Prof. Dr. H. Haedar Nashir MSi

19 Dzulqo’dah 1441/ 10 Juli 2020



Saya ingin menyampaikan beberapa hal pokok yang sifatnya iftitah saja.
Jika bapak, ibu, saudara-saudara sekalian telah menerima Pedoman atau Tuntunan serta Kebijakan PP Muhammadiyah berkaitan dengan Idhul Adha yang tentu prinsipnya tidak jauh berbeda dengan Idhul Fithri yakni kita tidak melaksanakan shalat sunah di lapangan, kemudian berqurban dibolehkan tetapi diseyogyakan kita salurkan, kita konversi untuk kegiatan penyantunan dhuafa, baik dalam konteks dhuafa secara umum maupun yang terkena akibat Covid-19 ini.

Maka tentu hal-hal seperti ini dan juga nanti kenapa kita masih mencoba untuk tetap berkegiatan di rumah dan tidak berkumpul secara masal, ini tentu ada hal-hal yang mendasar baik dari aspek Pandeminya itu sendiri, maupun dari segi sikap keagamaan kita dan organisasi kita.

Saya berharap nanti seluruh Keluarga Besar Persyarikatan mengikuti Pedoman, Tuntunan dan Kebijakan PP Muhammadiyah itu. Tidak perlu lagi ada kontroversi, ada perselisihan, apalagi menyalahi atau tidak mengikuti Pedoman itu karena kita sudah cukup beradaptasi selama 3 bulan lamanya, bahwa kondisi ini terjadi karena darurat dan Pandemi itu bukan ilusi, bukan konspirasi tetapi realitas obyektif yang dihadapi bukan hanya oleh bangsa Indonesia tetapi oleh seluruh bangsa di berbagai negara. Bahkan trendnya sekarang di Indonesia masih tetap tinggi sampai pada hari kemarin.

Kenapa saya mengajak untuk kita supaya tidak berselisih terus soal-soal seperti ini karena ada hal-hal yang mendasar yang harus kita fahami bersama, konteksnya adalah konteks darurat, Pandemi dan ini merupakan kondisi obyektif yang tadi saya sebut nyata. Agar kita semakin yakin maka ada beberapa hal kenapa PP Muhammadiyah mengambil kebijakan- kebijakan darurat termasuk dalam Panduan serta Tuntunan Beribadah.


1. Islam Harus Menjadi Solusi

Bahwa kita ingin menunjukkan, membuktikan dan bahkan dibenarkan bahwa lahir dari prinsip keagamaan kita, dengan “Ar-ruju’ ila Al Qur’an wa As- Sunnah” dan ijtihad bahwa islam itu harus menjadi solusi dalam menghadapi keadaan, termasuk keadaan Pandemi Covid-19. Jangan sampai islam dan kita umat muslim justru menjadi bagian dari masalah, atau menambah masalah.

Bahwa ketika terjadi musibah yang besar ini maka alhamdulillah Muhammadiyah sudah mengambil langkah-langkah yang cukup positif untuk memberi solusi itu, karena agama dihadirkan untuk menjadi solusi.

Konteks umumnya :

هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ 

hudal lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqoon

“sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil” (QS. Al-Baqarah 185)

Bahwa islam harus menjadi rahmatan lil-alamien, bahwa manusia yang terbaik adalah yang memberi manfaat bagi orang lain. Itu prinsip-prinsip yang melekat dengan islam.
Dalam konteks Syari’ahpun kita punya Maqoshidus Syari’ah yang kuat , baik dalam hal Hifdzun Nafs bahkan dalam konteks Hifdzud Dien-nya sendiri.

Hifdzun Nafs nya bahwa kita mencegah jatuhnya korban dan kemudian hilangnya nyawa karena terpapar oleh Covid-19. Soal ajal itu jelas ketentuan Allah, tapi ikhtiar kita mencegah itu. Dan prinsipnya kuat bahwa mencegah itu juga bagian dari menghindari satu nyawa itu sangat berguna, sangat bermakna dan sangat mahal. Ini satu hal yang harus kita pegang.

Allah SWT berfirman:

مَنْ قَتَلَ نَفْسًا بِۢغَيْرِ نَفْسٍ اَوْ فَسَا دٍ فِى الْاَ رْضِ فَكَاَ نَّمَا قَتَلَ النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ وَمَنْ اَحْيَاهَا فَكَاَ نَّمَاۤ اَحْيَا النَّا سَ جَمِيْعًا ۗ 

mang qotala nafsam bighoiri nafsin au fasaading fil-ardhi fa ka`annamaa qotalan-naasa jamii’aa, wa man ahyaahaa fa ka`annamaaa ahyan-naasa jamii’aa..

