KH. Anang Rikza Masyhadi

17 Muharram 1442 / 5 September 2020



Kepeloporan Umar bin Khattab r.a

Sayidina Umar bin Khattab r.a mengusulkan agar kalender islam dimulai dari peristiwa hijrahnya Nabi dari Mekkah ke Madinah.

Umar bin Khattab adalah salah satu sahabat Rasul yang terkenal dengan kepeloporan ide-ide rasionalnya.
Misalnya Beliau yang mempelopori terbentuknya Kantor Pemerintahan, waktu itu adalah Kantor Keuangan yang disebut dengan Diwan.

Umar bin Khattab melihat Abu Bakar sebagai khalifah masih ke pasar untuk dagang. Karena Abu Bakar harus mencukupi kebutuhan keluarganya. Umar bin Khattab mengatakan kalau Khalifah sibuk dengan urusan keluarga nanti konsentrasi dan waktu dia mengurus negara dan umat akan terganggu.

Umar bin Khattab mengusulkan membentuk Diwan semacam kantor Administarasi Keuangan, fungsinya mengumpulkan dana dari masyarakat , untuk menggaji Khalifah. Semangat ini penting, intinya seorang Pemimpin jangan sampai ada conflict interest dengan kepentingan pribadinya.

Sampai sekarang banyak Pemimpin kita mengurus Negara sambil mengurus bisnisnya pribadi. Padahal itu harus dipisahkan. Termasuk keterlibatan memihak dalam politik tidak boleh , karena dia mestinya mengurus Publik.

Diwan ini kemudian diserap ke dalam bahasa Perancis, yang maknanya kantor Pajak. Dan kemudian di Indonesia menjadi Dewan, namun tidak seperti maksud Diwan sebagaimana usul Umar bin Khattab.

Kepeloporan yang lain, beliau Umar bin Khattab yang mencetuskan gelar Amirul Mukminin untuk semua Khalifah setelah Rasul. Waktu itu istilah yang ada Khalifatul Rasul yang maknanya Penggantinya Rasul.

Umar bin Khattab berfikir kalau Abu Bakar meninggal bukankah nanti penggantinya akan bergelar :
Khalifatul khalifatul Rasul. Ini tidak benar karena nanti gelar akan makin panjang dan menyulitkan. Maka Umar bin Khattab mengusulkan gelar Amirul Mukminin atau Pemimpinnya orang- orang yang beriman. Dan usulan ini disetujui Para Sahabat.


Hijrah adalah starting point penanggalan islam

Latar belakangnya panjang, karena umat islam selama hampir 13 tahun tak punya penanggalan yang pasti. Penanggalannya masih ikut penanggalan sebelumnya. Di kalangan para Sahabat di Madinah terjadi perdebatan bagaimana untuk memulai, memancangkan tonggak penanggalan islam.

Ada yang usul bahwa kalender islam di mulai dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, karena memang beberapa sistem kalender sebelumnya mengacu pada kelahiran tokoh. Kita kenal kalender Masehi adalah kalender yang acuannya kelahiran Isa al Masih. Terlepas dari perdebatan tentang tanggal berapa sebetulnya Isa itu lahir. Makanya kalender Masehi disebut dengan Kalender Miladiah.

Ada juga yang mengusulkan permulaan kalender islam dimulai dari turunnya wahyu pertama di Goa Hira. Karena itu menjadi tonggak agama islam tumbuh. Islam diawali dengan turunnya wahyu yang pertama.

Sayidina Umar bin Khattab r.a mengusulkan starting point kalender Islam dari Peristiwa hijrah dari Mekkah ke Medinah , karena itu merupakan aktivitas, suatu proses kegiatan yang dinamis.

Kelahiran adalah sesuatu yang “given”, kita hanya menerima dan bukan kehendak kita. Kenabian juga begitu, bahwa turunnya ayat pertama adalah tonggak awalnya Kenabian adalah benar. Namun itu sesuatu yang diterima dan hal itu bersifat Pribadi Rasul.

Kita ingin semangat islam bukan pada semangat Pribadi Rasul tetapi semangat jamaah, semangat Komunalisme, semangat Kebersamaan. Merupakan aktivitas bukan oleh Rasul sendiri, tetapi aktivitas semua umat islam yang beriman pada waktu itu.

