Ruslan Fariadi AM, SAg, MSi

14 Muharram 1442 / 2 September 2020



Islam dan Informasi

Di tengah era globalisasi dengan kecanggihan informasi ini kita dihadapkan dengan berbagai macam pilihan, positif dan negatif.
Apakah kita menjadi orang yang mengendalikan kecanggihan teknologi informasi ataukah sebaliknya, menjadi kurban?

Persoalan ini tidak hanya bersifat lokal dan nasional atau pada negara tertentu, tetapi sudah bersifat global mendunia. Karena itu di tingkat Pemerintah kita sudah memiliki Undang-Undang ITE yang sekalipun dalam aplikasinya itu kadang bisa menjadi Undang Undang Karet. Kurbannya bisa sesuai dengan keberpihakan.

Atas dasar itulah maka Majelis Tarjih memandang persoalan ini harus mendapatkan perhatian tidak hanya dari aspek-aspek yang bersifat hukum yuridis, tetapi juga aspek-aspek sentuhan keagamaan yang jauh lebih kental. Yang tentu kalau kita bicara tentang agama maka ada aspek yang bersifat teologis atau akidahnya, aspek yang bersifat yuridis atau al-ahkam al fariyah. Tetapi juga ada aspek al-akhlak atau etika moralnya.

Bagi Muhammadiyah persoalan informasi ini bukan suatu hal yang asing, karena pada tahun 1920, tepatnya 17 Juni 1920 sudah berdiri apa yang disebut dengan Hopbestur yang kemudian dalam perjalanannya menjadi Majelis Pustaka dan Informasi.

Artinya bahwa Muhammadiyah sudah berfikir futuristik, jauh ke depan. Tetapi persoalannya adalah perkembangan teknologi itu tidak bisa dibendung, karena terus mengalami perubahan- perubahan, kemajuan- kemajuan baik aspek positif maupun aspek negatif. Pada saat itulah kemudian kita menyusun apa yang kemudian disebut dengan Fikih Informasi (Fiqhul i’lam).

Bagi Muhammadiyah dengan Majelis Tarjihnya , yang disebut dengan Fikih bukan sekedar Hukum Taklifi yang bersifat : Halal, haram, wajib, mubah, makruh , mandub dan sebagainya. Tetapi Fikih yang kita wacanakan adalah bermakna : Seperangkat norma. Norma berjenjang inilah yang digunakan untuk melakukan suatu perumusan.

Al Qiyam al-asasiyah atau Nilai-nilai Dasar. Kemudian nanti di breakdown lagi menjadi apa yang disebut dengan Al-ushul al Kulliyah atau Asas-asas Universal. Baru kemudian masuk pada Al-ahkam al far’iyah yaitu hukum- hukum yang bersifat kongkrit.

Maka Fikih yang kita maknai disini adalah nilai-nilai agama yang meliputi baik persoalan akidah, hukumnya dan persoalan etika moralnya. Maka muncul persoalan Fikih Informasi.

Kenapa dalam Fikih Informasi ini yang digunakan adalah Fiqhul I’lam.?

Dalam kajian-kajian Tafsir dalam Al Qur’an kita bisa menemukan beberapa istilah yang digunakan untuk memaknai salah satu makna , yaitu informasi.

Dalam Al Qur’an maupun As Sunah bisa kita ketemukan istilah :
An Naba’, Al Khabar, Al I’lam, Al Ma’rifah, At Tabligh.
Salah satu maknanya adalah informasi.

Kalau kita menggunakan An Naba’ tentu ini persoalan yang sangat besar sekali cakupannya.

An Naba’ sinonim dengan kata khabar (anba’) Ibnu Manzhur t.t 4315. Kata naba’ beserta derivasinya disebut sebanyak 68 kali dalam Al Qur’an.
Meskipun sinonim dengan khabar, kata naba’ seringkali digunakan untuk menunjukkan suatu informasi penting.
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa naba’ bermakna informasi yang luar biasa (al ha’il), mengerikan (al mufzhi) dan membuat orang terpukau (al bahir).

