Dr. dr. Andani Eka P. MSc

28 Dzulqo’dah 1441/ 19 Juli 2020



Saya cuma mencoba untuk membagi beberapa pengalaman kita di Sumatera Barat, yang kita harapkan sebenarnya bisa diaplikasikan di seluruh Indonesia. Dasar pemikirannya adalah adanya keprihatinan kita saat ini terkait dengan penanganan Covid-19 ini, dimana kondisi yang ada memperlihatkan baik itu Pemerintah, Masyarakat maupun Tenaga Kesehatan tidak siap untuk menghadapi Pandemi ini.


Kebijakan Yang Tidak Tepat

Dari sisi Pemerintah bisa kita melihat bahwa kebijakan-kebijakan itu seringkali bertentangan dengan prinsip-prinsip penanganan Pandemi. Saya contohkan misalnya :

1. Pada waktu kita merancang bahwa sistem pemeriksaan itu harus di Lab Litbangkes.
Sentralistik Diagnolisik tidak direkomendasikan sama sekali untuk Pandemi. Karena Pandemi itu prinsip utamanya adalah Early Detection. Bagaimana mungkin kalau hanya 1 Lab untuk memeriksa bisa cepat?

2. Pemeriksaan dengan Rapid Test. Bermasalah karena secara prinsip, sistem pemeriksaan yang digunakan pada Pandemi harus benar-benar akurat. Kalau kita lihat, apa yang direkomendasikan oleh WHO bahwa Real Time PCR itu masih merupakan diagnostik yang utama. WHO belum merekomendasikan sama sekali penggunaan Rapid Test.

Dalam hal ini kita juga bisa melihat, saking inginnya WHO menetapkan diagnostic yang akurat WHO menetapkan 2 atau 3 detector untuk mendeteksi Covid-19 ini.
Kalau biasanya kita bekerja di virus dsb, kita hanya menggunakan 1 detector saja, satu target saja untuk menentukan diagnosa. Tetapi pada Covid-19 ini WHO sampai menggunakan 2 atau 3 detector.

Kenapa Detector Rapid Test tidak direkomendasikan oleh WHO?

1. Terutama karena deteksi anti bodi.
Deteksi antibodi itu sangat sulit, sangat rendah sensitivitasnya pada minggu pertama.
2. Deteksi antibodi juga tidak terlalu bagus pada minggu kedua.
Kemungkinan terjadinya cross reaksi sangat besar sekali, karena pada manusia juga ada human corona virus.
3. Ada tindakan dan data independent tentang uji validasi dari masing-masing Rapid Test yang berkembang. Saat ini sudah mencapai 70 jenis Rapid Test.

Ini akan menjadi suatu perhatian kita bersama kedepannya bahwa untuk menghadapi Pandemi ini adalah bagaimana kita mendorong banyak Lab memiliki kemampuan untuk melakukan diagnostik.
Prinsip pertama dalam penanganan Covid-19 ini adalah bagaimana kita memutus rantai penularan.
Tidak ada jurus lain, Putuskan rantai Penularan!


Bagaimana cara kita memutus rantai penularan?

Ada dua cara :

1. Dengan membangun kesadaran masyarakat untuk mengikuti Protokol Covid-19.

Protokol Covid-19 terdiri dari 4 M :
– Menggunakan masker
– Mencuci tangan selalu , saya lebih merekomendasikan dibandingkan dengan menggunakan sanitizer.
– Menjaga jarak
– Mandi setelah kita pulang dari Rumah Sakit, Pasar atau tempat Keramaian yang beresiko untuk terjadinya kontak dengan orang yang terinfeksi.
Itu alternatif pertama, tapi alternatif ini sangat sulit dilaksanakan. Sangat sulit untuk mengubah perilaku masyarakat terkait untuk melaksanakan protokol Covid-19.

2. Memperbanyak Pemeriksaan.

Untuk memperbanyak Pemeriksaan ada dua hal yang harus dilaksanakan.
– Tracing untuk Supply sampel
– Testing untuk melakukan pemeriksaan sampel yang masuk.

Dua hal ini “Testing dan Tracing” akan menjadi dasar kita untuk melakukan isolasi dan treatment.
Kalau pasien tidak ada gejala , gejalanya ringan kita isolasi. Baik isolasi di rumah saja untuk orang- orang yang mempunyai kemampuan, ataupun isolasinya dilakukan di karantina, bagi orang yang secara ekonomis sangat susah untuk di rumah.

