Zahrul Fata, Ph.D

21 Muharram 1442 / 9 September 2020



Manusia Dan Hakikat Hidup


Banyak pertanyaan tentang kehidupan :
Apakah hakikat kehidupan dunia ini?
Manusia di dunia ini dari mana?
Mengapa manusia ada di dunia dan mau kemana setelah kematian?
Mengapa harus ada ujian di dalamnya?
Ada yang bahagia dan ada yang menderita?
Apakah hanya manusia saja yang menerimanya?
Ada yang lancar maksiat tetapi rejekinya juga lancar. Di sisi lain ada yang taat beragama tapi hidupnya sengsara.

Dr. A. Carrel dalam bukunya “Man the Unknown” mengatakan :
“Kita tidak mengetahui manusia secara utuh. Yang kita ketahui hanyalah bahwa manusia terdiri dari bagian- bagian tertentu, dan inipun pada hakikatnya dibagi lagi menurut tata cara kita sendiri”.

Para ilmuwan barat juga tidak mengetahui persis tentang manusia itu. Jika jawaban nalar tentang misteri kehidupan tidak utuh, berbenturan.
Maka satu-satunya jalan untuk mengenal dengan baik apa makna dan tujuan hidup ini, adalah merujuk kepada petunjuk Tuhan.
Untuk maksud tersebut tentu tidak cukup dengan hanya merujuk kepada satu dua ayat, tetapi seharusnya merujuk kepada semua ayat Al Qur’an. (atau paling tidak ayat-ayat pokok).


Manusia dalam Al Qur’an

Istilah “manusia” dalam Al Qur’an menggunakan tiga kata :

1. Menggunakan kata yang terdiri dari huruf alif, nun, dan sin. Dari tiga huruf tersebut terucap insan, ins, nas atau unas. Secara bahasa artinya lembut, berperasaan.

2. Menggunakan kata basyar.
Artinya secara bahasa adalah Kulit. Atau manusia itu adalah makhluk yang nampak kulitnya.

3. Menggunakan kata bani Adam, dan dzuriyyat Adam.


Penciptaan Manusia

1. Penciptaan Adam a.s

Kita tahu bahwa manusia yang pertama adalah Adam a.s

Allah SWT berfirman:

اِذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ خَا لِـقٌ ۢ بَشَرًا مِّنْ طِيْنٍ

“ketika Tuhanmu berfirman kepada malaikat, Sesungguhnya Aku akan menciptakan manusia dari tanah.” (QS. Sad 71)

Dalam ayat yang lain Allah SWT berbatanya kepada Iblis, ketika iblis menolak diperintah untuk sujud kepada manusia.

قَا لَ يٰۤـاِبْلِيْسُ مَا مَنَعَكَ اَنْ تَسْجُدَ لِمَا خَلَقْتُ بِيَدَيَّ ۗ اَسْتَكْبَرْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْعَا لِيْنَ

“Allah berfirman, Wahai Iblis, apakah yang menghalangi kamu sujud kepada yang telah Aku ciptakan dengan kekuasaan-Ku. Apakah kamu menyombongkan diri atau kamu merasa termasuk golongan yang lebih tinggi?” (QS. Sad 75)


2. Penciptaan anak cucu Adam.

Penciptaan anak keturunan Adam dijelaskan oleh Allah SWT dalam Al Qur’an :

لَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ فِيْۤ اَحْسَنِ تَقْوِيْمٍ ۖ 

“Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya,” (QS. At-Tin 4)

وَلَقَدْ خَلَقْنَا الْاِ نْسَا نَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ 
ثُمَّ جَعَلْنٰهُ نُطْفَةً فِيْ قَرَا رٍ مَّكِيْنٍ ۖ 
ثُمَّ خَلَقْنَا النُّطْفَةَ عَلَقَةً فَخَلَقْنَا الْعَلَقَةَ مُضْغَةً فَخَلَقْنَا الْمُضْغَةَ عِظٰمًا فَكَسَوْنَا الْعِظٰمَ لَحْمًا ثُمَّ اَنْشَأْنٰهُ خَلْقًا اٰخَرَ ۗ فَتَبٰـرَكَ اللّٰهُ اَحْسَنُ الْخٰلِقِيْنَ ۗ 

