Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

9 Dzulhijjah 1441/ 30 Juli 2020


Antara Qolbu dan Aql

Menurut Bahasa Indonesia Akal (aql) adalah :
– daya pikir untuk mengerti dan sebagainya.
– daya upaya, cara melakukan sesuatu
– tipu daya, muslihat, dan
– kemampuan melihat cara-cara memahami lingkungan.
Hati menurut pengertian bahasa Indonesia :
– Tempat segala perasaan batin dan tempat menyimpan pengertian- pengertian atau perasaan-perasaan.
– Namun ada lagi hati yang bersifat fisik yaitu yang dalam bahasa Inggris Lever.

Menurut Bahasa Inggris Akal adalah :
mind, reason, common sense atau thought.
Kemudian Heart agak mirip dengan yang kita pelajari sekarang , mungkin terpengaruh kebudayaan islam yang dulu di Eropa berkembang pesat selama 800 tahun.
Heart : centre of thought, feeling and emotion (especially love) ; capacity for feeling emotion, courage, enthusiasm, center of innermost part, essence.

Menurut Bahasa Arab , aql banyak sekali disebut dalam Firman Allah.
Akan kita pelajari satu persatu, tidak semuanya.


1. Akal atau Aql

Asal kata : aqola – ya’qilu – aqlan.
Adapun maknanya luas sekali, antara lain : al -imsak (menahan), ar-ribath (ikatan), al-hijr (menahan), al-nahy (melarang) dan man’u (mencegah).

Bentuk Masdarnya (aqlan) tidak disebut dalam Al Qur’an.
Bentuk Fi’il dari Aql banyak dalam Al Qur’an. Sebagai pekerjaan (fi’il) diulang 49 kali.

1.1. Kata aqoluuhu عَقَلُوْهُ

Dalam Surat Al Baqarah ayat 2 :

اَفَتَطْمَعُوْنَ اَنْ يُّؤْمِنُوْا لَـكُمْ وَقَدْ كَا نَ فَرِيْقٌ مِّنْهُمْ يَسْمَعُوْنَ کَلَا مَ اللّٰهِ ثُمَّ يُحَرِّفُوْنَهٗ مِنْۢ بَعْدِ مَا عَقَلُوْهُ وَهُمْ يَعْلَمُوْنَ

“Maka apakah kamu muslimin sangat mengharapkan mereka akan percaya kepadamu, sedangkan segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah memahaminya, padahal mereka mengetahuinya?” (QS. Al-Baqarah 75)

Sejak sebelum zaman Nabi, kitab-kitab terdahulu diubah-ubah oleh mereka sehingga tidak asli lagi. Maka Al Qur’an ini dijaga betul sehingga tidak akan berubah satu hurufpun, maupun harokatnya.

1.2. Kata ta’qilun, تَعْقِلُوْنَ diulang 24 kali.

Contohnya dalam surat Yusuf ayat 109 :

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ اِلَّا رِجَا لًا نُّوْحِيْۤ اِلَيْهِمْ مِّنْ اَهْلِ الْقُرٰى ۗ اَفَلَمْ يَسِيْرُوْا فِى الْاَ رْضِ فَيَنْظُرُوْا كَيْفَ كَا نَ عَا قِبَةُ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۗ وَلَدَا رُ الْاٰ خِرَةِ خَيْرٌ لِّـلَّذِيْنَ اتَّقَوْا ۗ اَفَلَا تَعْقِلُوْنَ

“Dan Kami tidak mengutus sebelummu (Muhammad), melainkan orang laki-laki yang Kami berikan wahyu kepadanya di antara penduduk negeri. Tidakkah mereka bepergian di bumi lalu melihat bagaimana kesudahan orang-orang sebelum mereka yang mendustakan Rasul. Dan sungguh, negeri akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa. Tidakkah kamu mengerti?” (QS. Yusuf 109)

Ini menunjukkan betapa pentingnya aql ini supaya kita selalu berfikir menggunakan akal kita supaya kita selamat.

