Dr. dr. H.Masrifan Djamil, MPH. MMR

2 Dzulhijjah 1441/ 23 Juli 2020



Kita ini lama-lama terpecah-pecah. Padahal pesan Nabi Muhammad SAW dalam haditsnya agar kita berjama’ah.

“…’Alaikum Bil Jamaa’ah, Wa Iyyaakum Wal Firqoh, Fa-innasy Syaithoona Ma’al Waahid(i) , Wahuwa Minal Itsnaini Ab’ad(u), Man Arooda Buhbuuhatal Jannati Falyalzamil Jamaa’ah

Artinya:
Nabi SAW, bersabda: 
“Kamu sekalian menetapilah pada Al-Jama’ah, dan takutlah kamu sekalian pada Al-Firqoh, maka sesungguhnya syetan bersama satu orang dan syetan itu akan menjauh dari dua orang, dan barangsiapa yang ingin berada di tengah-tengah surga maka hendaklah dia menetapi Al-Jama’ah”. – (HR.Tirmidzi).

Kita masing-masing perlu introspeksi diri kita : Dunia yang sementara, kesenangan dan bahagia juga ada mentoknya, kita kejar dengan sungguh- sungguh bahkan mati-matian.
Ada kalanya orang berani ambil resiko kehilangan saudara dan teman ,masuk penjara atau mendapat penyakit berbahaya, padahal akhirnya di neraka.

Akhirat yang tak terbatas waktunya (amat sangat lama sekali, tanpa akhir) dengan bahaya masuk neraka yang azabnya tak terbayangkan dahsyatnya atau beroleh kebahagiaan surga yang tak ada bandingannya tapi kok kita tidak berusaha menggapainya ?

Hadits Tentang Niat :

وعن عائِشةَ رضيَ اللهُ عنها ، قَالَتْ : قَالَ النبي :
لا هِجْرَةَ بَعْدَ الفَتْحِ ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ ، وَإِذَا اسْتُنْفِرْتُمْ فانْفِرُوا
مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ


Dari Aisyah r.anha, dia berkata: Nabi SAW bersabda: “Tidak ada hijrah setelah terbukanya kota Mekah. Akan tetapi yang ada adalah jihad dan niat. Dan jika kamu diminta berangkat jihad maka berangkatlah.” (Muttafaq ‘alaih)

Seperti di Surabaya dulu, begitu Kiyai Hadratusy Syeh mengatakan bahwa melawan penjajah itu jihad. Kemudian Bung Tomo memberi semangat dengan takbir, maka orang Surabaya menjadi benteng manusia dan gagallah Belanda yang ingin menjajah Indonesia lagi dengan membonceng Inggris.

Hadits nomer 1 :

عَنْ أَمِيرِ المُؤمِنينَ أَبي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الخَطَّابِ رَضيَ اللهُ تعالى عنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صلى الله تعالى عليه وعلى آله وسلم يَقُولُ: إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلى اللهِ وَرَسُوله فَهِجْرَتُهُ إلى اللهِ وَرَسُوله، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا، أَو امْرأَة يَنْكِحُهَا، فَهِجْرَتُهُ إِلى مَا هَاجَرَ إِلَيْه

Dari Amirul Mukminin, Abu Hafs Umar bin Al Khattab r.a , ia berkata : Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda :
“Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang mendapat apa yang ia niatkan. Barang siapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi maka hijrahnya pada apa yang ia niatkan.” (H.R. Bukhori Muslim)


Syarat Sahnya Ibadah :

– Niat hanya untuk Allah
– Mengikuti Tuntunan Allah dan Rasulnya.

Ibadah itu niatnya hanya untuk Allah, tidak boleh untuk yang lain-lain. Yang berpendapat bahwa niat tidak perlu dilafalkan, dalam hati tetap wajib membaca dalam hati niatnya Lillahi Ta’ala. Tentang niat mau dilafalkan atau tidak itu perbedaan pendapat klasik, tak mungkin disamakan. Yang berpendapat niatnya harus dilafalkan juga tidak apa, asal jangan terlalu keras hingga mengganggu sebelahnya.

