Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

3 Dzulhijjah 1441/ 24 Juli 2020



Kemarin kita membahas tentang Niat yang merupakan pekerjaan Qolbu. Maka saat ini akan kita coba bahas tentang Qolbu. Pertanyaan sulit yang kadang-kadang membingungkan kita mudah-mudahan menjadi jelas.

Yang perlu diketahui bahwa melalui diskusi, melalui kitab-kitab yang ditulis oleh para ulama menunjukkan bahwa Qolbu itu tidak merupakan sesuatu yang nyata. Artinya sampai saat ini ilmu Kedokteran tidak bisa menunjukkan Qolbu itu ada dimana. Karena Rasulullah menunjukkan sebagai mudghah.

Manusia itu pada dasarnya terdiri dari empat komponen utama :
Jasad, Ruh, Qolb dan Aql.
Jasad sudah jelas.

Tentang Ruh

Rasulullah SAW juga diberi pengetahuan tentang Ruh tapi cuma sedikit.

Allah SWT berfirman:

وَيَسْــئَلُوْنَكَ عَنِ الرُّوْحِ ۗ قُلِ الرُّوْحُ مِنْ اَمْرِ رَبِّيْ وَمَاۤ اُوْتِيْتُمْ مِّنَ الْعِلْمِ اِلَّا قَلِيْلًا

“Dan mereka bertanya kepadamu Muhammad tentang roh, katakanlah, Roh itu termasuk urusan Tuhanku, sedangkan kamu diberi pengetahuan hanya sedikit.” (QS. Al-Isra’ 85)

Maka kalau ada orang ceritera tentang Ruh, bisa mengetahui ini itu tentang Ruh , menurut para ulama harus diingkari karena Nabi Muhammad SAW saja tidak tahu.


Tentang Aql.

Manusia ini lemah pada awalnya, kemudian menjadi kuat karena Aql sehingga bisa menaklukkan dunia. Tetapi kemudian menjadi lemah lagi dan akhirnya menjadi jasad atau mayat. Lalu kita menyadari bahwa manusia hanya sekedar makhluk lemah yang tidak abadi.

Tentang Qolbu

Kalau menurut Ilmu Kedokteran, hati itu ada dua. Orang barat mengatakan Heart yang letaknya ada di dada sebelah kiri. Menurut bahasa kita Jantung.

Kalau menurut orang Indonesia, hati itu padanannya dalam ilmu anatomy adalah Lever. Lever adalah organ tubuh manusia bagian dalam yang paling besar. Lebih dari 2,5 kg.

Jantung kecil, hanya sebesar genggaman tangan kiri. Tapi kekuatannya luar biasa. Memompa darah kita sekitar 4,5 liter sampai 5 liter memutar terus setiap hari tak pernah berhenti. Maka kalau ada orang sombong misalnya mengatakan kekuatannya bisa begini begitu sebenarnya tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan jantung sebagai ciptaan Allah.

Jantung mempunyai keistimewaan yang luar biasa. Jantung tidak pernah berhenti bekerja sekejappun. Hal ini rahasianya banyak, salah satunya otot jantung saling berhubungan, sehingga tenaganya saling mengisi secara gotong royong. Kemudian jumlah generator energinya lebih banyak dibandingkan dengan sel yang lain. Sehingga selalu bekerja padahal orangnya tidur. Tapi ternyata Qolbu bukan itu.


Pendapat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Mari kita kutip pendapat ulama yang masyhur. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah
Lahir di Harran, Damaskus, January 22, 1263 wafat September 26, 1328 (abad ke 7 Hijriyah).

Beliau berkata :

الأعمال الظاهرة لاتكون صالحة مقبولة إلا بواسط أعمال القلب، فإن القلب ملك واﻷعضاء جنوده، فإذا خبث الملك خبثت جنوده

Amalan badan tidak akan diterima tanpa perantara amalan hati. Karena hati adalah raja, sedangkan anggota badan ibarat prajuritnya. Bila sang Raja buruk, maka akan buruk pula seluruh prajuritnya.(Majmu Al Fatawa )

Jadi hati adalah raja, maka kembali saya ingatkan dalam hal ucapan. Berkali-kali ada yang berpendapat bahwa ucapan selamat Natal adalah cuma omongan.

