Dr. H. Anwar Abbas MM, MAg

8 Dzulhijjah 1441/ 29 Juli 2020


Saya sudah sejak tanggal 14 Maret mengurung diri di rumah, sudah terasa benar-benar sangat melelahkan. Ternyata bagi yang di rumah itu tidak enak. Oleh karena itu saya punya kesimpulan isteri kita memang kuat karena beliau itu setiap hari di rumah saja mengurusi anak-anak, harus mengurusi rumah tangga, hanya sesekali keluar rumah diajak oleh suami atau oleh anak. Jadi sangat terasa oleh saya bagaimana besarnya pengorbanan dari seorang isteri terhadap suami dan keluarga.

Karena bagi saya dalam 5 bulan terakhir ini saya hanya bisa dihitung dengan jari keluar rumah. Sehingga cukup stress juga karena tidak terbiasa hidup seperti ini. Terkurung.
Seperti kita ketahui bersama wabah ini pertama kali diakui secara resmi ada di negeri ini tanggal 2 Maret 2020 oleh Presiden Jokowi, dimana ada dua orang perempuan yang terindikasi positif kena Covid-19 karena mereka kontak dengan orang yang berasal dari daerah yang memang sudah tertular oleh virus Covid-19.

Semula kita tidak pernah membayangkan Covid ini akan berdampak seperti ini. Sehingga banyak Para Pemimpin di negeri ini yang membuat guyon bahwa Covid ini tidak akan datang ke negeri kita. Covid ini tidak akan singgah dan mampir karena negeri kita adalah begini dan begini. Tapi ternyata tanggal 2 Maret Presiden secara resmi mengakui ada 2 orang yang positif dan hari ini setelah 4 bulan lebih berlalu ternyata yang sudah terkena dan positif sudah lebih 100 ribu. Jadi ini memang betul-betul memprihatinkan kita sehingga Covid ini sekarang sudah menimbulkan krisis di negeri kita ini yang disebut dengan krisis kesehatan.

Dalam theorinya untuk menekan jumlah orang yang terkena Covid ini supaya bisa menurun, dia harus mengurung diri di rumah. Dan hasil penelitian FKM UI menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang mau tinggal di rumah itu penderita Covid baru itu menurun. Jadi ketika jumlah orang yang mau tinggal di rumah meningkat, pasien Covidnya menurun. Dan ketika bulan Puasa, sore dan malam hari banyak orang yang keluar rumah. Dan data dan faktanya menunjukkan bahwa semakin banyak orang yang tidak mau tinggal di rumah maka semakin meningkat pasien barunya.

Dan nampaknya sekarang ini masyarakat sudah jenuh di rumah sehingga mereka mulai bergerak keluar rumah untuk bekerja dan mencari nafkah. Dan dampak dari pada Krisis Kesehatan ini adalah munculnya Krisis Ekonomi karena banyak orang yang tidak keluar rumah, karena banyak orang yang tidak melakukan aktivitas ekonomi, karena banyak orang tidak melakukan kegiatan maka akhirnya pendapatan masyarakat menurun dan permintaan masyarakat terhadap barang dan jasa juga menurun.

Karena menurunnya terhadap permintaan terhadap barang dan jasa maka itu direspon oleh Pengusaha dengan menurunkan tingkat produksinya. Bahkan tadi saya baca yang namanya UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) itu 50% tutup. Dan 80% dari usaha mikro tidak lagi punya uang karena memang aktivitas ekonominya memang sudah tidak ada. Jadi tidak ada barang yang bisa mereka jual dan tidak ada permintaan. Jadi memang rasanya sangat memprihatinkan dan pertumbuhan ekonomi kita sekarang ini juga sangat mencemaskan dan menakutkan.

Kalau kita lihat di dalam skala global kinerja ekonomi China itu minus. Biasanya ekonomi China itu tumbuh 11%, sekarang minus 6,8%. Korea Selatan masih mendingan ada plusnya 1, 3%. Singapura sudah minus 0,7%. Uni Eropa juga minus 2,6%. Amerika masih ada 0,2% dan kita masih ada di angka 2 sampai 3%. Ini di kwartal pertama. Di kwartal ke 2 saya rasa lebih dahsyat lagi penurunannya dan bisa-bisa di negeri kita ini pertumbuhan ekonominya minus juga.

