Dr. H. Anwar Abbas MM, MAg

8 Dzulhijjah 1441/ 29 Juli 2020



TANYA JAWAB


Pertanyaan

1. Terkait dengan kondisi bangsa yang semacam ini tentu membutuhkan strategi Pemikiran penanganan, dan langkah riil kita. Apa yang harus kita lakukan dan tahapan apa yang sudah dilakukan Aisiyah / Muhammadiyah ada apa hasilnya. Apa ada hasil yang bisa menjadi gambaran pencerahan bagi kita?


Jawaban :

1. Prof Dr Jeffrey Winters menyatakan bahwa yang menjadi penentu di suatu negeri adalah orang yang menguasai Sumber Daya Material di negeri tersebut. Jadi bukan Politisi, bukan Birokrat, bukan Pendidik, bukan Tentara dan Polisi. Tetapi para pemilik Kapital. Karena dia yang menguasai Ekonomi dan dia yang menguasai Politik.

Di zaman Suharto kekuasaan Politik ada ditangan Pak Harto. Dan para Pengusaha, Para Konglomerat itu ada dibawah beliau. Beliau mengendalikannya. Tetapi ketika Reformasi telah terjadi, situasinya telah terbalik. Para Pemimpin dikendalikan oleh Pemilik Kapital.

Saya tanya pada salah seorang penting di negeri ini. Untuk menjadi Walikota dan Bupati katanya dibutuhkan dana 30 M sampai 50 M. Untuk menjadi Gubernur katanya sekitar 100 M. Untuk menjadi Presiden sekitar 5 sampai 10 T.
Pertanyaan saya ada atau tidak orang islam yang mempunyai dana sebanyak itu? Tidak ada.

Oleh karena itu kalau orang islam kepengin menjadi Walikota, Bupati, Gubernur atau Presiden berarti mereka harus mencari dana. Kemana mereka mencari dana? Tentu kepada yang punya.

Siapa yang punya dana yang besar di negeri ini? Kita sudah sampaikan 10 orang terkaya di negeri ini hanya 1 yang beragama islam. 50 orang terkaya di negeri ini hanya 6 orang beragama islam. 100 orang terkaya di negeri ini hanya 22 orang yang beragama islam. Coba bayangkan.
Sehingga kata Kick Andy yang menentukan kehidupan politik di negeri ini adalah 9 Naga Kuning itu.

Pemilik Kapital menguasai Ekonomi karena memang bidang dia. Dia juga menguasai Politik karena Politik kita bersifat Transaksional. Karena itu tak akan mungkin ada calon Walikota, calon Bupati, calon Gubernur, calon Presiden yang bisa menang tanpa ada uang.

Kira-kira apa yang mereka lakukan ?
Ada dua kemungkinan yang akan mereka lakukan :
– Mereka dikasih uang oleh Pemilik Kapital
– Mereka minta uang kepada Pemilik Kapital.

Saya ketika ditunjuk menjadi Sekjen MUI, saya sowan kepada Prof Dr K.H. Muhammad Ali Yafie mantan Ketua Umum MUI untuk meminta nasehat. Beliau menasehati cukup panjang, yang sangat menempel diotak saya adalah nasehat dalam bahasa Arab yang kalau diartikan :

“Jika engkau memberi kepada orang yang engkau kehendaki maka engkau akan bisa memerintah-mrintah.
Dan jika engkau meminta-minta maka Engkau akan menjadi tawanan”.

Padahal sebagian besar Pemimpin di negeri ini dibantu oleh Pemilik Kapital. Dan kalau mereka memberi maka mereka akan bisa memberikan perintah. Kalau kita meminta, kita akan jadi tawanan. Banyak Pemimpin di negeri ini yang sudah diperintah oleh Pemilik Kapital. Banyak Pemimpin di negeri ini yang sudah tertawan oleh Pemilik Kapital.