Mengucapkan Selamat Natal , berarti ada niatnya. Kalau ada niatnya, berarti niatnya sudah dinilai oleh Allah :
Karena apa ? Dan untuk siapa?
Sekarang malah melebar kemana- mana. Selamat Hari Paskah, selamat hari ini, selamat hari itu. Padahal dulu tak ada acara seperti itu.

Membiarkan mereka beribadah, kemudian ketika mereka cerita kita mendengarkan dan tidak menghalangi mereka beribadah itu namanya toleransi. Tetapi kalau sampai mengucapkan sesuatu berarti ada amalan hati, ada kehendak hati. Kehendak hati ini adalah niat yang dinilai. Maka hati-hati, setelah belajar ini kita menjaga hati.

Kita tiap hari perlu mengecek hati kita ini sudah benar atau belum? Sudah ikhlas atau belum? Sudah bening atau belum? Sudah hilang penyakitnya atau belum?

Jadi sedemikian hebatnya hati ini. Perumpamaannya memang sangat tepat. Hati adalah raja, anggota tubuh adalah anak buah. Jadi kita harus hati -hati menjaga hati supaya selalu ikhlas beribadah semata-mata karena Allah SWT, memurnikan niat untuk Allah Ta’ala, Bukankah kita sering mengucapkan “Lillahi Ta’ala?”.


Pendapat Al Ghozali (1058-1111M)

Imam Al Ghozali lebih dulu dibanding Ibnu Taimiyah. Imam Al Ghozali berasal dari Irak. Sekarang Irak lagi kocar-kacir. Sekarang ini Indonesia mayoritas agama islam jangan terlalu yakin kalau nanti akan tetap, menjadi pusat agama islam. Belum tentu! Irak dulu pusatnya islam. Imam-imam besar berasal dari sana. Tapi sekarang Irak hancur lebur.

Beliau belajar ilmu-ilmu lahiriah dari Yunani. Kemudian kitab-kitab itu dielaborasi. Beliau menelaah hati itu apa? Dan beliau sampai pada kesimpulan bahwa hati ada fisik dan ada non fisiknya. Tapi bagian fisik ini belum bisa dibuktikan. Beliau juga tidak mengulas terlalu banyak.
Yang diulas lebih banyak adalah bagian non Fisik atau Ghoib.

1. Fisik
2. Non Fisik
– Lathifah
– Robbaniyah
– Ruhaniyah

Bagian Fisik, beliau katakan ada disebelah kiri berisi darah hitam. Kalau kita kaitkan dengan anatomi berarti jantung.

Ada mahasiswa yang menulis juga bahwa jantung cocok dengan definisi hati dari Rasulullah karena bolak-balik. Bolak-baliknya alasannya memompa darah, tentu tidak begitu. Yang jelas belum ada ulama yang mengulas tentang bagian fisik dari hati yang dimaksud Rasulullah.

Menurut Imam Ghozali, bagian Non Fisik ada tiga : Lathifah, Robbaniyah dan Ruhiyah.

Komponen Lathifah yang halus.
Ada kalimat-kalimat peribahasa :
“Dalamnya Laut dapat Diukur, Dalamnya Hati Siapa Tau ?” – Ini menunjukkan dalamnya hati.
Dari barat juga ada peribahasa
“Kalau kamu memukul besi maka kamu akan mendengar dentingannya, tapi kalau kamu memukul hati, kamu tidak tahu apa resikonya”

Maka Rasulullah SAW mengajarkan agar tidak gampang menyakiti hati :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”- (Muttafaq ‘alaih)

Kalau tidak bisa bicara baik lebih baik diam. Kalau menjadi anggota grup WA, kalau tak dapat posting yang diyakini kebenarannya lebih baik diam.
Karena kalau sampai posting suatu hal yang salah dan jadi fitnah dampaknya postingan akan beredar abadi di internet dan dosa fitnah yang dituai akan terus menerus berlangsung sampai akhir dunia. Termasuk berhati-hati posting sticker wajah orang lain tanpa ijin dari yang bersangkutan.

