Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

7 Dzulhijjah 1441/ 28 Juli 2020



Kendali utama bagi diri kita adalah Qolbu. Nabi SAW bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” – (HR. Bukhari Muslim).

Segumpal daging yang menjadi diskusi para ulama. Ada yang menyebutkan semacam celah atau ruangan berbentuk cemara yang diisi darah hitam tapi tidak dibahas lebih lanjut.
Yang dibahas adalah aspek ghoibnya.


Yang Jumlah Banyak Belum Tentu Benar

Allah SWT berfirman:

وَمَا كَا نَ لِمُؤْمِنٍ وَّلَا مُؤْمِنَةٍ اِذَا قَضَى اللّٰهُ وَرَسُوْلُهٗۤ اَمْرًا اَنْ يَّكُوْنَ لَهُمُ الْخِيَرَةُ مِنْ اَمْرِهِمْ ۗ وَمَنْ يَّعْصِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ فَقَدْ ضَلَّ ضَلٰلًا مُّبِيْنًا

“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan yang lain bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (QS. Al-Ahzab 36)

Kalau Allah dan Rasulnya telah membuat suatu ketentuan , maka tidak ada pilihan lain. Mari kita pelan-pelan belajar tentang ketentuan-ketentuan Allah dan Rasulnya dengan kajian-kajian ini. Bagian ujung ayat itu yang harus kita perhatikan :
Barang siapa mendurhakai Allah maka sungguh dia tersesat!

Maka hati-hatilah bila kita hanya ikut-ikutan saja dalam rombongan yang banyak. Para ulama sudah memastikan bahwa orang yang banyak tidak menunjukkan suatu kebenaran. Kebenaran itu kalau ada Ketentuan dari Allah dan Rasulnya. Kalau tidak ada, kita cek ketentuan Allah dan Rasulnya. Meski kita hanya sendirian saja yang mengikuti Ketentuan Allah dan Rasulnya itu tetap benar walaupun sendirian.

Jadi jangan khawatir, itu semua penguatannya adalah Qolbu. Kita akan melanjutkan yang kemarin.


Usaha Kita Agar Berbahagia di Akhirat


Mencari muka hanya kepada Allah

Kita tidak perlu mencari muka pada manusia karena tidak ada gunanya, kalau tidak mencari muka kepada Allah. Mencari muka pada manusia paling-paling hanya mendapat komentar “wow”. Tetapi hal itu tak ada efeknya apa-apa.

Dengan mencari muka pada Allah misalnya pagi ini kita membentuk suatu majelis kajian, mudah-mudahan Allah meridhaiNya. Dijelaskan dalam hadits bahwa siapa yang hadir dalam kajian mendapat Sakinah, Rahmat dan dikelilingi Malaikat. Kemudian disebut-sebut Allah SWT di depan Malaikat yang mengelilingi.

Jamaah dari berbagai kota dapat berkumpul dalam satu kajian melalui Teknologi, merupakan hikmah dari Covid yang diciptakan atas ijin Allah. Ini semua adalah rencana Allah agar manusia kembali kepada Allah. Terbukti sekarang orang-orang “terpaksa” kumpul keluarga di rumah saja. Yang laki-laki ada yang terpaksa menjadi imam. Maka mari kita terus mengkaji ayat-ayat Allah satu demi satu dan Hadits-hadits Rasulullah. Mudah-mudahan Allah memberikan ridhaNya agar kita mendapat Hidayah dan pelan-pelan kita amalkan.


Tak ada kata Terlambat sebelum nyawa belum sampai di Tenggorokan

Belum ada kata terlambat walaupun kita sudah tua. Terlambat itu kalau nyawa sudah di tenggorokan dan tidak bisa apa-apa. Kaki tangan sudah dingin dan nafasnya sudah satu-satu. Kesadaran mendekati koma, pandangan tidak jelas. Disitulah setan mulai menggoda secara intensif.