Dilemma kita ketika aspirasi kita tidak sama dengan aspirasi Pemilik Kapital. Padahal yang harus mengimplementasikan adalah Para Pemimpin, Para Politisi. Timbul pertanyaan suara siapa yang akan didengar oleh Para Pemimpin dan Para Politisi? Apakah suara orang yang pernah membantu dia atau suara kita yang tidak pernah membantu dia?
Tentu dia akan mendengar suara orang yang membantu dia.

Menurut Saudara Hajriyanto kita harus menguasai Ekonomi Bisnis dan Politik.
Maka kita perlu mencetak Kader orang orang kita dibidang Ekonomi dan Politik.

Dan yang paling mencemaskan adalah tulisan Pak Amin Rais. Pak Amin Rais mengutip pandangan Milton Friedman.
Kata Pak Amin Rais kalau seandainya Ekonomi dan Politik sudah ada dalam satu tangan dia akan melahirkan Rezim Tirani.

Hari ini saya lihat kekuatan Ekonomi dan Politik sudah ada ditangan Pemilik Kapital. Sudah ada di dalam satu tangan, maka ini akan melahirkan Rezim Tirani, Rezim yang zalim.
Dalam bidang hukum dia akan tajam kebawah dan tumpul ke atas.

Dan itu terbukti. Kalau ada orang islam yang bertindak keras mesti ditangkap. Tapi yang sejalan dengan mereka, tidak ditangkap.

Kemarin Djoko Tjandra begitu bebasnya dia keluar masuk negeri ini. Jangan-jangan dia adalah orang yang bermasalah secara hukum. Karena hukum di negeri kita tebang pilih, ada diskriminasi penegakan hukum.
Ini adalah salah satu contoh bahwa keadilan di negeri ini belum tegak.

Kita mencita-citakan negeri kita ini akan menjadi negeri yang maju juga berkeadilan. Tidak sekedar Berkeadilan tapi juga Beradab.

Saya tambahkan bahwa usulan-usulan Muhammadiyah bukannya tidak di dengar. Buktinya ketika Muhammadiyah menarik diri dari kegiatan POP yang diselenggarakan oleh Mendikbud, ternyata Menteri Nadiem akhirnya mengalah dan berjanji untuk mengevaluasi.

Jadi selama tidak menyangkut ekonomi, mereka akan merespond. Tapi seandainya menyangkut Ekonomi saya kira tidak mudah bagi Rezim untuk mendengar dan mengabulkan apa yang kita minta.

Seandainya Pak Busyro Muqodas telah melayangkan surat atas nama PP Muhammadiyah untuk menghentikan RUU Omnibus Law, saya ragu mereka akan mematuhi. Karena itu adalah tuntutan dari Para Pemilik Kapital. Dan mereka adalah orang -orang yang sudah membiayai mereka selama ini.


Pertanyaan

2. Merebaknya Pandemi Covid-19 yang berkembang dalam konteks Kesehatan berdampak pada Ekonomi. Atas pengalaman bapak dalam menangani Ekonomi khususnya dalam UMKM, bagaimana untuk mengangkat mereka.?

3. Tenaga Kerja kita banyak yang sudah lepas dari Pekerjaan. Dalam arti dia bisa tidak bekerja dalam sementara waktu, tapi ada yang langsung out, tak ada pekerjaan. Karena memang usaha tidak berkembang.
Disisi lain ada tenaga asing yang hadir dan dibeberapa tempat terjadi benturan dengan masyarakat sekitar. Bagaimana usaha kita agar Pendidikan bisa menangani SDM yang siap. Kalau kita tidak dapat membuat cetak biru ini masa depan generasi muda juga akan jadi persoalan mendasar.


Jawaban :

2. Dalam situasi seperti ini kita bisa membuat uang beredar dibawah. Kalau banyak uang beredar dibawah nanti daya beli masyarakat meningkat.
Saya melihat apa yang diinginkan Jokowi, paradox dengan apa yang dilakukan Pembantunya.

