Drs.H. Dasrizal Dahlan SH, MPd. MA

13 Dzulqo’dah 1441/ 4 Juli 2020



1.Islam terdiri atas Akidah, Syariah dan Akhlak

Allah SWT berfirman:

اَلْحَـقُّ مِنْ رَّبِّكَ فَلَا تَكُوْنَنَّ مِنَ الْمُمْتَرِيْنَ

“Kebenaran itu dari Tuhanmu, maka janganlah sekali-kali engkau Muhammad termasuk orang-orang yang ragu.” (QS. Al-Baqarah 147)

Semakin kita ketahui, islam itu sebenarnya berada pada satu kesatuan hati, ucapan dan perilaku di dalam kehidupan. Itu yang disebut dengan Al-Iman.

Al Imaanu: Tasdiqun bil qolbu, wa ikrarul bil lisan, wa ‘amalun bil arqan
(Iman adalah: Dibenarkan di dalam Hati, di ucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan rukun-rukunnya).

Itulah sesungguhnya yang diinginkan oleh Allah kepada kita sebagai pengamal islam itu. Kalau kita lihat islam itu oleh para ulama dikemukakan terdiri dari tiga unsur : Akidah, Syari’ah dan Akhlak. Pada saat tertentu orang mengatakan islam itu terdiri dari : Iman, Islam dan Ikhsan.


1.1. Akidah, yang berbicara tentang keyakinan-keyakinan, tentang ulumul Kalam, tentang ketauhidan dan semuanya termasuk yang disebut dengan Ushuludien.
Berbicara persoalan-persoalan akidah.
Dan inilah sesungguhnya misi terlama, masa terpanjang, porsi terbesar kehadiran Rasulullah SAW mendakwahkan islam.
Kita tahu Periode Mekkah itu 12 tahun, 5 bulan dan 13 hari itu sebetulnya membangun, membina dan mengontrol akidah umat , diwaktu Rasulullah SAW berada dikota Mekkah.


1.2. Ibadah , yang pada dasarnya adalah tuntunan dari Allah SWT kepada hamba-hambanya. Periodenya adalah Periode Madinah.
Kalau dilihat secara detail lagi, satu- satunya ibadah yang ada dan wajib ketika Rasulullah berada di kota Mekkah hanyalah ibadah shalat. Itupun sesungguhnya ibadah shalat itu, melalui peristiwa Isra’ dan Miradj yang waktunya kira-kira 7,5 bulan sebelum Rasulullah SAW hijrah ke Madinah.

Prioritas terbesar adalah unsur akidah.
Jika akidah yang berbicara tentang keyakinan benar-benar terbina dengan baik, barulah membenahi unsur syariah yaitu mengatur hubungan-hubungan dengan Allah, hubungan antar sesama manusia. Disebut dengan syari’ah atau Al-islam.

Allah SWT berfirman:

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا ادْخُلُوْا فِى السِّلْمِ کَاۤ فَّةً ۖ وَّلَا تَتَّبِعُوْا خُطُوٰتِ الشَّيْطٰنِ ۗ اِنَّهٗ لَـکُمْ عَدُوٌّ مُّبِيْنٌ

“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al- Baqarah 208)

Tatkala Allah SWT memerintahkan kita masuk islam secara total, tentu dalam pengertian Akidah, Syariah yang itu adalah ibadah, ada shalat, ada puasa, zakat , haji, aqiqah, qurban dan seluruh ibadah-ibadah yang terhimpun di dalam Syari’ah itu haruslah kita penuhi.

Dan yang agak kurang dibicarakan di dalam syariah ini adalah hukum-hukum yang berbicara tentang Hukum Jinayah, yaitu hukum-hukum yang bersumber dari Al Qur’an dan Sunah yang di dalam bahasa keseharian disebut dengan Hukum Pidana. Ini sesungguhnya belum banyak dibahas karena memang kondisi-kondisi itu saat ini tidak banyak dibaca. Persoalan-persoalan pengaturan hidup berbangsa dan bernegara, berpemerintahan juga belum banyak disebut-sebut melalui konsep-konsep islam yang sesungguhnya.

