KH. Abdullah Yazid

24 Muharram 1442 / 12 September 2020



Harta itu titipan, kita hanya punya hak untuk mengelola, tidak bisa memiliki mutlak. Ini yang harus kita fahami dulu sebagai dasar.

Allah SWT berfirman:

اٰمِنُوْا بِا للّٰهِ وَرَسُوْلِهٖ وَاَ نْفِقُوْا مِمَّا جَعَلَـكُمْ مُّسْتَخْلَفِيْنَ فِيْهِ ۗ فَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ وَاَ نْفَقُوْا لَهُمْ اَجْرٌ كَبِيْرٌ

“Berimanlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan infakkanlah sebagian dari harta yang Dia telah menjadikan kamu sebagai penguasanya. Maka orang-orang yang beriman di antara kamu dan menginfakkan memperoleh pahala yang besar.” (QS. Al-Hadid 7)


Manusia Sebagai Khalifah di Muka Bumi

Manusia dilahirkan di dunia oleh Allah dengan komitmen untuk berbakti dan beribadah kepada Allah.

Allah SWT berfirman:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 56)

Manusia diciptakan oleh Allah SWT tidak hanya sebagai makhluk penghuni bumi ini akan tetapi diciptakan oleh Allah dengan mengemban tugas yang sangat penting.

Manusia adalah makhluk yang paling sempurna yang diciptakan dengan memiliki akal dan nafsu. Sehingga Allah SWT menunjuk manusia sebagai khalifah di muka bumi.

Salah satu tugas dan pengabdian manusia di dunia itu adalah pengganti Allah mengelola dunia ini. Karena Allah adalah Pemilik langit dan bumi tetapi pengelolaannya diserahkan manusia.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ قَا لُوْۤا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَ ۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ ۗ قَا لَ اِنِّيْۤ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi. Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu? Dia berfirman, Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS. Al-Baqarah 30)

Manusia diberi tugas menjadi Khalifah dimuka bumi :

“innii jaa’ilung fil-ardhi kholiifah”
(Aku hendak menjadikan khalifah di bumi)

Dalam ayat lain, Allah SWT berfirman:

هُوَ اَنْشَاَ كُمْ مِّنَ الْاَ رْضِ وَا سْتَعْمَرَكُمْ فِيْهَا

” Dia telah menciptakanmu dari Bumi dan menjadikanmu pemakmurnya,..”
(QS. Hud 61)

Maka bila dalam Al Qur’an kalau kitabnya “kum”, tugasnya adalah kepada Umat islam.

Malaikat mengkritisi Allah tentang manusia dijadikan Khalifah di bumi, karena manusia mempunyai kecenderungan dua hal yang destruktif :

“qooluuu a taj’alu fiihaa may yufsidu fiihaa wa yasfikud-dimaaa”
(Mereka berkata, Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana).

Namun kedua hal ini sekaligus merupakan potensi bagi manusia.
Maka dalam mengelola bumi ini, umat islam harus

1. Ramah lingkungan.

Al Qur’an menuntunkan kepada manusia khususnya umat islam. Kalau mengelola bumi harus ramah lingkungan. Sekarang hal ini menjadi issue, maka islam membutuhkan ini.

2. Hindari Konflik.

Jangan sampai terjadi justifikasi konflik itu mulai generasi kedua setelah Nabi Adam. Tapi kita yang punya tuntunan Al Qur’an usahakan kita jangan sampai konflik , apalagi dikalangan sesama muslim.

3. Semata-mata untuk Allah.

Karenanya orientasi mengelola bumi kita ini adalah :

“wa nahnu nusabbihu bihamdika wa nuqoddisu laka” (sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu)

Kita harus sesuai dengan kharakter- kharakter malaikat, kita pakai dalam mengelola bumi. Hanya semata-mata kita mensucikan Allah. Memuji kepada Allah sekaligus bahwa kita adalah orang yang selalu mensucikan Allah. Maka orientasinya adalah itu.


Menggunakan Syari’at Allah

Umat islam harusnya punya percaya diri untuk mengelola alam ini karena umat islam dimodali oleh Allah syariat yang sudah ditentukan :

وَمَكَرُوْا وَمَكَرَا للّٰهُ ۗ وَا للّٰهُ خَيْرُ الْمَا كِرِيْنَ

“Dan mereka orang-orang kafir membuat tipu daya, maka Allah pun membalas tipu daya. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”
(QS. Ali ‘Imran 54)

Ini adalah solusi terbaik menuju Kebahagiaan Hakiki.

