Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

6 Dzulhijjah 1441/ 27 Juli 2020


Sedemikian pentingnya Qolbu sampai Allah SWT mengulang-ulang FirmanNya yang berisi tentang masalah Qolbu sebanyak 132 kali baik dalam bentuk isim maupun fi’il. Ada juga yang mencatat sampai ditambah 36. Jadi 132 dalam bentuk isim dan 36 dalam bentuk fiil. Ini melampaui banyaknya Firman Allah tentang shalat. Hal ini menunjukkan pentingnya Qolbu.

Ulama membagi derajat keislaman menjadi tiga : Islam, Iman dan Ihsan. Orang yang Ihsan otomatis dia Iman dan Islam. Orang yang Iman otomatis Islam tapi belum Ihsan.

Definisi Ihsan adalah :

أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .

“Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Kita harus belajar mencapai kesana, salah satunya adalah dengan membentuk qolbu menjadi Qolbun Salim. Yang paling utama dari Qolbun Salim harus ada khosyah (rasa takut disertai ilmu, taqwa, khouf) kepada Allah.

Qolbun Salim dibangun dengan fikrullah dan ilmu.
Orang yang berilmu hanya dalam bentuk superfisial, misalnya kemarin disebut hafal Al Qur’an 30 juz bisa jadi tingkah lakunya tidak cocok dengan ayat-ayat yang dihafalkannya. Dan ternyata memang hafalan Al Qur’an bisa hilang kalau tidak di muroja’ah terus. Kita bergabung dalam pengajian ini juga dalam rangka semacam muroja’ah ilmu.


Akhirat Lebih Besar Dari Dunia

Ada yang mengatakan bahwa akhirat dan dunia itu seimbang. Keliru! Tidak seimbang. Akhirat itu sangat besar sekali. Mungkin maksud dari kalimat akhirat dan dunia seimbang untuk mengingatkan agar tidak mengurusi dunia saja. Akhirat harus juga difikirkan. Allah SWT menjelaskan bahwa akhirat jauh lebih besar dari pada dunia.

Allah SWT memberikan kasih sayang dan kemurahan baik kepada golongan yang memikirkan akhirat maupun golongan yang hanya peduli pada dunia.

كُلًّا نُّمِدُّ هٰۤؤُلَآ ءِ وَهٰۤؤُلَآ ءِ مِنْ عَطَآءِ رَبِّكَ ۗ وَمَا كَا نَ عَطَآءُ رَبِّكَ مَحْظُوْرًا

“Kepada masing-masing golongan, baik golongan ini maupun golongan itu , Kami berikan bantuan dari kemurahan Tuhanmu. Dan kemurahan Tuhanmu tidak dapat dihalangi.” (QS. Al-Isra’ 20)

Ketetapan Allah berlaku bagi siapa saja dan tak dapat dihalangi oleh siapapun.

Kita ingat ada suatu hadits :
“Ketahuilah, seandainya seluruh umat bersatu untuk memberimu suatu keuntungan, maka hal itu tidak akan kamu peroleh selain dari apa yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan andaipun mereka bersatu untuk melakukan sesuatu yang membahayakanmu, maka hal itu tidak akan membahayakanmu kecuali apa yang telah Allah tetapkan untuk dirimu”. (HR Tirmidzi)

Maka kita perlu berdo’a agar kita rela hati menemui ketentuan Allah.

Selanjutnya Allah SWT berfirman:

اُنْظُرْ كَيْفَ فَضَّلْنَا بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ ۗ وَلَـلْاٰ خِرَةُ اَكْبَرُ دَرَجٰتٍ وَّاَكْبَرُ تَفْضِيْلًا

“Perhatikanlah bagaimana Kami melebihkan sebagian mereka atas sebagian yang lain. Dan kehidupan akhirat lebih tinggi derajatnya dan lebih besar keutamaannya.” (QS. Al-Isra’ 21)

Dan Allah telah menetapkan bahwa memang ada golongan di dunia yang diberi lebih banyak dari yang lain. Dalam FirmanNya disebutkan bahwa Kaum Yahudi diberi kelebihan dari manusia yang lain. Hal ini sampai dua kali disampaikan oleh Allah SWT.

