Dr. H. Abdul Mu’ti MEd

19 Dzulqo’dah 1441/ 10 Juli 2020



Badai pasti berlalu, tapi berlalunya kapan mudah-mudahan bisa segera. Karena ini memang menjadi bagian dari musibah, bagian dari ujian yang memang diberikan oleh Allah untuk menguji kekuatan kita. Terutama adalah kekuatan iman kita dan juga untuk memberi kesempatan kita mengembangkan berbagai macam kajian ilmiah dalam rangka meningkatkan peradaban dan kemajuan dalam kehidupan masyarakat kita.

Suasana idhul Adha tahun ini memang berbeda dengan tahun sebelumnya. Bahkan mungkin menjadi sangat berbeda karena tahun ini pula Pemerintah Indonesia tidak memberangkatkan jama’ah haji. Ini juga menjadi sesuatu yang memang tidak mudah kita menjalaninya ,tetapi tentu kita semuanya memahami bahwa semua ketentuan di dalam kita beragama ada Hukum Taklifi yang memang mempersyaratkan adanya pemenuhan persyaratan tertentu untuk kita melaksanakan ibadah.

Selain juga ada Ketentuan Hukum Wadd’i dimana beribadah ini memang tidak bisa dilepaskan adanya beberapa ketentuan dan persyaratan yang membuat ketentuan Hukum itu mungkin berubah dan mungkin berbeda dari satu keadaan ke keadaan yang lainnya. Ini bukan mempermain -mainkan syari’ah tapi justru Syari’at yang mengatur itu.

Karena itu maka kalau kita membaca Al Qur’an misalnya ada makanan dan minuman yang diharamkan, tapi kemudian juga Al Qur’an juga menjelaskan bahwa :

فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَا غٍ وَّلَا عَا دٍ فَلَاۤ اِثْمَ عَلَيْهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ غَفُوْرٌ رَّحِيْمٌ


fa manidhthurro ghoiro baaghiw wa laa ‘aading fa laaa isma ‘alaiih, innalloha ghofuurur rohiim

“Tetapi barang siapa terpaksa memakannya , bukan karena menginginkannya dan tidak pula melampaui batas, maka tidak ada dosa baginya. Sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah 173)

Misalnya kalau kita dalam keadaan darurat, mengancam kehidupan, mengancam keselamatan dan tidak bermaksud membangkang, juga tidak untuk menciptakan permusuhan maka tidak ada dosa kita melakukan sesuatu yang awalnya diharamkan, tetapi karena keadaan dan untuk keadaan darurat.

Karena itu maka dalam kita melaksanakan syariat ini maka seperti tadi yang disampaikan oleh Prof Syamsul, kita tidak melanggar syari’at tetapi kita melaksanakan ketentuan Syari’at yang lainnya yang juga sama-sama dibenarkan oleh islam.

Kalau kemudian kita kaitkan ini dengan pelaksanaan idhul Adha, tidak berarti kemudian kalau kita tidak menyembelih binatang qurban, kemudian kita tidak mendapatkan hikmah dari pelaksanaan ibadah itu. Karena pada dasarnya ibadah itu, tadi juga Prof Syamsul juga sampaikan menjadi bagian dari kita ini bergembira, bersyukur atas anugerah Allah dan sebagai tanda bahwa nikmat Allah yang diberikan kepada kita itu jauh lebih banyak dari pada kesulitan yang sekarang ini sedang terjadi.

Di dalam Surat Al Kautsar yang seringkali menjadi dasar kita melaksanakan ibadah Qurban menyebutkan :

اِنَّاۤ اَعْطَيْنٰكَ الْكَوْثَرَ ۗ  فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَا نْحَرْ ۗ 
اِنَّ شَا نِئَكَ هُوَ الْاَ بْتَرُ

“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak.
Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah. Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus dari rahmat Allah.” (QS. Al-Kausar Ayat 1-3)

Ada yang menafsirkan Al Kautsar itu adalah nama dari salah satu Surga. Ada yang menerjemahkan secara sangat bebas menjadi kenikmatan yang sangat luar biasa yang tidak terhingga, yang kita tidak mampu menghitungnya. Dan karena itu maka sebagai tanda kita bersyukur atas nikmat Allah itu islam memberikan tuntunan agar kita melaksanakan shalat. Jadi shalat disini juga bagian dari tanda kita bersyukur atas nikmat Allah dan menyembelih Qurban.

Tapi kalau kemudian dijelaskan :
“inna syaani`aka huwal-abtar”
“Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).”

Dalam tafsir disebutkan al-abtar adalah onta yang tidak ada ekornya yang dalam masyarakat Arab dimaknai sebagai simbul dari orang yang tidak punya anak laki-laki. Dan dalam masyarakat yang Patriarch, orang yang tidak mempunyai anak laki-laki sering dikatakan sebagai orang yang terputus keturunannya atau tidak memiliki generasi pelanjut perjuangannya.