Ternyata usulan Hijrah sebagai starting point kalender islam oleh Umar bin Khattab diterima oleh Sahabat yang lain.


Hijrah lahir dari Semangat Optimisme

Hijrah terjadi kurang lebih 13 tahun setelah Nabi berdakwah di Mekkah. Dakwah di Mekkah itu dakwah yang sangat sulit, tantangannya berat sekali. Ancamannya bersifat fisik, bukan lagi intimidasi psikis. Konon Nabi hampir putus asa, mengeluh dan sudah pasrah kepada Allah. Sehingga turunlah Surat Adh Dhuha yang menghibur Nabi.

Allah SWT berfirman:

وَا لضُّحٰى ۙ وَا لَّيْلِ اِذَا سَجٰى ۙ  مَا وَدَّعَكَ رَبُّكَ وَمَا قَلٰى ۗ  وَلَـلْاٰ خِرَةُ خَيْرٌ لَّكَ مِنَ الْاُ وْلٰى ۗ 

“Demi waktu duha, dan demi malam apabila telah sunyi, Tuhanmu tidak meninggalkan engkau Muhammad dan tidak pula membencimu, dan sungguh, yang kemudian itu lebih baik bagimu daripada yang permulaan.”
(QS. Ad-Duha 93: Ayat 1- 4)

Berarti Nabi akan diberi kemenangan oleh Allah. Ada optimisme kembali. Dari situlah kemudian semangatnya bangkit kembali dan Allah SWT memerintahkan Nabi dan Sahabatnya untuk berhijrah ke Medinah.


Hijrah adalah Kegiatan dan hal ini diapresiasi oleh Islam

Point penting lainnya kenapa kalender islam ditetapkan berdasar Hijrah yang merupakan suatu aktivitas, suatu karya, suatu kegiatan, suatu kedinamisan karena sesuai dengan Peri bahasa yang populer di kalangan orang Arab waktu itu pada waktu awal masuk islam yang artinya :

_”Penghargaan pada masa jahiliyah didasarkan pada nasab, tetapi penghargaan setelah islam pada perbuatan, pada karya, pada prestasi”._

Ini yang menginspirasi Umar bin Khattab mengusulkan Peristiwa Hijrah sebagai tonggak awal kalender islam.


Isra’ Miradj dan Hijrah adalah satu paket Hablu minallah dan Hablu minanas

Ada dua peristiwa yang dahsyat kalau kita bicara dalam konteks pergerakan.
Yaitu Isra’ Miradj dan Hijrah.
Isra’ Miradj adalah suatu aktivitas, suatu perjuangan , dinamika yang bersifat vertikal.

Ketika Nabi dihijrahkan oleh Allah Dari masjidil Haram ke masjidil Aqsha, itu Isra’. Kemudian dari masjidil Aqsha ke Sidrathul Munthaha. Atau dari bumi ke langit, itu Miradj. Itu peristiwa yang sangat dramatis, sangat menegangkan. Peristiwa yang bagi nalar manusia , itu tidak mungkin terjadi.Hijrah adalah Dinamika yang sifatnya horizontal.

Isra’ Miradj dan Hijrah itu satu paket . Isra’ Miradj yang menunjukkan ada dinamika yang vertikal. Maka lahirlah dari Isra’ Miradj perintah shalat. Yang merupakan habluminallah.

Kemudian Hijrah adalah dalam konteks dinamika dan pergerakan yang sifatnya horizontal maka berpindahnya bukan dari bumi ke langit tetapi dari satu tempat ke tempat yang lain. Yaitu dari Mekkah ke Medinah, Peristiwa habluminannas. Hal ini point penting.


