Dr. Adian Husaini

1 Muharram 1442 / 19 Agustus 2020


Saat ini Kita Tertinggal Jauh

In syaa Allah 25 tahun lagi kita akan memasuki Indonesia 100 tahun. Karena 17 Agustus kemarin kita masuk umur 75 tahun. Untuk perjalanan sebuah bangsa sebenarnya 75 tahun itu sudah cukup untuk menilai perjalanan kita ini sampai dimana.

Kalau kita bandingkan dengan beberapa negara lain yang kemerdekaannya lebih belakang dari kita dan sebenarnya masalah yang dihadapi lebih berat daripada kita, seperti misalnya Korea Selatan kita merasa tertinggal.

Bukan hanya dalam bidang Sains Teknologi Ekonomi tapi sepak bolanya kita juga semakin jauh.
Tahun 1970 an sepak bola kita melawan China, Korea Selatan dulu masih imbang, sekarang menyedihkan bahkan mengalahkan Vietnam, Malaysia saja susahnya bukan main. Dalam banyak hal yang terjadi seperti itu. China dan Korea Selatan melakukan lompatan kemajuan.

Sudah banyak theori-theori pendidikan yang membahas masalah itu, salah satunya adalah menganalisis bahwa kelemahan kita ada pada Pendidikan Kharakter. Padahal pada zaman Pak Nuh jadi Menteri hal itu diprioritaskan. Dirumuskan Kurikulum 2013 (K13) , Program Pendidikan Kharakter dan sebagainya. Tapi semakin kesini sepertinya belum ada tanda-tanda kebangkitan. Bahkan dalam bahasa medsos sudah semakin pesimis.


Kita Punya Potensi Keberagamaan

Pernah saya sampaikan dalam Pengajian Alumni HMI Tahun 60-70 an bahwa masa depan Indonesia kelak sangat baik , karena akan menjadi negara Adi Daya yang Kuat, sesuai yang saya tulis dalam buku saya Pendidikan Islam menuju Zaman Gemilang Negara Adi Daya 2045.

Bulan Oktober 2017 di Lembaga Pengkajian MPR dalam rangka membahas Sisdiknas juga saya sampaikan bahwa kita punya perangkat Konstitusi yang luar biasa. Apa lagi kita bangsa muslim yang terbesar di dunia. Penduduknya 270 juta jiwa, jumlah orang muslimnya sekitar 210 juta. Hal itu menjadi modal kita.

Dari survey-survey Lembaga Keagamaan internasional seperti Bio Research Centre tahun 2017, orang Indonesia yang mengatakan bahwa agama masih sangat penting dalam kehidupan sehari-hari ada 93%. Jadi potensi keagamaan kita sangat besar. Orang Indonesia sangat religius. Paling rendah China, hanya 3% orang China yang menyatakan agama masih sangat penting.

Jepang tinggal 10%. Swedia , Inggris, Jerman di data juga tinggal 10% yang mengatakan agama sangat penting. Tahun 2010 saya keliling di Inggris dan kemudian catatan perjalanan saya, saya bukukan. Salah satu data yang saya ungkap adalah semakin mengecilnya peranan agama dalam masyarakat Inggris dan Eropa. Rata-rata di seluruh Eropa, tinggal 22% yang mengatakan agama sangat penting. Mereka mengatakan bahwa mereka tidak beragama.

Amerika tinggal 56% yang mengatakan agama sangat penting. Karena itu Donald Trump dapat meraih dukungan masyarakat Kristen Kanan. Israel tinggal 36%. Dari perbandingan dengan Indonesia kita melihat Potensi Umat Beragama di Indonesia masih sangat kuat. Kita tidak bisa lari dari kenyataan itu.


Musuh kita Program Sekularisasi

Pada saat saya di Inggris saya sampaikan kepada Dubes, aneh bahwa di kantor Kedutaan kita tidak ada simbul-simbul islam. Padahal orang Eropa mengenal Indonesia sebagai negeri muslim. Kita disegani karena dianggap punya ciri keislaman yang khas, ramah, toleran. Maka seharusnya sebagai negeri muslim ada gambar masjid atau pesantren.