Kedua hal itu tidak menyalahi tuntunan Allah dan Rasulnya, karena tuntunan Allah bersifat global :

وَاَ قِيْمُواالصَّلٰوةَ وَاٰ تُواالزَّكٰوةَ وَا رْكَعُوْا مَعَ الرّٰكِعِيْنَ

“Dan laksanakanlah sholat, tunaikanlah zakat, dan rukuklah beserta orang yang rukuk.” (QS. Al-Baqarah 43)

Kemudian tuntunan dari Rasul, setelah beliau dilatih oleh malaikat Jibril. Beliau menyampaikan :

صلوا كما رأيتموني أصلي

‘Shollu kama roaitumuni usholli’
“Sholatlah sebagaimana kalian melihatku sholat.” (HR. Bukhari)

Maka kalau kita shalat melihat cara bagaimana Rasulullah SAW shalat. Kalau terjadi perbedaan seperti di Mekkah ada yang shalat tanpa bersedekap. Karena memang semua ada dalilnya, tak pernah diributkan. Yang penting shalat seperti tuntunan.

Rasulullah SAW bersabda,

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَأَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ 

“Sesungguhnya Allah tidak melihat pada bentuk rupa dan harta kalian. Akan tetapi, Allah hanyalah melihat pada hati dan amalan kalian.” (HR. Muslim).

Allah melihat isi hati dan amalan kita.
Zaman dulu memahami ini adalah lingkup keimanan. Dan iman orang zaman dulu kuat sekali, percaya pada penjelasan Rasulullah SAW.
Sekarang di zaman komputer ,untuk memahami hal ini mudah sekali. Karena ternyata isi laptop saja dapat dideteksi oleh manusia dari jarak jauh sekali, antar kota. Dengan bantuan software dan internet. Apalagi Allah yang membuat manusia, maka akan sangat mudah melihat apa isi hati kita.


Makna Niat

Niat adalah Kehendak hati, keinginan akan mengerjakan sesuatu.
Makna Niat dalam Kitab jami’ul ulum wal hikam : Niat adalah pekerjaan qalbu atau kehendak hati, tidak wajib untuk diucapkan. Jadi hatinya yang bekerja bukan di lisan atau perkataan manusia. Ini yang berbeda dengan Imam Syafi’i. Kalau menurut Imam Syafi’i niat harus diucapkan.


Niat adalah Pembeda

1. Tamyiis (Pembeda)

– Pembeda antara ibadah yang satu dengan yang lainnya. Misalnya antara shalat fardhu dengan shalat sunah, Shalat Dhuhur dengan Shalat Ashar, Puasa wajib dengan puasa sunah, dan seterusnya.

– Pembeda antara kebiasaan dengan ibadah. Misalnya mandi karena hendak mendinginkan badan dengan mandi karena janabat. Menahan diri dari makan untuk kesembuhan dengan menahan diri karena puasa.

Mandi biasa tak perlu niat boleh saja. Tapi kalau ditambah niat misalnya agar badan segar dan ibadah khusyuk, menjadi satu rangkaian dari ibadah. Namun mandi janabat wajib dengan diniatkan dan lillahi Ta’ala.


2. Qashd (meniatkan suatu amal karena apa? Atau untuk siapa?) .

Suatu amal ditujukan karena mengharap wajah Allah Ta’ala saja (ikhlas) atau karena lainnya?
Atau apakah ia mengerjakannya karena Allah? Atau karena lainnya juga?

Di Jepara ada ritual memenggal kepala kerbau dan dibawa ke laut. Ini untuk siapa? Untuk apa? Ini bahaya, bisa jadi kesyirikan. Allah dan Rasulnya tidak mengajarkan hal itu, tapi hal ini susah dihilangkan.
Pernah pada saat bupatinya Kiyai Masduki mengatakan bahwa itu memberi makan ikan, agar berkah. Tapi begitu bupatinya ganti kembali lagi. Bukan persembahan lillahi Ta’ala tapi supaya para nelayan mudah menangkap ikan dan seterusnya.


Hikmah Niat

Abdullah bin Al-Mubarak berkata,
“Bisa jadi amal saleh yang kecil dibesarkan nilainya oleh niat, dan bisa jadi amal saleh yang besar dikecilkan nilainya karena niat pula.” (Kitab Jami’ Al ‘Ulum Wa Al Hikam).

Contohnya pergi ke kantor niatnya dalam rangka beribadah kepada Allah. Dari situ akan menerima imbalan atau gaji yang kemudian diberikan kepada anak isteri dalam rangka bershodaqoh, akhirnya menjadi ibadah. Ini amal kecil menjadi besar karena niat.