Tetapi kemudian dijelaskan bahwa orang yang terputus, bukan orang yang tidak punya anak laki -laki tapi orang yang tidak bersyukur dan tidak mematuhi ketentuan dan ajaran dari Allah dan sunah Rasulnya.

Oleh karena itu maka tentu ini harus menjadi bagian dari pemahaman dan menjadi kesadaran diri kita bersama -sama bahwa tuntunan yang disampaikan oleh Majelis Tarjih itu tidak dimaksudkan untuk kita bermaksiat atas syari’at Allah, juga tidak dimaksudkan untuk mencari-cari yang ringan, mencari-cari khiyar dari tuntunan yang ada tetapi juga melaksanakan syariat yang sesuai dengan maqoshid atau Tujuan dari ditetapkannya syariat itu.

Kalau kemudian ini kita kaitkan dengan ibadah idhul Adha dan ibadah Qurban, maka ibadah itukan memiliki beberapa dimensi. Selain ada dimensi yang berkaitan dengan aspek-aspek Kaifiyah tadi juga ada dimensi yang berkaitan dengan Tarikhul Tasyri, atau Sejarah suatu ibadah itu disyariatkan.

Kemudian juga ada Hikmah, ada makna yang kita petik dengan kita melaksanakan suatu ibadah. Dan qurban itu kalau kita baca di dalam banyak sekali kitab fiqih dan juga dalam banyak sekali didalam sejarah, bahkan di dalam banyak sekali ayat-ayat Al Qur’an memang memiliki kedekatan dan kaitan yang sangat erat dengan Nabiyullah Ibrahim a.s dan keluarganya.

Kalau itu kemudian kita kaitkan dengan kehidupan kita sekarang ini maka banyak sekali kisah-kisah dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya itu yang kisah-kisah itu kalau kita hayati dan kemudian kita melakukan refleksi terhadap berbagai kehidupan kita bisa menjadi bagian dari cara kita mendapatkan hikmah dari kita melaksanakan ibadah Qurban dan juga ibadah -ibadah yang lainnya selama idhul Adha.

Kalau kemudian kita mencoba memahami, kisah ini memang beda dengan sejarah. Kalau Kisah itu yang penting adalah maknanya, bukan detail peristiwanya dan juga bukan hal-hal yang sifatnya deskripsi mengenai suatu Peristiwa, tetapi Kisah itu menekankan pada sisi maknanya dan bukan urutan peristiwanya. Dan makna itu akan kita peroleh kalau kita juga menangkap maqoshid atau menangkap Tujuan dari berbagai amalan.

Kalau kemudian kita kaitkan dengan kehidupan kita sekarang ini maka Kisah Ibrahim a.s itu paling tidak memiliki 3 makna penting yang menjadi pelajaran bagi kita.

Nabi Ibrahim dan keluarganya adalah contoh bagi kita bagaimana makna sebuah keluarga yang Sakinah, keluarga yang hidup sangat bahagia dan contoh bagaimana keluarga yang memiliki kesuksesan dalam regenerasi.

Memang banyak penjelasan yang menyebutkan bahwa Nabi Ibrahim memiliki dua orang isteri. Dan ini juga bukan bagian dari sunah yang harus diikuti. Beliau memiliki dua orang anak yang keduanya menjadi Nabi. Kemudian dari dua orang anak itu juga menurunkan Nabi -Nabi yang lainnya.

Ini contoh yang luar biasa bagaimana Allah mengabulkan do’a Nabi Ibrahim itu ketika beliau berdo’a memohon kepada Allah supaya bisa menjadi legenda atau dalam bahasa Al Qur’an menjadi “lisana shidqin”, menjadi buah bibir yang baik bagi generasi yang akan datang.

Ibrahim adalah Nabi Allah yang setiap kali shalat kita baca shalawat kepada beliau, bahkan untuk keluarga beliau.

Ada tiga makna penting yang bisa kita petik dari Kisah Ibrahim.


1. Kepatuhan


Bagaimana Ibrahim menjadi Hamba Allah yang senantiasa mematuhi apapun yang diperintahkan oleh Allah secara ikhlas, walaupun perintah itu sungguh sangat berat untuk menunaikannya.

Ini bisa kita pahami kalau kita bisa melakukan rekonstruksi dan mengambil makna bagaimana perjuangan beliau ini sebagai seorang suami yang mendambakan anak dari perkawinannya, kemudian sudah berpuluh tahun baru dikaruniai seorang anak yang bernama Ismail dan kemudian ketika sang anak itu lahir dan kemudian pada masa yang sangat menyenangkan kemudian justru Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim untuk menyembelihnya.