Dalam ayat di atas jelas bahwa Akhirat itu Akbar. Derajatnya paling tinggi. Maaf kadang ada manusia yang keliru memberi nama anaknya dengan Akbar. Sebenarnya Akbar adalah miliknya Allah.

Mulai sekarang kita jangan fokus pada dunia saja. Fokus pada akhirat harus lebih besar.


Di Akhirat Kehidupan yang Sesungguhnya

Allah SWT berfirman:

وَمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَاۤ اِلَّا لَهْوٌ وَّلَعِبٌ ۗ وَاِ نَّ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ لَهِيَ الْحَـيَوَا نُ ۘ لَوْ كَا نُوْا يَعْلَمُوْنَ

“Dan kehidupan dunia ini hanya senda gurau dan permainan. Dan sesungguhnya negeri akhirat itulah kehidupan yang sebenarnya, sekiranya mereka mengetahui.” (QS. Al-‘Ankabut 64)

Ayat tentang akhirat selalu disertai penegasan “lam taukid” atau “inna” maksudnya pasti dan pasti terjadi.

Usia bumi menurut ilmu pengetahuan adalah 4,5 milyar tahun. Mungkin matahari sama. Bayangkan betapa susahnya seorang pendosa yang di zaman Nabi Adam.
Sekarang ini dia 4,5 milyar tahun berada di alam Barzah. Betapa lamanya meskipun dulu manusia dizaman Nabi Adam usianya 1000 tahun. Kalau umur rata-rata umat Nabi Muhammad adalah antara 60-70 tahun.

Dia pendosa di zaman Nabi Adam terus mendapat siksaan selama milyaran tahun. Maka ini pelajaran bagi kita. Lebih baik memilih di alam Barzah tanp siksaan. Supaya tanpa siksaan kita harus iman, islam, beramal sholeh serta menjaga agar dijauhkan dari siksa kubur.

Kita juga bisa mendoakan agar yang mendahului kita tidak mendapat siksa kubur :
“Wa a’idzhu min ‘adzaabil qabri au min ‘adzaabin naar”. (Dan lindungilah ia dari siksa kubur atau siksa api neraka).

Siksaan neraka belum dijalani tetapi siksa kubur sudah ada. Waktunya lama dan kita tak tahu kapan berakhirnya karena kiamat hanya Allah yang tahu.
Maka kita fokus mengurusi akhirat, tapi jangan meninggalkan dunia. Perintah Allah juga begitu :

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا

“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia…”
(QS. Al-Qasas 77)

Untuk mencapai kehidupan akhirat dan kehidupan dunia yang baik Rasulullah mengajarkan do’a :

Allahumma ashlih li dini alladzi huwa ‘ishmatu amri wa ashlih li dun-yaya allati fiha ma ‘asyi, wa ashlih li akhirati allati fiha ma’adi waj’allil hayata ziyadatan li fi kulli khairin, waj ‘alil mauta rahatan li min kulli syarrin

“Ya Allah, perbaikilah urusan agamaku yang menjadi pegangan bagi setiap urusanku. Perbaikilah duniaku yang di situlah urusan kehidupanku. Perbaikilah akhiratku yang ke sanalah aku akan kembali. Jadikanlah hidupku ini sebagai tambahan kesempatan untuk memperbanyak amal kebajikan, dan jadikanlah kematianku seba­gai tempat peristirahatan dari setiap kejahatan.” (HR Muslim dan Tirmidzi)

Do’a yang diajarkan Rasulullah tadi isinya luar biasa :

“aslih li dini alladzi huwa ‘ishmatu amri”

Seluruh urusan itu bentengnya adalah agama. Tolok ukur dalam hidup kita adalah agama.

