Dr. Adian Husaini

1 Muharram 1442 / 19 Agustus 2020



Bangkitnya Empat Generasi Gemilang dalam Sejarah Islam


1.Generasi Sahabat Nabi

Disebut sebagai generasi terbaik “Khairul qurūni qarni”. Hal ini terbukti.
Generasi Sahabat Nabi ditempa salah satunya dengan Hijrah ke Habasyah dan ke Yatsrib. Hijrah itu tempaan yang luar biasa. Orang-orang yang sampai ke Madinah memang benar-benar pilihan. Dalam sejarah kita bisa melihat contoh contoh hijrah yang melahirkan satu negara baru.

Amerika di bangun oleh orang yang hijrah. Mereka orang yang mencari penghidupan baru di Amerika dengan membantai Orang-Orang Indian.
Proses berdirinya Negara Israel juga melalui proses hijrah. Orang orang Yahudi di Eropa dipaksa harus pindah ke Palestina. Tahun 1918 mulai masuk milisi-milisi Yahudi ke kota Yerusalem dibawa oleh Tentara Inggris.

Kembali ke Generasi Sahabat, sebagai gambaran 5 tahun setelah Rasulullah SAW wafat , sekitar tahun 636 M generasi Sahabat sudah menaklukkan Romawi. Salah satu kekuatan dunia pada waktu itu yang terbesar dalam militer. Jumlah pasukan islam waktu itu hanya sekitar seperlimanya, tapi Romawi kalah oleh pasukan Khalid bin Walid dan kawan-kawan.

Akhirnya kota Yerusalem dibuka oleh umat islam. Tokoh Kristen Pemimpin Yerusalem bernama Patriarkh Sophronius hanya mau menyerahkan kunci kota kepada Umar bin Khattab r.a. Ini sejarah yang sangat penting.

Karen Arsmtrong sejarawan Inggris yang terkenal menulis buku “A History of Jerusalem: One City, Three Faiths”. Karen Arsmtrong menggambarkan bahwa Umar bin Khattab adalah pemimpin pertama di dunia yang menaklukkan kota Yerusalem tanpa darah tercecer. Memberikan toleransi beragama di Yerusalem.

Kota Yerusalem sudah ribuan tahun jadi perebutan. Tapi untuk pertama kalinya umat manusia menyaksikan penaklukan yang damai. Pasukan islam masuk kota Yerusalem tidak ada pembunuhan, tidak ada penghancuran property, tidak ada perusakan rumah- rumah ibadah agama lain dan tidak ada pemaksaan orang non muslim untuk masuk islam. Bahkan simbol- simbol agama lain dibiarkan oleh Umar bin Khattab.

Kalau bicara toleransi, jauh sekali dengan perbuatan Orang Eropa. Sejarah seperti ini seharusnya diajarkan di sekolah-sekolah. Bahwa Pelopor toleransi beragama adalah Rasulullah SAW sejak di Madinah.
Termasuk ketika menaklukkan Andalusia. Umat islam melindungi Yahudi selama 800 tahun.

Saya membuat tulisan khusus hal ini berjudul “Tinjauan Historis Konflik antara Yahudi, Kristen dan Islam”. Saya menemukan banyak literature dari kalangan Yahudi. Ada buku “Atlas of Jewish Civilization” , buku “History of Jewish People”.

Dari berbagai buku tulisan orang Yahudi saya menemukan hal yang unik, mereka mengatakan bahwa jaman keemasan islam di Spanyol juga jaman keemasan Yahudi. Ini tidak main-main, ternyata ratusan tahun Orang Yahudi berterimakasih kepada umat islam.

Setelah Kota benteng terakhir umat islam di Granada jatuh ke tangan Pasukan Kristen pada tahun 1492, apa yang dilakukan orang Kristen pada umat islam dan Orang Yahudi ?
Mereka diberi tiga pilihan :
– Masuk agama Kristen
– Diusir keluar dari Spanyol
– Mati dibunuh.

