Dr. H. Zuhad Masduki

28 Muharram 1442 / 16 September 2020



Dalam kajian kita, tidak sekedar menjelaskan arti, tapi kita juga berusaha untuk menjelaskan kaidah-kaidah yang mungkin terkait untuk memahami Al Qur’an. Supaya kita dengan kajian ini bisa mengembangkan lebih lanjut. Bukan sekedar kita membaca tafsir dari surat terkait saja.


Tafsir Ayat-ayat At Takasur

Ini adalah kaidah yang akan kita pakai dalam menafsirkan Surat At Takasur


Ayat 1 Surat At Takasur

اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ ۙ 

al-haakumut-takaasur

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu,” (QS. At-Takasur 102: Ayat 1)

“al-haakum” dari kata lahwun. la-haa lalu ditambah alif atau hamzah didepan sehingga menjadi al-haa, melengahkan. Kata lahwun artinya menyibukkan diri dengan sesuatu sehingga mengabaikan yang lain yang biasanya lebih penting.

Lahwun belum tentu buruk. Misalnya, main catur karena keterlaluan sampai meninggalkan kewajiban -kewajiban agama misalnya shalat. Catur sendiri merupakan sesuatu yang baik, tapi kemudian dia melengahkan yang bermain catur dari kewajiban -kewajiban yang harus dilakukan. Itu namanya lahwun. Maka alat-alat musik disebut dengan lahwun. Obyek-obyek yang sering melalaikan orang dari tugas-tugas pokok, kewajiban yang harus dilaksanakan.

kata “takaasur” dari kata katsir, katsura artinya banyak. Ditambah ta’ di depan dan alif di tengah. Menjadi takaatsara. Dalam bahasa Arab, artinya pekerjaan dilakukan dua orang atau lebih. Atau saling berbanyak-banyak.
Terjemahan secara teknisnya adalah “Persaingan tidak sehat”.
Menunjukkan adanya dua pihak atau lebih yang bersaing. Semua berusaha untuk memperbanyak seakan-akan sama mengaku memiliki lebih banyak dari pihak saingan.

Tujuannya adalah berbangga-bangga dengan kepemilikannya dalam bentuk perhiasan atau gemerlapnya duniawi, apapun bentuknya. Serta usaha untuk memilikinya sebanyak mungkin tanpa menghiraukan norma dan nilai-nilai agama. Ini yang dikecam.
Seseorang boleh berusaha untuk memperoleh banyak harta dengan cara halal dan pentasyarufannya sesuai dengan petunjuk agama.

Kalau kita lihat di dalam Al Qur’an yang melengahkan orang, disebut dalam Al Qur’an paling tidak ada 4.

1. Angan-angan kosong

ذَرْهُمْ يَأْكُلُوْا وَيَتَمَتَّعُوْا وَيُلْهِهِمُ الْاَ مَلُ فَسَوْفَ يَعْلَمُوْنَ

“Biarkanlah mereka makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan kosong mereka, kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatannya.” (QS. Al-Hijr 15: Ayat 3)

2. Tijaroh atau Perdagangan.

رِجَا لٌ لَّا تُلْهِيْهِمْ تِجَا رَةٌ وَّلَا بَيْعٌ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ وَاِ قَا مِ الصَّلٰوةِ وَ اِيْتَآءِ الزَّكٰوةِ ۙ يَخَا فُوْنَ يَوْمًا تَتَقَلَّبُ فِيْهِ الْقُلُوْبُ وَا لْاَ بْصَا رُ ۙ 

“orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan jual-beli dari mengingat Allah, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada hari ketika hati dan penglihatan menjadi guncang (hari Kiamat),” (QS. An-Nur 24: Ayat 37)

Ini adalah pujian bagi mereka yang tidak lalai dari dzikir pada Allah SWT

3 dan 4. Harta benda dan Anak-anak

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا لَا تُلْهِكُمْ اَمْوَا لُكُمْ وَلَاۤ اَوْلَا دُكُمْ عَنْ ذِكْرِ اللّٰهِ ۚ وَمَنْ يَّفْعَلْ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْخٰسِرُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah harta bendamu dan anak-anakmu melalaikan kamu dari mengingat Allah. Dan barang siapa berbuat demikian, maka mereka itulah orang-orang yang rugi.” (QS. Al- Munafiqun 63: Ayat 9)


Kaidah bila muta’alaq bihi dibuang

Ada satu kaidah penting dalam memahami Al Qur’an :
Kalau obyek atau sesuatu yang terkait dengan redaksi (muta’alaq) dibuang maka maknanya menjadi bersifat umum.