Ada orang yang sok berkata : “Jangan bawa-bawa agama dalam urusan politik”. Maka dia termasuk golongan orang yang tersesat. Karena dia sudah tak mau diatur oleh agama.
Kalau dia mengaku mukmin dan berdo’a mohon pertolongan Allah, kira-kira malaikat yang mencatat juga meragukan apa dia mukmin?

Kita jangan sampai ngomong begitu. Omongan itu menunjukkan hatinya.
Kata A’a Gym hati ibarat Teko isi air. Teko yang baik mengeluarkan Teh atau Kopi. Jangan sampai Teko mengeluarkan air comberan.

“wa aslih li dun-yaya allati fiha ma ‘asyi”

Dunia ini tempat kita berkarya mencari nafkah, kita mohon agar dibaguskan. Ada yang menjadi Tentara, kalau tak ada perang mereka latihan. Kebetulan saya tetangganya, kalau mereka latihan kami mendapat manfaat karena kedisiplinan mereka jadi kita tahu waktu.

Yang jadi dokter juga mencari penghasilan di dunia. Maka pada kesempatan hari-hari istimewa 10 hari pertama bulan Dzulhijjah saya mengusulkan agar dokter menggratiskan biaya praktek, karena dia kan juga dapat jasa lain dari Rumah Sakit.

Misalnya yang lain, konsultan IT mendiskon taripnya selama 1-10 Dzulhijjah, yang jualan makanan mungkin menggratiskan apa begitu itu semua akan menjadi shodaqoh. Dan shodaqoh di awal 10 hari pertama bulan Dzulhijjah pahalanya luar biasa :

Rasûlullâh SAW bersabda:
“Tidak ada hari dimana suatu amal shâlih lebih dicintai Allâh Azza wa Jalla  melebihi amal shâlih yang dilakukan di hari-hari ini (yakni sepuluh hari pertama Dzulhijjah)“. Para sahabat bertanya, “Wahai Rasûlullâh, termasuk lebih utama dari jihad di jalan Allâh?” Nabi SAW bersabda, “Termasuk lebih utama dibanding jihad di jalan Allâh, kecuali orang yang keluar dengan jiwa dan hartanya (ke medan jihad) dan tidak ada satu pun yang kembali (ia mati syahid)”. (HR Bukhori, Tirmidzi, Abu Dawud).

wa ashlih li akhirati allati fiha ma’adi

Kita akan kembali ke akhirat, bukan ke Surga. Surga itu kalau beruntung diberi rahmat Allah dan amalnya baik. Tapi kalau terpeleset bisa masuk ke neraka, na’audubillahi min dzalik.
Jadi berita di WA bahwa kita penduduk Surga , kelak kita pulang kampung ke Surga. Kok enak aja? Untuk masuk Surga itu kita harus menempuh ujian yang luar biasa di dunia, di akhirat dan di sirothol mustaqim.

waj’allil hayata ziyadatan li fi kulli khairin

Jadikanlah dunia ini tempat untuk menabung tambahan kebaikan untuk nanti bekal akhirat.

waj ‘alil mauta rahatan li min kulli syarrin

Jadikanlah kematianku akhir dari keburukan di bumi.
Di bumi banyak orang kecewa. Ada yang kecewa karena yang dipilih dalam Pemilu dikira baik ternyata mengecewakan. Dan masih banyak lagi penyebab kecewaan yang lain.

Demikianlah kehidupan di dunia ini, sampai Rasulullah SAW bersabda
dari Sahl bin Sa’id as-Sa’idi r.a

لَوْ كَانَت الدُّنْيَا تَعْدِلُ عِنْدَ الله جَنَاحَ بَعُوضَةٍ ، مَا سَقَى كَافِراً مِنْهَا شَرْبَةَ مَاءٍ

“Seandainya dunia ini di sisi Allah senilai harganya dengan sayap nyamuk niscaya Allah tidak akan memberi minum barang seteguk sekalipun kepada orang kafir” (HR. Tirmidzi)

Ini menunjukkan bahwa dunia lebih hina dari itu, sehingga Allah masih memberi minum baik kepada orang mukmin maupun tidak beriman.