Dan kalau seandainya itu terjadi, kita tidak bisa menghentikan krisis ekonomi ini maka tidak mustahil nanti dia bergeser menjadi Krisis Sosial. Kalau tadi Krisis Kesehatan bertransformasi kedalam Krisis Ekonomi. Kalau Krisis Ekonomi tidak bisa kita kendalikan dia bertransformasi kedalam Krisis Sosial. Kalau Krisis Sosial terjadi maka berarti Pencurian, Penggarongan, Perampokan, Pembunuhan, Pembakaran akan terjadi dimana- mana.

Dan kalau seandainya itu tidak bisa kita kendalikan maka dia akan bertransformasi menjadi Krisis Politik. Jadi kalau seandainya sudah terjadi Krisis Politik berarti rezim yang berkuasa akan digugat seperti halnya yang terjadi tahun 1998. Dimana mahasiswa dan masyarakat turun ke jalan menggugat dan meminta rezim yang berkuasa untuk turun. Dan peristiwa serupa tidak mustahil juga akan terjadi, kalau seandainya kita tidak bisa mengendalikan Krisis Sosial yang mungkin bisa lahir karena adanya Krisis Ekonomi dan Krisis Kesehatan.

Saya secara pribadi sangat tidak menginginkan adanya Krisis Politik di negeri ini. Karena kalau seandainya negeri ini sempat terseret dengan Krisis Politik itu maka costnya sangat tinggi. Dan untuk membenahi kehidupan ekonomi dan sosial kita tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat. Tapi harus diselesaikan dalam waktu yang panjang. Seperti Krisis tahun 1998 saja sampai tahun 2010 masih sempoyongan negeri kita dibuatnya.

Oleh karena itu kalau seandainya terjadi lagi Krisis Politik di negeri ini tahun 2020 atau tahun 2021, 2022 yang akan berarti negeri ini akan mengalami hal yang serupa. Oleh karena itu kita mengharapkan supaya yang namanya Krisis Politik ini, kalau bisa kita berdo’a kepada Tuhan Yang Maha Kuasa supaya jangan terjadi.
Untuk itu supaya tidak terjadi, kita bisa menghambat supaya Krisis Sosial jangan terjadi. Supaya Krisis Sosial jangan terjadi kita harus bisa mengendalikan Krisis Ekonomi ini. Bagaimana caranya supaya Krisis Ekonomi kita ini tidak semakin dalam. Dan supaya Krisis Ekonomi kita ini tidak semakin dalam maka kita harus bisa mengendalikan Krisis Kesehatan atau Pandemi Covid-19 ini.

Inilah yang menjadi masalah sekarang ini. Tidak ada diantara kita yang tahu kapan Covid-19 ini akan bisa berakhir.
Di dalam Tanwir Muhammadiyah yang baru lalu ketika kita dengar penjelasan dari Ketua MCCC nampaknya sampai tahun 2022 belum aman. Karena berdasarkan informasi itu akhirnya Muhammadiyah yang seharusnya sudah bermuktamar bulan Juli 2020 ditunda ke Desember dan kemudian ditunda lagi sampai Juli 2021 dan nanti dilihat lagi.

Kalau seandainya nanti tidak memungkinkan berarti kita Muktamar tahun 2022. Kalau tidak bisa juga entah bagaimana lagi caranya Muhammadiyah mengatasinya. Karena Muhammadiyah selain gerakan islam dia juga gerakan ilmu maka mungkin nanti tidak mustahil kita akan bermuktamar melalui media digital seperti sekarang ini.