Ada komponen Robbaniyah, saking halusnya seolah-olah mendapatkan percikan dari sifatNya Allah.
Kemudian komponen Ruhaniyah, yang kita kenal.

Dari yang non fisik, Sifat yang halus tersebut dirinci menjadi empat komponen yang beliau gali dari Al Qur’an dan Hadits , yaitu :
Nafs (Lawwamah dan Muthmainnah),
, Fuad, Shadr dan Hawa

1. An Nafs

Nafs ada dua jenis. Lawwamah dan Muthmainnah.

Nafsul lawwamah ada dalam surat Al Qiyamah, Allah SWT berfirman:

وَلَاۤ اُقْسِمُ بِا لنَّفْسِ اللَّوَّا مَةِ ۗ 

“dan aku bersumpah demi jiwa yang selalu menyesali (dirinya sendiri).”
(QS. Al-Qiyamah 2)

Nafsul muthmainnah ada di juz amma
Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَئِنَّةُ ۖ  ارْجِعِيْۤ اِلٰى رَبِّكِ رَا ضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ  فَا دْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِى ۙ  وَا دْخُلِيْ جَنَّتِى

“Wahai jiwa yang tenang!”
Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang rida dan diridai-Nya.
Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku.” (QS. Al-Fajr Ayat 27-30)

2. Fuad

Allah SWT berfirman:

مَا كَذَبَ الْفُؤَادُ مَا رَاٰ ى

“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.” (QS. An-Najm 11)

3. Shadr

Ada satu ayat yang penting sekali mengenai hati. Allah SWT berfirman:

فَمَنْ يُّرِدِ اللّٰهُ اَنْ يَّهْدِيَهٗ يَشْرَحْ صَدْرَهٗ لِلْاِ سْلَا مِ ۚ وَمَنْ يُّرِدْ اَنْ يُّضِلَّهٗ يَجْعَلْ صَدْرَهٗ ضَيِّقًا حَرَجًا كَاَ نَّمَا يَصَّعَّدُ فِى السَّمَآءِ ۗ كَذٰلِكَ يَجْعَلُ اللّٰهُ الرِّجْسَ عَلَى الَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ

fa may yuridillaahu ay yahdiyahuu yasyroh shodrohuu lil-islaam, wa may yurid ay yudhillahuu yaj’al shodrohuu dhoyyiqon harojang ka`annamaa yashsho”adu fis-samaaa`, kazaalika yaj’alullohur-rijsa ‘alallaziina laa yu`minuun

“Barang siapa dikehendaki Allah akan mendapat hidayah, Dia akan membukakan dadanya untuk Islam. Dan barang siapa dikehendaki-Nya menjadi sesat, Dia jadikan dadanya sempit dan sesak, seakan-akan dia mendaki ke langit. Demikianlah Allah menimpakan siksa kepada orang-orang yang tidak beriman.” (QS. Al-An’am 125)

Kalau seseorang dikehendaki Allah, Dadanya luas untuk menerima agama islam. Apapun yang dari agama islam diterima dengan enak, dengan baik. Dengan “Sami’na Wa Atho’na” (Kami Mendengar dan Kami Taat).

Sebaliknya bila dikehendaki dadanya sempit, dia seperti mendaki ke langit.
Ketika manusia belum menjadi astronout ternyata Allah SWT sudah memberi tahu kepada Nabi kita di dalam Al Qur’an bahwa kalau naik ke langit akan sesak dadanya karena tak dapat bernafas. Maka kemudian astronout yang kelangit harus membawa oksigen agar dapat bernafas.

Makanya kita bersyukur sudah menjadi orang islam. Jangan sampai hati kita berubah lagi. Untuk itu kita tetap perlu berdo’a :

يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِى عَلَى دِينِكَ

“Ya muqollibal quluub tsabbit qolbi ‘alaa diinik” (Wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu). (HR Tirmidzi).