Usaha Kita Agar Berbahagia di Akhirat harusnya Lebih Kenceng

1. Merawat Hati

Salah satunya adalah dengan mengikuti kajian ini untuk merawat hati. Merawat Hati juga dengan berdzikir seperti yang telah disampaikan kemarin.
Dan ada juga do’anya, contohnya adalah do’a Nabi Sulaiman, agar kita tetap dimasukkan dalam golongan orang sholeh :

رَبِّ اَوْزِعْنِيْۤ اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْۤ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَا لِدَيَّ وَاَ نْ اَعْمَلَ صَا لِحًـا تَرْضٰٮهُ وَاَ دْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَا دِكَ الصّٰلِحِيْنَ

“Ya Tuhanku, anugerahkanlah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.” (QS. An-Naml 19)

Menjadi orang sholeh itu enak karena selalu didoakan orang pada saat shalat, yaitu pada saat duduk Attahiyat : “Assalamu alaina wa ala ibadillahish sholihin”.
Ternyata sekelas Nabi Sulaiman saja masih berdo’a untuk jadi orang sholeh.
Kemudian adalagi do’a Rasulullah seperti telah ditulis diatas.

2. Menjaga Hati Agar Tidak Tertular

Yang dari Kedokteran mesti tahu, kalau tubuh kita punya daya tahan terhadap sakit, pada saat pandemi seperti ini (mungkin karena sudah divaksinasi) maka kan sebetulnya tidak perlu proteksi, tidak perlu pakai masker.
Tapi kalau kita ragu, kita tidak kuat terhadap wabah maka yang kita jalankan adalah menghindari wabah penyakit agar jangan sampai ketularan.

Hal ini juga berlaku untuk aqidah, untuk hati, untuk prinsip.

Dulu di Turki tahun 2013 masih banyak wanita memakai You Can See, sekarang tahun 2020 sudah berubah. Orang Turki kembali religius seperti nenek moyangnya dulu yang memang islamnya baik, ada Kekhalifahan Turki Utsmani. Bahkan sekarang Museum Hagia Sophia alhamdulillah bisa diubah lagi menjadi masjid.

Intinya jangan kumpul komunitas yang aneh-aneh untuk menjaga hati.
Misal saja awalnya bagus, hanya nggowes bersepeda sama-sama tapi setelah selesai makan-makan kholesterol tinggi dan minum khamr. Komunitas seperti itu tak perlu diikuti. Karena lama-lama akan ketularan minum khamr. Kumpul orang yang tidak shalat lama-lama juga akan ketularan tidak shalat.

Menjaga hati harus mencari partner yang dapat mengembalikan kita untuk selalu taat kepada Allah. Mengingat bahwa akhirat itu lebih penting. Dunia ini hanya “lahwun wa laibun”.

3. Selalu Menata Niat

Setelah itu niatnya ditata. Ibadahnya ditingkatkan terus kualitasnya. Kalau ada Rumah Sakit yang diakreditasi, ibaratnya ibadah kita juga harus diakreditasi. Ibadahnya harus memenuhi standard yang ditetapkan.

4. Membuat Standard Ibadah


Kemarin saya sampaikan kalau shalat sendiri lamanya dan bagusnya harus sama dengan shalat kalau dilihat orang. Kalau perlu justru saat shalat sendiri kita harus lebih panjang. Kalau menjadi imam kita perhatikan jamaah, kalau ada orang tua jangan lama-lama berdirinya. Siapa tahu dia rheumatik.