1.3. Kata na’qilu نَعْقِلُ

Ada dalam Surat Al Mulk ayat 10 :

وَقَا لُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْۤ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ

“Dan mereka berkata, Sekiranya dahulu kami mendengarkan atau memikirkan peringatan itu tentulah kami tidak termasuk penghuni neraka yang menyala-nyala.” (QS. Al-Mulk 10)

Orang-orang yang tidak berakal tidak memahami ayat-ayat Allah baik yang tertulis maupun ayat kauniyah.
Mereka ditanya, apakah tidak pernah didatangi Rasul yang menerangkan tentang agama. Sebenarnya mereka didatangi Rasul, namun Rasul didustakan oleh mereka. Mereka masuk neraka dan disana mereka menyesal.

Di ayat lain, akibat pendengaran dan penglihatan , orang mendapat Hidayah. Jadi betapa pentingnya pendengaran, bayangkan ketika kita harus menasehati tapi yang dinasehati kurang pendengarannya. Kita ngomong pelan dikira tidak ngomong dengan jelas. Kalau kita keraskan omongan kita, dikira membentak. Tentu hal ini menyusahkan.
Demikian juga yang kurang dalam penglihatan. Tentu membaca Al Qur’an akan mengalami kesulitan.

Maka kita diajarkan do’a pagi dan petang agar kita bisa melihat, bisa mendengar agar dapat berfikir dengan baik. Berikut ini doanya;

اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَدَنِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى سَمْعِى اللَّهُمَّ عَافِنِى فِى بَصَرِى لاَ إِلَهَ إِلاَّ أَنْتَ

“Ya Allah, sehatkanlah badanku, Ya Allah sehatkanlah pendengaranku, Ya Allah, sehatkanlah penglihatanku. Tiada Tuhan selain Engkau.” (HR Thabrani).

Betapa perlunya pendengaran dan penglihatan kita sejak muda dipakai untuk memahami agama. Jangan sampai tidak memahami agama ketika usia tua dan sulit memanfaatkan pendengaran dan penglihatan.

Pada suatu saat nanti kita akan tahu bahwa qolbu itu lebih utama. Seperti kata Imam Ghozali bahwa salah satu bagian qolbu adalah aql.
Maka penting sekali doa yang diajarkan Rasulullah, bahkan diulang sampai tiga kali.

Kemudian masih ada lagi do’a yang juga penting

للَّهُمَّ إِنِّي أَعُوْذُ بِكَ مِنَ الْكُفْرِ وَالْفَقْرِ، وَأَعُوْذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ

“Ya Allah! Sesungguhnya aku berlindung kepadaMu dari kekufuran dan kefakiran. Aku berlindung kepadaMu dari siksa kubur”  (HR. Abu Dawud, Ahmad)

Ada hadits lemah yang diriwayatkan Abu Na’im:

كَادَ اْلفَقْرُ أَنْ يَكُوْنَ كُفْرًا

Artinya: “Kemiskinan itu dekat kepada kekufuran.”

Ini sudah terjadi di negara kita, banyak kampung yang jauh dari kota dimurtadkan. Dulu 90% islam, sekarang islamnya tidak sampai 30%. Dan di kampung itu yang lebih kecil dari desa, gerejanya ada 4.

Kefakiran itu dekat dengan kekufuran. Kita harus mengikuti do’a Rasulullah tadi. Kufur dalam arti sempit adalah kufur nikmat. Kufur nikmat atau tidak bersyukur merupakan pintu masuk setan. Ini dideklarasikan sendiri oleh setan :

“Kemudian pasti aku akan mendatangi mereka dari depan, dari belakang, dari kanan, dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur.” (QS. Al-A’raf 17)

Jadi orang yang bersyukur akan aman, dia tahan uji , sebaliknya orang yang tidak bersyukur akan tergelincir.

1.4. Kata ya’qiluhaaa يَعْقِلُهَاۤ

Ada dalam Surat Al Ankabut ayat 43 :

وَتِلْكَ الْاَ مْثَا لُ نَضْرِبُهَا لِلنَّا سِ ۚ وَمَا يَعْقِلُهَاۤ اِلَّا الْعٰلِمُوْنَ

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami buat untuk manusia; dan tidak ada yang akan memahaminya kecuali mereka yang berilmu.” (QS. Al-‘Ankabut 43)

Dalam Al Qur’an banyak perumpamaan untuk manusia supaya mudah memahami dan orang yang demikian disebut berilmu.