Yang kita sayangkan di tengah situasi Ekonomi dan Kesehatan masyarakat seperti ini. Teman-teman kita di DPR sana juga lagi sibuk-sibuknya membahas RUU HIP. Itu RUU tentang Haluan Ideologi Pancasila. Nampaknya mereka tidak terlalu terbuka membahas masalah RUU ini. Dan begitu dishare kita tahulah bahwa RUU ini nampaknya mengandung misi-misi tertentu. Karena dalam RUU HIP ini tidak dimasukkannya TAP MPR nomer 25 tahun 1966 yang membubarkan PKI dan melarang menyebarkan paham Komunisme di Indonesia.

Jadi kalau seandainya kita bicara tentang Ideologi Pancasila lalu ada ideologi yang memang sudah pernah mengkhianati bangsa ini lalu tidak dimasukkan ke dalam RUU tersebut berarti ideologi itu tidak dianggap lagi berbahaya. Berarti ideologi itu sudah bisa ditolerir kehadirannya.

Dan kalau seandainya itu terjadi saya tidak bisa membayangkan apa yang akan dialami oleh bangsa ini. Apa lagi ketika kita lihat, Pasal-pasal yang ada di dalam RUU HIP itu sarat sekali dengan muatan Sekularistik dan Atheistik. Dan itu terlihat secara jelas dengan diperasnya Pancasila menjadi Trisila dan Trisila menjadi Ekasila.

Ketika Pancasila diperas menjadi Trisila maka satu sila dari Tri Sila itu adalah Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Kalau Ketuhanan Yang Berkebudayaan berarti agama yang ditolerir , yang diterima adalah agama bumi dan bukan agama langit.
Agama Bumi adalah agama ciptaan manusia, karena kalau konsep Ketuhanan kita tidak sesuai dengan konsep Kebudayaan kita, tidak bisa diterima. Sementara dalam ajaran islam bukan Ketuhanan yang Berkebudayaan tetapi Kebudayaan yang Berketuhanan semestinya.

Tetapi yang ada adalah konsep Ketuhanan Yang Berkebudayaan. Menurut saya ini adalah pelecehan terhadap agama samawi. Oleh karena itu kita betul-betul tidak bisa menerima, karena ini selain pelecehan adalah sekularistik. Dan lebih parah lagi ketika Trisila ini diperas menjadi Ekasila yaitu Gotong Royong. Sehingga konsep Ketuhanan sudah tidak ada lagi dalam Pancasila. Jadi bangsa ini tidak lagi peduli dan hirau dengan agama. Kalau sudah seperti ini ya sudah, negeri ini sudah menjadi negeri yang tidak berTuhan.

Dan disamping RUU HIP itu juga ada RUU Omnibus Law. RUU Omnibus Law ini adalah RUU yang mengatur masalah kehidupan ekonomi. Padahal RUU ini kita lihat yang lebih dominan adalah paham dan ideologi Liberalisme Kapitalisme. Sehingga kita lihat di dalam RUU Omnibus Law itu karena sangat Liberal, dalam kesimpulan kita kalau Pasar dianggap sebagai medan persaingan maka yang akan menang adalah Pemilik Capital. Siapa yang kuat Capital dialah yang akan menang. Dan siapa yang lemah kapitalnya maka dialah yang akan kalah.

Dan dalam RUU ini saya lihat perlindungan terhadap buruh atau karyawan sangat lemah sekali. Misalnya dihapuskannya upah saat cuti. Jadi orang kalau cuti tidak dikasi
Imbalan. Sementara kita lihat karyawan Perempuan kan dia menstruasi kemudian dia hamil, dia melahirkan atau dia pergi Umrah. Selama dia cuti tersebut tidak akan dibayar oleh pihak Perusahaan.

Kalau seandainya misalnya ada karyawan yang mengalami kecelakaan satu tahun dia tak bisa bekerja karena kecelakaan yang dialami dia dengan mudahnya di PHK.

Kesimpulannya adalah RUU ini nampaknya sangat memberi angin kepada pemilik capital dan kurang memberi perlindungan terhadap para buruh dan orang-orang yang tidak memiliki capital yang besar. Seandainya ini lolos maka menurut saya negeri ini sudah berubah ideologinya. Tidak lagi ideologi Pancasila , tapi ideologi Liberalisme Kapitalisme.