اَلْهٰٮكُمُ التَّكَا ثُرُ ۙ (1) حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَا بِرَ ۗ (2)

“Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur.” (QS. At-Takasur 102: Ayat 1-2)

Terjemahan secara teknisnya adalah Persaingan tidak sehat. Persaingan tidak sehat itu dalam bidang apa?

Ternyata di dalam ayat di atas tidak disebutkan persaingan apa. Karena tidak disebut maka maknanya menjadi luas mencakup segala hal.

Kita bisa mengatakan yang bisa melalaikan orang itu persaingan tidak sehat dalam bidang Materi, bisa Keilmuan, bisa jabatan, bisa urusan politik, urusan bisnis, persoalan keluarga bahkan anak-anak!
Bisa macam-macam dan kita bisa mengidentifikasi sebanyak-banyaknya, segala sesuatu yang terkait dengan persaingan tidak sehat.

Kita bisa membandingkan dengan ayat lain, tentang pembuangan obyek.
Allah SWT berfirman:

اِقْرَأْ بِا سْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَ ۚ 

“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan,”
(QS. Al-‘Alaq 96: Ayat 1)

Kata iqro’ adalah perintah membaca. Dan kata ini adalah kata kerja transitif yang harusnya punya obyek. Tetapi obyeknya tidak disebut. Sehingga apa yang harus dibaca maknanya menjadi luas. Kalau diidentifikasi yang harus dibaca bisa Al Qur’an, bisa majalah, bisa peristiwa harian, bisa diri sendiri, bisa keadaan masyarakat. Segala sesuatu bisa dibaca.

Kata kholaqa , juga kata kerja transitif. Harusnya mempunyai obyek. Tetapi obyeknya juga tidak disebut.
Pertanyaannya Allah itu menciptakan apa ? Dia menciptakan segala sesuatu : Alam semesta, manusia, binatang, tumbuh-tumbuhan dan semuanya yang ada di alam semesta.

Contoh lain dalam surat An Nahl

فَسْــئَلُوْۤا اَهْلَ الذِّكْرِ اِنْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ ۙ 

“..maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui,” (QS. An-Nahl 16: Ayat 43)

Perintah bertanya kepada pakar kalau kita tidak tahu. Tetapi disini tidak disebut ahli dzikri, orang yang pandai itu tentang apa?

Maka kita bisa mendaftar sebanyak mungkin pakar-pakar yang memang harus menjadi rujukan ketika kita tidak tahu.
Pakar itu bisa dalam bidang agama, bidang sosial, bidang ekonomi, bidang politik, bisa urusan kesehatan, urusan pertanian, urusan bisnis dan lain-lain.
Kalau kita tidak tahu harus bertanya kepada pakar yang terkait dengan apa yang mau kita tanyakan.

Contoh lain lagi :

فَاِ نْ خِفْتُمْ فَرِجَا لًا اَوْ رُكْبَا نًا ۚ فَاِ ذَاۤ اَمِنْتُمْ فَا ذْکُرُوا اللّٰهَ کَمَا عَلَّمَکُمْ مَّا لَمْ تَكُوْنُوْا تَعْلَمُوْنَ

“Jika kamu takut ada bahaya, sholatlah sambil berjalan kaki atau berkendaraan. Kemudian apabila telah aman, maka ingatlah Allah (sholatlah), sebagaimana Dia telah mengajarkan kepadamu apa yang tidak kamu ketahui.”(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 239)

Ayat ini memerintahkan kalau kita dalam keadaan takut, maka kita diperintahkan shalat sambil berjalan atau sambil naik kendaraan. Kemudian setelah aman baru shalat seperti apa yang telah diajarkan.

Diayat itu tidak disebut takut apa? Maka apa yang ditakuti bisa banyak sekali bila diidentifikasi. Bisa takut karena dalam keadaan perang, atau keadaan genting yang kita tidak bisa melakukan shalat secara wajar.

Dalam keadaan takut shalatnya dapat mengabaikan gerakan-gerakan. Bacaan-bacaan juga tidak harus dibaca seperti dalam keadaan aman. Bahkan mungkin hanya menggunakan isyarat-isyarat saja.