Ini sesuatu yang sesungguhnya tidak mudah untuk melaksanakannya, begitu beratnya dan kemudian Ibrahim dengan kepatuhannya itu menyampaikan mimpinya kepada Ismail dan kemudian Ismail juga bersetuju untuk Ibrahim bapaknya itu melaksanakan perintah Allah.

Karena itulah maka kepatuhan inilah yang menjadi teladan bagi kita bagaimana seorang Hamba Allah itu harus “mukhlisina lahu dien”. Betapapun perintah Allah itu sangat berat kita tentu harus menunaikannya. Bahkan ketika kemudian Allah memerintahkan Ibrahim untuk pindah, untuk hijrah :

اِنِّيْ مُهَا جِرٌ اِلٰى رَبِّيْ ۗ 

innii muhaajirun ilaa robbii

“Sesungguhnya aku harus berpindah ke tempat yang diperintahkan Tuhanku.” (QS. Al-‘Ankabut 26)

Ibrahimpun berpindah.Beliau berpindah dari Palestina ke tempat yang di dalam Surat Ibrahim ayat 37 disebutkan dengan :

بِوَا دٍ غَيْرِ ذِيْ زَرْعٍ عِنْدَ بَيْتِكَ الْمُحَرَّمِ ۙ 

biwaadin ghoiri zii zar’in ‘ingda baitikal-muharromi

“di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati.”
(QS. Ibrahim 37)

Karena itu maka bisa kita bayangkan bagaimana beratnya Nabi Ibrahim dan keluarganya mematuhi perintah Allah. Tetapi semuanya ditunaikan dengan penuh keikhlasan.


2. Keteguhan

Kita memahami bahwa banyak di dalam ayat Al Qur’an Nabi Ibrahim di dalam memegang teguh keyakinannya. Bagaimana dia harus berdebat dan berbeda dengan ayahnya. Bahkan kemudian berbeda dengan masyarakatnya. Bahkan kemudian dengan keberaniannya juga kemudian melaksanakan sebuah tugas yang radikal. Tapi dengan pemahaman dan logika yang luar biasa cerdas.

Dan Ibrahim tidak pernah gentar untuk sendirian. Al Qur’an menyebutkan bahwa Ibrahim berani mengasingkan diri, berbeda dengan yang lain demi kebenaran.

Ini prinsip penting bahwa kebenaran itu tidak diukur dari banyaknya orang yang mendukung. Kebenaran tidak bersifat populis, dimana kalau banyak yang mendukung berarti itu benar. Tapi kebenaran itu adalah apa yang dituntunkan oleh Allah dan kemudian kita tunaikan dengan penuh istiqomah.

Ibrahim kemudian demi prinsipnya sampai lalu dibakar hidup-hidup. Tapi kemudian atas pertolongan Allah kemudian dia sama sekali tidak terbakar. Ini tentu adalah bagian dari mukjizat bagaimana Allah menolong hambanya yang istiqomah menjalankan tuntunannya.


3. Kisah Sukses Bagaimana kemenangan , keberhasilan diraih oleh hamba Allah

Inilah yang kemudian menjadi pelajaran bagi kita, bahwa tidak ada sesuatu yang instant untuk kita bisa meraih keberhasilan. Tidak selalu mudah untuk kita bisa mendapatkan berbagai macam kebahagiaan dalam kehidupan ini.

Ada proses dimana kita ini harus berkurban, bahkan juga ada pengorbanan. Jadi kalau orang hanya “leha -leha”, santai, relax kemudian ingin sukses, itu tidak menjadi bagian dari tuntunan islam.

Tetapi orang juga tidak kemudian menderita sepanjang hidupnya, karena dia tentu dalam setiap perjuangan mesti akan ada masa dimana dia memetik kejayaan dan memetik kemenangan.

Pada sisi ini juga ada hal penting yang menjadi pertanyaan dan juga menjadi bagian dari syi’ar kita mengapa Allah mensyariatkan ibadah Qurban itu.

Kalau ini didekati dengan pendekatan Teologis, ayat-ayat yang membahas mengenai Kisah Nabi Ibrahim memang banyak dikaitkan dengan klaim orang Yahudi dan klaim orang Nasrani bahwa Ibrahim itu adalah bagian dari mereka. Bahkan dalam study agama misalnya agama Islam, Kristen dan Yahudi itu sering disebut dengan Abrahamic Religion (Agama Ibrahim) atau dalam study agama disebut sebagai monotheistic Religion (agama mono teis).

Tetapi kemudian Al Qur’an menjelaskan kenapa disyariatkan karena untuk menegaskan bahwa Ibrahim bukan seorang Yahudi, Ibrahim bukan seorang Nasrani, tetapi seorang Muslim yang sangat taat dalam melaksanakan ajaran agama. Seorang Muslim yang senantiasa berserah diri kepada Allah dengan ketulusan yang sempurna.