Sejak itu orang islam di Spanyol habis. Tidak ada satupun umat islam. Jangankan mau mempraktekkan agama, yang menyimpan Al Qur’an saja dibunuh. Waktu itu bahasa Arab dilarang. Orang mengkhitan anaknya bisa dihukum. Seluruh identitas islam dihapuskan. Mengubur jenazah saja sudah tidak diperbolehkan lagi. Itu terjadi tahun 1496 keluar Perintah Pengusiran atau decree of expulsion terhadap Umat Islam dan Yahudi. Dikeluarkan oleh Ratu Isabella.

Jadi Umat Islam luar biasa dalam memberikan toleransi agama. Kemana Orang Yahudi lari dari Spanyol setelah diusir Kristen? Mereka ke Turki Utsmani. Di Turki Utsmani orang Yahudi dilindungi oleh Sultan-Sultan Turki Utsmani sampai 400 tahun. Ironinya nanti justru orang Yahudi ini berkhianat. Mereka membantu Eropa menghancurkan Turki Utsmani. Itu mulai dari Konggres Zionis pertama tahun 1890. Masuk infiltrasi gerakan
Freemanson di Turki Utsmani.

Generasi Sahabat ini lahir dari Guru Terbaik di dunia yaitu Rasulullah SAW. Jadi kalau kita melihat lahir satu generasi, lihatlah gurunya siapa?

Rasulullah SAW bisa mendidik dari anak-anak sampai kakek-kakek. Murid-murid Rasulullah adalah orang orang yang hebat. Karena Rasulullah mengasi contoh. Pendidikan yang terbaik itu pendidikan yang memberikan contoh. Tidak ada lagi guru seperti Rasulullah, karena Rasulullah memberi contoh dalam akhlak dan dalam fisik. Ini yang susah.

Dalam Kitab Syamail Muhammadiyah diuraikan tentang akhlak Rasulullah SAW termasuk fisik, dikumpulkan oleh Imam At Tirmidzi. Tergambar Rasulullah fisiknya terkuat. Bukan hanya akhlaknya, kalau akhlaknya jelas. Model pendidikan terbaik adalah model pendidikan Nabi.


2.Generasi Sholahudin Al Ayubi

Alhamdulillah pendidikan di zaman Sholahudin Al Ayubi ini sudah ditulis oleh pakar pendidikan internasional, namanya Dr. Majid al-Kilani, beliau menulis satu buku yang di dunia islam sangat terkenal, diterjemahkan di Malaysia, di Indonesia judul bukunya “Hakadza Zhahara lit Shalahiddin wa Hakadza Mat al-Quds” (Demikianlah bangkitnya Generasi Sholahudin dan Demikianlah Kembalinya Kota Yerusalem).

Generasi Sholahudin juga lahir dari guru-guru yang hebat.


3. Generasi Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih diserahkan orang tuanya kepada dua guru yang luar biasa. Yang satu namanya Syekh Ahmad bin Ismail Al Qurani dan Syekh Asy Syamsuddin. Kedua guru inilah yang mendampingi terus Muhammad Al Fatih dalam pembebasan Konstantinopel. Yang kemudian masjidnya Hagia Sophia kembali jadi masjid.

Biasanya orang diingatkan kepada Muhammad Al Fatih. Banyak orang lupa bahwa Muhammad Al Fatih menjadi seperti itu karena dididik oleh guru yang hebat, Syekh Asy Syamsuddin. Syekh Asy Syamsuddin ini menguasai berbagai ilmu agama dan juga ilmu kedokteran. Karena hebatnya maka dipilih oleh Sultan Murad II , ayah dari Muhammad Al Fatih untuk mendidik anaknya.

Ulama-ulama kita dulu begitu caranya. Dalam kitab Ta’limu Muta’alim yang terkenal di Pesantren, ada kisah :

Harun Al Rasyid dan Guru anaknya

Harun Al Rasyid menitipkan putranya kepada Imam Al-Ashma’i, salah satu ulama besar yang menguasai bahasa Arab untuk belajar ilmu dan adab. Di sebuah kesempatan Harun Ar-Rasyid menyaksikan Al-Ashma’i sedang berwudhu dan membasuh kakinya, sedangkan putra Harun Ar-Rasyid menuangkan air untuk sang guru dengan satu tangan. Sementara tangan yang lain nganggur.

