Dr.H. Zuhad Masduki MA

25 Dzulhijjah 1441/ 15 Agustus 2020



Surat Al Asr ini salah satu tujuannya adalah menjelaskan bahwa waktu itu netral. Al Qur’an menolak pandangan manusia adanya waktu mujur dan waktu sial. Waktu itu netral tergantung bagaimana waktu itu digunakan oleh manusia. Yang menggunakan dengan baik akan mendapatkan kemanfaatan yang besar. Yang mengabaikan akan mendapatkan kerugian yang besar.

Di masyarakat Mekkah pada masa lalu, di zaman Nabi ada keyakinan adanya waktu sial dan waktu mujur. Di masyarakat Indonesia juga ada keyakinan serupa, ada waktu sial, hari- hari sial dan hari-hari mujur. Misalnya kalau di Indonesia dikenal adanya Rebo wekasan dianggap sebagai waktu sial.

Kalau kita kembali kepada Al Qur’an, ada ayat yang memang secara spesifik menyebut kata sial. Kita lihat misalnya di Surat Al Qomar ayat 19

Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَرْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا صَرْصَرًا فِيْ يَوْمِ نَحْسٍ مُّسْتَمِرٍّ ۙ 

“Sesungguhnya Kami telah mengembuskan angin yang sangat kencang kepada mereka pada hari nahas yang terus-menerus,”
(QS. Al-Qamar 19)

Ayat ini terkait dengan kaum Tsamud yang membangkang pada nabinya. Dan lingkup pembangkangannya sampai pada titik kulminasi. Kemudian Allah mengirim kepada mereka angin yang sangat kencang dan dingin yang menghancurkan mereka. Pada saat mereka dihancurkan oleh Allah itu disebut dengan Yaumun Nahs (Hari Na’as) atau hari sial.

Kemudian kita juga menemukan di Surat Fussilat ayat 16. Hari sial itu tidak hanya satu hari tetapi beberapa hari sial.

Allah SWT berfirman:

فَاَ رْسَلْنَا عَلَيْهِمْ رِيْحًا صَرْصَرًا فِيْۤ اَيَّا مٍ نَّحِسَا تٍ لِّـنُذِيْقَهُمْ عَذَا بَ الْخِزْيِ فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَا ۗ وَلَعَذَا بُ الْاٰ خِرَةِ اَخْزٰى وَهُمْ لَا يُنْصَرُوْنَ

“Maka Kami tiupkan angin yang sangat bergemuruh kepada mereka dalam beberapa hari yang nahas, karena Kami ingin agar mereka itu merasakan siksaan yang menghinakan dalam kehidupan di dunia. Sedangkan azab akhirat pasti lebih menghinakan dan mereka tidak diberi pertolongan.”
(QS. Fussilat 16)

Masih ada lagi di surat Al Haqoh, disebutkan hari sial lamanya 7 malam 8 hari.

Allah SWT berfirman:

سَخَّرَهَا عَلَيْهِمْ سَبْعَ لَيَا لٍ وَّثَمٰنِيَةَ اَيَّا مٍ ۙ حُسُوْمًا ۙ فَتَرَى الْقَوْمَ فِيْهَا صَرْعٰى ۙ كَاَ نَّهُمْ اَعْجَا زُ نَخْلٍ خَاوِيَةٍ ۚ 

“Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam delapan hari terus-menerus; maka kamu melihat kaum `Ad pada waktu itu mati bergelimpangan seperti batang-batang pohon kurma yang telah kosong.”(QS. Al-Haqqah 7)

Kalau ayat-ayat ini difahami letterlijk, harafiah maka kesimpulannya semua hari itu sial, karena lamanya dikirim angin kencang dan dingin itu 7 malam 8 hari. Tentu ini kesimpulan yang salah.

Maksud dari ayat ini adalah pada hari dimana kaum Tsamud dihancurkan oleh Allah dengan angin itu maka bagi mereka hari itu disebut hari sial. Tetapi bagi umat yang lain tidak.

Sama dengan kita sekarang ini kita sedang mengaji lewat daring. Tetapi dihari yang sama sekarang ini di jam yang sama ditempat lain ada orang mati, ada orang sakit ada orang yang mengalami kebangkrutan. Bagi mereka itu sial. Jadi sial itu bukan harinya tapi bagi masing-masing orang yang mendapatkan kesialan itu.