Di rawat di rumah sakit bagi orang-orang yang ada gejala sedang, berat dan sangat berat.

Ini adalah langkah-langkah yang harus kita lakukan. Dalam konsep ini kita bisa melihat bahwa upaya-upaya kita untuk melakukan protokol tidak bisa. Dengan Testing dan Tracing menjadi kartu utama.

Permasalahan muncul, sampai hari ini sesuai dengan permintaan Pak Jokowi satu bulan yang lalu, 30 ribu testing untuk semua daerah, tetapi ternyata sampel kita masih berkisar antara 20 – 25 ribu testing. Ini sangat sedikit sekali untuk perhari. Di Amerika Serikat perhari bisa 150 ribu testing.
Angka testing kita cukup mengerikan. Karena masih banyak daerah-daerah yang bahkan tidak ada test sama sekali. Tidak ada fasilitas untuk melakukan pemeriksaan. Dan mereka masih menggunakan Rapid Test sebagai dasar.


Kenapa masalah Pemutusan rantai penularan ini menjadi sangat krusial pada Pandemi ?

Ini tidak terlepas dari tahap-tahap perkembangan pandemi.
Saya membagi perkembangan Pandemi ini atas lima tahap

1. Phase Pre Pathogenesis
2. Phase Pathogenesis
3. Phase Erupsi
4. Phase Reconvalensi
5. Phase Recovery

1. Phase Pre Pathogenesis

Phase Pre Pathogenesis itu belum ada orang sakit, tapi informasi pandemi sudah ada. Pada phase ini harusnya promosi kesehatan , edukasi dan sebagainya dilakukan secara masif.

2. Phase Pathogenesis

Pada phase ini adalah dimana infeksi sudah terjadi. Tetapi jumlah yang terinfeksi yang terjadi ,atau kita katakan Positivity Ratenya masih di bawah 10%. Atau 15% maksimal.
Pada phase ini virus sudah mulai menyebar ke masyarakat. Upaya kita adalah disini sebenarnya bagaimana kita memutus rantai penularan tersebut.
Tahap ini adalah tahap kita harus bekerja keras untuk memutus rantai penularan.

3. Phase Erupsi

Bagaimana kalau kita gagal memutus rantai penularan? Maka kita akan masuk ke Phase Erupsi (Phase Eksponensial). Dimana angka kematiannya akan meningkat secara Eksponensial.

Ini jelas mengerikan, karena pada phase ini di Amerika Serikat saja dengan fasilitas yang sangat lengkap, angka kematiannya 2500-3000 perhari. Sementara di Eropa angka kematiannya berkisar antara 1000-2000 kematian perhari.

Ini adalah phase yang harus kita cegah. Kalau kita jatuh ke phase ini akan terjadi multi transmission atau multi infection. Artinya satu orang akan diinfeksi oleh beberapa orang yang konsekwensinya jumlah virus yang masuk pada orang tersebut akan lebih banyak.

Akibatnya severitynya lebih tinggi, gejalanya lebih berat maka angka kematian akan lebih tinggi.
Kalau pada Phase Pathogenesis kematian lebih banyak terjadi pada orang-orang dengan comorbit. Tetapi pada Phase Erupsi semua orang punya potensi untuk meninggal karena jumlah virusnya banyak sehingga respondnya lebih kuat.

Sangat kasian di kita kalau terjadi di suatu daerah, karena Rumah Sakit akan menghadapi beban yang sangat berat. Kalau pada Phase Pathogenesis, fokus pertempuran adalah di jalan-jalan dengan cara memutus rantai penularan. Tapi pada Phase Eksponensial fokus ada di Rumah Sakit untuk menurunkan angka kematian.Beban bagi Nakes sangat berat sekali, makanya kita lihat sekarang beberapa daerah sudah memasuki Phase Eksponensial banyak sekali nakesnya mulai bertumbangan. Ini adalah satu hal yang harus kita pelajari.

4. Phase Reconvalensi

Kasus mulai menurun, jumlah orang terinfeksi dalam populasi itu sudah banyak. Mungkin lebih dari 80%. Sehingga sebagaimana apa yang dikatakan orang Herd Immunity itu terjadi.

5. Phase Recovery

Dimana semuanya sudah mulai membaik dan kembali ke arah normal kembali.

