Dr.H. Zuhad Masduki MA

25 Dzulhijjah 1441/ 15 Agustus 2020


TANYA JAWAB


Pertanyaan :

1. Mohon penjelasan bahwa Surat Al Asr ini tidak hanya ditujukan pada Pribadi saja, tetapi juga pada komunitas misalnya Pemerintah.?

Jawaban :

1. Manusia itu makhluk sosial. Dia tidak bisa hidup sendiri. Dia butuh pada orang lain. Kebutuhan terhadap orang lain itu sendiri maupun orang lain secara organisasi.

Para pakar mendaftar kebutuhan manusia meliputi :

1. Kebutuhan jasad : kebutuhan faali makan, minum, Sex

2. Kebutuhan keterikatan kelompok.

Kelompok bisa dalam arti kecil maupun luas. Kelompok kecil misalnya RT, RW, Kelurahan, Kelompok Yasinan, Kelompok Tahlilan. Artinya manusia butuh berkumpul dan dia bisa aktualisasi diri di dalam kelompok- kelompok itu. Orang butuh pengakuan, kalau tidak diakui dia bisa kena masalah, stress, bisa sakit.
Kelompok dalam arti luas adalah Negara. Dalam negara ada Lembaga- lembaga. Kalau di negara kita ada DPR, ada MPR dan lembaga negara yang lain.

3. Kebutuhan akan Rasa aman.
Bagaimana kita merasa aman. Ada yang melindungi dimana kita hidup.

4. Kebutuhan akan Penghormatan.

Manusia butuh dihormati. Rumusnya kalau kamu ingin dihormati maka kamu harus bisa menghormati orang lain. Dalam bahasa Hadits dan Al Qur’an :

“Kama Tadinu Tudanu”
(Bagaimana kamu memperlakukan orang begitulah kamu akan diperlakukan orang).

“Wa jazaaa`u sayyi`ating sayyi`atum misluhaa”
(Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang setimpal). (QS. Asy- Syura 40)

5. Kebutuhan akan Pemenuhan Cita-cita.

Cita-cita itu bisa apa saja. Bisa sekolah, kedudukan, jabatan, pekerjaan dan lain sebagainya.

Kalau kita melihat 5 kebutuhan manusia ini, maka Lembaga-lembaga Kenegaraan ini juga kita butuhkan.

Ayat Al Asr adalah petunjuk untuk masyarakat, bukan hanya petunjuk untuk pribadi-pribadi.
Karena manusia makhluk sosial dan dia hanya akan hidup baik kalau dalam masyarakat baik. Masyarakat akan baik kalau ada kontrol, masyarakat ada kemauan untuk saling menyampaikan wasiat Al Haq dan saling menyampaikan wasiat Kesabaran kepada pihak-pihak yang lain.

Maka masyarakat harus terbuka. Dia harus membuka diri dan ada kemauan menyampaikan Kebenaran kepada yang lain. Kalau hidup seperti itu maka kita akan enak. Yang paling berat itu kalau dikritik. Biasanya orang itu akan berang.

Dengan tuntunan surat Al Asr ini marilah kita berusaha untuk menjadi orang yang lapang dada. Orang yang terbuka hatinya untuk menerima kebenaran, walaupun kebenaran itu berasal dari pihak yang lain.

Demokrasi yang sebenarnya , sesuai dengan tuntunan Surat Al Asr. Sehingga Pimpinan-Pimpinan yang ada di Lembaga Negara itu juga terbuka untuk menerima Kritik dan Saran dari masyarakat. Karena masyarakat terdiri dari banyak unsur dan pakar-pakar dalam berbagai bidang. Sedangkan yang duduk di Lembaga-lembaga itu juga hanya kepakaran dalam bidang tertentu.

Tidak ada orang yang pakar dalam semua hal, maka kita harus menyadari kelemahan-kelemahan kita yang kita tidak mengetahui. Terbuka untuk menerima Kritik dan Saran dari pihak lain.

Jadi tuntunan Surat Al Asr mengantar kepada kehidupan yang baik. Dan dampaknya nanti kehidupan akhiratnya juga baik.