5. Memohon agar Amal Diterima

Berikutnya kita memohon kepada Allah agar amalan-amalan kita dengan segala kekurangannya diterima oleh Allah. Karena amalan kita pasti tidak sempurna. Kata A’a Gym kita harus menjaga kekhusyukan.
Khusyuk itu ibarat seperti orang mengemudi mobil. Kalau tiba-tiba stir miring ke kanan, kita kembalikan ke jalan lurus. Kalau stir sampai dilepaskan, maka kendaraan akan tak terkendali. Kita kendalikan juga cepat dan lambatnya gas dan rem agar kita aman, ini untuk mempertahankan energi.

6. Menambah Do’a Penutup

Jangan lupa setiap berdo’a atau beramal, ujungnya ditambah dengan do’a Nabi Ibrahim :

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا  ۗ اِنَّكَ اَنْتَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمُ

robbanaa taqobbal minnaa, innaka antas-samii’ul-‘aliim
“Ya Tuhan kami, terimalah amal dari kami. Sungguh, Engkaulah Yang Maha Mendengar, Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah 127)

Setiap penutup do’a para ulama menganjurkan begitu. Kadang belakangnya ditambah :

“Rabbighfirlii wa tub ‘alayya innaka antat tawwabur rahim.” 
“Wahai Rabbku ampunilah diriku dan berilah taubat kepadaku, sesungguhnya Engkau Mahapemberi taubat dan Mahapenyayang”- (HR Ahmad).

Ada lagi yang ditambah :

سُبْحٰنَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُوْنَ ۚ  وَسَلٰمٌ عَلَى الْمُرْسَلِيْنَ ۚ  وَا لْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ

sub-haana robbika robbil-‘izzati ‘ammaa yashifuun wa salaamun ‘alal-mursaliin wal-hamdu lillaahi robbil-‘aalamiin.

“Maha Suci Tuhanmu, Tuhan Yang Maha Perkasa dari sifat yang mereka katakan. Dan selamat sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah Tuhan seluruh alam.” (QS. As-Saffat Ayat 180-182)

7. Menjaga Urusan Dunia (Menjaga akhlak)

Tidak hanya dengan manusia saja, tapi juga dengan makhluk lain. Akhlak perbuatan mencakup perbuatan dengan Allah, dengan binatang, dengan tumbuh-tumbuhan dan sebagainya. Akhlak kita, kita perbaiki. Dengan Nabi kita hormat, kita memberi shalawat dan salam.

8. Menelaah Strategy Ibadah Yang efektif dan efisien

Mungkin kita sedang sibuk, tapi kita bisa ibadah yang paling luar biasa.
Misalnya dengan tasbih, tahlil, takbir dan tahmid.
Pada waktu kita sibuk menyetir mobilpun bisa dilakukan. Ketika mobil menanjak kita diperintah untuk Takbir, ketika jalan menurun kita diperintah membaca Tasbih.

“Rasulullah SAW dan para sahabatnya biasa jika melewati jalan mendaki, mereka bertakbir (mengucapkan “Allahu Akbar”). Sedangkan apabila melewati jalan menurun, mereka bertasbih (mengucapkan “Subhanallah”).”

Banyak taushiyah di You Tube, di WA yang bisa kita amalkan. Kalau pagi berdzikir dengan lafal :

 سبحان الله وبحمده سبحان الله العظيم

  “Subhanallah Wa Bihamdihi Subhanallahil Adzim”, Artinya “Maha Suci Allah dengan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah yang Maha Agung.”
(HR Bukhori Muslim)

Dzikir itu dibaca 100 kali dalam sehari, boleh sambil bekerja.


Merawat Hati Secara Kolektif

Kita harus selalu berjamaah, jangan sampai sendirian. Kalau lama sendirian ujiannya berat, setan akan senang karena mendapatkan sasaran empuk.