Allah SWT berfirman:

مَا كَا نَ اِبْرٰهِيْمُ يَهُوْدِيًّا وَّلَا نَصْرَا نِيًّا وَّ لٰكِنْ كَا نَ حَنِيْفًا مُّسْلِمًا ۗ وَمَا كَا نَ مِنَ الْمُشْرِكِيْنَ

maa kaana ibroohiimu yahuudiyyaw wa laa nashrooniyyaw wa laaking kaana haniifam muslimaa, wa maa kaana minal-musyrikiin

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nasrani, tetapi dia adalah seorang yang lurus, muslim, dan dia tidaklah termasuk orang-orang musyrik.” (QS. Ali ‘Imran 67)

Ini penting menjadi pemahaman kita, karena pada konteks kehidupan Nabi ketika beliau berada di Madinah, memang diantara trouble-makernya itu orang-orang Yahudi. Dan mereka kalau kita baca di dalam tulisan Para Orientalist, orang-orang Yahudi mengklaim bahwa dalam proses kurban yang akan disembelih adalah Ishak, bukan Ismail. Tetapi kalau kita mencoba melakukan study sejarah maka Ishak itu lahir jauh setelah Ismail.

Penjelasan ini menjadi penting untuk menegaskan bahwa Ibrahim itu adalah seorang Muslim, bukan seorang Yahudi, bukan pula seorang Nasrani. Walaupun di dalam konteks study agama, di dalam agama Yahudi juga ada ajaran mengenai penyembelihan kurban. Bahkan di konteks masyarakat tertentu terutama di Eropa dan Negara- negara Barat, dimana banyak aktivis hak-hak azasi binatang (Animal Rights). Mereka menentang keras ajaran mengenai penyembelihan kurban dengan segala kritik -kritik yang mereka lakukan.

Tetapi ini menjadi pemahaman kita bahwa “menyembelih” itu bukan bagian dari Hakekat kita berqurban, tetapi bagian dari cara kita ber-taqarub kepada Allah.

Karena itu maka di dalam ayat Al Qur’an dijelaskan :

لَنْ يَّنَا لَ اللّٰهَ لُحُـوْمُهَا وَلَا دِمَآ ؤُهَا وَلٰـكِنْ يَّنَا لُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ۗ 

lay yanaalalloha luhuumuhaa wa laa dimaaa`uhaa wa laakiy yanaaluhut-taqwaa mingkum,..

“Daging dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu.” (QS. Al-Hajj 37)

Ini menjadi penting, sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Prof Syamsul bahwa ‘TIDAK MENYEMBELIH, TIDAK BERARTI KITA TIDAK BERQURBAN’. Tetapi adalah CARA KITA UNTUK BERTAQARUB KEPADA ALLAH, salah satunya dengan menyembelih Qurban, tetapi banyak cara lain yang bisa kita lakukan bila kita ingin bertaqarub kepada Allah, dengan membantu sesama umat manusia.

Dalam makna Takwil, kenapa diperintahkan menyembelih? Ada yang menyebutkan supaya kita membunuh sifat-sifat kebinatangan. Dengan binatang itu adalah makhluk Allah yang rakus, nggak pakai aturan, tidak tertib.

Dalam beberapa hal, memang sifat-sifat kebinatangan harus kita jauhkan dari kehidupan kita sehari-hari.
Berikutnya, semangat kita untuk berkurban menolong sesama. Bahkan untuk berkurban itu mungkin kita harus merelakan dari sebagian hak -hak kita, merelakan sebagian dari waktu kita dan tenaga kita untuk menyelamatkan umat manusia.

Dalam situasi seperti ini saya kira kita perlu mengambil hikmah, mengambil pelajaran agar kita sebagai warga Persyarikatan juga menjadi Hamba -hamba Allah yang patuh yang mematuhi Pimpinan, tentu mematuhi Allah dan Rasulnya.

Allah SWT berfirman:

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اَطِيْـعُوا اللّٰهَ وَاَ طِيْـعُوا الرَّسُوْلَ وَاُ ولِى الْاَ مْرِ مِنْكُمْ ۚ 

yaaa ayyuhallaziina aamanuuu athii’ulloha wa athii’ur-rosuula wa ulil-amri mingkum,..

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri di antara kamu..” (QS. An-Nisa’ 59)

Ketaatan kita kepada Pimpinan adalah cermin atau refleksi dari kita mentaati Allah dan Rasulnya.
Dalam Shahih Bukhori juga dijelaskan bahwa orang yang mentaati Pemimpin sama dengan mentaati Rasul. Dan mentaati Rasul sama dengan mentaati Allah SWT.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here