah kematian sebagai istirahat bagiku dari segala kejahatan). (HR.Muslim).

Do’a ini sangat dalam sekali. Kita minta kepada Allah supaya hidup kita ditata :
Agama kita nanti yang akan menjadi benteng atau tolok ukur semua urusan akan diukur dari agama.

Ini yang benar, jangan separuh- separuh seperti dikatakan orang :
“Jangan bawa-bawa agama..” .
Berarti sudah lepas dari do’a itu, karena semua hal dari bangun tidur sampai tidur kembali kita ditata oleh Allah dengan aturan agama.

Kita bersyahadat kepada Allah SWT dan Muhammad SAW. Maka kita rela semua urusan kita diatur dengan agama islam. Pernyataan tertingginya setiap pagi dan petang kita ucapkan 3x
“Rodliitu billaahi robban, wabil islaami diina wa bi Muhammadin Nabiyyan”.

Ketaatan kita mutlak kepada Allah dan RasulNya. Ada 33 ayat dalam Al Qur’an menyuruh kita taat kepada Allah dan RasulNya atau akibat ketaatan itu, yaitu kesejahteraan di dunia dan akhirat.

Agama ini bukan milik kita, agama ini milik Allah disampaikan kepada manusia melalui perantaraan wahyu kepada seorang Rasul yang terakhir Muhammad SAW.

Jangan sampai kita mengarang agama. Di zaman medsos ini kalau kita tidak menuntut ilmu, sangat berbahaya. Karena banyak orang dengan beraninya mengarang hadits palsu , mengarang amalan-amalan yang aneh-aneh , bermacam-macam semua ada di internet. Maka kita perlu hati-hati.

Dengan ilmu kita dapat menyaring mana yang benar dan mana palsu. Bila kita tidak tahu bisa ditanyakan kepada guru-guru di majelis.
Hak prerogatif dalam agama ada di Allah dan Rasulullah , maka dalam majelis ini yang harus menjadi format dalam qolbu kita adalah Kita Taat Pada Allah dan Rasul.

Allah SWT berfirman:

يَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الْاَ نْفَا لِ ۗ قُلِ الْاَ نْفَا لُ لِلّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ ۚ فَا تَّقُوا اللّٰهَ وَاَ صْلِحُوْا ذَا تَ بَيْنِكُمْ ۖ وَاَ طِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗۤ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang harta rampasan perang. Katakanlah, Harta rampasan perang itu milik Allah dan Rasul , maka bertakwalah kepada Allah dan perbaikilah hubungan di antara sesamamu, dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Anfal 1)

“wa athii’ulloha wa rosuulahuuu ing kungtum mu`miniin”. (taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya jika kamu orang-orang yang beriman)
Inilah yang penting. Jadi dalam membahas agama kita tidak boleh lepas-lepas dalam hal begini.

Kita harus punya format.
Ada atau tidak perintahnya dari Allah? Tuntunannya dari Rasulullah? Persetujuan dari Rasulullah baik ucapan atau tindakan ?
Kalau memang ada, mari kita amalkan.

Kalau tidak ada, Rasulullah sendiri sudah pernah menyampaikan dalam satu kesempatan :
“Kamu sekalian nanti akan menghadapi ujian”.

Ujian yang dimaksud adalah ikhtilaf yang banyak. Kemudian beliau menambahkan
“Untukmu sunnahku, dan Sunnah Khulafaur Rasyidin al Mahdiyin”.

Khalifah itu banyak, kemudian Para Ulama kemudian mencari Khalifah yang mana yang harus diikuti? Kemudian sampai pada kesimpulan yaitu Khalifah yang pertama, yang empat itu. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi SAW bahwa waktunya beliau yang paling bagus.

Rasulullah SAW bersabda,
Sebaik-baik manusia adalah generasiku (generasi sahabat), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (generasi tabi’in), kemudian orang-orang yang mengiringi mereka (generasi tabi’ut tabi’in). (Hadits Bukhari Muslim).

