Prof. Dr. H. Syamsul Anwar MA

7 Muharram 1442 / 26 Agustus 2020



Syar’u man Qoblana (Syariat Para Nabi Terdahulu)

Di dalam Ushul Fiqih salah satu sumber ajaran yang didiskusikan adalah Syar’u man Qoblana , syari’at atau ajaran agama dari Nabi sebelum Nabi Muhammad SAW.

Biasanya para ahli ushul fiqih memasuki kajian tentang Syar’u man Qoblana ini dengan mendiskusikan dua pertanyaan.

1. Apakah sebelum diutus menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW menjalankan agama dan beribadah (ta’abbad) kepada Allah berdasarkan syari’at Nabi -Nabi terdahulu atau tidak?

2. Apakah sesudah diutus menjadi Rasul, Nabi Muhammad SAW masih menjalankan satu atau beberapa bentuk dari Syari’at Nabi terdahulu?

Itu adalah pintu masuk kajian ini di dalam kalangan ulama ushul fiqih. Tetapi kita dalam pengajian ini tidak masuk dari pertanyaan itu. Kita tidak membahas pertanyaan itu tapi kita masuk dari diskusi tentang substansi agama yang dibawa oleh Nabi dan Rasul terdahulu.

Agar kita mendapat pengertian yang tepat, kita harus memahami kata Syara’ atau Syari’at dalam frasa Syar’u man Qoblana.

Kata Syari’at secara harafiah berarti Jalan. Dan lebih khusus lagi Jalan menuju ke Tempat Air.
Kata itu digunakan oleh Allah SWT suatu agama yang diwahyukanNya kepada Para Nabinya untuk menggambarkan bahwa jalan tersebut adalah jalan keselamatan bagi hidup manusia. Seperti air itu merupakan Sumber Kehidupan yang sangat penting. Dan agama itu jalan menuju ke mata air. Jadi juga sangat penting, seakan-akan jalan keselamatan.

Secara istilah (terminology) kata Syari’at itu digunakan dalam dua arti. Ada arti luas dan ada arti sempit.
Dalam arti luas kata syari’ah didefinisikan oleh At Tahanawi seorang ulama India pada abad ke 18, Dia menulis Glossarium ilmu Pengetahuan khusus syariah.

Syariah/Syarak adalah ketentuan -ketentuan agama yang ditetapkan Allah untuk hamba-hambaNya yang dibawa oleh seorang Nabi baik berkaitan dengan cara bertindak yang dinamakan ketentuan-ketentuan cabang atau amaliah (ketentuan menyangkut tingkah laku), dan untuknya disusun ilmu fiqih, maupun berkaitan dengan cara berkeyakinan yang dinamakan ketentuan-ketentuan pokok atau akidah, dan untuknya disusun ilmu kalam. Syariah (syarak) dinamakan juga din atau millah (agama).

Definisi yang diberikan At Tahanawi adalah Syari’at dalam arti luas.
Syari’at atau agama mengandung dua ketentuan ajaran :
– Ketentuan yang mengatur tingkah laku kongkrit (amaliah).
– Ketentuan yang mengatur tingkah laku batin. Mengatur bagaimana kita berakidah yang benar.

Ketentuan yang mengatur amaliah atau tingkah laku konkrit ini sering disebut sebagai Syariah dalam arti Sempit. Tingkah laku ibadah, tingkah laku muamalah, tingkah laku akhlak termasuk dalam Syariah dalam arti Sempit.

Maka ketika kita berbicara Syariah, harus sadar apakah yang dimaksud dalam arti sempit atau dalam arti luas. Jangan sampai kacau. Didalam Lembaga Perguruan Tinggi kita mengenal Fakultas Syariah. Ini adalah Syariah dalam arti sempit.


Definisi Agama menurut Keputusan Tarjih Muhammadiyah

Agama adalah apa yang disyariatkan Allah dengan perantaraan Nabi -Nabinya, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan berupa petunjuk untuk kebaikan manusia di Dunia dan Akhirat.

Ternyata definisi agama ini mirip definisi dari At Tahanawi.
Definisi ini kita sebut agama sebagai obyek. Sebagai kumpulan norma, kumpulan Petunjuk-petunjuk yang perlu dijalankan.

Perlu juga kita ketahui bahwa agama juga bisa jadi dimensi sebagai Subyek. Agama sebagai suatu yang melekat dan merupakan bagian dari kehidupan Sang Subyek. Agama sebagai dihayati dan dipraktekkan sang Subyek.