Itu adalah Permodelan dari perkembangan Pandemi Covid -19.


Testing dan Tracing

Disini bisa kita lihat bahwa Testing dan Tracing menjadi kunci utama keberhasilan orang menghadapi pandemi Covid-19. Bisa kita lihat semua negara di dunia berpacu-pacu untuk melakukan banyak pemeriksaan.

Kita lihat kapasitas laboratorium di Indonesia.

Laboratorium yang di Indonesia yang memiliki kapasitas pemeriksaan lebih dari 1000 sampel perhari hanya 4 lab : Lab. Litbangkes, Lab Kesda DKI, Lab Kesda Jabar dan Lab FK Unand di Padang. Lab FK Unand adalah lab yang pertama melewati angka psikologis 1000.

Lab dengan kapasitas lebih dari 2000 pemeriksaan sampel perhari hanya ada dua lab : Lab Kesda DKI dan Lab FK Unand. Lab FK Unand mempunyai kapasitas sampai 3000 sampel perhari.

Pertanyaannya kenapa Lab FK Unand bisa begitu?

Karena Lab ini dibangun dengan prinsip, dengan konsep mencoba membantu masyarakat Sumbar untuk menghadapi Pandemi ini.
Kita menghadapi Pandemi ini dengan armada kekuatan sekitar 60 orang tenaga, 10 orang tenaga Doktor dari dalam dan luar negeri.

Dengan membangun motivasi pada mereka bahwa ini adalah bagian dari Proses Jihad. Maka mereka bisa bertugas selama 24 jam perhari. Ini selalu kita tanamkan ke mereka semua anggota Tim. Bahwa pekerjaan ini bukanlah hanya untuk sekedar gaya-gayaan bahwa kita sudah memeriksa. Tetapi yang paling penting adalah bagaimana kita bisa memeriksa sebanyak-banyaknya. Sehingga bisa menurunkan angka kejadian infeksi di Sumbar.

Bagaimana Proses Kami disana?

Dalam prosesnya saya sampaikan ke Pak Gubernur bahwa pemeriksaan masif melalui Test dan Tracing Covid. Covid-19 tidak bisa kita hilangkan sekarang, tetapi bisa kita kendalikan sesuai dengan indikator -indikator yang ada.

Hal ini disetujui Bapak Gubernur, maka kami mulai bekerja.

Awalnya kita kesulitan, kita hanya dapat mengerjakan 100 sampel perhari. Targetnya juga tidak begitu tinggi, hanya sekitar 200 maksimal 300.

Satu bulan pertama kita melewati angka 200. Belum sampai satu bulan sudah masuk 300. Kemudian setelah dilakukan satu setengah bulan sampai 700-800 sampel. Menjelang lebaran kita tembus angka 1500. Setelah lebaran kita melewati angka 2000 dan sekarang masih tertahan di angka 2000 karena sampel kita kurang.

Jadi Lab di Padang, di pusatnya FK Unand adalah satu-satunya lab dengan jumlah sampel yang kurang, sehingga menerima sampel dari Bengkulu, Kalsel dan Surabaya juga masuk ke Padang.

Apa Urgensinya melakukan Pemeriksaan Masif?

Jelas seperti di awal tadi, pemeriksaan masif untuk memutus rantai penularan. Sumbar dari angka Positivity Rate sekitar 6% kita lakukan Pemeriksaan masif , Sumbar nomer 6 terbanyak kasus Covid se Indonesia pada awal April, karena pasien banyak. Beda dengan propinsi lain. Sumbar waktu itu banyak mendapatkan kasus dari proses Tracing, sehingga yang positif itu adalah orang-orang tanpa gejala atau orang-orang dengan gejala yang ringan.

Pada waktu itu Para ahli epidemology berkomentar : Kenapa banyak sekali ? Kenapa dokter anda bergembira melihat banyak kasus positif?
Saya katakan bahwa prinsip penanganan Pandemi ini adalah pemutusan rantai penularan.

Sumber penularan itu adalah Orang-orang tanpa gejala atau orang-orang dengan gejala ringan yang ada di populasi masyarakat.
Tangkap mereka! Caranya test mereka melalui Pulse Contact Tracing. Jadi dari satu kasus positik, kita sampaikan ke Kadinas :
“Lakukan pemeriksaan masif”.

