Prof.Dr.H.Syamsul Anwar MA

19 Dzulqo’dah 1441/ 10 Juli 2020


Mengenai Idhul Adha sama dengan Idhul Fithri, dari segi ibadahnya Idhul Fithri dulu sudah kita jelaskan di dalam Fatwanya. Tapi sebelum masuk kepada detail tuntunan ibadah shalat dan Qurban, saya terlebih dulu mengingatkan apa yang tadi sudah diantarkan oleh Prof. Dr. H. Haedar Nasir MSi, Ketua Umum PP Muhammadiyah tentang bahwa agama itu diturunkan untuk memberi rahmat sesuai dengan Firman Allah :

وَمَاۤ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّـلْعٰلَمِيْنَ

“Dan Kami tidak mengutus engkau Muhammad melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.” (QS. Al-Anbiya 107)

Ayat ini oleh ahli-ahli syariah diturunkan menjadi suatu yang disebut sebagai Maqoshid asy-Syari’ah yaitu Tujuan Agama itu sendiri.

Memberi rahmat itu diterjemahkan menjadi sebagai Tujuan Syari’ah yaitu Tahqiq al-masalih (mewujudkan kemaslahatan).
Ada banyak kemaslahatan berupa :
– Perlindungan terhadap keberagamaan kita.
– Perlindungan terhadap jiwa raga kita.
– Perlindungan terhadap akal.
– Perlindungan terhadap institusi keluarga.
– Perlindungan terhadap harta kekayaan yang kita miliki.
Dan secara lebih umum, perlindungan terhadap keberekonomian kita dalam kehidupan kita sehari-hari.

Syari’ah itu juga mempunyai norma- norma dalam mencapai maqoshid.
Norma itu di dalam Tarjih dicoba dirumuskan secara hierarkhis ada tiga jenjang.

1. Jenjang Pertama : Nilai-nilai Dasar

Norma yang berwujud Nilai-nilai Dasar Agama. Al Qiyam Al asasiyyah li dinul islami. Nilai-nilai Dasar Agama itu pada intinya adalah ajaran-ajaran universal islam yang meliputi baik nilai-nilai Dasar Teologis, Etis maupun Yuridis syar’i. Nilai-nilai Dasar Teologis itu tentu yang paling pokok adalah Tauhid, iman kepada Allah dan turunan -turunannya.

Nilai-nilai Dasar Etis itu juga banyak sekali, akhlakul karimah misalnya. Akhlakul karimah ini wujudnya juga banyak. Di dalam maklumat terakhir PP Muhammadiyah yang mungkin sudah dapat di down load di Web Muhammadiyah juga Web Majelis Tarjih. Ada nilai dasar misalnya Tolong- menolong ( wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa). Ada nilai dasar Solidaritas, misalnya Nabi bersabda :

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan yang lain seperti bangunan. Yang sebagian menguatkan sebagian yang lain ” (HR Bukhori Muslim).

2. Jenjang Kedua : Asas

Dari nilai-nilai itu diturunkan asas-asas. Ada banyak sekali asas :
– Asas Kemudahan,
– Asas tidak menimbulkan mudharat.
“La Dharara wa Laa Dhirara” (Tidak Memadaratkan dan Tidak Pula Dimadaratkan).

Dan berbagai asas yang lain, misalnya : “taqdimul aham alal muhim” mendahulukan yang penting diantara yang penting.
Agama islam itu kaya sekali dengan prinsip-prinsip ajaran. Itu hanya sebagian saja dari berbagai asas, dari nilai dasar.

3. Jenjang Ketiga : Ketentuan Detail

Jenjang ketiga yang lebih rinci lagi yang disebut al ahkamul furu’iyah (ketentuan-ketentuan hukum far’i, cabang, detail)

Ketentuan hukum detail itu ialah al ahkamul at-taklifiyah dan al ahkamul wadh-iyyah . Yaitu ketentuan -ketentuan norma yang mengatur berbagai kasus. Misalnya peraturan- peraturan halal -haram -makruh- mubah dan sebagainya dan sebab syarat penghalang. Penghalang ini misalnya ibu-ibu pada waktu- waktu tertentu terhalang untuk melakukan sesuatu ibadah, shalat, puasa dan sebagainya.

Di dalam memahami agama prinsipnya kita tidak hanya mempersoalkan ketentuan detail, tetapi juga memahami agama itu secara terpadu di antara norma didalam tiga jenjang itu. Jadi Ketentuan Detail dikaitkan dengan Asas dan Asas dikaitkan dengan Nilai-nilai Dasar.