4. Hawa

Allah SWT berfirman:

اَرَءَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ اِلٰهَهٗ هَوٰٮهُ ۗ اَفَاَ نْتَ تَكُوْنُ عَلَيْهِ وَكِيْلًا ۙ 

“Sudahkah engkau Muhammad melihat orang yang menjadikan keinginannya sebagai tuhannya. Apakah engkau akan menjadi pelindungnya?” (QS. Al-Furqan 43)

Ada ulama yang menganalisa bahwa Aql (Akal) bagian dari Qolbu. Qolbu bisa menjadi jamak, yaitu Qulubun.

Allah SWT berfirman:

وَلَـقَدْ ذَرَأْنَا لِجَـهَنَّمَ كَثِيْرًا مِّنَ الْجِنِّ وَا لْاِ نْسِ ۖ لَهُمْ قُلُوْبٌ لَّا يَفْقَهُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُوْنَ بِهَا ۖ وَلَهُمْ اٰذَا نٌ لَّا يَسْمَعُوْنَ بِهَا ۗ اُولٰٓئِكَ كَا لْاَ نْعَا مِ بَلْ هُمْ اَضَلُّ ۗ اُولٰٓئِكَ هُمُ الْغٰفِلُوْنَ

“Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami ayat-ayat Allah dan mereka memiliki mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat tanda-tanda kekuasaan Allah, dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah.” (QS. Al-A’raf 179)

Neraka kelak akan diisi oleh manusia dan jin yang sesat. Mereka masuk neraka karena mereka punya hati, tapi hatinya tidak dipakai untuk berfikir.

Kita harus bersyukur terus dan berdzikir alhamdulillah bahwa kita masih termasuk diberikan “yasyroh shodrohuu lil-islaam”. Dadanya lapang untuk mendengarkan penjelasan tentang islam. Makanya meskipun kita tak dapat datang tatap muka ke Pengajian, tapi dimudahkan membuka HP kita untuk mendengarkan Pengajian.

Kalau sebaliknya dadanya sempit. Dia kalau mendengar pengajian akan bermasalah. Tak dapat menerima penjelasan, tak dapat menerima perbedaan, merasa disindir dan sebagainya. Padahal ustadz hanya menyampaikan apa yang disampaikan oleh Allah dan Rasulnya secara generik atau umum.

Mereka tak suka datang ke Pengajian. Tetapi kita tidak boleh jemu untuk mengajak mereka menghadiri Pengajian.


Pemikiran Mutakhir Tentang Qolbu

Ulama-ulama berikutnya, termasuk ilmuwan, pendapatnya ternyata sama dengan pendapat Imam Ghozali, Ibnu Taimiyah. Jadi yang Fisik bukan Hati bukan Jantung. Jantung itu untuk memompa darah, Hati untuk metabolisme, mengolah lemak, menimbun protein, glico protein, glicogeen di dalam hati.

Yang ghoib menemukan yang mirip : Al Qolb, Fuad, Lubb dan Shadr.
Imam Ghozali luar biasa bahwa di abad itu , abad 6 Hijriyah sudah bisa menganalisis, menjelajahi Al Qur’an memahami maknanya. Padahal beliau usianya hanya sampai 48 tahun lebih sedikit. Tapi “umur yang keduanya” panjang karena kitabnya terus dibaca orang. Kita yang diberi umur melebihi beliau bersyukur , ada kesempatan maka gunakan umur sebaik-baiknya untuk kebaikan.

Aql itu bagian dari Qolbu maka Aql bisa menyaring hal-hal yang bersifat analisis. Adapun yang bersifat keimanan bagian dari Qolbu.
Iman tak dapat ditangkap dengan Aql.

Contohnya : Bagaimana memahami hadits Rasulullah SAW :
“Apabila ada lalat yang menghinggapi tempat minum kalian maka celupkanlah seluruh bagian/tubuh lalat tersebut , baru kemudian buanglah lalat tersebut. Karena sesungguhnya pada salah satu sayapnya mengandung obat dan pada sayap yang lain mengandung penyakit” (HR. Bukhari)

Saya pernah mencoba dan tidak ada masalah. Saat itu saya masuk Fakultas Kedokteran tahun 1976. Tahun 1977 saya menemukan buku yang ditulis dokter Mesir tentang air yang dimasuki lalat. Ternyata kesimpulan dokter Mesir sama dengan yang disampaikan Rasulullah SAW. Jadi kita kadang- kadang tak dapat menjangkau hanya dengan aql, tapi dengan Qolbu bisa.