Pertanyaan :

2. Nampaknya memahami Al Qur’an tak bisa belajar sendiri dari Terjemahan. Harus belajar tafsir.
Berbicara masalah Al Haq, ada tahap kematangan. Al Qur’an dapat dipahami oleh mereka yang matang. Dalam hal ini kematangan Intelektual. Mohon pencerahan.

3. Dalam hal menyampaikan Al Haq, misalnya kewajiban menyampaikan Ilmu, ternyata ada yang disimpan untuk diri sendiri . Mohon tanggapan.

4. Saya mendapat info bahwa Demokrasi tidak cocok dengan islam, kenyataannya demokrasi justru malah menghancurkan umat, tidak mampu mensejahterakan Umat.
Bahkan demokrasi dipertentangkan dengan Islam. Dimana islam yang dikatakan benar adalah faham Khilafah. Mohon penjelasan.


Jawaban :

2. Pemahaman itu bertahap, maka pemahaman terhadap Al Qur’an juga mengalami perkembangan. Kalau nanti pemahaman itu sudah mencapai tahap kematangan, tidak berubah dan itu benar, maka dia masuk kategori Al Haq.

Contoh tafsir terhadap ayat :

وَا لسَّمَآءِ ذَا تِ الرَّجْعِ ۙ 

was-samaaa`i zaatir-roj’

“Demi langit yang mengandung hujan,”
(QS. At-Tariq 86: Ayat 11)

Ulama-ulama dulu menafsirkan zaatir-roj’ sebagai hujan.
Hujan itu siklus yang berputar : Air laut kena sinar matahari lalu menguap dan naik ke atas. Kemudian menjadi titik-titik air dan didorong oleh angin lalu turun ke bumi jadi hujan.

Menurut Tafsir Profesor Zaghlul an-Najjar seorang ahli Geology dari Mesir : zaatir-roj’ ditafsirkan atmosfir. Atmosfir juga sama, intinya bolak-balik, naik turun. Jadi dua-duanya bisa benar, Al Haq.

Artinya Al Qur’an bahasanya hanya itu tapi cakupan maknanya luas. Kalau membaca tafsir dari yang klasik sampai yang modern akan menemukan banyak pengembangan tafsir yang semua bisa masuk kategori Al Haq.

Contoh yang lain :

قُلْ اَعُوْذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ ۙ 

qul a’uuzu birobbil-falaq

“Katakanlah, Aku berlindung kepada Tuhan yang menguasai subuh (fajar),”
(QS. Al-Falaq 113: Ayat 1)

Tafsir yang sekarang tentang falaq adalah waktu Subuh.
Tapi kalau membaca Tafsir Pak Quraish Shihab, Al-falaq dimaknai sesuatu yang terbelah.
Sekilas seolah-olah sangat jauh maknanya antara waktu Subuh dan Sesuatu yang terbelah. Tetapi kalau dianalisis tidak ada pertentangan.

Maksudnya Allah menciptakan segala sesuatu dimulai dari “keterbelahan”.
Penciptaan manusia, dalam ilmu embriology dimulai dari keterbelahan.
Sperma ketemu ovum lalu membelah lalu menggantung pada dinding rahim.

Kita menabur biji padi, jagung , mangga dan lain-lain setelah ditebar beberapa hari kemudian pecah lalu tumbuh tunasnya dan tumbuh batang. Diawali dari membelah biji.

Alam semesta yang terjadi diceritakan sesuai Theori Big Bang , diawali dari ledakan yang besar lalu terjadi alam semesta secara bertahap.

Demikian juga dengan waktu Subuh. Diawali malam hari yang gelap gulita. Ketika di awal pagi matahari mulai bersinar dia membelah kegelapan malam. Oleh Para ulama dinamai waktu Subuh.

Jadi waktu Subuh itu makna sempit dan Sesuatu Yang Terbelah adalah makna luas. Semuanya adalah Al Haq.
Kalau kita membaca berbagai tafsir jangan serta merta menyimpulkan itu kontradiksi. Tidak selalu begitu. Kita harus memahami nalar pemikirannya.

