Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

3 Muharram 1442 / 22 Agustus 2020



Review kita terhadap kajian yang telah lalu, ada hadits yang terkenal dimana Nabi SAW bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah qolbu (jantung)” – (HR. Bukhari Muslim).

Hadits ini amat masyhur di kalangan umat islam karena selalu diulang baca para ulama. Mubaligh mutakhir yang terkenal Aa Gym juga selalu membahas hati dan “menjaga hati”, bahkan ada lagunya.

Saya tidak menyarankan menyanyikan karena sebagian ulama ada yang mengharamkan nyanyian. Dalam pengajian ini tidak ada nyanyian, (karena mempunyai ambisi mengembangkan ukhuwah islamiah)
Di kajian kita ada 2 terminology “merawat dan menjaga hati”.


Mengapa Qolbu lebih utama dibanding Aql

Banyak pendapat para ulama bahwa hati atau qolbu disebut Komandan, sedangkan anggota tubuh ini adalah pasukannya.

Kita sudah beberapa kali pertemuan mempelajari qolbu ini bagaimana kaitannya dengan akal, bagaimana kaitannya dengan nafsu, kaitannya dengan Fuad, kaitannya dengan yang lain-lain. Maka kita akan memperdalam bagaimana merawat dan menjaga hati.

Kita diingatkan agar hati-hati karena Allah mengisi neraka dengan golongan jin dan manusia.

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah , dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 179)

Ciri-cirinya punya “quluubul laa yafqohuuna bihaa”. Kalimat ini oleh para ulama bahwa qolbu dideskripsikan lebih hebat dari pada akal, atau melingkupi akal.

Bila Allah menghendaki seseorang itu baik maka dia difahamkan terhadap agama. Rasulullah SAW pernah menyampaikan tentang kefaqihan :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al- Bukhari dan Muslim).

Kita memang harus memahamkan agama bagi anak-anak didik kita supaya nanti jadi baik. Karena ciri baiknya bila Allah menghendaki tetap baik itu Faham tentang agama.


Gangguan Pada Qolbu

Gangguan pada qolbu tidak hanya terjadi pada manusia biasa, tapi juga terjadi pada Nabi dan Rasul.

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْۤ اُمْنِيَّتِهٖ ۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۙ 

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak pula seorang nabi sebelum engkau (Muhammad), melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,” (QS. Al-Hajj 52)

Dalam ayat di atas ada kata “tamannaaa” , yang kemudian menimbulkan dua macam tafsir.
Ada yang mengatakan “membaca Al Qur’an” , dan ada yang mengatakan ‘keinginan’.

Yang menafsirkan dengan “membaca Al Qur’an” karena ada hadits dhoif yang meriwayatkan pada saat Rasulullah SAW membaca Surat An-Najm ketika sampai pada ayat 19, beliau seperti “ngelantur” menyampaikan bahwa berhala-berhala mempunyai sesuatu yang bisa diharapkan.

Kaum kafir senang sekali karena menganggap Nabi Muhammad sudah mengakui Tuhan-Tuhan mereka, yaitu berhala-berhala. Sehingga mereka menyebarkan berita itu.

Ternyata hadits tentang ayat itu sangat dhoif. Ada perawinya tidak tsiqah atau tidak terpercaya, sehingga hadits itu tidak bisa dipakai sebagai hujah. Karena Nabi tidak mungkin begitu, karena di dalam ayat sebelumnya , dijamin bahwa Rasulullah kalau berbicara tidak dengan Hawa nafsunya :

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوٰى ۗ  اِنْ هُوَ اِلَّا وَحْيٌ يُّوْحٰى ۙ 

“dan tidaklah yang diucapkannya itu menurut keinginannya. Tidak lain adalah wahyu yang diwahyukan kepadanya,” (QS. An-Najm ayat 3-4)

NA audzubillahi min dzalik, jangan pernah dikembangkan bahwa Rasulullah SAW pernah keseleo lidah.


Hati yang ada Penyakit dan Hati yang Keras

Setan itu menyasarnya kepada orang- orang yang oleh Allah disebut di dalam hatinya ada penyakit dan hatinya keras. Tapi Allah akan mengatasi hal itu bagi orang-orang yang mukmin.

لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ فِتْـنَةً لِّـلَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّا لْقَا سِيَةِ قُلُوْبُهُمْ ۚ وَ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَفِيْ شِقَا قٍۢ بَعِيْدٍ ۙ 

“Dia Allah ingin menjadikan godaan yang ditimbulkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan orang yang berhati keras. Dan orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang jauh,” (QS. Al-Hajj 53)

“zhoolimiina” dalam hal ini artinya luas , salah satunya adalah terdapat kesyirikan dalam hatinya. Menyakiti diri seseorang juga zholim. Orang makan hartanya orang lain juga zholim. Orang yang mencaci maki, membully, merusak kehormatan orang lain juga zholim. Sebenarnya mereka saling bermusuhan, sangat bermusuhan walaupun kelihatannya akur-akur saja.

Kita dapat melihat hal itu seperti dalam film, misalnya tentang perampokan. Mereka setelah berhasil merampok kemudian saling membunuh karena ingin bagian yang lebih besar. Mereka itu bermusuhan dengan sangat.


Orang yang Beriman diberi Ilmu


وَّلِيَـعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَـتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَهَا دِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepada-Nya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hajj 54)

Kuncinya adalah ilmu, maka saya tidak jemu-jemunya untuk mengajak mengikuti taklim-taklim. Kita tak perlu memilih aliran, yang penting adalah sesuai Sunah dan Al Qur’an. Kalau yang melenceng ditinggalkan saja.

Mudah-mudahan kita selalu mendapatkan hidayah, sehingga hati tenang, dapat kuat terhadap keimanan yang dimiliki. Karena kita tahu bahwa iman itu ada kalanya naik, ada kalanya turun :

الإِيْمِانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

“Iman itu bertambah dan berkurang.”

Para ulama menyampaikan kalau melakukan Ketaatan, iman naik. Dan kalau melakukan maksiat maka iman menurun.


Merawat dan Menjaga Hati

Perpaduan antara ilmu dan menjaga hati itu sangat penting. Hati harus kita jaga jangan sampai menjadi hitam.

Rasulullah SAW bersabda :

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ

“Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam”…
(HR Tirmidzi)

Kalau hatinya semua sudah hitam maka hatinya akan tertutup dari hidayah Allah SWT.

Untuk menjaga Hati maka Qolbu kita harus diisi :
– Iman (Tauhid)
– Mahabbah kepada Allah
– Cinta kepada apa yang dicintai Allah.
– Rasa Takut kepada Allah
– Takut berbuat apa yang dibenci Allah.
– Benci kepada yang dibenci Allah
– Pemberani
– Malu
– Syukur
– Sabar

Kalau tidak terjadi maka akan diisi yang lain. Isi yang paling menonjol adalah Keimanan atau Tauhid. Dan itu bisa dibangun.

Halangan atau Serbuan terhadap Hati antara lain dihilangkan kepekaan rasa terhadap suasana. Dengan meremehkan hal-hal penting dan menganggapnya tidak penting.

Misalnya :
– Bahwa ini tahun baru Hijriyah, bulan Muharram yang dimuliakan, dianggap biasa-biasa saja.
– Orang sering mengucapkan tidak apa-apa terhadap hal yang penting.
– Mengucapkan selamat Paskah , dulu tidak ada sekarang mengada-adakan dan dianggap tidak apa-apa, semua nanti lama-lama tidak apa-apa.
– Ketika dia tidak beriman juga nanti dianggap tidak apa-apa.
– Ketika dia tidak shalat juga nanti merasa tidak apa-apa.

Naudzubillahi min dzalik. Qolbu harus kita isi dan itu membutuhkan pertolongan Allah. Rasulullah SAW telah mengajari kita bagaimana mengisi qolbu terus menerus agar iman tidak hilang.


Output dari Qolbu Yang Hidup dan Sehat

– Melahirkan Khusyuk, tenang atau muthmainah.
– Baik sangka terhadap Allah dan manusia.
– Senang berbuat baik.
– Menyesal tidak berbuat baik.
– Terguncang / Sedih / malu kalau berbuat dosa.