Boleh saja orang-orang di luar islam membuat rekayasa apapun dalam mengelola bumi ini. Tetapi kalau kita memakai rekayasa Allah yang ada dalam Al Qur’an dan Sunnah-sunnah Rasul, in syaa Allah itu yang terbaik. Maka sekarang harus ada komitmen pada kita, kita harus punya sepakat untuk selalu memperjuangkan rekayasa Allah yang telah dituangkan dalam Al Qur’an.

Kelemahan umat islam sekarang kurang percaya diri dalam kehidupan sehari-hari.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَهِنُوْا وَ لَا تَحْزَنُوْا وَاَ نْتُمُ الْاَ عْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ

“Dan janganlah kamu merasa lemah, dan jangan pula bersedih hati, sebab kamu paling tinggi derajatnya , jika kamu orang yang beriman.” (QS. Ali ‘Imran 139)

Selama kita punya komitmen keimanan maka kita tidak boleh bersikap sedih, lemah dan sebagainya karena diatas kita ada Allah.
Kita hanya semata-mata melaksanakan perintah Allah. Kalau kita melaksanakan perintah Allah maka in syaa Allah, Allah akan selalu membimbing kita.


Sifat Dasar Mengelola Bumi Allah

Kata kunci di dalam pengelolaan bumi ini ada di dalam surat Ali Imran 190-191.

Asbabun nuzul ayat ini adalah setelah orang-orang Yahudi mengetahui tentang mukjizat yang diberikan oleh Musa maupun oleh Isa, maka orang-orang Yahudi meminta bahwa Bukit Shofa dijadikan emas.
Jawaban Allah, kalau anda hanya ingin sekedar bukit menjadi emas, anda bisa menjadikan semua rimba menjadi emas.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ لَاٰ يٰتٍ لِّاُولِى الْاَ لْبَا بِ ۙ 

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang yang berakal,” (QS. Ali ‘Imran 190)

Anda harus memproduk diri anda menjadi ulil-albaab. Karena ulil- albaablah yang bisa menangkap ayat-ayat Allah.

Siapakah ulil-albaab itu?

Komponen Ulul Albab :

– Ensiklopedik, memiliki kemahiran yang tinggi dan menjadi tempat rujukan dalam pelbagai bidang pengetahuan.
– Quranik, mempunyai pengetahuan yang tinggi tentang ilmu Al Qur’an.
– Ijtihadik, mempunyai keupayaan untuk memberikan pandangan dalam menyelesaikan masalah umat.


الَّذِيْنَ يَذْكُرُوْنَ اللّٰهَ قِيَا مًا وَّقُعُوْدًا وَّعَلٰى جُنُوْبِهِمْ وَيَتَفَكَّرُوْنَ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ ۚ رَبَّنَا مَا خَلَقْتَ هٰذَا بَا طِلًا  ۚ سُبْحٰنَكَ فَقِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

“yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi seraya berkata , Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia; Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”
(QS. Ali ‘Imran 191)


Selama 24 jam itu selalu dzikrullah.
Setiap manusia muslim yang ingin menjadi ulil-albaab ada koneksitas kepada Allah SWT.

“allaziina yazkuruunalloha qiyaamaw wa qu’uudaw wa ‘alaa junuubihim”
(yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring)

Ini biasanya sudah dilakukan oleh sesama muslim, demikian itu lewat ibadah-ibadah mahdoh maupun ghoiru mahdhoh. Namun tugas tartib selanjutnya setelah itu jarang dilakukan.

“wa yatafakkaruuna fii kholqis- samaawaati wal-ardh” (dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi)

Kita batasi saja fenomena alam yang ada disekitar kita. Kita yang hidup di lingkungan masing-masing memahami baik dari segi apapun.

Dari segi kharakter lingkungan, ekonomi lingkungan, politik lingkungan, budaya lingkungan yang pemikiran itu orientasinya hanya beribadah kepada Allah sehingga proses menentukan lingkungan itu, outputnya adalah semua potensi yang kita miliki baik Sumber Daya Insani maupun Sumber Daya Alam bisa kita budi dayakan.