Lakukan kumpulkan sampel sebanyak-banyaknya Lab siap memeriksa. Kita sampaikan kepada semua Tim di Lab jangan mengeluh kalau sampel banyak. Tapi bergembiralah kalau sampel banyak karena ini adalah suatu proses kita untuk membantu masyarakat kita mengeliminasi Pandemi.


Laboratorium di Sumbar

Anggota Lab kita sebagian besar adalah mahasiswa S1, S2, S3. Tidak ada ASN sehingga sistem kerja mereka bisa didorong lebih kuat. Tidak ada istilah pulang jam 4 Sore, jam 5 sore. Pokoknya selesaikan dulu pekerjaan semaksimal mungkin dan secepat mungkin.

Saya juga berusaha untuk mengubah paradigma mereka dari paradigma penelitian menjadi paradigma pelayanan. Dan saya harapkan mampu mendorong mereka lebih cepat. Mereka mengingat bahwa pasien dan masyarakat menunggu hasil mereka secepat-cepatnya.

Pada kondisi tadi saya sampaikan kepada Pak Gubernur tidak usah risau. Kita berikan keyakinan Pak Gubernur tak perlu cemas dengan kasus positif yang banyak. Karena kalau kita berhasil mengendalikan, kita akan panen hasilnya dibelakang hari.
Alhamdulillah dalam satu bulan terakhir ini kita mulai panen.

Sumbar Testing Rate-nya nomer 2 terbaik di Indonesia. Kita sudah melewati batas psikologis 1% dari jumlah penduduk. Nomer 1 adalah DKI Jakarta, tapi tidak begitu jelas karena Lab Litbangkes dimasukkan sebagai sampel DKI, padahal sebenarnya disitu menerima sampel dari seluruh Indonesia, disamping itu juga sampel yang berasal dari Jabar, Bogor, Bekasi, Tangerang, Banten juga masuk atas nama DKI.

Testing Rate dan Positivity Rate

Angka Testing Rate standar WHO adalah 1 / 1000 /minggu. Standar WHO Positivity Rate 5%,
Angka Positivity Rate di Sumbar awalnya sekitar 6% turun terus sehingga mencapai angka 1,5% pada hari ini. Dalam satu bulan terakhir Testing Rate kita semua dibawah 1%.
padahal saat ini di semua daerah Positivitynya meningkat. Ini hal yang merisaukan.

Tracing Rate

Tracing Rasio di Sumbar 1 : 53
Bila ada 1 orang positif akan dilakukan tracing terhadap 53 orang.

Fatality Rate dan Recovery Rate

Angka kematian dan angka kesembuhan sebetulnya akan membaik seiring dengan banyaknya OTG positif yang terjaring.
Sumbar memiliki angka Kesembuhan (Recovery Rate) sekitar 4%. Tapi angka itu sebenarnya 13,5% pada awal-awal tahapan. Banyaknya kasus OTG yang positif yang in syaa Allah tidak akan meninggal akan menyebabkan angka kematian menurun.
Tetapi berapa angka kematian dari Pasien-pasien PDP yang dirawat? Data yang ada dari Dinkes memperlihatkan angkanya mencapai 50%. Ini menjadi suatu ironi kalau demikian.

Ini adalah suatu proses yang kita lakukan di Sumbar bahwa indikator-indikator epidemology menunjukkan bahwa Sumbar berada pada posisi yang relatif aman. Karena kita berhasil memutus rantai penularan.


Bagaimana Perkembangan Lab diluar Sumbar?

Setiap hari ada update data dari Litbangkes di Jaring Pemeriksaan Covid-19. Saya selalu memperhatikan data-data itu. Banyak daerah yang angka pemeriksaannya sangat sedikit sekali, ada yang memang karena kapasitas Labnya yang kecil, ada yang karena memang Bupatinya tidak mau diperiksa. Itu masalahnya ,dia takut semakin banyak kasus positif, semakin buruk, semakin jelek merahnya.

Pemerintah pikir bahwa daerah yang hijau adalah daerah yang tidak ada kasus positif. Ini salah.
Seharusnya kebijakan itu bukan seperti itu. Daerah yang melakukan testing sesuai dengan standar dan positivity rate yang rendah dibawah 5% itu adalah daerah yang baik. Itu daerah hijau. Jadi bukan didasarkan kepada jumlah kasus positif. Kalau itu dijadikan dasar maka akan banyak daerah yang tidak usah memeriksa.

