H. Arief Rachman Lc MA

8 Dzulhijjah 1441/ 29 Juli 2020


Bulan Dzulhijjah termasuk asyhurul hurum atau bulan-bulan haram, bulan yang dimuliakan oleh Allah SWT yang Allah pilih dari 12 bulan yang sudah kita ketahui.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ عِدَّةَ الشُّهُوْرِ عِنْدَ اللّٰهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ وَا لْاَ رْضَ مِنْهَاۤ اَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۗ 

“Sesungguhnya jumlah bulan menurut Allah ialah dua belas bulan, sebagaimana dalam ketetapan Allah pada waktu Dia menciptakan langit dan Bumi, di antaranya ada empat bulan haram.” (QS. At-Taubah 36)

Kemudian dijelaskan oleh Rasulullah SAW dalam hadisnya.

الزَّمَانُ قَدِ اسْتَدَارَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَوَاتِ وَالأَرْضَ ، السَّنَةُ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا ، مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ، ثَلاَثَةٌ مُتَوَالِيَاتٌ ذُو الْقَعْدَةِ وَذُو الْحِجَّةِ وَالْمُحَرَّمُ ، وَرَجَبُ مُضَرَ الَّذِى بَيْنَ جُمَادَى وَشَعْبَانَ

”Setahun berputar sebagaimana keadaannya sejak Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan haram. Tiga bulannya berturut-turut yaitu Dzulqo’dah, Dzulhijjah dan Muharram. (Satu bulan lagi adalah) Rajab Mudhor yang terletak antara Jumadal (akhir) dan Sya’ban.” (HR. Bukhari Muslim).

Kemudian dalam Al Qur’an dilanjutkan maka janganlah kamu menzalimi dirimu dalam bulan itu.
Artinya bulan ini bulan mulia, tidak boleh dirusak kemuliaan itu dengan perbuatan zalim. Dalam bulan ini mempunyai keistimewaan kalau berbuat baik disana. Nilainya berbeda dengan bulan yang lain.

Khususnya 10 hari pertama dari bulan Dzulhijjah mempunyai keistimewaan. Keadaan ini mirip dengan keistimewaan 10 hari terakhir di bulan Ramadhan.

Allah SWT berfirman:

وَا لْفَجْرِ ۙ  وَلَيَا لٍ عَشْرٍ ۙ 

“Demi fajar, demi malam yang sepuluh,” (QS. Al-Fajr Ayat 1-2)

Ulama berbeda pendapat tentang malam yang sepuluh. Ada yang mengartikan 10 hari terakhir bulan Ramadhan, ada yang mengartikan 10 hari awal Dzulhijjah.

Rasulullah SAW dalam haditsnya menyampaikan keistimewaan 10 hari pertama bulan Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda:

ما من أيام العمل الصالح فيهن أحب إلى الله من هذه الأيام العشر. قالوا ولا الجهاد في سبيل الله؟ قال: ولا الجهاد في سبيل الله إلا رجل خرج بنفسه وماله ولم يرجع من ذالك بشيء. (رواه البخاري)

“Tidak ada hari yang amal shalih lebih dicintai oleh Allah daripada hari-hari yang sepuluh ini (awal bulan Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya: “Apakah lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah ?” Beliau bersabda, “Iya. Lebih baik daripada jihad fii sabiilillaah, kecuali seseorang yang keluar berjihad dengan harta dan jiwa raganya kemudian dia tidak pernah kembali lagi.” (HR. Al Bukhari)

Amal sholeh itu luas, amal ibadah yang kita lakukan meningkat nilainya, perbuatan baik dengan sesama nilainya meningkat. Diantara amal sholeh yang utama adalah puasa.

Di 10 hari awal Dzulhijjah ini istimewa karena terkumpul seluruh induk ibadah. Sholat : Ada sholat Iedh. Puasa : Ada puasa Arofah. Ada sedekah utama berupa Qurban di tanggal 10. Maka tanggal 10 disebut dengan Hari Nahar (hari penyembelihan) . Kemudian ada ibadah Haji. Berarti semua induk ibadah terkumpul di bulan ini.