“robbanaa maa kholaqta haazaa baathilaa,” (Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia)

Maka Management Personalia, Management Pengelolaan Alam tidak boleh mengeluh tentang Sumber Daya Insani yang ada dan Sumber Daya Alam yang kita miliki.

China dengan 1, 4 milyar penduduk dapat memanfaatkan, membudi dayakan sumber daya manusia yang cukup tangguh. Akhirnya menjadi negara yang besar. Kita memiliki 265 juta penduduk yang 87,5% nya muslim mengapa tidak bisa memanfaatkan itu?

Karena Pengelolaan alam dengan Rekayasa Allah itu yang outputnya in syaa Allah :

“sub-haanaka fa qinaa ‘azaaban-naar”
(Maha Suci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka).

Output dari proses amalnya umat islam itu adalah TIDAK DESTRUKTIF !
Bayangkan saja, karena proyek-proyek di luar muslim kadang-kadang hasilnya destruktif. Seorang ahli bisa menemukan nuklir, bom atom akhirnya untuk menghancurkan bumi ini, termasuk kasus Perang Dunia kedua dan seterusnya.


Ekosistem Mengelola Bumi Allah

Sumber Daya Alam —> Sebagai Pokok Dan Rizki —> Kebutuhan Manusia Hewan —> Halal Kualitas Unggul —> Jejaring Umat Islam —> Sumber Daya Alam —> dst.

Maka eko sistem pengelolaan bumi Allah adalah :

1. Orientasi kita adalah Halalan Thoyiban.

Halal dan berkualitas. Maka harusnya produk umat islam itu adalah produk yang paling bagus dan baik. Sayangnya sampai sekarang kita belum menemukan produk-produk umat islam yang berkualitas. Akhirnya kita cenderung memakai produk yang lain.

2. Di dalam Sistem Marketing, kita mestinya bisa Sharing.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ اِخْوَةٌ فَاَ صْلِحُوْا بَيْنَ اَخَوَيْكُمْ وَا تَّقُوا اللّٰهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara, karena itu damaikanlah antara kedua saudaramu yang berselisih dan bertakwalah kepada Allah agar kamu mendapat rahmat.”
(QS. Al-Hujurat 10)

Seorang muslim itu qolbunnya menjadi satu bagaikan bangunan yang utuh.

الْمُؤْمِنُ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“Orang mukmin dengan orang mukmin yang lain seperti sebuah bangunan, sebagian menguatkan sebagian yang lain.” [Shahih Muslim]

Ini yang harus kita bangun.

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Muslim]


3. Potensi Sumber Daya Alam yang ada.

Bayangkan, kita fikir Allah menguji coba kehidupan manusia di tempat yang paling tandus, yaitu di dalam lembah yang tidak ada tanamannya. Tetapi Allah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim bahwa bangsa di jazirah Arab diberi rezeki dengan yang tumbuh dari tumbuhan itu.

وَاِ ذْ قَا لَ اِبْرٰهٖمُ رَبِّ اجْعَلْ هٰذَا بَلَدًا اٰمِنًا وَّا رْزُقْ اَهْلَهٗ مِنَ الثَّمَرٰتِ مَنْ اٰمَنَ مِنْهُمْ بِا للّٰهِ وَا لْيَوْمِ الْاٰ خِرِ ۗ 

“Dan ingatlah ketika Ibrahim berdoa, Ya Tuhanku, jadikanlah negeri Mekah ini negeri yang aman dan berilah rezeki berupa buah-buahan kepada penduduknya, yaitu di antara mereka yang beriman kepada Allah dan hari kemudian..” (QS. Al-Baqarah 126)

Kita di Indonesia yang luasnya seperti Eropa, tidak dapat memanfaatkan sumber daya alam ini, sungguh sangat bodoh dan sangat keliru. Bahkan sumber daya alam di Indonesia dikelola oleh orang di luar islam.

Karena apa ? Sumber daya alam ini kalau dikelola akan menjadi Pokok Rizki.

– Sekarang ini Profesi kita justru tidak mengelola Sumber Daya Alam yang ada.
– Mengelola Sumber Daya Alam yang ada harus bisa mencukupi kebutuhan makan manusia maupun hewan yang lain.