Memahami Dimensi Keillahiyahan

Kembali ke Isra’ Miradj, Allah SWT berfirman:

سُبْحٰنَ الَّذِيْۤ اَسْرٰى بِعَبْدِهٖ لَيْلًا مِّنَ الْمَسْجِدِ الْحَـرَا مِ اِلَى الْمَسْجِدِ الْاَ قْصَا الَّذِيْ بٰرَكْنَا حَوْلَهٗ لِنُرِيَهٗ مِنْ اٰيٰتِنَا ۗ اِنَّهٗ هُوَ السَّمِيْعُ الْبَصِيْرُ


sub-haanallaziii asroo bi’abdihii lailam minal-masjidil-haroomi ilal-masjidil -aqshollazii baaroknaa haulahuu linuriyahuu min aayaatinaa, innahuu huwas-samii’ul-bashiir

“Maha Suci Allah , yang telah memperjalankan hamba-Nya (Muhammad) pada malam hari dari Masjidilharam ke Masjidilaqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian tanda-tanda kebesaran Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. Al-Isra’ 17: Ayat 1)

Kalau ada ayat yang dimulai dengan
“sub-haanallaziii” (Maha Suci Allah), mengagungkan Allah sebenarnya untuk menata hati dan pikiran kita bahwa apa yang akan disampaikan dalam ayat berikutnya adalah peristiwa yang sangat luar biasa. Peristiwa berdimensi keillahiyahan dan mungkin sulit di nalar oleh pikiran kita. Jangan sampai kita su’udzon kepada Allah. Maka kita dibersihkan dulu dengan “subhaana”.

“asroo” , artinya memperjalankan, bukan berjalan. Jadi Peristiwa isra’ Miradj itu mustahil, tidak mungkin terjadi sebuah pergerakan seorang manusia dari bumi ke langit.

Sama dengan yang sering saya sampaikan bahwa seekor semut mustahil akan berjalan dari Surabaya ke Jakarta dalam waktu 1 jam- 2 jam. Hal itu mustahil dalam dunia semut.

Tetapi kalau semut itu saya perjalankan, karena dia menempel di rambutan yang saya beli untuk saya hadiahkan kepada orang tua. Lalu semut dan rambutan masuk ke tas saya. Saya naik Pesawat dan 1 jam berikutnya sampai di Jakarta.

Maka bila semut itu dapat memahami bahwa dalam peristiwa itu dia harus keluar dari “logika semut” menuju ke “logika kemanusiaan”. Dia akan percaya.

Dengan memahami perspektif logika kemanusiaan dia percaya. Tapi bila menggunakan logika semut peristiwa itu tidak logis.

Maka bila Peristiwa Isra’ Miradj kita memahami dengan dimensi kemanusiaan pasti tidak akan ketemu, tidak logis. Tetapi kalau kita memahami dalam Dimensi Keillahiyahan, dimensi yang kekuasaan Allah yang tak terbatas maka kita akan faham dan itu logis.

LAHUL MULKU WA LAHUL HAMDU WA HUWA ‘ALA KULLI SYAI’IN QODIR (milik-Nya segala kekuasaan dan bagi-Nya segala pujian, dan Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatunya) 

Innamaa amruhuu idzaa araada syai’an ay yaquula lahuu kun fa yakuun
(Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia).

Abu Bakar r.a kemudian mengimani hal ini : “Saya percaya”. Kemudian dia digelari dengan Ash Shiddiq.


Isra’ Miradj dan Hijrah adalah Peristiwa Fisik yang butuh Penyucian Hati

Apakah Peristiwa Isra’ Miradj itu peristiwa Fiktif atau Fisik? Jelas Fisik.
Kenapa kok fisik ?

Ayat di atas mengatakan “bi’abdihii”- dari kata “abdun” , yang dalam bahasa Arab adalah sosok. Ada ruh dan ada jasad. Kalau hanya jasad namanya “mayit”. Kalau ruh saja namanya “arwah”. Disebut “abdun” berarti pada saat jasad dan ruh masih menyatu.

Ayat di atas menunjukkan bahwa Peristiwa Isra’ Miradj terjadi secara fisik, nyata dan betul-betul terjadi. Kita tak bisa memahami peristiwa ini, kecuali kita keluar dari Dimensi Kemanusiaan kita lalu kita memahaminya dalam perspektif atau Dimensi Keillahiyahan.


Hikmah dari Isra’ Miradj dan Hijrah

Sebelum Berdakwah kita harus melakukan Penyucian diri

Hijrah menunjukkan kepada kita bahwa perjuangan menegakkan kebenaran itu tantangannya berat. Dan itu ada proses penyucian ke dalam dulu (tazkiyah).