Kemarin saya ketemu dengan Bu Risma Surabaya. Saya cukup memahami apa perasaan beliau.
Saya ilustrasikan begini :
Beliau adalah seorang Ibu yang punya duit banyak, ada banyak masyarakat yang kena Covid. Tapi dia tidak punya Lab. Dia tidak punya tempat .Dia tidak tahu dimana harus beli reagent. Sehingga di

Ada banyak Lab di Surabaya tapi kapasitasnya kecil. Tidak satupun Lab di Surabaya yang bisa melewati angka psikhologis 1000. Bahkan 750 perhari, tidak ada.

Beliau bingung apa yang harus dilakukan? Kan banyak masalah beliau, tapi saya bisa memahami kerisauan beliau. Setelah saya diskusi panjang dengan beliau saya pastikan kerisauannya.

Ini ibarat orang yang kaya raya, punya anak yang sakit keras tidak ada Rumah Sakit, tidak tahu beli obatnya dimana.
Beliau tidak punya Lab yang bisa dikontrol, yang bisa didorong.
Ini satu dilema, ada beberapa Lab tetapi kapasitasnya tidak mau naik-naik. Satu Lab di Surabaya hanya memeriksa 20-30 sampel perhari padahal Surabaya punya jumlah penduduk lebih dari 3 juta orang. Ini hal yang merisaukan.

Akhirnya saya lakukan pendekatan sama walikota atas permintaan dari BNPB kita berikan solusi.
Surabaya itu Tracingnya bagus sekali, Kepala Dinkes menyatakan selalu melakukan tracing tetapi masalahnya adalah tidak kuat. Setelah mereka Tracing, dia mendapatkan lagi, akhirnya di Rapid lagi, itu sangat mengerikan karena bisa saja yang negatif itu positif karena sensitivitas Rapid itu kecil. Apalagi minggu pertama.

Rencana Kami Di Surabaya

1. Kita coba rancang bangun Lab dengan fasilitas cukup bagus dengan memanfaatkan yang sudah ada dengan menambah peralatan untuk mencapai standar hari ini untuk pemeriksaan sampel 4000 perhari. Ditargetkan akan tercapai pada akhir bulan Agustus.

2. Untuk sementara Surabaya kirim sampel sekitar 2000 sampel ke Padang, Sumbar. In syaa Allah kita siap.

Bagi saya ini adalah tanggung jawab moral, ini adalah amanat. Ini adalah bagian dari proses kita terhadap umat. Kita penting kerja nyata sekarang. Ini kesempatan kita tenaga- tenaga kesehatan berjuang untuk umat kita pada kondisi Pandemi ini.

Bagaimana dengan Rumah Sakit? Mungkin kita sama-sama tahu yang sama-sama dokter. Banyak hal-hal yang kadang-kadang tidak sesuai dengan pikiran kita terjadi di Rumah Sakit. Saya tidak akan menjelaskan. Kita juga memahami kondisi-kondisi seperti itu.

Solusi kita sekarang seharusnya adalah bagaimana kita mengembangkan Testing dan Tracing semaksimal mungkin. Testing dan Tracing itu harus satu paket. Kerjasama antara Dinkes dan Lab itu harus rapat.

Kelebihan kami di Sumbar, Lab itu independent bukan dibawah Dinkes, bukan dibawah PemProv.
Bukan di bawah siapa-siapa. Memang dia dibawah Rektor karena letaknya di Fak Kedokteran tapi dia memiliki independency , karena Lab itu saya bangun dari awal. Saya bangun dengan dana saya sendiri secara pribadi, saya rancang sendiri dan begitu ada Covid kita masuk ke Covid dengan mengandalkan pengalaman sebelumnya dengan virus. Sehingga tidak terlalu sulit bagi saya untuk mengarahkan semua staf untuk bekerja disitu.

Walau ada rasa ketakutan pada awalnya, tapi dengan kita memberikan keyakinan, bahkan saya memberikan contoh untuk terjun langsung ke Lab untuk melakukan pemeriksaan. Mereka mulai memahami itu. Itu yang kita kembangkan di Sumbar.
Alhamdulillah posisi Sumbar menurut saya pada saat ini berada pada posisi yang terkontrol.

Angka positif kita sangat kecil. Kita periksa 2000 orang yang positif 5 orang. Kita periksa 1500 orang yang positif 3 orang, hampir tidak ada angka positif di atas 10 orang perhari dari 1000 orang.