“.. bahwa barang siapa membunuh seseorang, bukan karena orang itu membunuh orang lain, atau bukan karena berbuat kerusakan di bumi, maka seakan-akan dia telah membunuh semua manusia. Barang siapa memelihara kehidupan seorang manusia, maka seakan-akan dia telah memelihara kehidupan semua manusia..” (QS. Al-Ma’idah 32)

Kita juga memenuhi rukun Hifdzud Dien, menjaga agama. Jangan dipertentangkan seakan-akan ketika kita tidak berjamaah di masjid, lalu kita di rumah itu Hifdzud Dien nya hilang. Tidak, bahwa kita hifdzud Diennya prinsip beribadah di rumahpun ada dasar-dasar yang kuat yang Majelis Tarjih sudah merinci sedemikian rupa.
Intinya bahwa kita dicegah jangan sampai mencelakai diri sendiri.

Allah SWT berfirman:

وَلَا تُلْقُوْا بِاَ يْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ  ۛ  وَاَ حْسِنُوْا  ۛ 

wa laa tulquu bi`aidiikum ilat-tahlukati wa ahsinuu,…

“.. dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah.” -(QS. Al-Baqarah 195)

Ini prinsip-prinsip dari agama kita.
Kesimpulannya : Keputusan Tarjih, Kebijakan PP Muhammadiyah dalam menghadapi darurat Covid-19 ini memenuhi maqoshidu syariah, hifdzud dien maupun hifdzun nafs, dan jangan dipertentangkan. Itu pointnya.

2. Ibadah Hakekatnya Taqarrub Ilallah

Dalam konteks ibadah jangan juga seakan-akan ketika kita beribadah di rumah karena darurat, itu seakan-akan lalu nilai khusyuknya hilang, kemudian nilai tahsinah atau manfaat dari ibadah itu hilang, lebih khusus lagi hakekat kita beribadah sama sekali tidak hilang.

Ibadah itu pada hakekatnya mendekatkan diri kepada Allah dengan menjalankan perintahNya dan menjauhi laranganNya. Dan melaksanakan apa yang diizinkan olehNya dalam kaitannya oleh syariah itu maka jantungnya at-Taqarrub ilallah.

Jadi di masjid, di rumah, dan di tempat manapun kita bersujud dan beribadah itu harus menambah taqarrub kita kepada Allah. Semakin dekat kita kepada Allah dengan segala konsekwensinya menghasilkan iman yang semakin kokoh, taqwa semakin kuat juga nanti keberislaman kita yang semakin sholeh. Dan lebih dari itu kalau kita sudah taqarub ilallah juga ihsan kepada kemanusiaan dan menjadi rahmatan lil alamien.

Jadi jangan terus keluarga besar Muhammadiyah itu berkutat disoal- soal yang sifatnya perdebatan rukun yang sebenarnyakan kondisinya darurat. Kalau tidak darurat masa sih kita menjauhi masjid ? Bahkan itu kan kesempurnaan kita berjamaah di masjid.

Begitu juga nanti ketika kita tidak berqurban lalu dikonversi untuk mereka yang dhuafa jangan merasa hilang nilai qurban itu. Karena kalau kita sudah taqarub kepada Allah itu hal-hal yang sifatnya kwantitatif, verbal, rukun itu lalu menjadi terkubur dalam hakekat kita bertaqarub kepadaNya.

Kalau normal itu kita berkurban secara langsung. Tetapi disaat seperti ini dan
“taqdimul aham alal muhim”.
Ada sesuatu yang dipentingkan lebih penting dari yang penting menyantuni dhuafa mustada’afin juga sama nilainya. Ini supaya tidak ada keraguan warga Muhammadiyah, biarpun kita mengijinkan juga ada qurban penyembelihan. Tapi dengan mengikuti protokol-protokol yang sangat ketat.

Jangan merasa ketika kita mengkonversi ibadah qurban kita nilainya untuk menyantuni sesama, misalkan seharga kita berqurban, lalu kita merasa hilang hakekat berqurbannya, atau hilang nilai ibadah qurbannya, tidak.!
Point filosofisnya adalah bahwa attaqarrub ilallahnya itulah yang harus kita pegang.