Kaitan antara aql dan ilmu banyak dibahas oleh para ulama, bahwa sesungguhnya nanti aql menghasilkan ilmu. Meskipun ada yang membantahnya, bukan hanya karena akal tapi karena ada bantuan dari qolbu. Jadi macam-macam pendapat karena pemahaman dari ini luas sekali.

1.5. Kata ya’qiluun يَّعْقِلُوْنَ disebut 22 kali

Antara lain ada dalam Surat Al Baqarah ayat 164 :

اِنَّ فِيْ خَلْقِ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضِ وَا خْتِلَا فِ الَّيْلِ وَا لنَّهَا رِ وَا لْفُلْكِ الَّتِيْ تَجْرِيْ فِى الْبَحْرِ بِمَا يَنْفَعُ النَّا سَ وَمَاۤ اَنْزَلَ اللّٰهُ مِنَ السَّمَآءِ مِنْ مَّآءٍ فَاَ حْيَا بِهِ الْاَ رْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا وَبَثَّ فِيْهَا مِنْ کُلِّ دَاۤ بَّةٍ ۖ وَّتَصْرِيْفِ الرِّيٰحِ وَا لسَّحَا بِ الْمُسَخَّرِ بَيْنَ السَّمَآءِ وَا لْاَ رْضِ لَاٰ يٰتٍ لِّقَوْمٍ يَّعْقِلُوْنَ

“Sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan muatan yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit berupa air, lalu dengan itu dihidupkan-Nya bumi setelah mati, dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, sungguh, merupakan tanda-tanda kebesaran Allah bagi orang-orang yang mengerti.” (QS. Al-Baqarah 164)

Dengan aql kita dapat memahami ayat-ayat kauniyah atau fenomena alamnya. Misalnya matahari dan bumi dalam galaksi Bima Sakti usianya 4,5 milyar tahun. Kita melihat matahari tak pernah padam. Kalau lampu ada masanya, dulu 1000 jam. Matahari tidak mati, lalu bagaimana energinya diperbarukan sampai milyaran tahun? Dan panasnya dikatakan ilmuwan makin panas karena ada lapisan ozon di bumi yang berlubang. Hal ini menyebabkan global warming. Kita merasakan, dulu di Salaman Magelang tak perlu pakai AC sudah sejuk. Sekarang sudah panas seperti di kota, harus pakai AC.

Orang-orang yang berakal ditinggikan oleh Allah derajatnya karena bisa mendapatkan ilmu pengetahuan.

Allah SWT berfirman:

الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا مِنْكُمْ ۙ وَا لَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ دَرَجٰتٍ ۗ

“Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.” (QS. Al-Mujadilah 11)

Itulah pentingnya Aql dan Ilmu dalam khasanah agama kita.


2. Hati atau Qolbu

Orang yang selamat akan menghadap Allah dengan membawa Qolbun Salim atau Hati yang bersih.(Al Qur’an surat Asy Syuuara 88-89).
Para ulama memerinci, Qolbun Salim isinya apa? Yang paling penting adalah Khouf (rasa takut kepada Allah).

Kemarin juga sudah dibahas bahwa produksi dari qolbu adalah malu. Karena Rasulullah mengatakan dalam perkataan nubuah :
‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari)

Maka Qolbun Salim ini harus kita sandingkan dengan aql.

Kemudian dalam surat Al Hujurat ayat 7 :

وَا عْلَمُوْۤا اَنَّ فِيْكُمْ رَسُوْلَ اللّٰهِ ۗ لَوْ يُطِيْعُكُمْ فِيْ كَثِيْرٍ مِّنَ الْاَ مْرِ لَعَنِتُّمْ وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِ يْمَا نَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَا لْفُسُوْقَ وَا لْعِصْيَا نَ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الرّٰشِدُوْنَ ۙ 

“Dan ketahuilah bahwa di tengah- tengah kamu ada Rasulullah. Kalau dia menuruti kemauan kamu dalam banyak hal, pasti kamu akan mendapatkan kesusahan. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus,” (QS. Al-Hujurat 7)

Dulu umat Rasulullah meminta begini- begitu, maksudnya mereka terlalu banyak menawar aturan yang diberikan. Kalau permintaan itu dituruti niscaya akan menimbulkan kesusahan.
Tapi Allah akan menumbuhkan rasa cinta kepada Iman. Bagi yang sudah pergi haji, dia diberi do’a untuk digantungkan. Ada salah satu do’a yang penting dibaca para jamaah Haji, kaitannya agar senang pada iman dan tidak senang pada kekufuran.