“Dan sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari saripati dari tanah.
Kemudian Kami menjadikannya air mani dalam rahim.
Kemudian, air mani itu Kami jadikan sesuatu yang melekat, lalu sesuatu yang melekat itu Kami jadikan segumpal daging, dan segumpal daging itu Kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu Kami bungkus dengan daging. Kemudian, Kami menjadikannya makhluk yang berbentuk lain. Maha Suci Allah, Pencipta yang paling baik.”
(QS. Al-Mu’minun Ayat 12-14)

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا النَّا سُ اِنْ كُنْـتُمْ فِيْ رَيْبٍ مِّنَ الْبَـعْثِ فَاِ نَّـا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ تُرَا بٍ

“Wahai manusia! Jika kamu meragukan hari Kebangkitan, maka sesungguhnya Kami telah menjadikan kamu dari tanah,.” (QS. Al-Hajj 5)

Tentang Penciptaan Isa dan Adam, Allah SWT berfirman:

اِنَّ مَثَلَ عِيْسٰى عِنْدَ اللّٰهِ كَمَثَلِ اٰدَمَ ۗ خَلَقَهٗ مِنْ تُرَا بٍ ثُمَّ قَا لَ لَهٗ كُنْ فَيَكُوْنُ

“Sesungguhnya perumpamaan penciptaan ‘Isa bagi Allah, seperti penciptaan Adam. Dia menciptakannya dari tanah, kemudian Dia berkata kepadanya, Jadilah! Maka jadilah sesuatu itu.” (QS. Ali ‘Imran 59)

Semua dokter sudah tahu proses terjadinya manusia dimulai dari hubungan suami isteri, kemudian menjadi segumpal darah. Kemudian menetap dalam rahim selama 9 bulan dan kemudian lahir ke dunia.

Ada seorang mahasiswa Filsafat yang bertanya kepada saya :
“Kenapa Tuhan dalam menciptakan manusia, kemudian mengatur kehidupan manusia ini secara mendadak.?”.

“Maksudnya bagaimana?”.
Saya tanya karena pertanyaan mahasiswa itu aneh.

“Kalau kita merujuk apa yang pernah kita baca, Bukankah Adam dulu sudah ditempatkan di Surga oleh Allah? Kemudian gara-gara melanggar satu larangan makan buah terlarang, akhirnya Adam dan isterinya diusir dari Surga dan menempati dunia”.
“Seandainya dulu Adam dan Hawa tidak memakan buah terlarang itu, apa sih salahnya? Hanya menghindari memakan satu buah. Buah lainnya kan banyak ? Tetapi kenapa makan buah itu? Andai Adam dan Hawa tidak tergoda untuk makan buah terlarang itu, tentu tidak ada pengusiran dari Surga! Dan kita anak cucunya hidup damai di Surga sampai hari ini “

Mungkin diantara kita ada yang pernah berandai-andai seperti itu.
Disadari atau tidak persepsi di atas terkontaminasi oleh apa yang ditulis di Injil Perjanjian Lama.
Dosa Adam ini terwariskan ke anak cucunya, terkenal dengan sebutan “original sin” (dosa asal).
Kemudian Tuhan mengutus anaknya untuk disalib. Sejak disalibnya anak Tuhan itu seluruh dosa manusia termasuk dosa asal warisan itu terhapus. Konon disalibnya Nabi Isa itu diatas makamnya Nabi Adam. Sehingga darahnya anak Tuhan itu mengalir sehingga menghapus dosa manusia. Adapun manusia yang lahir setelah disalibnya anak Tuhan, cukup hanya dengan meyakini peristiwa itu dia dijamin masuk Surga. Ini perspektif Injil.

Al Qur’an datang untuk mengoreksi perspektif itu.