Surat Al Asr menampik pandangan- pandangan negatif tentang waktu seperti itu. Bahkan mufasir mengatakan kalau orang punya keyakinan adanya hari sial membawa kepada Syirik karena meyakini adanya pengatur waktu selain Allah SWT. Padahal waktu itu milik Allah dan yang mengatur adalah Allah SWT.
Keyakinan tentang hari sial membawa kepada kesyirikan yang tidak disadari oleh yang bersangkutan.


Dalam Surat Al Asr, Allah memulai ayatnya dengan sumpah. Wau yang dipakai di ayat itu adalah Wau Qosam. Wau qosam (و قسم ) adalah Wau untuk sumpah.

Allah bersumpah tergantung pada mitra bicara yang akan diberitahu oleh Allah SWT. Pembicaraan ada penguatan atau tidak tergantung pada mitra bicara.

Kalau mitra bicara tidak ingkar maka pembicaraan tidak ada penguatan. Nada bicaranya biasa-biasa saja. Seperti misalnya : “Saya akan datang jam 10.00”.
Tapi kalau mitra bicaranya nadanya tidak percaya maka kalimatnya ditambah penguat : “Sungguh saya akan datang jam 10.00”.
Kalau makin ingkar maka penguatnya bisa ditambah. Kalau sangat ingkar maka bisa menggunakan sumpah.

Jadi sumpah Allah dalam Al Qur’an fungsinya adalah untuk menguatkan kebenaran isi pembicaraan yang akan disampaikan oleh Allah SWT.

Syaratnya sumpah ada 4 :

1. Yang bersumpah itu sendiri.
Dalam hal ini adalah Allah SWT.

2. Instrumen sumpah.
Yang banyak dipakai di Al Qur’an adalah huruf wau : Wattini, wadh -dhuha, wal Fajr dan lainnya.

3. Obyek sumpah.
Kalau Allah yang bersumpah maka obyeknya bisa apa saja. Semua makhluk Allah bisa dijadikan sebagai obyek sumpah.
Tetapi kalau kita yang bersumpah maka obyeknya hanya Allah SWT tidak boleh yang lain. Karena kalau kita bersumpah dengan obyek selain Allah juga membawa kepada Syirik.
Kalau orang mengingkari sumpahnya, yang bisa memberi sangsi terhadap pengingkaran sumpah hanya Allah SWT, tidak ada selainnya.

4. Jawab Sumpah
Adalah kalimat yang datang setelah obyek sumpahnya, inilah pernyataan yang ingin dikuatkan kebenarannya oleh Allah SWT.

Dalam Surat Al Asr , Allah bersumpah dengan Al Asr yang dibahas oleh banyak mufasir dimaknai sebagai waktu. Bisa dimaknai waktu secara umum, ada juga yang memahami sebagai waktu asar.

Kaitan dengan waktu asar ada hubungannya dengan sejarah masyarakat Arab dulu. Di masyarakat Arab kalau masuk waktu asar, mereka berkumpul kemudian menghitung untung ruginya mereka berdagang. Yang tidak mendapat keuntungan menganggap itu hari sial. Yang mendapat keuntungan menganggap itu waktu mujur. Maka pandangan inilah yang kemudian ditampik oleh Al Qur’an.

Mayoritas ulama memahami Al Asr sebagai waktu secara umum.

Ada juga yang memahami waktu asar adalah usia senja. Kita-kita yang umurnya sudah 60 ke atas sudah masuk waktu asar. Sudah hampir masuk maghrib, waktunya kembali kepada Allah SWT. Biasanya orang kalau sudah masuk waktu asar, sudah usia senja, orang sudah mulai lebih aktif, intensif mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ketika masih muda lupa karena kegiatan aktivitas kerja.


وَا لْعَصْرِ ۙ 

“Demi masa.” (QS. Al-‘Asr 1)

Jawab Sumpahnya

اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ 

“Sungguh, manusia berada dalam kerugian,” (QS. Al-‘Asr 2)

Lafii menggunakan lam taukid, lam yang artinya untuk menguatkan. Maka artinya disini adalah rugi total, kerugian dalam arti yang sangat luas. Bukan kerugian dalam aspek-aspek tertentu. Dan ini untuk semua manusia, semua penganut agama, bukan manusia tertentu dalam kerugian total.

Kemudian Al Qur’an mengecualikan siapa-siapa yang tidak mengalami kerugian :

اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ

“kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asr 3)

Mereka yang dikecualikan ada 4 kelompok :

1. Orang-orang yang beriman.
2. Orang-orang yang beramal sholeh
3. Orang-orang yang selalu berwasiat tentang Al Haq
4. Orang-orang yang selalu berwasiat tentang kesabaran.