Bahkan kita harus menyediakan makanan yang halal dan thoyib kepada seluruh manusia yang ada, bukan hanya sekedar kita.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْ جَعَلَ لَـكُمُ الْاَ رْضَ فِرَا شًا وَّا لسَّمَآءَ بِنَآءً ۖ وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَآءِ مَآءً فَاَ خْرَجَ بِهٖ مِنَ الثَّمَرٰتِ رِزْقًا لَّـكُمْ ۚ فَلَا تَجْعَلُوْا لِلّٰهِ اَنْدَا دًا وَّاَنْـتُمْ تَعْلَمُوْنَ

“Dialah yang menjadikan bumi sebagai hamparan bagimu dan langit sebagai atap, dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Dia hasilkan dengan hujan itu buah-buahan sebagai rezeki untukmu. Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan- tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 22)

Di Indonesia ini tidak ada rekayasa bagaimana air hujan itu untuk bahan pokok menumbuhkan tumbuh- tumbuhan. Tapi di Indonesia air hujan kita antarkan ke laut sehingga manfaat ke bumi ini sangat lemah.

Sekarang Para ahli agar mengusahakan bagaimana air hujan itu tidak menjadi beban bangsa kita dengan adanya banjir, terutama di kota-kota besar tetapi air itu bisa ditampung di bumi sehingga akhirnya dibutuhkan.

Sekarang ini Indonesia menjadi importir bahan makanan. Harusnya Indonesia harus cukup karena sumber daya alam menjadi pokok rizki.


“fa laa taj’aluu lillaahi angdaadaw wa angtum ta’lamuun” (Karena itu, janganlah kamu mengadakan tandingan-tandingan bagi Allah, padahal kamu mengetahui).

Konsep Allah itu adalah konsep yang tunggal, jangan sampai kamu jangan sampai konsep Allah dibandingkan dengan Konsep Pengelolaan yang bersumber dari yang lain.

Tugas kita adalah :

1. Mencukupi Kebutuhan Makhluk (manusia dan hewan).

Sekarang ini bila hewan tidak cukup makanannya maka hewan akan merusak tanaman-tanaman yang untuk manusia. Ini adalah kesalahan ekosistem yang kita lakukan.

Rasulullah SAW bersabda:

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يَغْرِسُ غَرْسًا إِلاَّ كَانَ مَا أُكِلَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا سُرِقَ مِنْهُ لَهُ صَدَقَةً وَ مَا أَكَلَتِ الطَّيْرُ فَهُوَ لَهُ صَدَقَةً وَ لاَ يَرْزَؤُهُ أَحَدٌ إِلاَّ كَانَ لَهُ صَدَقَةً

“Tidaklah seorang muslim menanam suatu pohon melainkan apa yang dimakan dari tanaman itu sebagai sedekah baginya, dan apa yang dicuri dari tanaman tersebut sebagai sedekah baginya dan tidaklah kepunyaan seorang itu dikurangi melainkan menjadi sedekah baginya.” (HR.Muslim)


2. Halal dan Berkualitas.

Al Qur’an adalah Petunjuk bagi seorang mukmin :

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ كُلُوْا مِمَّا فِى الْاَ رْضِ حَلٰلًا طَيِّبًا ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـكُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai manusia! Makanlah dari yang halal dan baik yang terdapat di bumi dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 168)

Disini ayatnya berkaitan dengan ayat Madaniah, walaupun bunyi ayatnya kepada Manusia (yaaa ayyuhan- naasu) , tapi perintahnya adalah khusus kepada umat islam.

Kalau kita tidak makan yang halal dan berkualitas berarti kita mengikuti setan. Maka kita harus hati-hati dalam memilih makanan.
Kalau makanan kita tidak halal maka kecenderungan perilaku kita adalah perilaku destruktif.

Hadits : “Setiap makanan kita itu dari barang yang haram maka perilaku kita cenderung destruktif”.
Karena Setan itu adalah musuhmu yang sangat nyata.


3. Bahan Olahan dan Siap Saji.

Rasulullah memberi tuntunan, bahkan melarang muslim untuk makan makanan yang tidak diproduksi sendiri.

Sekarang ini kita seakan-akan tidak menyeleksi diri kita sendiri terhadap makanan yang kita makan. Apakah itu hasil produksi kita sendiri atau bukan?
Kalau yang dimaksud dengan “Kita sendiri” adalah mukmin.
Adakah makanan yang kita konsumsi adalah Produk sesama orang muslim dan mukmin ?