Sebaliknya misal ketika berangkat Haji niatnya bisnis rokok kretek. Ini terjadi karena disana laku keras. Ini amal besar, biaya besar, perjalanan resiko tinggi tapi nilainya menjadi tidak ada.
Maka kita harus berhati-hati betul terhadap niat.


Landasan Niat

Allah SWT berfirman:

وَمَاۤ اُمِرُوْۤا اِلَّا لِيَعْبُدُوا اللّٰهَ مُخْلِصِيْنَ لَـهُ الدِّيْنَ ۙ حُنَفَآءَ وَيُقِيْمُوا الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوا الزَّكٰوةَ وَذٰلِكَ دِيْنُ الْقَيِّمَةِ ۗ 

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah, dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena menjalankan agama, dan juga agar melaksanakan sholat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah 5)

Orang Indonesia saking hafalnya kata dari Arab “ikhlas” penggunaannya meluas. Arti ikhlas sebenarnya adalah semata-mata karena Allah. Saat ini berkembang, misal hutang tak dibayar, katanya sudah ikhlas. Jadi sebenarnya bukan itu makna ikhlas. Ketaatan kita harus dimurnikan, hanya karena Allah Ta’ala.

Dalam surat lain misalnya Allah SWT berfirman:

اِنَّاۤ اَنْزَلْنَاۤ اِلَيْكَ الْكِتٰبَ بِا لْحَقِّ فَا عْبُدِ اللّٰهَ مُخْلِصًا لَّهُ الدِّيْنَ ۗ 

“Sesungguhnya Kami menurunkan Kitab Al-Qur’an kepadamu Muhammad dengan membawa kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan tulus ikhlas beragama kepada-Nya.” (QS. Az-Zumar 2)

Kita terus-menerus diingatkan untuk ikhlas lillahi Ta’ala karena tadi yang tertinggal setelah fathu Mekkah cuma dua : JIHAD dan NIAT. Maka tiap hari kita harus memperbarui niat.


Tanpa Niat, Pahala dan Ridha Allah Tidak ada

Rasulullah SAW menyampaikan :
“Seorang mukmin yang kedatangan waktu sholat maktubah (lima waktu), lalu dia membaikkan wudhunya dan kekhusyukan sholatnya dan rukuknya juga bagus, tidaklah kecuali akan menjadi penghapus dosa sebelumnya dari dosa-dosanya yang banyak”.

Artinya kalau kita berbuat begitu terus menerus benar-benar bersih diampuni dosanya. Mulai sekarang, mari kita perbaiki wudhu kita, kekhusyukan dan kesempurnaan rukuk. Kalau tidak kita lakukan seperti itu tentunya tidak mendapatkan yang dibelakangnya.


Kalau Niat tidak ikhlas, dapatnya Riya

Ibnu Majah meriwayatkan dalam kitab Sunan dari sahabat Abu Sa’id r.a , beliau berkata,

خَرَجَ عَلَيْنَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَنَحْنُ نَتَذَاكَرُ الْمَسِيحَ الدَّجَّالَ

“Rasulullah SAW pergi bersama kami dan kami saling mengingatkan tentang fitnah Al-Masih Ad-Dajjal. Lalu Nabi SAW berkata,

أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِمَا هُوَ أَخْوَفُ عَلَيْكُمْ عِنْدِي مِنَ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ؟

“Maukah aku kabarkan kepada kalian sesuatu yang aku lebih khawatirkan menimpa kalian melebihi Al-Masih Ad-Dajjal?”

Abu Sa’id berkata, “Kami berkata, ‘Iya, tentu kami mau.’’”

Rasulullah SAW bersabda,

الشِّرْكُ الْخَفِيُّ، أَنْ يَقُومَ الرَّجُلُ يُصَلِّي، فَيُزَيِّنُ صَلَاتَهُ، لِمَا يَرَى مِنْ نَظَرِ رَجُلٍ

“Yaitu syirik khafi (syirik kecil yang tersembunyi), yaitu ketika seseorang berdiri untuk shalat, dia memperbagus shalatnya dengan harapan agar ada seseorang yang memperhatikannya.” -(HR Ibnu Madjah)

Ini perlu hati-hati. Shalat sendiri usahakan lamanya sama dengan kalau kita sedang jadi imam jama’ah, atau shalat di tempat umum. Lamanya sama, panjang bacaan shalat juga sama, kecuali shalat yang ringan sebelum Subuh boleh cepat.
Bila saat shalat dimuka umum lama tapi shalat sendiri cepat, itu merupakan syirik khafi.