Kebenaran islam ini adalah kebenaran mutlak itu. Menyebut surat Al Baqarah ayat 208 sesungguhnya terlihat oleh kita bersama , kita adalah orang-orang yang masih di tengah-tengah perjalanan dakwah islam. Berada di tengah-tengah perjuangan untuk masuk ke tatanan dan tataran kehidupan yang bersumber Al Qur’an dan Sunah.


1.3. Akhlak, yakni perilaku-perilaku tatacara hidup yang amat sangat mulianya bersumber dari Al Qur’an dan Sunah, yang itu juga disebut dengan Al Ikhsan. Akhlak yang tertinggi dalam kehidupan adalah akhlakul kharimah.

Rasulullah SAW bersabda:

إِنَّمَا بُعِثْتُ ِلأُتَمِّمَ صَالِحَ اْلأَخْلاَقِ.

“Sesungguhnya aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang baik.” (HR Bukhori)

Jadi dengan demikian terlihat oleh kita, akidah, syari’ah, akhlak, iman, islam dan ihsan semua bersumber dari Al Qur’an dan Sunah yang memang harus kita laksanakan, harus kita perjuangkan karena Allah berpesan kepada kita :

يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَ نْـتُمْ مُّسْلِمُوْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah sebenar- benar takwa kepada-Nya dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim.” (QS. Ali ‘Imran 102)


2. Islam berfokus Pada Proses Perjuangan


Sesungguhnya islam menyeru kita menjadi orang yang berjuang. Islam fokusnya pada proses perjuangan dan tidak berfokus pada hasil. Karena Allah menyatakan kepada kita :

فَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ خَيْرًا يَّرَهٗ ۗ  وَمَنْ يَّعْمَلْ مِثْقَا لَ ذَرَّةٍ شَرًّا يَّرَهٗ

“Maka barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya. Dan barang siapa mengerjakan kejahatan seberat zarrah, niscaya dia akan melihat balasannya.” (QS. Az-Zalzalah ayat 7-8)

Bahwa betapa sederhananya perbuatan baik yang dilakukan manusia maka itu akan dicatat dan tercatat sebagai kebaikan. In syaa Allah, Allah akan imbali itu sebagai ibadah dengan pahala di kemudian hari kelak. Sebaliknya, seberapapun ringan perbuatan buruk yang dilakukan dalam kehidupan itu akan tercatat dan dicatat sebagai suatu dosa dan Allah akan memberikan sangsi terhadap perilaku- perilaku buruk.

Lalu bagaimana tentang hasil?
Islam tidak berbicara tentang hasil. Islam berbicara tentang proses melakukan kebajikan. Terwujud atau tidak kebajikan itu, itu diluar wewenang kita. Sebaliknya orang -orang yang melakukan kejahatan apakah sampai nanti ke tingkat kejahatan yang sesungguhnya, itu juga tidak bisa kita ramalkan.

Tetapi berawal dari
‘Innamal A’malu Binniat Wa Innama Likullimriin Ma Nawa’ (semua amalan dasarnya adalah niat dan semua perkara atau perbuatan bergantung pada apa-apa yang kita niatkan).
Manusia dalam perilakunya ditentukan oleh motivasi niat pada dirinya sendiri. Dan dia akan mendapatkan hasil sesuai dengan niat yang diniatkan motivasi yang mendorong dia melakukan.

Maka disini tampak oleh kita tugas berat kita bersama :

2.1. Islam sebagai Ad-Dienul Salamah

Islam sebagai agama yang selamat.
Dan orang-orang yang berislam itu harus pula bekerja keras menyelamatkan. Ad Dinul Salamah adalah Selamat dan Menyelamatkan.
Keyakinan islam adalah bagaikan satu keping mata uang yang berada pada sisi kiri dan sisi kanan. Artinya dua sisi satu keping uang, satu sisinya adalah sisi yang disebut dengan SELAMAT dan sisi yang kedua adalah MENYELAMATKAN.