Inilah Prinsip atau Manhaj Tarjih dalam memutuskan beberapa hal termasuk dalam hal ini adalah pelaksanaan -pelaksanaan ibadah selama masa darurat Pandemi Covid-19 yang kita hadapi sekarang ini yang eskalasi grafiknya masih terus naik, belum ada tanda-tanda menurun. Kita lihat dari data-data hari-perhari.

Oleh karena ada keadaan darurat, maka pelaksanaan agama juga akan ditentukan oleh keadaan demikian.
Dulu dalam tuntunan shalat Idhul Fithri pertanyaan terbesar kita adalah bagaimana pelaksanaan idhul fithri? Karena secara Syar’i pelaksanaan idhul fithri itu dilakukan di lapangan, karena Rasulullah SAW mengerjakan shalat idhul fithri di lapangan. Dengan berkumpul melibatkan sejumlah besar jama’ah.

Kalau dilihat dari segi Kesehatan, berkumpulnya sejumlah besar ini sumber penularan wabah Virus Corona. Kita sangat menjaga agar jangan melaksanakan ibadah dengan berkumpul sejumlah besar orang banyak itu. Menjadi klaster penyebaran Virus. Itu yang harus kita hindari.


1. Melaksanakan Ibadah Shalat Ied

Oleh karena itu timbul pertanyaan bagaimana kita akan melaksanakan shalat? Maka kita coba berijtihad.

Dasar ijtihad kita itu

1. Allah SWT berfirman:

يُرِيْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ 

yuriidullohu bikumul-yusro wa laa yuriidu bikumul-‘usro

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (QS. Al-Baqarah 185)

2. Hadits Nabi :
 لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Malik)

Dan sejumlah prinsip yang lain di dalam prinsip agama juga ada rukshah.

Dengan mempertimbangkan keadaan ini maka kita berfikir supaya kita terhindar dari berkumpulnya orang banyak bagaimana kalau shalat itu kita bawa ke rumah? Boleh atau tidak? Atau paling tidak, kalau memang kita ingin berkumpul maka dilakukan di lingkungan kecil di dasawisma umpamanya ada 5-6 rumah paling banyak 10 rumah, ada lapangan disitu, mau shalat di lapangan ya silahkan – tapi tetap dengan menjaga protokol kesehatan.

Di dalam tuntunan tentang shalat idhul fithri kita sudah menjelaskan bahwa shalat di rumah itu dapat dilakukan.
Dasarnya adalah sebuah hadits yang dikutip oleh imam Bukhori, disebutkan oleh imam Bukhori tapi tidak diriwayatkannya. Kalau meriwayatkan panjang sekali sanadnya.

Hadits itu berbunyi :
“Ini adalah hari raya kita (pemeluk agama islam) “.

Hadits ini disebutkan tidak diriwayatkan, tetapi pada tempat lain dia meriwayatkan hadits yang semakna dengan yang disebutkan itu. Dalam dua tempat yang lain, intinya dua hadits itu sama.

Lalu bagaimana shalat Hari Raya di rumah kok dihubungkan dengan sabda Nabi : “Ini adalah hari raya kita”
Memang Imam Bukhori tidak menjelaskan tafsirnya disitu, tetapi kita dapat menduga dan dapat memahami jalan fikiran Al Bukhori bahwa dia mengemukakan hadits tersebut adalah dengan maksud bahwa hadits itu maknanya : Ini adalah hari Raya kita, yang berarti hari raya kita umat islam itu dirayakan dengan melaksanakan shalat.

Kemudian Imam Bukhori mengutip sebuah hadits mauquf, yaitu Anas, salah seorang sahabat Nabi yang tinggal jauh di kampung, jauh dari kota tak ada orang shalat disitu, dia memerintahkan keluarganya shalat di rumah.

Memang dalam Manhaj Tarjih bahwa qaul sahabat tidak menjadi hujjah untuk menetapkan suatu Syari’at, tetapi untuk melaksanakan satu Syari’at yang sudah tetap tidak salah dijadikan dasar. Itulah dasar kita melaksanakan shalat idhul fithri maupun idhul Adha yang nanti akan kita laksanakan tanggal 31 Juli pada hari jum’at.

Dipertanyakan lagi, kan Nabi tidak pernah shalat ied di rumah? Ya, karena Nabi tidak pernah menghadapi satu keadaan darurat seperti yang kita hadapi sekarang ini. Daripada kita tidak shalat ied, lebih baik shalat ied di rumah.

Di dalam penjelasan Fatwa Majelis Tarjih sudah dijelaskan : Sesuatu itu yang tidak dilaksanakan oleh Nabi adakalanya merupakan sunah, tidak dilaksanakan itu sendiri sunah. Dan adakalanya tidak dilaksanakannya itu adalah tidak sunah.