Dalam Surat Al Maidah ayat 41, Allah juga menyebut tentang Qolbu :

يٰۤـاَيُّهَا الرَّسُوْلُ لَا يَحْزُنْكَ الَّذِيْنَ يُسَا رِعُوْنَ فِى الْكُفْرِ مِنَ الَّذِيْنَ قَا لُوْۤا اٰمَنَّا بِاَ فْوَاهِهِمْ وَلَمْ تُؤْمِنْ قُلُوْبُهُمْ  ۛ  وَمِنَ الَّذِيْنَ هَا دُوْا  ۛ  سَمّٰعُوْنَ لِلْكَذِبِ سَمّٰعُوْنَ لِقَوْمٍ اٰخَرِيْنَ ۙ لَمْ يَأْتُوْكَ ۗ يُحَرِّفُوْنَ الْـكَلِمَ مِنْۢ بَعْدِ مَوَا ضِعِهٖ ۚ يَقُوْلُوْنَ اِنْ اُوْتِيْتُمْ هٰذَا فَخُذُوْهُ وَاِ نْ لَّمْ تُؤْتَوْهُ فَا حْذَرُوْا ۗ وَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ فِتْنَـتَهٗ فَلَنْ تَمْلِكَ لَهٗ مِنَ اللّٰهِ شَيْـئًـا ۗ اُولٰٓئِكَ الَّذِيْنَ لَمْ يُرِدِ اللّٰهُ اَنْ يُّطَهِّرَ قُلُوْبَهُمْ ۗ لَهُمْ فِيْ الدُّنْيَا خِزْيٌ ۖ وَّلَهُمْ فِيْ الْاٰ خِرَةِ عَذَا بٌ عَظِيْمٌ

“Wahai Rasul ! Janganlah engkau disedihkan karena mereka berlomba-lomba dalam kekafirannya. Yaitu orang-orang munafik yang mengatakan dengan mulut mereka, Kami telah beriman, padahal hati mereka belum beriman; dan juga orang-orang Yahudi yang sangat suka mendengar berita-berita bohong dan sangat suka mendengar perkataan- perkataan orang lain yang belum pernah datang kepadamu. Mereka mengubah kata-kata Taurat dari makna yang sebenarnya. Mereka mengatakan, Jika ini yang diberikan kepadamu terimalah, dan jika kamu diberi yang bukan ini, maka hati-hatilah. Barang siapa dikehendaki Allah untuk dibiarkan sesat, sedikit pun engkau tidak akan mampu menolak sesuatu pun dari Allah. Mereka itu adalah orang-orang yang sudah tidak dikehendaki Allah untuk menyucikan hati mereka. Di dunia mereka mendapat kehinaan dan di akhirat akan mendapat azab yang besar.” (QS. Al-Ma’idah 41)


3. Perbedaan Aql dan Qolbu

Qolbu lebih luas, lebih mendalam dari pada akal. Akan tetapi ada juga ulama yang mengatakan sebaliknya, bahwa aql lebih luas dari pada qolbu.

Saya mengikuti pendapat yang pertama, bahwa qolbu lebih luas dari pada akal. Karena buktinya begini :
Aql melahirkan iptek belum tentu menumbuhkan iman.
Contoh Steven Hawking ahli fisika dunia, dia luar biasa pandai. Dia seorang yang lumpuh tahun 2018 meninggal dunia. Pemikirannya tidak ada yang membantah tapi dia atheis. Menunjukkan bahwa dengan akalnya dia tidak memperoleh petunjuk. Qolbunya tidak bening, tidak dapat menangkap keimanan.