3. Hakekat Keber-islaman kita

Didalam al-matsail al-khomsah disebut
bahwa agama itu berupa Perintah dan Larangan termaktub dalam Al Qur’an dan Sunah Nabi tujuannya agar kita ini bahagia yang sejati di dunia dan akhirat. Dunia dan Akhirat itu tidak bisa dipotong dan dipisah-pisah. Bahkan budayawan Taufiq Ismail menyebut bahwa dunia itu sajadah panjang menuju akhirat.

Karena itu maka ketika menghadapi darurat Covid-19 seperti ini hakekat keberislaman kita yang ingin menciptakan kebahagiaan sejati atas nama islam , atas nama agama untuk meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.
Dimana kunci atau substansinya?
IMAN dan AMAL SHOLEH.

Kalau kita buka lembaran Al Qur’an, hakekat kita beribadah itu sebenarnya hakekat berislam itu pada kunci iman dan amal sholeh. Ada variabel antaranya yakni ILMU. Antara iman dan amal sholeh perlu ilmu, tetapi hakekatnya tetap iman dan amal sholeh. Maka kenapa banyak dalam Al Qur’an kata “amanu wa amilu sholih”.

Semakin iman kita baik dan semakin amal sholeh kita baik, itulah hakekat keberagamaan kita.
Jadi dengan Idhul Adha, Idhul Fithri di rumah, kemudian dengan Qurban dikonversi menjadi nilai manfaat untuk kaum dhuafa itu membawa kita pada mempertebal iman kita, memperkaya iman kita dan memfungsikan iman kita bagi kehidupan sekaligus juga berbuah amal sholeh.

Jangan sampai kemudian kita luruh itu, apalagi dihabiskan waktu untuk perdebatan di medsos. Jangan-jangan malah iman kita makin berkurang, kemudian amal sholeh kita menjadi berkurang karena terlalu sibuk berdebat di medsos.

Medsos itu baik, tetapi kalau kita tidak seksama dan tidak menjadi fa’il, lama-kelamaan kita menjadi maf’ul bihi atau menjadi konsumen. Bahkan untuk hal-hal yang sebenarnya tidak perlu. Akibatnya banyak orang merasa berprestasi ketika banyak bicara di medsos, lupa urusan-urusan yang ada di Persyarikatan, di sekitar masyarakat kita yang kita harus berbuat.

Hakekat iman dan amal sholeh harus tetap menjadi kekuatan yang dimiliki dalam kehidupan keberagamaan kita.
Maka di saat Pandemi sekarang ini sudah berlalu 4 bulan dan kita tidak bisa memastikan sampai kapan, walaupun kita berharap akan berakhir.

Jangan pernah ada setiap muslim, lebih-lebih warga Muhammadiyah, apalagi Kader dan Elit yang merasa hilang nilai keberagamaannya. Padahal disaat-saat seperti ini justru iman kita, amal sholeh kita harus bertambah.

4. Memperkaya Khasanah Keislaman dengan semakin menggunakan pendekatan pemahaman Bayani, Burhani dan Irfani

Baik di dalam menghadapi aspek- aspek ilmiah keagamaan maupun didalam kehidupan.
Agar apa? Agar kaya, mendalam dan luas baik dalam beragama maupun di dalam bermasyarakat, berbangsa, bernegara dan memandang kemanusiaan global. Jangan sampai warga , elit, kader Muhammadiyah picik pandangan, miopi, kemudian juga menjadi kerdil, naif dan bahkan mungkin menjadi tertinggal.

Padahal dahulu Muhammadiyah pelopornya berfikir keagamaan yang mendalam , luas, komprehensip. Juga di dalam menghadapi kehidupan, termasuk issue-issue kebangsaan dan sebagainya. Jangan sampai kita menjadi, maaf-maaf berfikir pinggiran atau berfikir parsial atau partisan yang kemudian kehilangan perspektif.

Dalam membaca realitas, termasuk Pandemi ini perlu Bayani, perlu Burhani, perlu Irfani juga. Dalam memandang issue-issue kebangsaan juga sama gunakan Bayani, Burhani dan Irfani.

Dengan tiga perspektif atau pendekatan ini nanti in syaa Allah Muhammadiyah warganya, elitnya dan kadernya nanti berada digaris depan di dalam memahami persoalan secara komprehensip sehingga kemudian kita juga bisa memberi solusi yang sesuai dengan tuntutan dan keadaan yang perlu kita pecahkan bersama.

Nashrun minallah wa fathun qariib.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here