Untungnya menjadi Mukminin/Muslimin

Adalah mendapatkan Barokah dari Allah. Kalau sekiranya manusia ini tidak mendapatkan kasih sayang dari Allah maka mereka masuk orang yang rugi.

Allah SWT berfirman:

ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ مِّنْۢ بَعْدِ ذٰلِكَ ۚ فَلَوْلَا فَضْلُ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَتُهٗ لَـكُنْتُمْ مِّنَ الْخٰسِرِيْنَ

“Kemudian, setelah itu kamu berpaling. Maka sekiranya bukan karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, pasti kamu termasuk orang yang rugi.” (QS. Al-Baqarah 64)

Kita sebagai umat Nabi Muhammad SAW patut merasa bersyukur sekali. Sebagai bandingan dengan umat Nabi Musa ketika mereka berdosa karena menyembah patung sapi dianggap sebagai Tuhan , tobatnya hanya bisa dilakukan dengan membunuh diri mereka sendiri (Q.S Al Baqarah ayat 54). Kita umat Muhammad tidak demikian. Kita hanya diperintahkan Taubat Nashuha :

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا تُوْبُوْۤا اِلَى اللّٰهِ تَوْبَةً نَّصُوْحًا ۗ 

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertobatlah kepada Allah dengan tobat yang semurni-murninya.” (QS. At- Tahrim 8)

Ini termasuk fadhilah atau barokah dari Allah.

Nabi Muhammad SAW menjelaskan bahwa dengan Niat beramal baik saja sudah mendapat pahala.


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللهُ  عَنْهُمَـا ، عَنْ رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِيْمَـا يَرْوِيْهِ عَنْ رَبِّهِ تَبَارَكَ وَتَعَالَى ، قَالَ : «إِنَّ اللهَ كَتَبَ الْـحَسَنَاتِ وَالسَّيِّـئَاتِ ، ثُمَّ بَيَّنَ ذَلِكَ ، فَمَنْ هَمَّ بِحَسَنَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ، كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِـهَا فَعَمِلَهَا كَتَبَهُ اللّـهُ عَزَّوَجَلَّ عِنْدَهُ عَشْرَ حَسَنَاتٍ إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ إِلَى أَضْعَافٍ كَثِيْرَةٍ ، وَإِنْ هَمَّ بِسَيِّـئَةٍ فَلَمْ يَعْمَلْهَا ؛ كَتَبَهَا اللهُ عِنْدَهُ حَسَنَةً كَامِلَةً ، وَإِنْ هَمَّ بِهَـا فَعَمِلَهَا ، كَتَبَهَا اللهُ سَيِّئَةً وَاحِدَةً ». رَوَاهُ الْـبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Ibnu ‘Abbâs r.a dari Nabi SAW tentang hadits yang beliau riwayatkan dari Rabb-nya Azza wa Jalla . Nabi SAW bersabda, “Sesungguhnya Allâh menulis kebaikan-kebaikan dan kesalahan-kesalahan kemudian menjelaskannya. Barangsiapa berniat melakukan kebaikan namun dia tidak jadi melakukannya, Allâh tetap menuliskanya sebagai satu kebaikan sempurna di sisi-Nya. Jika ia berniat berbuat kebaikan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai sepuluh kebaikan hingga tujuh ratus kali lipat sampai kelipatan yang banyak. Barangsiapa berniat berbuat buruk namun dia tidak jadi melakukannya, maka Allâh menulisnya di sisi-Nya sebagai satu kebaikan yang sempurna. Dan  barangsiapa berniat berbuat kesalahan kemudian mengerjakannya, maka Allâh menuliskannya sebagai satu kesalahan.” [HR. al-Bukhâri Muslim]

Allah memberi peluang kepada orang yang mempunyai kehendak atau niat ingin baik tapi tidak sempat diamalkan. Mungkin karena kendala tidak punya atau lupa dan sebagainya, tapi sudah dicatat sebagai pahala. Baru niat saja sudah dapat nilai. Tetapi kalau niat baik tadi dilaksanakan pahalanya bisa 10 kali, 700 kali bahkan sampai tak terbatas.