1. Memang Adam dan Hawa bersalah saat itu, tetapi Adam dan Hawa melantunkan pertobatan :

قَا لَا رَبَّنَا ظَلَمْنَاۤ اَنْفُسَنَا وَاِ نْ لَّمْ تَغْفِرْ لَـنَا وَتَرْحَمْنَا لَـنَكُوْنَنَّ مِنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Keduanya berkata, Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (QS. Al-A’raf 23)

Dan Allah menerima tobat itu.

فَتَلَقّٰۤى اٰدَمُ مِنْ رَّبِّهٖ كَلِمٰتٍ فَتَا بَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّا بُ الرَّحِيْمُ

“Kemudian, Adam menerima beberapa kalimat dari Tuhannya, lalu Dia pun menerima tobatnya. Sungguh, Allah Maha Penerima Tobat, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah 37)


Makna dan Tujuan Hidup

Kemudian mulailah kehidupan Adam dan Hawa di dunia. Karena memang dari awal Adam dan Hawa diproyeksikan oleh Allah SWT untuk menjadi Khalifah di atas bumi.

Allah sudah memproklamasikan kepada penghuni Surga sebelum Allah SWT menciptakan Adam dan Hawa. Bahwa Allah akan menjadikan Adam sebagai khalifah.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ قَا لَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓئِكَةِ اِنِّيْ جَا عِلٌ فِى الْاَ رْضِ خَلِيْفَةً ۗ 

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, Aku hendak menjadikan khalifah di bumi”.
(QS. Al-Baqarah 30)

Adapun godaan iblis kepada Adam dan Hawa di Surga untuk memakan buah terlarang adalah semacam training agar Adam dan Hawa mengalami langsung betapa dahsyatnya godaan iblis. Hal ini menjadi pelajaran bagi Adam dan bagi kita anak cucu Adam.
Jadi manusia diciptakan di atas bumi sebagai khalifah.

Beberapa ayat tentang tugas manusia di muka bumi

Allah SWT berfirman:

وَهُوَ الَّذِيْ جَعَلَـكُمْ خَلٰٓئِفَ الْاَ رْضِ

“Dan Dialah yang menjadikan kamu sebagai khalifah-khalifah di Bumi”
(QS. Al-An’am 165)


وَجَعَلْنٰهُمْ خَلٰٓئِفَ وَاَ غْرَقْنَا الَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا ۚ 

“dan Kami jadikan mereka itu khalifah dan Kami tenggelamkan orang yang mendustakan ayat-ayat Kami.”
(QS. Yunus 73)

Allah menjadikan manusia sebagai khalifah di muka bumi dan tugasnya adalah untuk beribadah.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَا لْاِ نْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Az-Zariyat 56)

Dalam ayat lain :

مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ تَا رَةً اُخْرٰى

“Darinya tanah itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanyalah Kami akan mengembalikan kamu dan dari sanalah Kami akan mengeluarkan kamu pada waktu yang lain.” (QS. Ta-Ha 55)

Kita ini selama hidup di dunia, disadari atau tidak, kita dalam perjalanan menuju Allah SWT :

يٰۤاَ يُّهَا الْاِ نْسَا نُ اِنَّكَ كَا دِحٌ اِلٰى رَبِّكَ كَدْحًا فَمُلٰقِيْهِ ۚ 

“Wahai manusia! Sesungguhnya kamu telah bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu akan menemui-Nya.” (QS. Al-Insyiqaq 6)


Jadi pertanyaan yang selama ini tidak terjawab oleh Para Filosof tentang manusia itu darimana, mengapa ada di dunia dan akan kemana sudah terjawab oleh Al Qur’an.

Wawasan kita terbuka bahwa Adam dan Hawa memang diproyeksikan oleh Allah untuk menjadi Khalifah di atas bumi. Bukan asalnya di Surga kemudian mendadak diusir gara-gara memakan buah terlarang.


Manusia Dan Ujian Hidup

Dunia ini bagi kita kaum Muslimin adalah Darul Bala’, tempat atau negeri ujian. Sedangkan akhirat nanti adalah Darul Jaza, tempat atau negeri Pembalasan.


A. Istilah ujian atau cobaan dalam Al Qur’an

Al Qur’an menggunakan dua kata untuk menunjuk kepada ujian.