Rasulullah SAW bersabda :

لَقِّنُوا مَوْتَاكُمْ لَا إلَهَ إلَّا اللَّهُ } رَوَاهُ مُسْلِمٌ

“Ajarilah orang-orang yang hendak meninggal dunia di antara kalian ucapan laa ilah illallah.” (HR.Muslim).

Tapi ketika menalqin jangan terlalu sering dan jangan terlalu keras. Satu orang saja yang menalqin dan yang lainnya diam agar si sakit tidak bingung. Mudah-mudahan kita bisa meninggal dengan mengucap laa ilah illallah.

Nabi SAW bersabda,

مَنْ كَانَ آخِرُ كَلَامِهِ لَا إِلَهَ إِلَّا اللهُ دَخَلَ الجَنَّةَ

”Barangsiapa yang akhir perkataannya sebelum meninggal dunia adalah ‘lailaha illallah’, maka dia akan masuk surga” (HR. Abu Daud)

Namun hal ini tidak gampang, menurut penelitian terhadap 8000 pasien yang akan meninggal, hanya 16 orang yang dapat mengucapkan kalimat Tauhid.


Bersholawat Itu Penting

Kemarin tentang sholawat, juga disampaikan untuk banyak dibaca.
Riwayatnya adalah ketika turun ayat tentang sholawat atas Nabi.

Allah SWT berfirman:

 ۗ يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا صَلُّوْا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوْا تَسْلِيْمًا

“Wahai orang-orang yang beriman! Bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam dengan penuh penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab 56)

Kemudian ada sahabat bertanya, hal ini dalam hadits :

“Dari Ka’ab bin Ujrah r.a , bahwa para sahabat pernah bertanya, ‘Wahai Rasulullah, kami telah memahami tata cara memberi salam kepada Anda, lalu bagaimana cara memberi salawat kepada Anda?’ Nabi SAW bersabda, ‘Ucapkanlah,

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ ، اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَى مُحَمَّدٍ ، وَعَلَى آلِ مُحَمَّدٍ ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى آلِ إِبْرَاهِيمَ ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ’”

(HR Bukhori Muslim)

Sholawat ini perlu kita amalkan tiap hari untuk membawa kebaikan. Mungkin ada yang menambah kata “sayidina”, karena memang ada ulama yang memberi panduan, maka silahkan saja. Tetapi aslinya dari Rasul tak ada tambahan.

Hal ini tak perlu diperdebatkan. Kita perlu menjaga persatuan, jangan sampai terpecah belah.
Kenapa? Masyarakat kita dalam situasi yang tidak sehat, dalam Pemilu mereka memilih Pemimpin berdasarkan amplop uang yang diterima. Kita perlu mendidik masyarakat agar benar dalam memilih Pemimpin. Kalau umat islam tidak bersatu maka umat islam akan dihabisi oleh permainan uang. Na’audzubillahi min dzalik.
Ketika saya menyampaikan hal itu jangan dikira saya mendukung satu partai, tapi supaya masyarakat tahu cara memilih Pemimpin, bukanlah dengan memilih amplop.

Kembali pada fokus, kenapa kita harus bersholawat. Ada sebuah hadits bahwa dalam suatu majelis kita perlu bersholawat kepada Nabi

وَعَنْهُ ، عَنِ النَّبِيِّ – صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – ، قَالَ : (( مَا جَلَسَ قَوْمٌ مَجْلِساً لَمْ يَذْكُرُوا اللهَ تَعَالَى فِيهِ ، وَلَمْ يُصَلُّوا عَلَى نَبِيِّهِمْ فِيهِ ، إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ تِرَةٌ ؛ فَإنْ شَاءَ عَذَّبَهُمْ ، وَإنْ شَاءَ غَفَرَ لَهُمْ )) رَوَاهُ التِّرْمِذِي ،

Dari Abu Hurairah r.a meriwayatkan bahwa Nabi SAW bersabda, “Tidaklah suatu kaum duduk dalam suatu majelis yang mereka tidak menyebut nama Allah padanya dan tidak pula bershalawat kepada nabi-Nya, kecuali bagi mereka kekurangan. Maka, jika Allah menghendaki, Dia akan menyiksa mereka dan jika menghendaki Dia akan mengampuni mereka.” (HR. Tirmidzi)

Setiap kegiatan berjamaah, apapun jamaahnya apakah itu olah raga sepeda tentu dapat diterapkan hal ini, diawali basmalah dan sholawat. Mudah-mudahan tambah sehat.