Puasa di Bulan Dzulhijjah

Maka bila kita berpuasa 10 hari di bulan Dzulhijjah secara umum, atau di 10 hari pertama bulan ini nilainya berbeda (dengan berpuasa di bulan lain).

Berpuasa 10 hari di bulan ini dianjurkan oleh Rasulullah SAW :

عَنْ حَفْصَةَ قَالَتْ أَرْبَعٌ لَمْ يَكُنْ يَدَعُهُنَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ صِيَامَ عَاشُورَاءَ وَالْعَشْرَ وَثَلاَثَةَ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَالرَّكْعَتَيْنِ قَبْلَ الْغَدَاةِ .

Artinya: Diriwayatkan dari Hafsah, ia berkata: Empat hal yang tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah saw, yaitu: puasa Asyura, puasa sepuluh hari bulan Zulhijjah, puasa tiga hari setiap bulan, dan shalat dua rakaat sebelum shalat subuh. (HR. Nassai)

Puasa 10 hari di bulan Dzulhijjah memang dianjurkan bahkan tidak pernah ditinggalkan oleh Rasulullah SAW. Ini maknanya apakah di awal bulan Dzulhijjah ini puasa terus dari tanggal 1 sampai tanggal 9 atau memilih 10 hari diantara hari-hari bulan Dzulhijjah. Penafsiran ulama seperti itu, bahwa pahalanya meningkat.


Puasa Arofah

Rasulullah pernah ditanya, tentang puasa hari Arofah atau tanggal 9 Dzulhijjah

وَسُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ عَرَفَةَ فَقَالَ يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ وَالْبَاقِيَةَ

Rasulullah ditanya tentang puasa hari Arafah, beliau bersabda:  “Menghapuskan dosa satu tahun yang lalu dan satu tahun yang akan datang.” (HR. Muslim)

Ada yang mempertanyakan tentang menghapus dosa satu tahun yang akan datang. Beberapa pemahaman terkait hadits ini.
– Orang yang puasa Arofah akan dimudahkan oleh Allah untuk menghindari perbuatan maksiat setahun yang akan datang.
– Kalaupun dia melakukan dia akan cepat sadar kembali
– Dimudahkan oleh Allah untuk segera taubat.
– Dosa yang dihapus adalah dosa-dosa kecil. Adapun dosa besar tetap harus dengan taubat nashuha.

Puasa Arofah disunahkan bagi mereka yang tidak melakukan ibadah Haji. Bagi yang melakukan ibadah Haji dilarang puasa Arofah. Para ulama ada yang mengatakan makruh, ada yang mengatakan Haram.


Puasa Tarwiyah

Bagaimana dengan istilah Puasa Tarwiyah? Memang ada istilah Tarwiyah pada suatu hadits berikut.

صَوْمُ يَوْمِ التَّرْوِيَةِ كَفَّارَةُ سَنَةٍ، وَصَوْمُ يَوْمِ عَرفَةَ كَفَّارَةُ سَنَتَيْنِ “

“Puasa pada hari tarwiyah menghapuskan dosa satu tahun, dan puasa pada hari Arafah menghapuskan dosa dua tahun”.(Dailami).

Namun setelah ditelusuri, ulama mengatakan Hadits ini Dhoif bahkan ada yang mengatakan Palsu.

Ada juga hadits lain :

وعنه صلی اﷲ عليه وسلم: من صام يوم الترويۃ اعطاه اﷲ مثل ثواب صبر ايوب عليه سلم علی بلاءه.

“Barang siapa yang berpuasa pada hari tarwiyah maka Allah akan memberikan pahala seperti pahala kesabaran Nabi Ayub a.s. atas musibahnya”.

Tapi hadits ini juga hadits palsu. Jadi ternyata istilah Puasa Tarwiyah itu tidak ada dasarnya dari Rasulullah SAW. Hadits-hadits tentang Tarwiyah banyak beredar di kalangan Syi’ah.
Namun kalaupun tidak diistilahkan dengan Puasa Tarwiyah, bagi yang melaksanakan puasa pada tanggal 8 Dzulhijjah, dia sudah melaksanakan puasa di bulan yang dimuliakan Allah. Yang pahalanya lebih tinggi dibanding puasa di bulan lain.