Jokowi pernah marah karena masih banyak uang yang ditahan diatas.
Saya menafsirkan kalau uang itu memang diberikan rakyat, harus sampai ke tangan rakyat. Kalau uang sampai ke tangan rakyat berarti rakyat punya daya beli. Dia bisa belanja.

Tapi yang terjadi tidak seperti itu. Uangnya ada , kasus di Departemen Sosial itu yang berbelanja Kementrian Sosial. Membeli 9 jenis sembako ditenderkan. Tendernya sekala besar, kata teman saya sekitar 29 M.
Kalau modalnya 29 M itu bukan UMKM lagi. Kalau dia menang tender karena modal besar, dia belanjanya pasti ke Distributor besar. Akhirnya uang negara jatuh ke tangan Pengusaha Besar. Akibatnya warung kecil tidak akan hidup.

Jadi mestinya Kementrian tidak usah beli macam-macam. Kasih saja uang kepada rakyat. Biar mereka yang berbelanja disekitar dia sehingga Ekonomi rakyat bergerak.

Jadi antara apa yang dicitakan tidak sama dengan apa yang dilaksanakan. Menurut saya akhirnya yang kena Pak Jokowi sendiri karena dia tidak dibantu oleh orang-orang yang punya keahlian, yang punya komitmen untuk menggerakkan dan memajukan Ekonomi Rakyat.

3. Ini juga menjadi keprihatinan kita : Pengangguran tinggi, ada investasi tetapi tenaga kerjanya dari luar.
Sehingga yang terjadi ada investasi, tetapi investornya melakukan invasi, dan intervensi sehingga yang kita lihat di Sulawesi Tenggara daerah itu sudah tidak dapat kita masuki. Itu sudah seperti negara sendiri.

Mereka intervensi terhadap kebijakan- kebijakan yang sudah ada di negeri kita. Dia bisa intervensi di Pelabuhan, dia bisa intervensi di Bandara. Dia bisa intervensi terhadap Perda-Perda yang ada. Akhirnya kemandirian kita sebagai bangsa juga terusik.

Menurut Pak Din Syamsudin, apa yang sudah dilakukan oleh Rezim ini memang banyak melakukan pelanggaran- pelanggaran. Kalau ini tidak dihentikan akan membuat Rakyat dan Bangsa ini terpecah. Dan itu sangat berbahaya karena eksistensi bangsa dan negara terancam.

Kalau Muhammadiyah mau menjadi penentu di negeri ini maka dia harus menguasai ekonomi.
Yang harus dilakukan adalah bagaimana kita bisa menghijrahkan sekitar 20% atau 30% anggota kita dari Employee Mentality kepada Entrepreneur Mentality. Atau kalau tidak bisa kesana minimal ke Intrapreneur Mentality.

Yang pandai mencari uang itu bukan Pegawai, yang pandai mencari uang adalah Pengusaha. Pengusaha yang Intrapreneur.

Karena core bisnis kita adalah Pendidikan. Maka bisa atau tidak Pendidikan kita mencetak Entrepreneur yang handal dan Intrapreneur yang handal ?

Saya lihat secara kurikulum Muhammadiyah tidak menyiapkannya. Dan Muhammadiyah hanya siap meluluskan anak didik untuk menjadi Employee atau Karyawan.

Berbeda halnya dengan Ciputra University di Surabaya atau Prasetya Mulya di Jakarta. Mereka benar-benar serius untuk mencetak Entrepreneur. Saya sudah berkunjung kesana, disana mereka mengajarkan mata kuliah Kewira Usahaan 5 semester. Di kampus kita cuma 1 semester.

Kemudian pengajar Kewira Usahaan di Kampus kita adalah dosen biasa yang tidak punya bisnis dan kalau pulang naik sepeda. Paling banter naik motor. Sedangkan di Ciputra University yang mengajar dosen biasa tetapi dia hanya mengajar 1/2 semester. Semester berikutnya yang mengajar Pelaku Usaha, Praktisi Bisnis. Mereka mendapatkan theori, pengalaman dan disuruh Praktek.