Do’a agar anak cucu jadi Orang Sholeh

Kemarin telah kita sampaikan do’a Nabi Sulaiman ketika bertemu semut. Beliau memang dikaruniai kemampuan berbicara dengan hewan apapun.
Berikut ada do’a lain yang mirip dengan do’a Nabi Sulaiman tersebut :

رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًا تَرْضٰٮهُ وَاَ صْلِحْ لِيْ فِيْ ذُرِّيَّتِيْ ۗ اِنِّيْ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاِ نِّيْ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ


robbi auzi’niii an asykuro ni’matakallatiii an’amta ‘alayya wa ‘alaa waalidayya wa an a’mala shoolihang tardhoohu wa ashlih lii fii zurriyyatii, innii tubtu ilaika wa innii minal- muslimiin

” Ya Tuhanku, berilah aku petunjuk agar aku dapat mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku dapat berbuat kebajikan yang Engkau ridai; dan berilah aku kebaikan yang akan mengalir sampai kepada anak cucuku. Sungguh, aku bertobat kepada Engkau, dan sungguh, aku termasuk orang muslim.” (QS. Al-Ahqaf 15)

Do’a ini tak terbatas pada anak, tapi terus ke keturunan selanjutnya. Kita khawatir dengan keadaan masyarakat sekarang ini, kalau kita tidak mendoakan anak keturunan maka kata-kata Didi Kempot bisa jadi kenyataan : Ambyar!
Sekarang saja sudah ada masalah. Ada satu desa murtad ke agama lain, sampai 50% karena memang ada upaya memurtadkan, disamping juga dakwah kita tidak menjangkau kesana. Kita hanya melakukan dakwah Pasif Case Finding.

Do’a tidak cukup hanya dihafalkan saja, Do’a harus diresapi maknanya karena Allah tidak akan menerima do’a orang yang lalai. Hafal banyak do’a tapi tak tahu maknanya akan sia-sia belaka.


Qolbu Yang Sehat Pasti ada Rasa Malu

Harusnya umat islam unggul karena ditempa. Mudah-mudahan kita bisa meniru sifat itu dan nanti berguna untuk diri, keluarga dan masyarakat kita.

Hadits ke 20 tentang Malu :

الحَدِيْثُ العِشْرُوْنَ

عَنْ أَبِي مَسْعُوْدٍ عُقْبَةَ بْنِ عَمْرٍو الأَنْصَارِي البَدْرِي – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلاَمِ النُّبُوَّةِ الأُوْلَى: إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ” رَوَاهُ البُخَارِي.

Hadits Ke-20
Dari Abu Mas’ud ‘Uqbah bin ‘Amr Al-Anshari Al-Badri radhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Rasulullah SAW bersabda, ‘Sesungguhnya di antara perkataan kenabian terdahulu yang diketahui manusia ialah jika engkau tidak malu, maka berbuatlah sesukamu!’” (HR. Bukhari)

Abu Mas’ud dengan gelar Al Anshari karena beliau dari Medinah, kaum Anshor. Beliau juga digelari Al Badri karena tempat tinggal beliau di Badr tempat perang Badar.

“Faashna’ atau berbuatlah sesukamu! Itu bukan diperintah, tapi disindir. Dalam bahasa Jawa ada istilah “dilulu”.
Atau “Terserah kamu! Tapi rasakan kalau masuk neraka! “.
Ini kalimat nubuah, kalimat Nabi-Nabi sejak dulu. Jadi kita tidak boleh sembarangan, jangan sampai Tidak Punya Malu.