Jadi betul Pemahaman bertingkat mengalami tahapan. Ketika mencapai tahapan final, itulah haq yang sudah diakui kebenarannya.

3. Karena kita, masyarakat itu makhluk sosial, dan kita harus berwasiat, saling mengoreksi, saling memberi masukan dan mau menerima masukan dari pihak lain.

Termasuk Ilmu Pengetahuan supaya dia berguna secara luas maka ilmu pengetahuan juga harus disampaikan kepada Pihak lain. Kebenaran jangan hanya disimpan sendiri, nanti akan membawa kebagian pada orang lain
Dalam agama, orang yang menyembunyikan ilmu diancam dengan siksa neraka.

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ سُئِلَ عَنْ عِلْمٍ عَلِمَهُ ثُمَّ كَتَمَهُ أُلْجِمَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ بِلِجَامٍ مِنْ نَارٍ

Dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasûlullâh SAW  bersabda: “Barangsiapa ditanya tentang suatu ilmu yang dia mengetahuinya, namun dia menyembunyikannya, maka dia akan diberi tali kekang dari neraka pada hari kiamat”. (HR. Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah).

4. Apakah benar Demokrasi tidak sesuai dengan Islam?

Ada dialog yang panjang sekali, terutama dari akhir masa Khilafah Turki Utsmani. Ulama yang mendukung Demokrasi mengatakan bahwa Demokrasi tidak bertentangan dengan Islam. Kita bisa bilang bahwa itu Sistem Politik.

KeKhalifahan pada masa awal, sistem politik memilih Khalifah pada waktu itu juga tidak sama persis.
Pemilihan Abu Bakar, pemilihan Umar, pemilihan Utsman, pemilihan Ali bin Abi Thalib tidak sama prosesnya.
Tetapi semua itu namanya Khilafah.

Setelah 4 Khalifah itu lalu Ali bin Abi Thalib dijatuhkan oleh dinasti Bani Umayyah. Bani Umayyah dimulai dari Muawiyah. Sistemnya sudah bukan Khilafah lagi tapi Kerajaan. Muawiyah lalu mewariskan kekuasaan kepada anaknya Yasid bin Muawiyah. Tapi tetap menggunakan nama Khalifah.
Jadi nama Khalifah tetap dipakai tetapi substansinya sebenarnya Kerajaan.

Terus kebelakang, dinasti Bani Abbas juga begitu, mewariskan kekuasaan kepada anak keturunannya. Jadi isinya sebenarnya bukan Khilafah seperti pada masa awal, tetapi tetap menggunakan istilah Khilafah, karena ini sudah baku waktu itu.

Sampai ke Turki Utsmani sebenarnya juga Kerajaan. Mewariskan kekuasaan kepada anak keturunan. Tetapi istilah Khilafah tetap digunakan.

Maka ulama-ulama mengatakan kesesuaian Demokrasi dengan Islam jangan dilihat dari sisi formalistiknya, lihatlah Substansinya.

Dalam islam ada ajaran Syuro atau Musyawarah. Kalau dalam Sistem Pemerintahan menetapkan segala sesuatu berdasarkan Musyawarah oleh para Ahlinya, berarti sesuai dengan Islam. Demokrasi menyediakan ruang bagi orang untuk berdebat.

Berdebat itu musyawarah dalam rangka untuk mencari kebenaran yang substansi. Asal musyawarahnya beneran. Bukan musyawarah karena didikte oleh pihak-pihak tertentu.
Perjuangan kita mungkin demokrasi kita ditegakkan kearah itu, musyawarah yang sebenarnya. Jangan dibelokkan menjadi Demokrasi Terpimpin.

Jadi melihat kesesuaian itu harus melihat Substansinya, jangan hanya melihat istilah atau kata-katanya.

Makanya di dalam Al Qur’an kita dapat menemukan ayat-ayat tentang syarat-syarat menjadi Pemimpin, antara lain.

