Dr.H. Ahmad Hasan Asy’ari MA

18 Dzulhijjah 1441/ 8 Agustus 2020


Kali ini kita akan mengkaji tentang Hadits Dhaif dan Hadits Maudhu. Hadits Dhaif adalah hadits yang lemah, dan Hadits Maudhu adalah hadits palsu. Istilah hadits lemah sebagai lawan dari hadits yang kuat atau yang sehat. Jadi hadits kalau tidak sehat berarti hadits yang sakit, maka disebut juga Hadits saqim. Kata saqim (Arab: سقيم) yang artinya: sakit. Hadits sendiri adalah berita.

Kenapa ada berita yang sehat dan ada berita yang sakit? Tentu hal ini karena diuji secara keilmuan. Bila dianggap katakan minimal 90% bersumber dari Nabi itulah yang disebut sebagai hadits yang shahih. Sementara yang tidak memenuhi kriteria itu dianggap sebagai Hadits lemah. Kalau itu disandarkan kepada Rasulullah, maka dikenal sebagai Hadits Dhaif.

Kalau sudah disebut sebagai hadits palsu nyaris tidak ada data sejarah yang mendukung bahwa itu bersumber dari Rasul ataupun kalau ada, diduga kuat ada penyampai yang dikenal sebagai pembohong. Ini bukan sembarang bohong, tapi dikenal suka berbohong mengatas-namakan Nabi, sehingga riwayat-riwayat yang disampaikannya dinilai ulama Maudhu atau palsu.

Sehingga harus jelas apakah hadits itu Dhaif atau Maudhu. Hadits Dhaif tidak memenuhi kriteria Hadits shahih ataupun Hadits Hasan. Sementara Hadits Maudhu kriterianya tidak terdapat pada Kitab Hadits manapun. Atau kalaupun ada dalam Kitab Hadits atau Kitab lainnya, Rawi yang ada di dalamnya dinilai pendusta oleh ahli sejarah maupun oleh Ahli Hadits.

Kalau kita menyimak hadits yang komplit memang ada unsur Riwayatnya. Ada unsur Sanad dan unsur Matan. Sanad itu rangkaian Rawi dari Nabi sampai ke Pembukunya. Karena hadits itu baru terbukukan dengan baik di era abad kedua Hijriah. Jadi ada jarak antara Nabi dengan masa pembukuan Hadits.

Sebagai bentuk tanggung jawab ulama yang membukukan tidak serta merta membukukan tetapi sampai pada level menjelaskan sumbernya dari mana. Para Ahli Hadits pekerjaannya adalah meneliti siapa yang meriwayatkan. Hadits itu dari siapa itu diteliti sehingga ada yang memenuhi syarat hadits shahih dan ada yang tidak memenuhi yang disebut dengan Dhaif, bahkan sampai pada level Palsu.


Hadits Palsu ada beberapa kemungkinan :

1. Tidak ada sumber ulama manapun yang menyampaikan hal tersebut.

Contohnya kalau sekarang muncul dengan kata-kata Nabi Bersabda, Jadi tidak mungkin ada hadits seperti itu, apalagi berbahasa Indonesia.

Misalkan berbahasa Arab :
“Qola Rasulullah alimul fi awladakum bil web wa internet”.
Misalkan disebarkan ke berbagai pihak ini jelas mengarang , karena dizaman Rasulullah tidak ada web dan internet. Maka tidak ada sumber ulama yang manapun yang menyampaikan hal itu.
Jadi mempelajari hadits palsu itu sebenarnya kita mempelajari berita hoax.


2. Tidak ada Sumber Kitab Hadits yang menyampaikan hal itu.

Ada kitab lain yang menyebutkan tetapi dalam kitab Hadits tidak menyampaikan hal itu sama sekali.

Kalau kita ingin menguji sebuah kata berbahasa Arab, apakah ayat Al Qur’an atau bukan, mengujinya dengan mengecek dari Surat Al Fatihah sampai Surat An Nas, bila kita dapati kalimat itu maka berarti kalimat itu dari Al Qur’an. Tetapi kalau tidak kita temukan dalam mushaf Al Qur’an, jangan katakan itu ayat Al Qur’an. Bisa saja itu Koran berbahasa Arab.