Di dalam surat Ali Imran juga disebutkan :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah (Muhammad), Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 31)

Tugas kita adalah mengikuti apa-apa yang ada di dalam Al Qur’an dan Sunnah Nabi. Kalau mengikuti Rasulullah kita akan dicintai Allah dan diampuni dosa-dosanya.

Suatu hari Rasulullah pernah bersabda bahwa Allah memberikan pendelegasian kepada Nabi Muhammad dalam kehidupan sehari -hari untuk kita ikuti. Rasulullah SAW adalah teladan yang baik.

Kalau kita telah menemukan format agama seperti ini , maka akan enak mengikuti agama islam , tidak susah kalau menghadapi ikhtilaf.
Formatnya Ikut Allah dalam Al Qur’an , ikut Rasulullah semua sunahnya, baik yang diucapkan, baik yang diamalkan, baik yang menjadi persetujuannya.

Persetujuan Rasulullah misalnya beliau menyetujui apa yang dikerjakan oleh Bilal bin Rabbah.

Bilal bin Rabbah setiap kali wudhu langsung melaksanakan Shalat. Sekarang kita beri nama shalat Thuhur, tadinya tidak ada namanya. Shalat dua rakaat setelah wudhu. Itulah yang membuat Rasulullah suatu hari bertanya karena mendapat khabar bahwa terompahnya Bilal itu terdengar di surga. Berarti Bilal bin Rabbah dijamin masuk Surga.

Dari Buraidah r.a , ia berkata :
“Suatu pagi Rasulullah SAW memanggil Bilal. Kemudian beliau bersabda, ‘Wahai Bilal, dengan amal apa kamu mendahului diriku di surga? Sungguh semalam aku memasuki surga. Aku mendengar derap bersuara sandalmu di depanku.”
Bilal menjawab, “Wahai Rasulullah, tidaklah aku melakukan suatu dosa sama sekali melainkan setelahnya aku sholat dua rakaat. Dan tidaklah diriku berhadats , melainkan aku langsung wudhu lagi dan sholat dua rakaat.”
Rasulullah SAW berkomentar, “Dengan amalan inilah engkau begitu cepat masuk surga.” (HR. al-Hakim).

Bilal melakukan shalat dan didiamkan Rasulullah maka menjadi persetujuannya atau menjadi sunnah taqrir. Ada ustadz yang menulis buku, yang berbeda dengan yang saya sampaikan. Dalam buku itu ustadz menulis bahwa bid’ah terjadi sejak Rasulullah masih hidup.

Maa syaa Allah,
Yang dilakukan Bilal bin Rabbah bukanlah bid’ah karena telah disetujui langsung oleh Rasulullah. Itu bukan bid’ah tetapi Sunnah Taqrir.

Kalau kita mempunyai format seperti itu nanti in syaa Allah akan terjaga selamanya. Banyak sekali petunjuk Al Qur’an dan Hadits agar kita tetap digaris itu : Mengikuti Allah dan Rasulnya.

Yang paling sering dibaca oleh para ulama adalah surat An Nisa 59 :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ فَاِ نْ تَنَا زَعْتُمْ فِيْ شَيْءٍ فَرُدُّوْهُ اِلَى اللّٰهِ وَا لرَّسُوْلِ اِنْ كُنْـتُمْ تُؤْمِنُوْنَ بِا للّٰهِ وَا لْيَـوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ ذٰلِكَ خَيْرٌ وَّاَحْسَنُ تَأْوِيْلًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian, jika kamu berbeda pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasul, jika kamu beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu, lebih utama dan lebih baik akibatnya.”
(QS. An-Nisa’ 59)

Hal ini menjadi format kita, menjadi mindset kita, menjadi cara pandang kita atau paradigma kita dalam melakukan ibadah.