– Tentang pengangkatan Nabi Ibrahim menjadi imam. Allah SWT berfirman:

وَاِ ذِ ابْتَلٰۤى اِبْرٰهٖمَ رَبُّهٗ بِكَلِمٰتٍ فَاَ تَمَّهُنَّ ۗ قَا لَ اِنِّيْ جَا عِلُكَ لِلنَّا سِ اِمَا مًا ۗ قَا لَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ قَا لَ لَا يَنَا لُ عَهْدِى الظّٰلِمِيْنَ

“Dan ingatlah , ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat, lalu dia melaksanakannya dengan sempurna. Dia (Allah) berfirman, Sesungguhnya Aku menjadikan engkau sebagai pemimpin bagi seluruh manusia. Dia (Ibrahim) berkata, Dan juga dari anak cucuku? Allah berfirman, Benar, tetapi janji-Ku tidak berlaku bagi orang-orang zalim.”
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 124)

Allah menetapkan syarat Pemimpin harus ADIL.

Untuk bisa memilih pemimpin adil bisa juga lewat Sistem Demokrasi kita sekarang ini. Yang penting orang yang dipilih benar-benar orang yang sudah punya track record yang bagus.

– Dalam Surat As-Sajdah, syarat Pemimpin adalah SABAR.

وَ جَعَلْنَا مِنْهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا لَمَّا صَبَرُوْا ۗ وَكَا نُوْا بِاٰ يٰتِنَا يُوْقِنُوْنَ

“Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka sabar. Mereka meyakini ayat-ayat Kami.”(QS. As-Sajdah 32: Ayat 24)

Orang yang sabar itu artinya :
– Orang yang tidak tergoda oleh materi, maupun non materi.
– Orang yang ulet.
– Orang yang disiplin melaksanakan tugas-tugasnya.
– Orang yang memiliki kemampuan kerja secara Sistematis.

Dia benar-benar dikenal oleh masyarakat sebagai orang yang berprestasi.

– Di dalam Surat Al Anbiya dijelaskan bahwa Pemimpin harus BISA DITELADANI.

وَجَعَلْنٰهُمْ اَئِمَّةً يَّهْدُوْنَ بِاَ مْرِنَا وَاَ وْحَيْنَاۤ اِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرٰتِ وَاِ قَا مَ الصَّلٰوةِ وَاِ يْتَآءَ الزَّكٰوةِ ۚ وَكَا نُوْا لَـنَا عٰبِدِيْنَ ۙ 

“Dan Kami menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan Kami wahyukan kepada mereka agar berbuat kebaikan, melaksanakan sholat, dan menunaikan zakat, dan hanya kepada Kami mereka menyembah.” (QS. Al-Anbiya 21: Ayat 73)

– Syarat berikutnya hubungan vertikal dengan Allah, hubungan Horizontal dengan manusia juga dekat.

Contoh Pemimpin yang baik adalah Dzulqarnain. Setelah menjadi raja dikomplain oleh masyarakat yang terganggu oleh Ya’juj Ma’juj. Masyarakat mau memberi upeti kepada Dzulqarnain dengan syarat dia membuat dinding pembatas antara mereka dengan Ya’juj Ma’juj.

Jawaban Dzulqarnain bahwa apa yang diberikan oleh Allah kepadanya lebih bagus daripada apa yang diberikan oleh mereka. Maka dinding pembatas akan dibuat lebih bagus dari pada yang diminta.

Kisah diatas kalau dikaitkan keadaan sekarang, misal harus mengerjakan Proyek dengan nilai nominal 1 juta, dia justru mengerjakan senilai 2 juta dengan ditambah uang sendiri.
Bukan seperti sekarang, proyek 1 juta yang diimplementasikan hanya 100 ribu.

Jadi Pemimpin baik seperti Dzulqarnain bila bisa dipilih melalui Demokrasi atau mungkin cara lelang jabatan dan lain-lain , termasuk islami. Jadi menilai islami atau tidak melihat Substansinya, jangan hanya melihat sisi Formalistik. Cuma demokrasi juga tergantung rezimnya. Rezim siapa? Demokrasi bisa rusak juga. Itu persoalan lain.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here