Isra’ Miradj juga proses penyucian. Bahkan kalau kita lihat proses sebelum Nabi isra’ Miradj ada ditemui Malaikat Jibril, dibedah dadanya dan dicuci hatinya. Itu adalah proses penyucian. Baru kemudian proses horizontal. Proses dakwah.

Dalam konteks kita berdakwah, berjuang menegakkan kebenaran tidak boleh melewatkan proses penyucian ke dalam. Ke internal kita.

Kalau tidak nanti dakwah itu dikapitalisasi. Dakwah menjadi tidak murni untuk tujuan li-llah tapi dakwah itu untuk kepentingannya sendiri atau untuk kepentingan lain yang melekat yang tidak ada hubungannya dengan kepentingan dakwah itu sendiri.
Isra’ Miradj dan Hijrah mengajarkan demikian.


Hijrah membangun Kehidupan berperadaban

Setelah Nabi Hijrah dari Mekkah ke Yatsrib, (pada waktu itu belum bernama Madinah). Setelah sampai di Yatsrib Nabi merenung sejenak, beberapa hari. Kemudian Nabi mengubah nama kota Yatsrib menjadi Thibah, atau Thoyyibah atau Madinah al Munawaroh.

Thibah atau Thoyyibah adalah sesuatu yang baik. Thoyyib adalah kebaikan. Al Madinah al Munawaroh adalah Kota yang bercahaya.

Mengubah nama kota tidak sepele.
Madinah dalam bahasa Arab artinya Kota. Dalam bahasa Yunani ada kata Polis yang artinya kota. Maka dulu ada Konstantinopel, Indiana Polis, itu semua merujuk pada kota.

Kota yang difahami pada masa itu adalah sebuah peradaban. Maka keputusan mengubah nama Yatsrib menjadi Madinah menunjukkan bahwa semangat Hijrah bukan sekedar berpindah tempat dari Mekkah ke Medinah. Tetapi dengan perubahan nama kota itu ada pesan Nabi bahwa Hijrah adalah membangun sebuah Kehidupan yang berkeadaban.

Dalam konteks hijrah saat ini dengan segala dimensinya harus membawa kita kepada suatu kehidupan yang lebih beradab.

Banyak yang perlu kita hijrahkan :
Politik kita perlu dihijrahkan.
Ekonomi kita kalau kita perhatikan lama-lama sudah tidak lagi beradab. Ekonomi kita kembali ke ekonomi rimba, siapa yang kuat akan menang. Dia yang kuat menekan dan memusnahkan yang lemah. Ini sudah harus dihijrahkan menjadi Ekonomi yang berkeadaban.

Sosial budaya kita juga begitu. Sosial Budaya kita semakin kesana semakin kehilangan nilai-nilai keadaban. Maka harus dihijrahkan.

Semangat Al Madinah harus menuju kepada Kehidupan yang berkeadaban.
Kita harus hijrah, bukan sekedar pindah. Bukan sekedar yang tadinya shalat belum sepenuhnya sekarang sudah taat. Bukan sekedar itu, tidak cukup hanya begitu. Hal itu hanya salah satu dari sekian banyak dari makna hijrah.

Hijrah dalam konteks makro, seluruh aspek kehidupan kita harus dihijrahkan. Kita ini sekarang banyak yang tidak dapat membedakan antara Modernisasi, Westernisasi dan Primitifisasi.

Islam tidak pernah menolak modernisasi. Yang ditolak oleh islam adalah Westernisasi dan Primitifisasi.
Kita memakai mobil, memakai Pesawat itu bagian dari modernisasi. Kita memakai gadget, google Meet dan Zoom untuk dakwah adalah bagian dari modernisasi.

Kalau kita menolak Modernisasi maka islam akan hidup terasing dan tidak akan seperti sekarang ini.

Modernisasi dan Islam adalah sesuatu yang built in. Modernisasi adalah nilainya islam. Theori kedokteran yang berkembang luar biasa dari barat tidak kita tolak. Dokter-dokter muslim tidak menolak hal itu.

Kiyai -kiyai ,ulama hari ini tidak menolak teknologi karena agama islam memang tidak mengajarkan untuk menolak itu.

Yang kita tolak adalah Westernisasi, budaya kebarat-baratan yang tidak sesuai. Sekarang bisa jadi Chinaisasi atau Komunisasi atau Liberisasi. Filternya ada disitu.