Definisi yang masyhur mengenai agama adalah : Suatu ketetapan ilahi yang mengarahkan orang-orang berakal sehat atas pilihan mereka untuk menerima apa yang dapat memberi kesuksesan bagi mereka di dunia dan keberuntungan (falah) di akhirat.


Syari’at para Nabi terdahulu

Sebagaimana didefinisikan oleh Mahmud Abdul Rahman Abdul Muin adalah :
“Ketentuan-ketentuan agama yang ditetapkan Allah yang dibawa oleh Para Rasul untuk umat-umat yang kepada siapa mereka diutus sebelum diutusnya Nabi Muhammad SAW dan yang dinukil kepada kita berdasarkan pewartaan yang shahih”.

Pewartaan yang shahih maksudnya berdasarkan Sumber-sumber islam, yaitu Al Qur’an dan Hadits. Bukan yang disebut dalam Kitab Taurat atau Kitab Injil yang ada sekarang, atau ada dalam cerita-cerita Israeliyat tapi Syariat Nabi terdahulu yang disebutkan di dalam Al Qur’an dan Hadits yang Shahih.


Membaca dan memahami Suatu Pernyataan Imam Qatadah

Imam Qatadah bin Di’amah
adalah murid, sahabat Anas bin Malik, dia meninggal tahun 117 H.( tahun 735 M) .Beliau hanya berusia 57 tahun karena beliau meninggal karena wabah Tha’un di kota Wasith dekat kota Basarah – Irak.

Dalam Surat Al Maidah ayat 48 Allah SWT berfirman:

 ۗ لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَّمِنْهَا جًا ۗ 

“Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang,” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 48)

Ibn Abi Hatim dalam tafsirnya mengutip pernyataan beliau (Qatadah) bahwa :
“Addin wahid, wasyariatu mukhtalifah”
AGAMANYA SAMA, SYARIATNYA BEDA

Yang dimaksud Agama disini oleh Qatadah adalah bagian dari agama yang disebut Akidah. Kata agama dipakai oleh Qatadah dalam satu gaya bahasa yang disebut dalam bahasa Arab, khususnya dalam diskursus tafsir Al Qur’an : “ithlaqul kull wa irodatul juz’ “. Artinya : Menggunakan kata yang berarti menunjukkan semua, yang dimaksudnya sebagian.

Ad din mencakup seluruh aspek agama, dari akidah, ibadah, akhlak dan muamalah duniawiyah. Tapi maksudnya dalam kalimat itu hanya sebagian saja yaitu bagian Akidah.
Jadi sistem keimanannya sama tapi syari’atnya berbeda.

Kita juga sering bergayabahasa seperti itu : ‘Sumatera kebakaran hebat’,
Padahal Sumatera itu dari Aceh sampai ke Lampung. Padahal yang terbakar itu cuma di Jambi dan Riau. Jambipun tidak seluruhnya. Hanya sebagian Jambi tertentu.


Allah SWT berfirman:

شَرَعَ لَـكُمْ مِّنَ الدِّيْنِ مَا وَصّٰى بِهٖ نُوْحًا وَّا لَّذِيْۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ وَمَا وَصَّيْنَا بِهٖۤ اِبْرٰهِيْمَ وَمُوْسٰى وَعِيْسٰۤى اَنْ اَقِيْمُوا الدِّيْنَ وَ لَا تَتَفَرَّقُوْا فِيْهِ ۗ كَبُـرَ عَلَى الْمُشْرِكِيْنَ مَا تَدْعُوْهُمْ اِلَيْهِ ۗ اَللّٰهُ يَجْتَبِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يَّشَآءُ وَيَهْدِيْۤ اِلَيْهِ مَنْ يُّنِيْبُ

“Dia Allah telah mensyariatkan kepadamu agama yang telah diwasiatkan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu (Muhammad) dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa, dan ‘Isa, yaitu tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah-belah di dalamnya. Sangat berat bagi orang-orang musyrik untuk mengikuti agama yang kamu serukan kepada mereka. Allah memilih orang yang Dia kehendaki kepada agama tauhid dan memberi petunjuk kepada (agama)- Nya bagi orang yang kembali (kepada-Nya).” (QS. Asy-Syura 13)

Ayat ini menegaskan “Addin wahid”, dalam arti sistem keimanan Para Nabi itu sama. Seperti tafsir Qatadah.