Maka orang orang yang beriman tidak bisa hanya menyelamatkan diri sendiri tidak mau tahu dengan apa-apa yang berada di lingkungan dan yang menjadi tanggung jawabnya , itu sesungguhnya sesuatu yang tidak selesai.
Jadi manusia yang beragama islam dia harus selamat dan dia menyelamatkan.

Dan tatkala dia menyelamatkan disitulah munculnya yang disebut dengan dakwah islam “Amar makruf nahi munkar”. Menyuruh orang berbuat yang baik baik dan harus bekerja keras mencegah, melarang orang-orang dari perbuatan yang mungkar.

Barangkali kondisi kekinian kita adalah bahwa menyuruh orang melakukan yang baik, tidak ada kendala. Tidak ada kesulitan karena itu adalah sesuatu hal yang sepertinya mudah diterima oleh akal pikiran semua orang.

Tetapi tatkala berbicara tentang nahi mungkar, melarang orang dari perbuatan-perbuatan yang buruk itu adalah sesuatu hal yang memang perlu kekuatan, perlu keberanian dan perlu kebersamaan. Padahal sesungguhnya dalam konsep islam itu `dar’ul mafasid muqaddamun ‘ala jalbil mashalih (menghindari kerusakan didahulukan daripada mengambil manfaat atau kebaikan)`

Jadi dakwah islam kita sesungguhnya telah berjalan dengan baik, tetapi sepertinya tidak seimbang. Amar makruf perlu kita tingkatkan, nahi mungkar perlu lebih jelas dan lebih menjadi prioritas kita bersama.

2.2. Islam itu Ad-Dienu Nasihah

Agama yang isinya sarat dengan saling memberi pesan, saling memberi nasehat satu sama lain. Itulah setidaknya yang dikatakan oleh Allah dalam Surat Al Asr.

وَا لْعَصْرِ ۙ  اِنَّ الْاِ نْسَا نَ لَفِيْ خُسْرٍ ۙ 
اِلَّا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَ عَمِلُوا الصّٰلِحٰتِ وَتَوَا صَوْا بِا لْحَقِّ ۙ وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ

“Demi masa. Sungguh, manusia berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan serta saling menasihati untuk kebenaran dan saling menasihati untuk kesabaran.” (QS. Al-‘Asri 3)

Di dalam surat Al Balad oleh Allah dikatakan juga :

ثُمَّ كَا نَ مِنَ الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَوَا صَوْا بِا لصَّبْرِ وَتَوَا صَوْا بِا لْمَرْحَمَةِ ۗ 

“Kemudian dia termasuk orang-orang yang beriman, dan saling berpesan untuk bersabar dan saling berpesan untuk berkasih sayang.” (QS. Al-Balad 17)

Dari dua surat itu Allah empat kali berbicara tentang “tawaashou” atau taushiyah. Kalau kita cermati, dalam kalimat itu :
wa tawaashou bil-haqqi , ditemukan satu kali. wa tawaashou bil- mar- hamah , ditemukan satu kali.
Tetapi wa tawaashou bish-shobr, justru ditemukan dua kali.

Maka barangkali nilai yang dapat kita tangkap disitu bahwa untuk menyampaikan sesuatu yang benar cukup disebut satu kali.
Berbicara tentang membangun kasih sayang, disitu juga disebut satu kali.
Tetapi menyampaikan pesan kesabaran disampaikan dua kali oleh Allah. Kenapa? Karena menanamkan kesabaran dalam hidup adalah sesuatu hal yang amat berat!

Sebab sabar itu kata ulama adalah kemampuan diri untuk mengendalikan diri sendiri yang dalam diri itu ada Hati, Pikiran, Perasaan, Ucapan, Kebijakan, Tindakan-tindakan yang orang sabar mampu mengendalikan dirinya tentang hal-hal tersebut tatkala dia menemui kekecewaan-kekecewaan dalam hidup dan dia tetap istiqomah menjalankan ketentuan Allah dan Rasul.