Dari dua RUU ini kita melihat di dalam RUU HIP itu lebih kental muatannya adalah ideologi Komunisme, di dalam RUU Omnibus Law yang lebih dekat adalah Liberalisme Kapitalisme. Seperti kita ketahui kedua ideologi ini tidak sejalan. Ideologi Komunisme lebih berat ke China. Ideologi Liberalisme Kapitalisme lebih dekat ke Amerika. Seperti kita ketahui bersama China dengan Amerika saat ini berperang.

Untuk kasus Indonesia, dua ideologi ini nampaknya bisa berdamai untuk meloloskan masing-masing rencananya. Yang tidak terbayang oleh saya adalah kalau seandainya misalkan RUU HIP dan RUU Omnibus Law ini lolos tanpa ada Perubahan dan Penyesuaian dengan falsafah Pancasila dan UUD 45 maka menurut saya negeri ini 10 sampai 15 tahun yang akan datang akan menjadi medan konflik dan medan Pertempuran.

Oleh karena itu saya teringat ketika Prabowo nyapres dia mengutip prediksi salah seorang ahli dimana ahli itu memperkirakan bahwa Indonesia tahun 2030 akan porak poranda. Semula saya tidak terlalu ‘ngeh’ melihat ramalan itu. Tetapi setelah melihat RUU HIP dan RUU Omnibus Law ini menurut saya prediksi itu bisa benar, bisa terjadi.

Kenapa bisa terjadi ? Karena negeri ini nanti akan terseret ke dalam perang saudara. Dimana disatu sisi adalah kelompok-kelompok yang ingin memperjuangkan ideologi Komunisme dan disisi lain adalah kelompok- kelompok yang memperjuangkan ideologi Liberalisme Kapitalisme. Sehingga akhirnya negeri ini menjadi negeri yang remuk.

Oleh karena itu Muhammadiyah sudah bersikap. NU juga demikian dan Ormas-ormas islam yang lain kita menolak RUU HIP dan juga Muhammadiyah menolak RUU Omnibus Law. Pertanyaannya adalah apakah penolakan dari Muhammadiyah ini akan didengar atau tidak oleh Pemerintah dan oleh anggota DPR. Dan ini sama-sama kita lihat dan sama-sama kita saksikan.

Kalau seandainya mereka tidak mau mendengar suara rakyat tentu apa yang mereka rencanakan akan berjalan. Tetapi kalau seandainya mereka mau mendengar suara rakyat tentu akan ada perbaikan-perbaikan bahkan kalau bisa Pemerintah dan DPR akan bisa menerima masukan dari masyarakat luas.

Bagi Muhammadiyah masalah Pancasila menjadi sesuatu yang penting karena seperti kita ketahui bersama negeri ini masih bisa utuh sampai hari ini karena kita masih konsisten untuk menjaga Pancasila dan UUD 1945

Kalau ada kelompok-kelompok yang ingin mengurah kesepakatan yang telah dibuat Para Founding Father negeri kita tahun 45, maka menurut saya negeri ini akan juga bisa terancam eksistensinya. Oleh karena itu saya sangat berterima kasih sekali dua Ormas besar di negeri ini sepakat dalam menghadapi masalah RUU HIP ini dan mudah-mudahan pernyataan sikap dari kedua Ormas besar ini diperhatikan sehingga eksistensi bangsa ini akan bisa kita pertahankan. Hingga kita tidak perlu lagi berurusan dengan apa yang sudah kita sepakati. Tetapi kita akan bisa fokus pada Darus Syahadahnya.

Muhammadiyah memandang Indonesia ini sebagai Darul Ahdi wa Syahadah. Negeri ini adalah negeri yang kita bangun atas dasar kesepakatan. Tapi negeri ini juga negeri Darus Syahadah, yaitu suatu negeri dimana kita berusaha untuk membuktikan, untuk mengartikulasikan dan mengimplementasikan apa yang kita sepakati.