Dalam ayat lain Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلَيْكَ كَمَاۤ اَوْحَيْنَاۤ اِلٰى نُوْحٍ وَّا لنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖ ۚ وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلٰۤى اِبْرٰهِيْمَ وَاِ سْمٰعِيْلَ وَاِ سْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَا لْاَ سْبَا طِ وَعِيْسٰى وَاَ يُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚ وَاٰ تَيْنَا دَاوٗدَ زَبُوْرًا ۚ 

“Sesungguhnya Kami mewahyukan kepadamu (Muhammad) sebagaimana Kami telah mewahyukan kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya, dan Kami telah mewahyukan pula kepada Ibrahim, lsmail, Ishaq, Ya’qub dan anak cucunya; ‘Isa, Ayyub, Yunus, Harun, dan Sulaiman. Dan Kami telah memberikan Kitab Zabur kepada Daud.” (QS. An-Nisa’ 163)

Wahyu Tuhan kepada seluruh Nabi itu sama.

Ajaran keimanan yang sama tentang apa?


Allah SWT berfirman:

قُلْ يٰۤـاَهْلَ الْكِتٰبِ تَعَا لَوْا اِلٰى كَلِمَةٍ سَوَآءٍۢ بَيْنَـنَا وَبَيْنَكُمْ اَ لَّا نَـعْبُدَ اِلَّا اللّٰهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهٖ شَيْــئًا وَّلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا اَرْبَا بًا مِّنْ دُوْنِ اللّٰهِ ۗ فَاِ نْ تَوَلَّوْا فَقُوْلُوا اشْهَدُوْا بِاَ نَّا مُسْلِمُوْنَ

“Katakanlah (Muhammad), Wahai Ahli Kitab! Marilah kita menuju kepada satu kalimat yang sama antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah selain Allah dan kita tidak mempersekutukan-Nya dengan sesuatu pun, dan bahwa kita tidak menjadikan satu sama yang lain tuhan-tuhan selain Allah. Jika mereka berpaling, maka katakanlah kepada mereka , Saksikanlah, bahwa kami adalah orang muslim.” (QS. Ali ‘Imran 64)

Ayat ini menegaskan kepada Nabi Muhammad SAW supaya mengajak pada jalan yang sama yaitu sistem keimanan yang hanya menyembah Allah dan tidak menyekutukanNya.

Oleh karena itu fungsi Nabi yang datang kemudian terhadap yang lebih dulu itu membawa fungsi mengkonfirmasi ajaran yang sama.

Allah SWT berfirman:

نَزَّلَ عَلَيْكَ الْـكِتٰبَ بِا لْحَقِّ مُصَدِّقًا لِّمَا بَيْنَ يَدَيْهِ وَاَ نْزَلَ التَّوْرٰٮةَ وَا لْاِ نْجِيْلَ ۙ 
مِنْ قَبْلُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَاَ نْزَلَ الْفُرْقَا نَ ۗ اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِاٰ يٰتِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَا بٌ شَدِيْدٌ ۗ وَا للّٰهُ عَزِيْزٌ ذُو انْتِقَا مٍ ۗ 

“Dia menurunkan Kitab Al-Qur’an kepadamu (Muhammad) yang mengandung kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya, dan menurunkan Taurat dan Injil, sebelumnya, sebagai petunjuk bagi manusia, dan Dia menurunkan Al-Furqan. Sungguh, orang-orang yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah akan memperoleh azab yang berat. Allah Maha Perkasa lagi mempunyai hukuman.” (QS. Ali ‘Imran Ayat 3-4)

Kita wajib beriman kepada Taurat dan Injil. Al Qur’an membenarkan apa yang terdapat dalam Taurat dan Injil. Tapi perlu dicatat bahwa yang dimaksud dengan Taurat dan Injil itu bukan Taurat dan Injil yang ada sekarang ini, tetapi adalah Taurat dan Injil yang diturunkan kepada Nabi Musa dan Nabi Isa yang asli.

Injil dan Taurat yang ada sekarang ini sudah tidak asli. Taurat ditulis jauh sepeninggal Nabi Musa.
Injil ditulis oleh 4 orang. Ada Injil Mathius, Lukas, Johanes dan Markus.
Itu juga ditulis sesudah sepeninggal Nabi Isa. Injil Mathius malah dalam bahasa Yunani, padahal Nabi Isa berbahasa Arab Ibrani. Ada orang yang mengatakan bahwa itu terjemahan, tapi tidak tahu siapa yang menterjemahkan.
Semua ulama sepakat bahwa Injil yang ada sekarang bukan Injil Nabi Isa ataupun Taurat Nabi Musa.