Sekarang ini ada krisis malu.
Allah memberikan peringatan keras terhadap orang yang tak punya malu berbuat maksiat :

اِنَّ الَّذِيْنَ يُلْحِدُوْنَ فِيْۤ اٰيٰتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا ۗ اَفَمَنْ يُّلْقٰى فِى النَّا رِ خَيْرٌ اَمْ مَّنْ يَّأْتِيْۤ اٰمِنًا يَّوْمَ الْقِيٰمَةِ ۗ اِعْمَلُوْا مَا شِئْتُمْ ۙ اِنَّهٗ بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari tanda-tanda kebesaran Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka yang lebih baik ataukah mereka yang datang dengan aman sentosa pada hari Kiamat? Lakukanlah apa yang kamu kehendaki! Sungguh, Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fussilat 40)

Ada hadits lain tentang malu :

عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانِ اْلأََنْصَارِيِّ  ، قَالَ : سَأَلْتُ رَسُوْلَ اللّٰـهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَنِ الْبِرِّ وَاْلإِثْمِ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ حُسْنُ الْـخُلُقِ ، وَاْلإِثْمُ مَا حَاكَ فِـيْ صَدْرِكَ وَكَرِهْتَ أَنْ يَطَّلِعَ عَلَيْهِ النَّاسُ. رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari an-Nawwâs bin Sam’ân al-Anshari, ia berkata: “Aku bertanya kepada Rasulullâh SAW tentang kebajikan dan dosa, maka beliau menjawab, “Kebajikan adalah akhlak yang baik dan dosa adalah apa yang membuat bimbang hatimu dan engkau tidak suka diketahui oleh manusia.” [HR. Muslim]

Nawwas bin Sam’an Al Anshori, berarti dia juga orang Madinah, karena gelar atau kunyahnya Al-Anshori. Berarti dia Orang yang menolong yang Hijrah. Kalau Muhajirin disebut tempatnya. Disana suku-sukunya diketahui.
Atau bin-nya panjang sekali, itu pentingnya kita mengetahui bagaimana Silsilah kita.

Harusnya kita bertanya ke orang tua, bagaimana Silsilah kita. Kita tahu ustadz Adi Hidayat bahkan beliau hafal silsilah K.H. Ahmad Dahlan yang nyambung sampai ke Rasulullah. Itu luar biasa, berarti ada catatannya.
Kita orang Jawa jarang yang tahu nama-nama nenek moyang kita. Namun meskipun demikian tetap kita doakan setiap habis shalat :

ﺍﻟﻠَّﻬُﻢَّ ﺍﻏْﻔِﺮْ ﻟِﻠْﻤُﺴْﻠِﻤِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺴْﻠِﻤَﺎﺕ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨِﻴﻦَ ﻭَﺍﻟْﻤُﺆْﻣِﻨَﺎﺕِ ﺍﻟْﺄَﺣْﻴَﺎﺀِﻣِﻨْﻬُﻢْ ﻭَﺍﻟْﺄَﻣْﻮَﺍﺕ

“Ya Allah, ampunilah seluruh kaum muslimin dan kaum muslimat, kaum mukminin dan kaum mukminat, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal”.[HR. At-Thabaroni].

Kembali ke hadits di atas :
Kebaikan itu adalah baiknya akhlak kita dan Dosa itu apa yang terbetik dalam dadamu yang kamu tak senang kalau diketahui manusia.

Alhamdulillah kita di Jawa sudah diajari oleh orang-orang tua kita. Kalau lewat dimuka orang tua agar membungkuk dan minta permisi.
Namun sekarang hal ini apa masih ada? Mari kita ajari anak cucu kita untuk berakhlak mulia.

Nabi SAW bersabda,

مَنْ لَمْ يَرْحَمْ صَغِيْرَنَا وَيَعْرِفْ حَقَّ كَبِيرَنَا فَلَيْسَ مِنَّا

“Barang siapa tidak menyayangi anak kecil kami dan tidak mengenal hak orang tua kami, dia bukan termasuk golongan kami.” (HR. al-Bukhari)

Perbuatan dosa itu tak ingin diketahui manusia. Berarti dosa itu membuat malu. Maka malu itu bagian dari isi Qolbu. Qolbu yang sehat pasti ada rasa malu. Kalau tak punya rasa malu itu krisis.