Karena ayat sebelumnya menyatakan :

حَا فِظُوْا عَلَى الصَّلَوٰتِ وَا لصَّلٰوةِ الْوُسْطٰى وَقُوْمُوْا لِلّٰهِ قٰنِتِيْنَ

“Peliharalah semua sholat dan sholat wusta. Dan laksanakanlah sholat karena Allah dengan khusyuk.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 238)


Ayat kedua Surat At Takasur

حَتّٰى زُرْتُمُ الْمَقَا بِرَ ۗ 

hattaa zurtumul-maqoobir

“sampai kamu masuk ke dalam kubur.”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 2)

Kata ‘zurtum’ dari kata Ziaroh yang artinya berkunjung ke suatu tempat, bukan untuk menetap dan waktunya hanya sebentar.

Seperti saat kita Haji itu ziarah ke Mekkah, disana waktunya 40 hari. Orang ziarah kubur juga hanya sebentar, hanya beberapa menit saja. Termasuk orang di dalam kubur juga tidak selamanya. Karena setelah hari kebangkitan dia akan pindah ke alam yang lain.


Ada dua makna tentang ‘maqoobir’

Tafsir pertama :

Ini menurut penafsiran Ahli Tafsir wanita dari Mesir Bintusy Syathi’ bernama asli Aisyah Abdurrahman.
Orang-orang melakukan persaingan tidak sehat itu, saling mengungguli dia lebih banyak dari yang lain sampai ziarah ke kubur-kubur.

Kalau orang itu banyak pengikut, dia sampai menunjukkan banyaknya pengikut yang telah dimakamkan.

kata “maqoobir” itu jamak dari jamak.
Kalau satu itu qabr, beberapa kuburan namanya maqbaroh. Disitu banyak makam. Kalau jumlah maqbaroh ini banyak menjadi maqoobir.
Betapa keterlaluannya orang yang dimaksud dalam ayat ini. Untuk menunjukkan banyaknya jumlah pengikut sampai menghitung ke makam-makam.

Tafsir yang kedua :

Sampai orang itu mati. Orang bersaing tidak sehat tidak akan behenti, kecuali dia sudah mati.

Kedua makna tafsir di atas dapat dipakai semua.

Menurut Tafsir Al Munir tulisan Wahbah Zuhaili , dalam menafsirkan ayat pertama, dia mengutip hadits
Qotadah, ia berkata,
“Aku pernah mendatangi Nabi SAW membaca ayat :

أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ

”sungguh berbangga-bangga telah melalaikan kalian dari ketaatan”

lantas beliau bersabda,

يَقُولُ ابْنُ آدَمَ مَالِى مَالِى – قَالَ – وَهَلْ لَكَ يَا ابْنَ آدَمَ مِنْ مَالِكَ إِلاَّ مَا أَكَلْتَ فَأَفْنَيْتَ أَوْ لَبِسْتَ فَأَبْلَيْتَ أَوْ تَصَدَّقْتَ فَأَمْضَيْتَ

“Manusia berkata, “Hartaku-hartaku.” Beliau bersabda, “Wahai manusia, apakah benar engkau memiliki harta? Bukankah yang engkau makan akan lenyap begitu saja? Bukankah pakaian yang engkau kenakan juga akan usang? Bukankah yang engkau sedekahkan akan berlalu begitu saja?” (HR. Muslim)

Harta kita cuma tiga :
– Makanan yang kita makan sampai habis
– Pakaian yang kita pakai sampai rusak
– Harta benda yang kita sedekahkan sampai habis.

Kita perlu merenungkan bahwa kita perlu banyak sedekah. Karena itulah harta kita sebenarnya. Betul-betul milik kita sampai ke akhirat nanti.
Wahbah Zuhaili juga mengutip hadits Anas bin Malik r.a , ia berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda,

يَتْبَعُ الْمَيِّتَ ثَلاَثَةٌ ، فَيَرْجِعُ اثْنَانِ وَيَبْقَى مَعَهُ وَاحِدٌ ، يَتْبَعُهُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ وَعَمَلُهُ ، فَيَرْجِعُ أَهْلُهُ وَمَالُهُ ، وَيَبْقَى عَمَلُهُ

“Yang mengikuti mayit sampai ke kubur ada tiga, dua akan kembali dan satu tetap bersamanya di kubur. Yang mengikutinya adalah keluarga, harta dan amalnya. Yang kembali adalah keluarga dan hartanya. Sedangkan yang tetap bersamanya di kubur adalah amalnya.” (HR. Bukhari Muslim)


Ziarah Kubur

Termasuk persoalan yang disunahkan. Memang dulu Nabi pernah melarang orang ziarah Kubur.
Hadits dari Buraidah Ibnul Hushaib r.a , Rasulullah SAW bersabda,

كنت نهيتكم عن زيارة القبور، فزوروها

“Dahulu aku melarang kalian berziarah kubur, maka sekarang berziarahlah”
(HR Muslim).