Yang dimunculkan selalu gambar Candi. Di Kantor Kedutaan kita di Canberra, Qatar banyak patung- patung. Seolah-olah Indonesia identik dengan itu. Di Bandara Sukarno Hatta yang lama juga banyak sekali patung patung. Tidak ada tulisan-tulisan islami misal di ruang tunggu Bacalah Do’a.

Jadi selama ini identitas keislaman dicoba untuk dijauhkan. Tapi alhamdulillah masyarakat kita tetap setia pada islam meskipun Program Sekularisasi luar biasa besar sejak Orde Lama dengan Komunisnya dan yang luar biasa masa Orde Baru sampai tahun 1980 an.

Akhirnya Orde Baru pun menyerah, mengakomodir islam. Dulu zaman Jepangpun akhirnya juga mengakomodir islam dengan mendirikan Kantor Urusan Agama (Shumubu). Jadi islam agama yang hidup di tengah masyarakat.


Jawa itu Islam

Saya menulis sebuah artikel tentang ada surat dari Pendeta di Jawa Tengah pada atasannya yang menyatakan :
“Saya baru faham mengapa Fransiskus Xaverius tidak datang ke tanah Jawa karena ternyata Orang Jawa merasa Islam, meskipun tidak menjalankan agamanya”.

Jadi Orang Jawa tak mau ganti agama ,dan kemudian artikel saya , saya beri judul “Orang Jawa Enggan Ganti Agama”. Hampir tidak ada yang bisa dilakukan oleh Pastur di tanah Jawa.

Pertama kali Orang Jawa murtad secara masal baru terjadi pada tahun 1904. Ada 171 orang Jawa yang dibaptis masal di Sendang Sono Yogya oleh Frans Van Lith, modusnya melalui Budaya dan Pendidikan.

Akibat dakwah Wali Songo orang Jawa sudah merasa Islam. Ciri khas islam adalah Sunat (Khitan). Hal ini menghalangi Kristenisasi, karena Kristen melarang sunat, dilarang oleh Paulus. Kalau disunat dia tidak diberkati Tuhan.

Orang Jawa selalu disunat sejak kecil. Gara-gara itu Kristen tak dapat masuk Jawa. Akhirnya Frans Van Lith membolehkan Sunat bagi Orang Kristen Jawa. Karena tanpa aturan itu susah untuk memasukkan agama Kristen.

Itulah bukti bahwa Pendakwah kita dulu luar biasa, sangat sabar sehingga Jawa adalah identik Islam. Kita ternyata punya Potensi daya tahan keberagamaan yang luar biasa.

Kalau kita hitung keseluruhan waktunya ada 500 an tahun dijajah mau dimurtadkan dengan berbagai cara dilakukan tapi Orang islam Indonesia tetap Islam. Hal ini patut kita syukuri.


Mereka Merencanakan Pemurtadan

Kalau kita membaca strategy misionaris tahun 1970 sudah ditarget 50% penduduk Indonesia beragama Kristen.

Dalam majalah Hindu tahun 2011 menargetkan tahun 2030 Orang Jawa 30% kembali ke agama Hindu. Tahun 2080 ditarget 80% Orang Jawa kembali ke Hindu. Majalah Hindu ini mengatakan bahwa orang Indonesia sudah salah milih agama sehingga tidak berjaya lagi seperti dizaman Majapahit. Kalau Indonesia ingin kembali jaya menjadi negara Adi Daya harus kembali ke Hindu.

Kalau kita lihat usaha untuk kesana besar sekali. Salah satu contoh tahun 2017 Mahkamah Konstitusi mengabulkan gugatan bahwa Aliran Kepercayaan sudah disetarakan dengan agama.

Di KTP sudah ada sekarang dan mereka sudah boleh punya Kuburan sendiri. Mereka sekarang sudah punya Kampus untuk mencetak Guru Aliran Kepercayaan, statusnya seperti Guru Agama. Mereka juga boleh memiliki Cara Perkawinan sendiri sesuai Keputusan MK tahun 2017. Diperkirakan itu juga cukup mengurangi prosentase jumlah umat islam di Indonesia.