Rasulullah SAW bersabda :
“…’Alaikum Bil Jamaa’ah, Wa Iyyaakum Wal Firqoh, Fa-innasy Syaithoona Ma’al Waahid(i) , Wahuwa Minal Itsnaini Ab’ad(u), Man Arooda Buhbuuhatal Jannati Falyalzamil Jamaa’ah

Artinya:
Nabi SAW, bersabda: 
“Kamu sekalian menetapilah pada Al-Jama’ah, dan takutlah kamu sekalian pada Al-Firqoh, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang dan syetan itu akan menjauh dari dua orang, dan barangsiapa yang ingin berada di tengah-tengah surga maka hendaklah dia menetapi Al-Jama’ah”. – (HR.Tirmidzi).

Bagaimana cara mencari jamaah?
Ada beberapa cara untuk mencari jamaah.

1. Memilih Tetangga.

Orang Arab mempunyai pepatah :
“Al-Jaar qobla ad-Daar”
artinya, “Memilih Tetangga Sebelum Membeli Rumah”.
Ini tentu saja kalau mampu, memilih tetangga yang baik dan beriman. Bayangkan kalau kita ditengah lingkungan tak seiman. Kalau mati siapa yang akan menyolati?
Kalau kita tak mampu memilih tetangga maka kitalah yang harus mengembangkan lingkungan , supaya terbentuk masyarakat seiman yang saling mengingatkan.

2. Memilih Teman


Jangan sembarangan berteman. Terutama yang muda. Dulu saya punya ustadz, ketika mau membikin kelas ternyata sulit cari teman. Itu resikonya mengaji, makin tinggi kelasnya makin sulit cari partner. Akhirnya saya ngaji sendiri, ngaji Kitab Kuning dengan tulisan Arab “gundul”.

Rasulullah SAW bersabda :

المرء على دين خليله فلينظر أحدكم من يخالل

“Agama Seseorang sesuai dengan agama teman dekatnya. Hendaklah kalian melihat siapakah yang menjadi teman dekatnya.” (HR. Abu Daud dan Tirmidzi)

Ustadz saya memberi nasehat kepada saya :
– Jagalah agamamu
– Pilihlah temanmu yang baik-baik.

Jadi kalau ada ungkapan : “Berteman itu jangan pilih-pilih”. Itu menyesatkan, kita harus hati-hati. Pilih yang bisa menjaga hati, yang bisa menjaga aqidah iman dan islam. Nanti kita akan diingatkan.

Ada petunjuk dalam lagu Jawa :
“Wong kang soleh kumpulono”
Itu bukan main-main, harus kita ikuti untuk menjaga kesalehan hati, kesalehan ibadah, terus menerus sampai akhir hayat kita terjaga.
Hati-hati, jangan ikut-ikutan apa kata orang. Apalagi saat ini penuh dengan tipu daya : Ada JIL, ada kejahatan, penuh dengan tipu daya, kapling bodong, saham kosong.
Mudah-mudahan kita dan anak keturunan kita selamat.

3. Jangan Melupakan Al Qur’an

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا النَّا سُ قَدْ جَآءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَآءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِ ۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ

“Wahai manusia! Sungguh, telah datang kepadamu pelajaran (Al-Qur’an) dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit yang ada dalam dada, dan petunjuk serta rahmat bagi orang yang beriman.” (QS. Yunus 57)

Shuduur adalah bentuk jamak dari as-shadr (dada).

Allah SWT berfirman:

وَنُنَزِّلُ مِنَ الْـقُرْاٰ نِ مَا هُوَ شِفَآءٌ وَّرَحْمَةٌ لِّـلْمُؤْمِنِيْنَ ۙ وَلَا يَزِيْدُ الظّٰلِمِيْنَ اِلَّا خَسَا رًا

“Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an yang menjadi penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.” (QS. Al-Isra’ 82)

Ayat ini lanjutan dari ayat perintah untuk shalat Tahajud (ayat 79) agar mendapatkan maqom yang terpuji. Maqom itu bukan jabatan di dunia.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here