Apa sesungguhnya yang mengecewakan manusia? Setidaknya hanya dua yang mengecewakan manusia :
1. Karena tidak dapat memperoleh sesuatu yang dicita-citakannya.
2. Tatkala bertemu dengan sesuatu yang tidak diinginkan.

Kalau kita lihat kehidupan ini hanya itu yang menjadikan orang kecewa. Pada saat itu terjadi, manusia dituntut mampu mengendalikan diri hati, pikiran, perasaan, ucapan, kebijakan dan tindakan. Tetap istiqomah berada pada jalur islam bersumber Al Qur’an dan Sunah.


3. Perlu Pengendalian Diri


Jadi dengan demikian tawaashou itu adalah Mengendalikan diri.
Lalu apa yang dikendalikan?

Dalam haditsnya Rasulullah bersabda :
Ada tiga hal yang menjadikan Allah tetap memberikan kasih dan sayangnya kepada hambanya.

“Rahimallahu man hafizha lisanahu wa ‘arafa zamanahu wastiqamat thariqatahu”.
Kasih sayang Allah akan tetap bersama dengan hambanya, jika dia selalu menjaga ucapan lidahnya, dia membaca tanda-tanda zaman dan dia istiqomah.


3.1. hafizha lisanahu (menjaga ucapan lidahnya)

Lidah tentu dalam dia berbicara, dia juga pemikiran-pemikiran, dia juga konsep-konsep, dia juga ide atau wacana yang dikemukakan. Kalau memang hamba Allah itu hamba yang baik dia akan mampu mengontrol lidah dalam artian bisa tulisan sebagai kolumnis, bisa bicara sebagai juru bicara, bisa saja kebijakan-kebijakan oleh pengambil kebijakan.

Kondisi ini mungkin hari ini perlu mendapat pencermatan oleh kita bersama. Ditengah-tengah berbagai ragam macam pendapat tentu perlu kita memilih dan memilah. Perlu kita hati-hati dan teliti jangan sampai menjadi orang yang latah di dalam berbicara.

Oleh Rasulullah diberikan patokan :

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ اْلآخِرِ فَليَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُت

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.” (Muttafaq ‘alaih)

“Sekali-sekali kamu jangan membicarakan sesuatu hal yang tidak kamu ketahui”.
Hal yang bukan keahlian kita hendaklah kita tidak perlu berbicara, karena memang kita tidak mengetahui dan tidak mempunyai ilmu sama sekali.

“Dan janganlah pula kamu sekali-kali membicarakan seluruh persoalan yang kamu ketahui”.
Maka sesungguhnya kita berada pada posisi menjadi orang-orang bijak. Pandai memilih, pandai memilah mana yang harus dikatakan dan mana yang tidak boleh dikatakan. Dan mana yang disini sebagai kajian dan renungan.

Di saat-saat media masa yang demikian gencar dan dahsyat hari ini, kadang-kadang bisa dikhawatirkan untuk orang-orang tertentu justru membuat issue yang kadang-kadang dibangun agar kiranya umat berada pada posisi kacau balau. Maka disitulah posisi kita mengendalikan diri, kita mengendalikan ucapan, kita hati-hati, kita teliti.

Bahkan kita diingatkan oleh Allah

يٰۤاَ يُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْۤا اِنْ جَآءَكُمْ فَا سِقٌ   بِۢنَبَاٍ فَتَبَيَّنُوْۤا اَنْ تُصِيْبُوْا قَوْمًا   بِۢجَهَا لَةٍ فَتُصْبِحُوْا عَلٰى مَا فَعَلْتُمْ نٰدِمِيْنَ

“Wahai orang-orang yang beriman! Jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kecerobohan , yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu.” (QS. Al-Hujurat 6)

Periksa berita lebih dahulu, kita tidak curiga, tapi perlu waspada.
Dikhawatirkan kalau diambil kebijakan berdasarkan informasi yang salah sehingga kita menyesal.