Sepengetahuan saya kalau kita punya theori dan tak punya pengalaman dia tak bisa bisnis. Sebaliknya bila mereka punya pengalaman tapi tak tahu theori maka akan terhenti tidak berkembang.

Saudara-saudara kita etnis China itu mendapatkan Theori dan disuruh Praktek. Akhirnya mereka terampil dalam berbisnis dan makin lama makin ahli. Kalau sudah ahli untuk membuat keputusan tidak pakai data. Kalau terlalu banyak pakai data dia hanya akan jadi Manager.

Bisa tidak kita menyuntikkan virus entrepreneur kepada anak-anak kita sejak SD sampai Perguruan Tinggi.?

Kalau kita bisa mengalokasikan waktu 1 kali seminggu anak-anak kita, kita beri kesempatan untuk berbisnis di Sekolah, dalam 1 tahun dia punya pengalaman 50 kali berbisnis. Dan kalau diawali dari kelas 1 SD dia tamat SD punya pengalaman 300 hari berbisnis. Tamat SMA dia pengalaman
600 hari berbisnis dan tamat Perguruan Tinggi sudah pengalaman 800 hari berbisnis. Dan itu sudah lebih dari 2 tahun.

Kalau orang punya pengalaman 2 tahun berbisnis mentalnya sudah entrepreneur mentality atau paling tidak Intrapreneur mentality.
Apa beda keduanya? Kalau entrepreneur dia tamat langsung membuka Perusahaan. Tapi kalau Intrapreneur dia tamat lalu bekerja di Perusahaan orang lain tapi mentalnya bukan mental pegawai.

Kalau ini bisa kita desain, buahnya akan bisa kita petik 15-20 tahun yang akan datang. Dan menurut Para Ahli Indonesia akan menjadi Negara Adi Kuasa tahun 2040 dimana kita akan menjadi negara empat besar dunia, dengan urutan : China, Amerika, India, Indonesia.

Pertanyaannya ketika Indonesia menjadi Negeri Adi Kuasa siapa yang menjadi penentu di negeri ini? Kalau memakai theori Prof Dr Jeffrey Winters yang menguasai Sumber Daya Material yaitu saudara kita Etnis China. Itu bisa terjadi bila tidak ada usaha-usaha dari kita.

Kalau kemudian Penentu di Negeri ini dari etnis China maka kita seperti kata Pak Lukman Harun hanya akan teriak- teriak dari luar. Begitu kita teriak, lalu ada yang menghantam sehingga kita berhenti lagi berbicara. Supaya tidak terjadi maka kita harus tampil untuk dapat memimpin negeri ini. Untuk itu kita harus bisa menguasai Ekonomi.


Pertanyaan :

4. Para petani kita baik itu bawang, cabai, Bawang merah, ayam, garam dan buah-buahan, ketika mereka mencari pupuk, menjadi langka dan mahal. Tapi kalau pas panen produknya anjlok harganya.
Contoh lain, gabah petani tidak laku malah mengimpor dari luar. Apa saja jenisnya.
Artinya bidang ekonomi tidak berpihak pada rakyat. Sementara kalau usul ekonomi kepada Pemerintah hampir pasti tidak pernah didengar.
Bagaimana kalau kita Muhammadiyah melakukan gerakan pendampingan supaya para Petani produsen kecil terselamatkan. ?

5. Bagaimana agar Muhammadiyah kaya kader dan kadernya kaya. ?
Mohon pencerahan karena dulu Muhammadiyah berasal dari Pedagang, tetapi sekarang anggota Muhammadiyah dari Pegawai, ASN atau Swasta. Apa perbedaan paradigma keduanya?

6. Gerakan JSM (Jaringan Saudagar Muhammadiyah) dimunculkan di Muktamar Makasar. Tetapi JSM tidak punya kekuatan struktural, karena Saudagar tak mau diatur. Buktinya ketika dijadikan Majelis Ekonomi kerjanya hanya rapat dan tak ada realisasi. Bagaimana agar JSM bisa dikembangkan?