Al Raghib al Asfahani mengatakan naba’ adalah informasi yang mengandung faedah besar, yang dapat menghasilkan sebuah pengetahuan pasti (al ‘ilm) atau hipotesa kuat (ghalabah al-zhann). Karenanya , suatu informasi tidak dapat dikatakan naba’ ketika informasi tersebut tidak mengandung tiga hal tersebut. (Faedah besar, Pengetahuan Pasti atau Hipotesa kuat) .

Kata “Nabi” juga berasal dari isim fa’il naba’ (nabi’ dan nabij). Artinya adalah seseorang yang menginformasikan sesuatu dari Allah SWT (Ibnu Manzhur). Dengan kata lain, berita yang dibawa oleh Nabi -Nabi Allah adalah berita penting yang luar biasa.
Naba’ memiliki memiliki makna yang lebih spesifik dari khabar.

Istilah I’lam yang berasal dari kata a’lama- yu’limu- i’laman.
Artinya menginformasikan atau memberitahu sesuatu kepada orang lain. I’lam juga dapat berarti tabligh atau iblagh, yang artinya menyebarkan informasi kepada manusia.

Perbedaan antara kata I’lam dan ta’lim.
Secara bahasa ta’lim adalah proses penyampaian informasi secara berulang-ulang dan terus menerus, sedangkan I’lam tidak. (Taha Ahmad al-Zaidi ,2010: 42).
Oleh karena itu suatu majelis ilmu yang rutin dilakukan disebut sebagai majelis ta’lim bukan majelis I’lam.


Pola Dan Management Informasi Dalam Al Qur’an dan Hadits

1. Pola informasi yang ada dalam Al Qur’an berisi kisah Masa Lalu (kisah Para Nabi dan individu maupun sekelompok manusia pada masa lalu (QS Hud(11) : 120, Yusuf (12) : 3 dan Al Kahfi (18) : 3). Kisah saat terjadi bahkan informasi tentang masa datang (Hari Kiamat).

Menurut Az Zarqani dalam Manahil Al ‘Irfan ,ternyata pola informasi dalam Al Qur’an ada yang bersifat :
Ghaib- Al Qadim, peristiwa masa lalu yang pernah terjadi tetapi dalam konteks informasi itu tentu menjadi sejarah yang disampaikan oleh Rasulullah SAW
Ghaib Al-Hal, informasi yang terjadi saat itu.
Ghaib al-Mustaqbal, informasi yang melampaui batas-batas kehidupan dunia kita , yaitu informasi tentang ukhrowi.

2. Ajaran islam memberi sinyal bahwa informasi bisa berdampak Positif yaitu sebagai Ibrah (la ‘ibratan li Ulil Albab). Namun juga bisa berdampak negatif, karena memberi kemudahan dalam menyebarkan berita bohong, fitnah dan provokasi (namimah) , sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Al Hujurat (49) : 6

Karena itu kita membutuhkan Fikih Informasi.

Begitu pula dalam hadits Nabi. Ketika kita memakai hadits Nabi sebagai pijakan maka kita mengenal theori Pewartaan (Informasi) dalam Khazanah Kajian Hadits

Pewarta (rawi), yang merupakan informan. Bagaimana rawi mendapatkan berita dalam ilmu musthalah hadits ada hal yang perlu diperhatikan : Cara mendapatkan berita (at-Tahammul) dan Cara menyebarkan berita (al-ada’) .

Baik cara mendapatkan dan cara menyampaikan informasi ada aturan mainnya, bagaimana Otentisitas dan Validitas Informasi bukan Hoax / Maudhu.

Bahkan secara rinci Para ulama hadits menetapkan tiga aspek ketika seseorang merespond sebuah informasi.