Syarat ini kumulatif, kalau kita melakukan satu berarti baru terbebas seper-empatnya. Kalau sudah melakukan semuanya baru terbebas dari semua kerugian.


1. Orang-orang yang beriman

Iman ini kalau kita kembali pada rumusan para ulama klasik adalah :
Sikap pembenaran dengan hati nurani , ikrar dengan lesan dan pelaksanaan dengan anggota badan.

Kalau menurut Mahmoud Syaltut iman itu ada dua : Aqidah dan Syariah.
Aqidah kaitannya dengan pengetahuan yang sampai pada tingkat seyakin-yakinnya menyangkut apa saja yang diberitakan oleh Rasul kepada kita. Lalu kita mengimaninya.

Ini urusannya berkaitan dengan Rukun Iman yang enam :
Percaya kepada Allah
Percaya kepada Malaikat
Percaya kepada Para Nabi
Percaya kepada Kitab-kitab Suci
Percaya kepada Hari Akhir
Percaya kepada Qadla dan Qadar.

Kalau orang sudah meyakini enam perkara ini maka dia sudah masuk kategori orang beriman. Lalu diikuti dengan pengamalan dari keimanan tadi. Yaitu melaksanakan Syariat agama. Jadi tidak bisa dipisahkan antara aqidah dan syariah.


2. Orang-orang yang beramal sholeh

Terdiri dari dua kata : Amal dan Sholeh.
Amal maknanya adalah penggunaan daya-daya manusia. Baik satu persatu maupun kerjasama dengan yang lain.

Manusia oleh Allah diberi empat daya :

– Daya Akal.

Kalau dipakai akan menghasilkan ilmu pengetahuan dan teknologi yang akan membawa kemudahan -kemudahan dalam kehidupan manusia.

– Daya Qolbu

Daya untuk beriman, untuk berniat, untuk berekspresi, untuk punya rasa kasih sayang dan lain-lain. Ini yang bermain Qolbu, bukan Akal.
Sekarang ini banyak orang yang Akalnya cerdas tapi mati Qolbunya, sehingga mereka tidak punya rasa belas kasihan kepada sesama. Pintar tetapi justru menindas kepada yang lain. Kuat tapi justru menindas pada yang Lemah.
Daya Qolbu hanya bisa diasah dan diasuh dengan ajaran-ajaran agama.

– Daya Hidup.

Daya untuk menghadapi kehidupan, menghadapi lingkungan alam maupun lingkungan sosial. Kalau kita bisa memfungsikan daya Hidup maka kita bisa melakukan harmonisasi dengan lingkungan dimana kita berada.

– Daya Fisik.

Kalau dilatih maka fisik akan trampil untuk melakukan tugas-tugas tertentu.

Kalau daya-daya ini digunakan maka itu namanya Amal.

Amal yang Sholeh, menurut Para Ulama adalah bahwa penggunaan daya-daya ini sesuai dalil Al Qur’an. Sesuai dalil Hadits, sesuai dalil Akal.
Lawannya adalah amal yang rusak.
Sehingga penggunaan daya -daya ini akan membawa kebaikan bagi dirinya sendiri, bagi keluarganya, bagi kelompoknya, bagi ormasnya, bagi partainya, bagi masyarakat secara luas. Itu namanya amal Sholeh.

Amal Sholeh meliputi ruang lingkup yang sangat luas sekali. Kita bisa menggunakan semuanya ataupun sebagian. Untuk beramal sholeh tidak ada batasannya.

Amal itu ada dua sisi, yaitu Sisi Fisik penggunaan daya-daya itu dan ada Sisi Motivasi. Supaya amal-amal kita diterima oleh Allah SWT maka motivasi melakukannya harus semata-mata karena Allah. Kalau tidak begitu maka amal kita tidak sampai kepada Allah SWT.

Iman menuntun tujuan dari apa yang kita lakukan itu kemana, yaitu kepada Allah SWT. Kalau orang -orang kafir tidak memotivasi amal-amal perbuatannya karena mereka tidak percaya Allah, tidak percaya ajaran Allah.

Kalau orang sudah melakukan dua perkara ini maka dia sudah terbebas separo dari kerugian total.