1. Menggunakan kata bala-yabla dengan berbagai derivasinya.

Allah SWT berfirman:

٭لَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَا لْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًا ۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُ ۙ 

“yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun,” -(QS. Al-Mulk 2)

2. Menggunakan kata Fitnah

Dalam surat Al ‘Ankabut Allah SWT berfirman:

اَحَسِبَ النَّا سُ اَنْ يُّتْرَكُوْۤا اَنْ يَّقُوْلُوْۤا اٰمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَـنُوْنَ () وَلَقَدْ فَتَـنَّا الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَـعْلَمَنَّ اللّٰهُ الَّذِيْنَ صَدَقُوْا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكٰذِبِيْنَ

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, Kami telah beriman dan mereka tidak diuji?
Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang benar dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta.” (QS. Al-‘Ankabut Ayat 2-3)

Orang yang mengaku dirinya beriman pasti diuji. Dan dari ujian itu Allah tahu. Ini tidak berarti bahwa Allah tidak mengetahui siapa yang berdusta dan siapa yang lurus sebelum ujian.
Tidak demikian, ibarat seorang guru mengajar dan berinteraksi dengan mahasiswa kesatu dan kedua, dia sudah tahu anak ini pandai atau tidak tanpa harus menguji. Lembar ujian ibaratnya hanya sebagai bukti bahwa seseorang layak lulus atau tidak diujung semester.


B. Bentuk-bentuk Ujian.

Allah SWT berfirman:

كُلُّ نَفْسٍ ذَآئِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوْكُمْ بِا لشَّرِّ وَا لْخَيْرِ فِتْنَةً ۗ وَاِ لَيْنَا تُرْجَعُوْنَ

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan. Dan kamu akan dikembalikan hanya kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya 35)

Dari ayat ini, bentuk ujian ada dua. Ujian dengan keburukan dan ujian dengan kebaikan.


1. Musibah – Sabar

Ujian dengan keburukan, dalam Al Qur’an disebut dengan Musibah. Ujian dengan keburukan adalah dengan dikurangi kenikmatan dalam hamba itu.

Allah SWT berfirman:

وَلَـنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَـوْفِ وَا لْجُـوْعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْاَ مْوَا لِ وَا لْاَ نْفُسِ وَا لثَّمَرٰتِ ۗ وَبَشِّرِ الصّٰبِرِيْنَ ۙ 

“Dan Kami pasti akan menguji kamu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah- buahan. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar,” (QS. Al-Baqarah 155)

Ada kalanya Allah menguji dengan cara mengurangi kenikmatan :
– Bisa jadi dikurangi in come nya
– Dikurangi kesehatannya.
– Dikurangi anggota keluarganya atau koleganya dengan meninggal
– Gagal panen

Pada saat itu apa yang Al Qur’an perintahkan kepada mereka yang ingin lulus dalam ujian, perintahnya adalah disuruh Sabar.

Ayat berikutnya :

الَّذِيْنَ اِذَاۤ اَصَا بَتْهُمْ مُّصِيْبَةٌ ۙ قَا لُوْۤا اِنَّا لِلّٰهِ وَاِ نَّـاۤ اِلَيْهِ رٰجِعُوْنَ ۗ 

“yaitu orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka berkata Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. (sesungguhnya kami milik Allah dan kepada-Nyalah kami kembali).” (QS. Al-Baqarah 156)

Al Qur’an menyuruh siapa saja yang terkena musibah untuk Sabar dan mengucapkan :
“innaa lillaahi wa innaaa ilaihi rooji’uun”
Kemudian ucapan itu diresapi hingga bisa meringankan dirinya ketika diuji.

Semua yang melekat pada diri kita itu bukan punya kita. Bahkan ruh yang sekarang bersemayam di jasad kita itu juga bukan punya kita. Ketika yang Maha Memiliki mau mengambilnya maka tiada kekuasaan bagi siapapun yang dititipi untuk menahannya.

Belajarlah dari Tukang Parkir. Tidak ada Tukang Parkir ketika Pemilik mobil itu mengambil mobilnya untuk berangkat, dia menahan mobil. Apapun merk mobilnya karena dia sadar mobil itu bukan miliknya.