Demikian pula, menguji apakah itu hadits atau tidak, cara mengujinya apakah kalimat itu ada di dalam kitab-kitab Hadits atau tidak? Sementara kitab Hadits yang kita pelajari itu banyak. Beda dengan mushaf Al Qur’an hanya satu.

Kita dapat menjumpai kitab Hadits kumpulan Imam Bukhori, Imam Muslim, Imam Turmudzi, Imam Nasa’i dan seterusnya. Masing-masing itu menghimpun hadits yang jumlahnya tidak sedikit. Imam Bukhori 700-800 an hadits, Imam Muslim 5000 an, Imam Turmudzi juga sekitar itu. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal 27.000 hadits, dan sebagainya. Sehingga kalau dihimpun ada jutaan hadits. Sementara kalau mushaf Al Qur’an selesai di 6236 ayat.

Jadi pekerjaan kita memang harus mengenal apakah itu ada dalam kitab Hadits atau bukan. Itu adalah persoalan tersendiri kalau ingin menetapkan jenis hadits Maudhu atau shahih.


3. Ada beberapa /satu kitab Hadits yang menyampaikan hal itu namun di nilai ulama Palsu.

Jadi sudah dikomentari oleh ulama bahwa itu Hadits palsu, walaupun ada di dalam kitab hadits. Karena boleh jadi ada rawi yang dinilai oleh ulama, pembohong.


4. Ada beberapa /satu kitab Hadits yang menyampaikan hal itu namun ada rawi didalamnya dinilai pembohong.

Dalam ilmu hadits tidak semata-mata mempertimbangkan beritanya bagus, tetapi juga apakah bisa diuji sumber atau Pembawa beritanya ada maksud kebohongan atau tidak. Begitu ketemu penyampai yang pembohong maka berita yang disampaikan walau dinilai benar, tetap dinilai bohong. Hal ini harus dimaklumi sebagai sifat kehati-hatian.


Beramal dengan hadits Dhaif atau Palsu

Di kalangan Muhammadiyah prinsip di dalam mengambil hukum, hadits Dhaif tidak dapat digunakan sebagai pijakan. Maka kalau menemukan amalan didasarkan pada hadits yang dinilai lemah, tidak akan digunakan. Dianggap tidak ada. Inilah yang kemudian kalau di tengah masyarakat agak ekstrim dalam pengertian lainnya mengamalkan, di Muhammadiyah tidak. Karena ternyata setelah diteliti haditsnya dhaif. Belum sampai palsu, masih dhaif tetap ditolak.

Ulama-ulama mutaqaddimun (ulama yang lalu) juga berprinsip hampir sama. Hanya biasanya dilokalisir.
Untuk masalah Aqidah dan Ibadah hanya mendasarkan pada hadits shoheh dan hasan. Hadits Dhaif tidak bisa untuk urusan ibadah, apalagi urusan aqidah.

Untuk Fadhoil Akmal, hadits-hadits dhaif masih bisa digunakan untuk motivasi melakukan kebaikan. Dengan syarat tidak terlalu berat kedhaifannya. Lebih-lebih kalau masih punya payung hukum lebih kuat, yaitu dari bimbingan Al Qur’an yang lebih umum misalnya.

Ada ulama yang lebih memilih menggunakan hadits dhaif daripada mengutip pendapat orang.
Contohnya Abu Dawud, berprinsip :
“Aku lebih suka mengambil hadits Dhaif dari pada mengambil pendapat orang”.

Jadi ulama memiliki sikap yang berbeda -beda terhadap hadits dhaif. Masih ada syarat-syarat tertentu yang dapat diakomodir.
Tetapi untuk hadits Maudhu atau palsu, nyaris semua ulama tidak ada yang toleran. Semuanya sepakat untuk meninggalkan.

Menilai kedhaifan dan kemaudhuan sebuah hadits dalam ilmu hadits , bobotnya pada Redaksi bukan dari Substansi.

Contoh hadits yang masyhur,

اَلنَّظَافَةُ مِنَ الْإِيْمَانِ

“Kebersihan sebagian dari iman.”

Kalau dilacak, tidak kita jumpai di kitab hadits. Kecuali mungkin malah ada di buku Pelajaran. Maka ulama mengatakan ini hadits Palsu. Tetapi substansi bersih bagian dari pada iman, kalau disandarkan pada Nabi SAW sangat mungkin, karena ada redaksi hadits yang mengandung makna tersebut :

Rasulullah SAW bersabda,

الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ

“Bersuci itu separoh keimanan.”