Qolbu menjangkau yang tidak dijangkau akal, yaitu keimanan, buahnya banyak, antara lain :
– Rasa Cinta kepada Allah.
– Takut kepada Allah
– Takut melakukan amal yang dibenci Allah.
– Benci yang dibenci Allah
– Berani, hanya takut kepada Allah
– Mempunyai rasa malu
– Syukur
– Sabar

Alhamdulillah orang-orang yang dikaruniai hidayah kemudian hatinya mendapat cahaya islam. Hatinya muat apa saja yang disampaikan islam.
Sebaliknya yang dadanya sempit tidak bisa menerima islam.

Mengapa Qolbu lebih utama dari akal?

Qolbu mempunyai pekerjaan yang tidak dimiliki oleh akal. Yaitu yafqohuuna. يَفْقَهُوْنَ , terkait dengan kefaqihan yang dipakai untuk mendalami tentang agama.

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda- tanda kekuasaan Allah , dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan ayat-ayat Allah. Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 179)

Padanan yafqohuuna tadi Rasulullah SAW pernah menyampaikan tentang kefaqihan :

من يرد الله به خيرا يفقهه في الدين

“Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kita sedih bahwa ada Profesor yang beragama islam, bisa- bisanya dia mengusulkan pelajaran agama islam agar dihapus saja dari sekolah- sekolah.

Hal ini terkait dengan apa yang saya sampaikan sebelum ini bahwa kebijakan suatu negara adalah hasil dari suatu Pemilu , kalau sistemnya demokrasi dengan Pemilu untuk memilih Pemimpin. Berarti Pemilu itu sangat strategis bagi umat islam, karena tidak ada cara lain. Kalau di daerah lain, misal Malaysia ada kerajaan dimana Raja menjadi penentu terakhir.

Wajib bagi kita mendidik rakyat, apa sebenarnya Pemilu itu, karena hadits diatas juga memberi pencerahan kepada kita tentang kebaikan, maka dia pasti akan faham tentang agama.
Kemarin kita ajarkan do’a bahwa agama harus menjadi benteng, menjadi tolok ukur dari seluruh urusan.

Kalau kita fikir dengan Qolbu kita, apa ada urusan yang tidak pakai agama?
– Kita mau makan saja berfikir halal atau haram?
– Mau makan kita adabnya seperti Rasulullah memakai tangan kanan.
– Kalau mengambil makanan keras seperti kurma, cukup pakai 3 jari. Tapi kalau diterapkan untuk nasi kan tidak bisa, tetap pakai 5 jari.
– Dengan cara seperti Rasulullah, tidak “grusa-grusu”. Mengunyahnya pelan supaya pencernaan tidak berat. Kalau makanan tidak dikunyah , asam lambung keluar banyak dan dapat merusak lambung

Jadi penting sekali anak diajari agama.
Kalau diajari yang baik dia faham. Disuruh membaca Bismillah dia mau. Disuruh makan pakai tangan kanan dia mau. Diajari sopan santun mulai dari yang kecil sampai yang besar dia mau. Jadi kalau ada orang yang menginginkan pelajaran agama dihapus, apa yang terfikir dalam hatinya? Saya tidak faham cara berfikir mereka. Sudah jadi kenyataan ada 37 anak SMP mengadakan pesta sex.

Zaman ini sudah luar biasa rusaknya. Saya memahami seperti penyakit. Kalau penyakit itu kelihatan , seperti Covid-19 di Semarang ini yang terkena jumlahnya 865 itu puncak gunung es. Dibawahnya besar sekali jumlah penyakit yang tidak ditemukan oleh dokter, oleh Laboratorium. Sama dengan fenomena agama. Kalau ada kedurhakaan yang muncul di suatu masyarakat, sesungguhnya dibawahnya lebih besar lagi.

Kita harus waspada, alhamdulillah kita bisa berkumpul saling menasehati. In syaa Allah dengan berdiskusi kita memikirkan bagaimana agar diri kita baik, keluarga kita baik. Kalau keluarga baik akan menyusun masyarakat baik. Masyarakat yang baik akan cerdas karena punya akal, punya qolbu. Ketika memilih Pemimpin dia tidak memilih atas dasar amplop.

Hal ini perlu terus didengungkan membentuk masyarakat baik. Dengan masyarakat baik kita membentuk kader yang baik. Kalau bisa hadir di Pengajian akan bagus sehingga faham. Bisa saja materi dishare tanpa penjelasan , tapi bisa salah faham. Dikira pengajian politik, padahal ini kajian Al Qur’an dan Sunah.

