H. M. Arief Rachman Lc MA

11 Dzulhijjah 1441/ 1 Agustus 2020



Sebagaimana kita ketahui karena Pandemi, awalnya seluruh jamaah haji bahkan semua umat islam menunggu apakah ibadah haji tahun ini 1441 H akan terselenggara? Karena pada awalnya Arab Saudi menyatakan bahwa kemungkinan besar ibadah haji tidak akan dilaksanakan. Singapore pertama kali menyatakan mereka tidak akan mengirim jamaah haji. Kemudian disusul Malaysia dan beberapa negara sampai kemudian kita , Pemerintah juga menyatakan tidak akan mengirim jamaah Haji ke Arab Saudi.

Meskipun persiapan untuk ibadah Haji baik di bandara, di Mina, di Arafah sudah dilaksanakan sejak jauh hari. Tapi Arab Saudi belum menyatakan apakah ibadah Haji akan terselenggara. Sampai akhirnya kita ketahui bahwa Arab Saudi tetap menyelenggarakan Haji hanya bagi mereka yang sudah berada di Arab Saudi dengan persentase 30:70. 30 warga Saudi dan 70 warga asing.

Alhamdulillah telah terselenggara dengan baik. Kita mengikuti dari waktu ke waktu, dari hari ke hari jamaah yang Allah berikan kesempatan pada tahun ini untuk datang ke tanah suci. Kemarin tanggal 8 Dzulhijjah mereka ke Mina untuk melaksanakan Tarwiyah, kemudian tanggal 9 Dzulhijjah, dua hari yang lalu mereka Wukuf kemudian mereka menuju ke Muzdalifah. Kemudian mabit sampai subuh di Muzdalifah. Semua jama’ah haji terkonsentrasi di tempat dimana Rasulullah berhaji pada waktu itu, tidak sampai ke Masy’aril Haram.

Kemudian mereka bergerak menuju ke Mina untuk melakukan Jumrah Aqobah, kemudian dilanjutkan ke Masjid Haram untuk melaksanakan Thawaf Ifadhoh kemudian Tahalul.
Ini adalah rangkaian ibadah yang sudah terlaksana sampai dengan hari ini tanggal 11. Mereka sedang mabit di Mina. Nanti mereka akan melaksanakan Jumrah pada Hari Tasyrik , melempar ketiga Jumrah.

Disini ada beberapa hal yang Allah sampaikan di dalam Al Qur’an.


1. MengEsakan Allah SWT

Allah SWT menyampaikan kepada kita tentang tujuan memerintahkan kita untuk melaksanakan ibadah ini.

Allah SWT berfirman:

وَاِ ذْ بَوَّأْنَا لِاِ بْرٰهِيْمَ مَكَا نَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِيْ شَيْئًـا وَّطَهِّرْ بَيْتِيَ لِلطَّآئِفِيْنَ وَا لْقَآئِمِيْنَ وَ الرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

“Dan ingatlah , ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah dengan mengatakan , Janganlah engkau menyekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.” (QS. Al-Hajj 26)

Dalam ayat ini Allah SWT menyampaikan kepada kita ketika Allah perintahkan Nabi Ibrahim untuk hijrah ke Mekkah dengan membawa keluarganya kemudian ketika puteranya sudah besar diajak bersama-sama untuk membangun Baitullah. Allah SWT menyampaikan tujuannya tidak lain adalah agar tidak menyekutukan Allah dengan apapun.

Ini adalah salah satu hikmah terbesar dari pelaksanaan ibadah Haji. Mereka yang sudah ihram kemudian mengucapkan :

“Labbaik Allāhumma labbaik. Labbaik lā syarīka laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk lā syarīka lak”

(Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan- Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu).

Seandainya kita memahami penyambutan kita, maka kita akan mengetahui dengan jelas bahwasanya salah satu hal yang Allah perintahkan dalam pelaksanaan ibadah ini agar tujuan hidup kita benar, dan tidak menyekutukan Allah dengan yang lain.

Ibadah ini merupakan puncak dari rangkaian perintah Allah SWT kepada umat islam. Bahwasanya dengan melaksanakan ibadah ini seharusnya tauhidnya semakin baik , keimanan kepada Allah SWT semakin kuat.

Ketika beribadah, apapun rangkaian ibadah itu dari Thawaf, Sa’i, Tahalul, Mabbit di Mina, Muzdalifah, bahkan ketika Wukuf di Arofah muaranya adalah Tauhid mengEsakan Allah SWT.
Ketika wukuf di Arofah, yang paling banyak dibaca oleh Rasulullah SAW adalah kalimat :

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرُ،

“Tiada Rabb yang berhak disembah selain Allah Yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagiNya. BagiNya puji dan bagi-Nya kerajaan. Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu”.

