Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

5 Dzulhijjah 1441/ 26 Juli 2020



Karena pentingnya qolbu, maka kita akan melanjutkan bahasan tentang qolbu sebagai pengendali manusia.
Dalam Surat As Syam, Allah sampai bersumpah bahwa Qolbu dilengkapi dengan Taqwa dan Fujur atau kefasikan. Imam Al Ghozali mendefinisikan sebagai Sifat Kebuasan, Sifat Kebinatangan dan Sifat Kesyaithonan. Tapi masih untung kita diberi Sifat KeTuhanan.
Maka mari kita mengasah terus Sifat KeTuhanan. Salah satunya dengan mengikuti pengajian seperti ini.

Kemarin kita juga membahas sebagian Hadits Jibril. Kenapa disebut dengan Hadits Jibril? Hal itu karena ada penjelasan Rasul diujung hadits tadi. Yang perlu kita fahami adalah bahwa Iman dan Ihsan itu letaknya ada di Qolbu. Hal itu menunjukkan keunggulan Qolbu atas amal perbuatan. Oleh karena itu betapa pentingnya untuk terus menjaga dan mengendalikan Qolbu. Jangan sampai terbalik kita dikendalikan oleh Hawa atau An Nafs.

Kalau hanya melakukan amal perbuatan, itu hanya Islam. Shalatnya terlihat, Hajinya juga terlihat dan sebagainya. Iman tak bisa dideteksi tapi bisa terbukti. Misalnya seperti Bilal terbukti imannya kuat, meski disiksa luar biasa sampai tak dapat bicara. Tapi dia tetap mengisyaratkan dengan jarinya menunjuk : “Allahu Ahad!”

Ulama membuat tingkatan dari terendah adalah Islam, kemudian Iman dan tertinggi adalah Ihsan. Kita harus berusaha menggapai Ihsan. Salah satu cara misalnya kita membuat standard sendiri, kalau Shalat sendiri lamanya harus sama dengan shalat kita di muka umum. Kalau kita shalat lama dimuka umum tapi saat shalat tersembunyi dengan cepat , berarti kita sedang menipu diri sendiri dan menipu Allah. Rasulullah SAW sampai mengatakan orang yang shalatnya cepat ibarat pencuri.

Latihan untuk shalat dengan baik, lama dan khusyuk harus terus dilakukan. Dulu ada pelatihan shalat Khusyuk tapi menurut saya kurang tepat. Karena shalat khusyuk tak dapat dilatih secara masal. Yang bisa melatih adalah diri sendiri dengan berusaha selalu mengikuti taushiyah, tidak bergeming dari situasi khusyuk apapun yang kita alami.
Apakah kita sibuk atau tidak kita harus menjaga durasi shalat dan ritmenya sama, karena shalat itu yang paling utama.

الصَّلاةُ عِمادُ الدِّينِ ، مَنْ أقَامَها فَقدْ أقَامَ الدِّينَ ، وَمنْ هَدمَها فَقَد هَدَمَ الدِّينَ

“Sholat merupakan tiang agama, barang siapa yang menegakkan shalat, maka dia telah menegakkan agamanya dan barangsiapa yang merobohkannya, berarti ia telah merobohkan agamanya”.(HR. Al Baihaqi)

Dalam hadits lain Rasulullah bersabda:

رأسُ الأَمرِ الإِسلامُ، وعَمُودُهُ الصلاةُ، وذُرْوَةٌ سَنَامِهِ الجِهَادُ في سَبِيلِ اللهِ

“Pokok perkara adalah Islam, tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad fi sabilillah.” (HR Tirmidzi) .


Hadits Jibril

Kita akan melanjutkan Hadits Jibril, karena ini penting sekali. Karena untuk memahami peristiwa itu perlu dengan iman.

Orang asing yang datang kepada Rasulullah SAW saat itu dengan pakaian putih dan rambutnya hitam terus bertanya kepada Rasulullah SAW. Anehnya sahabat tak ada yang kenal dia, logikanya harus tahu karena kota Madinah saat itu kecil dan semua orang saling kenal.

قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ السَّاعَةِ، قَالَ: مَا الْمَسْؤُوْلُ عَنْهَا بِأَعْلَمَ مِنَ السَّائِلِ. قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنْ أَمَارَاتِهَا، قَالَ أَنْ تَلِدَ اْلأَمَةُ رَبَّتَهَا وَأَنْ تَرَى الْحُفَاةَ الْعُرَاةَ الْعَالَةَ رِعَاءَ الشَّاءِ يَتَطَاوَلُوْنَ فِي الْبُنْيَانِ، ثُمَّ انْطَلَقَ فَلَبِثْتُ مَلِيًّا، ثُمَّ قَالَ : يَا عُمَرَ أَتَدْرِي مَنِ السَّائِلِ ؟ قُلْتُ : اللهُ وَرَسُوْلُهُ أَعْلَمَ . قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

Kemudian dia berkata, “Beritahukan aku tentang hari kiamat (kapan terjadinya).” Beliau menjawab, “Yang ditanya tidaklah lebih mengetahui dari yang bertanya.” Dia berkata, “Beritahukan kepadaku tentang tanda-tandanya?“ Beliau menjawab, “Jika seorang budak melahirkan tuannya dan jika kamu melihat orang yang sebelumnya tidak beralas kaki dan tidak berpakaian, miskin dan penggembala domba, kemudian berlomba-lomba meninggikan bangunan,” Orang itu pun pergi dan aku berdiam lama, kemudian Beliau bertanya, “Tahukah kamu siapa yang bertanya tadi?” Aku menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu dengan maksud mengajarkan agamamu.” (HR. Muslim)

Dari hadits tersebut jelas bahwa Rasulullah SAW tak tahu kapan kiamat akan terjadi. Siapapun yang mengaku tahu kapan terjadinya kiamat , Ruh atau yang ghoib harus diingkari. Mereka itu mungkin dapat berita dari jin atau setan. Mereka itu adalah salah satu thogut. Dalam Surat Al Baqarah ayat 256 kita diperintahkan untuk mengingkari Thogut.

Kadang-kadang ada yang komentar, bahwa omongan Dukun itu banyak benarnya. Itu tak perlu kita perhatikan karena Jin pembisik mereka menurut Rasulullah ada yang mencuri informasi dari langit. Dari 100 yang dicuri mungkin ada yang benar 1. Karena mereka diusir para Malaikat.

Ketika Rasulullah SAW ditanya tentang tanda Kiamat beliau menyebutkan tanda-tanda kiamat yang mungkin sekarang dapat kita rasakan, antara lain :
– Orang tua yang takut, tak berani menyuruh anaknya.
– Orang yang miskin tapi berlomba membuat rumah yang bagus.

Kemudian orang asing itu pergi, tak dijelaskan apa mengucapkan salam atau tidak. Semua sahabat diam, suasana mencekam.

Akhirnya Rasul bertanya pada sahabat, apa ada yang tahu siapa orang tadi?
Sahabat menjawab wallahu alam. Jawaban ini menjadi contoh pelajaran bagi kita bila kita ragu terhadap apa yang kita sampaikan.

Akhirnya Rasul memberi tahu bahwa tamu tadi adalah Jibril. Beliau datang dalam rangka mengajarkan ilmu kepada Sahabat. Dari sini ibrah yang kita ambil adalah bahwa Rasulullah memberi contoh Proses Diskusi adalah salah satu cara untuk pembelajaran.
Demikianlah maka hadits tadi terkenal dengan nama Hadits Jibril.


Target Kita Bertemu Allah di Hari Akhir Dengan membawa Qolbun Salim

Kemarin sudah disampaikan bahwa setiap maksiat membuat noda hitam pada hati. Kita harus menjaga agar hati tetap bersih. Karena kelak harta benda dan anak-anak tak ada manfaatnya. Yang bermanfaat adalah hati yang bersih. (QS. Asy-Syu’ara’ Ayat 88-89)

Bagaimana Cara Membersihkan Hati?