Ada kisah seorang Sahabat, suami isteri namanya Abu Tholhah dan isterinya Ummu Sulaim. Pasangan suami isteri ini dikaruniai seorang anak bernama Abu Umair. Abu Umair seorang anak yang lucu dan menyenangkan. Rasulullah SAW sering bermain dengan anak kecil ini.

Suatu hari Abu Umair sakit demam. Panasnya tidak turun-turun. Kemudian sang ayah Abu Tholhah ada urusan yang harus keluar. Ketika Abu Tholhah ada di luar, ternyata anak ini panasnya semakin tinggi dan akhirnya meninggal .Dan saat itu yang ada di rumah hanya ibunya Abu Umair, yaitu Ummu Sulaim.

Yang hebat dari seorang Ummu Sulaim, dia ditengah kesedihannya bisa menguasai dirinya. Anak tadi dimandikan, dikafani dan ditaruh lagi di tempat tidurnya, seperti sedang tidur.

Menjelang maghrib Abu Tholhah datang. Dia orang yang gemar puasa. Dia hampir setiap hari Puasa, kecuali pada Hari Raya dan Hari Tasyrik saja. Kemudian Ummu Sulaim menyiapkan menu berbuka suaminya.

Ketika sedang berbuka dan ditemani isterinya itu, Abu Tholhah ingat kepada anaknya yang sakit dan menanyakan keadaan anaknya.
Jawaban Ummu Sulaim : “Sudah tenang, dia tidak panas lagi”.
Karena memang Abu Umair sudah meninggal pasti sudah tenang dan tidak panas lagi. Tetapi yang difahami Abu Tholhah, anaknya sudah sembuh.

Lebih hebat lagi, malam itu Ummu Sulaim bersolek dan berdandan rapi untuk Sang Suami. Dan malam itu terjadi hubungan suami isteri.
Ketika makan sahur, suami sudah tenang dan sudah istirahat, Ummu Sulaim kemudian mendekati sang Suami.

Dia berkata : “Ayah, kalau ada orang menitipkan barang ke rumah kita, terus si Pemilik itu mau mengambil dari kita, titipannya tadi, kita berikan atau tidak?

“Ya iyalah, harus diberikan. Kan bukan punya kita?”
“Demikian pula halnya Abu Umair anak kita, Yah”
“Maksud Ibu bagaimana?”…
“Abu Umair kemarin sore meninggal.. “

Langsung pecah keheningan pagi itu dengan teriakan Abu Tholhah :
“Kenapa kamu tidak bilang kemarin sore?”
Jawaban Ummu Sulaim : “Ayah dari luar, capai , dan ayah sedang puasa. Kalau saya sampaikan kejadian sebenarnya apa dapat mengubah keadaan kembali seperti semula?”

Setelah shalat Subuh, Abu Tholhah menceritakan apa yang terjadi kepada Rasulullah. Spontan Rasulullah SAW mendoakan :

“Allahumma baarik lahumaa”
“Semoga Allah memberkati hubunganmu tadi malam dengan istrimu.”

Berkat do’a itu, tidak lama setelah itu Ummu Sulaim mengandung dan melahirkan seorang anak diberi nama Abdullah. Setelah itu Abdullah ini dikaruniai anak 9 putera, semuanya hafal Al Qur’an.

Kisah ini ada di dalam Hadits Shahih Bukhori. Ini bukan sinetron Indo Siar. Ini benar-benar terjadi dan dimuat Hadits Bukhori, kitab yang tak perlu diragukan kebenarannya.
Ini adalah contoh bagaimana sahabat, orang yang menghayati apa makna :
Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un

Cerita tentang Tukang Parkir wajar. Tetapi kisah Abu Umair ini anak semata wayang. Namun Ummu Sulaim menyadari benar bahwa anak yang ada di rumahnya bukan miliknya. Dia hanya dititipi.


Musibah antara Hukuman dan Rahmat

Ada bencana, ada Tsunami dan sebagainya itu musibah atau ujian.