Syariat dalam arti sempit dapat dibedakan menjadi tiga jenjang

– Nilai-nilai Dasar (al qiyam al asasiyyah)
– Asas-asas umum (al-usul al kuliyyah)
– Peraturan Hukum Kongkrit (al-ahkam al-amaliyyah al-far’iyyah).


Nilai-nilai Dasar (al qiyam al asasiyyah)

Meliputi norma-norma dasar Teologis, norma-norma dasar etis dan norma- norma dasar yuridis.

Menurut saya nilai-nilai dasar baik teologis, etis maupun yuridis juga dapat dikatakan sama diantara Para Nabi, karena nilai ini adalah nilai universal bagi seluruh peradaban manusia. Merupakan ajaran universal Para Nabi seperti Keimanan kepada Tuhan.

Sebagai contoh ini adalah nilai-nilai etis seperti amanah, kejujuran, tidak boleh berdusta, tolong-menolong.
Dan nilai-nilai kemanusiaan universal tentu juga sama dalam semua syariat para Nabi terdahulu.

Dalam sebuah hadits dikatakan :

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.

“Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari)

Artinya bahwa Hati Nurani adalah sumber dari keputusan etis yang universal. Dikatakan oleh Nabi Muhammad SAW bahwa pernyataan ini adalah pernyataan Nabi -Nabi yang terdahulu. Artinya dalam hal ini ajaran Para Nabi sama.

Begitu juga dalam nilai dasar yuridis juga merupakan nilai universal yang sama dalam semua ajaran agama Nabi -Nabi terdahulu.

Dalam Al Qur’an Allah menyatakan bahwa bagi Bani Israel ditetapkan suatu ketentuan tentang pentingnya arti hidup sehingga harus dipertahankan sedemikian rupa dimana apabila mempertahankan satu jiwa sama dengan mempertahankan seluruh jiwa manusia dan membunuh satu jiwa sama dengan membunuh seluruh manusia.

Ini ditegaskan dalam Firman Allah :

مِنْ اَجْلِ ذٰلِكَ  ۛ  كَتَبْنَا عَلٰى بَنِيْۤ اِسْرَآءِيْلَ اَنَّهٗ مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِۢغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَا دٍ فِى الْاَ رْضِ فَكَاَ نَّمَا قَتَلَ النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَ نَّمَاۤ اَحْيَا النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَلَـقَدْ جَآءَتْهُمْ رُسُلُنَا بِا لْبَيِّنٰتِ ثُمَّ اِنَّ كَثِيْرًا مِّنْهُمْ بَعْدَ ذٰلِكَ فِى الْاَ رْضِ لَمُسْرِفُوْنَ

“Oleh karena itu, Kami tetapkan bagi Bani Israil, bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia. Sesungguhnya rasul Kami telah datang kepada mereka dengan keterangan-keterangan yang jelas. Tetapi kemudian banyak di antara mereka setelah itu melampaui batas di bumi.” (QS. Al-Ma’idah 32)

Ini syariat untuk umat terdahulu. Karena ini universal maka berlaku bagi kita.

Yang menjadi pertanyaan adalah Norma-norma Detail (al-ahkam al-far’iyyah) dari syariat Para Nabi terdahulu apakah dapat menjadi norma syariat dalam agama islam?

Untuk ini syariat itu dibagi menjadi tiga kategori, yaitu :

1. Syariat tidak disebutkan dalam Sumber-sumber islam atau disebutkan , tetapi dinyatakan dinasakh atau syariat yang terdapat dalil yang menunjukkannya khusus bagi Nabi terdahulu bersangkutan, maka syariat kategori ini tidak berlaku dalam syariat islam.

Allah SWT berfirman:

وَعَلَى الَّذِيْنَ هَا دُوْا حَرَّمْنَا كُلَّ ذِيْ ظُفُرٍ ۚ وَمِنَ الْبَقَرِ وَا لْغَـنَمِ حَرَّمْنَا عَلَيْهِمْ شُحُوْمَهُمَاۤ اِلَّا مَا حَمَلَتْ ظُهُوْرُهُمَاۤ اَوِ الْحَـوَايَاۤ اَوْ مَا اخْتَلَطَ بِعَظْمٍ ۗ ذٰلِكَ جَزَيْنٰهُمْ بِبَـغْيِهِمْ ۚ وَاِ نَّا لَصٰدِقُوْنَ