Rasulullah SAW bersabda :

مَا أَكَلَ أَحَدٌ طَعَامًا قَطُّ خَيْرًا مِنْ أَنْ يَأْكُلَ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ ، وَإِنَّ نَبِىَّ اللَّهِ دَاوُدَ – عَلَيْهِ السَّلاَمُ – كَانَ يَأْكُلُ مِنْ عَمَلِ يَدِهِ

“Tidaklah seseorang memakan suatu makanan yang lebih baik dari makanan yang ia makan dari hasil kerja keras tangannya sendiri. Karena Nabi Daud ‘alaihis salam dahulu bekerja pula dengan hasil kerja keras tangannya.”- (HR. Bukhari).

Hikmahnya adalah :

– Sekarang ini hampir semua produk makanan tidak diproduksi oleh umat muslim.
– Banyak muslim yang memproduksi makanan tetapi tidak bisa masuk jaringan pasar.
– Maka tugas kita sekarang adalah bagaimana kita mendampingi produk-produk muslim terutama UKM untuk bisa masuk ke Pasar.
– Dan semua orang muslim di Indonesia ini mengkonsumsi Produk orang muslim.


Pentingnya Bersyariah

1. Ekonomi Syariah penting karena dapat mengurangi kerentanan antara sistem keuangan dengan sektor riil sehingga menghindari terjadinya penggelembungan ekonomi.
Bubble ekonomi yang terjadi sekarang karena sistem keuangannya adalah sistem ekonomi konvensional. Kalau ekonomi Syariah orientasinya adalah sektor riil.

2. Ekonomi Syariah penting karena menghindarkan dari Pembiayaan yang sifatnya spekulatif.
Akad-akad syariah itu jelas, apakah itu mudharabah atau murabahah dan sebagainya. Kalau ekonomi konvensional yang penting return yang diterima memadai.

3. Ekonomi Syariah penting karena dapat memperkuat sistem pengamanan sosial.


Tugas kita sekarang, bisa atau tidak 230 juta umat islam di Indonesia khususnya , atau kita kecilkan 115 juta muslim yang ada kita berta’awun.
Orientasi ta’awunnya adalah ala birri wat taqwa.

Kalau kita berta’awun dalam bidang ekonomi maka kita bisa mengorbitkan beberapa pengusaha muslim untuk jadi kaya. Kalau muslim itu kaya maka dia akan menginfakkan hartanya sesuai dengan tuntunan yang ada.

Kalau kita berta’awun dengan di luar islam maka mereka akan kaya. Dan kekayaan orang di luar islam akan diperuntukkan untuk hal-hal yang destruktif, tidak sesuai dengan tuntunan yang ada. Maka konsekuensinya Allah akan menyiksa kita.

Allah SWT berfirman:

 ۘ وَتَعَاوَنُوْا عَلَى الْبِرِّ وَا لتَّقْوٰى ۖ وَلَا تَعَاوَنُوْا عَلَى الْاِ ثْمِ وَا لْعُدْوَا نِ ۖ وَا تَّقُوا اللّٰهَ ۗ اِنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ

“Dan tolong-menolonglah kamu dalam mengerjakan kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan. Bertakwalah kepada Allah, sungguh, Allah sangat berat siksa-Nya.” (QS. Al-Ma’idah 2)


Close Loop Economy

Circular Economy :
Production —> Distribution —> Consumption —> Re use/ Recycle —> Recycling Sector.

Donald Trump mempunyai kebijakan bagaimana ekonomi Amerika diproteksi. China pada tahun 1970 an juga begitu, semua negara juga begitu.
Di Korea juga begitu. Hampir semua orang Korea tidak mau memakai produk -produk diluar Korea, terutama Jepang.

Mengapa islam punya tuntunan tapi tidak pernah kita laksanakan. ?
Maka yang harus kita bangun adalah :

1. Membangun kesadaran umat islam untuk membelanjakan rupiah maupun barangnya kepada sesama muslim dalam mengimplementasikan ta’awun ala birri wat taqwa , kecuali dalam kondisi darurah.

Kita kalau membelanjakan rupiah kita , kita pertimbangkan apakah rupiah yang kita keluarkan ini sudah bisa memberikan manfaat sesama muslim atau belum ?
Mungkin ini sangat berat, apakah karena faktor pelayanan atau faktor kualitas. Maka yang harus kita sadari niat kita ini BERIBADAH bukan sekedar muamalah.