Isi Hati Yang Sehat

– Mahabbah (rasa cinta kepada Allah)
– Cinta kepada apa yang dicintai Allah , bisa berupa makhluk, tempat atau amalan.
– Rasa Takut kepada Allah
– Dan takut berbuat apa yang dibenci Allah
– Benci kepada yang dibenci Allah.

1. Cinta Kepada Allah


Cinta kepada Allah dapat dibangun dengan Dzikirullah dan Fikrullah.
Kalau berfikir tentang Allah kita tidak mampu. Kalau fikrullah adalah berfikir tentang keagungan ciptaan Allah.

Orang yang sekolah di kedokteran bisa berfikir tentang betapa hebatnya tubuh manusia. Makin banyak belajar, kita makin tahu bahwa diri kita bodoh. Satu sel saja dari tubuh manusia tak habis-habisnya dipelajari. Terus lahir temuan baru oleh para ahli. Kemudian kita bisa menyimpulkan bahwa hal ini tak mungkin kalau tak ada yang menciptakan? Yang menciptakan pasti Maha Segalanya.

Tubuh manusia itu benar-benar sangat komplex tapi tidak ada yang korsluiting. Tubuh kita tidak akan eror ketika menikmati berbagai makanan. Lambung tidak bingung menerima nasi, telur, sayur dan lauk yang lain. Dia menerima, dia mengolah kemudian diusus diserap itu otomatis diurusi lambung. Kita tidak ikut campur, tugas kita cuma menelan.

Perkara menelan ini juga jangan disepelekan. Ada orang yang terkena stroke kemudian tak bisa menelan. Akhirnya masuk rumah sakit cukup lama.

2. Cinta Kepada Apa Yang Dicintai Allah

Ini harus sinergi, semua jadi satu. Allah mencintai Nabi kita. Kita juga harus mencintai Nabi Muhammad SAW.

Allah SWTberfirman :

قُلْ اِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّوْنَ اللّٰهَ فَا تَّبِعُوْنِيْ يُحْبِبْكُمُ اللّٰهُ وَيَغْفِرْ لَـكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَا للّٰهُ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Katakanlah Muhammad , Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Ali ‘Imran 31)

Jadi kita harus mengikuti sunahnya Nabi Muhammad SAW.

3. Khouf (Rasa Takut Kepada Allah)

Salah satu caranya membersihkan hati adalah bagaimana kita mengisi hati kita dengan Khouf. Jadi yang menjadi tolok ukur seseorang bukan pada ilmunya yang banyak, tapi adanya rasa Khouf. Ilmu yang tidak menimbulkan rasa Khouf (takut) kepada Allah tak ada manfaatnya. Ilmu yang sia-sia.

Menurut para ulama : Bukanlah banyaknya hafalan Al Qur’an, bukanlah banyaknya hafalan Hadits yang terpenting, tapi bagaimana dengan ilmunya dia bisa terbentuk menjadi manusia mukmin yang takut kepada Allah. Atau bahasa singkatnya Iman dan Taqwa. Ada yang mengatakan banyak orang hafal Al Qur’an tapi tidak mengamalkannya. Wallohu alam. Kita hindari hal itu kita periksa qolbu kita masing-masing.

Salah satu cara membentuk rasa takut yang pernah saya sampaikan adalah berfikir tentang Matahari.
Betapa panasnya matahari yang menurut para ahli suhunya 25.000 derajat. Bayangkan betapa panasnya karena kalau kita menanak nasi, air mendidih itu 100 derajat. Bagaimana 25.000 derajat itu? Dan tidak habis-habis jutaan tahun. Berarti disitu untuk tenaga membakarnya tidak habis-habis. Bagaimana caranya ? Terus Neraka bagaimana caranya ? Akhirnya kita timbul rasa khouf yang ujungnya adalah taqwa.

4. Takut berbuat apa yang dibenci Allah

Allah benci melakukan kekufuran, kita tak mau kufur. Allah benci melakukan kesyirikan, kita tak mau syirik. Allah benci maksiat, kita tak mau melakukan maksiat.