Kita dianjurkan untuk Sabar, karena sabar itu pahalanya tak terbatas, bisa dilihat pada Surat Az zumar ayat 10. Puasa juga sama, pahalanya yang tahu hanya Allah.

Rasulullah SAW bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعمِائَة ضِعْفٍ ، قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ : إِلَّا الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ

“Semua amal Bani Adam akan dilipat gandakan kebaikan sepuluh kali sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Azza Wa Jallah berfirman, ‘Kecuali puasa, maka ia untuk-Ku dan Aku yang akan memberikan pahalanya.” (HR Muslim)

Sebaliknya bila berniat jelek dan kemudian dia menggagalkannya, misalnya ada orang berniat mau mencuri di Mall kemudian dia membatalkan, dia dapat pahala satu karena pembatalan! Tapi kalau niat jelek dilakukan, dia dapat dosa satu.

Kesimpulan, teruslah mempunyai niat baik. Orang barat mengatakan Positive Thinking.

Ada lagi hadits yang baik, bahwa dalam berniat saja sudah mendapat pahala yang sama dengan yang melakukannya. Namun sebaliknya niat juga bisa memasukkan ke dalam neraka. Kisah ini diambil dari hadits.

Abu Bakrah Nufa’i bin Harits Ats Tsaqafi berkata bahwa Nabi SAW. bersabda,

إِذَا الْتَقَى الْمُسْلِمَانِ بِسَيْفَيْهِمَا فَالْقَاتِلُ وَالْمَقْتُولُ فِى النَّارِ » . فَقُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ هَذَا الْقَاتِلُ فَمَا بَالُ الْمَقْتُولِ قَالَ « إِنَّهُ كَانَ حَرِيصًا عَلَى قَتْلِ صَاحِبِهِ

“Apabila dua orang Islam yang bertengkar dengan pedangnya, maka orang yang membunuh dan yang terbunuh sama-sama berada di dalam neraka.” Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, sudah wajar yang membunuh masuk neraka, lantas bagaimana gerangan yang terbunuh?” Beliau menjawab, “Karena ia juga sangat berambisi untuk membunuh sahabatnya.” (Muttafaqun ‘alaih).

Yang dibunuh juga masuk neraka karena ketika dia mulai bertarung juga ingin membunuh. Akhirnya keduanya masuk neraka. Maka kita tidak boleh bertengkar. Karena pertengkaran pasti saling balas membalas kalimat. Apalagi bila membawa senjata tajam, biasanya jadi masalah besar. Dan ujung-ujungnya masuk neraka.


Niat Dalam Muamalah, di Akhirat dihisab

Ada lagi yang niat sudah jelek dari awal. Rasulullah memperingatkan bahaya niat buruk dalam hubungan muamalah :

أَيُّمَا رَجُلٍ يَدَيَّنُ دَيْنًا وَهُوَ مُجْمِعٌ أَنْ لاَ يُوَفِّيَهُ إِيَّاهُ لَقِىَ اللَّهَ سَارِقًا

“Siapa saja yang berhutang lalu berniat tidak mau melunasinya, maka dia akan bertemu Allah (pada hari kiamat) dalam status sebagai pencuri.” (HR. Ibnu Majah)

Hutang harus dibayar, meskipun dengan cara dicicil sedikit demi sedikit.


Pahala dan Siksa karena Niat

Ada sebuah Hadits panjang yang dibawakan oleh sahabat Abi Kabsyah Al-Anshari r.a , bahwasanya ia mendengar Rosulullah SAW bersabda : 