Sunah-Sunah Iedhul Adha

1. Memperbanyak Tahlil, Takbir dan Tahmid

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهِ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ماَ مِنْ أَيَّامٍ أَعْظَمُ عِنْدَ اللهِ سُبْحَانَهُ وَلاَ أَحَبُّ إِلَى اللهِ الْعَمَلُ فِيْهِنَّ مِنْ هَذِهِ اْلأَيَّامِ الْعَشْرِ فَأَكْثِرُوْا فِيْهِنَّ مِنَ التَّهْلِيْلِ وَالتَّكْبِيْرِ وَالتَّحْمِيْدِ – رواه الطبراني 

Dari Ibnu Umar ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Tidak ada hari-hari yang dianggap lebih agung oleh Allah SWT dan lebih disukai untuk digunakan sebagai tempat beramal, sebagaimana sepuluh hari pertama di bulan dzulhijjah ini. Karenanya, perbanyaklah pada hari-hari itu bacaan tahlil, takbir dan tahmid”. (HR. Thabrani)

Ulama mengatakan bahwa ber Tahlil, ber Takbir dan ber Tahmid sudah dianjurkan sejak memasuki tanggal 1 bulan Dzulhijjah. Berarti sekarang kita sudah disunahkan memperbanyak Tahlil, Takbir dan Tahmid. Dan tidak harus selesai sholat. Boleh dikerjakan sebagai dzikir saat berangkat kerja diperjalanan.

Yang terkait dengan Iedhul Adha ada beberapa pendapat kapan mulainya memperbanyak Tahlil, Takbir, Tahmid.
– Ada yang berpendapat dimulai sejak Subuh hari Arofah, tanggal 9 Dzulhijjah.
– Ada juga yang berpendapat ketika memasuki tanggal 10 Dzulhijjah. Berarti maghrib setelah Puasa Arofah.
– Berakhir pada tanggal 13 Dzulhijjah setelah Ashar.

2. Berhias diri, memakai pakaian bagus dan wangi-wangian

Dalam sebuah hadits :
“Nabi memerintahkan kita ketika Hari Ied untuk memakai apa yang bagus yang bisa kita pakai, memakai wangi-wangian dengan wangi-wangian yang paling baik. Kemudian untuk berkurban dengan yang paling baik, kemudian memperdengarkan takbir di saat Iedhul Adha sampai dengan Hari-hari Tasyrik”


3. Tidak makan sebelum shalat Iedhul Adha

Kalau pada waktu Iedhul Fitri kita disunahkan untuk makan sebelum kita melaksanakan shalat Ied. Karena Iedhul Fitri adalah hari raya berbuka. Berbeda dengan Iedhul Adha, kita tak disunahkan untuk makan dulu.


4. Waktu Sholat

Waktu sholat Iedhul Fitri diakhirkan. Kalau waktu sholat Iedhul Adha dilaksanakan lebih awal, lebih pagi daripada sholat Iedhul Fitri.


5. Sholat Iedhul Adha

Tidak ada sholat sunah terkait dengan sholat Ied, baik sebelum ataupun sesudah sholat Ied. Tidak ada adzan dan Iqomah.

Di masa Pandemi Covid-19 ini tetap dianjurkan untuk sholat Ied di rumah. Karena sholat Ied ini istimewa, dalam arti orang yang tidak biasa sholat atau hanya sholat Jumat saja, dia biasanya mendatangi sholat Ied. Akibatnya potensi adanya kerumunan semakin besar.

Kalaupun akan menyelenggarakan sholat Ied, protokol kesehatan harus ketat. Meskipun ini kadang-kadang tidak semua panitia sanggup atau konsekuen dengan hal ini. Panitia harus lebih berhati-hati lagi.

Kalau shalat Ied dilaksanakan di masjid , ketika memasuki masjid tetap boleh melaksanakan sholat Tahiyatul Masjid, karena sholat terkait dengan masjid, bukan terkait dengan sholat Ied.