Kalau kita sudah sepakat dengan Pancasila maka kita akan berusaha untuk bagaimana caranya supaya agama dihormati dan dihargai di negeri ini.

Karena kita sudah sepakat dengan Pancasila maka kita harus menghormati nilai-nilai kemanusiaan. Tetapi nilai-nilai kemanusiaan yang harus kita hormati tidak sama dengan nilai kemanusiaan yang ada di barat yang sekularis dan atheis. Nilai kemanusiaan yang kita junjung tinggi itu adalah nilai kemanusiaan yang dijiwai dan diwarnai oleh Sila Pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa.

Oleh karena itu kita tidak bisa menerima konsep dan pandangan yang mengatakan bahwa LGBT itu adalah Hak Azasi Manusia. Karena di barat mereka menyatakan LGBT itu adalah bagian daripada HAM. Kita tidak bisa menerima itu. Karena HAM kita adalah HAM konstitusi. HAM yang menghormati nilai-nilai dari ajaran agama. Dan tidak ada ajaran agama yang ada di negeri ini, yang diakui di negeri ini yang mentolerir adanya LGBT.

Ketiga silanya adalah Persatuan Indonesia. Kita ingin berusaha bagaimana caranya supaya tidak ada perpecahan diantara kita, kita tetap harus bisa mempertahankan persatuan dan kesatuan kita dengan sekuat tenaga.
Keempat adalah Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan.
Kelima adalah Keadilan Sosial Bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ini lima sila yang kita sepakati ini adalah lima sila yang kita sepakati di tanggal 18 Agustus 1945.
Memang Sukarno pada tanggal 1 Juni juga sudah menggagas Pancasila dengan urut-urutan.
1. Kebangsaan.
2. Internationalism/Peri kemanusiaan
3. Demokrasi
4. Keadilan Sosial.
5. Ketuhanan Yang Maha Esa

Inilah susunan Pancasila versi Sukarno tanggal 1 Juni. Tetapi ini tidak merupakan kesepakatan dari Para Founding Father. Ide ini cuma dilontarkan oleh Sukarno tapi tidak diterima. Pada tanggal 22 Juni dalam Piagam Jakarta itu yang diterima itu adalah Pancasila ditambah kata-kata : “Kewajiban menjalankan syariat islam bagi para pemeluknya”.
Dan ketika sidang tanggal 18 Agustus 1945 akhirnya 7 kata itu dibuang sehingga akhirnya terdapatlah rumusan Pancasila seperti yang ada pada hari ini.

Oleh karena itu bagi saya yang terfikir sekarang ini adalah kok negeri ini saya lihat sangat sibuk, sangat banyak bicara tentang Sila Pertama? Kita selalu diganggu dengan Sila Pertama ini.

Dalam pandangan saya kenapa kok Sila kelima kurang menjadi perhatian? Yaitu Keadilan Sosial Bagi seluruh rakyat Indonesia. Saya rasa ini ada tujuan-tujuan tertentu yang diskenario oleh pihak-pihak tertentu.

Sehingga saya lihat masyarakat kita dan Pemerintah kita sangat peka, sangat sensitif pada sila Pertama, tetapi masyarakat kita dan Pemerintah kita tidak sensitif terhadap Sila kelima. Padahal negeri kita saat ini menurut saya kalau tidak pandai-pandai kita mengaturnya kesenjangan sosial ekonominya sudah semakin tajam.

Seperti apa kesenjangan ekonominya?
Index Gini kita 0,39 artinya 1% penduduk menguasai 39% ekonomi yang ada di negeri ini. Sementara yang jumlahnya 99% hanya menguasai 61% nilai ekonomi negeri ini. Dan lebih parah lagi adalah di bidang Pertanahan, Index Gini Pertanahan itu adalah 0,59 artinya 1% Penduduk di negeri kita ini menguasai 59% lahan yang ada di negeri ini. Kalau di Jakarta lebih parah lagi Index Gininya 0,82. Jadi artinya 1% penduduk di Jakarta menguasai 82% lahan yang ada di Jakarta.