1. Al amanah wa an Nazahah fi al Hukmi (tanggung jawab dan tidak tendensius)
Hal ini diajarkan dalam ilmu musthalah hadits, balancing of reporting.

2. Ad- Diqqah fi al-bahtsi wa al-hukmi (cermat dalam melakukan investigasi/ reportase dan mengemas sebuah informasi).

3. Iltizam al-Adab fi al-Jarhi (Memegang teguh etika dalam memvonis seseorang / berita)
“Yazkuruna li ar-rawi ma lahu wa ma ‘alaihi”.


Kerangka Fikih Informasi

Menggunakan 3 norma berjenjang dan diawali dengan pendahuluan.

Pendahuluan : Bagaimana pandangan islam tentang Informasi.

Nilai Dasar (Al Qiyam al asasiyah) :
1. Tauhid
2. Al Akhlak al-karimah
3. Al Maslahah

Asas-asas Universal (al-Ushul al-Kulliyah).
1. Transparansi
2. Kehati-hatian
3. Keseimbangan
4. Kebebasan menyampaikan dan mengakses.
5. Rasionalitas dan Proporsionalitas.

Ketentuan Hukum Kongkrit (al-Ahkam al-Far’iyah) : Aspek hukum halal haram.

Problematika dunia Informasi
Penutup.


Nilai-Nilai Dasar (Al-Qiyam Al-Asasiyah)

1. At Tauhid

Nilai Tauhid yang paling mendasar dan urgent. Prinsip ketauhidan dalam informasi adalah :

1.1. Meyakini bahwa Allah SWT dan Rasulullah SAW merupakan pusat kebenaran informasi yang diperoleh melalui Kitab Suci Al Qur’an dan Hadits yang maqbul. Informasi diluar itu ada dua kemungkinan, bisa benar bisa salah.

Allah SWT berfirman:

اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُنْ مِّنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, karena itu janganlah engkau (Muhammad) termasuk orang-orang yang ragu.”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 60)

Makna Tauhid dalam Fikih Informasi, sebagai seorang muslim kita harus yakin betul bahwa informasi yang pasti kebenarannya adalah informasi dari Allah SWT dan informasi Nabi. Tentu persoalan interpretasi adalah persoalan yang berbeda.


1.2. Dalam konteks Tauhid : Informasi yang kita produksi dan kita sebarkan, akan dimintai pertanggungjawaban dihadapan Allah SWT.

Karena itu perlu “check and richeck” supaya kita tidak menjadi kurban informasi. Kalau kesadaran itu ada maka kita akan selektif ketika menyebarkan informasi.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan , yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 49: Ayat 6)

Kata para ulama bahwa ketika sebuah ayat diawali dengan seruan
“Wahai orang-orang yang beriman!”, maka aspek yang ada dibelakangnya menunjukkan kharakteristik dan posisi seorang yang beriman.

Maka mestinya orang yang beriman itu kharakternya adalah SELEKTIF, tidak sembrono. Sebab resikonya ada dibelakannya.

Dalam theori Penyesalan, tidak ada Penyesalan datang di depan. Penyesalan pasti terlambat, maka untuk mengantisinya kita perlu check and richeck.

Kita juga akan diminta pertanggung jawaban, sebagaimana firman Allah SWT :

الَّذِيْنَ يَسْتَمِعُوْنَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُوْنَ اَحْسَنَهٗ ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ هَدٰٮهُمُ اللّٰهُ وَاُ ولٰٓئِكَ هُمْ اُولُوا الْاَ لْبَا بِ

“(yaitu) mereka yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal sehat.” (QS. Az-Zumar 39: Ayat 18)

Dikatakan bahwa orang cerdas, pasti selektif dalam menerima dan menyampaikan informasi.


2. Al-Akhlak Al-Karimah

Akhlak Karimah merupakan salah satu prinsip utama dalam islam yang melandasi sikap dan perbuatan setiap muslim. Bahkan seluruh syariat islam (Perintah / Larangan) bertujuan dalam rangka mewujudkan manusia yang berakhlak. Baik akhlak secara vertikal maupun akhlak secara horizontal.