Demikian juga mengenai hadits yang mengatakan Rasulullah dinaikkan ke Sidratul Muntaha ketika Isra’ Miradj, waktu itu aql tak dapat menerima karena belum ada astronout, belum dapat memahami kecepatan bepergian yang amat sangat cepat. Tetapi Abu Bakar dengan memakai Qolbu beliau percaya. Bahkan seandainya lebih dari itu beliau tetap beriman kepada Rasulullah.

Gus Mus juga menyinggung tentang Nurani. Nenek moyang kita menyebut Nurani adalah Hati yang paling dalam. Nurani ini yang dapat menangkap keimanan.


Qolbu adalah Pusat Kendali Manusia

Nabi SAW bersabda,

أَلاَ وَإِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ . أَلاَ وَهِىَ الْقَلْبُ

“Ingatlah bahwa di dalam jasad itu ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh jasad. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh jasad. Ketahuilah bahwa ia adalah hati (jantung)” – (HR. Bukhari Muslim).

Ini yang disebut berbentuk kerucut oleh Imam Al Ghozali dan isinya darah hitam. Tapi dokter belum menemukan, kalau anatomi menemukannya jantung dan sekitarnya. Ini rahasia Allah yang belum terpecahkan.

Imam Al Ghozali menyatakan bahwa Qolbu ini lengkap sekali. Disitu ada empat sifat yang mempengaruhi qolbu terhadap kepribadian manusia.
– sifat kebuasan
– sifat kebinatangan
– sifat kesyaitanan
– sifat keTuhanan.

Allah SWT dalam Al Qur’an berfirman:

فَاَ لْهَمَهَا فُجُوْرَهَا وَتَقْوٰٮهَا ۖ 

“maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kejahatan dan ketakwaannya,”
(QS. Asy-Syams 8)

Sifat keTuhanan adalah yang bisa memenangkan pertarungan di dalam hati sehingga komponen yang negatif menjadi minim, tetapi tidak hilang.

Maka sampai kapanpun manusia harus selalu waspada. Dan Rasulullah mengingatkan agar kita menjaga akhir kehidupan.

Rasulullah SAW bersabda :

وَإِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالْخَوَاتِيمِ

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada akhirnya.” (HR. Bukhari)

Diujung hidup kita, apa amalan yang kita lakukan, kalimat apakah yang kita ucapkan.


Hadits Jibril, menunjukkan keunggulan hati

Hadits ini panjang, disini kita potong.

عَنْ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ أَيْضاً قَالَ : بَيْنَمَا نَحْنُ جُلُوْسٌ عِنْدَ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَاتَ يَوْمٍ إِذْ طَلَعَ عَلَيْنَا رَجُلٌ شَدِيْدُ بَيَاضِ الثِّيَابِ شَدِيْدُ سَوَادِ الشَّعْرِ، لاَ يُرَى عَلَيْهِ أَثَرُ السَّفَرِ، وَلاَ يَعْرِفُهُ مِنَّا أَحَدٌ، حَتَّى جَلَسَ إِلَى النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم فَأَسْنَدَ رُكْبَتَيْهِ إِلَى رُكْبَتَيْهِ وَوَضَعَ كَفَّيْهِ عَلَى فَخِذَيْهِ وَقَالَ: يَا مُحَمَّد أَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِسْلاَمِ، فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ صلى الله عليه وسلم : اْلإِسِلاَمُ أَنْ تَشْهَدَ أَنْ لاَ إِلَهَ إِلاَّ اللهُ وَأَنَّ مُحَمَّدًا رَسُوْلُ اللهِ وَتُقِيْمَ الصَّلاَةَ وَتُؤْتِيَ الزَّكاَةَ وَتَصُوْمَ رَمَضَانَ وَتَحُجَّ الْبَيْتَ إِنِ اسْتَطَعْتَ إِلَيْهِ سَبِيْلاً قَالَ : صَدَقْتَ، فَعَجِبْنَا لَهُ يَسْأَلُهُ وَيُصَدِّقُهُ، قَالَ: فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِيْمَانِ قَالَ : أَنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ. قَالَ صَدَقْتَ، قَالَ فَأَخْبِرْنِي عَنِ اْلإِحْسَانِ، قَالَ: أَنْ تَعْبُدَ اللهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ .
……
. قَالَ فَإِنَّهُ جِبْرِيْلُ أَتـَاكُمْ يُعَلِّمُكُمْ دِيْنَكُمْ .