Dalam Surat Al Hujurat ada pelajaran kalau sudah beriman tak mau balik lagi. Kita dikenalkan indahnya keimanan.

Allah SWT berfirman:

وَ لٰـكِنَّ اللّٰهَ حَبَّبَ اِلَيْكُمُ الْاِ يْمَا نَ وَزَيَّنَهٗ فِيْ قُلُوْبِكُمْ وَكَرَّهَ اِلَيْكُمُ الْكُفْرَ وَا لْفُسُوْقَ وَا لْعِصْيَا نَ ۗ 

“.. Tetapi Allah menjadikan kamu cinta kepada keimanan, dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu, serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan,”
(QS. Al-Hujurat 7)

5.Benci kepada yang dibenci Allah

Siapa yang dibenci oleh Allah? Setan. Beliau sendiri yang menyatakan dalam surat Al Baqarah :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 208)

Jadi kita harus mendeklarasikan bahwa Setan adalah musuh utama kita, bukan malah demi mencari sesuap nasi menggunakan nama Setan : “nasi goreng Setan”, “nasi Rawon Setan”. Ini tidak boleh meskipun maksudnya bergurau. Karena harus diyakini bahwa Setan adalah musuh yang nyata bagi manusia.


Output Dari Hati Yang Bersih

– Baik sangka (Positive Thinking) terhadap Allah dan manusia
– Senang berbuat baik
– Menyesal Tidak berbuat baik.
– Terguncang/ Sedih kalau berbuat dosa.

1. Baik sangka (Positive Thinking) terhadap Allah dan manusia

Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kita. Allah tidak akan menyia-nyiakan amalan kita. Bahkan Rasulullah SAW sendiri menyadarkan bahwa baru ingin berbuat saja pahalanya satu sempurna. Kalau amalan baik jadi dilakukan pahalanya bisa 10 sampai 700 bahkan bisa tak terbatas.

Maka orang yang berhati bersih dia husnudzon. Diundang dia datang.
Ingat Pangeran Diponegoro, beliau diundang baik-baik untuk berunding oleh Belanda, beliau datang. Tahu-tahu ditangkap, namanya penjajah itu pengkhianat dari dulu dia begitu. Sekarang juga begitu cuma sekarang bedanya dengan ilmu dan teknologi.

2. Senang berbuat Amal baik


Output lain dari hati yang bersih adalah senang berbuat baik dan tidak senang berbuat dosa. Berbuat dosa selain menambah titik noda hitam pada hati juga ada cirinya : Bila seorang berbuat dosa, dia tidak senang diketahui orang lain.

Sabda Nabi SAW, “Al Ismu Mahaka Fii Shodrika” (Dosa itu apa apa yang memberatkan hatimu).

3. Menyesal Tidak berbuat baik

Saking sibuknya bekerja, terlewat tidak shalat Dhuha. Dalam hati dia menyesal : “Ini amal sholeh tanggal 1-10 Dzulhijjah kalau sampai tertinggal shalat Dhuha kan rugi sekali ..”.

Malam hari tidurnya terlalu malam, takut menyesal tak dapat shalat Tahajud maka dia shalat Tahajud dan Witir sebelum tidur.

4. Terguncang/ Sedih kalau berbuat dosa

Dosa itu membebani dirinya terus, maka harus dihapus dengan istighfar. Maka kita tak hentinya istighfar, minimal tiap habis shalat 3 kali. Jadi 15 kali.

Kalau bisa seperti Rasulullah, 100 kali tiap hari. Dilakukan saat dzikir pagi dan petang ditutup dengan istighfar 100 kali.

Kemudian disaat rukuk ketika shalat pilih doa yang ditutup dengan Allohumaghfirli.

سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى

(Subhaanaka alloohumma robbanaa wa bihamdika alloohummaghfirlii)
Artinya: Mahasuci Engkau, ya Allah Tuhan kami dan segala puji bagiMu. Ya Allah ampunilah aku.


Tampilannya Dia Orang Sholeh

– Berusaha Amal Sholeh
– Berkumpul dengan orang Sholeh
– Lisan dan Hati berdzikir
– Meninggal ketika beramal sholeh
– Datang kepada Allah dengan Qolbun Salim.