3. Orang-orang yang selalu berwasiat tentang Al Haq

Al Haq artinya sesuatu yang sudah pasti dan tidak berubah.
Para Ulama mengidentifikasi Al Haq ada tiga :

– Allah SWT

DzatNya, Sifat-sifatNya, Perbuatan- perbuatannya adalah pasti tidak berubah.

– Nilai- nilai Agama yang ditetapkan oleh Allah SWT.

Yang tidak berubah dan manusia dituntut untuk memahami dan mengamalkannya dalam kehidupan di dunia.

– Ilmu Pengetahuan yang sudah mencapai tahap kematangan.

Bukan yang masih dalam proses uji coba atau eksperimen.
Seperti matahari terbit dari timur, tenggelam di barat ini adalah Al Haq. Orang sudah tahu semuanya dan tiap hari melihat fenomena alam yang seperti itu.

Kalau kita memiliki ilmu pengetahuan maka tidak hanya untuk diri sendiri. Kalau kita meyakini kebenaran tidak untuk diri sendiri, apa yang kita tahu, apa yang kita yakini tentang kebenaran itu harus kita sampaikan kepada orang lain, supaya orang lain juga mengetahui Al Haq.

Karena manusia adalah makhluk sosial dan dia tidak bisa hidup sendiri maka dia harus mempunyai kemauan untuk saling berwasiat tentang Al Haq. Kita harus menyampaikan ini kepada pihak lain, kita juga harus terbuka untuk menerima Al Haq dari pihak lain. Kalau kita bisa begitu maka kehidupan kita in syaa Allah akan menjadi baik dan benar.

Ini bisa dilakukan baik secara individu, maupun secara kolektif ataupun dalam bentuk kenegaraan. Kalau dalam kehidupan alam demokrasi, orang sharing tentang Al Haq. Lembaga-lembaga Negara juga harus terbuka untuk menerima pemikiran- pemikiran, kritik-kritik dari masyarakat. Ini adalah salah satu bentuk dari saling berwasiat Al Haq.

Kalau kita sudah melakukan tiga hal diatas maka kita sudah terbebas dari tiga perempat kerugian total.


4. Orang-orang yang selalu berwasiat tentang kesabaran

Ini juga sama dengan yang ketiga karena kita makhluk sosial, kita juga harus berwasiat, memberi kepada orang lain dan menerima dari orang lain tentang Kesabaran.

Oleh Para Ulama sabar dibagi dua :

– Sabar Jasmani

Kesabaran kita dalam melaksanakan ajaran-ajaran agama, misalnya :
Orang naik haji ketika jutaan orang kumpul di Mekkah, segala sesuatu harus antri tidak bisa langsung. Mau ke toilet, mau ke kamar mandi kita mesti antri, kita sabar.
Demikian juga ketika Thawaf, sifatnya fisikal, berdesak-desakan , kita juga harus sabar.

Termasuk sabar jasmani, sabar ketika agama kita ditindas oleh orang lain. Kita harus sabar karena mungkin kita menerima siksaan atau cemoohan dari pihak lain.

– Sabar Rohani

Menahan kehendak nafsu supaya kita tidak terjerumus kedalam keburukan atau ke dalam sesuatu yang lebih buruk. Sabar Rohani ini paling berat.

Misalnya ada orang kaya, dia bisa beli apa saja, bisa makan apa saja tiap hari yang enak-enak. Kalau dia turuti keinginannya itu mungkin malah dampaknya tidak baik bagi yang bersangkutan. Kalau dia Sabar Rohani maka dia harus mengendalikan apa yang dia konsumsi supaya betul-betul membawa kebaikan bagi dirinya.

Orang bekerja ditempat yang basah, pendapatannya banyak sekali. Dia sudah punya isteri dan keluarganya juga baik-baik saja. Kalau dia tidak Sabar Rohani bisa jadi dengan uang yang banyak dia ingin poligami. Dengan begitu maka keluarganya malah bisa jadi rusak karena dia tidak Sabar Rohani.

Sekarang banyak kita lihat di masyarakat ini, orang yang tidak sabar Rohani sehingga dia mengalami kehancuran di dalam keluarganya.

Sabar jasmani lebih ringan walaupun dirasakan berat oleh yang bersangkutan.
Sabar Rohani lebih sulit, baik secara pribadi maupun secara kolektif sabar Rohani lebih sulit.

Kalau orang sudah melakukan empat hal ini maka dia sudah tidak mengalami kerugian total.
Oleh karena itu marilah petunjuk Surat Al Asr kita usahakan untuk kita laksanakan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here