Hadits itu dihimpun oleh Ibnu Madjah dalam kitab Sunannya.

Maka kesimpulannya jangan terburu menghakimi, sebelum jelas yang dihakimi itu redaksi haditsnya atau isinya? Sementara yang sering kita jadikan dialog , apalagi bagi orang Indonesia pasti lebih ke Substansi, bukan pada Redaksinya karena nyaris tidak tahu redaksinya.


Beberapa contoh hadits yang beredar dan dinilai lemah

Contoh ke 1:

مَنْ لَمْ تَنْهَهُ صَلاَتُهُ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ فَلاَ صَلاَةَ لَهُ

Nabi SAW bersabda :
“Siapa yang Shalatnya tidak mencegahnya dari perbuatan keji dan mungkar maka tidak ada Shalat baginya”.

Ini substansinya bagus, Ayat Al Qur’annya juga begitu :

Allah SWT berfirman:

  ۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ ۗ 

“Sesungguhnya sholat itu mencegah dari perbuatan keji dan mungkar..”
(QS. Al-‘Ankabut 45)

Al Qur’an mengklaim bahwa shalat mampu menghalangi kamu berbuat keji dan mungkar. Tapi hadits di atas dianggap lemah, walaupun substansinya menguatkan ayat Al Qur’an. Karena kalau hadits itu dicari tidak ditemukan bahwa kalimat itu bersumber dari Rasul.

Imam Adz-Dzahabi mengutip dari Ibnul Junaid mengatakan “Itu bohong, itu palsu”.
Ini pendapat ulama dahulu, padahal isi dalam bahasa Arab, substansinya sesuai dengan ayat Al Qur’an, tetapi ketika dikatakan Nabi pernah mengatakan demikian maka dikatakan palsu.
Al Iraaqi menyebut tidak sampai pada kebohongan, tapi mengatakan hadits itu rangkaian sanadnya lemah.

Contoh ke 2 :

الْحَدِيْثُ فِي الْمَسْجِدِ يَأْكُلُ الْحَسَنَاتِ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ.

“Berbicara di masjid dapat memakan kebaikan sebagaimana api memakan kayu bakar.”

Kalau menghentikan orang ngobrol di masjid konteksnya sedang apa ? Padahal Nabi juga ngobrol di masjid ketika bersama-sama sahabatnya. Hadits ini mungkin konteksnya berhubungan dengan saat khutbah sedang disampaikan. Untuk hal itu ada hadits shohih yang sering diucapkan Para Bilal jum’at :

إِذَا قُلْتَ لِصَاحِبِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ أَنْصِتْ وَالْإِمَامُ يَخْطُبُ فَقَدْ لَغَوْتَ

“Jika kamu berkata kepada temanmu pada hari Jum’at ‘diamlah’, padahal Imam sedang memberikan khutbah maka sungguh kamu sudah berbuat sia-sia.”

Komentar para ulama terhadap hadits yang di atasnya
Al Haafizh Al ‘Iraqiy berkata, “Saya tidak menemukan asalnya.”
Abdul Wahhab bin Taqiyyuddin As Subkiy berkata, “Saya belum menemukan isnadnya.”

Ini tadi contohnya bagus semua, tapi hadits tadi palsu.

Contoh ke 3 :

اِعْمَلْ لِدُنْيَاكَ كَأَنَّكَ تَعِيْشُ أَبَداً ، وَاعْمَلْ لِآخِرَتِكَ كَأَنَّكَ تَمُوْتُ غَداً

“Beramallah untuk duniamu seakan- akan kamu akan hidup selama- lamanya dan beramallah untuk akhiratmu seakan-akan kamu akan mati besok.”

Hadits ini populer, tetapi kalau disandarkan bahwa ini dari Nabi, jadi masalah karena tidak ada sumber kitab hadits yang mengutip ini.
Ulama hadits yang belakangan misalnya Al Albani berkata, “Tidak sah marfu’nya”; yakni tidak sah berasal dari Nabi SAW”.

Jadi boleh jadi kalimat itu adalah ungkapan dari ulama.