Itu jelas tidak adil. Yang 99% hanya menguasai 18% dari luas tanah yang ada di Jakarta, sedangkan yang 1% menguasai 82% lahan.

Ini kalau kita hubungkan dengan Firman-firman Allah berarti di negeri ini sudah terjadi pelanggaran hukum Allah :

كَيۡ لَا يَكُونَ دُولَةَۢ بَيۡنَ ٱلۡأَغۡنِيَآءِ مِنكُمۡۚ

…supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu. (QS. Al-Hasyr [59]: 7)

Jangan ada harta itu hanya berputar di satu orang. Ternyata di negeri ini harta sudah berputar ditangan satu orang.

Ditangan siapa harta itu banyak berputar? Yaitu ditangan saudara- saudara kita dari etnis China.
Yang agak anehnya itu adalah jumlah umat islam di negeri ini sekitar 90% dan yang tidak beragama islam sekitar 10% . Yang 90% punya representasi di 10 orang terkaya hanya 1 orang. Sementara yang jumlahnya 10% punya representasi di 10 orang terkaya di Indonesia 9 orang.

Di 50 orang terkaya dinegeri ini hanya 6 orang yang beragama islam. Sementara 44 orang tidak beragama islam. Dan menurut saya ini adalah salah satu cermin adanya ketidak-adilan di negeri ini. Saya mengistilahkan kalau di negeri ini telah terjadi ketidak-adilan proporsional.

Selama strukturnya seperti ini maka hubungan antara umat islam dengan Pemerintah akan selalu tegang. Oleh karena itu menurut saya jika disatu negeri ada ketegangan hubungan antara rakyat dengan Pemerintah maka manusia itu berbahaya.

Oleh karena itu kita meminta kepada Pemerintah supaya ada affirmative action. Harus ada keberpihakan kepada lapisan masyarakat yang memang tidak diuntungkan oleh kebijakan -kebijakan yang ada.

Oleh karena itu kita mengharapkan supaya Muhammadiyah terus melakukan jihad yang disebut yang sudah diprakarsai oleh Pak Din Syamsudin dengan jihad ekonominya. Dimana PP Muhammadiyah telah berhasil menJudicial Review beberapa UU. Dan ternyata Muhammadiyah berhasil.

Kesimpulan saya adalah ditengah-tengah situasi yang seperti ini yang diperlukan adalah Persatuan dan Kesatuan. Terutama di kalangan umat dan di kalangan warga bangsa. Karena menurut Ibnu Khaldun suatu negara akan bisa maju kalau cohesivitas diantara warga bangsa itu kuat. Kalau seandainya cohesivitas diantara warga bangsa itu tidak kuat maka negeri itu akan menjadi negeri lemah.

Kita tidak ingin negeri kita menjadi negeri yang lemah. Kita ingin negeri kita menjadi negeri yang kuat. Kita ingin menjadikan negeri kita menjadi negeri yang maju. Tetapi kita tidak ingin negeri kita menjadi negeri yang maju sementara kezaliman ada dimana-mana. Kita tidak ingin negeri kita menjadi negeri yang maju tetapi diskriminasi ada dimana-mana. Kita ingin negeri kita jadi negeri yang maju , berkeadilan dan beradab.

Oleh karena itu untuk bisa tercipta dan terwujudnya suatu negeri yang maju adil dan beradab maka menurut saya kehadiran agama dalam hal ini menjadi sesuatu yang sangat penting, menjadi sesuatu yang harus adanya.
Oleh karena itu karena kita adalah organisasi keagamaan maka menurut saya peran Muhammadiyah dalam mensubstansiasi dan mewarnai kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi sesuatu yang penting.

Mudah-mudahan dengan usia yang sudah 111 tahun ini Muhammadiyah akan semakin matang, Muhammadiyah akan semakin bisa berkontribusi lebih banyak lagi dan Muhammadiyah akan bisa menjadi salah satu elemen umat yang akan menjadi penentu corak kehidupan berbangsa dan bernegara.

Semoga bermanfaat
#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here