Sebagian besar angka positif di Sumbar berasal dari orang-orang yang datang dari luar. Ini menjadi problem bagi kami sekarang. Walaupun kami sudah menggratiskan pemeriksaan PCR di Bandara tetap saja kasus itu lolos, karena mereka tidak patuh. Mereka hanya Rapid Test. Kami sudah menemukan 8 kasus Rapid Test yang non Reactive tapi Positive di bandara.
Bayangkan! Masih ada yang lolos karena mereka tidak patuh.

Kami sampaikan kepada Pak Gubernur, kalau begini caranya gak bisa lagi. Kita harus dorong mereka untuk PCR, tak ada opsi lain. Apalagi pendatang- pendatang lewat jalur Darat itu juga masalah. Tapi penemuan kita adalah kasus positif selalu berasal dari daerah-daerah merah Sumut, Sumsel, Jawa secara umum terutama Surabaya. KalSel dan SulSel. Itulah daerah-daerah merah yang harus diantisipasi segera.


Kapasitas Pemeriksaan Laboratorium.

Apa yang kita rancang di Surabaya seharusnya bisa juga dilakukan di tempat-tempat lain.

1. Prinsip pertama dalam Pengembangan Lab adalah Keterbukaan

– Jangan membayangkan lab itu hanya dikerjakan oleh orang kesehatan saja.
– Jangan membayangkan lab itu hanya orang Kedokteran saja.
– Untuk saat Pandemi ini ibaratkan seperti perang. Bukan hanya Tentara Regular yang bisa perang. Semua orang yang mempunyai kemampuan bisa ikut berperang.

Artinya Lab boleh diisi oleh siapa saja yang mempunyai pengalaman, memiliki kemampuan bekerja di Lab molecular, itu yang penting.
Kan tidak berbeda molecular pada virus hewan, virus tanaman dengan virus manusia. Tidak ada bedanya, sama saja.

Buka lowongan untuk semua mahasiswa S2, S3 dari Kedokteran Hewan, dari FMIPA, dari Biology, dari Farmasi dari Analis manapun silahkan bergabung karena ini adalah tugas kita bersama, bukan tugas orang Kedokteran saja. Bukan tugas Analis saja, tetapi tugas dari semua orang. Jangan Ego Sentris.


2. Jangan Takut Kasusnya Banyak

Kalau saya periksa 10.000 kasus positifnya 1500; saya periksa 1000 positifnya 250.
Jangan takut bahwa Surabaya 1500 orang positif. Tidak usah takut karena 1500 itu dari 10.000 Positif Ratenya hanya 15%.
Sementara 1000 sampel yang 250. Positivity Ratenya 25% itu lebih berbahaya dibanding yang 15%.

Jangan lihat 1500 dibandingkan dengan 150. Tidak sama itu.
Saya sampaikan saat ini Positivity Rate di Surabaya sekitar 25%. Artinya ada sekitar 25% dikalikan 3 juta penduduk yang terinfeksi pada Periode ini di Surabaya. Perkiraan kasarnya ada sekitar 700 sampai 750 ribu orang yang positif di Surabaya sekarang.

Itu masalah. Apakah kita tidak perlu mencari mereka?
10% saja mereka bisa kita tangkap, ini sudah luar biasa hasilnya. Kalau tidak kita periksa ini akan menyebar kemana-mana. Ini akan menjadi tidak terkontrol. Dan ini akan mempercepat kita memasuki Phase Erupsi .
Kasian teman-teman kita di Rumah Sakit.

Kalau masyarakat masih bisa tidak datang ke Rumah Sakit. Tetapi kita tenaga kesehatan harus masuk ke Rumah Sakit walaupun Rumah Sakit itu adalah zona yang Hitam, harus masuk!
Saya bisa bayangkan seorang sejawat kita tahu persis bahwa Rumah Sakit itu sarangnya Virus.

Sekarang ini banyak Tenaga Kesehatan masuk ke Rumah Sakit. Mungkin itu merupakan langkah terakhir mereka ke rumah Sakit , setelah itu mereka langsung dirawat disana.

Ini harus kita perhatikan!
Ini harus kita pahami bersama
Tenaga-tenaga kesehatan kita, rekan-rekan yang di Rumah Sakit : Dokter, Perawat, Bidan, Apoteker, Analis semua adalah orang-orang yang beresiko.