Allah SWT berfirman:

وَا تَّقُوْا فِتْنَةً لَّا تُصِيْبَنَّ الَّذِيْنَ ظَلَمُوْا مِنْكُمْ خَآ صَّةً ۚ وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ اللّٰهَ شَدِيْدُ الْعِقَا بِ

“Dan peliharalah dirimu dari siksaan yang tidak hanya menimpa orang- orang yang zalim saja di antara kamu. Ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksa-Nya.” (QS. Al-Anfal 25)

Mungkin kita bertanya, kalau ada tsunami, ada gunung meletus, itu apa salahnya orang-orang yang selama ini taat dalam jalan Allah?

Kalau ada orang kena Diabetes, kemudian ada luka di kakinya kalau tidak segera diamputasi, maka luka itu akan merembet.

Begitu pula dalam suatu masyarakat, ketika ada kemaksiatan, kemudian orang yang taat tidak mengingatkan maka Allah akan mengirim bencana di masyarakat itu.

Bagi orang yang beriman, itu cara Allah untuk menyelamatkan mereka agar kemaksiatan itu tidak merembet ke rumahnya.

Bagi mereka yang tercebur dalam kemaksiatan itu, bencana itu adalah “down payment” dari siksaan nanti yang nanti akan ditambah lagi setelah dirinya meninggal.

Jadi musibah itu bisa hukuman bagi mereka yang jauh dari jalan Allah dan jadi rahmat bagi kaum mukmin yang ada di sekitar kawasan bencana itu.

Ada hadits Rasulullah SAW bersabda,

« يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ ، فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنَ الأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ » . قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ . قَالَ « يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ، ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ »

“Akan ada satu kelompok pasukan yang hendak menyerang Ka’bah, kemudian setelah mereka berada di suatu tanah lapang, mereka semuanya dibenamkan ke dalam perut bumi dari orang yang pertama hingga orang yang terakhir.” ‘Aisyah berkata, saya pun bertanya, “Wahai Rasulullah, bagaimanakah semuanya dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, sedangkan di tengah-tengah mereka terdapat para pedagang serta orang-orang yang bukan termasuk golongan mereka?” Rasulullah SAW menjawab, “Mereka semuanya akan dibenamkan dari yang pertama sampai yang terakhir, kemudian nantinya mereka akan dibangkitkan sesuai dengan niat mereka.” (HR. Bukhari dan Muslim).


2. Fadhilah – Syukur

Ada dua macam ujian, yaitu dikuranginya kenikmatan dan orang diperintah untuk sabar, dan ada ujian dengan ditambahnya kenikmatan. Namanya fadhilah dan orang diperintah bersyukur.

Sebagai contoh adalah Nabi Sulaiman, beliau diberi kerajaan dan kekayaan yang belum pernah diterima oleh manusia sebelum dan sesudahnya.
Puncaknya ketika beliau mau memasuki istana, kemudian ada semut yang memberi perintah kepada teman-temannya untuk menyingkir.
Nabi Sulaiman tersenyum : “Maa syaa Allah, sampai sebegininya Allah mengaruniai nikmat kepadaku ..”

Ini dicatat dalam Al Qur’an , Allah SWT berfirman:

قَا لَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْـكِتٰبِ اَنَاۡ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَ ۗ فَلَمَّا رَاٰ هُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَا لَ هٰذَا مِنْ فَضْلِ رَبِّيْ ۗ لِيَبْلُوَنِيْٓءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُ ۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِ نَّمَا يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖ ۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِ نَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ

“Seorang yang mempunyai ilmu dari Kitab berkata, Aku akan membawa singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip. Maka ketika dia Sulaiman melihat singgasana itu terletak di hadapannya, dia pun berkata, Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku, apakah aku bersyukur atau mengingkari nikmat-Nya. Barang siapa bersyukur, maka sesungguhnya dia bersyukur untuk kebaikan dirinya sendiri, dan barang siapa ingkar, maka sesungguhnya Tuhanku Maha Kaya, Maha Mulia.” (QS. An-Naml 40)

Makna bersyukur adalah menggunakan apa yang kita terima sesuai dengan keinginan pemberi.