2. Dalam kehidupan bermuamalah umat islam harus mendirikan lembaga konsumen muslim yang berfungsi menjembatani antara konsumen dan produsen muslim.

Allah SWT memberi tuntunan terhadap orang yang tidak merugi.

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr 3)

“tawaashou bil-haqqi wa tawaashou bish-shobr”, adalah membangun komunikasi yang intents sesama muslim. Diharapkan adanya lembaga yang membangun komunikasi muslim.


Produk Yang Kompetitif

Islam menuntunkan bahwa kalau kita menjadi interpreneure , profesi apapun kata kuncinya adalah : Jujur (ash shiddiq) , Amanah, Benar.

Sekarang ini dibutuhkan pejuang- pejuang ekonomi Syariah sehingga dia bisa disejajarkan dengan Para Mujahid yang gugur di medan perjuangan.

Rasulullah SAW bersabda :

التَّاجِرُ الأَمِينُ الصَّدُوقُ الْمُسْلِمُ مَعَ الشُّهَدَاءِ – وفي رواية: مع النبيين و الصديقين و الشهداء –  يَوْمَ الْقِيَامَةِ » رواه ابن ماجه والحاكم والدارقطني وغيرهم

“Seorang pedagang muslim yang jujur dan amanah akan bersama para Nabi, orang-orang shiddiq dan orang-orang yang mati syahid pada hari kiamat.” -[HR Ibnu Madjah].

Profesi Pengusaha yang jujur derajadnya sangat kuat.
Rasulullah SAW mengatakan bahwa 7 konglomerat pada masanya akan masuk surga : Abdurahman bin Auf, Sa’ad Abi Waqash dan yang lain.

Yang dibutuhkan sekarang adalah bagaimana kita membutuhkan modal yang besar. Antara shohibul Mal dan Mudharib harus ditemukan.
Para Mudharib atau Pengusaha butuh modal, sementara Shohibul Mal butuh bagaimana uang itu ditasyarufkan.

Kwik Kian Gie saja menyarankan : Kalau dananya umat islam tidak disimpan di Perbankan atau suatu Lembaga yang bisa CrowdFunding dan itu dimanfaatkan untuk Pengusaha Muslim, itu sangat-sangat dahsyat. Karena bersyarikat atau Perseroan sangat dianjurkan oleh Rasulullah.

Bahkan Rasulullah menyampaikan hadits Qudsi yang berbunyi :

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَفَعَهُ قَالَ إِنَّ اللهَ يَقُولُ أَنَا ثَالِثُ الشَّرِيكَيْنِ مَا لَمْ يَخُنْ أَحَدُهُمَا صَاحِبَهُ فَإِذَا خَانَهُ خَرَجْتُ مِنْ بَيْنِهِمَا

Sesungguhnya Allâh Azza wa Jalla berkata, “Aku adalah pihak ketiga bagi dua orang yang melakukan syirkah, selama salah seorang diantara mereka tidak berkhianat kepada mitranya. Apabila diantara mereka ada yang berkhianat, maka Aku akan keluar dari mereka (tidak melindungi)”. (HR. Abu Daud dan Al-Hakim).

Problemnya sekarang adalah karena umat islam banyak ditipu dalam sistem bersyarikat ini maka seakan- akan umat islam trauma dalam bersyarikat. Sehingga gerakan beramal langsung, apakah infak, shodaqoh, atau wakaf itu tinggi. Tetapi untuk membangun modal yang besar dengan CrowdFunding kita lemah.
Maka ini harus kita selesaikan.

Keberkahan Sistem Muslim yang bersyarikat tidak berkembang karena rata-rata terjadinya khianat antara kita.


Larangan Harta Berputar Pada Segelintir Orang

Konsep yang ideal bagi seorang muslim untuk mengelola itu apakah anda sebagai Umaro atau Ulama atau sebagai Pengusaha, usahakan kebijakan ini jangan sampai konsentrasi asset hanya berputar di tangan orang-orang kaya.

Bayangkan Indonesia 87,5% umat islam, ketimpangan sosial Indonesia nomer 4 di dunia setelah Rusia, India, Thailand dan kemudian Indonesia.
Dimana umat islam di Indonesia ini tidak mampu mempunyai kebijakan yang mampu membuat terjadi pemerataan kesejahteraan.