Khusyuknya Qolbu (Muthmainah)


Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 

“yaitu orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 28)

Hati yang tenteram akan mendapatkan kekhusyukan di dalam shalat. Shalat yang khusyuk adalah salah satu tanda sebagai Mukmin, dan yang akan menolong kita masuk surga.

Bagaimana tanda-tanda orang beriman dapat kita cek pada Surat Al Mukminun ayat 1 sampai 11 :

قَدْ اَفْلَحَ الْمُؤْمِنُوْنَ ۙ 
الَّذِيْنَ هُمْ فِيْ صَلَا تِهِمْ خَا شِعُوْنَ ۙ 
وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُوْنَ ۙ 
وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِلزَّكٰوةِ فَا عِلُوْنَ ۙ 
وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِفُرُوْجِهِمْ حٰفِظُوْنَ ۙ 
اِلَّا عَلٰۤى اَزْوَا جِهِمْ اَوْ مَا مَلَـكَتْ اَيْمَا نُهُمْ فَاِ نَّهُمْ غَيْرُ مَلُوْمِيْنَ ۚ 
فَمَنِ ابْتَغٰى وَرَآءَ ذٰلِكَ فَاُ ولٰٓئِكَ هُمُ الْعٰدُوْنَ ۚ 
وَا لَّذِيْنَ هُمْ لِاَ مٰنٰتِهِمْ وَعَهْدِهِمْ رَا عُوْنَ ۙ 
وَا لَّذِيْنَ هُمْ عَلٰى صَلَوٰتِهِمْ يُحَا فِظُوْنَ ۘ 
اُولٰٓئِكَ هُمُ الْوَا رِثُوْنَ ۙ 
الَّذِيْنَ يَرِثُوْنَ الْفِرْدَوْسَ ۗ هُمْ فِيْهَا خٰلِدُوْنَ


“Sungguh beruntung orang-orang yang beriman,
yaitu orang yang khusyuk dalam sholatnya,
dan orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang tidak berguna,
dan orang yang menunaikan zakat,
dan orang yang memelihara kemaluannya,
kecuali terhadap istri-istri mereka atau hamba sahaya yang mereka miliki; maka sesungguhnya mereka tidak tercela.
Tetapi barang siapa mencari di balik itu, maka mereka itulah orang-orang yang melampaui batas.
Dan sungguh beruntung orang yang memelihara amanah-amanah dan janjinya,
serta orang yang memelihara sholatnya.
Mereka itulah orang yang akan mewarisi,
yakni yang akan mewarisi Surga Firdaus. Mereka kekal di dalamnya”.
(QS. Al-Mu’minun 1-11)

Kalau kita minta kepada Allah, kita minta kepada Allah surga yang tertinggi. Kita diajarkan do’a yang sangat populer disaat Ramadhan, tapi sebenarnya doa ini dapat diamalkan harian.

“ALLAHUMMA INNI AS-ALUKAL JANNATA WA A’UUDZUBIKA MINANNAAR ” (Ya Allah, aku memohon kepada Engkau surga dan berlindung kepada Engkau dari api neraka).

Ciri orang beriman yang ditunjukkan adalah Shalat Khusyuk. Shalat Khusyuk bisa dihasilkan oleh Qolbu yang selamat.

Maka bila kita pernah mendengar ajaran yang mencaci maki sahabat agar ditinggalkan, karena Rasulullah SAW bersabda :
“Jangan engkau cela sahabatku, andai ada diantara kalian yang berinfaq emas sebesar gunung Uhud, tetap tidak akan bisa menyamai pahala infaq sahabatku yang hanya satu mud, bahkan tidak menyamai setengahnya”- (HR. Bukhari Muslim )

Kita tak akan bisa mencapai tingkat kesholehan Para Sahabat. Kita membersihkan diri dari ajaran sesat seperti itu, antara lain Syiah yang selalu mencaci maki Sahabat tertentu dan isteri Nabi tertentu.
Dari Qolbu yang bening menghasilkan salah satunya adalah Shalat Khusyuk. Itu bisa kita usahakan tetapi jangan lupa memohon kepada Allah.


BERSAMBUNG
Kenapa Harus Memohon Kepada Allah?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here