Sampai saat ini yang terdaftar di Kementrian Agama ada 170 an Aliran Kepercayaan. Tetapi belum ada gejolak besar-besaran orang muslim exodus ke Aliran Kepercayaan.

Padahal mereka berharap dapat menarik Orang Islam yang dulu kita katakan Abangan untuk keluar dari Islam. Sehingga nanti mereka KTPnya bukan Islam lagi, alasannya mereka terpaksa menulis agama. Karena menurut UU no 1 PNPS Tahun 1965 agama yang diakui administrasinya ada 6 : Islam, Katholik, Kristen, Hindu, Buddha, Konghucu. Diluar itu kolom agama dikosongkan.


Kita Optimis Punya Peluang

Negeri kita dengan ujian yang begitu banyak ternyata kita masih dilindungi oleh Allah. Ada-ada saja godaannya, dulu anak-anak sekolah memakai jilbab saja dilarang. Sekarang sampai ke istana sudah berjilbab. Isteri-isteri Tentara , bahkan Perwira TNI, Perwira Polri sudah boleh berjilbab.

Dulu tahun 1970 an tidak terpikir akan ada Kampus-kampus islam. Ini adalah kebangkitan Pendidikan Islam. Di banyak kota sekolah Islam sudah mengalahkan Sekolah-sekolah Negeri. Bahkan di kota besar ada Sekolah Negeri tingkat SMP yang tutup. Karena minat orang ke Sekolah Islam sangat tinggi. Bahkan sekarang ini sampai ke Pondok-Pondok Pesantren.


Perlu Strategi Peradaban

Melihat fenomena ini saya optimis ini Peluang bagi kita. Bagaimana negeri kita ini akan menjadi negeri muslim terbesar, untuk itu harus dilakukan dengan Strategi Peradaban dimulai dari Pendidikan karena Pendidikan adalah Strategi yang harus dilakukan sejak zaman dulu dimasa Sholahudin Al Ayubi.Lahirnya Generasi Sholahudin diawali dengan Kebangkitan Guru.

Persis seperti yang dikatakan Pak Natsir mengutip kata-kata Dr. G.J. Nieuwenhuis dari Kementrian Pengajaran Hindia Belanda :

“Kemajuan suatu bangsa ditentukan oleh sekelompok guru yang ikhlas berbuat untuk bangsanya”.

Itu kaedah umum berlaku untuk bangsa mana saja. Kalau mau hebat harus dilahirkan satu lapis Guru.

Kalau dulu dimasa Perang Salib, para ulama seperti Imam Al Ghozali, Syeh Abdul Kadir Jaelani melahirkan satu lapis Ulama Baru. Ulama-ulama inilah nanti yang menjadi Guru-guru yang hebat.

Ada satu artikel bagus ditulis oleh Mahasiswa Al Azhar Kairo di situs hidayatullah.com judulnya :
“Peran murid-murid Imam Al Ghozali dalam jihad Sholahudin”.

Imam Al Ghozali meninggal tahun 1111 M. Kota Yerusalem dibebaskan oleh Sholahudin Al Ayubi tahun 1187 M. Sekitar 70 an tahun setelah wafatnya Imam Al Ghozali. Dalam artikel itu digambarkan dengan rinci, siapa saja ulama-ulama yang menjadi cucu muridnya Imam Al Ghozali. Diantara yang terbesar adalah Al Hafidz Ibnu Asakir, seorang ulama yang hebat murid Syeh Ali As Sulami, murid Al Ghozali di Syria.

Hafidz Ibnu Asakir terkenal karena beliau Pendiri Madrasah Hafidz pertama di dunia islam. Beliau hafal ratusan ribu hadits. Dan beliau juga menulis Kitab Tarikh Damascus, 74 jilid. Judulnya Tarikh Dimasyq.



BERSAMBUNG :
Bangkitnya Empat Generasi Gemilang dalam Sejarah Islam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here