  أُحَدِّثُكُمْ حَدِيثًا فَاحْفَظُوهُ ، قَالَ : إِنَّمَا الدُّنْيَا لأَرْبَعَةِ نَفَرٍ : عَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَعِلْمًا ، فَهُوَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَيَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَيَعْلَمُِ للهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَفْضَلِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ عِلْمًا وَلَمْ يَرْزُقْهُ مَالاً ، فَهُوَ صَادِقُ النِّيَّةِ ، يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَأَجْرُهُمَا سَوَاءٌ ، وَعَبْدٍ رَزَقَهُ اللهُ مَالاً وَلَمْ يَرْزُقْهُ عِلْمًا ، فَه ُوَ يَخْبِطُ فِي مَالِهِ بِغَيْرِ عِلْمٍ ، لاَ يَتَّقِي فِيهِ رَبَّهُ ، وَلاَ يَصِلُ فِيهِ رَحِمَهُ ، وَلاَ يَعْلَمُ ِللهِ فِيهِ حَقًّا ، فَهَذَا بِأَخْبَثِ الْمَنَازِلِ ، وَعَبْدٍ لَمْ يَرْزُقْهُ اللهُ مَالاً وَلاَ عِلْمًا ، فَهُوَ يَقُولُ : لَوْ أَنَّ لِي مَالاً لَعَمِلْتُ فِيهِ بِعَمَلِ فُلاَنٍ ، فَهُوَ بِنِيَّتِهِ ، فَوِزْرُهُمَا سَوَاءٌ.

“ Aku akan sampaikan kepada kalian satu perkataan dan hafalkanlah, “Beliau bersabda: “Sesungguhnya dunia ini untuk empat golongan :

● Seorang hamba yang dikaruniai harta dan ilmu kemudian ia bertakwa kepada Rabb-nya, menyambung silaturrahmi dan mengetahui hak-hak Allah Ta’ala, ini merupakan kedudukan yang paling mulia.

● Seorang hamba yang dikaruniai ilmu tapi  tidak dikaruniai harta, kemudian dengan niat yang tulus ia berkata: “Jika seandainya aku mempunyai harta, maka aku akan beramal seperti amalannya si-fulan “. Dengan niat seperti ini, maka keduanya mendapatkan pahala yang sama.

● Seorang hamba yang dikaruniai harta namun tidak diberi ilmu, lalu ia membelanjakan hartanya secara serampangan tanpa bersandarkan dengan ilmu, dan ia tidak
bertakwa kepada Rabbnya, serta tidak menyambung silaturrahim, dan tidak
mengetahui hak-hak Allah Ta’ala, maka ia berada pada kedudukan paling buruk. 

● Dan seorang hamba yang tidak dikaruniai harta dan juga tidak diberikan ilmu oleh Allah Ta’ala, lantas ia berkata : “Kalau seandainya aku memiliki harta, niscaya aku akan berbuat seperti yang dilakukan si-Fulan”. Maka dengan niat tersebut, keduanya memiliki dosa yang sama “. ( HR. At-Tirmidzi ) 

Golongan pertama, berilmu dan kaya, Contohnya : Nabi Sulaiman, Abu Bakar Ash-Shiddiq.

Golongan yang kedua, ada orang yang dia dikaruniai ilmu tapi tidak dikaruniai harta. Contohnya adalah Sayidina Ali bin Abi Thalib. Hanya dengan niat, bila kaya maka akan banyak shadaqoh dan sebagainya. Dengan niatnya itu dia pahalanya sama ! Dia mendapatkan kedudukan tinggi disisi Allah.

Golongan ketiga, hartanya banyak tapi tak punya ilmu. Dia tidak takut terhadap Allah, maka dia mendapat tempat yang buruk.

Golongan keempat, tidak kaya dan tidak berilmu. Tapi dia ingin meniru golongan ketiga maka niatnya saja sudah akan membawanya ke neraka.

Maka hendaklah kita menjadi orang dari kelompok satu atau dua.


Hikmah Lain

Dalam keadaan seperti ini ketika ada wabah Covid-19. Janji Rasulullah SAW bagi yang istiqomah, pahalanya sama dengan saat tidak udzur.
Maka kita yang biasa ke masjid lalu tidak shalat jamaah ke masjid tetap mendapatkan pahala yang sama seperti ketika tak ada udzur syar’i.
Udzur syar’i antara lain : Sakit, safar dan juga adanya kondisi wabah.
Kita tidak sakit Covid-19 tapi kita bertindak mencegah sakit Covid-19.

Sabda Rasulullah SAW :

إِذَا مَرِضَ الْعَبْدُ أَوْ سَافَرَ ، كُتِبَ لَهُ مِثْلُ مَا كَانَ يَعْمَلُ مُقِيمًا صَحِيحًا

“Jika seorang hamba sakit atau melakukan safar (perjalanan jauh), maka dicatat baginya pahala sebagaimana kebiasaan dia ketika mukim dan ketika sehat.” (HR. Bukhari)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here