7. Kekuatan Kapital yang memback up Para Politisi ada andil dari Bandar Judi.
Muhammadiyah belum lantang dalam memberantas judi di Nusantara.


Jawaban :

Pak Syafei Maarif pernah menulis, “Ikan itu busuk dari Kepalanya” – itu adalah filosopi orang Yunani.
Kalau badan ikan busuk berarti Kepalanya sudah busuk.
Di Muhammadiyah, ekonomi tidak hidup karena dikepalanya tidak ada yang jadi Pengusaha.

Di Aceh, jumlah Pengurus Muhammadiyah 100 orang, terdiri dari 99 Pegawai Negeri dan 1 orang Mubaligh. Bagaimana dapat memajukan Ekonomi? Tidak bisa!
Kalau kita mau memajukan Ekonomi, Muhammadiyah harus membuat kebijakan, misalnya : 13 Pimpinan dipilih Muktamar dan ada tambahan kuota 2 orang dari kalangan Pengusaha. Seperti itu dilakukan disemua tingkat, menurut saya sudah bagus.

Yang namanya employee itu menghindari resiko. Kalau entrepreneur dia menantang resiko. Dan theorinya High Risk High Return.
Makanya kalau jadi Pegawai gajinya kecil, cuma 5 juta sampai 20 juta.
Kalau kita ingin punya uang banyak harus jadi Pengusaha. Kita perlu menghijrahkan mental dari menghindari resiko ke menantang resiko.

Kalau di negeri ini tidak ada KKN, menurut saya judi tidak akan bisa masuk. Tapi karena KKN tumbuh subur maka judi ada dimana-mana.
Kita tidak dapat memberantas judi karena dilindungi oleh aparat. Teman-teman FPI memberitahu Polisi bahwa disana ada judi, tapi tidak ada tindakan.

Akhirnya mereka datangi sendiri. Dan
ketika mereka datang, mereka dianggap melakukan kekerasan. Padahal kalau misalnya aparat bertindak setelah diberitahu, maka FPI tidak akan turun.

Perilaku konsumen itu ada dua. Ada yang ideologis dan ada yang rasional. Kalau perilaku yang ideologis pasti dia akan belanja kepada teman dia, yang seiman dengan dia. Dia tidak mau belanja kepada yang tidak seiman.

Tapi ada perilaku konsumen rasional. Dia kalau belanja pakai otak. Kalau murah dia beli kalau mahal tidak beli.

Kalau ada dua buah toko :
– Al Muslimun wal muslikhun
– Al Kafirun wal munafiqun
Di toko Al Muslimun harga minyak 10 ribu. Di toko Al Kafirun harga minyak 8 ribu.

Yang ideologis akan belanja di Toko Al Muslimun meskipun mahal. Tapi konsumen rasional dia tak mau bayar mahal, dia cari yang murah. Dan mayoritas manusia perilakunya Rasional.

Menurut saya, seandainya kita bisa menggerakkan umat untuk berperilaku ideologis dalam berekonomi akan dahsyat sekali. Indomart dan Alfamart itu bukan milik umat. Coba kalau umat berhenti belanja kesana, pasti akan langsung bangkrut.

Di negara Bagian Perlis, Malaysia masalahnya sama dengan kita. Tetapi mereka sekarang sedang melakukan upaya kampanye “Buy Muslim Product First”. Seandainya itu bisa kita lakukan, dahsyat sekali karena 90% penduduk negeri ini beragama islam.