Dalam kajian hadits dijelaskan kenapa Nabi melarang orang ziarah kubur karena motivasinya tidak benar. Ziarah kubur yang benar motivasinya mengingatkan kita kepada kematian. Ziarah kubur menjadi tidak benar kalau dikuburan kita melakukan tawazulan. Meminta tolong kepada arwah-arwah yang dimakamkan dikubur itu.

Di awal-awal islam, ziarah kubur dilarang karena masih terpengaruh takhayul, bid’ah dan Churafat dari zaman jahiliyah. Kemudian Rasul memberi pencerahan kepada mereka. Setelah mereka faham, barulah mereka dibolehkan untuk melakukan ziarah kubur.

Kalau hadits di atas kita fahami dalam konteks sekarang, kalau motivasinya masih belum benar, maka Ziarah kubur menjadi haram. Masyarakat harus dicerahkan dulu. Mereka yang ziarah itu mendoakan kepada yang meninggal, bukan minta didoakan seperti orang zaman jahiliyah .

Larangan tetap jalan kalau alasan ada. Bila alasan tidak ada, baru dibolehkan.
Dalam diktum hukum :

الحكم يدور مع العلة المأثورة وجودا وعدما

“Al-hukmu Yaduuru Ma’a Al-‘‘illati Wujudan wa ‘Adaman”
(keberadaan hukum itu berputar pada keberadaan “‘illat” (sebab)-nya. Ada “‘illat” ada hukum, tak ada “‘illat” tak ada hukum).

Maka marilah kita berikan pencerahan kepada masyarakat menyangkut kegiatan-kegiatan ziarah kubur.
Hal ini berkaitan dengan akidah. Kalau sampai salah langkah hal ini punya dampak serius di belakang hari nantinya. Dapat membawa kepada Syirik terhadap Allah SWT.


Keyakinan Hari Sial

Biasanya di bulan Muharram seperti saat ini ada masyarakat yang mempunyai kepercayaan tentang hari sial.

Memang di dalam Al Qur’an ada istilah hari sial, tetapi bukan hari-hari tertentu yang menurut orang-orang kalau mengadakan kegiatan akan membawa kesialan. Itu disebut di dalam Surat Al Qamar (54) : 19, surat Fussilat (41) :16 dan Surat Al Haqqah (69):7.

Ketika hukuman ditimpakan kepada orang yang durhaka, maka hari itu hari sial, tapi tidak sial bagi yang lain.
Kalau kita sampai mempercayai adanya hari-hari sial, kita termasuk syirik, karena yang mengatur hari-hari adalah Allah SWT. Kalau orang mempercayai hari sial berarti meyakini adanya oknum lain yang ikut mengatur hari-hari. Hal ini istilahnya syirik khafi (syirik tersembunyi) yang berbahaya kalau kita melakukan hal itu.


Ayat ke 3 dan ke 4 Surat At Takasur


كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ۙ 
kallaa saufa ta’lamuun

“Sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu itu”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 3)

Dampak dari persaingan tidak sehat dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat. Di duniapun dia akan mengalami banyak masalah, antara lain :
– Permusuhan, saling mendengki, saling menghancurkan.
– Apalagi dalam bidang politik, dampaknya sangat buruk
– Dalam bidang ekonomi juga berdampak buruk.
– Dalam bidang sosial
– Di akhirat dampaknya serius karena yang bersangkutan akan mendapatkan hukuman dari Allah SWT.

Allah memberi penegasan pada ayat yang ke empat :

ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُوْنَ ۗ 

summa kallaa saufa ta’lamuun

“kemudian sekali-kali tidak! Kelak kamu akan mengetahui.”
(QS. At-Takasur 102: Ayat 4)

Allah SWT pasti akan memenuhi janjinya itu, menghukum orang-orang yang melakukan persaingan tidak sehat, sebagaimana ditegaskan Allah dalam Surat Ar Rum.