Contoh ke 4 :

صِنْفَانِ مِنْ أُمَّتِيْ إِذَا صَلُحَا، صَلُحَ النَّاسُ: اْلأُمَرَاءُ وَالْعُلَمَاءُ

“Dua golongan ummatku yang jika keduanya baik, maka masyarakat akan menjadi baik; para penguasa dan para ulama.”

Imam Ahmad bin Hambal komentar terhadap kalimat ini yang ada dalam kitab Hadits :
“Pada salah satu rawinya ada seorang pendusta yang memalsukan hadits,”
Maka kalimat-kalimat yang berasal dari orang itu dinilai palsu.

Contoh ke 5 :

مَنْ حَجَّ، فَزَارَ قَبْرِيْ بَعْدَ مَوْتِيْ، كَانَ كَمَنْ زَارَنِيْ فِي حَيَاتِيْ

“Barang siapa yang berhaji, lalu ia menziarahi kuburanku setelah aku wafat, maka sama seperti berkunjung kepadaku di masa hidupku.”

Hadits ini biasa dijadikan dasar oleh Para Da’i kalau sudah haji tapi tidak ziarah ke makam Nabi, jadi tidak lengkap.

Ibnu Taimiyah berkata, hadits itu Dha’if tetapi Al Abani menyebut hadits itu Palsu (Maudhu‘).
Jadi penilaian para ulama bisa berbeda. Biasanya komentarnya terkait dengan rawi yang dinilai kualifikasinya dinilai lemah. Tetapi ulama lain memandang tidak hanya lemah, tapi lemah sekali, sehingga dianggap beritanya bohong. Maka bukan hadits dhaif tapi Palsu.

Contoh ke 6 :

اِخْتِلاَفُ أُمَّتِيْ رَحْمَةٌ

”Perselisihan ummatku adalah rahmat.”

Kalimat ini juga populer. Tetapi kalimat ini kalau dilacak di dalam kitab-kitab Hadits tidak ada. Maka oleh para ulama dianggap Maudhu’ (palsu).


Contoh ke 7 :

مَنْ عَرَفَ نَفْسَهُ فَقَدْ عَرَفَ رَبَّهُ

“Barang siapa yang mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”

Ini juga populer, terutama dikalangan mereka yang belajar tentang Sufi. Secara substansi tidak ada masalah. Tetapi ketika ini disandarkan bahwa ini adalah kalimat Nabi menjadi masalah.
Maka ini disebut Hadits Maudhu’ – (palsu).

Contoh ke 8 :

اَلنَّاسُ كُلُّهُمْ مَوْتَى. إِلاَّ الْعَالِمُوْنَ، وَالْعَالِمُوْنَ كُلُّهُمْ هَلْكَى إِلَّا الْعَامِلُوْنَ وَالْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ غَرْقَى إِلَّا الْمُخْلِصُوْنَ. وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلَى خَطَرٍ عَظِيْمٍ

“Manusia semuanya mati, selain orang-orang yang berilmu. Orang-orang yang berilmu semuanya binasa, selain orang-orang yang beramal. Orang-orang yang beramal semuanya tenggelam, selain orang-orang yang ikhlas, sedangkan orang-orang yang ikhlas berada dalam bahaya besar.”

Ini juga sering kita simak , tapi kalau dikaitkan dengan Nabi SAW maka tidak ada sumber yang bisa dipertanggung jawabkan bahwa itu bersumber dari Nabi SAW.


Hadits Yang Terkait Shalawat

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ أَلْفَ مَرَّةٍ لَمْ يَمُتْ حَتَّى يُبَشَّرَ لَهُ بِالجَنَّةِ.


Nabi SAW bersabda, “Siapa yang membaca shalawat atasku seribu kali, maka ia tidak akan meninggal dunia sampai diberikan kabar gembira tentang surga untuknya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Asy- Syaikh al- Ashbihani , cukup terkenal bagi yang suka bershalawat. Tetapi hadits ini kalau dilacak di dalam kitab-kitab Hadits, tidak akan dijumpai. Tetapi justru kita jumpai di dalam kumpulan hadits-hadits dhaif yang sudah dinilai oleh ulama masa awal contohnya As Sakhawi muridnya Ibnu Hajar al-ashkholani, dia juga sangat dikenal sebagai ahli Hadits. Menilai hadits ini mungkar. Hadits ini juga ada dalam kitab Hadits yang diriwayatkan oleh Ibn Sam’un namanya kitab Amali tapi juga dinilai dhaif, lemah sekali.