Rasulullah SAW bersabda dalam Hadis yang Sahih:  
“Innama bu’itstu liutammima makarimal akhlaq”
“Sesungguhya aku diutus untuk meyempurnakan akhlak yang mulia.”
(HR Bukhari)

Kalau akhlak menjadi prinsip utama dalam islam, maka itu mencakup berbagai aspek. Termasuk diantaranya adalah aspek dalam mengelola informasi.

Dalam konteks Fikih Informasi : Sikap dan perbuatan yang termasuk dalam nilai akhlak Karimah adalah :
Jujur, Adil, Tabligh, Amanah, Fathanah dan Moderasi.

JUJUR :

Transparansi dalam penyampaian maupun penerimaan informasi.
Ketika seseorang menyampaikan sebuah informasi maka dia sanggup mempertanggung-jawabkan datanya. Terkait dengan apa yang menjadi substansi atau isi dari informasi yang disampaikan.

Kejujuran dalam menyampaikan informasi adalah hal utama. Sebab banyak orang menyampaikan informasi dikaitkan dengan kepentingan. Padahal informasi harus jujur karena akan dikonsumsi oleh banyak orang.

Untuk menggapai Kejujuran itu kalau dalam teori jurnalistik menggunakan prinsip “Balancing of Reporting”. Dia berusaha menggali informasi tidak dari satu arah.

Kalau kita menggunakan ilmu musthalah hadits, Muhammad bin Sirin berkata :
“Zhalamta akhaha in zakarta musawa’ahu wa lam tazkur mahasinahu”.
(Kamu sudah melakukan satu kezaliman ketika kita menyampaikan informasi tentang seseorang atau sesuatu hanya dari aspek negatifnya, tapi tidak menyampaikan aspek lainnya yang mungkin positif).


ADIL :

Setiap orang memiliki hak yang sama dalam menyampaikan dan menerima informasi yang benar, sesuai dengan norma agama, sosial, maupun ketentuan Undang-Undang.

Kalau dalah konteks kita bernegara itu adalah Hak Bersuara. Tapi ingat, hak bersuara kita itu tetap dibawah payung hukum. Tetap ada aturan -aturan mainnya. Karena informasi itu bagian dari sarana untuk menyampaikan sesuatu kebenaran.


TABLIGH :

Setiap orang memiliki kewajiban untuk menyampaikan informasi yang bermanfaat sesuai dengan kapasitas dan wawasan yang dimiliki.

Dalam konteks kita sebagai islam, sebagai ustadz, sebagai Da’i atau sebagai orang yang memiliki kemampuan agama , kita punya hak dan kewajiban untuk menyampaikan informasi tentang apapun yang bermanfaat dan bertanggungjawab serta benar. Misal : Dakwah on line / virtual.

FATHANAH :

Kecerdasan dan Kapasitas Pengetahuan yang harus dimiliki oleh orang dalam mengelola informasi dan menerima informasi. Kalau kita tidak cerdas dalam menangkap sebuah informasi, kita bisa menjadi kurban.

Realitas menunjukkan berapa orang menjadi kurban sehingga berhubungan dengan persoalan hukum. Antara lain karena tidak cerdas di dalam memilih dan mengolah suatu informasi.

TAWAZUN :

Netralitas (obyektifitas) dalam penyampaian dan penerimaan suatu informasi. Nilai moderasi ini penting untuk menjaga keseimbangan dalam menyampaikan informasi di masyarakat.

Salah satu cara untuk menemukan obyektivitas itu , salah satunya adalah memakai ungkapan Muhammad bin Sirin tadi.


3. Kemaslahatan

Nilai kemaslahatan mencakup efisiensi dan efektivitas, serta kepedulian dalam penyampaian dan penerimaan informasi , untuk mendorong individu menjauhkan diri dari kebiasaan menebar informasi bohong (hoax) dan tidak berguna atau sia-sia.