Misalnya, saya mendapat hadiah kopiah dari UAS. Dan UAS akan senang kalau kopiah saya pakai dan saya foto. Fotonya saya kirim ke dia. Karena saya menggunakan pemberiannya sesuai keinginan dia. Mungkin dia akan memberi hadiah lagi.
Akan beda bila kopiah ini saya pakai sebagai lap mobil saya dan ada orang yang kebetulan memotretnya dan mengirim foto ke UAS. Pasti dia marah.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ تَاَ ذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَاَ زِيْدَنَّـكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ اِنَّ عَذَا بِيْ لَشَدِيْدٌ

“Dan ingatlah ketika Tuhanmu memaklumkan, Sesungguhnya jika kamu bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepadamu, tetapi jika kamu mengingkari nikmat-Ku , maka pasti azab-Ku sangat berat.” (QS. Ibrahim 7)

Kemudian wujud bersyukur adalah dengan mengeluarkan zakat dan Infaq. Kalau hal ini tidak dilakukan akan mengotori harta.

Allah berjanji akan menambah nikmat.
La azidannakum, Dalam bahasa Arab ada dua penguatan lam dan nun taukid. Pasti akan terjadi penambahan nikmat Allah dan ada banyak cerita tentang ini.

Ada seorang ustadz yang income-nya pas-pasan. Dia ikut urunan 3 juta untuk korban sapi, biasanya uang ditransfer dua minggu, tiga minggu sebelumnya.
Sebelum hari Raya tiba-tiba dia mendapat ganti lebih dari 3 juta.

Ada seorang ibu-ibu petugas Cleaning Services sebuah sekolahan. Disitu dibuka donasi untuk Palestina. Ketika dia sedang mengumpulkan botol plastik dan melihat pengumuman donasi Palestina, hatinya tersentuh ingin menyumbang.

Dia menghubungi Panitia dan berkata :
“Bapak Panitia, selama ini saya mengumpulkan uang dari menjual botol plastik untuk Umrah. Sudah terkumpul 15 juta. Kalau memang sedemikian menderita rakyat Palestina, saya sumbangkan uang saya 15 juta ini. Biarlah saya nanti Umrah atau tidak terserah Allah”.

Dalam hitungan detik …! Ada tiga travel yang menawari ibu-ibu itu Umrah.
Ini kisah nyata! Dan banyak kisah ajaib seperti itu.

Silahkan tunjukkan orang yang gemar berinfak, bersedekah dan kemudian orang itu bangkrut. Yang mahasiswa silahkan bikin penelitian apa ada infak yang membikin jatuh bangkrut! .

Ujian dalam bentuk Fadhilah ini banyak yang tidak disadari oleh kebanyakan kita.


C. Kadar Ujian

Selama hayat masih dikandung badan, manusia pasti akan menghadapi ujian.
Siapa manusia di atas bumi yang paling besar cobaannya?

Dalam hadits yang panjang dari Abu Ubaidah :

“Suatu hari sahabat-sahabat wanita itu mengunjungi Nabi SAW , dimana dia sedang tidak enak badan. Lalu mereka melihat beliau sedang dikompres dan mereka melihat betapa suhunya Rasulullah saat itu panas sekali.
Lalu mereka bertanya ,
“Wahai Rasulullah, mengapa engkau tidak berdo’a kepada Allah sehingga sakitmu berkurang ?”
Rasulullah kemudian bersabda, “Sesungguhnya manusia yang paling berat cobaannya adalah Para Nabi, kemudian para orang shalih”. (Hadits Ahmad)

Sakit itu adalah cara Allah merontokkan dosa-dosa hambanya.
Mungkin kita bertanya, Bukankah Nabi ini steril dari dosa? Ini menunjukkan bahwa meskipun Nabi sudah diampuni kesalahannya, tapi ini sebagai contoh teladan bagi umatnya, tetap diuji.

Ujian yang paling berat bagi manusia di muka bumi adalah Para Nabi. Baik diuji dengan dikurangi kenikmatannya ataupun diuji dengan ditambah kenikmatannya.

Kalau masih diuji dengan sakit kulit biasa. Nabi Ayub dulu lebih dahsyat sakit kulitnya.