Kembali ke topik, Rasulullah jelas mengatakan : “Barangsiapa yang Allah inginkan kebaikan padanya, Allah akan faqihkan ia dalam masalah agama.”
Atas dasar ini jelas bahwa Qolbu lebih luas dari pada akal. Atau al-Aql atau Pikiran adalah bagian dari Qolbu.


Kondisi Qolbu

Kemarin sudah kita bahas ada tiga kondisi Qolbu :
– Qolbu yang hidup dan sehat.
– Qolbu yang sakit
– Qolbu yang mati.

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اَرْسَلْنَا مِنْ قَبْلِكَ مِنْ رَّسُوْلٍ وَّلَا نَبِيٍّ اِلَّاۤ اِذَا تَمَنّٰۤى اَلْقَى الشَّيْطٰنُ فِيْۤ اُمْنِيَّتِهٖ ۚ فَيَنْسَخُ اللّٰهُ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ ثُمَّ يُحْكِمُ اللّٰهُ اٰيٰتِهٖ ۗ وَا للّٰهُ عَلِيْمٌ حَكِيْمٌ ۙ 
لِّيَجْعَلَ مَا يُلْقِى الشَّيْطٰنُ فِتْـنَةً لِّـلَّذِيْنَ فِيْ قُلُوْبِهِمْ مَّرَضٌ وَّا لْقَا سِيَةِ قُلُوْبُهُمْ ۚ وَ اِنَّ الظّٰلِمِيْنَ لَفِيْ شِقَا قٍۢ بَعِيْدٍ ۙ 
وَّلِيَـعْلَمَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ اَنَّهُ الْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَيُؤْمِنُوْا بِهٖ فَـتُخْبِتَ لَهٗ قُلُوْبُهُمْ ۗ وَاِ نَّ اللّٰهَ لَهَا دِ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِلٰى صِرَا طٍ مُّسْتَقِيْمٍ

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasul dan tidak pula seorang nabi sebelum engkau, melainkan apabila dia mempunyai suatu keinginan, setan pun memasukkan godaan-godaan ke dalam keinginannya itu. Tetapi Allah menghilangkan apa yang dimasukkan setan itu. dan Allah akan menguatkan ayat-ayat-Nya. Dan Allah Maha Mengetahui, Maha Bijaksana,”
“Dia Allah ingin menjadikan godaan yang ditimbulkan setan itu sebagai cobaan bagi orang-orang yang dalam hatinya ada penyakit dan orang yang berhati keras. Dan orang-orang yang zalim itu benar-benar dalam permusuhan yang jauh,”
“dan agar orang-orang yang telah diberi ilmu meyakini bahwa Al-Qur’an itu benar dari Tuhanmu, lalu mereka beriman dan hati mereka tunduk kepada-Nya. Dan sungguh, Allah pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus.”
(QS. Al-Hajj 52-54)

Ini menunjukkan kepada kita bahwa hati dibagi menjadi tiga.
Hati yang keras masih bisa tertolong kalau mau “mendengar dan berfikir” seperti penyesalan ahli neraka.

Untuk itu kita perlu berdoa supaya kita selalu mencintai keimanan yang sudah kita miliki. Doa ini biasa digantungkan sebagai petunjuk bagi jamaah Haji untuk menjaga hati kita, mencintai keimanan kita.

اَللَّهُمَّ حَبِّبْ اِلَيْنَا اْلإِيْمَانَ، وَزَيِّنْهُ فِي قُلُوْبِنَا، وَكَرِّهْ اِلَيْنَا الْكُفْرَ وَالْفُسُوْقَ وَالْعِصْيَانَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الرَّاشِدِيْنَ

Ya Allah, cintakan kami pada iman, hiaskan iman dalam hati kami; bencikan kami pada kekufuran, kefasikan, dan kemaksiatan; serta jadikan kami tergolong pada orang- orang yang mendapat petunjuk. 

Do’a itu ibadah, artinya apabila kita tak ada keperluanpun tetap boleh dibaca karena menjadi ibadah. Syukur-syukur jika hatinya memang ingin sehingga nanti dikabulkan oleh Allah. Berdo’a harus yakin bahwa Allah akan mengabulkan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here