Dr.H. Henry Shalahuddin, MIRKH

20 Dzulqo’dah 1441/ 11 Juli 2020



Peradaban Islam

– Peradaban Keseimbangan Ruhiyyah dan Maddiyyah.
– Peradaban Ilmu
– Peradaban Keadilan
– Peradaban melindungi kehormatan diri.

Peradaban islam sebenarnya bukan hanya hasil bangunannya saja. Bangunan fisik hanyalah produk terendah dari peradaban islam. Produk tertingginya adalah manusianya, karena peradaban ini dibangun antara keseimbangan peradaban Ruhiyah dan Maddiyah (materi). Dia adalah peradaban keilmuan, peradaban keadilan bahkan banyak sekali sampai dalam Al Qur’an ada perintah untuk melaksanakan amanah dengan adil.

Allah SWT berfirman:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِا لْعَدْلِ وَا لْاِ حْسَا نِ وَاِ يْتَاۤىِٕ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَآءِ وَا لْمُنْكَرِ وَا لْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

“Sesungguhnya Allah menyuruh kamu berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi bantuan kepada kerabat, dan Dia melarang melakukan perbuatan keji, kemungkaran, dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajaran.” (QS. An-Nahl 90)


اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُكُمْ اَنْ تُؤَدُّوا الْاَ مٰنٰتِ اِلٰۤى اَهْلِهَا ۙ وَاِ ذَا حَكَمْتُمْ بَيْنَ النَّا سِ اَنْ تَحْكُمُوْا بِا لْعَدْلِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ نِعِمَّا يَعِظُكُمْ بِهٖ ۗ اِنَّ اللّٰهَ كَا نَ سَمِيْعًۢا بَصِيْرًا

“Sungguh, Allah menyuruhmu menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan apabila kamu menetapkan hukum di antara manusia hendaknya kamu menetapkannya dengan adil. Sungguh, Allah sebaik-baik yang memberi pengajaran kepadamu. Sungguh, Allah Maha Mendengar, Maha Melihat.” (QS. An-Nisa’ 58)

Banyak sekali ayat dan hadits tentang berbuat adil. Nasehat-nasehat, petuah ulama juga bertaburan tentang keadilan.

Sultan Utsmani selalu didampingi jabatan Syaikhul Islam. Dia diangkat oleh Sultan secara administratif tapi independent. Sultan tidak bisa membatalkan keputusan atau menyanggah keputusan Syaikhul Islam, termasuk fatwa-fatwanya. Bahkan Sultan Suleiman al Qonuni pernah ditolak kesaksiannya dalam pengadilan. Beliau juga pernah mengalami konsekwensi dari keadilan itu sendiri ketika Syaikhul Islam memutuskan anaknya yang bernama Sehzade Mustafa dihukum mati.


Kesaksian Bangsa Barat

Masyarakat Utsmani dikenal sebagai masyarakat yang tekun, serius dan sangat hati-hati dalam memastikan bahwa segala sesuatunya telah dilakukan dengan benar, penuh pertimbangan dan tidak setengah hati.

Luigi Ferdinando Marsigli, cendekiawan Italia 1732 menulis :
Mereka berbicara dengan ringkas, bijak dan jarang sekali terlihat tertawa terbahak-bahak. Tidak mungkin anda jumpai orang Utsmani meludah dijalan.

Mereka adalah bangsa yang teguh, santun dan berakhlak. Menyukai ketenangan, tidak mau mengganggu orang lain, dan tidak terlihat kerumunan masyarakat yang berdesak- desakan atau saling dorong di kota manapun di negeri Utsmani.

Thornton, Inggris 1812 :
Mereka bangsa pemikir, memiliki kewibawaan, tidak suka teriak-teriak, tidur cepat dan bangun untuk sholat Fajar.

Ubicini, Sejarawan Perancis 1855 :
Mereka tidak suka berbangga diri dan merasa heran melihat orang yang membanggakan dirinya. Semuanya sibuk dengan pekerjaannya dan tidak mencampuri pekerjaan orang lain. Mereka juga bangsa yang teguh, sabar menghadapi kesulitan dan musibah.

A.Brayer, 1836 :
Anak-anak orang Turki bermain di jalanan dengan tenang, tidak menangis, tidak mengejek temannya, dan tidak teriak-teriak.

Dimitrie Cantemir, negarawan Romania, 1743 :
Tidak mungkin menyaksikan orang yang tidak beradab di Utsmani, dimana-mana pandangan mata kita dimanjakan oleh kelembutan dan halus budi bahasa.

Lady Craven, Penulis Inggris 1789 :
Cara orang Utsmani memperlakukan wanita harus menjadi contoh bagi kita di semua tempat. Mereka tidak pernah merendahkan wanita, apalagi di jalanan.

De Villamont, Perancis 1596 :
Saya pernah tinggal dirumah orang Utsmani di Kervansaray selama tiga hari. Makan minum gratis. Ternyata tradisi mereka melakukan itu bukan hanya untuk tamu muslim saja, tapi juga tamu Kristen.