Allah SWT berfirman:

كَيْ لَا يَكُوْنَ دُوْلَةً ۢ بَيْنَ الْاَ غْنِيَآءِ مِنْكُمْ ۗ 

” .. agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…” (QS. Al-Hasyr 7)

Sesama muslim saja tidak boleh konsentrasi asset itu dikalangan orang-orang kaya saja. Sekarang ini justru di Indonesia konsentrasi asset itu ada di luar muslim.

Kalau di Thailand, di India, di Rusia itu yang miskin dan yang kaya sama-sama etnisnya, sama-sama agamanya. Di Indonesia yang miskin dan yang kaya etnisnya beda dan agamanya beda. Maka itu riskan untuk terjadinya Konflik Ekonomi.

Karena pesan dari Pendiri Negara kita ini menempatkan posisi Pancasila yang kelima adalah :
“Keadilan Sosial Bagi Seluruh Rakyat Indonesia”
Itu adalah amanah. Jadi kalau kita tidak menunaikan amanah itu, berarti kita berkhianat terhadap negara kita ini.

Keberkahan dan Kerahmatan Allah Yang Maha Kuasa akan dirasakan oleh seluruh komponen NKRI, seperti cita-cita pendiri bangsa ini yang tersurat pada Pembukaan UUD 45.

“Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaannya.”

Tetapi di dalam perjalanannya kita belum bisa menurunkan Keberkahan dan Kerahmatan Allah kepada Bangsa Indonesia ini.

Padahal dalam Al Qur’an disebutkan :

وَلَوْ اَنَّ اَهْلَ الْقُرٰۤى اٰمَنُوْا وَا تَّقَوْا لَـفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكٰتٍ مِّنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ وَلٰـكِنْ كَذَّبُوْا فَاَ خَذْنٰهُمْ بِمَا كَا نُوْا يَكْسِبُوْنَ

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan ayat-ayat Kami, maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-A’raf 96)


Mengurangi Konflik

Ketahanan Nasional / Ketahanan suatu negara ditentukan oleh tiga hal :
– Bahwa di Negara itu interpreneur menjadi andalan.
– Orientasinya hanya mengabdi kepada Allah, sehingga negara itu akan dijamin oleh Allah, tentang tidak mungkin terjadi kelaparan.
– Akhirnya pada negara itu tidak mungkin akan terjadi invasi dari luar negeri.

Karena kalau ekonomi kuat, makanan cukup maka in syaa Allah tidak akan terjadi konflik horizontal pada masyarakat itu. Maka bisa kita lihat

Allah SWT berfirman:

لِاِ يْلٰفِ قُرَيْشٍ ۙ () اٖلٰفِهِمْ رِحْلَةَ الشِّتَآءِ وَا لصَّيْفِ ۚ ()
فَلْيَـعْبُدُوْا رَبَّ هٰذَا الْبَيْتِ ۙ () الَّذِيْۤ اَطْعَمَهُمْ مِّنْ جُوْعٍ ۙ وَّاٰمَنَهُمْ مِّنْ خَوْفٍ


“Karena kebiasaan orang-orang Quraisy, yaitu kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan rumah ini (Ka’bah), yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari rasa ketakutan.” (QS. Quraisy Ayat 1-4)

Tuntunan kita untuk berdagang itu secara global. Pada saat itu orang Quraisy ke Yaman dan ke Syria.
Maka kalau kita berusaha, interprenuer kata kuncinya adalah :

“falya’buduu robba haazal-baiit”
(Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan (pemilik) rumah ini (Ka’bah).

Kalau kita mengelola Sumber Daya yang ada di Indonesia ini orientasinya mengabdikan diri kita, bukan sekedar kepentingan individu kita , Allah menuntunkan orientasi kita adalah orientasi kepada orang lain. Adapun individu kita yang memikirkan Allah. Jangan sebaliknya kita hanya memikir individu kita.

Kalau sudah begitu, Allah berjanji :

“allaziii ath’amahum ming juu’iw wa aamanahum min khouuf” (Allah yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan Allah akan mengamankan mereka dari rasa ketakutan).

In syaa Allah kalau kita berani membangun mindset tentang itu, in syaa Allah kita akan bisa mengantarkan negara kita sebagai Negara yang Baldatun toyyibatun warobbun ghofur. Sekaligus adalah negara yang disebut Tata Tentrem Kerta Raharja.

Ini adalah tuntunan Allah yang harus dipraktekkan, bukan sekedar ilmu.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here