Ibadah Haji mengingatkan tentang hal itu. Sehingga ketika Thawaf bukan karena Ka’bahnya, tetapi kita berputar pada poros, pada Allah SWT. Demikian juga ketika kita melempar jumrah.

Allah memerintahkan untuk membersihkan Baitullah dari berbagai macam bentuk kemusyrikan bagi orang yang Thawaf. Para ulama mengatakan bahwa diantara ibadah ketika berada di Baitullah, yang paling utama adalah Thawaf. Ibadah ini merupakan ibadah yang tidak akan ditemukan di tempat yang lain. Sehingga memperbanyak Thawaf dianjurkan daripada ibadah yang lain. Ibadah apapun disana jangan sampai rusak dengan niat yang lain.

Pesan dari ibadah haji adalah tentang mengEsakan Allah, tentang orientasi hidup manusia bagaimana semua dipasrahkan untuk Allah SWT. Kaitannya dengan ayat yang lain sama, bahkan ketika sudah pulang harusnya tauhidnya semakin kuat.

2. Ibadah Haji adalah Panggilan Allah

Allah SWT berfirman:

وَاَ ذِّنْ فِى النَّا سِ بِا لْحَجِّ يَأْتُوْكَ رِجَا لًا وَّعَلٰى كُلِّ ضَا مِرٍ يَّأْتِيْنَ مِنْ كُلِّ فَجٍّ عَمِيْقٍ ۙ 

“Dan serulah manusia untuk mengerjakan haji, niscaya mereka akan datang kepadamu dengan berjalan kaki, atau mengendarai setiap unta yang kurus, mereka datang dari segenap penjuru yang jauh,” (QS. Al-Hajj 27)

Dalam Tafsir Ibnu Katsir disana ada sebuah kisah, ketika Allah SWT memerintahkan Ibrahim untuk memanggil manusia.

Nabi Ibrahim berkata :
“Ya Allah, aku dapat memanggil manusia tetapi suaraku tidak akan sampai kepada mereka. Bagaimana suaraku yang lemah bisa sampai ke seluruh manusia?”.
Maka Allah berkata kepadanya : ‘Umumkanlah! Dan kami akan menyampaikannya.’

Kemudian Nabi Ibrahim berdiri di tempat berdirinya. Disebutkan bahwa beliau berdiri di bukit Shafa, ada juga yang menyebutkan beliau berdiri di Jabal Qubais. Ada yang mengatakan di Arofah.

Jadi yang memanggil adalah Ibrahim, tetapi yang menyampaikan pesan ini adalah Allah SWT. Maka kemudian dalam agama islam ibadah Haji ini menjadi sebuah kewajiban meskipun ada ketentuan bagi mereka yang mampu untuk melaksanakan (istito’ah). Istito’ah ini dilaksanakan lebih awal. Tidak boleh ada pelunasan kecuali mempunyai surat istito’ah dari Rumah Sakit atau Puskesmas. Kalau dulu beda, semua bisa melunasi, pemeriksaan saat mau berangkat.

Panggilan Nabi Ibrahim dampaknya luar biasa, manusia mendatangi seruan ada yang berjalan kaki. Namun sekarang jarang jamaah haji Indonesia yang berjalan kaki, hampir semua naik bis. Meski demikian jamaah yang berjalan kaki masih banyak, karena jarak tempuh dengan jalan kaki lebih dekat. Saya dua kali jalan kaki naik haji. Bila naik kendaraan jaraknya dua kali lipat.

“Mereka datang mengendarai unta kurus”, maksudnya Ibadah ini meskipun berat, menguras potensi yang ada pada setiap muslim baik harta, jiwanya namun tetap dijalani oleh kaum muslim. Meskipun harus menabung bertahun-tahun dan antri kalau di Jateng sampai 24 tahun. Ini karena Perintah dari Allah tadi.

Kita dapat menyaksikan bahwa tidak semua yang terpanggil itu mampu dari sisi materi. Tidak sedikit mereka yang dari kelompok tidak mampu, ada pemulung, ada tukang becak, penjual gorengan dan sebagainya. Tetapi terbukti kemudian Allah memudahkan! Allah memberi rezeki dari arah yang tidak disangka- sangka.

Perintah atau anjuran tidak akan berdampak jika anjuran itu tidak dijadikan sebuah aturan yang ada sangsi dan ada imbalan pahala yang besar.