Dari Umar r.a , ia berkata, “Suatu hari ketika kami duduk-duduk di dekat Rasulullah SAW tiba-tiba datang seorang laki-laki yang mengenakan baju yang sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak tampak padanya bekas perjalanan jauh dan tidak ada seorang pun di antara kami yang mengenalnya. Kemudian dia duduk di hadapan Nabi SAW lalu menempelkan kedua lututnya kepada lutut Beliau dan meletakkan kedua telapak tangannya di paha Beliau SAW , sambil berkata, “Wahai Muhammad, beritahukanlah kepadaku tentang Islam?” Rasulullah SAW menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, dan bahwa Muhammad adalah utusan Allah, kamu mendirikan shalat, menunaikan zakat, puasa Ramadhan dan pergi haji jika kamu mampu,“ kemudian dia berkata, “Engkau benar.“ Kami semua heran, dia yang bertanya dia pula yang membenarkan. Kemudian dia bertanya lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang Iman?“ Beliau bersabda, “Kamu beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya dan hari akhir, dan kamu beriman kepada qadar yang baik maupun yang buruk.” Dia berkata, “Engkau benar.” Kemudian dia berkata lagi, “Beritahukanlah kepadaku tentang ihsan.” Beliau menjawab, “Ihsan adalah kamu beribadah kepada Allah seakan-akan kamu melihat-Nya. Jika kamu tidak merasa begitu, ketahuilah bahwa Dia melihatmu.”

Beliau bersabda, “Dia adalah Jibril yang datang kepadamu dengan maksud mengajarkan agamamu.” (HR. Muslim)

Hadits ini menunjukkan kepada kita bahwa pekerjaan hati bobotnya lebih tinggi daripada pekerjaan anggota tubuh. Tetapi islam tidak boleh hanya hatinya, seperti aliran kepercayaan yang mengatakan yang penting hatinya. Tidak demikian! Islam itu lengkap : Hati, Lisan dan Perbuatan.
Itulah totalitas dalam islam seperti firman Allah SWT :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al-Baqarah 208)


Hikmah Hadits Jibril, menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah

Ada tiga tingkatan derajat dalam agama islam

Derajat Islam :

Penampakan fisik, ucapan, gerakan amalan agama.
Orang yang mencapai derajat Islam, belum tentu Iman. Hal ini dijelaskan dalam surat Al Hujurat :

قَا لَتِ الْاَ عْرَا بُ اٰمَنَّا ۗ قُلْ لَّمْ تُؤْمِنُوْا وَلٰـكِنْ قُوْلُوْۤا اَسْلَمْنَا وَلَمَّا يَدْخُلِ الْاِ يْمَا نُ فِيْ قُلُوْبِكُمْ ۚ وَاِ نْ تُطِيْعُوا اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ لَا يَلِتْكُمْ مِّنْ اَعْمَا لِكُمْ شَيْئًــا ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ

“Orang-orang Arab Badui berkata, Kami telah beriman. Katakanlah kepada mereka, Kamu belum beriman, tetapi katakanlah Kami telah tunduk (Islam), karena iman belum masuk ke dalam hatimu. Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikit pun pahala amalmu. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Hujurat 14)

Maka derajatnya ada tiga.
Islam yang nampak-nampak :
Syahadat, Shalat, Zakat, Puasa, Haji semua nampak, bisa dilihat.
Tetapi Pekerjaan Qolbu tidak dapat dilihat. Akibatnya ada yang Mukmin, ada yang Munafik dan ada yang Kafir.
Hal ini ciri-cirinya diterangkan oleh Allah sendiri dalam Surat Al Baqarah.