Setelah menyaksikan peristiwa itu, Harun Ar-Rasyid pun menegur Al-Ashma’i atas tindakannya itu, “Sesungguhnya aku mengirimkan anakku kepadamu agar engkau mengajarinya ilmu dan adab. Mengapa engkau tidak memerintahkannya untuk menuangkan air dengan salah satu tangannya lalu membasuh kakimu dengan tangannya yang lain?”

Kepala negara marah karena melihat anaknya tidak mencuci kaki gurunya!
Kualitas Al-Ashma’i bukan guru sembarangan.

Para ulama selalu memprioritaskan adab guru dulu. Syaikh Az-Zarnuji menuliskan itu dalam kitab Ta’limu Muta’alim. Ternyata Imam Hanafi juga menulis tentang adab antara Guru dan Murid. Yang terkenal di Indonesia kitabnya K.H.Hasyim Asyari.


4. Generasi 45

Generasi 45 ini dahsyat, mereka adalah generasi yang berhasil memproklamasikan kemerdekaan Indonesia dan mempertahankan kemerdekaan. Generasi ini juga lahir dari Pondok-Pondok Pesantren, dari guru-guru yang hebat.


K.H. Hasyim Asyari

K.H Hasyim Asyari mendirikan Pesantren sekitar tahun 1889. Beberapa kali Pesantren beliau dibakar, diserbu preman. Karena dulu Pesantren sangat dicurigai. Pondok-pondok Pesantren zaman dulu mendidik santri-santrinya selain dengan ulumudien juga dengan ketrampilan untuk kemandirian. Dan yang lebih penting mereka juga disiapkan untuk jihad.

Puluhan ribu santri itu yang turun ke Surabaya. Ada Laskar Santri, Laskar Kiyai menyambut Fatwa Jihad dari K.H Hasyim Asyari. Beliau pada saat itu Pemimpin Tertinggi umat islam. Waktu itu umat islam bersatu dalam organisasi yang namanya Masyumi. Wakilnya Ki Bagus Hadikusumo, Ketua Muhammadiyah. Kira-kira tahun 1937. Kemudian tahun 1954 NU keluar dari Masyumi. Ketika Fatwa Jihad itu dikeluarkan, lawannya tidak ringan karena pemenang Perang Dunia ke 2.

Bung Karno

Kenapa Bung Karno sampai diculik?
Menurut buku yang ditulis oleh salah seorang tokoh Sosialis Indonesia, sebenarnya yang mendesak agar Proklamasi adalah Sutan Syahrir. Kemudian anak buahnya yang menculik dan memaksa Bung Karno untuk Proklamasi Kemerdekaan. Bung Karno baru mau melakukan setelah dijemput . Yang menjemput termasuk Laksamana Maeda yang dari Jepang.

Bung Karno tidak lepas kehebatannya karena Gurunya. Waktu Muktamar Muhammadiyah tahun 1962 Bung Karno pidato di Senayan. Isi pidatonya kira-kira begini :

Umur 15 tahun Bung Karno sudah mondok di rumahnya HOS Tjokro Aminoto. Dan beliau itu orang hebat. Waktu itu Bung Karno sudah membaca banyak buku. Bung Karno tertarik dengan ceramah KH Ahmad Dahlan. Sejak itu Bung Karno nginthil KH Ahmad Dahlan, itu umur 15 tahun.

Bung Karno menjadi orang hebat bukan karena kuliah di ITB. Bung Karno hebat karena berguru pada orang orang yang hebat.

Muhammad Natsir

Mengapa Pak Natsir menjadi orang yang hebat? Alhamdulillah ada yang membahas tentang Pak Natsir dalam majalah Muhammadiyah di Yogya tahun 80 an.

Pak Natsir itu unik, karena dia pandai di AMS di Bandung. Dia dapat tawaran Bea siswa untuk kuliah Hukum di Jakarta atau kuliah ekonomi di Rotterdam. Orang tua Pak Natsir sangat sederhana, juru ketik desa dan sangat mengharapkan anaknya jadi Mister inderechten (sarjana Hukum). Tapi hebatnya Pak Natsir tak mau mengambil bea siswa bahkan beliau memilih untuk berguru lagi.