Contoh kondisi di masa Pandemi sekarang ketika ada anjuran memakai masker, tapi tidak ada aturannya yang jelas, maka tidak banyak yang mau menjalani atas dasar kesadaran. Namun ketika kemudian ada aturan sangsi bila tidak memakai masker, barulah timbul dampak yang nyata. Maka anjuran kebaikan juga ada aturannya.

Demikian juga panggilan Nabi Ibrahim kemudian dibuatkan aturan oleh Allah SWT bahwa ibadah Haji adalah sebuah kewajiban, sebagai Rukun Islam, bagi yang mampu.

Dalam sebuah hadits disampaikan :

 بُنِىَ الاِسْلاَمُ عَلَى خَمْسٍ شَهَادَةِ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اﷲُ٬ وَاَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اﷲِ٬ وَاِقَامِ الصَّلاَةِ وَاِيْتَاءِ الزَّكاَةِ ٬ وصَوْمِ رَمَضَانَ ٬ وَحِجِّ الْبَيْتِ لِمَنْ اِسْتَطَاعَ اِلَيْهِ سَبِيْلاً

“Islam dibangun atas lima perkara; bersaksi bahwa tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah, mendirikan salat, menunaikan zakat, puasa di bulan Ramadan dan melakukan haji ke Baitullah bagi orang yang mampu melakukan perjalanan ke sana.” (HR Bukhori Muslim)

Ibadah haji karena panggilan Nabi Ibrahim yang kemudian jadi Perintah Allah, umat islam berusaha sekuat tenaga memenuhi panggilanNya. Dan semua yang diundang akan datang. Bagaimanapun caranya akan Allah sampaikan. Apalagi saat ini yang dipanggil, diberikan kemuliaan haji pada tahun ini. Bukan berarti ketika sepi itu nyaman atau ketika 3 juta orang tidak nyaman. Semua kembali kepada hati, kembali kepada kesempatan yang Allah berikan kepada kaum muslimin.

3. Mengingatkan Tujuan diciptakannya manusia di muka bumi

Allah SWT berfirman:

فَاِ ذَا قَضَيْتُمْ مَّنَا سِكَـکُمْ فَا ذْکُرُوا اللّٰهَ كَذِكْرِكُمْ اٰبَآءَکُمْ اَوْ اَشَدَّ ذِکْرًا ۗ فَمِنَ النَّا سِ مَنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا وَمَا لَهٗ فِى الْاٰ خِرَةِ مِنْ خَلَا قٍ

“Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut nenek moyang kamu, bahkan berzikirlah lebih dari itu. Maka di antara manusia ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia, dan di akhirat dia tidak memperoleh bagian apa pun.” (QS. Al-Baqarah 200)

Kebiasaan orang-orang dulu sebelum syariat Haji diwajibkan, pada waktu itu mereka suka membanggakan nenek moyangnya yang sudah melaksanakan ibadah Haji sekian kali.

Allah SWT meluruskan hal itu agar mereka tetap ingat Allah :
“fa izaa qodhoitum manasikakum fazkurulloha kazikrikum”.
(Apabila kamu telah menyelesaikan ibadah haji, maka berzikirlah kepada Allah). Tidak cukup hanya membanggakan diri telah berhaji.

Pengalaman saya tahun 2000 ketika saya menjadi Petugas Haji di bandara King Abdul Azis Jeddah, kenyataan bahwa mengatur jamaah Haji ketika datang jauh lebih mudah daripada mengatur mereka pada saat pulang.

Ketika mereka datang, jamaah haji sangat taat pada aturan. Tetapi setelah mereka selesai haji sulit untuk diatur. Biasanya mereka disibukkan dengan barang bawaan mereka. Padahal ayat di atas jelas menekankan perintah untuk ingat Allah pada saat mereka telah selesai haji. Bukan berarti setelah selesai ibadah haji terus selesai, bukan begitu.

Semua yang telah Haji harus tetap dalam tujuannya. Bukan berarti kemudian menyembah Allah sebelum dan sesudah haji itu ada perbedaan.
Sama seperti ketika berpuasa di bulan Ramadhan ada sebuah ungkapan Arab :
“Tuhanmu di bulan Ramadhan adalah juga Tuhanmu di bulan-bulan yang lain”.
Demikian juga Tuhanmu yang kamu sembah ketika Haji adalah juga Tuhanmu yang kamu sembah sesudah Haji. Jangan sampai engkau kemudian membedakan ibadahnya.