Derajat Ihsan :
Orang yang sampai derajat Ihsan, dia sudah Iman dan sudah Islam.

Derajat Iman :
Orang yang sampai derajat Iman dia sudah Islam tapi belum Ihsan.

Orang derajat Islam belum mempunyai Iman dan Ihsan.
Bagaimana dengan kita sendiri ?
Kita cek diri kita masing-masing dan mohon petunjuk. Rasulullah mengajarkan kita untuk berdo’a minta petunjuk :

اللَّهُمَّ إنِّي أسْألُكَ الهُدَى ، والتُّقَى ، والعَفَافَ ، والغِنَى

“Allahumma inni as-alukal huda wat tuqo wal ‘afaf wal ghina.” 
Artinya: Ya Allah, aku meminta pada-Mu petunjuk, ketakwaan, diberikan sifat ‘afaf dan ghina (HR Muslim) .

Nabi berdo’a itu dalam rangka mengajari kita. Dan tugas kita menghafalkan dan mengamalkan tiap hari.

Ada perkataan dalam Al Qur’an yang akhirnya para ulama membagi hati menjadi tiga : Hati yang Hidup, Hati yang Mati dan Hati yang Sehat.

Qolbun Salim

Dalam hati yang hidup dan sehat, terdapat khosyah (rasa takut disertai ilmu, taqwa, khouf) kepada Allah, tawakkal, rojaa’ (rasa harap) , ikhlas, sabar, syukur, cinta.

Allah SWT berfirman:

يَوْمَ لَا يَنْفَعُ مَا لٌ وَّلَا بَنُوْنَ ۙ 
اِلَّا مَنْ اَتَى اللّٰهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمٍ ۗ 

“yaitu pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih,” (QS. Asy-Syu’ara’ Ayat 88-89)

Sampai akhir hayat kita jaga hati jangan sampai mati.

Hati yang sehat menurut Ibnul Qayim.

– Selamat dari syahwat yang menyelisihi perintah dan larangan Allah, dan selamat dari Syubhat yang bertentangan dengan khabar Allah.

– Selamat dari penghambaan selain Allah.

– Selamat dari berhukum selain hukum Rasulullah.

– Selamat dari cinta ibadah yang menduakan Allah, dari takut ibadah yang menduakan Allah, begitu pula dari rasa harap yang menduakan Allah.

– Intinya segala ubudiyah (penghambaan) hanyalah ditujukan kepada Allah.

– Hati yang selamat dari Syirik (penghambaan ibadah pada selain Allah dan tunduk pada syari’at yang dibawa oleh Rasulullah SAW).


Hati Menjadi Gelap bila Maksiat

Rasulullah SAW bersabda :

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا أَخْطَأَ خَطِيئَةً نُكِتَتْ فِى قَلْبِهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ فَإِذَا هُوَ نَزَعَ وَاسْتَغْفَرَ وَتَابَ سُقِلَ قَلْبُهُ وَإِنْ عَادَ زِيدَ فِيهَا حَتَّى تَعْلُوَ قَلْبَهُ وَهُوَ الرَّانُ الَّذِى ذَكَرَ اللَّهُ ( كَلاَّ بَلْ رَانَ عَلَى قُلُوبِهِمْ مَا كَانُوا يَكْسِبُونَ) »

Dari Abu Hurairah, dari Rasulullah SAW, beliau bersabda, “Seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka dititikkan dalam hatinya sebuah titik hitam. Apabila ia meninggalkannya dan meminta ampun serta bertaubat, hatinya dibersihkan. Apabila ia kembali berbuat maksiat , maka ditambahkan titik hitam tersebut hingga menutupi hatinya. Itulah yang diistilahkan “ar raan” yang Allah sebutkan dalam firman-Nya (yang artinya), ‘Sekali-kali tidak (demikian), sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka’.” (HR Tirmidzi)

Menjaga hati dengan cara tidak berbuat maksiat. Kalau maksiat , maka titik hitam makin banyak akhirnya hati makin gelap dan jauh dari hidayah Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK




LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here