Tetapi ini tidak memutus orang bersholawat karena ada ayat Al Qur’annya , Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ وَمَلٰٓئِكَتَهٗ يُصَلُّوْنَ عَلَى النَّبِيِّ ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمً

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 56)

Jadi jangan disimpulkan tak usah bersholawat. Kesimpulan jadi keliru. Yang disangsikan adalah berita tentang sholawat seperti diatas bersumber dari Nabi. Bahkan dipastikan tidak dari Nabi.

Ada lagi hadits shalawat lain dari Anas bin Malik , yang artinya :
“Yang paling dekat denganku kelak di Yaumil Kiamat diantara kalian adalah orang yang paling banyak bersholawat kepadaku. Siapa yang bersholawat kepadaku pada hari jum’at maupun malamnya 100 kali, maka Allah akan penuhi 100 hajat-hajatnya. 70 hajat akhirat dan 30 hajat dunianya”.

Hadits ini banyak didapati dalam Kitab-kitab Motivasi At-Targhib wa Tarhib. Tetapi para ulama juga menyebut Hadits ini dhaif.

Hadits berikutnya :
“Siapa yang bersholawat kepadaku 100 sholat ketika melaksanakan sholat Subuh sebelum ngobrol dengan yang lain maka Allah penuhi 100 hajatnya”.
Dan itu dilakukan di sholat maghrib dan lainnya.

Imam As Sakhawi mengomentari hadits ini : “Hadits ini diriwayatkan oleh Ahmad Bin Musa dengan Sanad yang dhaif”.

Hadits yang lain
“Siapa yang bersholawat kepadaku ketika Pagi hari 10, Sore hari 10 maka dia akan mendapati syafa’atku kelak di yaumil kiamah”.

Hadits ini disandarkan kepada sahabat Abu Dardak dikutip oleh Imam Thabrani. Tapi ternyata dalam kitabnya Imam Thabrani sendiri tidak ditemukan hadits dengan kalimat ini. Ibnul Qayyim mengatakan bahwa hadits yang disandarkan kepada Imam Thabrani ini didhaifkan oleh Al Iraaki dan As Sakhawi.


Hadits sholawat yang Shahih

مَن صلَّى عليَّ صلاةً واحدةً صلَّى اللَّهُ عليهِ عشرَ صلَواتٍ ، وحُطَّت عنهُ عشرُ خطيئاتٍ ، ورُفِعَت لَهُ عشرُ درجاتٍ

“Siapa yang bersholawat kepadaku 1 kali saja maka Allah bersholawat kepadanya 10 sholawat. Dan dilewatkan 10 keburukan dan diangkat 10 derajat”.

Hadits ini Shahih, kutipannya ada pada Sunan An Nasa’i bahkan Al Albani menyebut Shahih.

Kemudian dalam hadits yang lain :

مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَيَّ إِلاَّ رَدَّ اللهُ عَلَيَّ رُوْحِي حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ

“Siapapun yang bersalam kepadaku tiada lain Allah mengembalikan ruhku sehingga aku memberi balasan Salam kepadanya”.

Hadits ini dishahihkan oleh Imam An Nawawi dan didapati dalam kitab Musnad Ahmad dan beberapa Kitab Hadits yang lain.

Itu contoh-contoh hadits. Dan kalau mau membaca hadits yang dhaif, palsu banyak sekali mulai dari yang tak ada sumbernya sampai ke yang ada sumbernya tapi rawinya bermasalah. Kalau kita mau mengaji hadits disekitar kita baik yang dhaif maupun yang palsu sangat banyak dan sebelum memberikan sertifikasi apakah itu dhaif atau palsu harus diteliti dulu.

Bagi yang tidak mendalami penelitian hadits masih bisa melakukannya karena sudah banyak ulama-ulama yang telah memberikan catatan kepada hadits tadi. Apalagi sekarang dengan adanya wahana internet kita dimudahkan melakukan pelacakannya dengan mengetikkan bahasa aslinya. Namun harus mengenali sumbernya apakah dia memang ahli di bidang hadits atau bukan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK





LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here