1.Berusaha Amal Sholeh

Orang Sholeh berasal dari hati yang Salim, yang hidup dan sehat. Dia senang beramal sholeh, dia senang membantu, senang memberi.

2.Berkumpul dengan orang Sholeh

Kalau berkumpul dengan orang yang tidak sholeh dia resah. Takut kalau pada waktunya shalat malah diajak ke tempat yang bukan untuk shalat. Kalau pergi bersama orang Sholeh kalau naik mobil sama-sama, pasti waktunya adzan mencari masjid.

Alhamdulillah sekarang banyak masjid bagus. Artinya banyak orang yang senang dengan masjid. Nanti di hari akhir masuk 7 golongan yang dinaungi Allah yang salah satunya adalah :

وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ فِي الْـمَسَاجِدِ

(Seorang laki-laki yang hatinya bergantung ke masjid)

Hatinya terpaut pada masjid. Masuk masjid gembira, berdo’a kepada Allah. Keluar dari masjidpun berdo’a mudah-mudahan nanti bisa ke masjid lagi. Jadi hatinya selalu terpaut pada masjid.

3. Lisan dan Hati berdzikir

Tapi tidak atraktif ketika berdzikir. Cukup dirinya sendiri yang tahu. Hatinya selalu berdzikir. Dengan berdzikir mengusir yang lain.
Rasul menggambarkan hati yang sehat dan bersih seperti batu pualam.
Sebaliknya yang banyak dosa titik-titiknya banyak.

4. Meninggal ketika beramal sholeh

Ada yang sedang puasa Kamis, ikut jamaah shalat Ashar di masjid, setelah itu berdzikir. Tahu-tahu tidak berdiri, hanya agak condong ke depan. Setelah dicari anaknya ternyata sudah meninggal.
Ada yang sujud, ketika yang lain bangun dia tetap sujud. Ternyata sudah meninggal. Dia tidak jatuh karena sujud itu ada 7 anggota tubuh yang menempel ke bumi, maka kokoh.

5. Datang kepada Allah dengan Qolbun Salim

Ketika di yaumul Qiyamah bertemu dengan Allah dengan qolbun yang Salim.


Ciri Hati yang bersih

Dipelihara/diusahakan dengan dzikir.

Allah SWT berfirman:

اِنَّمَا الْمُؤْمِنُوْنَ الَّذِيْنَ اِذَا ذُكِرَ اللّٰهُ وَجِلَتْ قُلُوْبُهُمْ وَاِ ذَا تُلِيَتْ عَلَيْهِمْ اٰيٰتُهٗ زَا دَتْهُمْ اِيْمَا نًا وَّعَلٰى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُوْنَ ۙ 

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, bertambah kuat imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal,” (QS. Al-Anfal 2)

Ayat ini menjelaskan tentang orang beriman. Diawali pada ayat sebelumnya para sahabat bertanya tentang harta rampasan perang.

Hati kita harus kita olah seperti ini, sehingga kalau ada adzan tergerak untuk segera wudhu dan ke masjid. Kalau bisa malah sebelum adzan sudah wudhu. Ketika adzan langsung ke masjid. Tetapi ketika wabah Covid ya kita berjamaah dengan anggota keluarga. Apalagi kalau orang lansia harus berusaha menghindari penularan. Karena kalau banyak bertemu di masjid maka potensi penularan makin besar.

Allah SWT berfirman:

اَلَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَ لَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوْبُ ۗ 

“(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (QS. Ar-Ra’d 28)

Ini adalah salah satu usaha untuk menjaga hati. Karena hati atau iman itu bisa naik bisa turun. Sahabat Abu ad-Darda` Uwaimir al-Anshaari berkata,

الإِيْمِانُ يَزْدَادُ وَ يَنْقُصُ

“Iman itu bertambah dan berkurang.”

Jadi kita harus merawatnya. Jangan sampai terlambat untuk mendapatkan taushiyah. Disitu pasti dibahas kebaikan, dibahas ayat-ayat Allah.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here