Du Loir, Perancis 1654 :
Ada Yayasan Amal (Charity) khusus untuk binatang. Hampir tidak ada ladang kebaikan yang belum mereka pikirkan.

Jean de Thevenot, Perancis 1665 :
Orang-orang kaya Utsmani sering bersedekah dalam jumlah yang banyak. Mereka mencari orang-orang miskin yang tidak memperlihatkan kemiskinannya (iffah). Orang Utsmani sangat perhatian terhadap tetangganya yang miskin. Mereka sama sekali tidak toleran jika ada orang yang abai.


Beberapa Aturan Undang-Undang

Bukti bukti betapa tingginya peradaban Turki Utsmani dalam bidang keadilan juga bisa dilihat dalam Undang-undang yang mengatur tentang pembuatan makanan (roti), tentang bagaimana menjualnya dan tentang persyaratan kesehatan pada saat penyajiannya.
Bahkan tidak hanya terhadap manusia. Terhadap binatang tungganganpun manusia harus berbuat adil, tidak menyiksanya, tidak bertindak semena-mena yang apabila hal ini dilanggar akan mendapat sangsi.


U. U. Penerapan Standarisasi Harga Roti, bahan dan proses pembuatan, serta heginitasnya


“Harga roti sebesar 700 dirham, dan harus terbuat dari bahan tepung pilihan berwarna putih, tidak berbau, tempat dan alat adonan tepung harus bersih. Pengadonan tepung harus sesuai takaran dan standard. Jika roti mengandung bahan tepung yang berwarna hitam, atau pengadonannya tidak standard (kurang matang), maka pembuat roti harus menggunakan sejumlah kayu bakar dalam tungku atau menggunakan biji pinus. Barangsiapa yang tidak mematuhi arahan ini maka akan dikenakan sangsi”.(al watsa’iq …533)

Terkait berbagi kepada sesama, Turki Utsmani mempunyai tradisi unik ialah askida ekmek. Askida ekmek secara harfiah berarti roti yang ditangguhkan.
Prinsip utama tradisi roti yang ditangguhkan adalah membantu orang tanpa berharap akan imbalan atau pengakuan agar penerima bantuan tetap dapat menjaga martabat mereka.

U. U untuk Restoran dan Penjual Makanan

“Hendaknya juru masak di restoran, penjual nasi, dan roti memegang teguh (memperhatikan) proses memasak dengan baik dan bersih. Kemudian menyajikan makanan dengan piring dan tempat yang heginis yang dicuci dengan air dan dibersihkan dengan sapu tangan (serbet) . Tempat penyajian piring dan sendok yang besar hendaknya terbebas dari penyakit (kuman).


U U Dalam memanfaatkan Hewan

“Tidak menggunakan kuda yang luka (sakit), dan tidak boleh lalai memberi minum kuda dan keledai, serta menyediakan rumput. Tidak boleh memberi beban pada binatang tersebut melebihi kapasitasnya, sebab ia adalah hewan yang tidak bisa mengeluh (al watsa’iq.. hal 534).


Pandangan Prejudis Barat pada Turki Utsmani

Namun tidak semua memuji Turki Utsmani. Ada juga mereka musuh-musuh Turki Utsmani yang membuat tuduhan tanpa dasar.

– Ulama yang culas dan provokatif
– Oriental despotism
– Wanita harem yang malang
– Evil Empire
– Pasha yang jahat
– Fundamentalist
– Parade Sultan yang Cabul
– Teroris.


Saltanat Kalpisi (Harem Sultan)

Orang Barat yang ingin menggambarkan betapa kebobrokan Turki Utsmani, ingin menggambarkan bahwa Para Sultan adalah manusia cabul. Namun bagaimana mereka mendapatkan imajinasi itu, yang jelas harem adalah tempat yang tertutup dimana keluarga Sultan berkumpul. Tak mungkin ada orang luar bisa masuk kesana.

Kita dapat menilai dari peninggalan kaligrafi yang masih terukir dan dapat menjadi bukti bahwa di dalam harem, Sultan mengingatkan agar keluarganya tidak lupa untuk selalu beramal sholeh. Disana terukir potongan Surat An Nisa ayat 57 :

وَا لَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَعَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ سَنُدْخِلُهُمْ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَ نْهٰرُ

“Ada pun orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai.” (QS. An-Nisa’ 57)

Kemudian di dalam Hall of Sovereign, sebuah tempat yang luas di dekat kamar Sultan dan Pemandian, terukir kaligrafi Surat Al Baqarah ayat ke 261 untuk mengingatkan keluarganya agar suka bersedekah.

مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَا لَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْۢبَتَتْ سَبْعَ سَنَا بِلَ فِيْ كُلِّ سُنْۢبُلَةٍ مِّائَةُ حَبَّةٍ ۗ وَا للّٰهُ يُضٰعِفُ لِمَنْ يَّشَآءُ  ۗ وَا للّٰهُ وَا سِعٌ عَلِيْمٌ

“Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji. Allah melipatgandakan bagi siapa yang Dia kehendaki, dan Allah Maha Luas, Maha Mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah 261)

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here