Karena do’a itu adalah ibadah.
Rasulullah SAW bersabda,

الدُّعَاءُ هُوَ العِبَادَةُ

”Doa adalah ibadah.” (HR. Tirmidzi )

Karena do’a adalah ibadah maka kita tak boleh mengarang, berdo’a semau-maunya.
Contohnya suatu hari ada do’a yang diiringi lagu di TVRI, ini tidak benar karena tidak ada dalam islam bahwa do’a diiringi lagu.

Tidak boleh suatu ibadah dicampur-campur. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَـقَّ بِا لْبَا طِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَـقَّ وَاَ نْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dan janganlah kamu campur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan janganlah kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS. Al-Baqarah 42)

Perintah ini kepada Bani Israel tetapi tidak dihapus. Jadi berlaku untuk kita. Janganlah kita mencampurkan antara yang hak dengan yang bathil.

Para Sahabat dulu luar biasa. Begitu mengucapkan Syahadat, mereka secara total meninggalkan hal-hal yang tidak sesuai dengan ajaran islam.
Di Indonesia ini kalau ada yang begitu disebut dengan “Hijrah”. Ini kalimat bagus tapi jangan sampai dicap dengan kalimat Radikal. Mereka itu berusaha mengikuti islam dengan sungguh-sungguh.

Hidayah itu mahal, tidak dengan serta merta datang, tapi dengan upaya yang luar biasa. Pernah saya sampaikan dalam kajian bulan Dzulhijjah bagaimana seseorang memperoleh hidayah.


Bagaimana kalau ada ikhtilaf ?

Bagi kaum muslimin wajib belajar Al Qur’an dan Sunnah Nabi terus menerus agar amalnya dilandasi ilmu yang benar, sesuai tuntunan Allah dan RasulNya.

Termasuk yang akan kita bahas “Pekerjaan Hati Rutin : Berdo’a”.(dalam rangkaian yang sama dengan shalat dan dzikir).

Kita ini berjamaah merajut ukhuwah islamiah. Ada yang dari Riau, ada yang dari Padang, ada yang dari Bengkulu, ada yang dari Kalimantan Selatan dan ada yang dari Jawa.

Kita menyadari adanya khilafiyah. Berbeda tidak masalah, karena kita masing-masing perjalanannya berbeda. Pengalaman rohaniahnya berbeda. Mengaji dari kecil menemukan materi yang mungkin berbeda. Tahu-tahu apa yang kita amalkan berbeda tidak masalah.

Kita tetap dikunci oleh Allah dalam surat Al Hujurat ayat 10 :

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.” (QS. Al-Hujurat 10)

Sebeda -bedanya kita tetap islam, jadi harus bersaudara. Kita tahu bagaimana persaudaraan islam :
Sebagaimana persaudaraan antara kaum Muhajirin dan Anshor, misalnya yang kita kenal kisah Abdurrahman bin Auf dipersaudarakan oleh Rasulullah dengan orang Madinah : Saad bin Rabi’ Al Anshori.

Mengapa kita tidak bisa?
Sesama islam jangan sampai tidak bersaudara hanya karena perbedaan amalan yang sifatnya khilafiyah. Karena kita dengan majelis taklim ini ingin merajut ukhuwah islamiah menembus batas pulau, profesi, madzhab, suku dan lain-lain.

Kondisi sekarang malah sama, siapa yang qunut Subuh sudah sama dengan
yang tidak qunut Subuh. Karena Rasulullah menganjurkan kalau situasi seperti ini (pandemi), kita lakukan qunut nazilah. Shalat lima waktu qunut terus. Doanya bagaimana? Ya kalau tidak hafal kita belajar menghafalkan.

Lama-lama kita akan sama, kalau semua belajar tentang apa itu islam, pasti mengerucut bertemu satu titik.
Ketemu hatinya sebagai saudara.
Ketemu amaliahnya, beda-beda tidak masalah.


BERSAMBUNG

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here