Bahwa Nabi tidak pernah melakukan shalat idhul Adha di rumah. Tidak dilaksanakan itu bukan merupakan sunah. Oleh karena itu agar kita menghindarkan diri dari mudharat yang mungkin terjadi dan menghindarkan diri dari mudharat itu diperintahkan .

Allah SWT berfirman:

وَاَ نْفِقُوْا فِيْ سَبِيْلِ اللّٰهِ وَلَا تُلْقُوْا بِاَ يْدِيْكُمْ اِلَى التَّهْلُكَةِ  ۛ  وَاَ حْسِنُوْا  ۛ  اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ الْمُحْسِنِيْنَ

wa angfiquu fii sabiilillaahi wa laa tulquu bi`aidiikum ilat-tahlukati wa ahsinuu, innalloha yuhibbul-muhsiniin

“Dan infakkanlah hartamu di jalan Allah, dan janganlah kamu jatuhkan diri sendiri ke dalam kebinasaan dengan tangan sendiri, dan berbuat baiklah. Sungguh, Allah menyukai orang-orang yang berbuat baik.” (QS. Al-Baqarah 195)

Di dalam hadits Ibnu Abbas dikatakan

 لَا ضَرَرَ وَلَا ضِرَارَ

“Tidak boleh ada bahaya dan tidak boleh membahayakan orang lain.” (HR Malik)

Jadi dalam rangka kita menghindari terpapar Virus Corona maka kita menghindari berkumpul dalam jumlah
besar. Maka shalat itu kita pindahkan ke rumah.

Dengan memindah shalat ke rumah tidak berarti kita menciptakan ibadah baru. Kita hanya melaksanakan ibadah yang sudah ada. Cuma pelaksanaannya saja biasanya di lapangan sekarang kita pindahkan ke rumah.

Jangan kita merasa kurang, merasa tidak afdhol karena berbeda dengan yang kita lakukan selama ini. Agama itu memang selalu memberi kemudahan dan tidak menghendaki satu kesukaran dan melarang kita memaparkan diri kepada bahaya yang mungkin terjadi.

Idhul Adha nanti hari jum’at, maka untuk shalat jum’at nya juga dapat diganti dengan shalat dhuhur.
Fatwa yang dulu masih tetap berlaku dengan alasan eskalasi penyebaran Covid-19 belum menurun. Masih seperti dulu bahkan ada trend yang terus meningkat.


2. Ibadah Qurban

Banyak respond terhadap Fatwa Majelis Tarjih walaupun fatwa itu bukan fatwa yang baru. Fatwa bahwa sebaiknya dana qurban itu dialihkan untuk membantu orang yang sedang kesulitan karena suatu musibah, ini adalah yang ketiga kali.

Yang pertama dulu ketika terjadi tsunami di Aceh pada hari ahad, 26 Desember 2004, kita sudah mengeluarkan Fatwa itu yaitu dana qurban itu dialihkan untuk membantu mereka-mereka yang mengalami kesulitan akibat terdampak oleh tsunami.

Kemudian di Yogyakarta , yaitu ketika Gempa dan Erupsi Merapi. Sekarang kita juga mengeluarkan kembali fatwa yang sama untuk membantu. Dana qurban dialihkan untuk membantu mereka yang terdampak oleh Covid-19 maupun yang sebelum Covid-19 ini sudah mengalami kesulitan. Ditambah Covid-19 ini kesulitannya menjadi sempurna.

Apa pertimbangan Majelis Tarjih ?
Pertimbangannya kita kembali kepada Nilai-nilai Dasar Agama islam itu sendiri.
Tadi sudah disebutkan bahwa nilai dasarnya antara lain adalah
– Tolong- menolong ( wa ta’awanu ‘alal birri wat taqwa).
– Solidaritas.

إِنَّ الْمُؤْمِنَ لِلْمُؤْمِنِ كَالْبُنْيَانِ يَشُدُّ بَعْضُهُ بَعْضًا

“sesungguhnya orang mukmin yang satu dengan yang lain seperti bangunan. Yang sebagian menguatkan sebagian yang lain ” (HR Bukhori Muslim).