6. Khutbah Iedhul Adha

Khutbah Iedhul Adha cuma sekali berdiri, tidak seperti Khutbah Jumat yang ada duduk diantara khutbah.
Memulai khutbah dengan Hamdalah, meskipun dalam rangkaian khutbah itu Rasulullah menganjurkan memperbanyak Takbir. Tetapi memulainya tetap dengan Hamdalah.

7. Shalat Iedhul Adha pada hari jum’at

Disini berkumpul dua sholat utama, yaitu sholat Iedhul Adha dan Sholat Jum’at. Ada sebuah hadits :

قَالَ أَبُو عُبَيْدٍ ثُمَّ شَهِدْتُ مَعَ عُثْمَانَ بْنِ عَفَّانَ فَكَانَ ذَلِكَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ ، فَصَلَّى قَبْلَ الْخُطْبَةِ ثُمَّ خَطَبَ فَقَالَ يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّ هَذَا يَوْمٌ قَدِ اجْتَمَعَ لَكُمْ فِيهِ عِيدَانِ ، فَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَنْتَظِرَ الْجُمُعَةَ مِنْ أَهْلِ الْعَوَالِى فَلْيَنْتَظِرْ ، وَمَنْ أَحَبَّ أَنْ يَرْجِعَ فَقَدْ أَذِنْتُ لَهُ

“Abu ‘Ubaid berkata bahwa beliau pernah bersama ‘Utsman bin ‘Affan dan hari tersebut adalah hari Jum’at. Kemudian beliau shalat ‘ied sebelum khutbah. Lalu beliau berkhutbah dan berkata, “Wahai sekalian manusia. Sesungguhnya ini adalah hari di mana terkumpul dua hari raya. Siapa saja dari yang nomaden (tidak menetap) ingin menunggu shalat Jum’at, maka silakan. Namun siapa saja yang ingin pulang, maka silakan dan telah kuizinkan.” (HR. Bukhari)

Artinya kita pagi melakukan sholat Iedhul Adha dan siangnya sholat jum’at. Atau siangnya tidak melakukan sholat Jumat, tapi melakukan sholat Dhuhur.

Seperti kita ketahui sekarang bahwa kondisi masih mengkhawatirkan. Meskipun ada yang mengatakan pembagian zona merah, kuning hijau tapi potensi penularan masih besar. Bagi yang ingin melaksanakan sholat Ied di rumah, tidak mengurangi pahalanya sebagaimana melaksanakan shalat Ied di masjid atau tempat terbuka.

Kalau sholat Ied dilapangan sebenarnya dalam kondisi seperti ini tidak dianjurkan. Karena lapangan yang luas berpotensi mengumpulkan banyak orang sehingga potensi penularan Covid-19 semakin besar.

Itulah beberapa hal terkait sunah-sunah Iedhul Adha. Sebenarnya ada lagi, yaitu Qurban. Tapi dengan kondisi pandemi sekarang ini , qurban tahun ini jadi spesial. Banyak masjid yang meminimalisir proses pemotongan dengan cara Qurban diserahkan ke RPH atau tempat yang tidak melibatkan orang banyak.

Semoga kita dijauhkan dari Fitnah karena Fitnah terhadap agama itu lebih mengkhawatirkan. Dampaknya sangat luas dibanding fitnah terhadap dunia.
Kita berdo’a sehubungan kondisi ini, sesuai do’a yang diajarkan Rasulullah :

اللَّهُمَّ إِنَّا نَعُوذُ بِكَ مِنْ جَهْدِ الْبَلَاءِ وَدَرَكِ الشَّقَاءِ وَسُوءِ الْقَضَاءِ وَشَمَاتَةِ الْأَعْدَاءِ

Ya Allâh, kami berlindung kepada-Mu dari beratnya musibah yang tak mampu ditanggung, dari datangnya sebab-sebab kebinasaan, dari buruknya akibat apa yang telah ditakdirkan, dan gembiranya musuh atas penderitaan yang menimpa. [Muttafaq ‘alaih]

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here