Artinya dalam Fikih Informasi, pengelolaan , penerimaan dan penyebaran informasi harus mempertimbangkan azas manfaat.
Tidak semua informasi itu sekalipun betul kejadiannya, obyektif harus disampaikan. Apalagi dalam ruang yang bebas misalnya. Kadang ada hal-hal yang hanya bisa disampaikan dalam batas-batas tertentu.

Allah SWT berfirman :

وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ 

“dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna,” (QS. Al-Mu’minun 23: Ayat 3)

Kita diperintahkan untuk meninggalkan hal-hal yang kontra Produktif.
Kata “laghwun” sering diartikan hal yang sia-sia. Logikanya hal-hal yang tidak mendatangkan manfaat saja harus ditinggalkan apalagi yang jelas- jelas menimbulkan kemudharatan.


D

Realisasi maslahah terlihat jelas dalam fungsi informasi :

1. Pengajaran / Pendidikan (at-Ta’lim)
2. Pencerahan (at-Tanwir)
3. Penjelasan (at-Taudhih)
4. Pembaruan (at-Tajdid)
5. Menasehati / Penyadaran (al-Wa’zhu)
6. Menguatkan / Memvalidasi (at-Tarjih)
7. Sarana Dialog (Washilah al-Hiwar)
8. Amar ma’ruf nahi munkar- Dakwah virtual.


1. At-Ta’lim (Pengajaran / Pendidikan)

Di atas sudah dijelaskan apa bedanya antara I’lam dan ta’lim.
I’lam hanya memberikan informasi.
Ta’lim itu informasi yang disampaikan secara berulang-ulang, karena tujuannya internalisasi nilai pada orang yang mendengar.

Setiap informasi yang diproduksi harus mengandung pengajaran, atau berfungsi mendidik masyarakat menuju ke arah yang lebih baik, membawa mereka menjadi lebih tahu dan paham terhadap kebenaran dari fakta yang diinformasikan.

Kalau ini menjadi kesadaran kita bersama, maka informasi-informasi yang sebenarnya mendatangkan kemudharatan harus disingkirkan. Tidak semua informasi harus dipublikasikan.

2. At-Tanwir (Pencerahan)

Informasi idealnya bersifat mencerahkan, membuat masyarakat termotivasi ke arah yang lebih baik dengan fakta yang terkandung di dalamnya.

3. At-Taudhih (Penjelasan).

Suatu informasi idealnya harus dapat menjernihkan kesimpang-siuran yang terjadi di tengah masyarakat, baik akibat minimnya sumber fakta, keragu- raguan atau berita hoax yang tersebar.

4. At-Tajdid (Pembaruan).

Suatu informasi tidak hanya sekedar menginformasikan sesuatu, akan tetapi juga mengandung spirit pembaruan agar masyarakat memiliki wawasan yang luas dan berkemajuan.

5. Al-wa’zhu atau Tau’iyyah (Menasehati dan Penyadaran).

Suatu informasi idealnya selalu mengandung mau’izhah (nasehat) yang senantiasa mengajak manusia untuk memperbaiki diri, baik dalam lingkup individu, keluarga, masyarakat, berbangsa dan bernegara.

6. Tarjih (Menguatkan di antara dua hal)

Ketika ada dua atau lebih berita yang bertolak belakang satu sama lain, suatu informasi idealnya harus bisa mentarjih / memvalidasinya.

7. Wasilah al-Hiwar (Sarana Dialog)

Dalam Al Qur’an misalnya dikisahkan beberapa dialog antara Tuhan dengan Para Malaikat , QS Al Baqarah (2) : 30-34)

Dan Musa dengan Nabi Israil (seperti QS Al Baqarah (2) : 60, 66-71).

Dalam dialog-dialog itu ada transfer dan pertukaran informasi yang terjadi.

8. Amar Ma’ruf Nahi munkar

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here