Ada tiga orang guru Pak Natsir yang semuanya hebat :

– Pak A.Hassan
– Syeh Ahmad Syurkani
– KH Agus Salim

Pak A.Hassan dari Persis yang menghasilkan tokoh-tokoh hebat.

Syeh Ahmad Syurkani salah satu muridnya adalah Prof. H.M Rasyidi. Beliau berguru waktu di Malang.
Prof. H.M Rasyidi ini menteri agama kita yang pertama. Cendekiawan muslim yang pertama dari Indonesia yang berdebat dengan Orientalist. Dan sekaligus dosen Indonesia di Institut Sudy Islam Mc Gill University Canada.

Pak Natsir ini lulusan SMA tapi dia bisa menulis dalam Bahasa Inggris, Bahasa Belanda, Bahasa Perancis dan Bahasa Arab. Hal ini karena budaya ilmunya jalan.

KH Agus Salim dikenal sebagai cendekiawan hebat. Bung Hatta memberikan kata pengantar dalam buku biography KH Agus Salim.
Bung Hatta waktu sekolah SMEA di Jakarta mainnya juga ke rumah H.Agus Salim. Waktu dolan itu Bung Hatta ditanya sudah baca buku apa saja ? Ternyata KH Agus Salim dapat memberi saran kepada Bung Hatta agar membaca buku-buku ekonomi yang diketahui KH Agus Salim.

Bung Karno juga sangat kagum dengan KH Agus Salim. KH. Agus Salim itu keponakan dari Syekh Ahmad Khathib Al- Minangkabawi. Dan Syekh Ahmad Khathib Al- Minangkabawi ini adalah guru dari KH Ahmad Dahlan dan KH Hasyim Asyhari.

Saking pandainya KH Agus Salim sampai ditugaskan Belanda menjadi Pegawai Consul di Jeddah. Di Jeddah selama 5 tahun KH Agus Salim berguru pada Pamannya dan para ulama lain.
Saya dapat cerita banyak tentang KH Agus Salim langsung dari cucunya yang umurnya 80 tahun, namanya Pak Embong. Ketua Dewan Mahasiswa IPB yang terakhir.

Begitu dahsyatnya pengaruh H. Agus Salim. Buya HAMKA menjadi ulama besar juga atas nasehat H. Agus Salim. Waktu Buya HAMKA jengkel sama bapaknya, dia pergi ke Mekkah tanpa pamit. H. Agus Salim sudah ada disana.

H. Agus Salim waktu bertemu Buya HAMKA di Mekkah yang saat itu baru 7 bulan berkata :
“Kamu kembali ke Indonesia. Kalau mau jadi ulama itu di Indonesia, bukan disini. Kamu 20 tahun di Mekkah, kamu pulang jadi Tukang Do’a !”.
H. Agus Salim sampai bilang : “Kucing itu, 20 tahun di Mekkah, pulang tetap bunyi “meong”.

Itu ditulis oleh Buya HAMKA dalam buku “100 tahun H. Agus Salim”.
Buya HAMKA sampai bilang : “Ini nasehat yang luar biasa!”
Dan Buya HAMKA menceritakan ternyata itu benar : “Saya ketemu ulama di Sabah jadi Tukang Do’a, kemudian saya tanya : “Guru berapa lama di Mekkah?” “20 tahun katanya”.
Demikian kata Buya HAMKA. Buya HAMKA pandai menulis dengan apik. Dia ceritakan kisah itu.

Buya HAMKA dari kecil jenuh belajar agama. Mungkin methodenya yang tidak sesuai. Kisahnya beliau mulai berubah ketika berumur 16 tahun. Beliau ke Yogya berguru kepada HOS Tjokro Aminoto. HOS Tjokro Aminoto ini orang luar biasa karena mentornya Bung Karno, Muso, Karto Suwiryo.
Buya HAMKA sampai dipalsukan umurnya oleh saudaranya supaya dapat belajar pada HOS Tjokro Aminoto. Syarat jadi murid umur harus 18 tahun.

