Dr.H. Zuhad Masduki MA

25 Dzulhijjah 1441/ 15 Agustus 2020


TANYA JAWAB


Pertanyaan

5. Ada hadits yang mengatakan bahwa iman seseorang bisa naik turun. Pertanyaannya naik turun semua atau sebagian saja, mohon penjelasan.


Jawaban

5. Dalam hadits Sahabat Abu ad-Darda Uwaimir al-Anshaari. rahimahullah berkata,

الإِيْمِانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

“Iman itu bertambah dan berkurang.”

Keterangannya iman itu bertambah kalau tingkat ketaatannya semakin tambah. Iman berkurang kalau tingkat maksiatnya bertambah.
Jadi bermaksiat itu mengurangi kadar keimanan dan ketaatan menambah kadar keimanan.

Kita mengamalkan agama juga bertahap. Karena kita mengaji, pengetahuan kita bertambah maka amaliah kita juga bertambah. Berarti iman kita meningkat.

Maksiat itu juga bertingkat-tingkat. Ada maksiat yang ringan dan ada yang berat. Ketika kita kemudian ada dalam komunitas lain yang tidak kondusif lalu kita meninggalkan ajaran-ajaran agama, maka iman kita turun karena kita bermaksiat. Apalagi jika kemudian melakukan dosa-dosa besar.

Sekarang ini semakin banyak orang tidak percaya pada Hari Pembalasan. Buktinya orang makin tidak takut korupsi. Dan dia menganggap tidak akan terkena siksa neraka.
Jadi tingkat degradasi iman luar biasa drastisnya. Karena sudah ingkar. Walaupun dia secara lesan mengakui iman tetapi perilakunya menunjukkan pengingkaran.

Orang tidak takut berbuat dosa-dosa besar berarti mengingkari hari Pembalasan. Hal itu seperti manusia zalim pada masa Nabi Muhammad. Sampai diabadikan di dalam Al Qur’an

“Mereka menanyakan kepadamu (Muhammad) tentang Kiamat, Kapan terjadi? …” (QS. Al-A’raf 7: Ayat 187)


Pertanyaan

6. Pak ustadz zuhad. Tanya. Apakah cerita adanya kelompok yahudi yg pergi mancing mencari ikan dilaut bisa disebut hari sial?. Apakah benar kemudian mereka menjadi monyet? Menjadi monyet itu apakah bisa dibuktikan secara arkelog- fosilnya ditemukan?

Jawaban

6. Hal itu tentang ayat :

وَلَقَدْ عَلِمْتُمُ الَّذِيْنَ اعْتَدَوْا مِنْكُمْ فِيْ السَّبْتِ فَقُلْنَا لَهُمْ كُوْنُوْا قِرَدَةً خَا سِئِـيْنَ  ۚ 

“Dan sungguh, kamu telah mengetahui orang-orang yang melakukan pelanggaran di antara kamu pada hari Sabat, lalu Kami katakan kepada mereka, Jadilah kamu kera yang hina!”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 65)

Memang tafsirnya beragam, ada yang memahami letterlijk mereka memang benar-benar jadi monyet. Yang mengatakan bahwa mereka menjadi monyet beneran tidak dapat membuktikan secara arkeology.

Ada yang memaknainya tidak letterlijk, jadi yang seperti monyet itu akhlaknya.
Monyet itu akhlaknya
– suka membandel
– suka mengingkari
– sudah diberi malahan merampas.
– sulit dididik. Bisa dididik dengan cara yang keras.
Mayoritas ulama memahami seperti yang kedua, dalam arti sifatnya seperti monyet, bukan dalam arti fisik.

Dapat kita bandingkan dengan ayat lain

“Katakanlah (Muhammad), Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang fasik di sisi Allah? Yaitu, orang yang dilaknat dan dimurkai Allah, di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi dan orang yang menyembah Tagut. Mereka itu lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat dari jalan yang lurus.” (QS. Al-Ma’idah 5: Ayat 60)

Kenapa orang Yahudi dijadikan seperti babi, menurut para ulama dalam tafsirnya : Babi itu hewan yang tidak punya rasa cemburu pada pasangannya. Mereka mengkomersilkan pasangannya dan dikutuk oleh Al Qur’an. Jadi bukan fisik tapi sifat yang menyebabkan mereka seperti binatang-binatang itu.


Pertanyaan

7. Maksiat bermacam ringan sedang berat. Bagaimana maksiat secara fisik misal maksiat mata, tangan perut dll.maksiat qolbu dan fikiran bagaimana? Mohon penjelasan dikaitkan Surat Al Asr.


Jawaban

7. Maksiat bertingkat-tingkat. Ada yang masuk kategori dilarang, ada yang masuk kategori untuk dijauhi.

Contoh : Suatu hari, sahabat al-Fadhl bin Abbas, saudara Abdullah bin Abbas, membonceng Nabi Muhammad di atas unta. Tak disangka, seorang perempuan , mengetahui kedatangan Nabi. Ia pun mendekati unta yang dinaiki Nabi, dia akan bertanya pada Nabi.

Dalam riwayat , perempuan ini disebutkan cukup cantik. Al-Fadhl bin Abbas memandang wajah sang perempuan. Perempuan ini pun memandangnya juga karena Al-Fadhl seorang yang tampan.

Nabi Muhammad mengetahui gelagat al-Fadhl dan perempuan tadi. Nabi memalingkan wajah al-Fadhl agar tidak terus-terusan melihat si perempuan, lantas Rasulullah segera menanyakan maksud kedatangannya.

Ini menunjukkan tentang maksiat yang ringan tapi kalau diteruskan bisa berlanjut ke maksiat yang berat.

Makanya ayat-ayat Al Qur’an yang melarang maksiat yang berat, bunyinya tidak langsung ke maksiat itu.

Misalnya larangan tentang zina, Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنٰۤى اِنَّهٗ كَا نَ فَا حِشَةً ۗ وَسَآءَ سَبِيْلًا

“Dan janganlah kamu mendekati zina; zina itu sungguh suatu perbuatan keji, dan suatu jalan yang buruk.”
(QS. Al-Isra’ 17: Ayat 32)

Yang dilarang adalah zina.
Tetapi yang mengantar pada perbuatan zina itu banyak : Orang bisa pergi berduaan, berkhalwat berduaan, berpakaian tidak senonoh atau tontonan-tontonan yang merangsang itu bisa mengantar ke arah zina.
Itu semuanya dilarang untuk didekati.

Jumlah pengantarnya banyak tapi tidak diidentifikasi oleh Al Qur’an. Al Qur’an hanya menyebut “janganlah kamu mendekati zina”.
Artinya mendekati saja tidak boleh apalagi melakukan zina. Semua hal yang dapat mengantar kearah zina harus ditutup.

Kalau ayat ini diterapkan, akan banyak sekali kegiatan sosial yang harus ditiadakan. Pengantar-pengantar kepada keburukan banyak sekali.

HP yang ada ditangan anak kita apakah bisa dikontrol? Itu persoalan kita sekarang ini. Maka orang tua juga harus tahu teknologi supaya dia bisa mengontrol anak-anak, anak didiknya, masyarakat yang mengantar pada perbuatan buruk. Orang tua harus tahu ada maksiat besar dan ada maksiat pengantar.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here