Allah SWT juga mengingatkan bahwa diantara orang yang beribadah haji itu niatnya macam-macam. Ada yang beribadah haji tapi niatnya dunia, karena gengsi, karena status sosial, karena dorongan keinginan yang lain. Sampai disana juga seperti itu.
Dan itu tidak dipungkiri. Seandainya kita pernah mempunyai keinginan seperti itu sebaiknya kita memohon ampun kepada Allah SWT.

Maka tujuannya dia dapatkan apa yang dia inginkan di dunia. Tetapi di akhirat tidak mendapat apa-apa. Di dunia dia mengharap gelar misalnya , dia dipanggil dengan Pak Haji atau Bu Haji. Apakah ada yang mau menyangkal hajinya ? Tentu tidak.
Bahkan ada kisah yang benar-benar terjadi di sebuah masjid ketika jum’at, sebelum dimulai shalat diumumkan bahwa khotibnya adalah bapak A. Namun yang terjadi begitu khotib naik mimbar, sebelum salam dia meralat pengumuman, bahwa namanya adalah bapak Haji A, lengkap dengan Titel.

Alhamdulillah tidak semua orang seperti itu. Dalam ayat selanjutnya Allah SWT berfirman:

وَمِنْهُمْ مَّنْ يَّقُوْلُ رَبَّنَاۤ اٰتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَّفِى الْاٰ خِرَةِ حَسَنَةً وَّ قِنَا عَذَا بَ النَّا رِ

“Dan di antara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah 201)

Ayat ini sering diajarkan sebagai do’a ketika Thawaf diantara Rukun Yamani sampai Hajar Aswad.
“robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa hasanataw wa fil-aakhiroti hasanataw wa qinaa ‘azaaban-naar”

Ayat ini mengajarkan kita tentang orientasi hidup, bahwasanya hidup manusia porosnya adalah Allah SWT, tujuannya adalah Allah meskipun tanpa melalaikan sesuatu yang harus diraih di dunia ini.

Kalau kita perhatikan doanya yang didahulukan malah dunianya. Ketika kita minta seperti itu kepada Allah maka ikhtiar kita akan diusahakan di dunia : Belajar, kemudian cari pengalaman, bekerja, beraktivitas, bersosialisasi akhirnya dapat dunia : Rezeki, kedudukan, jabatan.

Sebagai orang tua ketika anaknya ujian, orang tuanya yang kemudian berdo’a. Orang tuanya yang kemudian ibadahnya kenceng. Demikian juga ketika anaknya mencari kerja. Orang tua do’anya kenceng.

“robbanaaa aatinaa fid-dun-yaa hasanataw”. Maka Allah berikan dunia, tetapi tidak cukup itu dia juga berdo’a “wa fil-aakhiroti hasanataw” , maka kemudian kita usahakan dengan beramal sholeh dan kemudian “wa qinaa ‘azaaban-naar”, kita menjauhi segala yang dilarang Allah.
Ini ibadah haji mengingatkan kita tentang orientasi hidup.

Allah SWT berfirman:

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia .” (QS. Al-Qasas 77)

Bagian dari dunia juga harus didapatkan maka agama islam tidak akhirat oriented saja, tetapi dunia juga.
Meskipun tujuan utama dunia juga untuk akhirat. Maka ada syariat Zakat, Infaq, Sedekah dan juga Qurban yang tidak akan terlaksana jika kita tidak mengambil bagian kita di dunia.

Ini beberapa hal yang terkait dengan ibadah haji :
– Tidak menyekutukan Allah
– Mengingat Allah dalam semua kesempatan
– Mempertahankan Kemabruran Haji, bagaimana ibadah yang sudah kita lakukan disana, mungkin frekuensi berkurang tetapi tidak menurun. Tetap dilaksanakan dengan baik.

Maka ada ungkapan ketika shalat arbain atau shalat 40 waktu di Madinah, itu sebenarnya latihan. Ketika sudah pulang minimal juga harus melakukan sholat 40 rakaat dalam sehari semalam, yaitu sholat fardhu 17, sholat malam 11 dan ditambah dengan sholat dhuha 2 rakaat.
Ini dilakukan sebagai istiqomah mempertahankan kemabruran Haji, dan menjadi semangat.

Mempertahankan kemabruran haji ternyata tidak lebih mudah daripada melaksanakan haji. Ibadahnya harus dikuatkan. Dan dunianya semuanya diarahkan untuk mempertahankan agamanya ini. Untuk membela kebenaran dan tujuannya mendapatkan ridha Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here