Buya HAMKA juga belajar tafsir kepada Ki Bagus Hadikusumo , Ketua Muhammadiyah. Disinilah peran guru. Sejak itu Buya HAMKA berubah.
Kemudian yang membentuk pribadi Buya HAMKA adalah Buya Sutan Mansur, kakak iparnya sendiri di Pekalongan.

Tokoh hebat bisa dilihat siapa gurunya. Guru hebat tidak sekedar mengajar. Guru adalah tempat memecahkan masalah.

Pak Natsir juga bercerita bagaimana waktu dia di Bandung saat AMS. Dengan teman-temannya kalau datang kerumah Pak H.Agus Salim mendapat inspirasi. Dan hebatnya kata Pak Natsir kalau kemudian ada yang bertanya satu hal. H. Agus Salim cerita banyak hal tetapi tidak menyinggung satupun masalah yang ditanyakan.

Sampai akhirnya ditanyakan : “Terus masalah kami lalu bagaimana?”.
Jawaban H. Agus Salim : “Itu kan masalah kamu, bukan masalah saya! Kenapa kamu bertanya?”.
Setelah pulang, Pak Natsir baru sadar bahwa tadi Pak H.Agus Salim itu cerita panjang lebar intinya bahwa kami harus memecahkan masalah kami sendiri. Jadi sudah memberikan jalan.
Itu cara H. Agus Salim, beliau adalah Pendidik. Dia mengarahkan anak muda tidak dengan “dicekoki”.

Pak Natsir cerita kalau ujian satu mata Pelajaran di AMS diwajibkan membaca minimal 36 buku. Pada kesempatan lain pak Taufik Ismail juga cerita SMA sastra minimal harus membaca 20 karya sastra internasional. Maka lulusan SMA itu hebat.

Dulu tingkat SMA seperti itu. Pak Natsir cerita lulusan AMS dulu sudah luar biasa, kalau bekerja di Kantor Pemerintah waktu itu dapat gaji 130 sampai 150 Gulden yang jika dikurs saat ini kira-kira 15 juta Rupiah.

Intinya kita sudah pernah mengalami zaman kejayaan guru tahun 50-60 an.
Tahun 84 saya di IPB masih ketemu Professor yang didikan Belanda memang beda cara mengajar ramah, disiplin.

Akhirnya kita dulu ikhlas kalau guru sampai mukul murid. Karena kita tahu betul tentang guru. Murid dipukul orang tua tidak marah.

Dengan refleksi ini saya cukup optimis dengan kebangkitan Lembaga Pendidikan Islam. Karena anak-anak saya in syaa Allah lebih baik daripada saya. Menurut saya yang paling penting di tingkat Perguruan Tinggi karena paling pelik. Banyak yang anak ketika SMA bagus, ilmunya hilang ketika Perguruan Tinggi. Bacaan Al Qur’an hilang, agama tidak berkembang.

Kalau alumni Timur Tengah Pendidikannya linier. Ketika anak saya saya kirim kesana, saya didik dulu setahun. Bahasa Inggris, Menulis dan Leadership. Saya juga menyarankan ke Kemenag agar mahasiswa yang dikirim kesana dilatih menulis dulu. Rata-rata mahasiswa sana itu tak dapat menulis. Desertasinya jadi karya terakhir, setelah pulang tidak menulis. Karena mereka sibuk. Biasanya sibuknya dua : Memberi Ceramah sama Mimpin Umrah.

Memang itu tidak salah karena ulama kurang dihargai disini.
Namun sebenarnya harus ada waktu untuk menambah ilmu, membuat penelitian supaya kualitasnya meningkat. Tapi tetap yang terpenting adalah keikhlasan.

Anak-anak kita harus tahu bagaimana menjadi Islam yang baik dan menjadi orang Indonesia yang baik, itu dua hal yang tidak bertentangan.
Kita sudah punya model pendidikan, sudah punya contoh dan sudah pernah menghasilkan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK









LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here