Primitifisasi jika kita hari ini kita melihat wanita di jalan dengan membuka aurat. Karena dulu orang tidak mengenal pakaian. Kemudian orang berevolusi dan mengenal pakaian. Sedikit demi sedikit auratnya ditutup. Puncak peradaban pakaian manusia ada pada pakaian islam.

Ibu-ibu yang memakai jilbab tertutup rapi itu puncak Peradaban manusia dalam hal berpakaian. Kalau sekarang mau kembali buka-bukaan, bukan modernisasi tapi Primitifisasi. Kembali ke zaman tidak berpakaian. Yang kita tolak disitu.

Apa yang sekarang ini nampak keluar dari nilai-nilai peradaban, nilai-nilai luhur, nilai-nilai kemanusiaan yang hakiki, menyimpang dari fithrah, menyimpang dari kodrat harus dihijrahkan.

Kalau itu terjadi pada dunia Politik maka Politiknya harus dihijrahkan. Kalau itu terjadi pada dunia Ekonomi, ekonominya harus dihijrahkan. Demikian pula kalau terjadi pada Sosial Budaya. Ini adalah semangat yang dibangun oleh Nabi dengan Hijrah.


Hijrah mengajarkan agar tak takut bila ada di fihak benar

Ada peristiwa menarik pada saat Hijrahnya Nabi. Pada saat Nabi dikepung, bahkan setiap Kabilah mengirim wakil anak muda yang perkasa untuk mengepung rumah Nabi di Mekkah. Mereka pengepung membawa pedang terhunus dan semua bertekad menangkap atau membunuh Nabi Muhammad.

Secara rasio manusia sudah tidak ada lagi yang bisa dilakukan Nabi. Tapi apa yang terjadi? Ternyata Allah menolong Nabi. Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a disuruh tidur di tempat tidur Nabi Muhammad dan Nabi Muhammad keluar meninggalkan rumah dengan seenaknya saja. Dan tak ada seorangpun pengepung yang melihat bagaimana Nabi keluar rumah.

Bahkan Nabi Muhammad menaburi debu pada kepala mereka, supaya mereka bertanya-tanya kenapa ada debu di kepala saya?
Itu memberi pesan mengejek pada Para Pengepung bahwa “kamu saya lewati tadi malam, tapi kamu tidak sadar”.

Peristiwa itu direkam dalam Al Qur’an
Allah SWT berfirman:

وَجَعَلْنَا مِنْۢ بَيْنِ اَيْدِيْهِمْ سَدًّا وَّمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَاَ غْشَيْنٰهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُوْنَ

“Dan Kami jadikan di hadapan mereka sekat dinding dan di belakang mereka juga sekat, dan Kami tutup mata mereka sehingga mereka tidak dapat melihat.” (QS. Ya-Sin 36: Ayat 9)

Penglihatan para pengepung Nabi dikaburkan oleh Allah SWT sehingga tidak ada yang dapat melihat Nabi ketika beliau keluar rumah.

Memang dalam sejarah manusia, Allah mengutus Para Nabi dan Rasul. Ada diantara Nabi tersebut yang kemudian nasibnya berakhir tragis, dibunuh oleh orang kafir.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ الَّذِيْنَ يَكْفُرُوْنَ بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ وَيَقْتُلُوْنَ النَّبِيّٖنَ بِغَيْرِ حَقٍّ ۙ وَّيَقْتُلُوْنَ الَّذِيْنَ يَأْمُرُوْنَ بِا لْقِسْطِ مِنَ النَّا سِ ۙ فَبَشِّرْهُمْ بِعَذَا بٍ اَ لِيْمٍ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Allah dan membunuh para nabi tanpa hak dan membunuh orang-orang yang menyuruh manusia berbuat adil, sampaikanlah kepada mereka kabar gembira, yaitu azab yang pedih.” (QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 21)

Hampir saja pembunuhan itu juga terjadi pada Nabi Muhammad SAW, tetapi ada ayat yang menghibur.
Allah SWT menjanjikan perlindungan kepada Nabi Muhammad SAW :