Tetapi untuk itu tidak mudah. Padahal kalau dicari juga ada nasnya

Allah SWT berfirman:

وَا عْتَصِمُوْا بِحَبْلِ اللّٰهِ جَمِيْعًا وَّلَا تَفَرَّقُوْا ۖ 

wa’tashimuu bihablillaahi jamii’aw wa laa tafarroquu

“Dan berpegang teguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai,”
(QS. Ali ‘Imran 3: Ayat 103)

Kita tidak berpecah belah dalam berbelanja. Kita hanya membeli produk-produk yang dihasilkan orang islam. Tapi ini tidak bisa dilaksanakan.
Sentimentilnya orang islam harus kita gugah dulu agar kita kuat.

Pemilik Kapital akan memperjuangkan agar di Indonesia Ekonominya Bebas, ekonomi Liberal dan pasarnya Pasar Persaingan. Dalam Pasar Persaingan menurut hukum alam yang menang adalah yang kuat modalnya. Karena itulah timbul Mafia.

Memang kasian sekali Petani kecil. Ketika panen harga jatuh. Siapa yang membuat harga jatuh? Kalau tidak ada aktif action dari Pemerintah, menurut saya UMKM akan semakin lumpuh.
Sayangnya ketika kita berjuang membela UMKM kawan-kawan tak ada yang membela kita.

PP Muhammadiyah mengkritik kebijakan Pemerintah yang mengejar Bank-Bank Syariah untuk merger jadi satu Bank Syariah yang kuat. Pertanyaan siapa yang diuntungkan dengan merger Bank? Usaha Besar atau Usaha Mikro UMKM ?

Kesimpulan jelas, yang diuntungkan adalah Pengusaha Besar karena faktanya Bank-Bank itu berpihaknya bukan kepada UMKM tetapi pada Pengusaha Besar.

PBI nomer 17 tahun 2015 mengamanatkan dunia Perbankan harus mengucurkan kredit kepada UMKM minimal 20%.

Coba bayangkan, jumlah UMKM itu 99,99%. Jumlah pelaku usahanya 64 juta. Usaha Besar jumlahnya adalah 0,01% jumlah Pelakunya adalah 5400.
Yang 5400 mendapat 80% dari Total kredit yang dikucurkan oleh Bank. Yang jumlahnya 64 juta hanya mendapat 20% dari total kredit yang dikucurkan oleh dunia Perbankan.
Yang terjadi kesenjangan semakin terjal.

Maka seandainya Bank-Bank Syariah akan dimerger, yang untung Perusahaan Besar. UMKM tidak akan terbela.

Contoh lain ada Program PEN (Pemulihan Ekonomi Nasional).
Bagaimana komitmen Pemerintah untuk membela UMKM ? Terus saya hitung berapa yang dikucurkan oleh Bank Mandiri?
Ternyata untuk 1 juta UMKM jumlahnya sekitar 12 T, sementara untuk 17 orang Pengusaha Besar jumlahnya hampir sama dengan untuk 1 juta orang UMKM.

Kesimpulan saya Pemulihan Ekonomi Nasional juga berpihak pada Pengusaha Besar. Menurut saya ini menyakitkan. Tidak sama antara kata dengan perbuatan.

Yang saya heran ketika saya mengkritik usulan merger Bank Syariah ini teman-teman Banker mendukung saya tetapi mereka tidak ada satupun yang berani bicara terbuka. Dan yang muncul adalah tulisan-tulisan yang mendukung merger.

Jadi benar juga kata Syeh Muhammad Abduh :

Al-Islamu Mahjuubun Bil Muslimin
(Islam itu tertutup sinarnya oleh orang orang islam sendiri)

UMKM tidak bisa kita bela memang karena ulah kita sendiri. Generasi ini memang sangat menyedihkan dan memprihatinkan.

Saya hanya punya pendapat bahwa selama Presiden dipilih oleh Partai Politik maka selama itu rakyat kecil tidak akan tertolong.
Negara akan maju jika ada peluang tampilnya tokoh Pemimpin lewat jalur independent. Dengan lewat jalur independent dia tidak berhutang kepada Pemilik Kapital tapi berhutang kepada rakyat. Dengan berhutang kepada rakyat dia komitmen kepada rakyat.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here