Maka pada saat-saat ini bisa kita lihat bahwa banyak Tenaga Kesehatan sudah banyak bertumbangan di daerah merah tersebut. Alhamdulillah Sumbar masih aman sejauh ini.

Ini adalah sebuah fenomena dimana kita harus memahami Pandemi ini secara utuh. Jangan hanya membayangkan Pandemi itu hanya mengobati orang di Rumah Sakit, itu salah. Pandemi ini harus dimulai dari Early Detection untuk memutus rantai penularan.

Pertempuran sesungguhnya Pandemi ini tahap awal adalah dijalan-jalan, di rumah-rumah, di Pasar-pasar, di Kantor-kantor dengan cara mencari orang-orang yang mempunyai potensi sebagai penular. Kalau ini gagal, maka benteng terakhir kita adalah Rumah Sakit, nanti korbannya akan lebih banyak jatuh disitu.

Pemahaman ini harus duduk. Semua Lab harus berfikir melakukan pemeriksaan sebanyak-banyaknya. Jangan hanya berfikir 300-400 atau seperti itu! Lakukan berbagai inovasi, lakukan berbagai upaya sehingga kita bisa melakukan itu.

Banyak Lab bersifat pasif, Lab tidak punya koneksi dengan Dinkes Kabupaten, Kota. Lab tidak punya koneksi dengan Direktur Rumah Sakit.
Ini harus kita ubah Lab harus menjadi sentral.

Kalau di Sumbar alhamdulillah Lab sudah menjadi sentral. Lab bisa berkomunikasi dengan semua Direktur Rumah Sakit, dengan semua Dinkes. Sebelum jam 06. 00 subuh semua rekapitulasi hasil pemeriksaan sudah sampai di tangan Gubernur. Sampai ke tangan Kadinkes Propinsi.

Jam 10.00 pagi semua hasil Pemeriksaan sudah sampai ke tangan para Direktur Rumah Sakit pengirim sampel , Kepala Dinas yang mengirim sampel. Setiap kasus Positif saya akan telpun, saya akan hubungi semua Kadinkes,
“Tolong lakukan Tracing, lakukan semua yang Bapak bisa”.

Saya tidak perlu mengajari mereka, ini ranking pertama, ini ranking kedua. Membikin mereka pusing, periksa saja semuanya yang kita terima karena kapasitasnya cukup besar.
Ini adalah suatu proses pembelajaran. Sebenarnya ilmu ini bukan ilmu baru. Ilmu ini merupakan ilmu yang sudah ada dari dulu. Pakar-pakar epidemology tahu teknik-teknik menghadapi Pandemi seperti ini. Tetapi saya tidak tahu kenapa kita tidak memahami itu? Kenapa kita tidak melaksanakan itu, saya tidak tahu kenapa. Atau kita cuma mau bertheori saja, sehingga kita tidak bisa melakukan itu dengan baik.

Saat ini kalau kita tidak kontrol, semuanya beli. Mesin PCR beli.
Kemarin saya bilang kepada Pak Doni Monardo bahwa yang kita butuhkan sebenarnya bukan Mesin PCR tetapi yang dibutuhkan adalah Mesin isolasi RNA. Kemampuan orang untuk isolasi RNA yang penting.

Mesin PCR sudah berlebihan yang dibeli. Kadang-kadang kualitasnya juga gak jelas. Saya tidak berani menggunakan Mesin PCR yang kualitasnya belum tahu. Terutama dari merk-merk yang bukan Eropa atau Amerika. Jepang dan Korea masih mending. Tapi diluar itu saya masih bingung. Dan kita harus menggunakan mesin PCR dengan kapasitas besar misalnya 96 sampel. Dan jangan beli mesin dengan sistem Close System karena itu akan mahal.

Pemahaman itu harus duduk semua orang. Semua harus berfikir efisiensi.
Saya di Sumbar kita dikasih Hotel, kita dikasih makan oleh Gubernur. Tapi saya tidak mau menggunakan. Saya mencari donatur untuk menyupply makanan kita. Saya kerjasama dengan Hotel, layanan pada karyawan dan barternya adalah kamar untuk menginap. Itu yang kita lakukan di Sumbar.

Intinya adalah kita bekerja optimal, kita berusaha efisien dan dana itu bisa digunakan oleh Gubernur untuk masyarakat lain. Karena ini adalah untuk kemaslahatan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK


LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here