Kalau ada orang yang dikucilkan oleh orang-orang di sekitarnya, Nabi Yusuf pada saat kecil tidak hanya dikucilkan, tapi diceburkan oleh Saudaranya ke Sumur.

Kalau ada yang diuji dengan isterinya, Nabi Nuh juga diuji dengan isterinya. Nabi Luth juga diuji dengan isterinya. Nabi Nuh juga diuji dengan anaknya.

Dan Nabi Nuh menasehati kaumnya termasuk keluarganya bukan sebulan dua bulan, tapi bertahun-tahun sampai 900 tahun lebih. Jadi kalau kita diuji menghadapi orang yang keras kepala, sampai kecapekan menasehati, kita harus bertanya, kita berapa bulan bertahan menghadapi orang yang keras kepala itu? Nabi Nuh bertahun-tahun menghadapi orang yang keras kepala. Bukan sekedar keras kepala, mereka mengejek-ejek Nabi Nuh.

Jadi tidak ada apa-apanya ujian kita ini dibanding dengan ujian yang pernah diterima oleh Para Nabi dan orang -orang yang selevel dibawahnya.

Kalau dalam garasi mobil kita ada beberapa mobil bermerk, itu tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan kekayaan Nabi Sulaiman. Itu diuji dengan kekayaan. Namun kemudian Sulaiman dengan rendah hatinya mengatakan : “Ini adalah fadhilah dari Tuhanku”.
Kita mobil beli kredit belum lunas saja sudah sombong.


Apakah Orang Kafir Tidak Diuji?

Mungkin kita bertanya :
“Saya punya tetangga, shalatnya bolong- bolong, mungkin shalat hanya jumatan saja, atau bahkan mungkin hanya saat Iedhul Fithri dan Iedhul Adha saja. Tetapi bisnisnya lancar- lancar saja. Sementara kita berdarah- darah ke masjid tiap waktu tapi ya gini-gini saja.

Kalau ada yang terbersit pikiran seperti itu, itu dijawab oleh Al Qur’an :

وَلَا يَحْسَبَنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْۤا اَنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ خَيْرٌ لِّاَنْفُسِهِمْ ۗ اِنَّمَا نُمْلِيْ لَهُمْ لِيَزْدَا دُوْۤا اِثْمًا ۚ وَلَهُمْ عَذَا بٌ مُّهِيْنٌ

“Dan jangan sekali-kali orang-orang kafir itu mengira bahwa tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka lebih baik baginya. Sesungguhnya tenggang waktu yang Kami berikan kepada mereka hanyalah agar dosa mereka semakin bertambah; dan mereka akan mendapat azab yang menghinakan.” -(QS. Ali ‘Imran178)


Hati-hati bagi yang sekarang tenggelam dalam kenikmatan dunia. Kemudian jauh dari agama dan kehidupannya baik-baik saja. Hati-hati itu namanya istidraj.
Kalau dia tidak segera taubat ada azab yang menanti dia.

Ketika dia mengakiri kehidupan, disanalah perhitungan sebenarnya.

Allah SWT berfirman:

وَا لَّذِيْنَ كَذَّبُوْا بِاٰ يٰتِنَا سَنَسْتَدْرِجُهُمْ مِّنْ حَيْثُ لَا يَعْلَمُوْنَ () وَاُ مْلِيْ لَهُمْ ۗ اِنَّ كَيْدِيْ مَتِيْنٌ

“Dan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami, akan Kami biarkan mereka berangsur-angsur ke arah kebinasaan , dengan cara yang tidak mereka ketahui. Dan Aku akan memberikan tenggang waktu kepada mereka. Sungguh, rencana-Ku sangat teguh.” (QS. Al-A’raf Ayat 182-183)

Selama hayat dikandung badan manusia tidak akan lepas dari ujian. Semakin besar ujian itu menunjukkan semakin besar kualitas keimanan kita.

Umar Bin Khattab pernah mengatakan, kendaraan seorang mukmin itu dalam mengarungi kehidupan di dunia cuma dua : Sabar dan Syukur.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here