3.2. wa ‘arafa zamanahu ( Tetap Cerdas membaca tanda-tanda Zaman)

Inilah barangkali posisi kita hari ini. Sejauh mana kita mencermati tanda- tanda zaman. Kalau di Minangkabau sering disebutkan orang :
“Cewang di langit tanda mau panas, gabak di hulu tanda mau hujan”.
Ada tanda-tanda kondisi kondisional cuaca pendahulu, ada cuaca begini pertanda mau terjadi sesuatu. Itu bagian dari cerdas membaca tanda- tanda zaman

Bahkan di Minangkabau ada kata-kata
“Belum berangkat , dia sudah pulang”.
Artinya belum dilakukan pekerjaan tapi dia sudah mampu menyelesaikan konsep yang akan dilaksanakan.

Lalu bagaimana tanggung jawab moral kita hari ini ?
Juga dalam persoalan kesehatan muncul dalam istilah neolib hiburan baru dalam kehidupan. Kita memang kadang suka istilah lama diberi packing baru Neolib. Sama juga sekarang new normal. Kalau tidak normal ya tetap tidak normal. Tapi agar bahasanya bagus, istilahnya keren jadi new normal. Kadang-kadang kita memang agak suka yang manis-manis : Harga tidak pernah naik, yang terjadi adalah “penyesuaian”.

Neoliberal dalam arti liberal modern yang hari ini pada posisi sudah menggurita untuk seluruh aspek kehidupan, tentu kita harus lebih hati-hati, teliti dan tetap waspada mencermatinya. Karena Neolib ini bukan hanya persoalan ekonomi, tapi masuk ke dunia Politik, dunia Pendidikan, dunia Kesehatan. Rasanya Neolib masuk ke semua.

Tetapi karena mau bermanis-manis, lalu diberilah sebutan Liberal model baru. Liberal model Kekinian. Padahal sebenarnya sekali Liberal tetap saja Liberal. Kita memang kadang-kadang bisa terperangkap ke adagium -adagium yang seperti itu.
Tatkala kita berada dalam posisi yang tidak normal, kita memang tidak normal. Tetapi agar berada pada posisi-posisi yang dinilai baik maka munculah istilah New normal , normal yang berada pada posisi kondisi hari Kekinian.

Jadi dengan demikian maka umat islam, tentu para pengambil kebijakan mampu mencermati Neo Lib ini dengan secermat-cermatnya. Dan sejauh peran bisa diperankan hendaknya memang harus bisa mengubah haluan model sehingga kita hendaknya masuk ke model-model yang bukan hanya untuk kepentingan seketika, kesuksesan seketika.
Yang kita inginkan adalah kepentingan -kepentingan bersama dan kesuksesan- kesuksesan untuk sepanjang kehidupan ini.

Ini mungkin persoalan-persoalan kekinian yang harus dicermati bersama-sama. Yang lain tentu juga kondisi-kondisi kita lihat bahwa pengaruh-pengaruh Komunis yang sepertinya menggeliat lagi. Barangkali bukan hanya sekedar menggeliat tetapi memang sepertinya gejala- gejala kebangkitan yang kalau umat islam tidak hati-hati dan teliti dia bisa jadi.

Yang namanya jerat tidak pernah lupa dengan burung yang sedang terbang di udara. Yang sering lupa adalah burung yang sedang terbang, bahwa sesungguhnya jerat sedang menunggu.

Maka umat islam perlu kembali ke apa yang dikatakan Rasul :
Allah tetap akan memberikan kasih sayangNya selama mampu memelihara lidah, bicara, pemikiran, konsep, ide yang keseluruhannya berada pada posisi yang sesuai kehendak , kebenaran Al Qur’an dan Sunah.

Dan umat islam perlu cerdas membaca tanda -tanda zaman. Antisipasi kondisi-kondisi yang mungkin muncul dimasa depan, sedini mungkin. Sering kita mengatakan :
“Sediakan payung sebelum hujan”.
Artinya tatkala diperkirakan akan terjadi sesuatu hal yang mungkin tidak baik, antisipasi sudah, kita bangun, upayakan sedini mungkin semenjak awal.