“Dan kepada orang-orang Yahudi, Kami haramkan semua hewan yang berkuku, dan Kami haramkan kepada mereka lemak sapi dan domba, kecuali yang melekat di punggungnya, atau yang dalam isi perutnya, atau yang bercampur dengan tulang. Demikianlah Kami menghukum mereka karena kedurhakaannya. Dan sungguh, Kami Maha Benar.” (QS. Al-An’am 146)

Ini tidak berlaku bagi umat islam. Bagaimana dapat mengetahui bahwa ini tidak berlaku?
Kita menemukan satu ayat Al Qur’an Allah SWT berfirman:

قُلْ لَّاۤ اَجِدُ فِيْ مَاۤ اُوْحِيَ اِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلٰى طَا عِمٍ يَّطْعَمُهٗۤ اِلَّاۤ اَنْ يَّكُوْنَ مَيْتَةً اَوْ دَمًا مَّسْفُوْحًا اَوْ لَحْمَ خِنْزِيْرٍ فَاِ نَّهٗ رِجْسٌ اَوْ فِسْقًا اُهِلَّ لِغَيْرِ اللّٰهِ بِهٖ ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَا غٍ وَّلَا عَا دٍ فَاِ نَّ رَبَّكَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah, Tidak kudapati di dalam apa yang diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan memakannya bagi yang ingin memakannya, kecuali daging hewan yang mati, darah yang mengalir, daging babi, karena semua itu kotor atau hewan yang disembelih bukan atas nama Allah. Tetapi barang siapa terpaksa bukan karena menginginkan dan tidak melebihi batas darurat maka sungguh, Tuhanmu Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-An’am 145)

Inilah syariat yang berlaku bagi umat islam.


2. Ketentuan Syariat Nabi yang terdahulu yang dinyatakan dalam syariat islam masih berlaku. Maka berlaku bagi umat islam sesuai dengan ketentuan hukumnya masing-masing. Kalau wajib tetap wajib, kalau Sunah tetap sunah.

Misalnya Puasa Ramadhan yang dalam Al Qur’an dinyatakan telah diwajibkan juga kepada umat terdahulu dan juga diwajibkan kepada umat islam.

Contoh lain adalah Puasa Sunah Asyura pada tanggal 10 Muharram yang dilaksanakan oleh orang Yahudi , kemudian juga disunahkan kepada Umat Nabi Muhammad SAW sebagaimana diterangkan dalam hadits :

قَدِمَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَدِينَةَ فَرَأَى الْيَهُودَ تَصُومُ يَوْمَ عَاشُورَاءَ فَقَالَ مَا هَذَا قَالُوا هَذَا يَوْمٌ صَالِحٌ هَذَا يَوْمٌ نَجَّى اللَّه بَنِي إِسْرَائِيلَ مِنْ عَدُوِّهِمْ فَصَامَهُ مُوسَى شُكْرًا قَالَ فَأَنَا أَحَقُّ بِمُوسَى مِنْكُمْ نَحْنُ نَصُوْمُهُ تَعْظِيْمًا لَهُ  “

Nabi SAW tiba di Madinah, kemudian beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Beliau bertanya :”Apa ini?” Mereka menjawab : ”Sebuah hari yang baik, ini adalah hari dimana Allah menyelamatkan bani Israil dari musuh mereka, maka Musa berpuasa pada hari itu sebagai wujud syukur. Maka beliau Rasulullah menjawab :”Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian, maka kami akan berpuasa pada hari itu sebagai bentuk pengagungan kami terhadap hari itu” (HR Muslim) .

Pertanyaan ini bukan karena Nabi tidak tahu, karena beliau sudah mempraktekkan puasa ini ketika di Mekkah. Beliau menginginkan kepastian jawaban Orang Yahudi.
Puasa Hari Asyura adalah syariat Umat yang telah lalu tetapi dinyatakan berlaku bagi umat yang beragama islam.


3. Syariat Nabi yang terdahulu yang diceritakan dalam Syariat Islam tetapi tidak dinyatakan dinasakh, atau sebaliknya, tidak dinyatakan syariat di dalam islam. Ini menjadi diskusi panjang dalam ushul Fiqih antara ulama yang menolaknya dan yang mendukungnya, bahkan ada yang menyatakan bertawakuf (tidak mengambil sikap).

Syariat ini mengambil Putusan Tarjih pada azasnya dinyatakan tidak berlaku, kecuali ada keperluan untuk menggunakannya dengan dukungan dalil lainnya. Putusan Tarjih cenderung ke arah ini.