Ada lagi hadits :

مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ، وَتَعَاطُفِهِمْ، وَتَرَاحُمِهِمْ، مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى

“Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” (HR. Muslim)

Kemudian ada lagi hadits yang amat panjang :

أحبُّ الناسِ إلى اللهِ تعالى أنفعُهم للناسِ وأحبُّ الأعمالِ إلى اللهِ عزَّ وجلَّ سرورٌ يُدخلُه على مسلمٍ أو يكشفُ عنه كُربةً أو يقضي عنه دَينًا أو يطردُ عنه جوعًا ولأن أمشيَ مع أخٍ في حاجةٍ أحبُّ إليَّ من أن أعتكفَ في هذا المسجدِ ( يعني مسجدَ المدينةِ ) شهرًا ومن كفَّ غضبَه ستر اللهُ عورتَه ومن كظم غيظَه ولو شاء أن يمضيَه أمضاه ملأ اللهُ قلبَه رجاءَ يومِ القيامةِ ومن مشى مع أخيه في حاجةٍ حتى تتهيأَ له أثبت اللهُ قدمَه يومَ تزولُ الأقدامُ

“manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling bermanfaat untuk manusia. Dan amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah kegembiraan yang engkau masukan ke hati seorang mukmin, atau engkau hilangkan salah satu kesusahannya, atau engkau membayarkan hutangnya, atau engkau hilangkan kelaparannya. Dan aku berjalan bersama saudaraku untuk memenuhi kebutuhannya itu lebih aku cintai daripada ber-i’tikaf di masjid Nabawi selama sebulan lamanya. Dan siapa yang menahan marahnya maka Allah akan tutupi auratnya. Barangsiapa yang menahan marahnya padahal ia bisa menumpahkannya, maka Allah akan penuhi hatinya dengan keridhaan di hari kiamat. Dan barangsiapa berjalan bersama saudaranya sampai ia memenuhi kebutuhannya, maka Allah akan mengokohkan kedua kakinya di hari ketika banyak kaki-kaki terpeleset ke api neraka” (HR. Ath Thabrani dishahihkan Al Albani).

Intinya ini adalah amalan yang paling afdhol. Apalagi dizaman Covid-19 ini begitu banyak orang yang terdampak oleh virus ini. Bahkan orang yang selama ini biasa-biasa saja kehilangan sumber pencarian, terkena PHK, tidak bisa membuka toko dan sebagainya, tidak bisa makan.

Pertanyaan yang timbul adalah, kita punya dana, mana yang lebih baik :
Kita menyembelih Qurban atau membantu orang itu?
Bahwa qurban itu memang disyariatkan, hukumnya sunah muakad, sampai Nabi bersabda :

مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلا يَقْرَبَنَّ مُصَلاَّنَا

“Barang siapa mendapatkan kelapangan tetapi tidak berqurban, maka janganlah dia mendekati tempat shalat kami.”(HR Ahmad)

Maksudnya menganjurkan supaya orang berqurban.

Tetapi dalam sejumlah hal kita harus menimbang-nimbang. Kalau kita berqurban menyembelih sapi di sebuah masjid umpamanya 20 sapi, kali 21 juta rupiah berarti 420 juta.
Uang 420 juta disembelih. Dagingnya dibagi kaya miskin dapat semua. Dua hari dagingnya habis. Mana yang lebih bermanfaat jika uang 420 juta itu kita gunakan untuk membantu mereka yang benar-benar sumber ekonominya terputus akibat Covid-19 ini ?

Kalau kita mengacu dasar ayat Al Qur’an tentang tolong menolong dan hadits Rasulullah SAW ,

وَ اللهُ فىِ عَوْنِ اْلعَبْدِ مَا كَانَ اْلعَبْدُ فىِ عَوْنِ أَخِيْهِ

 “Allah senantiasa menolong seorang hamba selama hamba itu menolong saudaranya”. (HR Muslim, at- Turmudziy , Abu Dawud , Ibnu Majah dan Ahmad).

Atas dasar itu dengan mempertimbangkan Nilai-Nilai Dasar syariah maka Majelis Tarjih memberi tuntunan agar dalam masa-masa darurat Covid-19 ini tentu akan lebih bermanfaat kalau uang itu kita wujudkan dalam bentuk infaq kepada orang yang terpapar ekonominya oleh Covid-19 daripada kita menyembelih sapi yang nanti 2 hari habis dan yang menikmatinya bukan orang yang tepat.
Kaya miskin semua dapat.

Sekarang coba kita berfikir dimana aspek Irfaninya? Yaitu satu Kepekaan Nurani kita, ada dimana?
Kepekaan nurani untuk memahami kondisi sehingga kita tidak berpegang kepada aspek Bayani, bahwa qurban itu ya menyembelih hewan?

Inilah pemikiran KeTarjihan. Kita tidak hanya memperhatikan hukum syari’ahnya saja, tapi kita juga memperhatikan Nilai-Nilai Dasar Syariah agama itu sendiri.
Karena itulah Muhammadiyah sangat mendorong kita untuk mengalihkan dana daging qurban menjadi sedekah.

Mana yang lebih afdhol paling disukai Allah? Itulah dia yang membantu saudaranya.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here