3.3. wastiqamat thariqatahu (istiqomah)

Kita menjalankan pesan-pesan Al Qur’an dan Sunah dan kita tak boleh berfikir untuk kepentingan jangka pendek. Kata Ronald Walter orang besar menjadi besar karena dia mampu berfikir untuk kepentingan bangsanya. Dan dia bisa melampaui pemikiran kepentingan untuk dirinya yang amat sepele.

Kadang-kadang ini adalah tantangan berat untuk kita bersama. Dalam kehidupan ini kadang-kadang orang memang berfikir untuk hari ini. Yang penting dapat dan dapatnya banyak.
Padahal didalam islam yang sesungguhnya diminta adalah bukan sekedar dapat, tapi justru memberi.

Rasulullah SAW bersabda :

اَلْيَدُ الْعُلْيَا خَيْرٌ مِنَ الْيَدِ السُّفْلَى، وَابْدَأْ بِمَنْ تَعُوْلُ،

“Tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah. Dan mulailah dari orang yang menjadi tanggunganmu.” (HR Bukhori Muslim)

Tangan di atas suatu ketika juga bisa diartikan persoalan ekonomi, ketika lain bisa diartikan persoalan politik, bisa menjadi persoalan Kesehatan, bisa menjadi persoalan Pendidikan. Artinya berada pada posisi memberi adalah sesuatu hal yang amat mulia dibanding dengan sekedar menjadi konsumen, orang-orang yang hanya menerima.

Dan disamping itu tentu juga istiqomah kita menjalani kehidupan. Bisa saja dalam perjuangan mungkin kita tidak bisa merebut kemenangan hari ini tetapi kemenangan akhirat tidak boleh kita tinggalkan.

Maka dengan demikian tatkala Allah berpesan dalam Surat Al Qasas ayat 77 :

وَا بْتَغِ فِيْمَاۤ اٰتٰٮكَ اللّٰهُ الدَّا رَ الْاٰ خِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ مِنَ الدُّنْيَا وَاَ حْسِنْ كَمَاۤ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْـفَسَا دَ فِى الْاَ رْضِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ

“Dan carilah pahala negeri akhirat dengan apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu, tetapi janganlah kamu lupakan bagianmu di dunia dan berbuat baiklah kepada orang lain sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi. Sungguh, Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan.” (QS. Al-Qasas 77)

Bagaimana Allah berbuat baik kepada kita ? Setidak-tidaknya Allah berbuat baik tanpa menuntut balas. Allah berbuat baik tanpa batas. Allah berbuat baik untuk kepentingan manusia itu sendiri.

Tentu kita tak mungkin berbuat baik seperti Allah. Tetapi setidak-tidaknya berbuat baik tanpa batas, berbuat baik untuk kepentingan orang lain. Setidaknya konsep-konsep yang seperti itu dapat kita tetapkan. Jangan menjadi perusak di muka bumi.

Tugas berat kita hari ini adalah menghadapi tantangan -tantangan berat itu kita hendaknya jangan rapuh kedalam. Kita harus kuat, kita harus solid, kita harus menang dan kemenangan yang kita inginkan adalah kemenangan duniawi dan kemenangan ukhrowi.

Kita berbuat ini lain tidak adalah :
Ad-Dunya Darul Amal, Wal-Akhiratul Darul Jaza’ –
Di dunia inilah kita sekalian melakukan perbuatan-perbuatan , amal-amal dan hasilnya kelak diterima di kehidupan akhirat kelak.

Tentu harapan kita bersama semua yang kita lakukan ini adalah semata-mata li- kalimatillah, mengagungkan kalam Allah dan untuk mendapatkan ridha Allah.

Tiga Tips Ibnu Sina sebagai berikut:

الوهم نصف الداء

Kepanikan adalah separuh penyakit.

والاطمئنان نصف الدواء

Ketenangan adalah separuh obat

والصبر أول خطوات الشفاء

Kesabaran adalah awal dari kesembuhan.

Semoga bermanfaat
Barokallohu fikum

#SAK



LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here