Hadits berikutnya :

وَعَنْ ثَعْلَبَةَ الْخُشَنِيِّ قَالَ : قُلْتُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ ، أَخْبِرْنِـيْ بِمَـا يَـحِلُّ لِـيْ وَ يَـحْرُمُ عَلَيَّ ؟ قَالَ : فَصَعَّدَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَصَوَّبَ فِيَّ النَّظَرَ ، فَقَالَ : اَلْبِرُّ مَا سَكَنَتْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَاطْمَأَنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَاْلإِثْمُ مَا  لَـمْ تَسْكُنْ إِلَيْهِ النَّفْسُ وَلاَ يَطْمَئِنَّ إِلَيْهِ الْقَلْبُ ، وَإِنْ أَفْتَاكَ الْـمُفْتُوْنَ

Dan dari Abu Tsa’labah al-Khusyani, ia berkata: Aku berkata, “Wahai Rasulullâh! Jelaskan apa saja yang halal dan haram bagiku.”

Dan kemudian Beliau SAW bersabda : “Mendekatlah”, sambil memandang.
(Ini hebatnya Rasulullah beliau kalau berbicara selalu mendekat dan berhadapan wajah – tak pernah melengos) .

Beliau bersabda :
“Kebajikan ialah apa saja yang apa saja yang menjadikan jiwa tenang dan hati menjadi tenteram. Dan dosa ialah apa saja yang menjadikan jiwa tidak tenang dan hati tidak tenteram kendati para pemberi fatwa berfatwa kepadamu.” [HR. Ahmad]

Jawaban Rasulullah ternyata banyak. Sehingga ketika dikumpulkan sahabat menjadi suatu ilmu.

Kebaikan adalah apa-apa yang membuat Nafs menjadi tenang dan Qolbu menjadi tenteram.
Dosa adalah apa-apa yang membuat jiwa tidak tenang dan hati tidak tenteram walaupun diberi fatwa. (Misalnya ada yang bilang tidak apa-apa berbuat itu, tetap saja dalam hati timbul rasa tidak tenteram).

Imam Al Ghozali pernah dipanggil Sultan untuk dijadikan Hakim. Hatinya tidak bahagia karena ada penekanan misalnya membenarkan orang yang salah atau menyalahkan orang yang benar. Selain itu beliau ingin mendirikan madrasah. Akhirnya beliau mengundurkan diri dari jabatan Hakim.
Tindakan Imam Al Ghozali ini adalah tindakan Menjaga Qolbu yang kemarin kita bahas. Bila kita tidak kuat, maka lebih baik kita menghindar agar tidak tertular dosa.


Jujur itu adalah Fithrah

Ada hadits :

كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ

“Setiap anak yang lahir dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Majusi, atau Nasrani.”

Tanggung jawab orang tua adalah membuat anak-anaknya tetap dalam keimanan. Dengan anak keturunan yang beriman mereka akan mendoakan orang tua yang meninggal. Kalau mereka sampai murtad maka hubungan akan terputus. Maka kita perlu untuk saling mengingatkan. Anaknya diajak untuk bergabung ke majelis taklim.

Ada Hadits pendek tentang Jujur :
Inna shidqo tumakninatun wal kadziba ribbatun.

Kalau ada orang bergelimang dosa berarti qolbunya telah mati. Ada yang puluhan tahun korupsi, uangnya disimpan dalam dinding tembok. Pasti dia sudah lama korupsi. Qolbunya sudah mati. Dia masuk dalam surat Al Baqarah ayat 6 :

اِنَّ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا سَوَآءٌ عَلَيْهِمْ ءَاَنْذَرْتَهُمْ اَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُوْنَ

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, engkau (Muhammad) beri peringatan atau tidak engkau beri peringatan, mereka tidak akan beriman.”(QS. Al-Baqarah 6)

Jangan sampai kita kesana. Hati harus kita jaga, kita obati dengan dzikrullah dan fikrullah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here