Allah SWT berfirman:

وَعْدَ اللّٰهِ ۗ لَا يُخْلِفُ اللّٰهُ وَعْدَهٗ وَلٰـكِنَّ اَكْثَرَ النَّا سِ لَا يَعْلَمُوْنَ() يَعْلَمُوْنَ ظَاهِرًا مِّنَ الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۖ وَهُمْ عَنِ الْاٰ خِرَةِ هُمْ غٰفِلُوْنَ

“Itulah janji Allah. Allah tidak akan menyalahi janji-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.
Mereka mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap kehidupan akhirat mereka lalai.” (QS. Ar-Rum Ayat 6-7)

Kesimpulannya kita perlu mendalami agama lebih baik lagi untuk menajamkan pemahaman- pemahaman kita tentang agama.

Surat ini turun di Mekkah, jadi memang dalam rangka penguatan keimanan kita kepada Hari Akhir.

Kalau kita lihat di Al Qur’an, dari rukun iman yang enam itu, yang paling pokok dua :
– Iman kepada Allah
– Iman kepada Hari Akhir
Rangkaian iman kepada hari akhir adalah adanya Kebangkitan dan Pertanggung jawaban terhadap amal perbuatan kita.

Kalau manusia imannya kepada hari akhir kuat, maka dampaknya dalam kehidupan di dunia dia akan menjadi baik dan semakin hari akan semakin baik. Tapi kalau imannya kepada Hari Akhir lemah maka indikatornya orang itu menjadi buruk dan semakin hari dia semakin buruk.


Ayat 5,6 dan 7 Surat At Takasur


كَلَّا لَوْ تَعْلَمُوْنَ عِلْمَ الْيَقِيْنِ ۗ (5) لَتَرَوُنَّ الْجَحِيْمَ ۙ (6) ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِيْنِ ۙ (7)


“Sekali-kali tidak! Sekiranya kamu mengetahui dengan pasti, niscaya kamu benar-benar akan melihat Neraka Jahim, kemudian kamu benar- benar akan melihatnya dengan mata kepala sendiri,” (QS. At-Takasur 102: Ayat 5 -7)

Ayat ini membagi yakin menjadi beberapa tingkatan.
– ilmul yakin
– ainul yakin
– hakkul yakin

Kalau kita membaca peta, kita tahu ada kota namanya Mekkah. Pengetahuan kita tentang adanya kota Mekkah namanya ilmul yakin.
Kalau kemudian kita sudah naik Haji sekali kesana dan melihat kota Mekkah maka itu namanya ainul yakin.
Kemudian kita berulang kali kesana sehingga hafal jalan-jalan di Mekkah, maka itu sudah hakkul yakin.

Hal ini terkait dengan sikap hati kita menyangkut informasi-informasi keagamaan yang diturunkan oleh Allah kepada kita. Kalau kita yakin maka kita akan meyakini kebenaran informasi tadi. Karena yang namanya akidah adalah meyakini hal-hal yang tidak kasat mata. Banyak hal yang sifatnya ghaib, masalah keruhaniyahan yang informasinya kita dapatkan dari Allah SWT lewat Al Qur’an atau lewat Hadits hadits Mutawatir.

Ayat 5 sampai dengan 7 adalah Peringatan keras buat kita supaya kita berhati-hati.


Ayat ke 8 Surat At Takasur

ثُمَّ لَـتُسْئَـلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيْمِ

summa latus`alunna yauma`izin ‘anin-na’iim

“kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takasur 102: Ayat 8)

Kata anin-na’iim oleh para mufasir dimaknai dua :

– Nikmat yang kita terima di dunia ini. Dari nikmat wujud sampai nikmat- nikmat lain yang kita terima dari Allah SWT. Semuanya akan kita pertanggung jawabkan kepada Allah SWT.

– Menurut penelitian Bintusy Syathi’ , kata na’iim di dalam Al Qur’an selalu dikaitkan dengan kenikmatan ukhrowi. Misalnya Jannatun na’iim.

Sehingga makna dari ayat terakhir ini adalah penegasan bahwa orang-orang yang mengingkari kenikmatan ukhrowi dampaknya dia akan melakukan Persaingan tidak sehat dalam kehidupan dunia. Karena yang dikejar hanya materi dunia saja.

Sikap dia ini nanti akan diminta pertanggung jawaban dihadapan Allah SWT. Orang yang meyakini adanya kenikmatan ukhrowi yang jauh lebih besar dari pada kenikmatan dunia, akan menyebabkan manusia mau berkorban apa yang ada di dunia ini untuk memperoleh kenikmatan ukhrowi yang akan kita dapatkan nanti.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here