Hal ini tercermin dalam Putusan Tarjih dalam Putusan tentang Seni Patung dimana Tarjih memutuskan tentang pembuatan, koleksi dan jual beli patung dibolehkan selama tidak membawa kepada unsur yang menyebabkan Syirik.

Dalam Putusan Tarjih tahun 1995 di Aceh tentang Seni pada butir 10 dinyatakan :
“Seni Rupa yang obyeknya makhluk bernyawa seperti Patung hukumnya Mubah bila untuk kepentingan Sarana Pengajaran, Ilmu Pengetahuan dan Sejarah. Hukumnya menjadi haram bila mengandung unsur membawa “Isyan dan Kemusyrikan”.

Salah satu argumen yang digunakan Putusan Tarjih adalah Syariat Nabi Sulaiman a.s yang diceritakan dalam Al Qur’an Surat Saba ayat 13 yang menyatakan :

يَعْمَلُوْنَ لَهٗ مَا يَشَآءُ مِنْ مَّحَا رِيْبَ وَتَمَا ثِيْلَ وَجِفَا نٍ كَا لْجَـوَا بِ وَقُدُوْرٍ رّٰسِيٰتٍ ۗ اِعْمَلُوْۤا اٰلَ دَاوٗدَ شُكْرًا ۗ وَقَلِيْلٌ مِّنْ عِبَا دِيَ الشَّكُوْرُ

“Mereka para jin itu bekerja untuk Sulaiman sesuai dengan apa yang dikehendakinya di antaranya membuat gedung-gedung yang tinggi, patung- patung, piring-piring yang seperti kolam, dan periuk-periuk yang tetap. Bekerjalah wahai keluarga Daud untuk bersyukur. Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang bersyukur.” -(QS. Saba’ 13)

Istana Nabi Suleiman dihiasi oleh patung. Berarti dalam syariat Nabi Suleiman patung itu boleh. Tapi Nabi Ibrahim menghancurkan patung.
Dalam hadits Nabi dilarang.
Rasulullah SAW bersabda:

إنَّ الَّذينَ يصنَعونَ هذِه الصُّوَرَ يعذَّبونَ يومَ القيامةِ ، يقالُ لَهم : أحيوا ما خلقتُمْ

“orang yang menggambar gambar- gambar ini , akan diadzab di hari kiamat, dan akan dikatakan kepada mereka: ‘hidupkanlah apa yang kalian buat ini’” (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadits lain dikatakan orang yang membuat Patung.

Ada pertanyaan muncul dari jurusan-jurusan seni, termasuk Profesor dari Muhammadiyah, antara lain dulu Prof. Amri Yahya yang murid- muridnya diajari bikin patung lalu diprotes orang banyak karena dianggap menentang Hadits Nabi.

Prof. Amri Yahya mengirim surat ke Majelis Tarjih menanyakan hukum membuat Patung. Karena mereka sebagai orang seni memang membuat Patung. Lalu Majelis Tarjih melakukan pengkajian. Kesimpulan dari pengajian, hukumnya Mubah.

Lalu bagaimana dengan hadits di atas?
Hadits itu li ta’lil artinya dicari illatnya. Karena pada waktu itu orang masih menyembah Patung. Menganggap patung itu mempunyai nilai Magic. Buktinya Mubah karena Nabi Suleiman di istananya ada Patung.

Dalam Putusan Tarjih dibuat statemen metodology sebagai berikut :

Manhaj Tarjih berintikan prinsip bahwa sumber pokok dalam pemahaman agama dan penentuan hukum Syar’i adalah Al Qur’an dan Sunnah Nabi (HPT hal 278).
Dalam memahami suatu item ketentuan agama dan dalil-dalilnya harus dihindari Pola Pemahaman Atomistik dan sebaliknya harus dilakukan dengan Pola Pemahaman Integralistik (disimpulkan dari Pokok-pokok Manhaj Tarjih PPMT no 10), yaitu bahwa proses pemahaman dilakukan di dalam konteks tujuan agama secara umum (maqasid asy- syariah) dan tidak hanya dengan memegangi suatu dalil secara terpisah dari yang lain dan dari keseluruhan prinsip Syari’ah (PPMT no 9).
Lebih lanjut harus diperhatikan hubungan erat dan timbal balik antara normativitas al Qur’an dan Sunnah di satu sisi dan historisitas pemahaman pada wilayah kesejarahan tertentu di sisi lain (PPMT no 13).

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here