يٰۤـاَيُّهَا الرَّسُوْلُ بَلِّغْ مَاۤ اُنْزِلَ اِلَيْكَ مِنْ رَّبِّكَ ۗ وَاِ نْ لَّمْ تَفْعَلْ فَمَا بَلَّغْتَ رِسٰلَـتَهٗ ۗ وَا للّٰهُ يَعْصِمُكَ مِنَ النَّا سِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِى الْقَوْمَ الْـكٰفِرِيْنَ

“Wahai Rasul! Sampaikanlah apa yang diturunkan Tuhanmu kepadamu. Jika tidak engkau lakukan berarti engkau tidak menyampaikan amanat-Nya. Dan Allah memelihara engkau dari gangguan manusia. Sungguh, Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang kafir.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 67)

Ayat ini penting untuk diimani oleh Para Da’i, Para Pejuang, Aktivis Dakwah apabila ada dalam kebenaran tidak usah takut. Allah SWT akan melindungi kita dari kejahatan manusia.


Hijrah mengajarkan Iman dulu baru Ilmu kemudian

Hijrah itu meninggalkan semua
Ini juga tidak masuk akal, kok mau?
Para pengikut Nabi Muhammad SAW meninggalkan semua yang dimilikinya yang di Mekkah. Dan mereka tidak tahu informasi kondisi Madinah. Pada waktu itu tidak ada gadget yang dapat mengakses informasi keadaan Madinah.

Ini karena mereka percaya bahwa ketika mereka meninggalkan semuanya di Mekkah ikut Nabi, ikut perintah Allah menuju Madinah mereka akan mendapat jaminan Allah. Percaya ini karena iman.

Orang boleh tidak faham terhadap sesuatu, tetapi orang tidak boleh tidak percaya. Dalam sistem keimanan kita memang banyak yang belum kita fahami. Tetapi tidak berarti kalau tidak faham lalu tidak percaya.

Ibarat kalau kita sakit lalu pergi ke dokter. Lalu dokter mendiagnosa kemudian mengambil tindakan. Mungkin kita pasien tidak memahami. Tetapi kita langsung percaya saja kepada dokter. Kalau tidak percaya kita tidak akan berobat ke dokter.

Kita bangun pagi jam setengah empat untuk bersiap shalat Subuh. Mungkin banyak orang yang tak faham mengapa agama islam mengatur kehidupan seperti ini. Tapi tidak berarti tidak faham lalu tidak percaya. Kalau tidak percaya dia tidak shalat Subuh.

Kenapa puasa harus se bulan? Mungkin banyak orang yang tidak faham. Tetapi belum memahami itu tidak berarti tidak percaya. Percaya atau iman itu mendasari semuanya.

Demikian juga dengan Hijrah, mereka melakukan karena percaya, karena iman. Jadi yang terjadi dulu adalah Iman sebelum ilmu.

Sekarang ini semuanya kita tarik ke rasional dulu. Baru setelah rasional dia percaya. Padahal islam tidak begitu. Dalam konteks yang sifatnya Keagamaan, kita percaya dulu. Ini perintah Allah. Baru sambil menjalaninya kita berproses untuk memahami dan mendalaminya.


Hijrah mengajarkan bahwa menegakkan Kebenaran perlu Tempat yang Kondusif

Para Nabi punya tradisi Hijrah. Misalnya Nabi Ibrahim beliau hijrah ke Mekkah dan disana menetap dan membangun Ka’bah. Meninggikan kembali pondasi Ka’bah yang sudah ada yang dulu dibangun oleh Malaikat, Nabi Adam dan Nabi Sys.
Akhirnya Mekkah menjadi Peradaban, Poros dunia, kiblat manusia. Nabi Musa juga hijrah.

Dakwah perlu tempat yang kondusif dan membangun kekuatan. Nabi Muhammad akhirnya kembali ke Mekkah setelah kekuatan terbentuk.
Ini strategi dakwah yang diwariskan kepada kita.

Kebenaran islam tidak butuh pembenaran. Hari ini orang mengusik islam, merongrong Islam. Tidak masalah karena kita tidak butuh pembenaran. Itu tidak akan mengubah kebenaran itu. Dia akan tetap benar.
Kebenaran hanya butuh didakwahkan.
Mekkah mengajarkan itu, betapa Abu Jahal, Abu Lahab merongrong islam. Rongrongan mereka tidak mengubah kebenaran islam.

Semoga bermanfaat,
barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here